Feeds:
Posts
Comments

Hantu Blau Terorisme_0002 Hantu Blau Terorisme_0003

tulisan di Republika 28 Mar 2013_0002

                        BERANTAS TERORISME ALA TERORIS

Heru Susetyo

Staf Pengajar Viktimologi dan Hak Asasi Manusia

Fakultas Hukum Universitas Indonesia

 

Bubarkan Densus 88 ! seret oknum Densus 88 ke pengadilan HAM!  Barangkali itu dua seruan yang mengemuka belakangan ini.  Mengemuka akibat tayangan penyiksaan tersangka teroris oleh oknum petugas yang diduga Densus 88.   Koran TEMPO (4/3/2013)  juga memberitakan ihwal Densus 88 yang akan diseret ke Pengadilan HAM.  Bisakah Densus 88 diseret ke Pengadilan HAM Indonesia? secara teori mungkin-mungkin saja, walau secara politik hukum agak tidak mungkin.  Mengingat, walau sudah berumur 13 tahun, sampai saat ini Pengadilan HAM Indonesia baru mengadili tiga kasus saja, kasus Tanjung Priok dan Timor Leste (dengan Pengadilan HAM Ad Hoc di Jakarta Pusat) dan kasus Abepura 2000 di Pengadilan HAM Makassar.

Namun pangkal masalahnya bukan itu.  Kemarahan sebagian publik terhadap Densus 88  adalah akumulasi dari peristiwa-peristiwa sebelumnya. Utamanya dalam tiga bulan terakhir.  Misalnya, pada 20 Desember 2012 polisi di Poso (bukan Densus 88) menangkap 14 orang yang diduga pelaku pembunuhan terhadap empat polisi di daerah Poso.  Belakangan, terbukti bahwa mereka bukan pelaku sebenarnya. Alas salah tangkap.  Namun nasi sudah jadi bubur.  Korban sudah kenyang disiksa selama tujuh hari. Begitu dilepaskan, tiada kata maaf dan tiada ganti rugi untuk pengobatan apalagi untuk merehabilitasi nama baik mereka yang kadung cemar dituduh sebagai teroris.

Setelah itu kekerasan terus berlanjut.  Pada 4 Januari 2013 dua terduga teroris ditembak mati polisi di halaman belakang RS Wahidin Sudirohusodo di Tamalanrea, Makassar.  Pada hari yang sama di Dompu, Sumbawa, NTB dua terduga teroris ditembak mati. Keesokan harinya tiga terduga ditembak mati.  Pertanyaan publik muncul?  Mengapa harus ditembak mati? Kenapa tak diproses hukum dulu? Belu, tentu mereka teroris.  Kalaupun betul mereka teroris, tetap tak boleh ditembak mati juga kan?   Namun jawaban dari aparat selalu seragam untuk peristiwa-peristiwa ini, para terduga teroris melawan dan mengancam kami sehingga harus dilumpuhkan.

Maka publik-pun marah.  Korban, mantan korban ataupun keluarga korban jelas lebih marah lagi.   Densus 88 jadi bulan-bulanan.  Respon pemerintah, utamanya polisi, mudah ditebak,  menolak Densus dibubarkan.  Karena Densus dianggap banyak berjasa dalam memberantas terorisme di Indonesia.  Karena,  menurut mereka, kalaupun ada kesalahan prosedur ataupun tindak pidana, proses hukum saja individu yang bersalah.  Jangan hukum apalagi bubarkan institusinya.  Kalau tikus mencuri beras di lumbung padi, tangkap saja tikusnya, jangan bakar lumbung padi-nya. Begitu mungkin.

Dan ini bukan kali pertama.  Desakan untuk pembubaran Densus 88 sudah berlangsung lama. Seiring dengan maraknya kekerasan yang mengiringi hampir setiap operasi Densus 88.  Pertanyaan kemudian : haruskah melawan terorisme dilakukan dengan cara-cara ala teroris juga?

 

Terorisme dan Pelabelan Teroris

Pengaturan dan definisi tentang terorisme sampai saat ini memang bias sekaligus tak jelas.  Tak ada definisi pasti.  Tak juga ada konvensi internasional yang datang dari PBB yang secara khusus mengatur ihwal terorisme secara komprehensif.  Yang ada adalah beberapa konvensi internasional yang mengutuk pembajakan pesawat, penyanderaan, penggunaan material nuklir, pendanaan kegiatan terorisme dan beberapa konvensi regional di Eropa, Amerika dan Afrika yang mengatur tentang pencegahan terorisme.  Studi dari US Army tahun 1988 mencatat bahwa paling tidak ada 109 definisi yang berbeda tentang terorisme yang merangkum 22 elemen definisi yang berbeda.  Beberapa unsur yang disepakati tentang terorisme adalah aktivitas menebar ancaman, ketakutan, dan terror, karena ideologi atau kepentingan politik tertentu, melalui jalan kekerasan ataupun ancaman kekerasan

 

Karena definisi dan ruang lingkup yang tak jelas,  publik (dan juga aparat) seringkali tak memiliki cukup pegangan tentang apa itu terorisme.  Bom ikan yang meledak di Pasuruan pada tahun 2007 dengan mudah disebut terorisme ,  kendati mungkin saja hanya kecelakaan biasa.  Tragedi pesawat jatuh, mudah sekali dikaitkan dengan pembajakan dan terorisme,  kendati mungkin hanyatechnical error ataupun human error.  Sama halnya dengan di Amerika,  ketika pesawat Airbus A 300 flight 587 American Airlines jatuh di New York sesaat setelah take off dari bandara John F Kennedy New York,  pada 12 November 2001,  dengan mudah orang mengaitkannya dengan terorisme dan peristiwa WTC 9/11 yang terjadi dua bulan sebelumnya.  Investigasi dari US National Transportation Safety Board belakangan membuktikan bahwa sebab kecelakaan adalah human error dan technical error.

 

Korban berikut dari ketidakjelasan makhluk yang bernama ‘terorisme’  adalah lahirnya stigmatisasi dan labelisasi tertentu yang sarat stereotyping tentang siapa itu teroris.  Pascatragedi 9/11 terjadi stigmatisasi, labelisasi, dan stereotyping bahwa teroris adalah mereka yang berwajah ke-arab-araban, berjanggut, beragama Islam, dan sangat mungkin pernah ikut berperang di Afghanistan ataupun Palestina.  Labelisasi yang bersifat liar ini nyaris tak terkendali sehingga melahirkan korban (re-victimization) baru.  Banyak warga muslim di AS ataupun mereka yang bertampang kearab-araban  menjadi korban ‘backlash” dari oknum-oknum warga AS.  Hal yang sama terjadi di Australia pascatragedi Bom Bali Oktober 2002.  Kebencian (hate crime) dan kekerasan (violence) terhadap warga muslim dan keturunan Arab terjadi begitu mudah.

Padahal, tidak semua “teroris” adalah bertampang Arab, berdahi hitam bekas tanda sujud, berjanggut, ataupun beragama Islam.  Timothy McVeigh,   pelaku pemboman gedung FBI di Oklahoma City 19 April 1995 yang menewaskan 168 orang adalah murni pria kulit putih veteran perang Teluk.  Eric Robert Rudolph, pelaku pemboman di area Centennial Olympic Park pada Olympiade Atlanta  USA, 27 Juli 1996, yang menewaskan 2 orang dan melukai 111 orang, adalah juga pria kulit putih.  Di Jepang, pelaku peledakan gas sarin yang mematikan di jalur subway (Chikatetsu) Tokyo adalah Shoko Asahara, seorang Jepang asli pimpinan sekte Aum Shinri Kyo.  Di Oslo Norwegia, pelaku penembakan massal dan pemboman pada 22 Juli 2011 yang menewaskan 77 orang adalah seorang ‘teroris’ ultranasionalis kulit  putih bernama Anders Behring Breivik.

