Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2013

KEADILAN DALAM PERADILAN CEBONGAN

Heru Susetyo

Staf Pengajar Viktimologi dan Hak Asasi Manusia

Fakultas Hukum Universitas Indonesia

 

Kasus penyerangan oknum prajurit Kopassus ke Lapas kelas IIA Cebongan-Sleman yang menewaskan empat tahanan Polda DIY asal NTT, Sleman pada 23  Maret 2013 kini sudah memasuki tahap persidangan di Pengadilan Militer Yogyakarta yang dimulai pada 20 Juni 2013.

Ada yang menarik dari kasus ini.  Yaitu perhatian masyarakat dan media yang melimpah ruah.  Sepertinya, baru kali ini persidangan di peradilan militer beroleh perhatian publik yang luar biasa.  Setelah yang terakhir adalah pengadilan militer di Jakarta terhadap kasus penculikan aktifis pro demokrasi tahun 1997-1998.

Beberapa kelompok bahkan mendukung secara eksesif tersangka oknum prajurit kopassus dalam kasus Cebongan.  Sebelum pengadilan dimulai, ada beberapa warga yang tergabung dalam Gerakan Rakyat Indonesia Baru menggelar aksi mendukung pemberantasan premanisme. Mereka juga meneriakkan kata-kata, “Hidup Kopassus”.   Sementera itu, Aliansi Masyarakat Sipil menyerukan agar seluruh pihak yang berkepentingan dalam masalah ini wajib hukumnya untuk tidak melakukan intervensi dan mendikte proses hukum yang berlangsung di pengadilan militer, dengan tidak menyeret persoalan ini kepada pelanggaran HAM berat, tidak memojokkan institusi TNI, khususnya Kopassus, serta menolak keras segala bentuk terobosan hukum yang nyeleneh dan absurd (SHNews.co/ 20/06/2013).  Jelas yang dimaksud adalah Komnas HAM dan LSM-LSM pembela HAM.

 Beberapa pihak juga menolak upaya pengadilan memfasilitasi para calon saksi dengan video conference. Alasannya keselamatan para saksi tak terancam dan tak ada yang perlu dikhawatirkan.  Sementara,  para saksi dan juga LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) bersikeras bahwa keselamatan mereka terancam sehingga harus mendapatkan perlindungan dalam setiap tahapan persidangan.  Termasuk permintaan untuk memberikan kesaksian melalui teleconference.

Melihat kompleksitas permasalahan yang tersaji, dapat diprediksi bahwa peradilan akan berlangsung seru dan penuh dinamika. Maka, wajar apabila kemudian timbul pertanyaan :  Bagaimana sebenarnya duduk permasalahan kasus Cebongan dan bagaimana peradilan yang berlangsung dapat memberikan keadilan bagi semua pihak?


Mendudukkan Kasus Cebongan

Yang pertama harus ditegaskan adalah bahwa kasus Cebongan ini adalah kejahatan berupa pembunuhan ataupun pembunuhan berencana.  Dan hal ini sudah ditegaskan sejak awal oleh tim investigasi TNI AD untuk kasus Cebongan yang berasal dari penyidik Polisi Militer TNI AD.  Hal ini juga ditegaskan oleh dakwaan yang diajukan kepada oknum prajurit Kopassus tersebut, yaitu pasal pembunuhan (pasal 338 KUHP) dan pembunuhan berencana (pasal 340 KUHP).

Yang kedua adalalah, kasus pembunuhan tersebut adalah jelas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).  Hal ini penting karena ketika kasus ini pertama bergulir, banyak pernyataan yang mengatakan bahwa Kasus Cebongan adalah bukan pelanggaran HAM sehingga tidak menjadi subyek Pengadilan HAM.  Pernyataaan yang keliru ini bahkan datang dari Kementerian Pertahanan.

Bahwasanya kasus Cebongan adalah bukan pelanggaran HAM berat sehingga bukan menjadi subyek Pengadilan HAM sebagaimana dimaksud oleh UU No. 26 tahun 2000 adalah betul. Karena pelanggaran HAM berat yang dimaksud oleh UU tersebut adalah memang terbatas pada Genosida (genocide) dan Kejahatan Kepada Kemanusiaan (Crime Against Humanity).   

Namun, apabila mengatakan bahwa kasus Cebongan bukan pelanggaran HAM jelas keliru.  Bagaimana bisa perbuatan yang menyebabkan hilangnya empat nyawa manusia bukan pelanggaran HAM?  Pengertian pelanggaran HAM menurut UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak sengaja, atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang ini, dan tidak mendapatkan, atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar, berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku.

