Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Short Stories’ Category

            

 

NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN

By : Heru Susetyo

 

Mai duduk termenung.  Sedih, bingung, gembira, campur jadi satu. Gadis Thailand keturunan Narathiwat -propinsi selatan Thailand yang penduduknya mayoritas muslim Melayu-  ini baru saja diwisuda sebagai Master bidang Pekerjaan Sosial  Chulalongkorn University, Bangkok.  Lulus dengan nilai terbaik. Thesis terbaik. Waktu tercepat. Dan juga lulusan termuda. Di kampus terbaik pula. Yang Mulia Maha Chakri Sirindorn, putri mahkota  kerajaan Thailand sendiri yang menyalami dan memberinya rangkaian bunga anggrek pagi tadi.  Pertanda ia sangat spesial. Diperlakukan layaknya keluarga kerajaan. Karena, memang kampus Chulalongkorn adalah milik keluarga kerajaan.

 

Usai peluk cium kiri kanan. Berfoto dalam berbagai pose dengan teman satu angkatan.  Kini ia duduk terpekur persis di pinggir kolam kampus utama Chulalongkorn. Di depannya ada lukisan Raja Thailand Bhumibol, lengkap dengan pakaian kebesarannya. Raja tertua dan terlama berkuasa di dunia ini nampak berwibawa sekaligus makin nampak tua.  Mai menatapnya dengan datar.  Ia hormat dan respek kepada sang raja.  Namun tetap tak ingin menyembahnya.  Bagaimanapun ia adalah muslim, kendati berkewarganegaraan Thailand.  Tak layak manusia menyembah sesama manusia.

 

Langit di atas kampus Chula mulai nampak memerah. Membelah Baiyoke Tower di sisi utara dan Hotel Pathumwan Princess di sisi baratnya. Burung berterbangan dengan riang dari arah Lumpini Park menuju Silom Road.  Lumpini Park adalah tempat favorit Mai di Bangkok.  Hari Ahad paginya dihabiskan disana dengan jogging sambil menikmati pemandangan itik berenang di danau Lumpini. Silom Road, sebaliknya, adalah musuh besar Mai.  Karena di jalan ini berlokasi kawasan lampu merah Patpong yang luar biasa populer ke mancanegara.

 

Semua kenangan studi di Chulalongkorn mendadak hadir dalam benak Mai.  Empat tahun untuk studi sarjana dan dua tahun untuk studi Master. Enam tahun silam ia bukan apa-apa. Tak mengenal siapapun dan tak dikenal siapapun di Bangkok.  Datang dari kampung miskin di Tak Bai, Narathiwat, propinsi paling selatan Thailand yang berbatasan langsung dengan negara bagian Kelantan Malaysia.  Kedua orangtuanya adalah petani miskin di Tak Bai. Tak pintar berbahasa Thailand pula.  Hanya dapat berbahasa Melayu logat Narathiwat.  Padahal mereka warganegara Thailand. Studi di Bangkok tak pernah masuk dalam agenda orang tuanya.  Sampai Allah SWT mengirimnya ke Bangkok karena Mai lulus terbaik dari Madrasah Aliyah se-propinsi Narathiwat sehingga beroleh beasiswa dari pemerintah Thailand untuk studi di Chulalongkorn.

 

Ya itu enam tahun silam.  Kini semua telah berubah.  Dunia seperti ada dalam genggaman Mai.  Gelar wisudawati terbaik dengan nilai tertinggi telah mengangkat dirinya tinggi.  Lebih tinggi dari Baiyoke Tower, gedung tertinggi Thailand di kawasan Pratunam yang menjulang kokoh di hadapannya.

 

Chulalongkorn menawarinya langsung menjadi asisten professor (ajarn) di Fakultas Ilmu Sosial.  Kedutaan Besar Australia di Bangkok menawarinya beasiswa Doktor ke Australian National University, Canberra dengan scheme Australian Development Scholarship for Women from Underrepresented Communities.  Kementerian  Pendidikan Thailand menawarinya posisi asisten riset.  Dan itu semua sangat istimewa, mengapa? karena ia adalah muslimah, berjilbab, dan miskin pula. Alias, minoritas yang komplit ketertindasannya di tengah mayoritas Thai. Ah ya, ada satu lagi tawaran.  Menjadi ajarn di Prince Songkla University, kampus Patani.  Di tanahnya sendiri.  Tapi untuk yang terakhir ini tak menjadi prioritas Mai.  Mengajar di kampung sendiri memang mengasyikkan. Tapi bukankah ilmu adanya di Bangkok ataupun di negeri luar?

 

Tak terasa air mata meleleh dari dua pojok mata Mai.  Ya Allah, semua berubah begitu cepat. Fabiayyi alaa`i Rabbikuma tukadzibaan...Semoga aku tak akan mengingkari nikmatMu ini ya Allah….  Mai mengucap lirih ayat favoritnya di Surah Arrahman tersebut.

 

“Sawasdee khap Nong,  Sabay dee may?[1]  sapaan ramah Chaiwat,  teman seangkatannya mengganggu lamunan Mai. Sabay dee, Pi, jawab Mai datar.  Kendati Chaiwat teman seangkatan Mai, tapi ia lebih tua dua tahun dari Mai. Maka Mai memanggilnya Pi, alias kakak. Chaiwat duduk disamping Mai. Seolah tahu gadis rapuh ini tengah mencari teman bicara. Teman berbagi gundah.

 

Apa yang bisa saya bantu, Nong? Kamu nampaknya tengah bingung.  Tak tahu hendak kemana setelah usai studi Master?”  Chaiwat membuka dialog dengan bahasa Thai yang santun.  Pemuda Thai ini memang lawan bicara yang pintar menempatkan diri.  santun.  Ia berpengetahuan luas tapi tetap tidak sombong.

 

Lebih dari itu, Mai tahu,  temannya ini menaruh hati padanya.  Terus terang Mai tertarik pula.  Siapa yang tak tertarik dengan Chaiwat. Berwajah ganteng, berotak encer, dan datang dari keluarga politikus kaya Thailand.  Tapi terlalu banyak perbedaan di antara mereka. Mai muslim, Chaiwat Buddhist.  Mai berasal dari Thailand Selatan, Chaiwat berasal dari Chiang Mai di utara Thailand.  Mai keturunan Melayu Patani. Chaiwat keturunan China generasi awal yang bermigrasi ke Chiang Mai.  Mai miskin abis, Chaiwat kaya abis.  Seperti pungguk merindukan bulan. Maka,  Mai-pun sedari awal sudah memangkas mimpi indahnya bersama Chaiwat. Tahu diri. Ia hanya menganggap Chaiwat sebagai teman biasa.

 

Pernah Chaiwat me`nembak`nya suatu waktu. Di tepi Sungai Chao Phraya.  Ketika mahasiswa se-angkatan mereka bersama menghabiskan malam tahun baru 2004 sambil menikmati fireworks (kembang api) di sekitar Sanam Luang.  Saat itu Chaiwat berjanji akan masuk Islam apabila Mai berkenan menikahinya. Ia tak keberatan dengan keislaman Mai. Dengan jilbab Mai. Dengan kemiskinan Mai.  Mai sempat melambung ke langit ketujuh ketika itu. Namun kemudian sadar.  Perbedaan di antara mereka terlalu lebar.  Koo thoot, Pi[2] jawabnya lirih.

 

”Jadi kamu mau kemana setelah lulus ini, Mai.  Aku tahu kamu banyak mendapat tawaran menggiurkan.  Lebih menggiurkan daripada aku.  Chulalongkorn tidak menawariku jadi ajarn[3] disini.  Kementerian pendidikan juga tidak.  Aku tidak lebih beruntung dari kamu.  Lalu kenapa kamu bersedih diri?”  Tanya Chaiwat.

 

“Entahlah, Pi.  Aku juga bingung. Begitu banyak nikmat Allah yang kuterima dalam waktu yang tak terlalu lama.  Aku ingin jadi ajarn di Chula, ingin kerja untuk pemerintah, ingin studi di Australia.  Tapi aku juga ingin kembali ke Narathiwat.  Orangtuaku dan masyarakatku adalah petani miskin Thailand Selatan.“  Aku ingin membangun Narathiwat dengan bekal ilmu yang aku miliku.  Untuk Pi Chaiwat ketahui,  belum pernah ada perempuan Narathiwat yang seberuntung aku dalam sejarahnya selama ini.  Kuliah hingga Master di Chula dengan biaya pemerintah.  Teman-teman seusiaku kebanyakan sudah punya anak tiga.  Tidak tamat sekolah menengah.  Dan melulu hidup gelisah dalam ketakutan karena ancaman teroris lokal yang tak henti mengganggu kehidupan kami.“

 

Mai berkata jujur.  Ia seperti fenomena baru bagi wanita muslim di selatan Thailand. Seperti namanya.  Mai dalam bahasa Thailand berarti `baru`. Mai sendiri hanya nama panggilannya.  Karena hampir semua orang Thailand punya nama panggilan (nickname).  Nama Thai-nya adalah Chaleeda Bangluansanti.  Nama muslimnya adalah Nuraini.  Hampir semua muslim Thailand Selatan punya dua nama. Nama Thai maupun nama muslim.

 

”Luar biasa kamu Mai. Sangat idealis. Kalau aku jadi kamu, aku akan ambil Australia.  Ini peluang besar Mai. Kamu belum pernah ke luar negeri kan? Apalagi kamu dapat beasiswa pula. Kamu bisa pulang ke Narathiwat setelah jadi Doktor nanti.  Dan, untuk kamu ketahui,  alhamdulillah aku-pun dapat beasiswa Doktor dari scheme Australian Development Scholarship.  Tidak di Australian National University, tapi di University of New South Wales, Sydney.  Jadi aku bisa menyambangimu setiap akhir pekan ke Canberra.  Tak jauh kan jarak dari Sydney ke Canberra,” tutur Chaiwat.

 

Mai dua kali bergidik mendengarnya.  Pertama ketika Chaiwat mengucapkan lafadz alhamdulillah.  Darimana pria Thai Buddhist ini belajar kata alhamdulillah dengan pengucapan yang sempurna pula?  Kedua, ketika ia mengatakan…aku bisa menyambangimu setiap akhir pekan ke Canberra.  Terus terang Mai senang bercampur takut.  Berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram. Di luar negeri pula.

 

Khap khun ma kha[4] atas masukannya Pi.  Aku pikir-pikir dulu ya.  Sudah maghrib, aku shalat dulu ya di Muslim Study Club,

 

”Silakan Nong,  dan tolong pikirkan kembali ucapanku tadi.  Dan untuk kamu ketahui, aku masih belum mencabut janji-janjiku seperti yang aku ucapkan di tepi Chao Phraya malam tahun baru 2004 lalu,” jawab Chaiwat tenang.  Dan, untuk ketiga kalinya dalam dua menit Mai bergidik.

##

 

 

Muslim Study Club Chulalongkorn nampak sepi.  Tak heran ini kan hari libur. Hari wisuda. Mana ada mahasiswa muslim datang ke kampus. Tapi hari biasapun juga memang sepi.  Disamping karena hong lamat[5]  ini letaknya di lantai empat Student Club builiding, juga karena tak banyak mahasiswa muslim studi di Chula.  Tapi alhamdulillah ada satu sosok muslimah tengah membaca Al Qur`an. Sosok yang sangat akrab di matanya.  Maulida rupanya.  Gadis Indonesia asal Aceh yang sama sepertinya baru saja diwisuda hari ini.  Maulida adalah perawat  asli Aceh yang bertugas di kampungnya, di Meulaboh.  Ia studi Master bidang Public Health di Chulalongkorn atas beasiswa ASEAN.  Teman diskusi yang menarik. Bersama mereka sering ke pasar Chatuchak ketika weekend, ke Soi 7 Petchburi Road untuk berburu makanan halal, berburu buku di Kinokuniya Siam Paragon, dan mengaji bersama di Islamic Center Ramkhamhaeng.  Kendati Maulida tetap belum bisa berbahasa Thai, namun ia rajin mengikuti pengajian muslimah Thai.  Mai-lah penerjemah setianya.

 

“Assalamualaikum Ukhti, apa kabar?”  Maulida menyapa terlebih dahulu dalam bahasa Inggris. Dan cuma Maulida seorang yang menyapanya dengan panggilan `ukhti` di Thailand.  Teman muslim lainnya menyapa dengan panggilan Pi atau Nong. ”Kabar baik Kak Ida”  Mai menjawab dalam bahasa Indonesia yang patah-patah.  Hanya itu kalimat Indonesia yang dikuasainya. Kendati ia dapat berbahasa Melayu Patani dengan lancar.

 

”Selamat atas keberhasilan Ukhti.  Allah SWT telah mengangkat Ukhti ke posisi yang luar biasa.  Lalu mau kemana setelah ini ukhti? Aku mendengar ukhti banyak sekali mendapat tawaran menarik?” tanya Maulida ramah.

 

”Alhamdulillah Kak Ida.  Kayak di negeri dongeng.  Semua berubah begitu cepat. Aku sendiri malah bingung sekarang mau kemana.  Pulang ke Narathiwat, jadi ajarn di Chulalongkorn, jadi ajarn di Patani, atau kerja di Bangkok di kementerian Pendidikan.  Ataupun studi Doktor di Australia.  Tapi kayaknya aku condong dengan yang terakhir ini, tutur Mai.”  “Kak Ida sendiri mau kemana?  Kok hari ini tak ada orangtua yang ikut menghadiri wisuda?”  tanya Mai polos.  Maulida tertawa geli dan berkata, “ ha ha ha, Ukhti Mai bercanda ya.  Mana mampu aku mendatangkan orangtuaku ke Bangkok. Mereka belum pernah keluar negeri. Tidak bisa berbahasa Inggris. Tak punya passport. Dan alasan yang paling utama adalah,  kami adalah keluarga nelayan miskin dari Meulaboh. Jangankan ke Bangkok,  ketika aku tamat studi sarjana di Syiah Kuala saja orangtuaku tak sanggup datang ke Banda Aceh karena tak punya uang.

 

“Maaf Kak Ida, aku tak bermaksud merendahkanmu. Kita senasib. Aku juga tak sanggup mendatangkan orangtuaku ke Bangkok.  Padahal mereka tinggal di Thailand. Orangtuaku tak pernah pergi ke Bangkok seumur hidupnya.  Mereka juga tak dapat berbahasa Thailand.”

 

Mai pen rai[6] ukhti.  Semoga do`a orangtua kita dan keikhlasan mereka diganjar Allah SWT dengan balasan yang berlimpah.  Mereka membanting tulang dan berbasuh keringat supaya kita dapat sekolah.  Dan kini kita di Bangkok dengan segala kemuliaan kita, sementara mereka tetap tinggal di kampung dengan segala kesahajaannya. Allahumaghfirlana waliwalidayna warhamhuma kamaa Rabbayana Shaghirra… ”jawab Maulida sambil terisak-isak.  Tangis yang menular, karena sepuluh detik kemudian, Mai pun menangis.  Teringat ayah Ibu di Tak Bai yang tak turut menikmati kegembiraannya di hari wisuda ini. Isakan tangis kedua muslimah berbeda kewarganegaraan ini memecahkan keheningan lantai empat Student Club Chulalongkorn.

 

Lima menit keduanya berkubang dalam tangis masing-masing.  Hingga Mai berkata lirih. ”Kak Ida sendiri akan kemana setelah wisuda ini?” tanya Mai.  “Itulah yang aku bingung Ukhti Mai. Aku baru saja membaca email sore tadi setelah wisuda.  Alhamdulillah aku mendapat beasiswa untuk studi Doktor bidang Public Health di Nagoya, Jepang.  Aku mesti berangkat bulan depan.  Pada saat yang sama aku juga ingin pulang ke Meulaboh.  Sudah tiga tahun aku meninggalkan kedua orangtuaku. Mereka sudah tua dan aku adalah anak tertua.  Adikku ada empat orang.  Aku juga masih bekerja di Rumah Sakit setempat sebagai kepala perawat. Kami punya begitu banyak pasien miskin, yang semakin miskin karena konflik tak henti mendera Aceh,“ tutur Maulida panjang.

 

“Bila aku ke Jepang,  berarti akan empat tahun tinggal lagi di negeri orang. Tak tega aku menatap wajah adik-adikku yang masih di sekolah dasar.  Aku harus pulang.  Memang berat. Tapi aku tak punya pilihan.  Mungkin suatu waktu, insya Allah bila adik-adikku sudah mandiri, aku akan kembali mengejar gelar Doktor-ku.  Dimanapun. Tak mesti di Jepang,“ tambah Maulida.

 

Gubrakk! Mai seperti tertampar mendengarkan jawaban Maulida. Ia dan Maulida sebenarnya dalam perahu yang sama.  Pepatah Inggris menyebutkan we are in the same boat. Sama-sama miskin. Sama-sama dibesarkan di daerah konflik. Sama-sama mendapatkan beasiswa karena keenceran otak mereka. Sama-sama punya tanggungan adik-adik yang masih kecil.  Bedanya, Maulida berfikir lebih jernih.  Tak silau karena keinginan studi ke luar negeri. Sedangkan aku? Tanya Mai pada dirinya sendiri. Sangat ingin ke Australia. Karena tak pernah ke luar negeri. Lalu akan terbenam minimal empat tahun lamanya disana. Bagaimana orangtua dan adik-adikku nanti kalau aku tetap ke Australia?

 

##

Mai akhirnya memutuskan pulang ke Narathiwat.  Tawaran studi ke Australia ditundanya. Tak ditolaknya.  Karena ia berharap suatu waktu, entah kapan, bisa ke Australia. Minimal ketika adik tertuanya sudah mandiri. Sehingga dapat membantu keuangan keluarga.  Kasihan ayah ibu yang semakin tua. Ia memilih menjadi ajarn di Prince of Songkla University kampus Patani. Kampus ini berjarak dua jam perjalanan dari Narathiwat dan tiga jam perjalanan dari kampungnya di Tak Bai.  Baik Patani maupun Narathiwat adalah provinsi Thailand yang penduduknya mayoritas muslim. Maka, Mai tak menemukan kesulitan hidup di Patani .  Tidak seperti di Bangkok. Sukar menemukan makanan halal. Sukar menemukan tempat shalat. Dan anjing berkeliaran dimana-mana.

 

Hidup terasa begitu indah di Patani dan Narathiwat.  Kendati ancaman konflik tak henti mendera Patani, Yala dan Narathiwat. Salah satu yang terbesar adalah penyerbuan masjid Krue Se di Pattani pada 28 April 2004. Tiga puluh satu aktivis muslim tewas diterjang peluru tentara yang menerjang masuk ke dalam masjid. Selama beberapa bulan kehidupan di sekitar Patani begitu mencekam.  Tentara berpatroli dua puluh empat jam setiap hari dengan jeep Humvee dan motor trail. Menyandang senapan otomatis M-16 dan perlengkapan tempur.  Setiap satu kilometer ada military checkpoint dimana kendaraan yang melintas harus berjalan zig zag dan pengemudi wajib menunjukkan identitasnya.  Penduduk luar Patani enggan masuk Patani. Mahasiswa Thai non muslim menghentikan studinya dan pulang ke daerah asal di utara Thailand. Penduduk lokal Patani sebagian mengungsi ke Malaysia atau ke bagian utara Thailand.  Kehidupan terasa begitu mencekam.

 

Begitupun Mai tak ingin meninggalkan Patani.  Hatinya sudah berlabuh disini. Sejujurnya ia takut, namun iapun tak tega meninggalkan mahasiswa dan masyarakat sekitar.  Keahliannya sebagai pekerja sosial sangat berharga di Patani.  Bersama masyarakat dan mahasiswa ia mendirikan posko kesehatan dan ketahanan keluarga.  Menyalurkan bantuan makanan dan pelayanan kesehatan kepada penduduk yang terisolasi di daerah konflik.

 

Hampir setiap hari ia bertukar SMS dengan Maulida yang telah kembali bertugas di Meulaboh. Sekedar mengucapkan Sabay Dee May[7]. Maulida benar-benar tak ingin studi Doktor di Jepang. Cinta Maulida pada tanah Aceh membuat Mai malu pada dirinya sendiri.  Maka iapun kembali menata cintanya untuk tanah Patani Darussalam yang terdiri atas empat propinsi, Patani, Yala, Narathiwat, dan Songkla.  Semuanya berjalan indah. Sampai suatu waktu ayah ibunya menemuinya di kampus Prince Songkla University.  Inilah kali pertama orangtuanya menemuinya di kampus. Pasti ada yang istimewa.

 

”Mai, kami harap kamu mempertimbangkan betul lamaran dari keluarga Abdul Syukur, kerabat jauh kita di negeri Kelantan Malaysia.  Putra tertua mereka, Haznan, baru saja kembali dari studi Master di Al Azhar, Kairo. Kini ia menjadi pengajar di Kelantan. Tengah mencari istri.  Dan sepertinya ia tertarik dengan kamu,”  ayahnya berkata pelan.  Khawatir menyinggung hati Mai.

 

”Iya sayangku, kamu sudah berusia dua puluh lima tahun, sudah cukup layak untuk menikah. Kamu juga sudah bekerja. Apalagi yang kamu tunggu? Ayah Ibu sudah ingin punya cucu. Memang kita keluarga miskin.  Tapi tak salah juga kan kalau kita menambah anggota keluarga besar kita?  Apalagi keluarga Abdul Syukur termasuk keluarga berada di Kelantan?”  Ibunya menambahkan.

 

Gubrakkk!!!. Mai terhenyak.  Menjadi istri dan ibu memang sudah masuk dalam agenda hidupnya.  Tapi tidak sekarang.  Juga tidak dengan orang yang tidak dikenalnya.  Tapi iapun enggan mengecewakan ayah ibunya yang tiga jam menempuh perjalanan darat dari Tak Bai untuk menyampaikan kabar ini.  Maka Mai hanya mengatakan,” Saya pertimbangkan Babo[8] dan Ummi. Sejujurnya Mai belum siap menikah sekarang.  Mai masih ingin bekerja buat saudara-saudara kita disini.”

 

”Tapi Mai sayang, kamu tetap dapat bekerja disini walaupun kamu menikah. Tak ada yang berubah kan? Malah hidupmu akan lebih semarak dengan kehadiran suami dan mungkin anak-anakmu nanti.” sanggah Ibunya.  ”Betul Bu, tapi…”  Mai tak kuasa menahan tangisnya. Alih-alih putra keluarga Abdul Syukur,  bayangan Chaiwat dan segenap janjinya untuk  menjadi mualaf malah berkelebat dalam benaknya.  Malam hari sebelum tidur,  Mai mengirim SMS kepada Maulida. Menanyakan pendapatnya tentang perjodohan tersebut.  Pagi harinya Maulida membalas dengan menyitir penggalan surat Arrahman,…Fabiayyi allaa` i rabbikumma tukadzibaan....  Terus terang,  Mai tak mengerti apa maksudnya.

##

 

 

24 Oktober 2004

Seminggu sebelum hari peminangan tiba.  Mai memutuskan untuk meninggalkan Patani.  Ia tak berani menolak perjodohan tersebut dengan lisannya.  Juga tak sanggup mengiyakan. Ia teringat dengan teman-teman sebayanya yang kini tetap tinggal di rumah, berpendidikan rendah, sibuk dengan urusan dapur dan mengurusi suami. Beberapa suami teman-temannya kemudian menikah lagi, berpoligami, dan menyisakan sebagian kecil saja nafkah bagi keluarga.  Mai trauma. Bayangan menjadi Doktor bidang Social Development di Canberra kemudian menjadi Professor di Prince of Songkla University, terlihat lebih indah dalam benaknya. Tapi iapun tak berani menolak orangtuanya.  Maka ia memilih menulis surat kepada orangtuanya.  Dititipkan via Halimah, mahasiswinya yang berasal dari Tak Bai.  Isinya,  ia tak menolak perjodohan tersebut, namun menundanya sampai ia pulang dari Australia.  Namun iapun tak memaksakan.  Silakan saja apabila keluarga pihak pria ingin mencari yang lain.  Dalam benak Mai,  alasan untuk sekolah Doktor adalah alasan yang paling halus dan masuk akal untuk menggagalkan perjodohan ini.

 

 

25 Oktober 2004.

Mai sudah berada di Bandara Don Muang Bangkok.  Tiket pesawat Thai Airways jurusan Sydney sudah digenggamnya.  Bersamanya ada Chaiwat dan delapan orang calon mahasiswa program Doktor lain di Australia. Sebenarnya studi di Canberra baru akan dimulai pada Februari 2005, namun pihak sponsor meminta waktu untuk orientasi kultural dan memperdalam bahasa Inggris-Australia selama tiga bulan sebelum studi dimulai.