 

War Against Terrorism ala Indonesia

Di tengah-tengah kekaburan makna dan luas lingkup terorisme, lahirlah Detasemen Khusus (Densus 88).   Unit elit kepolisian dengan nama Detasemen Khusus 88 Anti Teror ini lahir dengan SK Kapolri Jendral Da’i Bachtiar No. 30 tertanggal 20 Juni  2003 , sebagai pengembangan dari Direktorat VI Anti Teror Bareskrim POLRI (www.tempo.co/ 8/3/2012).  Kelahirannya adalah sebagai respon dari sejumlah kegiatan yang diidentifikasi sebagai terorisme antara lain Bom Bali 2002 dan 2005, Bom J.W. Marriot Jakarta 2003, ataupun Bom di muka Kedubes Australia Jakarta tahun 2004.

Maka , Densus 88 adalah salah satu produk dari war against terrorism ini.  Tak ada keraguan sama sekali bahwa polisi Indonesia memerlukan satu unit khusus untuk menangkal teror.  Tak ada keraguan juga bahwa terorisme adalah kejahatan HAM yang luar biasa serius sehingga harus ditangani dengan ekstra serius.   Namun, apakah dalam operasi-operasinya unit anti teror ini harus dengan kekerasan yang melanggar hukum dan HAM?

Bukan suatu kebetulan bahwa dalam operasi Densus 88 hampir semua tersangka teroris yang dicokok adalah yang ‘berwajah Islam’  lengkap dengan atribut janggut, dahi hitam tanda bekas sujud, baju gamis atau baju koko, dan sejenisnya. Tak dipungkiri, memang tak sedikit muslim yang menempuh jalur radikal dalam menempuh tujuannya,  Namun kekerasan bukanlah monopoli penganut agama tertentu saja. Kekerasan dan teror di Irlandia Utara berlangsung menyejarah sebagai buah perseteruan kelompok Katolik dan Protestan.  Juga, tak perlu jauh-jauh, bagaimana polisi Indonesia menyikapi teror kelompok separatis RMS di Maluku tak pernah jelas. Juga, dimana peran Densus 88 dalam operasi keamanan di Papua? Tidak dapatkah gangguan keamanan di Papua -yang terakhir menewaskan delapan prajurit TNI di Kabupaten Puncak Jaya pada 21 Februari 2013-  oleh sekelompok milisi bersenjata dikategorikan sebagai terorisme juga?.

Kita tak menutup mata bahwa Densus telah berkontribusi banyak untuk pemberangusan terorisme di Indonesia.  Namun juga ada tendensi Densus 88  ‘tebang pilih’ dalam mencokok tersangka terorisme dan tak jarang turut melakukan pelanggaran HAM.  Alih-alih memerangi terorisme, mereka malah menebar teror baru.  Alih-alih menegakkan HAM malah melanggar HAM.  Muhammad Ikhlas Thamrin dalam Densus 88 Undercover (2007) menggambarkan bahwa serangkaian pelanggaran HAM telah terjadi atas nama perang melawan terorisme seperti penangkapan sewenang-wenang (arbitrary arrest), penahanan sewenang-wenang (arbitrary detention), penganiayaan berat (torture) dan penghukuman yang tak bermartabat (corporal punishment),  salah tangkap, ataupun salah tembak hingga penduduk biasa yang tak masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) tewas, ataupun penembakan terhadap salah seorang tersangka yang dilakukan di hadapan anak-anaknya yang masih di bawah umur (kasus Yusron Mahmudi/ Abu Dujana Juni 2007 di Kebarongan Banyumas).

Dalih dari perilaku berlebihan Densus 88 adalah bahwa untuk memerangi terorisme harus dilakukan dengan upaya yang luar biasa (extraordinary efforts) sambil berlindung di balik UU No. 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme yang memang mengijinkan penangkapan seorang tersangka selama 7 X 24 jam (berbeda dengan kejahatan biasa dimana tersangka hanya dapat ditangkap 1 X 24 jam, setelah itu harus dikeluarkan surat perintah penahanan atau malah dilepaskan).  Undang-Undang tersebut juga mentolerir dasar penangkapan seorang tersangka berdasarkan laporan intelijen (classified information) sebagai bukti permulaan yang dianggap cukup.

Maka, lengkap sudah pelanggaran ini.  Karakter Undang Undang Anti Teroris dimanapun memang cenderung kurang memberikan perlindungan terhadap tersangka, saksi, ataupun korban.  Termasuk di AS.  US Patriot Act 2001 dan US Homeland Security Act 2002 di Amerika Serikat berkarakter kurang lebih sama dengan UU Anti Teroris Indonesia.  Sama halnya dengan Internal Security Act(ISA) di dua negeri jiran, yaitu Malaysia dan Singapura. Belakangan lahir pula UU tentang Pendanaan Terorisme di Indonesia pada Februari 2013.  Yang dikhawatirkan sementara pihak akan menimbulkan viktimisasi baru lembaga-lembaga kemanusiaan yang banyak mendapat donasi dari Timur Tengah.

Kendati demikian,  memerangi terorisme dengan menebar teror baru ala Densus 88 jelas tak dapat diterima. Apalagi ketika tersangka, saksi atau korban beroleh perlakuan yang keji padahal belum jelas unsur kesalahannya karena belum disidangkan oleh pengadilan.  Negara RI telah memiliki UU HAM No. 39 tahun 1999,  UU Pengadilan HAM No. 26 tahun 2000, telah mengamandemen dan memasukkan pasal-pasal tentang HAM pada perubahan UUD 45 tahun 2000 (pasal 28), serta telah meratifikasi Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (Intenational Covenant on Civil and Political Rights) pada tahun 2005  dan Konvensi Anti Penyiksaan (Convention Against Torture) tahun 1998 yang nyata-nyata melarang penganiayaan dan perlakuan kejam.

Apalagi,  hak untuk hidup dan hak untuk bebas dari penganiayaan (freedom from torture) sebagaimana tersebut pada pasal 28 (i) UUD 45 amandemen kedua adalah bagian dari underogable rights,  alias hak yang tak dapat dikesampingkan dalam situasi apapun,  untuk tersangka terorisme sekalipun.

 

Kita sepakat terorisme harus diberantas.  Kitapun sepakat perlu ada upaya tegas dan taktis dalam melawan terorisme. Namun jangan sampai upaya melawan terorisme ini malah menggunakan cara-cara ala terorisme yang juga melawan hukum.   Jangan sampai publik  Indonesia akhirnya malah bersimpati dengan ‘para teroris’ dan menganggap mereka adalah semata-mata ‘korban’ saja dari kezhaliman aparat pelaku perang melawan terorisme di Indonesia.