Ketiga, ada kesan dan pembenaran bahwa apa yang dilakukan oleh oknum Kopassus tersebut adalah beralasan, karena mereka sedang membasmi premanisme.  Sehingga tindakan tersebut, walaupun bersifat main hakim sendiri, adalah harus didukung.  Sejatinya, ini adalah suatu logika ‘false negative.’  Seolah-olah mereka tidak bersalah,  padahal bersalah.   Apakah benar bahwa oknum Kopassus tersebut sedang membasmi premanisme?  Sejatinya tidak.  Mereka membunuh para tahanan tersebut adalah karena balas dendam atas kematian dan penganiayaan terhadap para sejawatnya.  Kebetulan saja empat tahanan tersebut diindikasikan sebagai ‘preman’.  Kalau bukan preman?  Tetap saja akan dihabisi, karena niatan utamanya adalah balas dendam terhadap pembunuh sejawatnya dan bukan dalam rangka membasmi premanisme.

Keempat,  ada semacam penghakiman dari publik terhadap premanisme, dan bahwasanya para preman tersebut adalah berasal dari daerah tertentu,  sebutlah dari Nusa Tenggara Timur (dan bukan kebetulan bahwa keempat tahanan dibunuh tersebut adalah berasal dari NTT).   Ada yang kurang pas disini.  Karena, premanisme dan preman adalah suatu kategori yang absurd dan subyektif.  Tak ada definisi dan klausul hukum yang dapat menjelaskan apa itu preman dan premanisme.  Maka, ia adalah suatu konstruksi sosial terhadap realitas.  Siapa, apa dan kapan seseorang disebut preman, tergantung dari masyarakat ataupun aparat yang memberikan label terhadap kelompok tertentu sebagai preman.  Kemudian,  terjadi juga semacam generalisasi dalam bentuk prasangka terhadap kelompok tertentu sebagai preman (guilt by association).   Seolah-olah preman hanya berasal dari NTT.  Dan seolah-olah orang NTT adalah preman.  Prasangka ini kurang sehat, karena sejatinya tidak semua ‘preman’ berasal dari NTT dan tidak semua orang NTT adalah preman.

Kelima, ksatria dan jiwa korsa.  Ada sinyalemen  bahwa para prajurit Kopassus tersebut telah secara ksatria mengakui perbuatannya.  Merekal melakukan balas dendam atas dasar semangat l’esprit de corps (yang diterjemahkan menjadi jiwa korsa).  Ini juga bagian dari sesat pikir.  Karena kalau mereka betul-betul ksatria,  tentunya tak perlu melakukan penganiayaan kepada petugas LP,  menghancurkan CCTV apalagi sampai membunuh tahanan.  Lalu,  kalau betul ksatria tentunya sedari awal mereka harus mengakui perbuatannya dan langsung menyerahkan diri kepada pihak yang berwenang.  Apakah komandan langsung, pihak provoost ataupun Polisi Militer TNI AD.   Deviasi selanjutnya adalah tentang implementasi jiwa korsa yang kurang tepat.  Tak sepatutnya membela sejawat, institusi dan korps dilakukan dengan cara-cara melawan hukum bahkan terbilang sadistis.

Menuju Peradilan yang Sehat

Bahwasanya bukan sekali dua kali aparat melakukan kekerasan terhadap warga sipil sudah bukan menjadi rahasia umum.  Namun kitapun harus mengakui bahwa aparat TNI dan POLRI kini sudah berbeda dibandingkan pada masa orde baru.  Kini Aparat sudah semakin terbuka. Sudah mulai berani minta maaf kalau berbuat salah dan berani mengadili anggotanya apabila melakukan kesalahan.

Pengadilan militer yang dahulu amat misterius,  kini mulai membuka diri untuk ikut dipantau publik. Dahulu, seolah ada sekat antara masyarakat dengan pengadilan militer.  Apalagi, pengadilan militer amat eksklusif.  Hakim, Oditur (jaksa) dan penasehat hukumnya adalah militer.Juga, peran dari komandan amat luas selaku Atasan yang Berhak Menghukum (Ankum) dan Perwira Penyerah Perkara (Pepera).