 

Pada saat boarding.  Telepon selular Mai berdering.  Dari Tak Bai.  Mai tak kenal dengan nomor tersebut. Ia enggan mengangkatnya.  Khawatir yang menelpon adalah keluarganya. Tapi, ayah dan ibuku tak pernah menelponku langsung.  Mereka tak punya handphone juga di rumah tak memiliki telpon rumah. Lagipula mereka tak tahu pula nomor ponselku.  Barangkali dari adikku. Maka dengan setengah ragu ia menekan tombol `yes`.  ”Assalamualaikum kha, Pi Mai? Sawasdee kha!” suara Halimah ternyata.  ”Waalaikumussalam kha, ada apa, Nong Halimah?”

 

“Pi Mai masih di Bangkok, kan? Belum akan terbang?”  gadis muda ini bertanya cepat. Ada nada kepanikan dalam kalimatnya.  “Aku sudah di Don Muang Nong, sebentar lagi boarding dengan Kham bin Thai[9] ke Sydney via Singapura.  Ada apa?” Mai berusaha tenang, walaupun terus terang iapun panik.

 

 

”Emergency Pi Mai, pagi tadi ratusan warga Tak Bai berdemonstrasi di muka kantor polisi Tak Bai. Menentang penahanan enam warga yang beberapa hari silam diduga memasok senjata kepada kaum pejuang. Polisi tak dapat menahan laju massa yang begitu banyak. Akhirnya mengobral tembakan.  Tujuh warga tewas di tempat dan lainnya diangkut dan dilempar paksa ke dalam truk polisi.  Menurut informasi, akan dibawa ke penjara di daerah Patani,”  Halimah bicara terengah-engah melalui handphone-nya..  Terdengar nada bising dan suara orang-orang berteriak di sekitarnya.

 

Innalillahi wa ina ilahi raajiuun. Ya Allah, mengapa semua ini terjadi,” teriak Mai dalam bahasa Melayu Patani.  Membuat Chaiwat dan delapan teman penerima beasiswa lainnya terkejut.  ”Dan, yang lebih gawat lagi Pi Mai, Halimah meneruskan. ”Ayah Pi Mai dan Zakariya, adik laki-laki Pi Mai termasuk yang ditangkap dan dibawa ke penjara di Patani,” tutur Halimah hati-hati.  ”Termasuk,  adik laki-lakiku ku juga, menghilang sejak tadi pagi. Ia ikut berkerumun di muka kantor polisi Tak Bai,”  kali ini Halimah tak kuasa menahan tangisnya.

 

”Astaghafirullah!” Mai menjerit. ”Cobaan apa lagi ini…” lanjut Mai.  ”Ada apa Nong Mai, kamu bicara dalam bahasa apa?”  tanya Chaiwat keheranan.  ”Pi Chaiwat, ada insiden di kampungku, Tak Bai Narathiwat pagi ini. Ayah dan adikku ditahan polisi karena ikut berdemonstrasi.” ”Sepertinya aku harus meng-cancel pesawatku ke Sydney, dan segera ke Hat Yai, ” Mai menjawab cepat.  ”Are you insane, Nong Mai, I`m sorry to say[10]. Kamu sudah check in, bagasimu sudah di pesawat dan sebentar lagi kita naik pesawat. Dan juga, insiden dan konflik di Selatan kan sudah biasa terjadi setiap saat, ” sergah Chaiwat.  ”No way Pi Chaiwat, kali ini berbeda, karena kini korbannya adalah ayah dan adikku. Pi Chaiwat, tolong jaga bagasiku sampai di Sydney, ini aku berikan baggage tag-nya berikut boarding pass-ku. Tolong sampaikan pada pramugari Kham Bin Thai kalau aku batal terbang.

 

”Kamu gila Mai, to be honest. Aku prihatin betul dengan musibah yang menimpa keluargamu, tapi kamupun tak harus membatalkan kepergianmu ke Sydney. You are running your own life. Bagaimana kontrakmu dengan AusAid nanti?” kali ini Chaiwat kehilangan kesabarannya. ”Tidak Chaiwat,” kali ini Mai tidak memanggil Chaiwat dengan `Pi` lagi. ”Aku bertanggungjawab dengan AusAid. Akan aku kontak mereka dari Narathiwat. Ini emergency. Aku akan jadi anak durhaka kalau tetap ke Sydney dalam situasi seperti ini.”  ”Durhaka, apa artinya? Bahasa apa itu,” tanya Chaiwat keheranan.  ”Maaf aku susah menjelaskannya,  aku harus pergi sekarang. Sawasdee kha!”  teriak Mai.   Meninggalkan Chaiwat dan delapan temannya dalam kubangan keheranan.

 

Segera Mai berlari dari terminal internasional ke terminal domestik.  Ia berlari menuju sales counter Thai Airways untuk mencari go show ticket, ticket yang dibeli langsung pada hari penerbangan. Tiket habis. Ia berlari lagi ke sales counter Thai Air Asia. Tiket habis juga.  Mai makin bingung dan panik.  Akhirnya ia ke sales counter Nok Air.  Tiket habis juga. Tapi Mai ngotot dan minta diberangkatkan sekarang. Ia siap duduk di kursi manapun dan siap membayar berapapun.  Pihak Nok Air mengalah. Diberikannya ia kursi jump seat, kursi darurat persis di belakang pilot dan copilot. Dengan harga dua kali lipat.  Di dalam pesawat, Mai senantiasa bergumam,  Fabiaayi alaa`i Rabbikumma tukadzibaan….ayat favorit Maulida.  Ketakutannya terhadap nasib ayah dan adiknya mengalahkan ketakutan terhadap perjodohannya di Tak Bai.

###

 

 

Setibanya di Hat Yai,  Mai memerlukan delapan jam lagi untuk mencapai Tak Bai. Itupun dengan susah payah.  Ia berganti mobil sebanyak empat kali.  Karena tak semua mau masuk ke daerah konflik. Hampir setiap tiga kilometer ada military checkpoint dimana mobil harus berjalan zigzag kemudian berhenti.  Tentara yang bertugas akan menanyakan identitas sopir dan penumpangnya. Cukup seram, karena senapan M-16 mereka dalam posisi terkokang dan ia menggunakan bullet-proof vest. Rompi anti peluru. Di belakang sang tentara puluhan temannya bersiaga di dalam Jeep humvee armoured vehicle dan panzer. Maka, perjalanan ke Tak Bai yang biasanya dapat ditempuh dalam empat jam menjadi delapan jam.

 

Tak Bai mirip kota mati. Puing-puing berserakan. Asap membubung di sana sini. Patroli tentara dengan jeep humvee dan motor trail berseliweran.  Penduduk masuk ke dalam rumah dan mengintip dari sela-sela jendela.  Anak-anak menangis karena tak diperkenankan keluar rumah.  Jam malam diberlakukan. Tak boleh orang berkumpul dan berseliweran di atas jam enam sore.  Susah payah ia mencapai rumahnya.  Listrik mati. Hanya dua lilin menyala. Di pojok rumah, nampak Ibu dan adik-adiknya tengah menangis.

 

 

Tak Bai, 27 Oktober 2004

Kabar terakhir dari penjara Patani.  Tujuhpuluh delapan warga Tak Bai tewas.  Bukan karena ditembak. Namun hampir semua karena kehabisan napas. Ditumpuk  dan dilempar ke dalam truk begitu saja dalam enam lapis. Dengan tangan terikat ke belakang pula. Tiga jam perjalanan ke Patani cukup untuk membuat mereka kehabisan napas. Sungguh tak berperikemanusiaan.   Penduduk Tak Bai murka. Termasuk Mai. Ayah dan adik Mai tidak termasuk mereka yang tewas.  Namun Mai tetap marah.  Ia tak suka dengan kesewenang-wenangan ini.  Bersama warga Tak Bai, ia mendirikan posko relawan untuk membantu mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Dapur umum, pengumpulan sandang dan pangan, hingga posko informasi orang hilang berada dalam kendalinya.  Malam harinya Mai mengirim SMS kepada Maulida di Aceh.  Lima menit kemudian Maulida membalas dalam tiga kali pengiriman. Pertama ia menyatakan keprihatinan mendalam. Kedua, mendo`akan keselamatan keluarga Mai. Ketiga, menuliskan sepenggal kalimat favoritnya, “Nikmat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan…”

 

 

26 Desember 2004

Alhamdulillah ayah dan adik Mai sudah kembali ke rumah.  Kendati dalam kondisi berantakan. Bekas pukulan, siksaan, dan jeratan terlihat di dada, tangan, dan punggung. Baju mereka lusuh bercampur darah. Lama tak diganti. Seisi keluarga menjerit dan menangis. Bercampur antara sedih, senang, sekaligus marah.  Siang harinya Mai kembali mengirim SMS kepada Maulida.  Tak ada jawaban. Sampai malam hari. Ini bukan kebiasaan Maulida. Ia selalu cepat membalas SMS. Kalaupun tak punya pulsa kadang ia meminjam handphone kerabatnya. Tapi ini tak biasa. Mengapa? Jawabannya tiba di malam hari.  Melalui berita TV3 Malaysia yang ditangkap jelas oleh antena parabola warga Tak Bai, pagi tadi pukul 08.15 waktu Aceh telah  terjadi gempa bumi yang disusul oleh tsunami dahsyat yang menerjang pantai Barat dan Utara Aceh dan Sumatera Utara. Selanjutnya tsunami menghantam pantai barat Thailand di sisi Lautan Andaman yaitu Phang Nga, Krabi dan Phuket di tepi lautan Andaman, Thailand barat daya. Mai terhenyak. Ia tahu persis bahwa Maulida tinggal dan bekerja di Meulaboh. Kota kecil di pantai barat Aceh.

 

 

1 Januari 2005

Mai berdiri mematung di rumah sakit Meulaboh yang telah rata dengan tanah. Sudah tiga hari ia berada di Meulaboh. Melacak jejak keberadaan Maulida.  Tak dinyana pengalaman pertamanya ke luar negeri adalah ke Indonesia. Selain Malaysia tentunya. Yang tak dianggap luar negeri karena negeri Kelantan, Malaysia, berbagi batas dengan kampungnya di Tak Bai.  Mestinya negeri pertama yang diinjaknya setelah Thailand dan Malaysia adalah Australia. Dan mestinya saat ini ia tengah bertahun baru di Canberra. Mungkin juga di Sydney. Bermalam tahun baru di Darling Harbour sambil menatap fireworks[11] dari gedung opera Sydney yang terkenal. Barangkali juga bersama Chaiwat yang memang sudah berada di Sydney.

 

Susah payah Mai mencapai Meulaboh.  Jalan darat Banda Aceh – Meulaboh putus,. Maka ia merangsek masuk Meulaboh dari Sumatera Utara.  Beruntung ia bertemu dengan rombongan Bulan Sabit Merah Malaysia yang juga hendak masuk ke Meulaboh. Selama tiga hari itu ia selalu mengirim SMS ke Maulida. Namun gempa dan tsunami memutuskan jaringan telepon selular di sekitar Aceh.

 

Dengan bahasa Melayu seadanya Mai melacak jejak Maulida. Maulida lenyap dari muka bumi.  Sampai hari ini, di muka rumah sakit yang rata dengan tanah. Ia mendapati posko kesehatan darurat yang sekaligus menyajikan daftar orang hilang di sekitar Meulaboh.  Diantara nama orang hilang tercantum nama yang amat diakrabinya …Maulida binti Hasyim, SKP. MA..

 

 

13 Januari 2005

Sudah enam belas hari Mai di Meulaboh. Maulida tetap belum ditemukan. Baik hidup ataupun mati. Di antara hari-hari itu Mai membantu rumah sakit darurat sebagai relawan. Beruntung ia dapat berbahasa Melayu Patani hingga sedikit banyak dapat berinteraksi dengan para korban. Kepada para korban ia selalu bertanya tentang Maulida. Namun tak ada yang tahu keberadaan perawat shalihah ini. Sampai suatu waktu seorang anak kecil  menemukan telepon seluler yang diyakini Mai sebagai milik Maulida. Karena dalam ponsel itu ada nama Maulida tertulis dalam huruf Thai. Dan hanya Mai yang dapat membaca huruf Thai disitu.  Perlu seharian lebih untuk mereparasi dan mengaktifkan ponsel yang lama terendam air itu. Setelah ponsel berada pada posisi ON, Mai melacak feature INBOX, tak ada pesan baru. Pada feature SENT,  juga tak ada pesan terkirim.  Barulah pada feature DRAFTS Mai menemukan kalimat yang belum sempat terkirim. Bunyinya “Ukhti Mai, aku terbawa ombak, kini tersangkut di pohon, aku sudah tak kuat, do`akan kami dan tetaplah berjuang untuk Narathiwat, Maka Nikmat Tuhan Manakah……  Kalimat tersebut terputus. Dan Mai meneruskannya dalam hati…yang kamu dustakan

 

Maulida tak pergi ke Nagoya. Juga tak lagi tinggal di Meulaboh. Allah SWT lebih mencintainya. Dan Mai percaya Allah SWT akan memberi Maulida tempat tinggal baru yang jauh lebih baik. Jauh lebih baik dari Meulaboh dan Nagoya..

 

Esoknya Mai kembali ke Narathiwat. Meneruskan semangat Maulida membangun Aceh. Tidak di Bangkok. Tidak di Canberra. Di Narathiwat.

 

 

Salaya – Putthamonthon, Nakhon Pathom

18 Desember 2007

 

 

 

 

P.S. : Terima kasih untuk Ajarn Alisa dari Patani yang telah memberikan inspirasi cerita ini. Semoga kecintaanmu pada tanah Patani dan tanah Aceh adalah kontribusimu untuk kemenangan di Yaumil Akhir kelak.

 

 

 


Terjemahan  :

 

[1]Halo Dik, apa kabar?

[2] Maaf, Kak

[3] Dosen/ Professor

[4] Terima kasih banyak

[5] Tempat shalat

[6] Tidak apa-apa

[7] Apa kabar

[8] Bapak

[9] Thai Airways, dalam bahasa Thai.

[10] Apakah kamu gila, maaf saya mengatakannya

[11] Kembang api

Advertisements

Read Full Post »

JANGAN PANGGIL AKU ALLY MC BEAL
By : Heru Susetyo

Di atas Langit Australia, 8 Oktober 2002
Richard Gere dan Winona Ryder berjalan perlahan di sepanjang Central Park, New York. Mereka bergandengan tangan dengan sesekali berbisik pelan. Di sela-sela keduanya nampak matahari musim gugur menerabas melalui dedaunan yang makin hilang dari pepohonan. Musim gugur (Autumn/ Fall) di New York memang amat romantis. Kendati dingin sangat menusuk, sering di bawah nol derajat celcius, namun suasana hati seringkali malah menghangat. Apalagi ditingkahi dedaunan yang kerap jatuh memenuhi taman. Pantas saja, bagi Richard dan Winona dunia sepertinya hanya milik mereka berdua.

Satu jam kemudian Richard Gere mendadak keluar dari rumah sakit dengan pandangan tertunduk. Sorot matanya seredup matahari musim gugur. Beberapa pasang mata menatapnya penuh tanya. Hampir semuanya tak ingin menyapa. Mereka semua mafhum. Nampaknya sang kekasih telah pergi selama-lamanya.

Aku turut terperangah menyaksikan bagian akhir film Autumn in New York ini. Tragis dan menyedihkan. Tak seperti biasanya film drama romantik seperti ini berakhir tragis. Richard Gere yang melakonkan Will Keane, juragan restoran di New York, akhirnya harus menangis karena kekasihnya Winona Ryder yang melakonkan Charlotte Fielding harus meninggal karena penyakit kronis yang dideritanya sejak kecil. Uniknya percintaan Will Keane dan Charlotte adalah percintaan antar generasi. Will berusia 50 tahun dan selama ini terkenal sebagai lelaki ‘gunung es’ yang ‘pantang’ jatuh cinta. Sebaliknya, Charlotte lebih pantas jadi anaknya, berusia 21 tahun dan tengah menggelegak semangatnya memasuki usia muda.

Film Hollywood besutan Joan Chen, sutradara asal China, yang dibuat akhir 90-an ini tak urung telah mengusir kebosananku. Tujuh jam perjalanan dari Sydney ke Jakarta dengan Ansett Aussie 245 biasanya sangat menjemukan. Daratan Australia Utara yang kering sama sekali bukan pemandangan yang indah. Begitu pula dengan flight entertainment yang seringkali monoton. Beruntung, Boeing 777-500 ini dipersenjatai dengan layar monitor di setiap kursi yang memutar film-film anyar.

Tapi, bukan itu masalah utamanya. Roman klasik ala Richard Gere- Winona Ryder ini mengingatkanku pada kisah antara aku dengan Cindy, istri Australia-ku yang kunikahi empat tahun silam. Empat tahun kami menikah, dan tak sekalipun ia mau aku ajak ke Indonesia. Pun saat ini, dimana aku harus ke Bandung karena Sarah, adik bungsuku yang baru lulus dari Unpad akan menikah. Aku akan jadi wali nasab untuk Sarah karena ayah telah berpulang dua tahun silam. “It’s unnecessary to go to Bandung, honey. If you love her, send her money or just call her. You won’t be her brother forever. Trust me! Begitu katanya.

Cindy adalah tipikal perempuan Aussie. Mandiri, tegas, praktis, independen, humanis, fair, assertif, disiplin, namun terkadang begitu cuek dengan keluarga. Jangankan untuk urusan pernikahan, ketika ayah meninggal dua tahun silam-pun Cindy enggan ke Jakarta. Bahkan, jangankan ayah kandungku. Ayahnya meninggal-pun dia enggan berta’ziah. Katanya, semua orang akan mengalami kematian. “Take it easy, Tommy,” katanya santai.

Sangat beralasan bagi Cindy untuk bersikap seperti itu. Seperti kebanyakan keluarga Australia lainnya, ia tumbuh di tengah keluarga broken home. Ayah ibunya bercerai ketika ia berusia tiga tahun, dan Brad, adiknya, berusia satu tahun. Ayahnya yang gemar mabuk-mabukkan dan lama menganggur kemudian menikah lagi dengan wanita New Zealand. Ibunya-lah yang membesarkan ia dan adiknya dengan bekerja sebagai jurnalis di koran negara bagian New South Wales. Sydney. Kendati beberapa kali gonta- ganti pacar, ibunya tak pernah menikah lagi hingga kini. Pun untuk hidup bersama tanpa menikah. Ibunya memilih menikah dengan karirnya dan membesarkan kedua anaknya sendiri, tanpa bantuan laki-laki.

Cindy remaja adalah Cindy yang matang dan mandiri. Pendidikan keras ala ibunya membuatnya menjadi pelajar dan pekerja keras. Ia bekerja 16 jam sehari. Belajar 16 jam sehari. Tanpa rasa capai, tanpa keluhan, tanpa rasa, dan tanpa hati. Hidupnya bak sebuah robot yang disetel secara mekanis untuk mengerjakan pekerjaan yang sama secara rutin, berulang-ulang, bertahun-tahun lamanya. Pagi hari ia bersekolah. Sore dan malam hari ia menjadi pelayan di restoran Italia. Ia menamatkan high school-nya di Woolongong, kota kecil 75 kilometer di selatan Sydney. Kemudian ia melanjutkan ke University of New South Wales, School of Law, di Sydney hingga mencapai gelar master bidang hukum internasional dengan predikat summa cum laude. Sesudahnya, dunia begitu ramah bagi Cindy. Hampir semua law firm besar di kota ini melamarnya. Cindy memilih salah satu yang terbesar. Semuanya berjalan begitu lugas, sampai suatu waktu ia bertemu pemuda Indonesia bernama Tommy…

Dan akulah si Tommy itu. Pria Indonesia beruntung yang dikirim ke Sydney untuk studi Doktor di bidang hukum. Kantor pengacara-ku di Jakarta memandang aku sangat prospektif untuk melanjutkan firma ini di kemudian hari. Dengan senang hati mereka mengirimku untuk studi S-3 dan magang di kantor mitra asing kami di Sydney, Krueger and Associates.

Studi di University of New South Wales (UNSW) dan pada saat bersamaan magang di Krueger and Associates bukanlah pekerjaan yang mudah. Aku hampir tak memiliki waktu untuk kehidupan sosialku. Hari-hariku terbenam dalam riset dan studi di perpustakan kampus maupun di firma. Kawan akrabku hanyalah kopi pahit Starbuck dan PC Notebook. Aku nyaris tak punya waktu untuk manusia. Kecuali tiga jam saja setiap pekan, ketika shalat Jum’at di Masjid Indonesia Wabash Street, dan pengajian Ahad juga di tempat yang sama.

Allah Maha Mengatur Segala Sesuatu. Pada saat-saat terbenam di perpustakaan UNSW dan Kruger and Associates, ternyata ada sepasang mata yang selalu memperhatikanku. Aku nyaris tak sadar sampai suatu waktu pemilik mata biru ini menegurku dengan bahasa Inggris aksen Australia yang khas. “Mengapa anda selalu menggelar kain merah dan sujud ke arah barat laut setiap pukul dua siang, lima sore, delapan sore, dan sembilan malam? Saya memperhatikan anda sudah tiga bulan ini, di library UNSW maupun di Krueger and Associates, dan anda selalu seperti itu. Apakah anda pengikut suatu aliran kepercayaan di Asia Selatan?” Tanya pemilik mata biru tersebut setengah menyelidik. “Oh No. Saya seorang muslim. Islam agama saya. Seorang muslim wajib melaksanakan ibadah yang kami sebut shalat lima kali setiap hari pada waktu-waktu yang tadi anda sebutkan.”, aku menjawab sambil terheran-heran. Agak tak biasa seorang wanita Aussie membuka percakapan dengan pria asing yang tak dikenal.

“Oh ya. Saya pernah mendengar Islam, tapi saya baru tahu bahwa cara anda menyembah Tuhan anda seperti ini,” tambahnya lagi.
Kemudian dialog pun mengalir lancar. Hingga, dinginnya perpustakaan UNSW seperti tak terasa. Si Aussie bermata biru ini ternyata bernama Cindy Stuart Masterson. Ia seorang junior lawyer di Krueger sekaligus kandidat Doktor di UNSW. “Pardon, Miss….?” Just call me, Cindy!” ujarnya riang.

Laiknya roman Indonesia, perjumpaan kami yang teramat sering membuat kami saling tertarik satu sama lain. Sampai suatu hari Cindy menanyaiku serius, “Tommy, will you marry me?” Ditanya mendadak seperti itu aku kontan gelagapan. Kendati aku sudah kenyang hidup di negeri orang, namun sebagai pria yang besar di kultur Jawa puritan aku masih berpegang pada nilai bahwa lelaki-lah yang berhak ofensif dan perempuan pasif saja. Akhirnya aku hanya mengatakan, “ Ah, ya. I am. Insya Allah!”

Dan kamipun menikah pada 21 Februari 1997. Sepekan saja setelah Iedul Fitri 1417 H. Dua hari sebelumnya Cindy mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan komunitas muslim Indonesia di Masjid Wabash Street. Imam masjid memberinya nama Aisyah Muthmainah. Sehingga namanya menjadi Cindy Aisyah Muthmainah Masterson.

Pada setahun pertama pernikahan, kami adalah pasangan yang amat harmonis. Kami sering menyusuri taman di seberang Gedung Opera Sydney dan duduk menatap Sydney Bridge sambil menunggu matahari terbenam. Sepekan sekali kami ke pantai Bondi untuk menanti matahari terbit dan saling melempar pasir ke tubuh masing-masing.

Petaka mulai timbul setelah anak pertama kami lahir. Aku ngotot memberinya nama Islam, Faiz atau Raihan. Cindy protes. “Nama Islam kurang akrab di telinga Australia. Terlalu kearab-Araban,” ujarnya dengan nada tinggi. “Aku akan memberinya nama Ian.” Mudah-mudahan ia akan menjadi pemuda ganteng, tegap, dan sportif seperti Ian Thorpe, perenang juara Olympiade kebanggaan Australia.”
Aku malas berdebat. Apalah arti sebuah nama kataku menghibur diri sendiri. Sayang, sebuah nama akhirnya menjadi berarti sekali. Karena setelah itu Cindy menjadi sangat berkuasa. Cindy-lah yang menentukan Ian sekolah dimana. Makan apa. Boleh ke masjid atau tidak. Bermain dengan anak Indonesia atau tidak.

Pun untuk anak kedua kami yang lahir dua tahun kemudian. Aku memberinya pilihan nama Nadia atau Yasmin, yang kurasa agak akrab dengan telinga Australia. “No, Tommy. No Arabian name anymore. “Nicole nama bayi cantik ini. Lihatlah badannya tinggi semampai seperti Nicole Kidman, mantan istri Tom Cruise. Mudah-mudahan ia akan mulus menapak Hollywood seperti Nicole Kidman.”, lanjut Cindy santai.
Astagafirullah! Kataku dalam hati.