 

 

Terlampir :

Pengantar Kriminologi 15 Okt 2011

pendekatan baru dalam kriminologi

mazhab dalam kriminologi – old win

criminology – social control

wawancara dgn majalah Sabili Mar 2013Sabili Poso2Sabili Poso3Sabili Poso4Sabili Poso5

Opini di Majalah Gatra edisi 28 Februari 2013

Media sbg Pelaku Viktimisasi aMedia sbg Pelaku Viktimisasi 2

            

 

NIKMAT TUHAN MANAKAH YANG KAMU DUSTAKAN

By : Heru Susetyo

 

Mai duduk termenung.  Sedih, bingung, gembira, campur jadi satu. Gadis Thailand keturunan Narathiwat -propinsi selatan Thailand yang penduduknya mayoritas muslim Melayu-  ini baru saja diwisuda sebagai Master bidang Pekerjaan Sosial  Chulalongkorn University, Bangkok.  Lulus dengan nilai terbaik. Thesis terbaik. Waktu tercepat. Dan juga lulusan termuda. Di kampus terbaik pula. Yang Mulia Maha Chakri Sirindorn, putri mahkota  kerajaan Thailand sendiri yang menyalami dan memberinya rangkaian bunga anggrek pagi tadi.  Pertanda ia sangat spesial. Diperlakukan layaknya keluarga kerajaan. Karena, memang kampus Chulalongkorn adalah milik keluarga kerajaan.

 

Usai peluk cium kiri kanan. Berfoto dalam berbagai pose dengan teman satu angkatan.  Kini ia duduk terpekur persis di pinggir kolam kampus utama Chulalongkorn. Di depannya ada lukisan Raja Thailand Bhumibol, lengkap dengan pakaian kebesarannya. Raja tertua dan terlama berkuasa di dunia ini nampak berwibawa sekaligus makin nampak tua.  Mai menatapnya dengan datar.  Ia hormat dan respek kepada sang raja.  Namun tetap tak ingin menyembahnya.  Bagaimanapun ia adalah muslim, kendati berkewarganegaraan Thailand.  Tak layak manusia menyembah sesama manusia.

 

Langit di atas kampus Chula mulai nampak memerah. Membelah Baiyoke Tower di sisi utara dan Hotel Pathumwan Princess di sisi baratnya. Burung berterbangan dengan riang dari arah Lumpini Park menuju Silom Road.  Lumpini Park adalah tempat favorit Mai di Bangkok.  Hari Ahad paginya dihabiskan disana dengan jogging sambil menikmati pemandangan itik berenang di danau Lumpini. Silom Road, sebaliknya, adalah musuh besar Mai.  Karena di jalan ini berlokasi kawasan lampu merah Patpong yang luar biasa populer ke mancanegara.

 

Semua kenangan studi di Chulalongkorn mendadak hadir dalam benak Mai.  Empat tahun untuk studi sarjana dan dua tahun untuk studi Master. Enam tahun silam ia bukan apa-apa. Tak mengenal siapapun dan tak dikenal siapapun di Bangkok.  Datang dari kampung miskin di Tak Bai, Narathiwat, propinsi paling selatan Thailand yang berbatasan langsung dengan negara bagian Kelantan Malaysia.  Kedua orangtuanya adalah petani miskin di Tak Bai. Tak pintar berbahasa Thailand pula.  Hanya dapat berbahasa Melayu logat Narathiwat.  Padahal mereka warganegara Thailand. Studi di Bangkok tak pernah masuk dalam agenda orang tuanya.  Sampai Allah SWT mengirimnya ke Bangkok karena Mai lulus terbaik dari Madrasah Aliyah se-propinsi Narathiwat sehingga beroleh beasiswa dari pemerintah Thailand untuk studi di Chulalongkorn.

 

Ya itu enam tahun silam.  Kini semua telah berubah.  Dunia seperti ada dalam genggaman Mai.  Gelar wisudawati terbaik dengan nilai tertinggi telah mengangkat dirinya tinggi.  Lebih tinggi dari Baiyoke Tower, gedung tertinggi Thailand di kawasan Pratunam yang menjulang kokoh di hadapannya.

 

Chulalongkorn menawarinya langsung menjadi asisten professor (ajarn) di Fakultas Ilmu Sosial.  Kedutaan Besar Australia di Bangkok menawarinya beasiswa Doktor ke Australian National University, Canberra dengan scheme Australian Development Scholarship for Women from Underrepresented Communities.  Kementerian  Pendidikan Thailand menawarinya posisi asisten riset.  Dan itu semua sangat istimewa, mengapa? karena ia adalah muslimah, berjilbab, dan miskin pula. Alias, minoritas yang komplit ketertindasannya di tengah mayoritas Thai. Ah ya, ada satu lagi tawaran.  Menjadi ajarn di Prince Songkla University, kampus Patani.  Di tanahnya sendiri.  Tapi untuk yang terakhir ini tak menjadi prioritas Mai.  Mengajar di kampung sendiri memang mengasyikkan. Tapi bukankah ilmu adanya di Bangkok ataupun di negeri luar?

 

Tak terasa air mata meleleh dari dua pojok mata Mai.  Ya Allah, semua berubah begitu cepat. Fabiayyi alaa`i Rabbikuma tukadzibaan...Semoga aku tak akan mengingkari nikmatMu ini ya Allah….  Mai mengucap lirih ayat favoritnya di Surah Arrahman tersebut.

 

“Sawasdee khap Nong,  Sabay dee may?[1]  sapaan ramah Chaiwat,  teman seangkatannya mengganggu lamunan Mai. Sabay dee, Pi, jawab Mai datar.  Kendati Chaiwat teman seangkatan Mai, tapi ia lebih tua dua tahun dari Mai. Maka Mai memanggilnya Pi, alias kakak. Chaiwat duduk disamping Mai. Seolah tahu gadis rapuh ini tengah mencari teman bicara. Teman berbagi gundah.

 

Apa yang bisa saya bantu, Nong? Kamu nampaknya tengah bingung.  Tak tahu hendak kemana setelah usai studi Master?”  Chaiwat membuka dialog dengan bahasa Thai yang santun.  Pemuda Thai ini memang lawan bicara yang pintar menempatkan diri.  santun.  Ia berpengetahuan luas tapi tetap tidak sombong.

 

Lebih dari itu, Mai tahu,  temannya ini menaruh hati padanya.  Terus terang Mai tertarik pula.  Siapa yang tak tertarik dengan Chaiwat. Berwajah ganteng, berotak encer, dan datang dari keluarga politikus kaya Thailand.  Tapi terlalu banyak perbedaan di antara mereka. Mai muslim, Chaiwat Buddhist.  Mai berasal dari Thailand Selatan, Chaiwat berasal dari Chiang Mai di utara Thailand.  Mai keturunan Melayu Patani. Chaiwat keturunan China generasi awal yang bermigrasi ke Chiang Mai.  Mai miskin abis, Chaiwat kaya abis.  Seperti pungguk merindukan bulan. Maka,  Mai-pun sedari awal sudah memangkas mimpi indahnya bersama Chaiwat. Tahu diri. Ia hanya menganggap Chaiwat sebagai teman biasa.

 

Pernah Chaiwat me`nembak`nya suatu waktu. Di tepi Sungai Chao Phraya.  Ketika mahasiswa se-angkatan mereka bersama menghabiskan malam tahun baru 2004 sambil menikmati fireworks (kembang api) di sekitar Sanam Luang.  Saat itu Chaiwat berjanji akan masuk Islam apabila Mai berkenan menikahinya. Ia tak keberatan dengan keislaman Mai. Dengan jilbab Mai. Dengan kemiskinan Mai.  Mai sempat melambung ke langit ketujuh ketika itu. Namun kemudian sadar.  Perbedaan di antara mereka terlalu lebar.  Koo thoot, Pi[2] jawabnya lirih.