Kondisi ini diperburuk dengan kenyataan bahwa tidak banyak publik yang mengetahui adanya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Militer (KUHPM) dan UU Pengadilan Militer (No. 31 tahun 1997).  Karena, materi hukum acara peradilan militer memang tidak banyak diajarkan di perguruan tinggi hukum umum.

Maka, jalan terbaik untuk memantau peradilan militer kasus Cebongan adalah dengan memahami hukum pidana dan hukum acara peradilan militer secara komprehensif.  Untuk keperluan ini, keterbukaan institusi dan peradilan militer menjadi amat penting.  Jangan ada sekat dan ketertutupan yang membuat laju peradilan kasus ini sulit dipantau. 

Perlindungan terhadap korban, saksi maupun tersangka pelaku juga harus dilakukan secara serius.  Saksi dan tersangka harus dapat memberikan keterangan dengan aman dan nyaman. Tanpa tekanan, paksaan, maupun intimidasi.  Maka, saksi harus diberi kesempatan untuk bersaksi dengan media semacam teleconference, kalau itu membuat mereka lebih nyaman dan merasa tidak terancam.

Terakhir,  keadilan juga harus diberikan untuk semua.  Aparat TNI dan POLRI juga berhak mendapatkan keadilan.  Pelaku pembunuhan dan penganiayaan prajurit Kopassus  sejawat mereka juga harus diproses hukum dan diadili dengan serius. Karena itu adalah juga kejahatan dan pelanggaran HAM juga.  Hukum harus berlaku sama untuk semua orang tanpa memandang status, profesi, harta dan akses politik. Karena Indonesia masih negara hukum.

 

Advertisements

Read Full Post »

 bogota cathedral

Bogota? Dimana tuh Mas. Bogor-Tajur maksudnya?  Bogota? Nggak tahu  ! kalo Bugatti Veyron ane tahu !

Kota Bogota, D.C. ibukota negara Colombia memang kurang populer bagi sebagian besar orang Indonesia.  Termasuk para traveller.  Karena biasanya yang masuk ke dalam ‘wish list’orang Indonesia adalah Paris, London, Roma, Amsterdam, Berlin, New York, Tokyo ataupun Hong Kong.

Pun, di antara kota-kota di Amerika Latin nama Bogota tidak sangat populer.  Barangkali,  Buenos Aires di Argentina, Rio De Janeiro dan Sao Paulo di Brasil serta Lima di Peru jauh lebih terdengar.   Tidak banyak pula maskapai (airlines) internasional di Asia, Eropa atau Afrika yang punya penerbangan ke Bogota.  Sekalipun ada, biasanya flight tersebut menyasar ke tujuan lain di Amerika Latin seperti ke Rio De Janeiro, Sao Paulo atau Buenos Aires.  Terkecuali maskapai Amerika Serikat, yang biasanya punya flight ke hampir semua negara di Amerika Selatan melalui pintu Miami atau Fort Lauderdale di negara bagian Florida.

Maka, memang perjalanan ke Bogota menjadi sesuatu banget.  Sudah jauh dan mahal, kota ini terkesan misterius juga.   Misterius semacam negeri di awan?   Seperti itulah.   Dan memang betul dalam arti sebenarnya.  Bogota memang berada di antara awan. Ia berada di ketinggian 2625 meter di punggungan utara Pegunungan Andes yang setia bertengger di sisi barat Amerika Latin mulai dari Venezuala sampai dengan Argentina.  Nah ,  Bogota persis berada di punggungan sisi utara Andes.  Yang menjadikannya sebagai ibukota negara tertinggi dunia setelah La Paz,  Bolivia dan Quito, Equador.

Sebenarnya Bogota tidak sangat misterius. Bagi perencana transportasi publik Jakarta,  Bogota adalah salah satu rujukan pengadaan jalur busway di Jakarta.  Karena memang, di Bogota terhampar jalur busway sepanjang 87 km dengan 11 rute yang bervariasi yang berhimpun dalam korporasi yang bernama Trans Milenio yang beroperasi mulai Desember 2000. Namun, sejatinya Busway Bogota adalah juga tidak orisinal.  Karena, ia meniru dan terinspirasi dari sistem busway yang sudah lebih dahulu eksis di Curitiba, Brasil.   Bedanya dengan di Jakarta,  jalur busway disini sangat rapih.  Tak ada mobil dan motor yang masuk jalur  busway.  Juga, tak ada median yang rusak karena diterabas   bus dan mobil pribadi yang menyerobot jalur busway.

art12

Keberadaan Bogota di punggungan gunung ini sungguh amat unik.  Membuat jalanan di kota ini berkontur naik turun.   Menarik untuk dijalani dengan motor atau mobil.  Tapi dijamin ngos-ngosan kalau menggowes sepeda apalagi jalan kaki.  Ditambah pula oksigen di ketinggian 2600 meter di atas permukaan laut tentunya rada tipis.