Semakin banyak bilangan tahun pernikahan yang kami gapai, Cindy semakin sulit diatur. Janjinya untuk belajar Islam, belajar Al Qur’an, dan belajar shalat tak pernah terwujud. Iapun membatasi Ian dan Nicole untuk berinteraksi dengan komunitas muslim Indonesia. Rencanaku untuk membawanya pindah dari apartemen kami sekitar Darling Harbour ke kawasan muslim Lakemba ditolaknya mentah-mentah. Padahal, niatku baik, ingin mendekatkan keluargaku dengan muslim mancanegara di Lakemba. Formally, I’m muslim, but I‘m Australian!” teriaknya.

Hari demi hari kujalani dengan setengah hati. Aku masih berharap rumah tanggaku kembali normal. Aku ingin mengajak mereka tinggal di Bandung. Kalaupun tidak, sekedar bertemu ayah dan ibu ketika Lebaran-pun cukup. Dari surat-suratnya, ayah dan ibu terkesan sangat ingin bertemu dengan cucu Australia-nya. Namun Allah berkehendak lain, sampai ayah dipanggilNya, Cindy, Ian, dan Nicole, tak sekalipun mengunjunginya.

Disitulah juga letak habisnya kesabaranku. Cindy enggan diajak ta’ziah ke Bandung. Pekerjaannya terlalu berharga baginya. Mertuanya tak lebih berharga dari appointment dan contract-contract yang harus dibuatnya. Tragisnya, Cindy-pun melarang aku membawa Ian dan Nicole dengan alasan takut sakit terkena virus tropis Indonesia. Ia lebih percaya tempat penitipan anak di Belmore dengan perawat-perawat yang tak pernah tersentuh air wudhu ketimbang aku, ayah kandung Ian dan Nicole!

Sejujurnya, aku sudah tak betah di rumah ini. Satu-satunya alasanku untuk tetap tinggal adalah Ian dan Nicole, dua makhluk mungil ciptaan Allah yang innocent, yang dipercayakanNya kepadaku. Sesekali aku memang mencoba merayu Cindy dengan kata-kata mesra. “Honey, darling, sweetheart, sampai panggilan manja ya..Aisyah, ya Humairah..”. Apa jawab Cindy? Don’t call me Aisyah, listen, I’m Australian. Call me Ally Mc Beal! Esoknya, akupun meninggalkan rumah tersebut tanpa pamit.

Kini, di dalam kabin Boeing 777 Ansett Aussie 245 yang ada dalam pikiranku hanyalah Cindy, Ian, dan Nicole. Dua pekan sudah aku meninggalkan mereka. Aku tinggal ‘menggelandang’ dari rumah ke rumah teman-teman Indonesiaku. Malam hari aku tidur di masjid, siang belajar di UNSW. Aku tak pernah lagi ke Krueger and Associates. Aku belum sanggup bertemu Cindy disana sekarang-sekarang ini.

Permintaan Sarah untuk menjadi wali nasab di pernikahan dadakannya di e-mail sepekan silam menghentikan petualanganku. Aku senang pulang ke Indonesia. Satu saja yang membuatku resah. Delapan kalimat terakhir Sarah : bawa Teh Cindy, Ian, dan Nicole, ya Mas!
Seiring tertunduknya pandangan Richard Gere dan diselimutinya jenazah Winona Ryder yang mengakhiri film Autumn in New York, akupun termenung. Apakah rumah tanggaku sudah berakhir ? Masih dapatkah aku melihat tawa renyah Ian dan senyum mungil Nicole?

Bandung, 11 Oktober 2002
“Terimakasih Mas Tommy, hatur nuhun pisan Mas mau jadi wali Sarah,” . Mas jauh-jauh dari Sydney hanya untuk nikahin Sarah sama Kang Syamsul,” Sarah adikku berbisik haru sambil memelukku. “Sudah lah, Sarah. Aku kan kakak laki-lakimu yang tertua. Sudah sepantasnya aku menjadi pengganti Ayah. Semoga Allah SWT meridhoi pernikahan kamu dan semoga ayah-pun turut tersenyum senang di akhirat karena kamu mendapat jodoh yang baik,” sahutku setengah kebapakkan. Mendengar kata ‘ayah’ aku sebut mendadak Sarah menangis. Hingga, ruang utama Masjid Istiqomah ini mendadak mencekam. Syamsul, suami yang baru menikahinya sepuluh menit silam segera meredakan tangis Sarah. Ibu, yang sejak tadi menangis terharu di sisi kiri mihrab masjid turut terdiam lama sambil sesekali menengadahkan tangannya. Berdoa.

Acara pernikahan Sarah dan Syamsul ini memang unik. Wali nasabnya baru tiba dari Sydney. Mempelai wanitanya baru enam hari kembali dari Poso-Sulawesi Tengah, ikut misi kemanusiaan disana. Mempelai pria-nya, Syamsul, baru lima hari tiba dari Hannover-Jerman, karena ia masih tercatat sebagai mahasiswa program Doktor disana. Nikah kilat memang. Semuanya instan. Perkenalan, lamaran, dan akad nikah semuanya berlangsung kilat. Tukar menukar biodata plus foto berlangsung via internet, telepon dan teleconference. Baru empat hari silam Syamsul berjumpa dengan Sarah. Alhamdulillah mereka cocok. Keduanya memang profil muslim shaleh dan shalehah. Allah menyatukan hati mereka kendati mereka tak sempat mengenal lama satu sama lain.

Di sudut masjid Istiqomah yang temaram ini aku ‘cemburu’ berat melihat kemesraan Sarah dan Syamsul. Terlihat sekali Sarah begitu hormat pada Syamsul, dan Syamsul begitu melindungi Sarah. Sedangkan aku? Pergi dari Sydney seorang diri setelah ‘terusir’ dari rumah. Meninggalkan istri dan dua anak yang masih balita tanpa pamit. Ternyata, lima tahun mengenal Cindy tak cukup dapat membuat kami lebih mesra.
Dan, aku lebih tercekik lagi mendengar komentar Ibu ketika kami menuruni tangga masjid. “Kunaon atuh Teh Cindy, sareng putu Ibu nu kasep, nu geulis, Ian sareng Nicole teu dicandak Mas Tommy? Ibu hoyong pisan ningali dua-duana. Ditingalian di foto aduh meni kasep, meni geulis. Kawas urang Australia,pisan “ ujar Ibu dengan logat Sunda-nya yang masih kenceng. Yah, kendati sudah menikah empat puluh tahun dengan Ayah yang asli Malang, Ibu masih sangat Garut sekali.

Kenapa Cindy tidak diajak? Kenapa Ian dan Nicole ditinggal di Sydney? Ya kenapa aku pergi seorang diri? Hampir semua saudara Sunda-ku mengeroyokku dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan, akupun terjerembab dalam kubangan rasa bersalah. Lama sekali.
Akhirnya, karena khawatir diberondong dengan pertanyaan sejenis, aku memutuskan pulang ke Sydney esok harinya, Sabtu 12 Oktober 2002. “Kenapa harus buru-buru, Mas Tommy, ikan-ikan di balong rumah kita nungguin dipancing sama Mas tuh, “ Tanya Sarah keheranan. “Iya, Aa Tommy, engke heula atuh. Ibu masih keneh sono ka Aa. Hoyong keneh ningali foto Ian sareng Nicole, “ lanjut Ibu . “Aduh, Gimana ya Bu, Sar,. Aku kangen banget nih sama Cindy, Ian dan Nicole !” jawabku asal. Hah kangen? Benar nih Tommy?

Sabtu, 12 Oktober 2002
Aku sedang berkemas-kemas. Satu jam lagi aku harus ke Jakarta. Sore nanti flight Ansett Aussie 247 tujuan Sydney telah menungguku di Bandara Soekarno Hatta. Tengah aku memasukkan rempeyek dan ketan hitam oleh-oleh Ibu ke dalam tas, mendadak suara keras penyiar SCTV merobek gendang telingaku dari pesawat televisi di ruang tengah :.”Laporan terkini dari Bali, pagi ini sekitar jam 11.30 sebuah bom berkekuatan dahsyat meledak di sebuah café di Bali. Diduga keras bom ini berasal dari mobil L-300 yang diparkir di depan café. Dilaporkan korban jiwa lebih dari 100 orang. Sebagian besar adalah warga Australia yang tengah berlibur…

Innalillahi, Bali diserang? Pulau teraman di dunia diserang ? Aku setengah tak percaya. How come? Gimana bisa? Aku pernah tinggal empat bulan di sana, untuk memantapkan nilai TOEFL- ku. Aku merasa aman dan enjoy tinggal disana. Kendati tinggal di tengah-tengah komunitas non muslim. Kini Bali hancur, dan kebanyakan korbannya warga Australia lagi. Negeri keduaku…tanah tumpah darah istriku.

Belum habis rasa terkejutku, mendadak ‘gempa susulan’ terjadi setengah jam kemudian. Semua penerbangan ke Australia dari Indonesia ditunda sampai waktu yang tak ditentukan, demikian berita dari televisi. Semua penerbangan ke Australia ditunda? Lalu bagaimana dengan penerbanganku nanti sore? Setengah tergesa aku menghubungi kantor perwakilan Ansett Aussie di Jakarta. Dua menit kemudian aku terhenyak di sofa. Seluruh penerbangan Ansett Aussie, termasuk Jakarta – Sydney ditunda sampai batas waktu yang tak ditentukan. Innalillahi…

Senin, 14 Oktober 2002
Headlines Sydney News yang aku baca via internet sungguh mengejutkanku. Gelombang anti muslim dan anti Indonesia yang merebak di seluruh Australia pasca ledakan bom di Bali memakan korban warga muslim mancanegara yang tinggal disana. Islamic Center dan Masjid di Brisbane-Queensland diserang. Juga di Perth, Western Australia. Kotoran manusia dilemparkan ke masjid. Tak cukup kotoran, kata-kata kotor-pun turut dituliskan di tembok masjid.

Beberapa muslim Indonesia di Sydney, Melbourne, dan Perth diinterograsi oleh dinas intelijen Australia. Beberapa diinterogasi dan digeledah rumahnya dengan sangat tidak manusiawi. Ditanya-tanya dengan kasar di hadapan anak dan istrinya tanpa kehadiran kuasa hukumnya. Juga, seorang muslim di Melbourne disita computer beserta segala perangkatnya dengan dalih mengandung data-data yang terkait dengan satu Jama’ah Islam yang diduga menjadi otak tragedi bom Bali.

Dan akupun murka. Napasku mendengus kesal. Sekaligus sedih. Aku teringat shohib-shohibku di Masjid Buranda-Holland Park. Terbayang wajah Imam Masjid Brother Abdul Quddus, pria asal Madras yang amat ramah, bersahabat, dan soleh. Juga Brother Dwi dan Seno di University of Queensland, Brother Kiki di Gold Coast. Ah, brother, gimana nasib kalian? Are you O.K ?

Selasa, 15 Oktober 2002
Akhirnya kabin Ansett Aussie 247 ini aku injak juga. Tertunda tiga hari lebih dari jadwal semula. Tiga hari memang bukan waktu yang lama, namun cukup lama untuk menyiksa batinku. Empat hari di Bandung di tengah kepungan pertanyaan tentang anak dan istri sungguh mengerikan. Belum lagi harus melihat begitu banyak pasangan suami istri yang mesra dan harmonis berseliweran di depanku. Sungguh mengerikan.
Ada yang berbeda kali ini. Pemeriksaan di Bandara sangat ketat. Tidak cukup dengan metal detector, akupun nyaris di geledah petugas Imigrasi kalau saja aku tak teriak bahwa aku asli Indonesia. Mereka bilang, mereka terpaksa melakukan ini karena permintaan sejumlah Kedubes negara barat di Jakarta. Hmmm….kok nurut sih, komentarku dalam hati.

Senyum pramugari juga tampak berbeda, dan diskriminatif. Ketika mereka menjumpai penumpang bule, mereka tersenyum lebar. Giliran penumpang Melayu hanya diberi senyum tipis. Kenapa sih, apa aku ada tampang pembajak?

Rabu, 16 Oktober 2002 
Boeing 777 ini sungguh laju. Jakarta – Sydney diterabas hanya dalam enam jam saja. Hingga, Sabtu subuh ini aku tiba kembali di tanah air. Tanah air? Tanah air Cindy tepatnya. Airport Sydney subuh hari ini tampak indah. Airport yang terletak persis di di pinggir laut ini tampak indah dengan banyaknya runway dan taxiway berseliweran di sela-sela padang rumput yang indah. Berpuluh Airbus Qantas dan Boeing Ansett Aussie bergantian take off dan landing. Sementara, di sisi timur nampak sang surya mulai menguak fajar melalui segaris cahaya jingga yang merobek permukaan laut. Ah, seandainya aku di Pantai Bondi saat ini, tentu sunrise akan lebih indah lagi. Apalagi, jika Cindy menemaniku. Dan kamipun berjalan kaki sepanjang pantai sambil bergandengan tangan dengan mesranya …

Excuse me, Sir ! Astagafirullah, nyanyian fajar-ku seketika tersendat. Seorang petugas imigrasi bertubuh tinggi besar menegurku, persis ketika aku menyodorkan paspor hijauku. Are you Indonesian? Are you muslim? Are you belong to a group of terrorist? Bla..bla… sembarangan kawan satu ini, aku diinterogasi habis-habisan. Aku terroris, aku pembajak, enak aja. Istriku orang Australia tahu! Dan anakku setengah Australia. Satu jam habis untuk berdebat dengan dia. Dia bertahan bahwa aku tak bisa masuk ke Australia karena status visa-ku tidak jelas. Aku ngotot. Bahwa aku ini permanent resident dan bisa menjadi citizen karena aku menikah dengan wanita Australia. Bahwa aku telah enam tinggal di Sydney. Bahkan akupun hapal dialek slank Sydney. Bahwa aku ini lawyer dan kandidat doktor di bidang hukum dan bisa menggugat kamu ke pengadilan karena melecehkan statusku.

Ternyata yang terakhir itu mujarab. Setelah aku mengaku sebagai seorang lawyer dan kandidat Doktor iapun menyurut. Dan akupun melenggang bebas melewati pintu imigrasi dan bea cukai Sydney. Heran aku. Berpuluh kali aku menghadapi imigrasi dan baru kali ini aku dihina seperti ini. Aku mirip pembajak, namaku kearab-araban, aku adalah bagian dari terorisme internasional. Huh!

Sabtu, 19 Oktober 2002
Hari ini aku giliran jaga malam di masjid Wabash Street. Jaga malam? Ya. Karena masjid ini berulangkali menerima ancaman akan di bom-lah, akan dibakar-lah, akan dirusak-lah. Komunitas Indonesia di Wabash Street memutuskan bahwa ancaman tersebut harus dianggap serius. Apalagi, Jum’at kemarin satu grup pemuda botak, bertatto dan bermotor besar bolak-balik di depan masjid sambil menunjuk-nunjuk masjid. Mereka dikenal sebagai kelompok pemuda rasis yang benci orang asing, apalagi yang kulit berwarna. You’re next ! teriak mereka.

Malam ini aku ditemani Brother Faris, Imam masjid yang hafidz Qur’an dan masih muda, dan Brother Bahri, pemuda Indonesia yang telah lama tinggal di Sydney. Bertiga kami mengobrol. Tentang Indonesia. Tentang langit yang tak pernah mendung. Matahari yang tak pernah redup. Adzan yang selalu terdengar. Senandung Al Qur’an yang makin marak mengalun. Indonesia yang lama kami tinggalkan. Dan konon, sekarang sedang sekarat akibat krisis total, dan bom Bali….

Malam semakin larut. Jarum jam menunjukkan pukul dua dinihari. Akupun menyeruput sisa teh terakhirku. Membangunkan Brother Bahri untuk bergantian ronda. Lalu, akupun berjalan ke tempat wudhu. Bersiap untuk shalat malam.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Dari samping tempat wudhu kudengar suara-suara slank Australia dan bunyi cat disemprotkan. Aku tersentak. Ah, ini pasti graffiti yang menghina Islam. Cepat aku menyeret Brother Bahri keluar masjid. “Stop, you’re under arrest!” seru kami meniru lagak polisi. “What you’re doing here?” Tanya kami semakin keras. Tak usah dijawab kami sudah tahu jawabannya. Sederet kata-kata kotor di tembok mesjid yang dibuat dengan cat pylox yang masih basah. “Hey, you’re bloody foreigner, you won’t live here any longer, “ kata-kata kasar tersebut keluar dari empat mulut berbau minuman keras. Dengan cepat mereka mengeluarkan double stick-nya. Yang paling tinggi memainkan pisau-nya. Yang bertatto ular mengatupkan gerahamnya sambil menginjak rokok putih-nya.

Dengan bekal sabuk hitam karate dan sedikit jurus silat ala Jawa Barat Brother Bahri dan aku menerjang duluan. Tak percuma Brother Bahri ini pernah jadi atlit nasional, karena hanya dengan tiga kali tendangan keras si tattoo ular rebah ke tanah. Si tinggi besar menyerangku. Aku mengelak walau sempat limbung karena kuda-kudaku tak tertata baik. Kemudian aku menyerang balik dengan kombinasi pukulan dan tendangan yang cepat dan nyaris tak pernah ada dalam sejarah silat dunia (maklum jarang latihan). Syukurlah, kawan bertanding kami tak begitu lihai bersilat. Dalam dua menit si tinggi besar-pun roboh. Tragisnya, pisau si tinggi besar masih dipegangnya dan ia jatuh ke arah yang salah. Senjata makan tuan. Sang pisau menikam tuannya sendiri. Melihat pemimpinnya roboh dengan darah berceceran dua rekannya ambil langkah seribu. Kabur !

Akupun terhenyak. Darah. Air mata. Suara mengerang. Kenapa sampai sejauh ini? Aku tak bermaksud… . Sementara itu, raungan sirene polisi-pun semakin dekat. Rupanya tetangga sekitar yang terusik karena perkelahian tak seimbang ini menelepon polisi. Tenang, aku tak hendak lari. “Stop, you’re all under arrest !” innalillahi kali ini yang datang polisi betulan. Kamipun di borgol. Digelandang ke kantor polisi terdekat. Mirip pesakitan. “You have the right to remain silent,  Anything you say or do may be used against you in a court of law. You have the right to consult an attorney before speaking“ tambah si polisi galak tersebut.

Selasa, 22 Oktober 2002
Tiga hari sudah kami menginap di kantor polisi. Tuduhannya : penganiayaan dan percobaan pembunuhan ! Tiga hari polisi mencoba menginterogasi kami namun kami tetap bungkam. “I’m gonna talk if my attorney here with me, “ ujarku. Ya, aku hanya mau bicara kalau aku didamping oleh pengacara. Dan, hal itu memang diatur dalam konstitusi Australia. Polisi memberi waktu hingga Kamis jam dua belas siang. Jika kami tak juga mendapat pengacara maka polisi akan menyediakan pengacara negara untuk mendampingi kami. Pengacara negara? Akankah mereka berpihak pada kami, dua pemuda kulit berwarna yang nyaris menewaskan seorang Aussie? Aku tidak yakin.

Teman-teman kami bukannya tinggal diam. Mereka kelabakan mencari pengacara buat kami. Hampir semua pengacara berkelas hingga tak berkelas telah dihubungi. Sampai ke pelosok-pelosok negeri. Tapi hasilnya nihil. Sebenarnya ini perkara biasa. Tapi setting social politik-nya memang tidak biasa. Betapa tidak, tiga hari lebih kami menghiasi headlines suratkabar. Dihubung-hubungkan-lah dengan Osama bin Laden, dengan jaringan teroris internasional, dengan penyerangan WTC. Beribu orang mencaci kami. Gelombang aksi massa menyerbu kantor polisi. Mayoritas adalah massa rasis dan massa ultranasionalis. Dan, para pengacara-pun enggan menyentuh kami. Kendati kami siap membayar mahal mereka. It’s a hard and sensitive case, ujar mereka.

Kamis, 24 Oktober 2002
Setengah jam lagi pukul 12.00. Tenggang waktu yang diberikan polisi nyaris berakhir. Dan aku masih belum punya pengacara. Aku pasrah. Artinya aku akan didampingi oleh pengacara negara yang tak kukenal dan tak pernah kulihat. Dan tak kuketahui juga komitmen kemanusiaannya.
Semenit sebelum pukul dua belas. Langkah-langkah panjang polisi penjara memasuki lorong. Semakin dekat semakin jelas bahwa itu adalah langkah dari dua orang. Benar dua orang. Yang pertama pasti polisi penjara. Yang kedua? “Yeah, lady ini mengajukan diri untuk menjadi pengacara anda,” ujar sang Polisi setibanya di sel kami. « Namanya Lady Cindy Stuart Masterson!”
“Yeah, If you don’t mind. I’m gonna be your attorney Mr. Tommy. My name is Cindy!”

Kamis, 5 Desember 2002
Hari ini sidang terakhir. Setelah sebulan lebih menghadiri sidang sebagai pesakitan di District Court Sydney atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan, kini aku dan Brother Bahri menanti putusan hakim.  Tahu apa tuntutan jaksa? Aku dituntut tujuh tahun penjara atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Brother Bahri dituntut empat tahun penjara atas tuduhan penyertaan dalam penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Alhamdulillah, sejak pemeriksaan polisi, pemeriksaan district attorney (kejaksaan) hingga pengadilan di district court aku selalu didampingi Cindy. Wanita pengacara muda lulusan terbaik School of Law UNSW dan sebentar lagi menggaet Ph.D di bidang hukum. Dan, yang terpenting adalah, ia masih istriku secara hukum!

Cindy memang luar biasa. Kemampuan beracara-nya sangat piawai, nyaris seperti Ally McBeal. Aku nyaris tak mengenal istriku sendiri. Ah tidak. Ia bukan Ally Mc Beal. Dalam benakku, ia hampir seperti Hillary Clinton yang mati-matian membela Bill Clinton kendati sang Presiden terlibat skandal murahan di kanan kiri. Hingga Clinton-pun lolos dari impeachment. Tapi sorry, aku bukan Bill Clinton. Insya Allah aku tak gemar berskandal ria seperti Clinton. Aku hanya Tommy Firmansyah, pria Indonesia beruntung yang terdampar di hutan rimba Sydney.
Tapi Cindy memang seperti Hillary. Keduanya sama, lulusan terbaik dari sekolah hukum nomor wahid. Menjadi pengacara nomor wahid, juga di usia muda. Lihatlah betapa ia membelaku habis-habisan di pengadilan.

“Yang mulia, terdakwa harus dibebaskan dari semua tuduhan karena telah terbukti dalam persidangan ia tak sedikitpun memiliki niat untuk menganiaya ataupun membunuh. Ia hanya self defense, membela diri karena empat orang berandal menyerang masjid-nya.”

“Yang mulia, terdakwa harus dibebaskan dari semua tuduhan, pisau itu tidak digenggamnya, bukan miliknya dan tidak diarahkan untuk menusuk korban. Lihat, tak ada satupun sidik jarinya di pisau tersebut. Pisau itu menancap ke tubuh korban oleh peran korban sendiri.

“Yang mulia, ini tak adil. Terdakwa hanya membela diri dan rumah ibadahnya. Sementara keempat penyerangnya merusak rumah ibadahnya dan menyerangnya denga pisau dan double stick. Kedua terdakwa hanya melawan dengan tangan kosong. Ini tidak seimbang. Ini bela paksa. Sekarang mereka berdua jadi pesakitan, sementara sang penyerang masih bebas berkeliaran.

“Yang mulia, korban sekarang sudah sembuh dari lukanya. Ia telah bersaksi bahwa memang ia yang menyerang terlebih dahulu karena ia benci orang muslim. Ia benci semua muslim setelah tragedy WTC 11 September. Dan semakin benci setelah ratusan warga Australia tewas pada tragedi bom di Bali. Ia berfikir semua muslim adalah sama. Jahat, militan, dan kejam. Tapi, Yang Mulia, itu adalah prasangka, prejudice, kita ingat bahwa sampai kini biro investigasi federal belum dapat membuktikan bahwa pelakunya adalah muslim. Kalaupun memang benar muslim, bolehkah kita menggeneralisir? menghukum seluruh muslim di seluruh dunia atas kejahatan sekelompok radikal muslim saja yang mengatasnamakan Islam? Ini absurd, irrasional, Yang Mulia. Saya keberatan sekali. Muslim berbeda dengan Islam. Islam adalah agama peace !