 

”Jadi kamu mau kemana setelah lulus ini, Mai.  Aku tahu kamu banyak mendapat tawaran menggiurkan.  Lebih menggiurkan daripada aku.  Chulalongkorn tidak menawariku jadi ajarn[3] disini.  Kementerian pendidikan juga tidak.  Aku tidak lebih beruntung dari kamu.  Lalu kenapa kamu bersedih diri?”  Tanya Chaiwat.

 

“Entahlah, Pi.  Aku juga bingung. Begitu banyak nikmat Allah yang kuterima dalam waktu yang tak terlalu lama.  Aku ingin jadi ajarn di Chula, ingin kerja untuk pemerintah, ingin studi di Australia.  Tapi aku juga ingin kembali ke Narathiwat.  Orangtuaku dan masyarakatku adalah petani miskin Thailand Selatan.“  Aku ingin membangun Narathiwat dengan bekal ilmu yang aku miliku.  Untuk Pi Chaiwat ketahui,  belum pernah ada perempuan Narathiwat yang seberuntung aku dalam sejarahnya selama ini.  Kuliah hingga Master di Chula dengan biaya pemerintah.  Teman-teman seusiaku kebanyakan sudah punya anak tiga.  Tidak tamat sekolah menengah.  Dan melulu hidup gelisah dalam ketakutan karena ancaman teroris lokal yang tak henti mengganggu kehidupan kami.“

 

Mai berkata jujur.  Ia seperti fenomena baru bagi wanita muslim di selatan Thailand. Seperti namanya.  Mai dalam bahasa Thailand berarti `baru`. Mai sendiri hanya nama panggilannya.  Karena hampir semua orang Thailand punya nama panggilan (nickname).  Nama Thai-nya adalah Chaleeda Bangluansanti.  Nama muslimnya adalah Nuraini.  Hampir semua muslim Thailand Selatan punya dua nama. Nama Thai maupun nama muslim.

 

”Luar biasa kamu Mai. Sangat idealis. Kalau aku jadi kamu, aku akan ambil Australia.  Ini peluang besar Mai. Kamu belum pernah ke luar negeri kan? Apalagi kamu dapat beasiswa pula. Kamu bisa pulang ke Narathiwat setelah jadi Doktor nanti.  Dan, untuk kamu ketahui,  alhamdulillah aku-pun dapat beasiswa Doktor dari scheme Australian Development Scholarship.  Tidak di Australian National University, tapi di University of New South Wales, Sydney.  Jadi aku bisa menyambangimu setiap akhir pekan ke Canberra.  Tak jauh kan jarak dari Sydney ke Canberra,” tutur Chaiwat.

 

Mai dua kali bergidik mendengarnya.  Pertama ketika Chaiwat mengucapkan lafadz alhamdulillah.  Darimana pria Thai Buddhist ini belajar kata alhamdulillah dengan pengucapan yang sempurna pula?  Kedua, ketika ia mengatakan…aku bisa menyambangimu setiap akhir pekan ke Canberra.  Terus terang Mai senang bercampur takut.  Berdua-duaan dengan laki-laki bukan mahram. Di luar negeri pula.

 

Khap khun ma kha[4] atas masukannya Pi.  Aku pikir-pikir dulu ya.  Sudah maghrib, aku shalat dulu ya di Muslim Study Club,

 

”Silakan Nong,  dan tolong pikirkan kembali ucapanku tadi.  Dan untuk kamu ketahui, aku masih belum mencabut janji-janjiku seperti yang aku ucapkan di tepi Chao Phraya malam tahun baru 2004 lalu,” jawab Chaiwat tenang.  Dan, untuk ketiga kalinya dalam dua menit Mai bergidik.

##

 

 

Muslim Study Club Chulalongkorn nampak sepi.  Tak heran ini kan hari libur. Hari wisuda. Mana ada mahasiswa muslim datang ke kampus. Tapi hari biasapun juga memang sepi.  Disamping karena hong lamat[5]  ini letaknya di lantai empat Student Club builiding, juga karena tak banyak mahasiswa muslim studi di Chula.  Tapi alhamdulillah ada satu sosok muslimah tengah membaca Al Qur`an. Sosok yang sangat akrab di matanya.  Maulida rupanya.  Gadis Indonesia asal Aceh yang sama sepertinya baru saja diwisuda hari ini.  Maulida adalah perawat  asli Aceh yang bertugas di kampungnya, di Meulaboh.  Ia studi Master bidang Public Health di Chulalongkorn atas beasiswa ASEAN.  Teman diskusi yang menarik. Bersama mereka sering ke pasar Chatuchak ketika weekend, ke Soi 7 Petchburi Road untuk berburu makanan halal, berburu buku di Kinokuniya Siam Paragon, dan mengaji bersama di Islamic Center Ramkhamhaeng.  Kendati Maulida tetap belum bisa berbahasa Thai, namun ia rajin mengikuti pengajian muslimah Thai.  Mai-lah penerjemah setianya.

 

“Assalamualaikum Ukhti, apa kabar?”  Maulida menyapa terlebih dahulu dalam bahasa Inggris. Dan cuma Maulida seorang yang menyapanya dengan panggilan `ukhti` di Thailand.  Teman muslim lainnya menyapa dengan panggilan Pi atau Nong. ”Kabar baik Kak Ida”  Mai menjawab dalam bahasa Indonesia yang patah-patah.  Hanya itu kalimat Indonesia yang dikuasainya. Kendati ia dapat berbahasa Melayu Patani dengan lancar.

 

”Selamat atas keberhasilan Ukhti.  Allah SWT telah mengangkat Ukhti ke posisi yang luar biasa.  Lalu mau kemana setelah ini ukhti? Aku mendengar ukhti banyak sekali mendapat tawaran menarik?” tanya Maulida ramah.

 

”Alhamdulillah Kak Ida.  Kayak di negeri dongeng.  Semua berubah begitu cepat. Aku sendiri malah bingung sekarang mau kemana.  Pulang ke Narathiwat, jadi ajarn di Chulalongkorn, jadi ajarn di Patani, atau kerja di Bangkok di kementerian Pendidikan.  Ataupun studi Doktor di Australia.  Tapi kayaknya aku condong dengan yang terakhir ini, tutur Mai.”  “Kak Ida sendiri mau kemana?  Kok hari ini tak ada orangtua yang ikut menghadiri wisuda?”  tanya Mai polos.  Maulida tertawa geli dan berkata, “ ha ha ha, Ukhti Mai bercanda ya.  Mana mampu aku mendatangkan orangtuaku ke Bangkok. Mereka belum pernah keluar negeri. Tidak bisa berbahasa Inggris. Tak punya passport. Dan alasan yang paling utama adalah,  kami adalah keluarga nelayan miskin dari Meulaboh. Jangankan ke Bangkok,  ketika aku tamat studi sarjana di Syiah Kuala saja orangtuaku tak sanggup datang ke Banda Aceh karena tak punya uang.

 

“Maaf Kak Ida, aku tak bermaksud merendahkanmu. Kita senasib. Aku juga tak sanggup mendatangkan orangtuaku ke Bangkok.  Padahal mereka tinggal di Thailand. Orangtuaku tak pernah pergi ke Bangkok seumur hidupnya.  Mereka juga tak dapat berbahasa Thailand.”