Begitu juga rumah dan gedung-gedungnya banyak yang berada di ketinggian yang berbeda dalam kontur yang bervariasi.  Mengingatkan saya dengan kota Wellington di New Zealand yang seperti menempel di tebing.

Salah satu landmark Bogota yang kebetulan juga menjadi titik tertinggi di ibukota Colombia ini adalah Montserrate.  Yaitu puncak gunung  berketinggian 3152 meter. yang berhimpitan dengan downtown Bogota dan dapat dijangkau dari kota dengan menggunakan cable car.  Di puncak Montserrate ada gereja tua dan tempat pemujaan yang amat eksotis apabila dilihat di senja atau malam hari karena timpaan cahaya yang mengelilinginya.  Uniknya, karena ia berada di samping pusat kota, gunung ini tak terkesan seperti gunung seperti adanya.  Melainkan hanya seperti viewing point.  Padahal dengan ketinggian seperti itu,  Montserrate telah mengalahkan ketinggian Gunung Gede dan Gunung Pangrango di Bogor sekaligus !

Sama seperti kota besar lainnya di dunia,  Bogota memiliki sisi kota yang terkesan aristokrat dengan  penataan tertib, bersih dan arsitektur berkelas, namun juga memiliki tempat-tempat dimana grafitti dan sampah bertebaran dimana-mana.  Juga, ada sisi kota seperti kota tua Jakarta yang sarat dengan rumah-rumah cantik ala era Spaniards yang diberi cat berwarna warni. Sangat eksotik !

Namun sejauh pemantauan kami, mata ini belum menemukan wilayah yang amat kumuh di kota berpenduduk 7.5 juta jiwa ini (setengah jumlah penduduk DKI Jakarta).  Kemiskinan pasti ada. Tapi juga tidak sangat ekstrem.  Dan kalau kemiskinan di Colombia tidak terlihat itu tidak terlalu salah, karena Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) Colombia tahun 2013 juga tidak terlalu buruk.  Ia  berada dalam kelompok ‘high human development.’  Alias, masih di atas Indonesia yang masuk kategori medium human development.   Satu mungkin cacat Colombia yang berkontribusi kepada kemiskinan negeri ini,  yaitu lestarinya konflik dalam multi-faset,  antara negara vs kartel kokain vs paramiliter bentukan landlord vs guerilla sayap kiri berhaluan komunis.  Konflik menahun berusia di atas 50 tahun tersebut berkontribusi terhadap jutaan orang terusir dari rumahnya (displaced) dan kehilangan harta bendanya.

Sisi lain dari Bogota yang menarik adalah apresiasinya terhadap keberadaan museum.   Disini museum bisa menjadi tempat belajar, tempat rekreasi, sekaligus tempat ‘dating’ !  Paling tidak itu yang kami jumpai di Museo de Oro alias Gold Museum.  Museum yang menjadi icon kota Bogota ini amat informatif dan mencerahkan. Biaya masuknya juga amat murah.

DSC_0295

Terletak persis di downtown dan sering menjadi starting point para turis dan first time visitor ke Bogota.  Bangunannya terdiri atas lima lantai dan memiliki koleksi item sebanyak 55.000 buah yang didominasi oleh koleksi emas dan peradaban emas Colombia (Quimbaya) yang berlangsung jauh sebelum Masehi, jauh sebelum era Spaniards memasuki Amerika Latin.  Saking besarnya dan banyaknya koleksi peradaban emas museum ini ia dijuluki sebagai biggest gold museum in the world.

Tidak hanya emas ternyata.  Museum ini mengajak pengunjung untuk belajar lebih jauh tentang sejarah peradaban di Amerika Latin yang ternyata sudah amat tua.  Beribu-ribu tahun sebelum Masehi.  Juga, ada display yang amat menarik tentang sejarah peradaban dunia mulai dari manusia pertama hingga era modern ini. 