“Yang Mulia, masjid bagi umat Islam adalah tempat yang sakral. Mereka memang tidak menyembah masjid, tapi masjid adalah tempat menyembah Tuhan, yang mereka panggil Allah. Sehingga menghina masjid berarti menghina Tuhan. Karena masjid adalah rumah Tuhan. Baa-itu-llah, demikian mereka menyebutnya. Mereka membela kehormatan diri sebagai seorang muslim dan seorang hamba dari Tuhannya, Allah. Justru yang lebih keji adalah para penyerangnya. Menyerang tempat ibadah adalah kejahatan HAM Yang Mulia. Crime against humanity and Gross Violation of Human Right. Kejahatan HAM berat. Mari kita simak Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Hak-Hak Politik………

Puas di’ceramahi’ Cindy, sang hakim hanya manggut-manggut saja, sambil berkata lirih..I understand. Saya akan memberikan putusan seadil-adilnya…

Dan, sekarang –lah saatnya. Saat sang hakim menjatuhkan ‘putusan seadil-adilnya.’ Setengah jam kemudian terbuktilah. Sang Hakim memang adil. Tepatnya, Allah-lah Yang Maha Adil. Karena Hakim District Court Sydney menjatuhkan putusan….

“Menyatakan kedua Terdakwa tak terbukti telah sengaja dan melawan hukum melakukan penganiayaan ataupun percobaan pembunuhan atas diri korban Billy Douglas. Menyatakan tindakan kedua terdakwa adalah semata-mata self defense. Membebaskan kedua Terdakwa dari semua tuduhan dengan Bebas murni….

Aku menangis terharu. Juga Brother Bahri. Cindy memelukku lama sekali. Pers berebutan memotret kami. Gelombang massa rasis dan ultranasionalis berteriak riuh memprotes putusan hakim. Aku bersujud syukur. Bersama Bahri. Hilang sudah kekhawatiran mendekam tujuh tahun di bui. Allah Maha Adil. Allahu Akbar !

Aku merasa seperti tokoh Cameron Poe dalam film Con Air. Tokoh US Ranger (tentara AS) yang diperankan oleh Nicholas Cage ini mendekam di bui selama delapan tahun. Sama sepertiku ia dipenjara karena membela diri dari serangan berandalan yang mengganggu istrinya. Karena ketrampilan militernya, sang penyerang tewas akibat pisau yang digenggamnya sendiri. Senjata makan tuan. Ketika dibebaskan, Cameron Poe terseret dalam pembajakan pesawat jailbird yang penuh berisi Napi kelas berat. Lewat pertarungan berat hidup mati akhirnya Poe berhasil mendaratkan pesawat yang dibajak tersebut di tengah keramaian kota Las Vegas. Jagoan memang selalu menang. Para Napi hilang atau tewas. Dan Poe keluar sebagai pahlawan.

Jum’at, 6 Desember 2002
Sydney di akhir musim semi. Tepat di sore hari 1 Syawal 1423 H. ‘Cameron Poe’ dan ‘Ally Mc Beal’ berjalan beriringan di taman seberang Gedung Opera Sydney. Di sisi barat nampak kapal perang angkatan laut Australia bersandar di dek. Di sisi utara Sydney Bridge berdiri dengan gagahnya. Di kejauhan, nampak Darling Harbour bermandi cahaya senja.

“Cindy, honey, kenapa kamu mau membela aku di pengadilan, di saat pengacara-pengacara sebangsamu menjauhi aku hanya karena aku berkulit coklat dan muslim, kamu malah menghampiriku,” tanyaku dalam bahasa Inggris yang paling santun.
“Kamu lupa, my dear Tommy. Aku masih istrimu. Kendati kita berpisah tempat berbulan lamanya, aku masih sayang sama kamu, my dear, “ Cindy menyahut mesra.

Deg! Hatiku berdebar tak karuan. “Really, Honey? Be honest ! Hanya itu?” tanyaku gelisah.
“Tidak hanya itu. Aku salut sama kamu. Kamu begitu mencintai Islam. Kamu begitu mencintai masjid. Kamu mati-matian menjaga agama kamu kendati kerap diintimidasi dan dihina. Ingat, saat pertama aku ketemu kamu di library UNSW lalu di library Krueger and Associates? Apa yang aku tanyakan? Ya aku bertanya tentang ibadah kamu. Tentang shalat kamu, kenapa kamu sujud selama lima waktu. Dan dalam lima tahun perkawinan kita, kamu tak sekalipun meninggalkan shalat. Aku malah yang jarang yang shalat.

Honestly, honey, kami ini yang sering kamu sebut sebagai ‘orang barat’ dan lebih civilized, sudah lama tak peduli lagi dengan apa yang disebut agama. Buat kami agama adalah ilusi. Formally, kami memang punya agama. Tapi dalam kenyataannya agama tak lebih dari urusan pribadi. Bukan urusan masyarakat, apalagi negara. You can’t interfere anyone’s belief. It’s a part of civil rights. Di negara ini ada dua pertanyaan yang tabu, kamu juga tahu, apa agama kamu dan apakah kamu sudah menikah. That’s pretty privacy ! oleh karena itu, jika ada orang yang nampak sangat patuh dengan ajaran agamanya kami biasanya sangat penasaran. Apa yang membuat dia sangat patuh? Apa yang membuat dia komit dengan Tuhan-nya?
Aku terharu mendengar penjelasan Cindy. Sudah lama aku ingin mendengar penuturan jujur dan terus terang seperti ini. Tak terasa guliran air mengalir pelan dari pelupuk mataku. Matahari senja 1 Syawal 1423 H bersinar semakin temaram. Tengah aku sibuk dengan segala perasaan dalam hatiku, mendadak Ian dan Nicole yang sejak tadi membuntuti kami berteriak-teriak. Mommy, Daddy, Mommy, Daddy. Look Mommy, Daddy is crying !

Cindy tersenyum haru. Ia juga menangis. Ian kembali berteriak, No Nicole ! Mommy is also crying ! Aku dan Cindy tertawa. Terimakasih ya Allah, Engkau memberiku istri dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata bagiku. Izinkan aku menjadi salah seorang pemimpin dari orang-orang bertaqwa. Rabbana hablana min azwajiina wazurriyatina qurrataa’yun waj’alna lil muttaqiina imaaama.

Aku segera merengkuh mereka bertiga dan berbisik lirih pada Cindy : thank you so much my dear, thank you so much my Ally Mc Beal. Cindy menjawab cepat : Don’t call me Ally Mc Beal anymore, sweetheart ! Panggil aku Aisyah Humaira, seperti dulu kamu selalu memanggil aku…

Taqaballahu minna wa minkum sweetheart !

Chicago, 13 November 2002

NB : Buat kawan-kawan di Sydney dan Brisbane, salam hangat dan tetap semangat, taqabalallahu minna wa minkum !

Read Full Post »

Saudara Serumpun

SAUDARA SERUMPUN

Heru Susetyo

I hate Indon !

Malingsia !

I hate Indon !

Malingsia !

I hate Indon!

Malingsia !

Demikianlah Agung dan Rashid saling bertukar sapa apabila berpapasan di kampus Thammasat University, Phra Chan, Bangkok.  Agung adalah mahasiswa Indonesiayang mendapat beasiswa pemerintah Thailanduntuk studi Master bidang Thai Studies.  Rashid adalah juga penerima beasiswa yang sama, namun ia berasal dariJohor,Malaysia.  Agung dan Rashid bak pinang dibelah dua. Ibarat kembar tidak identik. Ibarat Thompson dan Thomson dalam komik  Tintin.  Hidup di Bangkok, dimana sangat sedikit menemukan manusia berbahasa Melayu membuat mereka cepat akrab. Selalu pergi berdua kemana-mana  Apabila mereka berbeda jenis kelamin, mungkin sudah terjadi cinta lokasi.

Tapi itu dulu. Sebelum pelatih karate Indonesiadigebuki di Selangor, Malaysia. Sebelum Rasa Sayange dijadikan lagu pariwisata Malaysia. Sebelum Malaysia menerima muntahan asap dari Sumatera dan Kalimantan. Sebelum TKI tak terdaftar membanjiri dan menyulitkan pemerintah Malaysia.

Kini, Agung memandang Rashid bak maling. Dan Rashid memandang Agung bak TKI tak terdaftar yang disebut pendatang haram di Malaysia.  Diperburuk lagi dengan lahirnya situs internet www.ihateindon,com dan www.malingsia.comyang tak jelas siapa webmaster-nya.  Yang lebih jelas adalah Agung terprovokasi.  Ia tak suka disebut `Indon` yang konon berkonotasi budak.  ”Panggil aku orang Indonesia, jangan disingkat jadi `Indo` atau `Indon`.” ujar Agus penuh emosi.  Rashid juga terprovokasi. ”Janganlah awak sebut saya punya negeri Malingsia. Itu adalah bahagian daripada jinayah. Penghinaan,” tutur Rashid dalam logat Johor yang lumayan kental.

Maka `perceraian` pun terjadi. Agung dan Rashid `pisah ranjang.` Tak melalui masa iddah. Langsung talak tiga.  Tak ada lagi agenda jalan-jalan ke Mahboonkrong dan pasar Chatuchak di Sabtu siang. Tak ada lagi Shalat Jum`at bersama di Soi Jet Petchburi road. Tak ada lagi jogging bersama di Suan Lumpini setiap Ahad pagi.  Tak ada lagi agenda ber-badminton ria di KBRI Petchburi Road dan bertennis ria di Malaysian Embassy Sathorn Tai road.  Pusat Perdagangan IT dan Computer di Panthip Plaza, juga kehilangan mereka. Karena mereka emoh menginjak surga penikmat komputer ini apabila datang berduaan.

 

Kampus Thammasat University, Phra Chan Bangkok

”Para mahasiswa sekalian. Saya ada kabar gembira. Sebagai bagian dari kuliah kita, saya menugaskan anda untuk mengikuti simposium kebudayaan di beberapa negara Asia. Ini adalah momentum terbaik untuk komunikasi antar budaya setelah anda belajar budaya Thai selama dua semester,” ujar Ajarn[1]Surichai pada saat awal kuliah. Ada beberapa universitas yang mengadakan simposium pada waktu yang sama, yaitu  Kyoto di Jepang,  Shanghai di China, Kaohsiung di Taiwan, Dubai di Emirat Arab, Istanbul di Turki, Bandung di Indonesia dan Penang di Malaysia. Kalian akan berangkat dengan biaya universitas. Biaya transportasi, akomodasi, termasuk perdiem semua ditanggung universitas.  ”Puji Tuhan,” ujar Anita Chan, mahasiswa Singapura.  ”Alhamdulillah ujar Rashid.”  ”Mantap, jalan-jalan euy !” teriak Agung pelan.

Belum lagi Ajarn Surichai menuntaskan informasinya.  Agung sudah menginterupsi.  ”Ajarn, saya pilih ke Kyoto. Saya ingin melihat ibukota tua Jepang itu di musim gugur. Pasti cantik dengan banyaknya pohon yang memerah.”  Rashid tak mau kalah.  ”Ajarn Surichai, please kirim saya ke Istanbul. Saya ingin menikmati Masjid Hagia Sophia dan warisan budaya Islam abad pertengahan di Bumi Eropa.”  ”Ajarn Surichai, saya pilih Dubai, kendati Emirat Arab adalah negeri Islam, namun Dubai adalah kota termaju di dunia saat ini. Saya ingin menikmati gedung tertinggi di dunia, Burj Al Dubai. Pasti asyik memandang jazirah Arab dari ketinggian 800 meter,” tutur Anita Chan polos.

”Tidak. Saya yang memutuskan. Bukan kalian. Dan saya sudah memutuskan. Michiko-san, karena anda orang Jepang anda saya kirim ke Shanghai. Anita Chan, karena anda keturunan Tionghoa, anda saya kirim ke Kaohsiung, Taiwan. So Young Park, karena kamu orang Korea Selatan, kamu saya kirim ke Kyoto, Jepang. Hussein, karena kamu dari Yordania, kamu saya kirim ke Istanbul.  Naufal karena asli Yaman silakan pergi ke Dubai, Emirat Arab. Dan anda berdua, wahai warga Melayu, karena bahasa dan kultur anda nyaris sama silakan saling bertukar tempat.  Agung, kamu pergi ke Penang Malaysia. Dan kamu, Rashid, pergi simposium ke Bandung,”  Ajarn Surichai menjelaskan dengan tenang.

Gubrak!!! Agung seperti tertimpa meteor dari Jupiter.  ”Tapi Ajarn, saya tak ingin ke Malaysia,” protes Agung.  ”Ajarn, saya juga emoh ke Indonesia,” protes Rashid. Keduanya lalu saling bertukar pandangan sinis. ”huh!” sungut Agung kepada Rashid. ”Yikes!” balas Rashid kepada Agung sambil melotot.

”Tidak, Agung dan Rashid. Saya sudah memutuskan. Silakan kemasi barang kalian dan siap berangkat pekan depan. Hubungi Khun[2] Waraporn di kantorInternational Students untuk arrangement ticket dan akomodasi,” jawab Ajarn Surichai santai.

”I hate Indon!” sungut Rashid kepada Agung.

”Malingsia!” balas Agung tak mau kalah.

 

Bandara Bayan Lepas, Penang

Dengan langkah gagah, sedikit arogan malah, Agung siap memasuki counter imigrasi airport  Bayan Lepas, Penang. Ia mengenakan dasi dan jas. Sangat resmi. Entah terpengaruh cerita darimana. Ia sangat khawatir dianggap TKI. ”Apa pekerjaan Encik?” tanya petugas imigrasi ramah. ”I am an assistant professor in Indonesia, currently pursuing Master degree in Thailand.” Agung menjawab dalam bahasa Inggris.  Sengaja, biar dianggap intelek dan tidak disamakan dengan TKI, ujar Agung dalam hati. Tapi sejatinya ia bukan asisten professor, mana ada asisten profesor masih bergelar S1?  ”Nak berapa lama Encik Agung duduk[3] di Malaysia, untuk tujuan apa, sila dikemukakan ?”  tanya sang petugas lagi.  ”Cik, this is actually not your business to ask me such questions, anyway, let me tell you that I am an honorable guest to give speech at Universiti Sains Malaysia workshop tomorrow.”  Jawab Agung sombong.  Dan juga bohong.  Ia bukan pembicara kok. Hanya partisipan biasa. Sang petugas hanya tersenyum simpul.  “Oke Cik, ini paspor anda. Sebagai ASEAN citizen anda boleh duduk di Malaysia untuk tiga puluh hari mulai tarikh[4] sekarang.”   Agung tersenyum menang. Berlalu dengan angkuh. Tanpa berterima kasih pula. Rasain lu, ujarnya dalam hati.

Bandara Husen Sastranegara, Bandung

Rashid turun dari pesawat Airbus A320 Air Asia.  Penuh dengan  kebanggaan ia menaiki maskapai pelopor low cost carrier milikMalaysia ini.  Rasain kamu Agung, katanya dalam hati.  Kamu kePenang dengan Air Asia. Aku juga keBandung dengan Air Asia.  Keduanya pesawatMalaysia.  Mana ada pesawatIndonesia terbang ke luar negeri. Mendarat di Eropa saja dilarang.

Setelah satu kali transit di Kuala Lumpur, ia melanjutkan dengan direct flightmenuju Bandung.  Kesan pertamanya mendarat di Bandung adalah…berantakan. Bandara kok di tengah kota. Kotor. Hmmm, mereka harus melihat KL  International Airport yang super megah dan Kota baru Putrajaya yang sangat multimedia-oriented, ujar Rashid dalam hati.

“Apa pekerjaan Bapak dan untuk keperluan apa ke Bandung?” tanya petugas imigrasi ramah. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena paham orang di depannya adalah warganegara Malaysia.  Sebenarnya Rashid ingin menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ia ingin meyakinkan orang di depannya bahwa ia warga negara terhormat negeri tetangga. “ I am an assistant professor. I was invited to speech at a workshop organized byPadjajaranUniversity,” Rashid menjawab dalam bahasa Inggris. Tentu saja bohong. Kata siapa ia asisten professor.  Memang di Universiti Teknologi Malaysia Skudai-Johor, ia sudah tercantum sebagai calon asisten magang. Masih magang sebagai calon asisten. Bukan Asisten Professor.

”Oh, welcome to Bandung Encik. Here is your passport,” lanjut petugas imigrasi lagi. “Thank you!” jawab Rashid penuh kemenangan.  Sebenarnya ia bisa saja menjawab `terima kasih`, namun egonya menahannya untuk mengucapkan kalimat tersebut.

Di dalam Taksi Menuju USM Penang

“Friend, please take me to USM!” ujar Agung kepada supir taksi yang menunggu di luar Bandara Bayan Lepas. Tetap menggunakan bahasa Inggris. Biar terkesan intelek. “Oh sila Bang, nak conference –kah?” supir taksi menjawab dalam bahasa Melayu. Tahu bahwa tampang penumpangnya ini tampang Melayu. “Yes I am an honorable professor from Indonesia. I was here to give speech at USM,” jawab Agung lagi. Tetap sombong. Dan tetap bohong.   “Ah, seronok sekali Encik. Saya keturunan daripada Cina, tapi saya punya famili di Jakarta, Semarang, dan Surabaya,” ujar sang supir tanpa ditanya.  Emang gua pikirin, jawab Agung dalam hati.

Belum lama beranjak dari Bayan Lepas Agung terkesiap.  Ia baru sadar bahwa sejak masuk taksi tadi sang supir tengah menikmati lagu Ada Apa Denganmudari Peterpan. Sepanjang perjalanan ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan bersiul mengikuti suara Ariel Peterpan.  Usai, hits Peterpan diputar, ia menggantinya dengan hits Ratu. Kini ia bersiul-siul mengikuti suara Maia Ahmad dan Mulan Kwok dalam Teman Tapi Mesra (TTM). “Hey friend, why are you singing Indonesian songs, because of me?” Tanya Agung penasaran.  “Tak lah Cik, lagu Indonesia sangat famous disini. Ramai budak-budak belia[5] Malaysia senang dengan grup music daripada Indonesia.  Lebih kreatif dan enerjik. Tak sama lah dengan lagu Malaysia. Tarikh 17 Disember nanti di Menara KOMTAR (Komplek Tunku Abdul Razak –pen.) Penang akan ada perfomance dari Dewa 19. Saya nak datang lah, nak jumpa Ahmad Dhani dan Once Dewa.”  ”Hah!!!”  Agung kaget sendiri.

Di dalam Taksi Menuju Unpad Bandung

“Bro, please take me to UNPAD campus, Dipati Ukur!” ujar Rashid sesegera setelah keluar dari Bandara Husen Sastranegara. “Apa Tuan, maaf saya tak bisa bahasa Inggris. Memang Tuan bukan orang Indonesia?” kok wajah Tuan mirip orang Sunda?” tanya supir taksi polos.  Dasar Indonbahasa Inggris saja tidak bisa, sungut Rashid dalam hati.  Sementara orang Malaysia saja sekarang sudah ada yang jadi kosmonot.  Ikut misi luar angkasa Rusia Oktober lepas, tambah Rashid dalam hati.

“”Saya orang Malaysia, sekarang tolong bawa saya ke kampus UNPAD Dipati Ukur!”  jawab Rashid dalam bahasa Indonesia yang lancar. Ia menekankan betul kalimat ”Saya orang Malaysia.”  ”Oh orang Malaysia. Apa kabar Encik? Istri saya sekarang kerja di Alor Setar, Kedah. Jadi maid di rumah orang Cina.” tambah supir taksi.  ”Oh ya?” hanya itu respon Rashid. Datar.  Tak heran lah kalau Indon jadi maid, ramai Indon jadi maid di Malaysia, ujar Rashid, tentu saja dalam hati.

Selepas dari Bandara Husen Sastranegara, barulah Rashid sadar bahwa sedari tadi sang supir memutar tembang Cindai, yang dilagukan Siti Nurhaliza. Usai Cindai, Siti melantunkan lagu Jika karya Melly Goeslaw berduet dengan Ari Lasso. Usai Jika, Siti berduet dengan Ariel Peterpan dalam tembang Mungkin Nanti.  Supir Sunda ini menikmati betul suara Siti.   ”Heh Bang, jangan kerana saya daripada Malaysia, awak mainkan lagu Siti Nurhaliza!” kata Rashid geram.  ”Tak lah Cik, sebelum Encik masuk teksi saya, saya sudah setel lagu Siti. Saya penggemar berat Siti.  Dan bukan hanya saya, ribuan orang Indonesia senang dengan Siti Nurhaliza.  Kerana ia berbusana sopan dan tentu saja, cantik ala Melayu,” sergah supir taksi. “Dan asal encik tahu saja, apabila nanti Encik jumpa dengan mahasiswa UNPAD, tanya saja siapa muslimah idola mereka. Pasti mereka jawab Nurul Izzah, putri mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Abraham yang cantik namun nampak shalihah itu,”  lanjut supir taxi.  “Hah!!!”  Rashid tak percaya. Ternyata Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah lebih popular di Indonesia daripada di Malaysia.

 

Conference Room, USM – Penang

Di tengah-tengah rehat workshop, Agung duduk semeja dengan lima orang Malaysia. Mereka semua adalah dosen di USM Malaysia.  “Darimana Cik, oh dari Indonesia, apa kabar? saya juga pernah studi di ITB Bandung ketika studi sarjana  mechanical engineering dulu,”  ujar Dosen I.  “Ah dari Indonesia, piye kabare, Mas? saya punya famili di Kebumen dan Purworejo. Grandfather saya berasal dari Jawa, tapi ayah saya hijrah ke Johor, Malaysia. Hingga saya lahir di Malaysia dan jadi citizen Malaysia. Jadi maaf saya tak boleh cakap[6] bahasa Jawa,”  ujar Dosen II.  “Darimana Bang, oh Indonesia.  Gimana akhbar Dian Sastro dan Nia Ramadhani? Saya penggemar mereka kerana saya senangmovie dan Sinetron Indonesia, lebih kreatif dari film Malaysia!” tambah Dosen III.  “Darimana Pak, ah Indonesia, ahlan wasahlan fi Penang.  Saya punya dua anak sekarang belajar di pondok pesantren Gontor. Satu di Pesantren putra di Ponorogo, satu lagi di pesantren putri Mantingan, Ngawi,”  ujar Dosen IV penuh kebanggaan.   “Darimana Bang, Ah Indonesia. Saya kagum betul dengan demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Kami tak bebas berdemo dan unjuk rasa di Malaysia kerana ada Internal Security Act[7] (ISA),” ujar Dosen V yang juga aktivis LSM.

Ruang Konferensi UNPAD, Bandung

Usai workshop, Rashid duduk semeja dengan lima Dosen UNPAD. Berbasa-basi menunggu waktu shalat maghrib. “Darimana Kang, oh Malaysia. Apa kabar?  Saya juga alumni Malaysia. Saya studi di Universiti Sains Malaysian Penang untuk Master, dan International Islamic University Malaysia di Gombak untuk Doktor,” ujar Dosen I.  ”Darimana, Mas, oh Malaysia. Wilujeng Sumping.  Saya juga alumni Malaysia. Saya tamat Master dari UKM Malaysia bidang medical.  Satu angkatan dengan Dr. Muszaphar Shukor, kosmonot Malaysia pertama yang terbang ke luar angkasa melalui misi luar angkasa Rusia.  Hebat sekali Malaysia sudah bisa mengirim orang ke langit luar.  Indonesia sudah dua puluh tahun punya calon astronot, tapi tak kunjung berangkat dengan NASA, ” ujar Dosen II. “Darimana Pak, ah Malaysia. Selamat Datang.  “Terus terang… dosen ini berbisik di telinga Rashid lalu melanjutkan kalimatnya… “Saya adalah penggemar berat Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah Anwar Ibrahim. Saya sempat patah hati ketika mereka menikah di usia muda.”, ujar Dosen III.  Rashid tersenyum geli lalu berkata dalam hati. Benar kata si supir taksi. Tapi ternyata tidak hanya mahasiswa, dosen-pun ternyata penggemar berat kedua puanMalaysia ini.  ”Darimana Pak, Ah Malaysia, saya sering ke Malaysia dan kagum betul dengan KLIA[8], Menara Petronas- KLCC[9], dan MRT di KL. Dahysat !”  ujar Dosen IV.  ”Where are you from, Sir, ahMalaysia. Ahlan wasahlan! Saya pengguna setia mobil Proton Malaysia di Bandung, murah tapi tangguh!” lanjut Dosen V.

 

Masjid Negeri Penang, Air Itam

Usai workshop.  Agung menunaikan shalat jama qashar di Masjid Negeri Penang, Air Itam. Agung melihat banyak jama`ah shalat menggunakan sarung Samarinda.  Juga limakelompok anak kecil sedang mengaji Al Qur`an dibimbing seorang Ustadz. Penasaran, Agung mendekati.  Ah rupanya mereka menggunakan metode Qira`ati dari Indonesia.  Ini dimana sih, Penang atau Jakarta? Agung jadi bingung sendiri.