 

Mai pen rai[6] ukhti.  Semoga do`a orangtua kita dan keikhlasan mereka diganjar Allah SWT dengan balasan yang berlimpah.  Mereka membanting tulang dan berbasuh keringat supaya kita dapat sekolah.  Dan kini kita di Bangkok dengan segala kemuliaan kita, sementara mereka tetap tinggal di kampung dengan segala kesahajaannya. Allahumaghfirlana waliwalidayna warhamhuma kamaa Rabbayana Shaghirra… ”jawab Maulida sambil terisak-isak.  Tangis yang menular, karena sepuluh detik kemudian, Mai pun menangis.  Teringat ayah Ibu di Tak Bai yang tak turut menikmati kegembiraannya di hari wisuda ini. Isakan tangis kedua muslimah berbeda kewarganegaraan ini memecahkan keheningan lantai empat Student Club Chulalongkorn.

 

Lima menit keduanya berkubang dalam tangis masing-masing.  Hingga Mai berkata lirih. ”Kak Ida sendiri akan kemana setelah wisuda ini?” tanya Mai.  “Itulah yang aku bingung Ukhti Mai. Aku baru saja membaca email sore tadi setelah wisuda.  Alhamdulillah aku mendapat beasiswa untuk studi Doktor bidang Public Health di Nagoya, Jepang.  Aku mesti berangkat bulan depan.  Pada saat yang sama aku juga ingin pulang ke Meulaboh.  Sudah tiga tahun aku meninggalkan kedua orangtuaku. Mereka sudah tua dan aku adalah anak tertua.  Adikku ada empat orang.  Aku juga masih bekerja di Rumah Sakit setempat sebagai kepala perawat. Kami punya begitu banyak pasien miskin, yang semakin miskin karena konflik tak henti mendera Aceh,“ tutur Maulida panjang.

 

“Bila aku ke Jepang,  berarti akan empat tahun tinggal lagi di negeri orang. Tak tega aku menatap wajah adik-adikku yang masih di sekolah dasar.  Aku harus pulang.  Memang berat. Tapi aku tak punya pilihan.  Mungkin suatu waktu, insya Allah bila adik-adikku sudah mandiri, aku akan kembali mengejar gelar Doktor-ku.  Dimanapun. Tak mesti di Jepang,“ tambah Maulida.

 

Gubrakk! Mai seperti tertampar mendengarkan jawaban Maulida. Ia dan Maulida sebenarnya dalam perahu yang sama.  Pepatah Inggris menyebutkan we are in the same boat. Sama-sama miskin. Sama-sama dibesarkan di daerah konflik. Sama-sama mendapatkan beasiswa karena keenceran otak mereka. Sama-sama punya tanggungan adik-adik yang masih kecil.  Bedanya, Maulida berfikir lebih jernih.  Tak silau karena keinginan studi ke luar negeri. Sedangkan aku? Tanya Mai pada dirinya sendiri. Sangat ingin ke Australia. Karena tak pernah ke luar negeri. Lalu akan terbenam minimal empat tahun lamanya disana. Bagaimana orangtua dan adik-adikku nanti kalau aku tetap ke Australia?

 

##

Mai akhirnya memutuskan pulang ke Narathiwat.  Tawaran studi ke Australia ditundanya. Tak ditolaknya.  Karena ia berharap suatu waktu, entah kapan, bisa ke Australia. Minimal ketika adik tertuanya sudah mandiri. Sehingga dapat membantu keuangan keluarga.  Kasihan ayah ibu yang semakin tua. Ia memilih menjadi ajarn di Prince of Songkla University kampus Patani. Kampus ini berjarak dua jam perjalanan dari Narathiwat dan tiga jam perjalanan dari kampungnya di Tak Bai.  Baik Patani maupun Narathiwat adalah provinsi Thailand yang penduduknya mayoritas muslim. Maka, Mai tak menemukan kesulitan hidup di Patani .  Tidak seperti di Bangkok. Sukar menemukan makanan halal. Sukar menemukan tempat shalat. Dan anjing berkeliaran dimana-mana.

 

Hidup terasa begitu indah di Patani dan Narathiwat.  Kendati ancaman konflik tak henti mendera Patani, Yala dan Narathiwat. Salah satu yang terbesar adalah penyerbuan masjid Krue Se di Pattani pada 28 April 2004. Tiga puluh satu aktivis muslim tewas diterjang peluru tentara yang menerjang masuk ke dalam masjid. Selama beberapa bulan kehidupan di sekitar Patani begitu mencekam.  Tentara berpatroli dua puluh empat jam setiap hari dengan jeep Humvee dan motor trail. Menyandang senapan otomatis M-16 dan perlengkapan tempur.  Setiap satu kilometer ada military checkpoint dimana kendaraan yang melintas harus berjalan zig zag dan pengemudi wajib menunjukkan identitasnya.  Penduduk luar Patani enggan masuk Patani. Mahasiswa Thai non muslim menghentikan studinya dan pulang ke daerah asal di utara Thailand. Penduduk lokal Patani sebagian mengungsi ke Malaysia atau ke bagian utara Thailand.  Kehidupan terasa begitu mencekam.

 

Begitupun Mai tak ingin meninggalkan Patani.  Hatinya sudah berlabuh disini. Sejujurnya ia takut, namun iapun tak tega meninggalkan mahasiswa dan masyarakat sekitar.  Keahliannya sebagai pekerja sosial sangat berharga di Patani.  Bersama masyarakat dan mahasiswa ia mendirikan posko kesehatan dan ketahanan keluarga.  Menyalurkan bantuan makanan dan pelayanan kesehatan kepada penduduk yang terisolasi di daerah konflik.

 

Hampir setiap hari ia bertukar SMS dengan Maulida yang telah kembali bertugas di Meulaboh. Sekedar mengucapkan Sabay Dee May[7]. Maulida benar-benar tak ingin studi Doktor di Jepang. Cinta Maulida pada tanah Aceh membuat Mai malu pada dirinya sendiri.  Maka iapun kembali menata cintanya untuk tanah Patani Darussalam yang terdiri atas empat propinsi, Patani, Yala, Narathiwat, dan Songkla.  Semuanya berjalan indah. Sampai suatu waktu ayah ibunya menemuinya di kampus Prince Songkla University.  Inilah kali pertama orangtuanya menemuinya di kampus. Pasti ada yang istimewa.

 

”Mai, kami harap kamu mempertimbangkan betul lamaran dari keluarga Abdul Syukur, kerabat jauh kita di negeri Kelantan Malaysia.  Putra tertua mereka, Haznan, baru saja kembali dari studi Master di Al Azhar, Kairo. Kini ia menjadi pengajar di Kelantan. Tengah mencari istri.  Dan sepertinya ia tertarik dengan kamu,”  ayahnya berkata pelan.  Khawatir menyinggung hati Mai.

 

”Iya sayangku, kamu sudah berusia dua puluh lima tahun, sudah cukup layak untuk menikah. Kamu juga sudah bekerja. Apalagi yang kamu tunggu? Ayah Ibu sudah ingin punya cucu. Memang kita keluarga miskin.  Tapi tak salah juga kan kalau kita menambah anggota keluarga besar kita?  Apalagi keluarga Abdul Syukur termasuk keluarga berada di Kelantan?”  Ibunya menambahkan.