Pada bagian-bagian tertentu, museum ini mengajak pengunjung mengalami pengalaman mistis tertentu. Ada ruangan yang amat gelap dengan pencahayaan tertuju pada rakit kecil berselaput emas dalam display tertutup kaca. Konon melambangkan persembahan tetua suku Muisca yang hidup di Colombia kuno terhadap dewa mereka di Danau Guatavita.  Persembahan mana dilakukan dengan melumuri tubuh dengan emas yang lama kelamaan melahirkan legenda Eldorado, yaitu legenda kota tua yang hilang yang konon bertaburan emas dan menjadi mimpi para penjelajah Amerika Latin untuk mengeksplorasi-nya.  

DSC_0232

Ada pula ruangan kedap suara yang engaja digelapkan, dimana pengunjung masuk bergantian tak boleh bersuara dan menyalakan cahaya. Di dalamnya mereka akan digiring untuk mengalami suasana ‘magis’  tertentu karena ada nyanyian-nyanyian kuno lengkap dengan artistik suara dan pencahayaan tertentu yang seolah-olah membawa pengunjung ke tengah danau Guatavita untuk menyampaikan persembahan (offering) kepada dewa tertentu.

Tak jauh dari Museo de Oro, di sisi kanan-nya, ada pasar suvenir yang menarik, dengan ragam kedai yang menawarkan aneka jenis suvenir khas Colombia.  Sayangnya, harga-harga di Bogota, termasuk harga suvenirnya, relatif tinggi.  Harga 1 US Dollar berkisar 1700 – 1900 Colombian Pesos (COP).  Dan harga topi saja  bisa mencapai 2000 COP alias lebih dari USD 10.

Beruntungnya, untuk windows shopping dan menikmati seni jalanan (street performance) di sekitar Museo de Oro jelas tak perlu biaya.  Dan itu sisi asyik yang lain dari Bogota.  Ruang publik di kota ini begitu luas.  Banyak jalan mobil yang ditutup pada hari Ahad dimana penduduk bebas berlaku apapun di jalan tersebut selama tidak melanggar hukum.  Banyak pula tersedia plaza-plaza tempat penduduk tumpah ruah melepas penat, berekreasi bersama keluarga, menikmati hari dan jarum jam yang serasa lambat di kota ini.

Seni jalanan yang digelar warga bervariasi.  Ada yang mengenakan kostum aneh laksana robot, tokoh komik atau kartun, alien, ala robot tentara, dan lain-lain.  Mereka diam tak bergerak, kecuali apabila diberi uang baru bergerak ala robot.   Ada pula yang menggelar stand up comedy di tengah jalan, bermodal kostum aneka jenis dan wig, membawa sound system sendiri, dan melucu lah ia dengan penuh percaya diri.  Kelompok lain melakukan atraksi unik macam breakdance dan beberapa ketrampilan unik lainnya.  Ada juga beberapa kelompok pengamen jalanan yang  membuka show tunggal dadakan dan menyanyi sekaligus melawak di muka audience yang mengerumuninya.

ap6

Salah satu plaza yang paliing populer adalah Plaza Bolivar.  Yaitu sebuah ruang lapang   berbentuk  persegi empat yang diapit oleh Gereja Katedral, Gedung Parlemen dan Mahkamah Agung Colombia.   Plaza ini disebut Bolivar karena di salah satu sudutnya ada patung Simon Bolivar, el libertador,  pahlawan pembebas banyak negeri di Amerika Latin  dari kolonialisme Spanyol yang juga adalah pahlawan Gran Colombia (Negeri Colombia masa lalu yang terdiri dari Panama, Colombia, Venezuela, Equador). Di Plaza ini setiap weekend warga tumpah ruah.  Uniknya, banyak pula hewan Llama,  hewan asli  Pegunungan Andes, yang dibawa ke Plaza ini untuk menghibur anak-anak yang ingin menungganginya.

Tak jauh dari Plaza Bolivar ada Istana Presiden dan beberapa gereja Katolik.  Memang kota ini sarat dengan gereja. Menurut penuturan Alex, rekan Colombia kami,  ada sekitar  32 gereja Katolik berukuran besar di kota Bogota saja.  Istana Presiden ini juga cantik dan, mesti dikawal banyak tentara, tetap sisi depannya mudah dilewati oleh warga umum yang penasaran dengan wujud kediaman orang nomor satu di Colombia.