 

Masjid UNPAD, Dipati Ukur

Usai workshop, Rashid menunaikan shalat jama qashar di masjid UNPAD, Dipati Ukur. Usai shalat, sayup-sayup didengarnya satu grup mahasiswa berlatih Nasyid Raihan dengan riangnya.  Demi Masa, Ashabul Kafhi, Senyum, dan sederet Nasyid Raihan mereka lafazkan dengan lancarnya. Seusai Raihan, mereka melantunkan nasyid Secerah Pewarna dari The Dzikr Al Arqam. Juga dengan lancar.  Raihan dan The Dzikr-Al Arqam adalah dua grup nasyid dariMalaysia yang kini sudah mulai jarang dilagukan oleh mahasiswaMalaysia.  Rashid jadi ragu sendiri,  benarkah aku sekarang sedang diBandung?

 

Flight Air Asia Penang-Bangkok

Di dalam Boeing 737-400 yang membawanya ke Bangkok.  Tiba-tiba Agung merasa malu jadi orang Indonesia.  Pesawat yang membawanya di-delay take off selama enam jam karena bandara diliputi asap pekat. Tanpa bertanya pada siapapun Agung sudah tahu bahwa asap tersebut berasal dari pembakaran hutan di Sumatera.  Ia lebih malu lagi ketika buang air kecil di tandas (toilet) bandara.  Karena ia menjumpai banyak kata-kata jorok dan vulgar dalam bahasa Indonesia dituliskan di pintu tandas. Menyediakan cewek-lah, gigolo lah, dan lain-lain. Dan ia yakin penulisnya orang Indonesia, karena bahasa yang digunakan khas Jakarta dan juga khas Medan.  Dan ia semakin malu ketika membaca kepingan berita di koran Utusan Malaysia yang berbahasa Melayu. ”Banjir besar terjadi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Indonesia.  Kerajaan Malaysia mengirim tim medis daripada jabatan kesihatan aam dan daripada Bulan Sabit Merah Malaysia untuk menolong mangsa[10] banjir di Jakarta dan sekitarnya.

 

Flight Air Asia Bandung-Kuala Lumpur-Bangkok

Di dalam Airbus A 320 yang mengantarnya ke Bangkok. Tiba-tiba Rashid jadi malu sebagai orang Malaysia.  Shame on me!, ujarnya berulangkali.  Ia baru saja membaca Koran REPUBLIKA  bahwa ada banyak TKW Indonesia yang pulang ke Indonesia dalam keadaan babak belur. Disiksa oleh majikannya di Kuching, Johor, ataupun Penang.  Razia pasukan RELA (polisi swasta Malaysia) juga semakin ganas.  Mereka tak segan menangkap dan menyiksa orang Indonesia. Sering terjadi kasus salah tangkap. Dikira TKI ternyata pelajar ataupun eksekutif Indonesia.  Dan Rashid menjadi semakin malu ketika pada koran yang sama ia menemukan berita :  “Banjir besar terjadi di Johor, Pahang, dan Kelantan. Korban tewas puluhan orang. Pemerintah Indonesia dan Palang Merah Indonesia mengirimkan Tim Medis, obat-obatan dan bantuan sandang pangan untuk menolong  korban banjir”

 

Bandara Suvarnabhumi, Bangkok

Agung bertemu Rashid di ruang pengambilan bagasi bandara Suvarnabhumi. Pesawat Agung dari Penang berselisih sepuluh menit saja dengan pesawat Rashid dari Kuala Lumpur.  Awalnya mereka sama-sama kaget dan ingin membuang muka. Namun tak sempat lagi karena sudah begitu dekat. Akhirnya mereka sama-sama berucap, ”Assalamualaikum, sawasdee khap, sabay dee may?[11].

Mereka tertawa sendiri karena mengatakan kalimat yang sama secara bersamaan. Selanjutnya mereka berbasi-basi sejenak sebelum akhirnya Agung berkata jujur : ”Rashid, ternyata Malaysia tak begitu buruk. Aku bertemu banyak orang baik di Penang. Malaysia memang Truly Asia.”  ”Sama, Gung, Indonesia juga tak begitu buruk. Aku merasa feel at home di Bandung. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika,” Rashid berkata sama jujurnya .  ”Kalau begitu, bagaimana kalau kita ”pacaran” lagi nih?” tantang Agus. ”Siapa takut?” jawab Rashid sambil terbahak dan menonjok bahu sahabatnya itu.

”I hate Indon!”  Teriak Agung.

”Malingsia!”  Balas Rashid.

Tak jelas,siapa orang Indonesia dan siapa orang Malaysia.

Mahidol, Salaya 20 Desember 2007

NB : Salam hangat untuk teman-teman Malaysia di Penang


[1] Professor

[2] Tuan/ Nyonya

[3] Tinggal/ tidur

[4] tanggal

[5] Anak-anak muda

[6] Tak bisa berbahasa

[7] Undang-Undang Anti Teroris/ Keamanan NasionalMalaysia

[8] KLIA : Kuala Lumpur International Airport

[9] KLCC :

[10] Korban

[11] Assalamualaikum, hallo, apa kabar?

 

Read Full Post »

Oemar Bakri Millenium

OEMAR BAKRI MILLENIUM

By : Heru Susetyo

 

Kuliah Hukum Pidana Internasional rampung sudah.  Lima kelompok mahasiswa berjumlah tiga sampai empat orang beranjak meninggalkan kampus Fakultas Hukum Universitas Nusantara..  Kelompok mahasiswa pertama bergegas memasuki Mercedez S 500 nya dan pamitan kilat padaku, “  Kami duluan ya, Pak.  Senang deh ikut kuliah, Bapak,”  teriak Shandy.   Kelompok mahasiswa kedua,  tak lama tancap gas dari Mercedez Sport 300 –nya.  “Kami juga ya Pak,  see you next week !”.  Kelompok ketiga,  dua wanita dan satu pria,  tak kalah memacu pedal gasnya dari dalam kabin BMW X 5.  “Bapak mau ikut, Pak,  kami ke arah Pondok Indah kalau Bapak mau ikut,”  tukas Jeanne, seorang penumpangnya, dengan santun.  “Eh, makasih,  Jeanne,  saya ke arah Bojong kok,  nggak ke Pondok Indah,”  jawabku polos.   Selang sepuluh detik kemudian mobil keempat,  sebuah Audi A 6 warna silver merapat pelan ke arahku,  “  Pak Radit,  benar nih nggak mau ikut kami,  kami ke arah selatan juga,  ke Bukit Sentul,”  Tanya Reggie ramah.  “Saya memang ke selatan Reg,  tapi ke Bojong.  Makasih banyak, saya bawa motor kok.    Tengah aku terpana menatap mahasiswaku menunggang sederet mobil ekstra mewah,  mendadak kelompok mahasiswa terakhir,  yang termiskin kurasa,  membunyikan klakson dari Toyota Landcruiser 2005-nya dan sebuah kepala berjilbab menyembul malu-malu :  “Assalamualaikum Pak Radit,  kami mau ke arah Bojong,  Bapak mau ikut kami?   Sepintas kulihat isinya lima mahasiswi berjilbab,  ah ya mereka aktivis musholla kampus.  “Eh, nggak, makasih Nabila.  Saya sudah ditunggu sama  tunggangan saya.  “Salam ya buat teman-teman,”  jawabku tak kalah malu.  Ya Allah, yang termiskin-pun,  para aktivis musholla,  menunggang Toyota Landcruiser yang berharga nyaris satu em.  Lalu masuk kelompok mana aku ya?   Lelah berpikir seperti itu segera aku menyeret motor Honda GL Pro 95 –ku dan segera mencabik gas-nya.  Drive me to Bojong, buddy !

 

 

****

Sebelas tahun sudah aku lewatkan di Universitas Nusantara sebagai dosen.  Dua tahun pertama aku terbenam dalam aktivitas pengajaran dan penelitian. Sembilan tahun berikutnya aku menghilang ke negeri orang. Dua tahun di Leiden , Belanda untuk menempuh gelar master di Leiden University, dan lima tahun berikutnya di  University of Notre Dame -Indiana, Amerika Serikat,  guna menyabet gelar Doktor.  Usai menggaet Doktor,  aku menjalani riset Post Doc di Oxford University, Inggris selama dua tahun.

 

Aku menikah dengan Miranti, ketika tengah studi di Leiden.  Ia adalah dosen satu perguruan tinggi di Jawa Timur yang sama-sama mengambil program master di Leiden.  Karena menikah denganku, usai studinya ia tak kembali ke Jawa Timur.  Apalagi setelah si sulung lahir di Leiden. Lalu berturut-turut  anak kedua, ketiga, dan keempat kami lahir di South Bend, Indiana.  Si bungsu sendiri lahir di Cambridge, Inggris. Walhasil, kelima anak kami memiliki paspor dan kewarganegaraan ganda

 

Baru setahun terakhir aku kembali ke Jakarta.  Yang ternyata sudah amat jauh berubah daripada sembilan tahun silam. Mobil-mobil mewah berderet di sepanjang tempat parkir mahasiswa.  Coba lihat,  Jaguar, Audi A 6, Mercedez, BMW seri 7,  Volvo seri 9,  Aston Martin seri James Bond 007, Maserati seri terakhir, Nissan Fairlady, hingga Jeep Humvee H-2 yang jadi legenda di perang teluk.  Sementara, di tempat parkir para dosen,  yang terlihat hanyalah minibus kurang dari 100 jutaan,  sedan 1300 CC tahun 80-an,  atau paling mewah adalah sedan timor Pak Dekan,  yang aku dengar sebentar lagi akan dijual murah karena pak Dekan tak tahan menanggung angsuran bulanannya.  Aku sendiri,  tak pernah parkir di tempat parkir dosen.  Karena memang tak punya mobil.  Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.  Guru  pergi    dengan metromini,  murid  pergi dengan Audi. Barangkali,  kalau ada perlombaan dosen termiskin sedunia –katakanlah semacam Oemar Bakri Award-  para dosen di fakultas-ku akan sangat berpeluang untuk menang.

 

Setibanya di rumah Bojong,  Miranti istriku menyambut dengan sumringah.  “Ayah,  sudah baca Koran hari ini belum,”  tanyanya manja.  “Koran?  Sudah.  Tentang kasus poligami seorang kyai dan video porno anggota DPRI-kan?”  jawabku sok tahu.  “Bukan,  ini lebih heboh dari poligami dan video porno.  Harga Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza makin miring !  Saat yang tepat buat beli mobil, ayah !”  katanya lagi sambil bergelayut di lenganku.

 

“Daihatsu Xenia dan Toyota Avanza?, ayah nggak pernah dengar tuh,”  sahutku polos.  “Yah, ayah kuper banget sih.  Itu kan dua mobil SUV murah yang belakangan sedang digilai keluarga muda Indonesia.  Karena harganya murah tapi modelnya cantik banget.  Ayo dong , Yah.  Ini saatnya kita punya mobil.  Ayah nggak capek apa naik motor bolak-balik Jakarta Bojong lima puluh kilometer sehari.  Anak-anak juga kan sudah pada sekolah.   Mereka lebih aman naik mobil daripada kita bonceng motor terus setiap hari.  Lagian,  di Oxford dan di Indiana kita kan selalu punya mobil.  Kenapa di Indonesia nggak, yah?”  ujar Miranti.

 

Honey,  Indonesia berbeda dengan Inggris dan Amerika.  Disana kita harus punya mobil karena tak ada alternatif alat transportasi yang lain.  Lagian, harga mobil disana kan super murah.  Dengan seribu dollar Amerika,  kita sudah bisa punya mobil.  Kita memang perlu mobil di Indonesia, tapi harganya terlalu mahal.  Gaji ayah nggak cukup.  Lagian kita-kan sudah punya dua motor,”  jawabku santai.

 

“Lho, ayah-kan punya tabungan dollar Amerika lumayan besar.  Lima tahun di Amerika dan dua tahun di Inggris masa nggak ada dollar dan poundsterling tersisa, Yah?  Ayah kerja di library di Municipal, jadi cleaning service di kampus, pagi harinya anterin koran sampai perbatasan Michigan.  Aku juga dapat family support dari State of Indiana karena tiga anak kita lahir di Indiana,  masak kita nggak ada saving, yah?” Miranti setengah tak percaya.

 

“Ya Allah,  kamu lupa yah.  Kita memang punya tabungan tiga puluh ribu dollar selama kita melanglangbuana di luar,  tapi kan sudah tinggal lima ribu dollar.  Lima ribu dollar untuk sangu Bapak dan Ibu yang naik haji.  Lima ribu dollar untuk  infaq kaum muslimin di Poso, Maluku, Aceh, dan Sambas yang tengah terzhalimi karena konflik internal.  Sepuluh ribu dollar untuk bayar angsuran KPR BTN rumah ini,  dan yang lima dollar berikutnya macam-macam.  Jadi dua motor bekas.  Jadi perlengkapan bayi.  Untuk tambahan renovasi rumah. Untuk bantu saudara-saudara kita yang sakit dan untuk infaq pembangunan musholla depan rumah kita.”  Sisa lima ribu dollar nggak cukup-kan honey untuk beli Xenia dan Avanza?”  tambahku.

 

“Astagafirullah. Iya ya.  Kok aku jadi lupa.  Tapi ini penting sekali, ayah.  Kita harus punya mobil.  Terus terang aku capek kemana-mana naik motor membonceng Fitra dan Fathiya.  Ayah nggak capek apa membonceng Faraz, Farhan, dan Farah?  Insya Allah aku ikhlas, yah, karena mereka adalah anak-anak kita sendiri.  Tapi aku juga makin tua. Tenagaku tak sekuat dulu ketika mengendarai motor,”  ujar Miranti sedih.

 

Memang, kami adalah keluarga motor.  Aku kemana-mana mengendarai Honda GL Pro 95, dan Miranti mengendari Honda Legenda 99.  Ketika bepergian bersama keluarga, biasanya aku memang mbonceng tiga anak.  Farah di depan, Faris dan Farhat di belakang.  Sementara,  Miranti membonceng Fitra dan Fathiyah.  Karena Farah masih berusia satu setengah tahun,  maka aku menggendongnya di depan dengan ransel bayi.  Empat anak kami yang sudah besar duduk di belakang.  Dua di belakang ayahnya dan dua di belakang ibunya.  Ketika ada acara keluarga kami biasanya berkonvoi.  Aku duluan dengan GL Pro dan tiga anak melaju di depan dan Miranti di belakang dengan Honda Legenda-nya bersama dua anak.

 

“Maaf,  honey.  Aku sadar betul bahwa kita perlu mobil.  Tapi kita kan masih harus mencicil rumah setiap bulan sampai sepuluh tahun ke depan.  Gaji ayah sendiri di kampus kurang dari tiga juta rupiah.  Secara matematis,  kita belum sanggup punya mobil,  jadi mari kita lupakan keinginan untuk punya mobil,”  ujarku tegas.

 

“Tapi, yah…,”  belum usai berkata Miranti sudah menangis dan pergi ke kamar tidur.

 

Aku menghela napas.  Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali.  Miranti adalah istri yang baik.  Permintaannya selalu wajar.  Dan, ia telah berkorban banyak untukku.  Ia rela menanggalkan karir dosennya di Jawa Timur demi untuk mendampingiku.  Lima anak lahir sudah dari rahimnya dan tak sekalipun ia ingin kembali ke kampus.  “Kampusku di rumah, Mas. Dan mahasiswaku adalah anak-anak kita.  Kamu silakan menjadi Rektor di rumah ini, tapi akulah Pembantu Rektor bidang Akademis-nya, Pembantu Rektor Bidang Administrasi dan Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaannya,“ ujar Miranti suatu ketika.  Lalu,  haruskah aku kini menuruti keinginannya yang teramat wajar?  Ia hanya ingin Daihatsu Xenia atau Toyota Avanza yang keduanya kurang dari seratus juta rupiah. Ia tak ingin BMW Z-4 atau Audi A 6 seperti yang dimiliki mahasiswa-mahasiswaku.

 

****

 

 

Pulang dari kampus aku tak langsung ke rumah.  Aku ingin ke Pondok Bambu.  Mampir ke rumah Bapak dan Ibu yang sudah dua bulan tak kusambangi.  Bapak di usianya yang mendekati tujuhpuluhan masih tampak gagah.  Maklumlah,  mantan perwira tinggi TNI Angkatan Udara.  Dua kali ayah bertugas sebagai Atase Pertahanan di Kedubes Indonesia di Inggris dan di Amerika.  Kami sekeluarga ikut kesana.  Hingga pendidikan dasarku aku habiskan disana. Wajarlah, alhamdulillah, bahasa Inggrisku laksana native speaker.

 

Ibu sendiri sempat menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri di Bandung.   Karena sering ikut Bapak bertugas ke luar negeri,  akhirnya Ibu ikhlas melepas karirnya di kampus dan memulai karir di dalam rumah.  Sisa-sisa kehidupan Ibu sebagai mantan dosen berbekas banyak bagi kami.  Wajarlah,  tiga dari empat anak-anaknya menempuh hidup sebagai dosen.  Termasuk aku.

 

Tiba di rumah Ibu di Pondok Bambu,  aku langsung terhenyak.  Ada pemandangan baru di garasi.  Dua buah mobil yang masih brand new bak fresh from oven.   Satu Toyota Avanza dan satu Toyota Xenia !

 

“Eh Mas Radit,  tumben datang nggak telpon dulu, langsung diparkir aja motornya atuh,”  Ibu menyambutku persis di muka garasi. Masih dengan logat Sunda-nya yang kental.

 

“Iya nih Bu, Radit kangen sama Bapak dan Ibu.  Sudah lama nggak kesini.  Begitu kesini Radit makin kaget, Bu.  Punya siapa dua mobil baru ini ?”  tanyaku gelisah.

 

“O iya.  Baru lihat ya Mas.  Sudah hampir sebulan kok dua mobil baru ini mendekam di garasi kita.  Yang Avanza punya Ibu,  Bapak kamu membelikan Ibu karena Kijang Ibu yang lama kan sering mogok. Nah,  alhamdulillah, Bapak-mu masih punya sisa-sisa dana berlebih dari dinas terakhirnya di Inggris.  Apalagi harga mobil ini relatif  terjangkau dan kita bisa angsur dengan ringan. Jadi deh Ibu punya mobil baru lagi.  Lumayan, Mas, bisa bawa cucu-cucu keliling komplek kalau mereka kesini!”  Ibu menjawab dengan riangnya.

 

“Kalau yang Xenia ini punya siapa Bu?”, tanyaku makin gelisah. “Wah kalau ini mah punya Jasmine,  lihat aja pelat nomornya B 1070 GI.” (baca : BIOLOGI)  Jasmine?  bisa beli mobil?  Dia kan masih asisten di fakultas MIPA?”  tanyaku terheran-heran.  “Jasmine baru ikut proyek riset kelautan di Maluku. Kerjasama dengan Jepang.  Nah,  hasilnya cukup untuk DP (down payment –pen.) beli mobil ini.  Sisanya akan dia  angsur setiap bulan dari gaji dan proyek-proyek risetnya.

 

Aku semakin shock.  Jasmine adalah adikku yang paling bungsu.  Ia lahir di Washington D.C.  Menamatkan studi sarjana dan master biologi-nya di Jepang.  Dan kini bekerja sebagai asisten pengajar di jurusan biologi di kampus yang sama denganku.  Masih berusia 24 tahun dan belum menikah. Tapi sudah punya mobil?

 

“Mas Radit sendiri mana mobilnya,  kok masih betah naik motor hitam ini. Miranti sama anak-anak apa nggak minta dibelikan mobil?”, tanya Ibu polos.  “Eh iya Bu,  mereka juga minta dibelikan mobil. Sama sih Bu, salah satu dari kedua jenis mobil ini,”  jawabku jujur sambil menunjuk kedua mobil Jepang itu.  “Terus,  kenapa nggak dibelikan atuh?  Mas Radit kan sudah Doktor.  Lama tinggal di luar negeri. Anak sudah lima pula.  Apa nggak repot kemana-mana boncengan dua motor?”

 

“Memang agak repot sih, Bu.  Tapi kami enjoy kok.”  Jawabku tergagap.   “Mas Radit,  terus terang Ibu agak sedih melihat kalian kemana-mana naik motor.  Bahaya kan?  Ibu sudah lama diskusi sama Bapak.  Kalau masalahnya uang, kita bisa bantu meminjamkan uang untuk DP-nya.  Mas Radit kembalikan kapan saja kalau sudah ada.  Alhamdulillah tabungan Bapakmu selama dinas luar negeri sudah lebih dari cukup.” , Ibu berucap dengan tenang.

 

“Terimakasih, Bu.  Tidak usah.  Bapak dan Ibu sudah begitu banyak membesarkan dan  memberikan apapun selama tiga puluh tiga tahun ini.  Radit tak mau lagi menyusahkan Bapak dan Ibu.  We are fine, Bu,”  jawabku setengah menangis.

 

Tengah butiran air mata menetes perlahan dari mataku, Jasmine keluar dari pintu depan.  “Eh Mas Radit,  assalamualaikum, Mas.  Kemana saja? long time no see.  Sudah lihat dong, Mas, mobil baruku?  ujar Jasmine menggoda tanpa dosa   “Sudah, Sis, (Sister-pen.) selamat ya!  kamu sudah sering ngebut dong!”    “So pasti, Mas.  Mobil ini murah tapi nyaman buat ngebut.  Aku jadi nggak usah berkompetisi lagi untuk mengejar Kopaja dan Metromini.  “Mas Radit masih betah aja naik motor, apa kata dunia?”  Tanya Jasmine,  masih dengan mimik tanpa dosa.   “Dunia berkata, mobil atau motor yang penting masuk surga!” jawabku sekenanya.  “Eh, Mas, by the way, motornya dipinggirin dong, Xenia-ku mau keluar nih.  Aku mau ke kampus nih!”  ujar Jasmine santai.  Setengah menggerutu,  aku memindahkan si kuda tua ini diiringi tatapan sedih dari Ibu.

 

****

 

Sepulang dari rumah Bapak dan Ibu aku malah semakin  suntuk.  Maksud hati membebaskan diri dari permasalahan  mobil, eh malah bertemu lagi masalah yang sama.   Akupun segera melaju ke kampus kembali.  Menenangkan diri di perpustakaan kampus adalah jalan terbaik.  Sekaligus aku bisa mencari referensi buku untuk persiapan mengajar besok.

 

Tengah aku memasuki pintu perpustakaan, dua orang mahasiswa menghampiriku.  “Assalamualaikum Pak Radit,”  sapa mereka ramah.  “Eh, kalian, Wiwid dan Satria.  Ada yang bisa saya bantu?”

Iya Pak.  Kami dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nusantara sedang melaksanakan program Oemar Bakri Award.  Ini program serius lho, Pak, bukan bercanda.  Kami ingin memberikan award bagi dosen atau staf pengajar yang hidupnya pas-pasan, sederhana, namun memiliki visi dan profesionalisme dalam bidang akademik.  Seperti  Oemar Bakri di jaman millennium-lah.   Bagaimana caranya?  kami membuat questioner yang disebarkan  ke seluruh mahasiswa dan staf pengajar.  Isinya adalah siapa yang mereka anggap layak menerima Oemar Bakri Award.  Juga,  dengan bekerjasama dengan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) dan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPTPK)  kami berusaha mendata kekayaan dan asset yang dimiliki oleh para dosen pegawai negeri di kampus ini.  Dari kedua data itulah kemudian kami memutuskan siapa yang layak menerima Oemar Bakri Award tahun ini,”  ujar Wiwid serius.

 

“Luar biasa ide kalian. Bagaimana bisa ide sejenial ini lahir?”  tanyaku heran.  Heran,  karena akupun pernah berpikir tentang ide tersebut sebelumnya. “Semuanya berangkat dari perang melawan korupsi yang dilancarkan pemerintah lima tahun terakhir Pak.  Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi,  vonis sepuluh tahun terhadap seorang gubernur aktif, dan disidangnya sejumlah anggota KPU di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi membuktikan bahwa penyelenggara negara tak steril dari korupsi.  Yang  menyedihkan, dalam kasus korupsi di KPU, beberapa pelakunya adalah staf pengajar perguruan tinggi seperti Bapak.  Apakah para dosen sekarang telah kehilangan idealisme, Pak?  apakah mereka kini telah menghalalkan segala cara demi menangguk sekian ribu US dollar yang jelas-jelas haram?  apakah mereka telah bosan sekian tahun lamanya hidup dalam kesederhanaan? “ tukas Wiwid.