 

Gubrakkk!!!. Mai terhenyak.  Menjadi istri dan ibu memang sudah masuk dalam agenda hidupnya.  Tapi tidak sekarang.  Juga tidak dengan orang yang tidak dikenalnya.  Tapi iapun enggan mengecewakan ayah ibunya yang tiga jam menempuh perjalanan darat dari Tak Bai untuk menyampaikan kabar ini.  Maka Mai hanya mengatakan,” Saya pertimbangkan Babo[8] dan Ummi. Sejujurnya Mai belum siap menikah sekarang.  Mai masih ingin bekerja buat saudara-saudara kita disini.”

 

”Tapi Mai sayang, kamu tetap dapat bekerja disini walaupun kamu menikah. Tak ada yang berubah kan? Malah hidupmu akan lebih semarak dengan kehadiran suami dan mungkin anak-anakmu nanti.” sanggah Ibunya.  ”Betul Bu, tapi…”  Mai tak kuasa menahan tangisnya. Alih-alih putra keluarga Abdul Syukur,  bayangan Chaiwat dan segenap janjinya untuk  menjadi mualaf malah berkelebat dalam benaknya.  Malam hari sebelum tidur,  Mai mengirim SMS kepada Maulida. Menanyakan pendapatnya tentang perjodohan tersebut.  Pagi harinya Maulida membalas dengan menyitir penggalan surat Arrahman,…Fabiayyi allaa` i rabbikumma tukadzibaan....  Terus terang,  Mai tak mengerti apa maksudnya.

##

 

 

24 Oktober 2004

Seminggu sebelum hari peminangan tiba.  Mai memutuskan untuk meninggalkan Patani.  Ia tak berani menolak perjodohan tersebut dengan lisannya.  Juga tak sanggup mengiyakan. Ia teringat dengan teman-teman sebayanya yang kini tetap tinggal di rumah, berpendidikan rendah, sibuk dengan urusan dapur dan mengurusi suami. Beberapa suami teman-temannya kemudian menikah lagi, berpoligami, dan menyisakan sebagian kecil saja nafkah bagi keluarga.  Mai trauma. Bayangan menjadi Doktor bidang Social Development di Canberra kemudian menjadi Professor di Prince of Songkla University, terlihat lebih indah dalam benaknya. Tapi iapun tak berani menolak orangtuanya.  Maka ia memilih menulis surat kepada orangtuanya.  Dititipkan via Halimah, mahasiswinya yang berasal dari Tak Bai.  Isinya,  ia tak menolak perjodohan tersebut, namun menundanya sampai ia pulang dari Australia.  Namun iapun tak memaksakan.  Silakan saja apabila keluarga pihak pria ingin mencari yang lain.  Dalam benak Mai,  alasan untuk sekolah Doktor adalah alasan yang paling halus dan masuk akal untuk menggagalkan perjodohan ini.

 

 

25 Oktober 2004.

Mai sudah berada di Bandara Don Muang Bangkok.  Tiket pesawat Thai Airways jurusan Sydney sudah digenggamnya.  Bersamanya ada Chaiwat dan delapan orang calon mahasiswa program Doktor lain di Australia. Sebenarnya studi di Canberra baru akan dimulai pada Februari 2005, namun pihak sponsor meminta waktu untuk orientasi kultural dan memperdalam bahasa Inggris-Australia selama tiga bulan sebelum studi dimulai.

 

Pada saat boarding.  Telepon selular Mai berdering.  Dari Tak Bai.  Mai tak kenal dengan nomor tersebut. Ia enggan mengangkatnya.  Khawatir yang menelpon adalah keluarganya. Tapi, ayah dan ibuku tak pernah menelponku langsung.  Mereka tak punya handphone juga di rumah tak memiliki telpon rumah. Lagipula mereka tak tahu pula nomor ponselku.  Barangkali dari adikku. Maka dengan setengah ragu ia menekan tombol `yes`.  ”Assalamualaikum kha, Pi Mai? Sawasdee kha!” suara Halimah ternyata.  ”Waalaikumussalam kha, ada apa, Nong Halimah?”

 

“Pi Mai masih di Bangkok, kan? Belum akan terbang?”  gadis muda ini bertanya cepat. Ada nada kepanikan dalam kalimatnya.  “Aku sudah di Don Muang Nong, sebentar lagi boarding dengan Kham bin Thai[9] ke Sydney via Singapura.  Ada apa?” Mai berusaha tenang, walaupun terus terang iapun panik.

 

 

”Emergency Pi Mai, pagi tadi ratusan warga Tak Bai berdemonstrasi di muka kantor polisi Tak Bai. Menentang penahanan enam warga yang beberapa hari silam diduga memasok senjata kepada kaum pejuang. Polisi tak dapat menahan laju massa yang begitu banyak. Akhirnya mengobral tembakan.  Tujuh warga tewas di tempat dan lainnya diangkut dan dilempar paksa ke dalam truk polisi.  Menurut informasi, akan dibawa ke penjara di daerah Patani,”  Halimah bicara terengah-engah melalui handphone-nya..  Terdengar nada bising dan suara orang-orang berteriak di sekitarnya.

 

Innalillahi wa ina ilahi raajiuun. Ya Allah, mengapa semua ini terjadi,” teriak Mai dalam bahasa Melayu Patani.  Membuat Chaiwat dan delapan teman penerima beasiswa lainnya terkejut.  ”Dan, yang lebih gawat lagi Pi Mai, Halimah meneruskan. ”Ayah Pi Mai dan Zakariya, adik laki-laki Pi Mai termasuk yang ditangkap dan dibawa ke penjara di Patani,” tutur Halimah hati-hati.  ”Termasuk,  adik laki-lakiku ku juga, menghilang sejak tadi pagi. Ia ikut berkerumun di muka kantor polisi Tak Bai,”  kali ini Halimah tak kuasa menahan tangisnya.

 

”Astaghafirullah!” Mai menjerit. ”Cobaan apa lagi ini…” lanjut Mai.  ”Ada apa Nong Mai, kamu bicara dalam bahasa apa?”  tanya Chaiwat keheranan.  ”Pi Chaiwat, ada insiden di kampungku, Tak Bai Narathiwat pagi ini. Ayah dan adikku ditahan polisi karena ikut berdemonstrasi.” ”Sepertinya aku harus meng-cancel pesawatku ke Sydney, dan segera ke Hat Yai, ” Mai menjawab cepat.  ”Are you insane, Nong Mai, I`m sorry to say[10]. Kamu sudah check in, bagasimu sudah di pesawat dan sebentar lagi kita naik pesawat. Dan juga, insiden dan konflik di Selatan kan sudah biasa terjadi setiap saat, ” sergah Chaiwat.  ”No way Pi Chaiwat, kali ini berbeda, karena kini korbannya adalah ayah dan adikku. Pi Chaiwat, tolong jaga bagasiku sampai di Sydney, ini aku berikan baggage tag-nya berikut boarding pass-ku. Tolong sampaikan pada pramugari Kham Bin Thai kalau aku batal terbang.

 

”Kamu gila Mai, to be honest. Aku prihatin betul dengan musibah yang menimpa keluargamu, tapi kamupun tak harus membatalkan kepergianmu ke Sydney. You are running your own life. Bagaimana kontrakmu dengan AusAid nanti?” kali ini Chaiwat kehilangan kesabarannya. ”Tidak Chaiwat,” kali ini Mai tidak memanggil Chaiwat dengan `Pi` lagi. ”Aku bertanggungjawab dengan AusAid. Akan aku kontak mereka dari Narathiwat. Ini emergency. Aku akan jadi anak durhaka kalau tetap ke Sydney dalam situasi seperti ini.”  ”Durhaka, apa artinya? Bahasa apa itu,” tanya Chaiwat keheranan.  ”Maaf aku susah menjelaskannya,  aku harus pergi sekarang. Sawasdee kha!”  teriak Mai.   Meninggalkan Chaiwat dan delapan temannya dalam kubangan keheranan.