Seminggu jelas tak cukup untuk menikmati Bogota.  Apalagi sehari. Kota di atas awan ini terlalu menawan dan rupawan untuk diabaikan.  Upaya ekstra keras untuk mencapainya seolah terbayar dengan ragam keindahan yang diberikannya.  Satu hal yang penting adalah,  peradaban dan kearifan tidak semua harus berkiblat ke Eropa atau Amerika Utara.   Paris, Roma, London, Amsterdam dan Berlin memang indah dan sarat warisan peradaban.   Namun negara Colombia dan kota Bogota, juga kota-kota lain di Colombia seperti Medellin, Cali, Cartagena, Bucaramanga, Baranquilla dan sebagainya,  juga memiliki peradaban dan sejarah kearifan sendiri.  Sama halnya seperti negeri kita tercinta, Indonesia…

DSC_0394

Read Full Post »

 

Bogota 21

 

“Peace in Colombia will not be born from any guerilla demobilization, but from the abolition of the causes that give rise to the uprising”

(FARC Statement, “Colombia”, Lonely Planet)

Apa image anda tentang Colombia atau ketika mendengar kata ‘Colombia”?  pastinya banyak yang akan menyebut Pablo Escobar ! kartel kokain di Medellin ! kartel kokain di Cali !  sebagian lagi akan menyebut Rene Higuita ! kiper nyentrik gondrong Colombia yang terkenal dengan ’scorpion kick’ -nya di laga Colombia vs England tahun 1995.  Sebagian lagi akan menyebut nama Shakira, Diva pop Colombia keturunan Lebanon yang ngetop dengan ‘Waka-Waka’ nya di World Cup Afsel 2010 dan kini punya anak dari defender Barca, Gerard Pique.

Ya, image pertama tentang Colombia adalah kokain kemudian konflik yang terkait dengan kokain.   Walau sejatinya konflik di Colombia tak hanya diakibatkan kokain.  Ada yang terkait dengan politik negara,  paramiliter yang dibentuk para tuan tanah (landlord), guerilla sayap kiri (leftist) dan sebagainya.

“Ada tiga tentara di Colombia.  Tentara negara, paramiliter, dan guerilla,” ujar Martha, rekan Colombino kami.  “Ketiganya bermasalah dan punya pendukung sendiri-sendiri,” tambahnya lagi.  Saya jadi tercenung.  Ingat di negeri sendiri yang punya hanya satu tentara, yaitu TNI, namun punya banyak polisi.  Polisi resmi memang satu, yaitu POLRI, tapi banyak kelompok yang berperan layaknya polisi (swasta), macam para preman, debt collector, dan sebagainya.

Bogota22

Konflik di Colombia ini bisa disebut  konflik protracted alias menahun.  Konfliknya bersegi banyak dengan kepentingan yang bervariasi.  Saking maraknya konflik,  Colombia sering jadi sasaran miring film Hollywood, yang mengambil setting konflik Colombia di film-film laganya.  Sebutlah film Clear and Present Danger ‘Harrison Ford”  (1994), Collateral Damage “Arnold Schwarzenegger” (2002),  XXX Vin Diesel (2002), Mr. & Mrs. Smith (2005),  Delta Force 2 : Colombian Connection (1990), The Specialist ‘Sylvester Stallone” (1994) dan lain-lain.  Rata- rata film H0llywood di atas mengambil setting sama.  Perang antar drug cartel, paramiliter, guerilla, pembunuhan dan penculikan politisi, dan sejenisnya.   Barangkali Colombia adalah negeri yang paling dilukiskan sebagai ‘miring’ oleh film-film Hollywood selain negeri-negeri di Timur Tengah dan Asia Selatan.

“Tentara swasta bisa hidup disini karena politisi-pun membutuhkan jasa mereka supaya bisa bertahan di panggung politik,” ujar Annette, rekan Colombia kami, dalam bahasa Inggris yang amat fasih.   Guerilla sayap kiri eksis karena ingin menguasai panggung politik Colombia.  Paramiliter sayap kanan eksis karena dibentuk oleh para tuan tanah (landlord) yang ingin memerangi guerilla.   Drug cartels berada di antara keduanya dan juga terkadang mengambil benefit dari sisi pemerintah.  Pemerintah Colombia merapat ke Cali Cartel (yang merupakan rival Medellin Cartel) dalam rangka menghancurkan Medellin Cartel yang dimulai dengan tewasnya ‘Godfather’ Pablo Escobar pada Desember 1993.   Setelah itu gantian Cali Cartel yang diberantas pemerintah.