 

“Berarti,  menurut kalian dosen tidak boleh hidup kaya dong,?“  tanyaku menggoda.  “Bukan begitu, Pak,“  jawab Satria cepat. “Semua orang juga tahu, bapak juga tahu, bahwa kalau ingin kaya janganlah menjadi dosen.  Jadilah pengusaha atau businessman.  Ketika ada dosen yang kemudian hidup berlebih dari hasil keringat mengajarnya, kami hargai itu.  Tapi ketika ada dosen yang tak jelas darimana nafkahnya namun tiba-tiba kaya. Punya mobil dan rumah mewah.  Wajar dong kami curiga, Pak, “  tambah Satria lagi.

 

“Berarti saya boleh dong mencurigai mahasiswa yang tiba-tiba kaya padahal sehari-harinya hanya makan lontong sayur dan minum teh pahit panas?”  tanyaku menggoda. “Banyak lho aktivis mahasiswa yang kemudian menjadi aktivis pengusaha ataupun aktivis penguasa.  Yang rajin menjadi broker demi mendapat kenikmatan politik dan uang.  Yang rajin menggerakkan massa untuk kepentingan kantong sendiri.  Dulu ketika masih mahasiswa motornya Honda Legenda.  Kini motor tersebut benar-benar tinggal legenda karena ia telah memiliki Nissan X-Trail pemberian pengusaha yang puas atas hasil kerjanya menyediakan massa untuk mendukung aktivitas melanggar hukum sang pengusaha.“  tambahku lagi.

 

“Yah si Bapak, bercanda terus.  Gimana nih Pak, mau bantu kamu, tidak?”  potong Wiwid tidak sabaran.  “Insya Allah,”  jawabku cepat.  “Jenis pertolongannya apa?”  tanyaku mulai serius.   “Mudah, Pak.  Bapak-kan pengajar mata kuliah Metode Penelitian.  Bapak bisa tolong buatkan kami instrumen questioner-nya.  Kami menitipkan sejumlah pertanyaan yang menurut kami urgent untuk mengukur tingkat kekayaan dosen.  Sebagian pertanyaan kami comot dari model pertanyaan di Komisi Pemberantasan Korupsi.  Sebagian lagi kami kumpulkan dari masukan teman-teman mahasiswa.  Gimana, pak, bisa bantu ya?  terus terang kami lemah dalam Metode Penelitian. Kami khawatir hasilnya kurang valid kalau Bapak tidak ikut terlibat,“  ujar Wiwid setengah merayu.

 

Aku tersenyum dalam hati. Anak-anak ini kreatif sekali.  Terus terang ini ide lucu tapi menarik. Mahasiswa mana-sih yang terfikir untuk menyelidiki harta kekayaan dosennya?  “Oke, insya Allah saya buatkan.  Berapa nih bayarannya?  tarif saya lima ratus dollar untuk per jam konsultasi,”  jawabku bercanda.   “Hah, Pak?  Bapak serius?  kami tak sanggup, Pak!  memang sih kami telah memiliki sejumlah sponsor untuk mendanai program ini,  tapi kalau tarif Bapak lima ratus dollar per jam terus terang kami defisit, Pak,”  tukas Satria setengah tak percaya.

 

Aku kembali tertawa lagi.  “heh Satria, Wiwid, sejak kapan saya mengutip uang dari mahasiswa.  Saya tahu kok berapa isi kantong kalian!” tambahku cepat.  Pokoknya no worries deh,  saya bantu kalian buat instrumen questioner-nya for free!  tapi,  ada tapinya, jangan minta selesai cepat ya.    Beri saya dua minggu at least.”  Alhamdulillah,  kami kira Bapak serius.  Dua minggu cukup kok Pak….

***

 

 

Dan aku menepati janji itu.  Dua pekan sesudahnya aku menyerahkan instrumen questioner tersebut kepada mereka.  “Terima kasih banyak, Pak.  Entahlah bagaimana nasib award ini kalau Bapak tidak membantu kami,”  kata Satria.  “Betul, Pak, terus terang awalnya kami putus asa dan nyaris meninggalkan program ini,  namun melihat instrumen di tangan ini kami jadi bersemangat kembali, terima kasih Pak !”  tambah Wiwid.   “Berterimakasih-lah pada Allah SWT,  teman, selama tujuannya baik insya Allah Dia akan memudahkan, trust me!”  ujarku bijak.   Aku melihat betul perubahan wajah Satria dan Wiwid ketika aku mengucap kata ‘teman’.  Tapi tak salah kan, jarak usiaku dengan mereka tak terlalu jauh, kurang dari sepuluh tahun.  Aku-pun pernah dibesarkan di tempat yang sama dengan mereka beberapa tahun silam.  Di musholla kampus tepatnya.

 

“Kalau boleh saya bertanya,  siapa juri dalam pemberian award ini?”  tanyaku setengah ingin tahu.   “Ini penting lho untuk menjaga independensi program ini,”  tambahku lagi.  “Jangan khawatir, Pak.   Semua ketua Badan Perwakilan Mahasiswa di kampus ini menjadi tim juri.  Ketua Tim Juri-nya adalah seorang pejabat di Komisi Pemberantasan Korupsi dan wakilnya adalah pejabat di Komisi Pemeriksa Kekayaan Pejabat Negara.  Kendati ini bukan program instansi mereka,  namun mereka sangat bersemangat membantu.  Secara tidak langsung ini sesuai dengan misi instansi mereka khususnya dalam pendidikan kesadaran anti korupsi dalam masyarakat.”  papar Wiwid bersemangat.  “Subhanallah,  you guys are really doing a great job,  please keep up the good work.  I’m proud of you,”   ujarku dalam bahasa American-English slank.   Ungkapan ini juga yang selalu disampaikan supervisor-ku ketika studi di Amerika ketika melihat grade –ku yang bagus,  bertaburan huruf ‘A”.  So,  apa salahnya aku mengungkapkannya juga untuk para mahasiswaku disini?

“Syukran Pak,  Jazakumullahu khairan katsiiran…”  sahut Wiwid dan Satria bersamaan.

Mendengar jawaban mereka aku jadi malu sendiri. Kenapa juga aku lebih bangga berbahasa Inggris daripada berbahasa Arab?  Bahasa Al Qur’an dan bahasa Rasulku Muhammad SAW.

 

Sebulan setelahnya kampus Universitas Nusantara dipenuhi aktivitas mahasiswa yang tak biasa.  Seratusan lebih ‘peneliti dadakan’  yang semuanya mahasiswa mendatangi hampir semua fakultas.  Mewawancarai dekan, dosen-dosen, bagian keuangan, bagian personalia, mahasiswa, hingga pegawai kampus.  Beberapa yang lain mendatangi kantor departemen pendidikan dan  dinas pendidikan setempat .  Yang lainnya melakulan studi kepustakaan dan internet research.   Suatu pekerjaan yang tidak mudah,  tak semua peneliti dadakan ini dapat memperoleh data dengan leluasa.  Karena mereka menanyakan data tentang gaji dan kekayaan dosen.  Sesuatu yang selama ini dianggap ‘rahasia dapur’  dan tak boleh diungkap ke publik.

 

Namun,  disinilah kehebatan para mahasiswa ini.  Hadirnya dua pejabat publik di bidang anti korupsi ibaratnya ‘password’ yang dapat membuka akses kepada data yang selama ini dirahasiakan.   Walhasil,  kendati awalnya berlangsung sulit namun akhirnya berhasil baik.   Minimal sampai sebulan kemudian.  Sampai aku mendapat undangan dari panitia Oemar Bakri Award.

 

****

 

 

Acara penyerahan award ini dilangsungkan tidak di gedung atau balai pertemuan seperti layaknya acara sejenis.   Karena semangat kesederhanaan dan anti korupsi ,maka panitia menyelenggarakannya di tepi danau kampus.  Mereka memasang tenda,  menggelar tikar, dan hanya menggelar aqua.  Tak ada makanan sama sekali.   Para tamu yang hampir semua adalah pimpinan universitas,  pimpinan fakultas, dan pimpinan badan kemahasiswaan agak terkejut.   Utamanya yang datang dengan busana formal plus jas dan dasi.  Karena mereka juga harus duduk lesehan.   Dalam hati aku mengagumi ‘kreativitas’ sekaligus ‘keisengan’  mahasiswa ini.   Memang,  tak ada salahnya duduk lesehan dan membuat acara di alam bebas.  Daripada yang selama ini terjadi,  setiap pertemuan digelar di hotel sekitar Puncak,  atau di salah satu villa di Anyer-Carita.   Padahal kampus sendiri memilki ruang-ruang pertemuan yang layak.  Sungguh pemborosan telah menjadi tradisi di negeri ini.

 

Satu jam setelah acara dibuka,  barulah tim juri membacakan hasil keputusannya.  Untuk yang satu ini sepertinya tradisi belum berubah.  Satu jam digunakan hanya untuk menyampaikan sambutan demi sambutan.   Sebelum juri membacakan keputusannya,  aku  sudah menerka-nerka siapa pemenangnya.   Kendati aku yang membuatkan instrumen penelitiannya,  tapi aku sendiri tak terlibat dalam proses pengumpulan data.

“Pemenang pertama akan mendapatkan mobil Toyota Avanza dan hadiah umrah ke tanah suci.  Pemenang kedua akan mendapatkan mobil  Daihatsu Ceria dan hadiah umrah ke tanah suci.  Pemenang ketiga akan mendapatkan uang tunai sejumlah lima puluh juta rupiah dan hadiah umrah ke tanah suci…” papar panitia .  Subhanallah, mantap sekali hadiahnya.  Beruntunglah mereka yang mendapatkannya,  ujarku dalam hati.

 

Dalam benakku sudah terbayang siapa pemenangnya.  Mesti satu di antara tiga orang ini. Pak Rifai,  Dekan Fakultas Ekonomi.  Pak Jaka,  ketua masjid kampus sekaligus dosen agama Islam di tiga fakultas di kampus ini.  Atau Ibu Rika,  guru besar  Fakultas Psikologi.  Ketiganya terkenal sederhana.  Pak Rifai, kendati kampusnya telah melahirkan ratusan konglomerat dan puluhan menteri, namun hanya memiliki sebuah Suzuki Carry keluaran tahun 1994.  Pak Jaka bahkan tak punya mobil sama sekali.  Ia selalu menumpang KRL (kereta rel listrik –KRL) untuk pergi dan pulang dari kampus.  Bu Rika sama saja.  Kendati kenyang studi di luar negeri hingga bergelar guru besar,  tak sekalipun ia menggunakan fasilitas kampus untuk keperluan pribadi.   Pergi kemanapun ia menggunakan kendaraan umum ataupun naik ojek.

 

Terus terang,  tiga pribadi di atas adalah idola-ku. Pintu ruangan mereka selalu terbuka untuk para mahasiswa.  Mereka selalu haus akan ilmu dan tak segan bertanya kepada orang yang lebih tahu,  walaupun kepada mahasiswa sekalipun.  Mereka jarang sekali menggunakan fasilitas kampus untuk keperluan keluarga.  Kendati mereka berhak untuk itu.  Dan hebatnya,  tak sekalipun mereka meninggalkan kewajiban terhadap Tuhan-nya.  Mudah sekali menemukan mereka di masjid kampus ataupun musholla fakultas pada waktu-waktu shalat fardhu.    Aku seperti melihat figur sahabat Mushab bin Umair pada diri Pak Rifai.  Figur Khalifah Umar bin Abdul Aziz pada diri Pak Jaka.  Dan, teladan sahabiyah Asma binti Abu Bakar pada pribadi Ibu Rika.

 

Satu jam telah berlalu dan panitia tak kunjung mengumumkan siapa pemenangnya.  Malah,  acara diselingi oleh coffee break selama lima belas menit.  Bosan dan letih menunggu akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke toko buku dan pulang ke rumah.  Lebih baik pulang ke rumah lebih awal dan bermain dengan anak-anak yang baru pulang sekolah.  Nanti juga panitia akan menyampaikan beritanya kepadaku via SMS.  Pikirku dalam hati.

 

 

**

 

Anak-anakku amat terkejut  ketika aku pulang cepat.  Sekitar jam dua siang.   “Ayah sudah taubat!” ledek Faris.  “Ayah sudah kembali ke jalan yang benar!” tambah Farhat berseri-seri.  Aku tersenyum kecut.  Memang aku jarang sekali pulang lebih cepat dari jam sembilan malam.  Terlalu banyak amanah hidup ini ketimbang waktu yang tersedia.  Namun aku lebih terkejut lagi mendapati sepeda motor istriku dan sepeda anak-anakku diparkir di luar rumah.  Kenapa tidak di dalam garasi?

 

Jawabannya tiba lima detik kemudian ketika aku melangkah ke garasi.  Sebuah mobil Avanza berwarna hitam metalik telah bertengger manis di garasiku.  Lengkap dengan pita berukuran besar berwarna pink yang diikatkan mengelilingi body mobil bagian tengah.  “Mobil siapa ini?”  tanyaku kebingungan.  Seketika istriku Miranti yang tengah berada di belakang setir segera menghambur ke luar.  Memelukku dan mencium pipiku.  “Ini mobil kita ayah !” seru Miranti.  “Horee kita punya mobil baru!”  teriak anak-anakku kegirangan.   “Mobil kita?”  tanyaku semakin bingung.

 

“Ayah kemana saja sih?  Ayah kan pemenang pertama Oemar Bakri Millenium Award!  Ayah bukannya tadi datang ikut acara tersebut?  Panitia mengkontak ayah berkali-kali via SMS dan telpon langsung ke handphone ayah.  Tapi sepertinya handphone ayah sedang ‘off’.  Mereka lalu telpon ke rumah dan mengirim langsung mobil ini berikut tiket umrah ke tanah suci atas nama ayah dan aku !”  papar Miranti cepat.  Nampak sekali wajahnya memerah karena senang.  “Akhirnya mimpi kita selama ini mewujud ayah,  our dream come true!”  lanjut Miranti.   “Panitia   sebentar lagi akan datang lagi untuk bertemu ayah langsung,  aku akan menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka !”   Miranti segera pergi ke dapur tanpa menanti komentarku.   Sementara itu anak-anakku kembali bermain-main di dalam mobil.  Faris bermain-main dengan setir.  Farhat mengocok-ngocok persneling, dan Fathiya tidur-tiduran di jok belakang.  Aku sendiri terduduk di ruang tamu.  Pusing dan bingung atas semua peristiwa ini.

 

 

**

 

“Satria, Wiwid, tolong jelaskan. Pasti ada kesalahan!”  sergahku langsung ketika panitia Award ini baru saja duduk di ruang tamuku.  “Tidak Pak Radit. Tak ada kesalahan.  Kami telah menghitung secara cermat.  Dibantu pula oleh dosen statistik dari FMIPA dan dosen komputer dari Fakultas Ilmu Komputer.  Semuanya akurat.  Skor Pak Radit paling tinggi. Sedikit di bawah Bapak adalah Ibu Rika diikuti Pak Jaka dan Pak Rifai.  Maka, Bapak lah pemenang pertama Oemar Bakri Award tahun ini. Ibu Rika  pemenang kedua dan Pak Jaka pemenang ketiga.  Pak Rifai sendiri menjadi pemenang favorit,”  papar Wiwid tenang.

 

“Satria, Wiwid, mohon dengarkan penjelasan saya. Saya sangat berterima kasih atas penghargaan ini. Namun saya merasa tak berhak menerimanya.  Ketiga orang tadi jauh lebih berhak daripada saya.  Disamping itu, saya-pun turut membuat instrumen penelitiannya. Saya punya banyak alasan untuk tidak menerima penghargaan ini.  Maka, dengan mengucapkan beribu maaf dan basmalah,  insya Allah penghargaan ini saya kembalikan kepada kalian,”  ujarku.  Terasa ada getaran dalam nada bicaraku.  Mataku pun sedikit berkaca-kaca.

 

“Tapi Pak,  Bapak juga pantas menerimanya.  Penelitian ini akurat.  Untuk orang dengan status sosial dan status pendidikan seperti Bapak, Bapak termasuk cukup miskin.  Maafkan saya Pak.  Tapi ini kenyataan.  Survey ini kami gelar ke lebih dari 3000 dosen di kampus ini. Dan inilah hasilnya Pak.  Mohon diterima…” tambah Satria setengah tak percaya.

 

Selanjutnya,  tak perlu aku ceritakan bagaimana aku mendebat kedua mahasiswaku itu.   Cukup panjang dan complicated.  Akhirnya mereka-pun menyerah.  “Hare gene masih ada aja orang kayak malaikat!”  bisik Satria kepada Wiwid pelan.

 

 

***

Miranti nyaris pingsan ketika mendapati Toyota Avanza hitam metallic itu lenyap dari garasi.  Dibawa kembali oleh Satria dan Wiwid.  Anak-anakku menangis dan merajuk.  Ya Allah,  kuatkan-lah hambamu yang dhoif ini.

 

“Ayah,  kenapa ayah lakukan semua ini?”  bukankah itu harta yang halal dan tak ada salahnya kita menikmati kenikmatan dunia seperti ini?”  protes Miranti setengah tak percaya.  Tampak sekali ada kesedihan dalam suaranya.  Matanya pun berkaca-kaca.  “Ayah jahat, ayah jahat !”  teriak anak-anakku sambil menangis. “Bukankah Rasul kita pernah bersabda bahwa rumah yang luas dan kendaraan yang baik adalah bagian dari kesenangan dunia yang sah-sah saja kita nikmati selama kita memperolehnya secara wajar?”  tambah Miranti.  “Iya, Ayah gimana sih,  nggak boleh kita seneng!”  sambung Faris,  memprotes.

 

Honey, terus terang aku juga berat untuk melakukannya.   Aku sadar dan paham bahwa kita sangat butuh mobil.  Aku juga paham bahwa ini harta yang halal.  Namun,  ingat sayangku, tidak semua yang halal itu thayyib.  Kita perlu harta yang halalan thayyiban.  Allah sudah memberikan kita semua kenikmatan dunia yang kita inginkan. Bahkan lebih daripada yang kita inginkan.  Kita pernah punya mobil di Amerika dan Inggris.  Kita pernah merasakan tinggal di luar negeri sembilan tahun lamanya. Kita menangguk gelar akademis kita luar negeri. Anak-anak kita berbicara minimal dua bahasa dan berkewarganegaraan ganda.  Mereka juga menempuh pendidikan dasarnya di luar negeri.  Apakah ini bukan bagian dari kekayaan dan kenikmatan?  Kitapun selama ini telah dikaruniai kesehatan, kebugaran fisik, dan kecerdasan dalam berfikir.  Kita jarang sakit ketika orang lain sakit.  Kita juga diberkahi Allah kesuburan ketika banyak pasangan belum juga diberkahi anak setelah bertahun-tahun menikah.  Apakah ini bukan kenikmatan?  Bukankah kenikmatan tidak selamanya harus berbentuk mobil?  Fabiayyi alaa i Rabbikuma tukadzibaan…maka nikmat Allah manakah yang telah kita dustakan? “  ujarku seraya mengutip penggalan surat Ar-rahman.

 

Sweetheart,  masih banyak orang yang lebih layak menerima hadiah itu daripada kita.  Ibu Rika, Pak Jaka dan Pak Rifai, jauh lebih berhak menerimanya.  Mereka sangat tawadhu dan zuhud untuk ukuran dosen yang bekerja di kampus favorit ini.  Ibu Rika dan  Pak Jaka belum memiliki ataupun belum mau memiliki mobil.  Kendati sebenarnya mereka  sangat membutuhkannya.  Tidak sempurna iman kita sebelum kita mencintai diri kita lebih daripada kita mencintai diri kita sendiri…Laa yu’minuu ahadukum hatta yuhibbu li akhihi maa yuhibba linafsih…

 

Miranti hanya bisa menangis.  Karena ia pun paham betul makna surat Ar-rahman dan hadits tersebut.  Sementara itu anak-anakku kabur entah kemana.  “Lalu bagaimana dengan hadiah umrah-nya Ayah?  Apakah Ayah tolak juga?”  Tanya Miranti tergagap.  “Sayangku,  bukankah kita sudah pernah pergi haji ketika kita di Belanda.  Bukankah kewajiban haji hanyalah sekali seumur hidup?”  tuturku tenang.  Alhamdulillah,  dengan mundurnya aku, maka Ibu Rika menjadi pemenang pertama, Pak Jaka kedua, dan Pak Rifai ketiga.  Maka, insya Allah Ibu Rika akan mendapatkan Toyota Avanza dan Pak Jaka Daihatsu Ceria.  Insya Allah juga mereka semua akan pergi umrah tahun ini.  Setahuku,  mereka bertiga belum pernah sekalipun menginjak tanah suci…

 

Miranti beranjak dari tempat duduknya.  Hendak menuju kamar tidur.  Tetap sambil menangis.  “Tunggu dulu sayang !”  ujarku setengah berteriak.  “Aku belum selesai bicara.”    “Sayangku,  aku juga manusia biasa.  Aku tidaklah sekelas ataupun belum mencapai derajat seperti Rasulullah, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.   Aku bukan hamba Allah yang tegar menolak ghanimah.  Bukan hamba Allah yang kuat untuk tidak mereguk kenikmatan dunia.  Disamping itu aku juga sadar bahwa kamu dan anak-anak kita punya hak juga.  Kalian adalah juga harta-ku…..  Sampai sini aku mendadak terdiam.

 

Miranti tersentak.  “Ayah bicara apa sih,  langsung saja to the point!”  Miranti tampak tidak sabar.

 

“Besok kita pergi ke showroom Toyota Avanza di Bogor.  Pilih sendiri warna kesukaanmu. Aku sudah memutuskan untuk mengambil kredit ringan pemilikan mobil melalui fasilitas leasing di Bank Syariat. Cicilan perbulannya akan dipotong dari gajiku di kampus dan royalti dari penerbitan buku-bukuku selama ini.  Aku lupa,  ternyata selama ini ada tambahan cukup signifikan dalam buku tabunganku hasil dari penerbitan buku-bukuku.

 

Miranti terbelalak?  Are you kidding, honey? Tanya Miranti gugup.  “No, I’m damned serious, sweetheart ! “  tukasku cepat sambil tersenyum.  Anak-anakku yang semula merajuk dan bersembunyi di balik sofa segera menghambur keluar begitu aku mengucapkan kata-kata ‘showroom Toyota.’  “Hore kita mau beli mobil  ! Hore, ayah juga manusia !!!

 

Bangkok,  28 Desember 2006

 

P.S. : Teriring salam Iedul Adha untuk keluarga besar FHUI dan keluarga besar muslim Indonesia di Bangkok.  Terima kasih atas kebersamaannya selama ini !

Read Full Post »

            

 

NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN

By : Heru Susetyo

Mai duduk termenung.  Sedih, bingung, gembira, campur jadi satu. Gadis Thailand keturunan Narathiwat -propinsi selatan Thailand yang penduduknya mayoritas muslim Melayu-  ini baru saja diwisuda sebagai Master bidang Pekerjaan Sosial  Chulalongkorn University, Bangkok.  Lulus dengan nilai terbaik. Thesis terbaik. Waktu tercepat. Dan juga lulusan termuda. Di kampus terbaik pula. Yang Mulia Maha Chakri Sirindorn, putri mahkota  kerajaan Thailand sendiri yang menyalami dan memberinya rangkaian bunga anggrek pagi tadi.  Pertanda ia sangat spesial. Diperlakukan layaknya keluarga kerajaan. Karena, memang kampus Chulalongkorn adalah milik keluarga kerajaan.

 

Usai peluk cium kiri kanan. Berfoto dalam berbagai pose dengan teman satu angkatan.  Kini ia duduk terpekur persis di pinggir kolam kampus utama Chulalongkorn. Di depannya ada lukisan Raja Thailand Bhumibol, lengkap dengan pakaian kebesarannya. Raja tertua dan terlama berkuasa di dunia ini nampak berwibawa sekaligus makin nampak tua.  Mai menatapnya dengan datar.  Ia hormat dan respek kepada sang raja.  Namun tetap tak ingin menyembahnya.  Bagaimanapun ia adalah muslim, kendati berkewarganegaraan Thailand.  Tak layak manusia menyembah sesama manusia.

 

Langit di atas kampus Chula mulai nampak memerah. Membelah Baiyoke Tower di sisi utara dan Hotel Pathumwan Princess di sisi baratnya. Burung berterbangan dengan riang dari arah Lumpini Park menuju Silom Road.  Lumpini Park adalah tempat favorit Mai di Bangkok.  Hari Ahad paginya dihabiskan disana dengan jogging sambil menikmati pemandangan itik berenang di danau Lumpini. Silom Road, sebaliknya, adalah musuh besar Mai.  Karena di jalan ini berlokasi kawasan lampu merah Patpong yang luar biasa populer ke mancanegara.