 

Segera Mai berlari dari terminal internasional ke terminal domestik.  Ia berlari menuju sales counter Thai Airways untuk mencari go show ticket, ticket yang dibeli langsung pada hari penerbangan. Tiket habis. Ia berlari lagi ke sales counter Thai Air Asia. Tiket habis juga.  Mai makin bingung dan panik.  Akhirnya ia ke sales counter Nok Air.  Tiket habis juga. Tapi Mai ngotot dan minta diberangkatkan sekarang. Ia siap duduk di kursi manapun dan siap membayar berapapun.  Pihak Nok Air mengalah. Diberikannya ia kursi jump seat, kursi darurat persis di belakang pilot dan copilot. Dengan harga dua kali lipat.  Di dalam pesawat, Mai senantiasa bergumam,  Fabiaayi alaa`i Rabbikumma tukadzibaan….ayat favorit Maulida.  Ketakutannya terhadap nasib ayah dan adiknya mengalahkan ketakutan terhadap perjodohannya di Tak Bai.

###

 

 

Setibanya di Hat Yai,  Mai memerlukan delapan jam lagi untuk mencapai Tak Bai. Itupun dengan susah payah.  Ia berganti mobil sebanyak empat kali.  Karena tak semua mau masuk ke daerah konflik. Hampir setiap tiga kilometer ada military checkpoint dimana mobil harus berjalan zigzag kemudian berhenti.  Tentara yang bertugas akan menanyakan identitas sopir dan penumpangnya. Cukup seram, karena senapan M-16 mereka dalam posisi terkokang dan ia menggunakan bullet-proof vest. Rompi anti peluru. Di belakang sang tentara puluhan temannya bersiaga di dalam Jeep humvee armoured vehicle dan panzer. Maka, perjalanan ke Tak Bai yang biasanya dapat ditempuh dalam empat jam menjadi delapan jam.

 

Tak Bai mirip kota mati. Puing-puing berserakan. Asap membubung di sana sini. Patroli tentara dengan jeep humvee dan motor trail berseliweran.  Penduduk masuk ke dalam rumah dan mengintip dari sela-sela jendela.  Anak-anak menangis karena tak diperkenankan keluar rumah.  Jam malam diberlakukan. Tak boleh orang berkumpul dan berseliweran di atas jam enam sore.  Susah payah ia mencapai rumahnya.  Listrik mati. Hanya dua lilin menyala. Di pojok rumah, nampak Ibu dan adik-adiknya tengah menangis.

 

 

Tak Bai, 27 Oktober 2004

Kabar terakhir dari penjara Patani.  Tujuhpuluh delapan warga Tak Bai tewas.  Bukan karena ditembak. Namun hampir semua karena kehabisan napas. Ditumpuk  dan dilempar ke dalam truk begitu saja dalam enam lapis. Dengan tangan terikat ke belakang pula. Tiga jam perjalanan ke Patani cukup untuk membuat mereka kehabisan napas. Sungguh tak berperikemanusiaan.   Penduduk Tak Bai murka. Termasuk Mai. Ayah dan adik Mai tidak termasuk mereka yang tewas.  Namun Mai tetap marah.  Ia tak suka dengan kesewenang-wenangan ini.  Bersama warga Tak Bai, ia mendirikan posko relawan untuk membantu mereka yang kehilangan anggota keluarganya. Dapur umum, pengumpulan sandang dan pangan, hingga posko informasi orang hilang berada dalam kendalinya.  Malam harinya Mai mengirim SMS kepada Maulida di Aceh.  Lima menit kemudian Maulida membalas dalam tiga kali pengiriman. Pertama ia menyatakan keprihatinan mendalam. Kedua, mendo`akan keselamatan keluarga Mai. Ketiga, menuliskan sepenggal kalimat favoritnya, “Nikmat Tuhan Manakah yang Kamu Dustakan…”

 

 

26 Desember 2004

Alhamdulillah ayah dan adik Mai sudah kembali ke rumah.  Kendati dalam kondisi berantakan. Bekas pukulan, siksaan, dan jeratan terlihat di dada, tangan, dan punggung. Baju mereka lusuh bercampur darah. Lama tak diganti. Seisi keluarga menjerit dan menangis. Bercampur antara sedih, senang, sekaligus marah.  Siang harinya Mai kembali mengirim SMS kepada Maulida.  Tak ada jawaban. Sampai malam hari. Ini bukan kebiasaan Maulida. Ia selalu cepat membalas SMS. Kalaupun tak punya pulsa kadang ia meminjam handphone kerabatnya. Tapi ini tak biasa. Mengapa? Jawabannya tiba di malam hari.  Melalui berita TV3 Malaysia yang ditangkap jelas oleh antena parabola warga Tak Bai, pagi tadi pukul 08.15 waktu Aceh telah  terjadi gempa bumi yang disusul oleh tsunami dahsyat yang menerjang pantai Barat dan Utara Aceh dan Sumatera Utara. Selanjutnya tsunami menghantam pantai barat Thailand di sisi Lautan Andaman yaitu Phang Nga, Krabi dan Phuket di tepi lautan Andaman, Thailand barat daya. Mai terhenyak. Ia tahu persis bahwa Maulida tinggal dan bekerja di Meulaboh. Kota kecil di pantai barat Aceh.

 

 

1 Januari 2005

Mai berdiri mematung di rumah sakit Meulaboh yang telah rata dengan tanah. Sudah tiga hari ia berada di Meulaboh. Melacak jejak keberadaan Maulida.  Tak dinyana pengalaman pertamanya ke luar negeri adalah ke Indonesia. Selain Malaysia tentunya. Yang tak dianggap luar negeri karena negeri Kelantan, Malaysia, berbagi batas dengan kampungnya di Tak Bai.  Mestinya negeri pertama yang diinjaknya setelah Thailand dan Malaysia adalah Australia. Dan mestinya saat ini ia tengah bertahun baru di Canberra. Mungkin juga di Sydney. Bermalam tahun baru di Darling Harbour sambil menatap fireworks[11] dari gedung opera Sydney yang terkenal. Barangkali juga bersama Chaiwat yang memang sudah berada di Sydney.

 

Susah payah Mai mencapai Meulaboh.  Jalan darat Banda Aceh – Meulaboh putus,. Maka ia merangsek masuk Meulaboh dari Sumatera Utara.  Beruntung ia bertemu dengan rombongan Bulan Sabit Merah Malaysia yang juga hendak masuk ke Meulaboh. Selama tiga hari itu ia selalu mengirim SMS ke Maulida. Namun gempa dan tsunami memutuskan jaringan telepon selular di sekitar Aceh.

 

Dengan bahasa Melayu seadanya Mai melacak jejak Maulida. Maulida lenyap dari muka bumi.  Sampai hari ini, di muka rumah sakit yang rata dengan tanah. Ia mendapati posko kesehatan darurat yang sekaligus menyajikan daftar orang hilang di sekitar Meulaboh.  Diantara nama orang hilang tercantum nama yang amat diakrabinya …Maulida binti Hasyim, SKP. MA..