Sejarah konflik sudah berlangsung lama.  Namun konflik di jaman modern ini bisa dibilang dimulai sejak awal tahun 1960-an.   Ditandai dengan gempuran hebat terhadap gerakan komunis yang malah melahirkan kelompok guerilla sayap kiri FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia) alias Revolutionary Armed Forces of Colombia, kemudian rivalnya yang sama-sama guerilla sayap kiri yaitu ELN (Ejercito de Liberacion Nacional) alias National Liberation Army, dan M 19 (Movimiento 19 de Abril).

Bogota 22

Kemunculan kelompok guerilla sayap kanan memicu kekhawatiran dari pemerintah dan para tuan tanah (landlord).  Para landlord kaya ini kemudian membentuk tentara sendiri,  paramiliter, antara lain bernama AUC (Autodefensas Unidas de Colombia) alias United Self-Defense Forces of Colombia.  Paramiliter sayap kanan ini dibentuk dalam rangka menandingi guerilla sayap kiri.  Kekuatan AUC mencapai hampir 10.000 tentara, yang berasal dari mantan atau desertir tentara.

Ketika pesona komunisme mulai meredup seiring dengan bubarnya Uni Sovyet dan negara-negara komunis di Eropa Timur,  guerilla sayap kiri seperti FARC dan ELN berganti peran.  Mereka mulai beralih ke bisnis ‘drug’ dan banyak melakukan penculikan (kidnapping) sebagai bagian dari fundraising.   Pada saat bersamaan, paramiliter sayap kanan juga terus melakukan operasi-operasi ‘militer’ atas perintah dari landlords ataupun company yang merasa terancam dengan guerilla sayap kanan.

Dengan bantuan Amerika Serikat (melalui Plan Colombia tahun 2000, kerjasama kontroversial antara Bill Clinton dan Presiden Andres Pastrana), perang melawan guerilla sayap kiri dan paramiliter sayap kanan semakin digencarkan.  Akhirnya pada tahun 2006 AUC menyerah (walau lahir kembali dalam bentuk lain dua tahun kemudian). Lalu kekuatan FARC semakin melemah.  Apalagi pada tahun 2008 pemimpinnya, Raul Reyes, terbunuh.  Sampai saat ini FARC masih eksis, kendati semakin tersudut tinggal di hutan-hutan dan pedalaman C0lombia.

Bogota 23

Sama seperti para guerilla dan paramiliter, Tentara Colombia sendiri bukan tanpa dosa.  Tentara Colombia dianggap bertanggungjawab atas tewasnya 3000-an rakyat Colombia pada masa pemerintahan Presiden Alvaro Uribe (2000 – 2010) , hanya karena mereka dianggap (false positive) sebagai  compesinos (petani) simpatisan guerilla sayap kiri, sesuatu yang belum tentu terbukti.

Tak habis tinta menulis panjangnya dan rumitnya konflik di Colombia.  Namun, tak adil juga kalau melihat Colombia hanya dari sisi film Harrison Ford ” Clear and Present Danger.”  Di semua negara juga ada k0nflik, dengan magnitude dan skala konflik yang berbeda.  Bagaimanapun saat ini Colombia merangkak maju.  Ekonomi dan investasinya merangkak maju.  Secara fisik, Colombia juga tampak modern dan mewakili citra sebagai ‘developed country.’   Maju terus Colombia,  seguir adelante!

Read Full Post »

Colombia Bukan Hanya Escobar dan Kartel Kokain

 

 

13715523341977739881

Bogota from Viaggio Urbano Hotel 5th Fl

“Buenos noches Senor,  puedes hablar Espanol?”  sapaan hangat dari pria paruh baya Colombiano bernama Luis Gonzales ini menyambut saya persis di ruang kedatangan bandara Eldorado Bogota.   Pria penjemput saya ini sayangnya tidak bisa berbahasa Inggris.  Namun ia tetap menunjukkan keramahan dan kehangatan untuk saya, pria yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Colombia.

Kehangatan ini penting karena ternyata Bogota begitu dingin, dan saya salah kostum !  Walau Colombia berada tak jauh dari garis equator dan tak punya musim dingin, tapi Bogota berada di ketinggian 2625 m di atas permukaan laut di punggung utara Pegunungan Andes.  Alias setiap hari mesti dingin walaupun bukan musim dingin.  Dengan ketinggian seperti ini Bogota adalah Ibukota negara tertinggi ketiga sedunia setelah La Paz (Bolivia) dan Quito (Equador).  Saya jadi membayangkan hidup di Bogota adalah seperti tiap hari hidup di punggungan Gunung Gede dan Pangrango yang hanya lebih tinggi 300 meter saja dari Bogota.