 

Semua kenangan studi di Chulalongkorn mendadak hadir dalam benak Mai.  Empat tahun untuk studi sarjana dan dua tahun untuk studi Master. Enam tahun silam ia bukan apa-apa. Tak mengenal siapapun dan tak dikenal siapapun di Bangkok.  Datang dari kampung miskin di Tak Bai, Narathiwat, propinsi paling selatan Thailand yang berbatasan langsung dengan negara bagian Kelantan Malaysia.  Kedua orangtuanya adalah petani miskin di Tak Bai. Tak pintar berbahasa Thailand pula.  Hanya dapat berbahasa Melayu logat Narathiwat.  Padahal mereka warganegara Thailand. Studi di Bangkok tak pernah masuk dalam agenda orang tuanya.  Sampai Allah SWT mengirimnya ke Bangkok karena Mai lulus terbaik dari Madrasah Aliyah se-propinsi Narathiwat sehingga beroleh beasiswa dari pemerintah Thailand untuk studi di Chulalongkorn.

 

Ya itu enam tahun silam.  Kini semua telah berubah.  Dunia seperti ada dalam genggaman Mai.  Gelar wisudawati terbaik dengan nilai tertinggi telah mengangkat dirinya tinggi.  Lebih tinggi dari Baiyoke Tower, gedung tertinggi Thailand di kawasan Pratunam yang menjulang kokoh di hadapannya.

 

Chulalongkorn menawarinya langsung menjadi asisten professor (ajarn) di Fakultas Ilmu Sosial.  Kedutaan Besar Australia di Bangkok menawarinya beasiswa Doktor ke Australian National University, Canberra dengan scheme Australian Development Scholarship for Women from Underrepresented Communities.  Kementerian  Pendidikan Thailand menawarinya posisi asisten riset.  Dan itu semua sangat istimewa, mengapa? karena ia adalah muslimah, berjilbab, dan miskin pula. Alias, minoritas yang komplit ketertindasannya di tengah mayoritas Thai. Ah ya, ada satu lagi tawaran.  Menjadi ajarn di Prince Songkla University, kampus Patani.  Di tanahnya sendiri.  Tapi untuk yang terakhir ini tak menjadi prioritas Mai.  Mengajar di kampung sendiri memang mengasyikkan. Tapi bukankah ilmu adanya di Bangkok ataupun di negeri luar?

 

Tak terasa air mata meleleh dari dua pojok mata Mai.  Ya Allah, semua berubah begitu cepat. Fabiayyi alaa`i Rabbikuma tukadzibaan...Semoga aku tak akan mengingkari nikmatMu ini ya Allah….  Mai mengucap lirih ayat favoritnya di Surah Arrahman tersebut.

 

“Sawasdee khap Nong,  Sabay dee may?[1]  sapaan ramah Chaiwat,  teman seangkatannya mengganggu lamunan Mai. Sabay dee, Pi, jawab Mai datar.  Kendati Chaiwat teman seangkatan Mai, tapi ia lebih tua dua tahun dari Mai. Maka Mai memanggilnya Pi, alias kakak. Chaiwat duduk disamping Mai. Seolah tahu gadis rapuh ini tengah mencari teman bicara. Teman berbagi gundah.

 

Apa yang bisa saya bantu, Nong? Kamu nampaknya tengah bingung.  Tak tahu hendak kemana setelah usai studi Master?”  Chaiwat membuka dialog dengan bahasa Thai yang santun.  Pemuda Thai ini memang lawan bicara yang pintar menempatkan diri.  santun.  Ia berpengetahuan luas tapi tetap tidak sombong.

 

Lebih dari itu, Mai tahu,  temannya ini menaruh hati padanya.  Terus terang Mai tertarik pula.  Siapa yang tak tertarik dengan Chaiwat. Berwajah ganteng, berotak encer, dan datang dari keluarga politikus kaya Thailand.  Tapi terlalu banyak perbedaan di antara mereka. Mai muslim, Chaiwat Buddhist.  Mai berasal dari Thailand Selatan, Chaiwat berasal dari Chiang Mai di utara Thailand.  Mai keturunan Melayu Patani. Chaiwat keturunan China generasi awal yang bermigrasi ke Chiang Mai.  Mai miskin abis, Chaiwat kaya abis.  Seperti pungguk merindukan bulan. Maka,  Mai-pun sedari awal sudah memangkas mimpi indahnya bersama Chaiwat. Tahu diri. Ia hanya menganggap Chaiwat sebagai teman biasa.

 

Pernah Chaiwat me`nembak`nya suatu waktu. Di tepi Sungai Chao Phraya.  Ketika mahasiswa se-angkatan mereka bersama menghabiskan malam tahun baru 2004 sambil menikmati fireworks (kembang api) di sekitar Sanam Luang.  Saat itu Chaiwat berjanji akan masuk Islam apabila Mai berkenan menikahinya. Ia tak keberatan dengan keislaman Mai. Dengan jilbab Mai. Dengan kemiskinan Mai.  Mai sempat melambung ke langit ketujuh ketika itu. Namun kemudian sadar.  Perbedaan di antara mereka terlalu lebar.  Koo thoot, Pi[2] jawabnya lirih.

 

”Jadi kamu mau kemana setelah lulus ini, Mai.  Aku tahu kamu banyak mendapat tawaran menggiurkan.  Lebih menggiurkan daripada aku.  Chulalongkorn tidak menawariku jadi ajarn[3] disini.  Kementerian pendidikan juga tidak.  Aku tidak lebih beruntung dari kamu.  Lalu kenapa kamu bersedih diri?”  Tanya Chaiwat.

 

“Entahlah, Pi.  Aku juga bingung. Begitu banyak nikmat Allah yang kuterima dalam waktu yang tak terlalu lama.  Aku ingin jadi ajarn di Chula, ingin kerja untuk pemerintah, ingin studi di Australia.  Tapi aku juga ingin kembali ke Narathiwat.  Orangtuaku dan masyarakatku adalah petani miskin Thailand Selatan.“  Aku ingin membangun Narathiwat dengan bekal ilmu yang aku miliku.  Untuk Pi Chaiwat ketahui,  belum pernah ada perempuan Narathiwat yang seberuntung aku dalam sejarahnya selama ini.  Kuliah hingga Master di Chula dengan biaya pemerintah.  Teman-teman seusiaku kebanyakan sudah punya anak tiga.  Tidak tamat sekolah menengah.  Dan melulu hidup gelisah dalam ketakutan karena ancaman teroris lokal yang tak henti mengganggu kehidupan kami.“

 

Mai berkata jujur.  Ia seperti fenomena baru bagi wanita muslim di selatan Thailand. Seperti namanya.  Mai dalam bahasa Thailand berarti `baru`. Mai sendiri hanya nama panggilannya.  Karena hampir semua orang Thailand punya nama panggilan (nickname).  Nama Thai-nya adalah Chaleeda Bangluansanti.  Nama muslimnya adalah Nuraini.  Hampir semua muslim Thailand Selatan punya dua nama. Nama Thai maupun nama muslim.

 

”Luar biasa kamu Mai. Sangat idealis. Kalau aku jadi kamu, aku akan ambil Australia.  Ini peluang besar Mai. Kamu belum pernah ke luar negeri kan? Apalagi kamu dapat beasiswa pula. Kamu bisa pulang ke Narathiwat setelah jadi Doktor nanti.  Dan, untuk kamu ketahui,  alhamdulillah aku-pun dapat beasiswa Doktor dari scheme Australian Development Scholarship.  Tidak di Australian National University, tapi di University of New South Wales, Sydney.  Jadi aku bisa menyambangimu setiap akhir pekan ke Canberra.  Tak jauh kan jarak dari Sydney ke Canberra,” tutur Chaiwat.

 

Mai dua kali bergidik mendengarnya.  Pertama ketika Chaiwat mengucapkan lafadz alhamdulillah.  Darimana pria Thai Buddhist ini belajar kata alhamdulillah dengan pengucapan yang sempurna pula?  Kedua, ketika ia mengatakan…aku bisa menyambangimu setiap akhir pekan ke Canberra.  Terus terang Mai senang bercampur takut.  Berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram. Di luar negeri pula.

 

Khap khun ma kha[4] atas masukannya Pi.  Aku pikir-pikir dulu ya.  Sudah maghrib, aku shalat dulu ya di Muslim Study Club,

 

”Silakan Nong,  dan tolong pikirkan kembali ucapanku tadi.  Dan untuk kamu ketahui, aku masih belum mencabut janji-janjiku seperti yang aku ucapkan di tepi Chao Phraya malam tahun baru 2004 lalu,” jawab Chaiwat tenang.  Dan, untuk ketiga kalinya dalam dua menit Mai bergidik.

##

 

 

Muslim Study Club Chulalongkorn nampak sepi.  Tak heran ini kan hari libur. Hari wisuda. Mana ada mahasiswa muslim datang ke kampus. Tapi hari biasapun juga memang sepi.  Disamping karena hong lamat[5]  ini letaknya di lantai empat Student Club builiding, juga karena tak banyak mahasiswa muslim studi di Chula.  Tapi alhamdulillah ada satu sosok muslimah tengah membaca Al Qur`an. Sosok yang sangat akrab di matanya.  Maulida rupanya.  Gadis Indonesia asal Aceh yang sama sepertinya baru saja diwisuda hari ini.  Maulida adalah perawat  asli Aceh yang bertugas di kampungnya, di Meulaboh.  Ia studi Master bidang Public Health di Chulalongkorn atas beasiswa ASEAN.  Teman diskusi yang menarik. Bersama mereka sering ke pasar Chatuchak ketika weekend, ke Soi 7 Petchburi Road untuk berburu makanan halal, berburu buku di Kinokuniya Siam Paragon, dan mengaji bersama di Islamic Center Ramkhamhaeng.  Kendati Maulida tetap belum bisa berbahasa Thai, namun ia rajin mengikuti pengajian muslimah Thai.  Mai-lah penerjemah setianya.

 

“Assalamualaikum Ukhti, apa kabar?”  Maulida menyapa terlebih dahulu dalam bahasa Inggris. Dan cuma Maulida seorang yang menyapanya dengan panggilan `ukhti` di Thailand.  Teman muslim lainnya menyapa dengan panggilan Pi atau Nong. ”Kabar baik Kak Ida”  Mai menjawab dalam bahasa Indonesia yang patah-patah.  Hanya itu kalimat Indonesia yang dikuasainya. Kendati ia dapat berbahasa Melayu Patani dengan lancar.

 

”Selamat atas keberhasilan Ukhti.  Allah SWT telah mengangkat Ukhti ke posisi yang luar biasa.  Lalu mau kemana setelah ini ukhti? Aku mendengar ukhti banyak sekali mendapat tawaran menarik?” tanya Maulida ramah.

 

”Alhamdulillah Kak Ida.  Kayak di negeri dongeng.  Semua berubah begitu cepat. Aku sendiri malah bingung sekarang mau kemana.  Pulang ke Narathiwat, jadi ajarn di Chulalongkorn, jadi ajarn di Patani, atau kerja di Bangkok di kementerian Pendidikan.  Ataupun studi Doktor di Australia.  Tapi kayaknya aku condong dengan yang terakhir ini, tutur Mai.”  “Kak Ida sendiri mau kemana?  Kok hari ini tak ada orangtua yang ikut menghadiri wisuda?”  tanya Mai polos.  Maulida tertawa geli dan berkata, “ ha ha ha, Ukhti Mai bercanda ya.  Mana mampu aku mendatangkan orangtuaku ke Bangkok. Mereka belum pernah keluar negeri. Tidak bisa berbahasa Inggris. Tak punya passport. Dan alasan yang paling utama adalah,  kami adalah keluarga nelayan miskin dari Meulaboh. Jangankan ke Bangkok,  ketika aku tamat studi sarjana di Syiah Kuala saja orangtuaku tak sanggup datang ke Banda Aceh karena tak punya uang.

 

“Maaf Kak Ida, aku tak bermaksud merendahkanmu. Kita senasib. Aku juga tak sanggup mendatangkan orangtuaku ke Bangkok.  Padahal mereka tinggal di Thailand. Orangtuaku tak pernah pergi ke Bangkok seumur hidupnya.  Mereka juga tak dapat berbahasa Thailand.”

 

Mai pen rai[6] ukhti.  Semoga do`a orangtua kita dan keikhlasan mereka diganjar Allah SWT dengan balasan yang berlimpah.  Mereka membanting tulang dan berbasuh keringat supaya kita dapat sekolah.  Dan kini kita di Bangkok dengan segala kemuliaan kita, sementara mereka tetap tinggal di kampung dengan segala kesahajaannya. Allahumaghfirlana waliwalidayna warhamhuma kamaa Rabbayana Shaghirra… ”jawab Maulida sambil terisak-isak.  Tangis yang menular, karena sepuluh detik kemudian, Mai pun menangis.  Teringat ayah Ibu di Tak Bai yang tak turut menikmati kegembiraannya di hari wisuda ini. Isakan tangis kedua muslimah berbeda kewarganegaraan ini memecahkan keheningan lantai empat Student Club Chulalongkorn.

 

Lima menit keduanya berkubang dalam tangis masing-masing.  Hingga Mai berkata lirih. ”Kak Ida sendiri akan kemana setelah wisuda ini?” tanya Mai.  “Itulah yang aku bingung Ukhti Mai. Aku baru saja membaca email sore tadi setelah wisuda.  Alhamdulillah aku mendapat beasiswa untuk studi Doktor bidang Public Health di Nagoya, Jepang.  Aku mesti berangkat bulan depan.  Pada saat yang sama aku juga ingin pulang ke Meulaboh.  Sudah tiga tahun aku meninggalkan kedua orangtuaku. Mereka sudah tua dan aku adalah anak tertua.  Adikku ada empat orang.  Aku juga masih bekerja di Rumah Sakit setempat sebagai kepala perawat. Kami punya begitu banyak pasien miskin, yang semakin miskin karena konflik tak henti mendera Aceh,“ tutur Maulida panjang.

 

“Bila aku ke Jepang,  berarti akan empat tahun tinggal lagi di negeri orang. Tak tega aku menatap wajah adik-adikku yang masih di sekolah dasar.  Aku harus pulang.  Memang berat. Tapi aku tak punya pilihan.  Mungkin suatu waktu, insya Allah bila adik-adikku sudah mandiri, aku akan kembali mengejar gelar Doktor-ku.  Dimanapun. Tak mesti di Jepang,“ tambah Maulida.

 

Gubrakk! Mai seperti tertampar mendengarkan jawaban Maulida. Ia dan Maulida sebenarnya dalam perahu yang sama.  Pepatah Inggris menyebutkan we are in the same boat. Sama-sama miskin. Sama-sama dibesarkan di daerah konflik. Sama-sama mendapatkan beasiswa karena keenceran otak mereka. Sama-sama punya tanggungan adik-adik yang masih kecil.  Bedanya, Maulida berfikir lebih jernih.  Tak silau karena keinginan studi ke luar negeri. Sedangkan aku? Tanya Mai pada dirinya sendiri. Sangat ingin ke Australia. Karena tak pernah ke luar negeri. Lalu akan terbenam minimal empat tahun lamanya disana. Bagaimana orangtua dan adik-adikku nanti kalau aku tetap ke Australia?

 

##

Mai akhirnya memutuskan pulang ke Narathiwat.  Tawaran studi ke Australia ditundanya. Tak ditolaknya.  Karena ia berharap suatu waktu, entah kapan, bisa ke Australia. Minimal ketika adik tertuanya sudah mandiri. Sehingga dapat membantu keuangan keluarga.  Kasihan ayah ibu yang semakin tua. Ia memilih menjadi ajarn di Prince of Songkla University kampus Patani. Kampus ini berjarak dua jam perjalanan dari Narathiwat dan tiga jam perjalanan dari kampungnya di Tak Bai.  Baik Patani maupun Narathiwat adalah provinsi Thailand yang penduduknya mayoritas muslim. Maka, Mai tak menemukan kesulitan hidup di Patani .  Tidak seperti di Bangkok. Sukar menemukan makanan halal. Sukar menemukan tempat shalat. Dan anjing berkeliaran dimana-mana.

 

Hidup terasa begitu indah di Patani dan Narathiwat.  Kendati ancaman konflik tak henti mendera Patani, Yala dan Narathiwat. Salah satu yang terbesar adalah penyerbuan masjid Krue Se di Pattani pada 28 April 2004. Tiga puluh satu aktivis muslim tewas diterjang peluru tentara yang menerjang masuk ke dalam masjid. Selama beberapa bulan kehidupan di sekitar Patani begitu mencekam.  Tentara berpatroli dua puluh empat jam setiap hari dengan jeep Humvee dan motor trail. Menyandang senapan otomatis M-16 dan perlengkapan tempur.  Setiap satu kilometer ada military checkpoint dimana kendaraan yang melintas harus berjalan zig zag dan pengemudi wajib menunjukkan identitasnya.  Penduduk luar Patani enggan masuk Patani. Mahasiswa Thai non muslim menghentikan studinya dan pulang ke daerah asal di utara Thailand. Penduduk lokal Patani sebagian mengungsi ke Malaysia atau ke bagian utara Thailand.  Kehidupan terasa begitu mencekam.

 

Begitupun Mai tak ingin meninggalkan Patani.  Hatinya sudah berlabuh disini. Sejujurnya ia takut, namun iapun tak tega meninggalkan mahasiswa dan masyarakat sekitar.  Keahliannya sebagai pekerja sosial sangat berharga di Patani.  Bersama masyarakat dan mahasiswa ia mendirikan posko kesehatan dan ketahanan keluarga.  Menyalurkan bantuan makanan dan pelayanan kesehatan kepada penduduk yang terisolasi di daerah konflik.

 

Hampir setiap hari ia bertukar SMS dengan Maulida yang telah kembali bertugas di Meulaboh. Sekedar mengucapkan Sabay Dee May[7]. Maulida benar-benar tak ingin studi Doktor di Jepang. Cinta Maulida pada tanah Aceh membuat Mai malu pada dirinya sendiri.  Maka iapun kembali menata cintanya untuk tanah Patani Darussalam yang terdiri atas empat propinsi, Patani, Yala, Narathiwat, dan Songkla.  Semuanya berjalan indah. Sampai suatu waktu ayah ibunya menemuinya di kampus Prince Songkla University.  Inilah kali pertama orangtuanya menemuinya di kampus. Pasti ada yang istimewa.

 

”Mai, kami harap kamu mempertimbangkan betul lamaran dari keluarga Abdul Syukur, kerabat jauh kita di negeri Kelantan Malaysia.  Putra tertua mereka, Haznan, baru saja kembali dari studi Master di Al Azhar, Kairo. Kini ia menjadi pengajar di Kelantan. Tengah mencari istri.  Dan sepertinya ia tertarik dengan kamu,”  ayahnya berkata pelan.  Khawatir menyinggung hati Mai.

 

”Iya sayangku, kamu sudah berusia dua puluh lima tahun, sudah cukup layak untuk menikah. Kamu juga sudah bekerja. Apalagi yang kamu tunggu? Ayah Ibu sudah ingin punya cucu. Memang kita keluarga miskin.  Tapi tak salah juga kan kalau kita menambah anggota keluarga besar kita?  Apalagi keluarga Abdul Syukur termasuk keluarga berada di Kelantan?”  Ibunya menambahkan.

 

Gubrakkk!!!. Mai terhenyak.  Menjadi istri dan ibu memang sudah masuk dalam agenda hidupnya.  Tapi tidak sekarang.  Juga tidak dengan orang yang tidak dikenalnya.  Tapi iapun enggan mengecewakan ayah ibunya yang tiga jam menempuh perjalanan darat dari Tak Bai untuk menyampaikan kabar ini.  Maka Mai hanya mengatakan,” Saya pertimbangkan Babo[8] dan Ummi. Sejujurnya Mai belum siap menikah sekarang.  Mai masih ingin bekerja buat saudara-saudara kita disini.”

 

”Tapi Mai sayang, kamu tetap dapat bekerja disini walaupun kamu menikah. Tak ada yang berubah kan? Malah hidupmu akan lebih semarak dengan kehadiran suami dan mungkin anak-anakmu nanti.” sanggah Ibunya.  ”Betul Bu, tapi…”  Mai tak kuasa menahan tangisnya. Alih-alih putra keluarga Abdul Syukur,  bayangan Chaiwat dan segenap janjinya untuk  menjadi mualaf malah berkelebat dalam benaknya.  Malam hari sebelum tidur,  Mai mengirim SMS kepada Maulida. Menanyakan pendapatnya tentang perjodohan tersebut.  Pagi harinya Maulida membalas dengan menyitir penggalan surat Arrahman,…Fabiayyi allaa` i rabbikumma tukadzibaan....  Terus terang,  Mai tak mengerti apa maksudnya.

##

 

 

24 Oktober 2004

Seminggu sebelum hari peminangan tiba.  Mai memutuskan untuk meninggalkan Patani.  Ia tak berani menolak perjodohan tersebut dengan lisannya.  Juga tak sanggup mengiyakan. Ia teringat dengan teman-teman sebayanya yang kini tetap tinggal di rumah, berpendidikan rendah, sibuk dengan urusan dapur dan mengurusi suami. Beberapa suami teman-temannya kemudian menikah lagi, berpoligami, dan menyisakan sebagian kecil saja nafkah bagi keluarga.  Mai trauma. Bayangan menjadi Doktor bidang Social Development di Canberra kemudian menjadi Professor di Prince of Songkla University, terlihat lebih indah dalam benaknya. Tapi iapun tak berani menolak orangtuanya.  Maka ia memilih menulis surat kepada orangtuanya.  Dititipkan via Halimah, mahasiswinya yang berasal dari Tak Bai.  Isinya,  ia tak menolak perjodohan tersebut, namun menundanya sampai ia pulang dari Australia.  Namun iapun tak memaksakan.  Silakan saja apabila keluarga pihak pria ingin mencari yang lain.  Dalam benak Mai,  alasan untuk sekolah Doktor adalah alasan yang paling halus dan masuk akal untuk menggagalkan perjodohan ini.

 

 

25 Oktober 2004.

Mai sudah berada di Bandara Don Muang Bangkok.  Tiket pesawat Thai Airways jurusan Sydney sudah digenggamnya.  Bersamanya ada Chaiwat dan delapan orang calon mahasiswa program Doktor lain di Australia. Sebenarnya studi di Canberra baru akan dimulai pada Februari 2005, namun pihak sponsor meminta waktu untuk orientasi kultural dan memperdalam bahasa Inggris-Australia selama tiga bulan sebelum studi dimulai.

 

Pada saat boarding.  Telepon selular Mai berdering.  Dari Tak Bai.  Mai tak kenal dengan nomor tersebut. Ia enggan mengangkatnya.  Khawatir yang menelpon adalah keluarganya. Tapi, ayah dan ibuku tak pernah menelponku langsung.  Mereka tak punya handphone juga di rumah tak memiliki telpon rumah. Lagipula mereka tak tahu pula nomor ponselku.  Barangkali dari adikku. Maka dengan setengah ragu ia menekan tombol `yes`.  ”Assalamualaikum kha, Pi Mai? Sawasdee kha!” suara Halimah ternyata.  ”Waalaikumussalam kha, ada apa, Nong Halimah?”

 

“Pi Mai masih di Bangkok, kan? Belum akan terbang?”  gadis muda ini bertanya cepat. Ada nada kepanikan dalam kalimatnya.  “Aku sudah di Don Muang Nong, sebentar lagi boarding dengan Kham bin Thai[9] ke Sydney via Singapura.  Ada apa?” Mai berusaha tenang, walaupun terus terang iapun panik.

 

 

”Emergency Pi Mai, pagi tadi ratusan warga Tak Bai berdemonstrasi di muka kantor polisi Tak Bai. Menentang penahanan enam warga yang beberapa hari silam diduga memasok senjata kepada kaum pejuang. Polisi tak dapat menahan laju massa yang begitu banyak. Akhirnya mengobral tembakan.  Tujuh warga tewas di tempat dan lainnya diangkut dan dilempar paksa ke dalam truk polisi.  Menurut informasi, akan dibawa ke penjara di daerah Patani,”  Halimah bicara terengah-engah melalui handphone-nya..  Terdengar nada bising dan suara orang-orang berteriak di sekitarnya.

 

Innalillahi wa ina ilahi raajiuun. Ya Allah, mengapa semua ini terjadi,” teriak Mai dalam bahasa Melayu Patani.  Membuat Chaiwat dan delapan teman penerima beasiswa lainnya terkejut.  ”Dan, yang lebih gawat lagi Pi Mai, Halimah meneruskan. ”Ayah Pi Mai dan Zakariya, adik laki-laki Pi Mai termasuk yang ditangkap dan dibawa ke penjara di Patani,” tutur Halimah hati-hati.  ”Termasuk,  adik laki-lakiku ku juga, menghilang sejak tadi pagi. Ia ikut berkerumun di muka kantor polisi Tak Bai,”  kali ini Halimah tak kuasa menahan tangisnya.

