Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2015

Terlampir

Brosur Penerimaan Mahasiswa Baru UI

Advertisements

Read Full Post »

Menimbang Hukuman Mati

tulisan Heru Susetyo di Republika, 22 Januari 2015

http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/15/01/22/nikh4m-menimbang-hukuman-mati

Menimbang Hukuman mati-1

Read Full Post »

Silakan dilihat…

Buku Kisah inspiratif Penerima Beasiswa UI edited by Heru Susetyo

jakun

Read Full Post »

  1. Cililitan 1990 dan Ustadz Lamu
  • Namanya Muhammad Ali Lamu. Tahun 1990-an lelaki sederhana kelahiran Palu, Sulawesi tengah itu merantau di Jakarta dan kost di sebuah rumah petak di bilangan Cililitan. Sebuah panggilanabadi bernama dakwah membuatnya berusaha untuk menyampaikan kebaikan pada siapa punsetelah hal itu diterapkannya pada dirinya terlebih dahulu. Cililitan tahun 1990-an adalah daerah yang cukup rawan, tapi Lamu adalah wajah cerah yang menyapa hari dan sesama dengan senyum. Seperti magnet, ia bukan saja menyapa ramah para tetangga, tetapi mencoba akrab dengan para pemuda di sekitar. Dengan penuh semangat, Lamu membina para pemuda yang rata-rata preman dan pecandu narkoba, atau kerap disebut sebagai sampah masyarakat. Tentu membina orang seperti mereka tidak semudah membalik telapak tangan. Di butuhkan kesabaran dan sikap istiqomah. Selain itu Lamu senantiasa mengembalikan semua pada Allah. Ia berusaha keras agar para pemuda itu kembali kejalan Ilahi, tapi ia tahu hanya Allah Maha Pemberi Hidayah.Apa yang dilakukan Lamu pada mereka yang dibinanya? Ia nyaris tak berceramah. Ia menolong meski dengan keterbatasan yang dimilikinya, ia mencontohkan. Ia tidak mengecam atau memvonis,tetapi memeluk dan meneguhkan mereka. Dan satu yang tak pernah dilupakan Lamu: setiap saat ia menyempatkan diri bersilaturahim dengan para pemuda tersebut. Masyarakat sekitar terharu. Para pemuda itu sedikit demi sedikit berubah. Mereka memang masih sering nongkrong, namun kali ini di depan kost Lamu dalam rangka mengkaji ayat-ayat Allah. Ketika tiba waktu shalat, beriringan mereka ke mesjid. Setelah menikah, Lamu kembali ke Palu untuk berdakwah di sana. Tapi apa yang dilakukannya tanpa pamrih itu menyisakan makna yang dalam bagi para pemuda binaannya yang kini banyak tersebar di berbagai pesantren di Indonesia.“Namanya Muhammad Ali Lamu. Dulu dia mengajar kami saat masih kuliah di LIPIA. Orangnyabaik sekali. Sekarang dia di Palu. Dia aktivis Partai Keadilan…”, ujar seseorang, mengenang Lamu dengan mata kaca, di sebuah jalan di bilangan Cililitan.
  • Helvy Tiana Rosa, Ahmad Sobri.

Read Full Post »