Lalu, kamipun membelah kota Bogota menuju hotel tempat saya akan menginap, Viaggio Urbano Hotel, yang juga berlokasi di ketinggian, di punggungan bukit.  Sepanjang jalan saya takjub dengan kebersihan dan pesatnya pembangunan di kota ini.  Lalu lintas-nya tertata rapi dan banyak jalur busway di jalur-jalur utama kota.  Uniknya busway yang berlabel Trans Milenio ini bisa sampai tiga gandengan panjangnya.  Konon pula busway di Jakarta meniru busway di kota ini.  Tapi apakah perlu busway di Bogota?  saya lihat di jalan-jalan juga tak dipadati kendaraan. Penduduk Bogota-pun hanya setengah dari penduduk Jakarta, 7.5 juta jiwa sahaja.

13715534811677125427

Hilly housing in Northern Bogota

Disamping jalanan yang tertata rapi,  bangunan dan gedung-gedung pun juga tertata rapi.  Kebanyakan gedung berwarna coklat batu bata dengan arsitektur campuran, Spanish, France, British atau khas Andean.

Tidak banyak orang berlalu lalang di sepanjang jalan.  Mungkin juga karena suhu dingin di kota ini abadi. Kalau malam bisa 9 derajat celcius dan siang hari berkisar 18 – 21 C, tetap dingin untuk ukuran pria Melayu yang setiap hari disiram panas bumi Jakarta.

Ketika sampai di hotel, saya menempati lantai 5 dengan view yang amat keren, langsung ke pusat kota Bogota.  Pemandangannya spektakuler, betah berlama-lama melamun di pinggir jendela.   Di hotel juga saya tak menemukan ada AC (Air Conditioner) di kamar saya. Make sense sih, udara sudah dingin, siapa pula yang perlu AC?

Hari-hari berikutnya saya merambah Bogota, merambah kampus Universidad Javeriana, downtown Bogota, Museo de Oro, Plaza Bolivar, Istana Presiden, gereja Katedral (menurut info Alex, rekan Colombiano saya, ada 32 gereja Katolik ukuran besar di Bogota), hingga kota tua Bogota yang sarat dengan rumah-rumah tua berwarna warni, hostel untuk turis backpacker serta gang-gang kecil yang penuh asap cannabis (ganja).  Konon di Colombia ganja legal dikonsumsi sampai batas 20 gram.

Di perjumpaan yang tidak lama dengan kota cantik ini saya sempatkan juga ‘mingle’ dengan para Colombiano.  Dan benar, mereka adalah orang-orang yang hangat, ramah dan siap menolong.  Para senora dan senorita-nya juga banyak yang berwajah ala artis telenovela.  Saya jadi berfikir, berpuasa Ramadhan di negeri ini akan menjadi tantangan tersendiri. Hambatannya adalah bahasa saja, tak semua orang bisa berbahasa Inggris.

13715546861254222053

downtown Colombia

Banyak kesan menarik terhadap negeri ini.  Yang mengubah pandangan saya tentang negeri ini selamanya.  Benar kata orang, seeing is believing. Sebelumnya, saya, dan sepertinya juga semua orang Indonesia, memandang negeri ini semata-mata sebagai surga konflik. Sarat dengan mafia kokain, apakah kartel Medellin, kartel Cali (keduanya konon sudah bubar). Maka, selalu komentar yang mampir ke saya adalah :” salam ya buat Pablo Escoba di Medellin,” atau “Ngapain ke Colombia, Mas, mau dagang kokain?” atau “Kemana Mas, Colombia? kayak Nazarudin dong, nanti ketangkep lho di Cartagena.”

Dan masih banyak komentar lucu, miring, sampai serius tentang Bogota dan Colombia. Tapi sekali lagi, seeing is believing, Colombia bukan hanya Pablo Escobar, bukan hanya kiper nyentrik si gondrong Rene Higuita, juga bukan hanya diva legendaris Shakira “waka waka”.  Colombia bukanlah kota Columbia di negara bagian Missouri, USA, juga bukan nama kampus keren di New York almamater Obama (Columbia University), juga tidak sama dengan nama space shuttle Amrik yang meledak pada 1 Februari 2003.  Colombia adalah negara cantik dan berperadaban tua yang really worth visiting ! te amo Colombia !

Viaggio Urbano, Bogota, D.C. 18 Junio 2013

Read Full Post »

terlampir

Bab 1 AW

Bab I DD

Read Full Post »