 

”Astaghafirullah!” Mai menjerit. ”Cobaan apa lagi ini…” lanjut Mai.  ”Ada apa Nong Mai, kamu bicara dalam bahasa apa?”  tanya Chaiwat keheranan.  ”Pi Chaiwat, ada insiden di kampungku, Tak Bai Narathiwat pagi ini. Ayah dan adikku ditahan polisi karena ikut berdemonstrasi.” ”Sepertinya aku harus meng-cancel pesawatku ke Sydney, dan segera ke Hat Yai, ” Mai menjawab cepat.  ”Are you insane, Nong Mai, I`m sorry to say[10]. Kamu sudah check in, bagasimu sudah di pesawat dan sebentar lagi kita naik pesawat. Dan juga, insiden dan konflik di Selatan kan sudah biasa terjadi setiap saat, ” sergah Chaiwat.  ”No way Pi Chaiwat, kali ini berbeda, karena kini korbannya adalah ayah dan adikku. Pi Chaiwat, tolong jaga bagasiku sampai di Sydney, ini aku berikan baggage tag-nya berikut boarding pass-ku. Tolong sampaikan pada pramugari Kham Bin Thai kalau aku batal terbang.

 

”Kamu gila Mai, to be honest. Aku prihatin betul dengan musibah yang menimpa keluargamu, tapi kamupun tak harus membatalkan kepergianmu ke Sydney. You are running your own life. Bagaimana kontrakmu dengan AusAid nanti?” kali ini Chaiwat kehilangan kesabarannya. ”Tidak Chaiwat,” kali ini Mai tidak memanggil Chaiwat dengan `Pi` lagi. ”Aku bertanggungjawab dengan AusAid. Akan aku kontak mereka dari Narathiwat. Ini emergency. Aku akan jadi anak durhaka kalau tetap ke Sydney dalam situasi seperti ini.”  ”Durhaka, apa artinya? Bahasa apa itu,” tanya Chaiwat keheranan.  ”Maaf aku susah menjelaskannya,  aku harus pergi sekarang. Sawasdee kha!”  teriak Mai.   Meninggalkan Chaiwat dan delapan temannya dalam kubangan keheranan.

 

Segera Mai berlari dari terminal internasional ke terminal domestik.  Ia berlari menuju sales counter Thai Airways untuk mencari go show ticket, ticket yang dibeli langsung pada hari penerbangan. Tiket habis. Ia berlari lagi ke sales counter Thai Air Asia. Tiket habis juga.  Mai makin bingung dan panik.  Akhirnya ia ke sales counter Nok Air.  Tiket habis juga. Tapi Mai ngotot dan minta diberangkatkan sekarang. Ia siap duduk di kursi manapun dan siap membayar berapapun.  Pihak Nok Air mengalah. Diberikannya ia kursi jump seat, kursi darurat persis di belakang pilot dan copilot. Dengan harga dua kali lipat.  Di dalam pesawat, Mai senantiasa bergumam,  Fabiaayi alaa`i Rabbikumma tukadzibaan….ayat favorit Maulida.  Ketakutannya terhadap nasib ayah dan adiknya mengalahkan ketakutan terhadap perjodohannya di Tak Bai.

###

 

 

Setibanya di Hat Yai,  Mai memerlukan delapan jam lagi untuk mencapai Tak Bai. Itupun dengan susah payah.  Ia berganti mobil sebanyak empat kali.  Karena tak semua mau masuk ke daerah konflik. Hampir setiap tiga kilometer ada military checkpoint dimana mobil harus berjalan zigzag kemudian berhenti.  Tentara yang bertugas akan menanyakan identitas sopir dan penumpangnya. Cukup seram, karena senapan M-16 mereka dalam posisi terkokang dan ia menggunakan bullet-proof vest. Rompi anti peluru. Di belakang sang tentara puluhan temannya bersiaga di dalam Jeep humvee armoured vehicle dan panzer. Maka, perjalanan ke Tak Bai yang biasanya dapat ditempuh dalam empat jam menjadi delapan jam.

 

Tak Bai mirip kota mati. Puing-puing berserakan. Asap membubung di sana sini. Patroli tentara dengan jeep humvee dan motor trail berseliweran.  Penduduk masuk ke dalam rumah dan mengintip dari sela-sela jendela.  Anak-anak menangis karena tak diperkenankan keluar rumah.  Jam malam diberlakukan. Tak boleh orang berkumpul dan berseliweran di atas jam enam sore.  Susah payah ia mencapai rumahnya.  Listrik mati. Hanya dua lilin menyala. Di pojok rumah, nampak Ibu dan adik-adiknya tengah menangis.

 

 

Tak Bai, 27 Oktober 2004

Kabar terakhir dari penjara Patani.  Tujuhpuluh delapan warga Tak Bai tewas.  Bukan karena ditembak. Namun hampir semua karena kehabisan napas. Ditumpuk  dan dilempar ke dalam truk begitu saja dalam enam lapis. Dengan tangan terikat ke belakang pula. Tiga jam perjalanan ke Patani cukup untuk membuat mereka kehabisan napas. Sungguh tak berperikemanusiaan.   Penduduk Tak Bai murka. Termasuk Mai. Ayah dan adik Mai tidak termasuk mereka yang tewas.  Namun Mai tetap marah.  Ia tak suka dengan kesewenang-wenangan ini.  Bersama warga Tak Bai, ia mendirikan posko relawan untuk membantu mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Dapur umum, pengumpulan sandang dan pangan, hingga posko informasi orang hilang berada dalam kendalinya.  Malam harinya Mai mengirim SMS kepada Maulida di Aceh.  Lima menit kemudian Maulida membalas dalam tiga kali pengiriman. Pertama ia menyatakan keprihatinan mendalam. Kedua, mendo`akan keselamatan keluarga Mai. Ketiga, menuliskan sepenggal kalimat favoritnya, “Nikmat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan…”

 

 

26 Desember 2004

Alhamdulillah ayah dan adik Mai sudah kembali ke rumah.  Kendati dalam kondisi berantakan. Bekas pukulan, siksaan, dan jeratan terlihat di dada, tangan, dan punggung. Baju mereka lusuh bercampur darah. Lama tak diganti. Seisi keluarga menjerit dan menangis. Bercampur antara sedih, senang, sekaligus marah.  Siang harinya Mai kembali mengirim SMS kepada Maulida.  Tak ada jawaban. Sampai malam hari. Ini bukan kebiasaan Maulida. Ia selalu cepat membalas SMS. Kalaupun tak punya pulsa kadang ia meminjam handphone kerabatnya. Tapi ini tak biasa. Mengapa? Jawabannya tiba di malam hari.  Melalui berita TV3 Malaysia yang ditangkap jelas oleh antena parabola warga Tak Bai, pagi tadi pukul 08.15 waktu Aceh telah  terjadi gempa bumi yang disusul oleh tsunami dahsyat yang menerjang pantai Barat dan Utara Aceh dan Sumatera Utara. Selanjutnya tsunami menghantam pantai barat Thailand di sisi Lautan Andaman yaitu Phang Nga, Krabi dan Phuket di tepi lautan Andaman, Thailand barat daya. Mai terhenyak. Ia tahu persis bahwa Maulida tinggal dan bekerja di Meulaboh. Kota kecil di pantai barat Aceh.

 

 

1 Januari 2005

Mai berdiri mematung di rumah sakit Meulaboh yang telah rata dengan tanah. Sudah tiga hari ia berada di Meulaboh. Melacak jejak keberadaan Maulida.  Tak dinyana pengalaman pertamanya ke luar negeri adalah ke Indonesia. Selain Malaysia tentunya. Yang tak dianggap luar negeri karena negeri Kelantan, Malaysia, berbagi batas dengan kampungnya di Tak Bai.  Mestinya negeri pertama yang diinjaknya setelah Thailand dan Malaysia adalah Australia. Dan mestinya saat ini ia tengah bertahun baru di Canberra. Mungkin juga di Sydney. Bermalam tahun baru di Darling Harbour sambil menatap fireworks[11] dari gedung opera Sydney yang terkenal. Barangkali juga bersama Chaiwat yang memang sudah berada di Sydney.

 

Susah payah Mai mencapai Meulaboh.  Jalan darat Banda Aceh – Meulaboh putus,. Maka ia merangsek masuk Meulaboh dari Sumatera Utara.  Beruntung ia bertemu dengan rombongan Bulan Sabit Merah Malaysia yang juga hendak masuk ke Meulaboh. Selama tiga hari itu ia selalu mengirim SMS ke Maulida. Namun gempa dan tsunami memutuskan jaringan telepon selular di sekitar Aceh.

 

Dengan bahasa Melayu seadanya Mai melacak jejak Maulida. Maulida lenyap dari muka bumi.  Sampai hari ini, di muka rumah sakit yang rata dengan tanah. Ia mendapati posko kesehatan darurat yang sekaligus menyajikan daftar orang hilang di sekitar Meulaboh.  Diantara nama orang hilang tercantum nama yang amat diakrabinya …Maulida binti Hasyim, SKP. MA..

 

 

13 Januari 2005

Sudah enam belas hari Mai di Meulaboh. Maulida tetap belum ditemukan. Baik hidup ataupun mati. Di antara hari-hari itu Mai membantu rumah sakit darurat sebagai relawan. Beruntung ia dapat berbahasa Melayu Patani hingga sedikit banyak dapat berinteraksi dengan para korban. Kepada para korban ia selalu bertanya tentang Maulida. Namun tak ada yang tahu keberadaan perawat shalihah ini. Sampai suatu waktu seorang anak kecil  menemukan telepon seluler yang diyakini Mai sebagai milik Maulida. Karena dalam ponsel itu ada nama Maulida tertulis dalam huruf Thai. Dan hanya Mai yang dapat membaca huruf Thai disitu.  Perlu seharian lebih untuk mereparasi dan mengaktifkan ponsel yang lama terendam air itu. Setelah ponsel berada pada posisi ON, Mai melacak feature INBOX, tak ada pesan baru. Pada feature SENT,  juga tak ada pesan terkirim.  Barulah pada feature DRAFTS Mai menemukan kalimat yang belum sempat terkirim. Bunyinya “Ukhti Mai, aku terbawa ombak, kini tersangkut di pohon, aku sudah tak kuat, do`akan kami dan tetaplah berjuang untuk Narathiwat, Maka Nikmat Tuhan Manakah……  Kalimat tersebut terputus. Dan Mai meneruskannya dalam hati…yang kamu dustakan

 

Maulida tak pergi ke Nagoya. Juga tak lagi tinggal di Meulaboh. Allah SWT lebih mencintainya. Dan Mai percaya Allah SWT akan memberi Maulida tempat tinggal baru yang jauh lebih baik. Jauh lebih baik dari Meulaboh dan Nagoya..

 

Esoknya Mai kembali ke Narathiwat. Meneruskan semangat Maulida membangun Aceh. Tidak di Bangkok. Tidak di Canberra. Di Narathiwat.

 

 

Salaya – Putthamonthon, Nakhon Pathom

18 Desember 2007

 

 

 

 

P.S. : Terima kasih untuk Ajarn Alisa dari Patani yang telah memberikan inspirasi cerita ini. Semoga kecintaanmu pada tanah Patani dan tanah Aceh adalah kontribusimu untuk kemenangan di Yaumil Akhir kelak.

 

 

 


Terjemahan  :

 

[1]Halo Dik, apa kabar?

[2] Maaf, Kak

[3] Dosen/ Professor

[4] Terima kasih banyak

[5] Tempat shalat

[6] Tidak apa-apa

[7] Apa kabar

[8] Bapak

[9] Thai Airways, dalam bahasa Thai.

[10] Apakah kamu gila, maaf saya mengatakannya

[11] Kembang api

Read Full Post »

Last Train to O’hare

LAST TRAIN TO O’HARE

 

by : Heru Susetyo

 

Arya always love boarding the train to O’Hare Airport from downtown Chicago.  The trip is only forty five minutes by CTA[1] blue line train where he can board anywhere along the blue line either in the loop[2] right in downtown Chicago or near downtown.

 

The second thing he loves much is O’Hare Airport. A vast airport named after O’Hare, a legend hero of US Air Force who had survived along the dog fight[3] during the Pacific War in World War II and contributed immensely to US and alliance’s victory.

 

O’Hare, instead the biggest airport in Chicago, not to mention in the US, is also the busiest airport in the world, with almost 80 million passenger landing and taking off its runways each year.  It has twelve runways that mean twelve big planes may land or take off concurrently without being ran down each other.

 

However, irrespective O’Hare’s magnificent features, Arya loves this place much because the place left a bunch of memories.  He firstly met Dessy, an attractive Indonesian girl, right in Terminal 2 when Arya mistakenly called Dessy, eight years ago.  Arya judged Dessy as Dini, his old buddy who live in Dallas, Texas and want to spend her spring break in Chicago.  However, this Dini was sharply different.  She had just landed directly from Surabaya to start her new life as an incoming student at Undergraduate program University of Illinois at Chicago.  A couple of minutes of chitchatting had lapsed until Arya realized that Dessy was not his old buddy.  However, since they found that no more Indonesian guys appear in O’Hare, they soon got in touch.

 

“I beg you pardon, Miss, are you from Indonesia?”   Arya asked carefully.  “I am.  Do I happen to know you before?”  Dessy calmly replied.  “I guess so. You’re Dini, right?”  You spent your high school with me in Arlington Heights, Dallas. We were the only Indonesian students at that nice school.” “Oh gitu ya?  kalau gitu kamu orang Indonesia dong.  Kenapa kita gak ngomong Indonesia aja ?”.  “I got a problem Miss…  . “Panggil aku Dessy, Mas,” Dessy replied abruptly.

 

“I have spent almost twenty years in the US since I was born.  I met American guys everyday.  Not a single Indonesian I met within the first three years in Texas except Dini, whose face pretty similar with you.  I have missed her for ten years until suddenly she appears right in front of me now,” Arya said calmly.  “Enak aja Mas,  aku bukan Dini lagi.  Aku Dessy. D-E-S-S-Y.  Ingat ya, dan jangan ngomong Inggris di depan aku!” Dessy interrupted fiercely.   “I’m so sorry Miss Dini eh Dessy, but I indeed can’t speak Indonesian properly.  I completely understand Bahasa Indonesia but I just can’t speak properly that make me doubt to express my Indonesian.  “Terserah elo deh Mas,  yang penting sekarang tolong temani aku keluar dari airport ini, dan tolong jangan panggil aku Miss Dessy,  tapi Dessy saja,” again, Dessy replied fiercely.  Subsequently, they walked across terminal 2 and headed downstairs to CTA blue train. They took the first train to downtown and spend forty five minutes of chitchatting.  Dessy spoke Indonesian, Arya spoke English.

 

Eight years later. Arya is smiling to himself. He is recalling his first encounter with Dessy.  It was eight years ago.  At present, Dessy has earned her bachelor degree in accounting and master degree in Computer Science. Arya holds double master degree in law and criminology from University of Chicago and a PhD, also in criminology, from University of Wisconsin at Madison. Arya was admitted to American bar[4] three years ago, that enabled him to practice law either in a law firm or in any US government bodies.  American bar usually declines a prospective candidate who is not American.  Fortunately, Arya was born in New York twenty nine years ago. His only touch with Indonesia is when he spent his six years elementary school in Semarang, Central Java. After graduation, he returned to US until now  His middle and high school was in Dallas, Texas.  His undergraduate study  was in Ann Arbor, Michigan.  His master degree was in Chicago, Illinois, and his Doctoral degree in Madison, Wisconsin. Therefore, he is unquestionably an American yuppie[5] but with brown skin.

 

Isn’t he?   He does not think so.  Frankly speaking, Arya is an American yuppie with Indonesian’s heart and soul.  He has spent more than half of his lifetime in America.  However, he still pays much concern to Indonesia.  He cries occasionally when he heard the disasters, riots, or political unrest occurred respectively in Indonesia. He reads Indonesian online newspapers almost everyday. He is eager to return to Indonesia but he just doesn’t know the right and appropriate job for him in Indonesia.

 

And Dessy is his ‘bridge’ to Indonesia.  Although they live separately and having a little bit   different attitudes, they do have something in common.  That they are Indonesian and love Indonesia very much.  Dessy and Arya hang around Chicago either by bus or CTA train frequently.  Among the journey they like most is CTA blue line train to O’Hare from Downtown Chicago.  They greatly admires the scenery of Chicago’s skyscrapers from blue line train, with The  Sears Tower, the second highest building in the world, and John Hancock Building stretching along the side of Lake Michigan in the distance.  “I love this blue train,” Arya talked to himself.  “Sorry Mas, kamu ngomong sama siapa?”  Dessy interrupted abruptly.  “I talked to myself, I always love this blue train,” Arya said calmly.  “Suka sama blue train atau suka sama aku,” Dessy teased him.  “I don’t know, no further comment,” Arya replied, and his face turns into red immediately.  Honestly, Arya always treats Dessy as a mate.  Not a special one. Therefore, he was not ready for the answers.

 

One thick letter with the words “Indonesian General Consulate in Chicago’ at its letterhead arrived to Arya’s apartment the next day, and it changed his life overwhelmingly.  The consulate had forwarded an official letter from Indonesian’s House of Representatives (DPR) who had nominated Arya as a candidate for vice chairman position at Indonesian Anti Corruption Commission. “Me?  Vice chairman Candidate?  How come?  I can’t speak Indonesian properly and I don’t even know Indonesian criminal justice system. Why me?”  Arya just couldn’t believe his eyes.

 

The answer of his question arrived the next day.  Indonesian ambassador in WashingtonDC cordially invited him to an informal meeting in the embassy.  So, Arya took the earliest American Airlines flight to DC, landed at NationalReaganAirport and preceded to Massachusetts Avenue.  The ambassador warmly welcome him and talk straightly:  “Pak Arya, I have the honor on behalf of Indonesian government to convey you  the message from House of Representatives that they had unanimously nominated you to be the vice chairman of Indonesian Anti Corruption Commission.  It was a final decision. They need only one last approval, from the President.  You may doubt with this nomination, but Indonesian government has been observing and envisaging you for quite a long time until they ended it up with DPR approval to nominate you.”

 

“Mr. Ambassador, I’m so flattered and honored with this nomination, I just can’t believe my ears. Why me?  Let me mention my weaknesses.  I’ve been living in US for  twenty three years. I earned my undergraduate and graduate degree from US universities. I hold American bar license to practice law in US not in Indonesia. Last but not least, I can’t speak Indonesian fluently. So, why me?”  Arya asked anxiously.

 

“Honestly, Pak Arya, you’ve just mentioned the strong points of you instead of your weaknesses.  The house unanonimously  voted in favor of you because you fulfill such requirements  they love much,  such as understanding of  US law, fluently in English, has ever been practicing law in US, young and intelligent, earning doctoral degree in US Criminal Justice system,  and fortunately,  only you among Indonesian citizen all over the world who damned eligible to such requirements. This commission is partly funded by US government, so they are eager to see an Indonesian fellow with excellent knowledge and skills of US law chairs the commission. Moreover, we have a bunch of US law school graduate, but none of them have American bar license.  So, I have to boldly underscore Pak Arya, We appoint you to be the vice chairman of the commission, not offering you. I bet that you have no better choice. Indonesia damned need you. We need you back to Indonesia. We’re not worried with your language. You’re a hundred percent Indonesian descent, so we believe within a month you can retrieve your Bahasa Indonesia back. Trust me!”  Mr. Ambassador said firmly as a commander gave an order to a rookie[6].

 

During his returning flight to Chicago, Arya had a serious daydream.  He had just approved the nomination.  The ambassador shook his hand firmly and told him to get pack and prepare everything for his immediate departure.

 

He just can’t believe this situation.  He is an American lawyer with a fast track to be a wealthy partner[7] within years at his law firm yesterday but suddenly he has to go back to be another ‘Indonesian Hero’ and chair a commission he has not known before. Why life can change drastically?

 

Dessy picks Arya up at O’Hare right on time.  They head to CTA train and as usual take the blue train to downtown Chicago. Arya keeps silent.  Dessy stares curiously to Arya.  “Kenapa Mas, kamu sakit?”  Kita mampir dulu ya di Wal Greens beli obat flu. Kayaknya kamu kena angin dingin di DC deh,” Dessy seemed to be worry.  “No, thanks Dessy.  I’m OK.  I’m just wondering that this will be my last trip by blue train.”   “Oh my goodness. What’s wrong with you Mas?”  Dessy shouted frantically.  “Next Monday I’ve to fly to Jakarta. I’m going to live over there at least for five years. Indonesian government had appointed me to chair the Anti Corruption commission as a vice chairman.  “You must be kidding Mas,” Dessy laughed. “You can’t speak Indonesian fluently and you don’t even understand Indonesian law, you must be sick, Mas. Let me purchase a flu medicine for you.”

 

“I’m not kidding. I’m damned serious Dessy.  I told the same excuses as you did to Pak Djoko, Indonesian ambassador in DC, but they were worthless.  I argued him until eventually he said that this was an order from Indonesian government.  We appointed you, not offered you.  I have no more words. He gave me a week to resign from my firm, get pack and prepare anything to my sudden departure to Jakarta,” Arya said.

 

“They must be joking Mas.  They gave you no alternatives and simply ordered you to return to Indonesia within a week.  You’ve been working in US law firm for three years and earned almost a hundred thousand bucks[8] a year. They have violated your civil rights, Mas Arya, why don’t you argue them?  How much do they pay your monthly salary?”  Dessy said anxiously.

 

“Honestly, Dessy.  I’ve never thought that far.  My monthly salary will be twelve million rupiahs a month or less than twenty percent of my salary in Chicago law firm. However, I need it, indeed.  I want to go back to Indonesia, our lovely country, and contribute to its development.  I’ve never thought that I’m qualified to that job or not but it’s really a challenging one.   Can you imagine we work hand in hand to fight against corruption?”  Arya said proudly.

 

“You’re nut, Mas.  I’m sorry to say.  You’re going to leave your fast track to wealthy and prosperity life to pursue another fuzzy job. Unbelievable. If I were you, I prefer to earn much money and simply donate them as a zakat or infaq to Indonesia and I strongly believe it will work any better. “It’s not that simple, Dessy.  I love Indonesia more than any country in the world.”  “All right, Mas, but the most important thing is… what about our relationship?  Should you leave me and say me goodbye forever?”  Dessy kept this ‘bullet’ for the last. Her eyes were watered.

 

Arya gave no comments when Dessy came to this sensitive part.  Honestly, He never mentioned that the last reason of his departure to Indonesia is to evade and escape from Dessy. He likes Dessy as a friend and sister but he has been seriously thinking that their relationship is a dangerous one. A sort of grave violation to Islamic teaching. They often hang around together and walking side by side like a husband and wife.   Rihan, his Pakistani buddy, often reminds Arya that his relationship with Dessy is improper and dangerous,  Arya agreed a hundred percent with this buddy.

 

A week later.  Arya left downtown Chicago by blue train, heading to O’Hare.  His flight to Jakarta by Northwest  Airlines due to take off three hours ahead.  He doesn’t take a cab even though he afforded to ride one.   Arya just want to enjoy his last blue line trip to O’Hare.  Little bit unusual, Dessy didn’t accompany him.  She has been depressed with Arya’s sudden departure.  What a poor girl. Arya completely understood this situation, therefore, he didn’t wave goodbye to Dessy.  Instead, he had asked some sisters at Chicago Islamic Center to get in touch with Dessy frequently and guide her to complete understanding of Islamic teaching.

 

The train is about to reach international terminal no. 5 shortly.  Arya unfolded Dessy’s letter reluctantly.  Dessy wrote: Goodbye Mas Arya, I completely understand that Indonesia is damned need you more than me. I’m just wondering that Allah SWT will be so kind to send you back to Chicago someday….

 

“You’re right sister.  Let’s rely on Allah,” Arya whispered softly.

 

Duren Tiga, 14 Januari 2004

 

 

 

 

 

 


[1] CTA :              :           Chicago Transit Authority

[2]Loop                :         Istilah untuk jalur kereta yang melingkari pusat kota (downtown) Chicago

[3] Dog Fight       :           Pertempuran di udara

[4] American Bar :            Asosiasi Pengacara Amerika Serikat

[5] Yuppie            :           istilah untuk kelompok professional muda

[6] Rookie            :           prajurit baru

[7] Partner            :           posisi tertinggi dalam suatu kantor hukum (law firm)

[8] Bucks             :           istilah slank untuk US  $ Dollar

Read Full Post »