 

 

13 Januari 2005

Sudah enam belas hari Mai di Meulaboh. Maulida tetap belum ditemukan. Baik hidup ataupun mati. Di antara hari-hari itu Mai membantu rumah sakit darurat sebagai relawan. Beruntung ia dapat berbahasa Melayu Patani hingga sedikit banyak dapat berinteraksi dengan para korban. Kepada para korban ia selalu bertanya tentang Maulida. Namun tak ada yang tahu keberadaan perawat shalihah ini. Sampai suatu waktu seorang anak kecil  menemukan telepon seluler yang diyakini Mai sebagai milik Maulida. Karena dalam ponsel itu ada nama Maulida tertulis dalam huruf Thai. Dan hanya Mai yang dapat membaca huruf Thai disitu.  Perlu seharian lebih untuk mereparasi dan mengaktifkan ponsel yang lama terendam air itu. Setelah ponsel berada pada posisi ON, Mai melacak feature INBOX, tak ada pesan baru. Pada feature SENT,  juga tak ada pesan terkirim.  Barulah pada feature DRAFTS Mai menemukan kalimat yang belum sempat terkirim. Bunyinya “Ukhti Mai, aku terbawa ombak, kini tersangkut di pohon, aku sudah tak kuat, do`akan kami dan tetaplah berjuang untuk Narathiwat, Maka Nikmat Tuhan Manakah……  Kalimat tersebut terputus. Dan Mai meneruskannya dalam hati…yang kamu dustakan

 

Maulida tak pergi ke Nagoya. Juga tak lagi tinggal di Meulaboh. Allah SWT lebih mencintainya. Dan Mai percaya Allah SWT akan memberi Maulida tempat tinggal baru yang jauh lebih baik. Jauh lebih baik dari Meulaboh dan Nagoya..

 

Esoknya Mai kembali ke Narathiwat. Meneruskan semangat Maulida membangun Aceh. Tidak di Bangkok. Tidak di Canberra. Di Narathiwat.

 

 

Salaya – Putthamonthon, Nakhon Pathom

18 Desember 2007

 

 

 

 

P.S. : Terima kasih untuk Ajarn Alisa dari Patani yang telah memberikan inspirasi cerita ini. Semoga kecintaanmu pada tanah Patani dan tanah Aceh adalah kontribusimu untuk kemenangan di Yaumil Akhir kelak.

 

 

 


Terjemahan  :

 

[1]Halo Dik, apa kabar?

[2] Maaf, Kak

[3] Dosen/ Professor

[4] Terima kasih banyak

[5] Tempat shalat

[6] Tidak apa-apa

[7] Apa kabar

[8] Bapak

[9] Thai Airways, dalam bahasa Thai.

[10] Apakah kamu gila, maaf saya mengatakannya

[11] Kembang api

JANGAN PANGGIL AKU ALLY MC BEAL
By : Heru Susetyo

Di atas Langit Australia, 8 Oktober 2002
Richard Gere dan Winona Ryder berjalan perlahan di sepanjang Central Park, New York. Mereka bergandengan tangan dengan sesekali berbisik pelan. Di sela-sela keduanya nampak matahari musim gugur menerabas melalui dedaunan yang makin hilang dari pepohonan. Musim gugur (Autumn/ Fall) di New York memang amat romantis. Kendati dingin sangat menusuk, sering di bawah nol derajat celcius, namun suasana hati seringkali malah menghangat. Apalagi ditingkahi dedaunan yang kerap jatuh memenuhi taman. Pantas saja, bagi Richard dan Winona dunia sepertinya hanya milik mereka berdua.

Satu jam kemudian Richard Gere mendadak keluar dari rumah sakit dengan pandangan tertunduk. Sorot matanya seredup matahari musim gugur. Beberapa pasang mata menatapnya penuh tanya. Hampir semuanya tak ingin menyapa. Mereka semua mafhum. Nampaknya sang kekasih telah pergi selama-lamanya.

Aku turut terperangah menyaksikan bagian akhir film Autumn in New York ini. Tragis dan menyedihkan. Tak seperti biasanya film drama romantik seperti ini berakhir tragis. Richard Gere yang melakonkan Will Keane, juragan restoran di New York, akhirnya harus menangis karena kekasihnya Winona Ryder yang melakonkan Charlotte Fielding harus meninggal karena penyakit kronis yang dideritanya sejak kecil. Uniknya percintaan Will Keane dan Charlotte adalah percintaan antar generasi. Will berusia 50 tahun dan selama ini terkenal sebagai lelaki ‘gunung es’ yang ‘pantang’ jatuh cinta. Sebaliknya, Charlotte lebih pantas jadi anaknya, berusia 21 tahun dan tengah menggelegak semangatnya memasuki usia muda.

Film Hollywood besutan Joan Chen, sutradara asal China, yang dibuat akhir 90-an ini tak urung telah mengusir kebosananku. Tujuh jam perjalanan dari Sydney ke Jakarta dengan Ansett Aussie 245 biasanya sangat menjemukan. Daratan Australia Utara yang kering sama sekali bukan pemandangan yang indah. Begitu pula dengan flight entertainment yang seringkali monoton. Beruntung, Boeing 777-500 ini dipersenjatai dengan layar monitor di setiap kursi yang memutar film-film anyar.

Tapi, bukan itu masalah utamanya. Roman klasik ala Richard Gere- Winona Ryder ini mengingatkanku pada kisah antara aku dengan Cindy, istri Australia-ku yang kunikahi empat tahun silam. Empat tahun kami menikah, dan tak sekalipun ia mau aku ajak ke Indonesia. Pun saat ini, dimana aku harus ke Bandung karena Sarah, adik bungsuku yang baru lulus dari Unpad akan menikah. Aku akan jadi wali nasab untuk Sarah karena ayah telah berpulang dua tahun silam. “It’s unnecessary to go to Bandung, honey. If you love her, send her money or just call her. You won’t be her brother forever. Trust me! Begitu katanya.

Cindy adalah tipikal perempuan Aussie. Mandiri, tegas, praktis, independen, humanis, fair, assertif, disiplin, namun terkadang begitu cuek dengan keluarga. Jangankan untuk urusan pernikahan, ketika ayah meninggal dua tahun silam-pun Cindy enggan ke Jakarta. Bahkan, jangankan ayah kandungku. Ayahnya meninggal-pun dia enggan berta’ziah. Katanya, semua orang akan mengalami kematian. “Take it easy, Tommy,” katanya santai.

Sangat beralasan bagi Cindy untuk bersikap seperti itu. Seperti kebanyakan keluarga Australia lainnya, ia tumbuh di tengah keluarga broken home. Ayah ibunya bercerai ketika ia berusia tiga tahun, dan Brad, adiknya, berusia satu tahun. Ayahnya yang gemar mabuk-mabukkan dan lama menganggur kemudian menikah lagi dengan wanita New Zealand. Ibunya-lah yang membesarkan ia dan adiknya dengan bekerja sebagai jurnalis di koran negara bagian New South Wales. Sydney. Kendati beberapa kali gonta- ganti pacar, ibunya tak pernah menikah lagi hingga kini. Pun untuk hidup bersama tanpa menikah. Ibunya memilih menikah dengan karirnya dan membesarkan kedua anaknya sendiri, tanpa bantuan laki-laki.

Cindy remaja adalah Cindy yang matang dan mandiri. Pendidikan keras ala ibunya membuatnya menjadi pelajar dan pekerja keras. Ia bekerja 16 jam sehari. Belajar 16 jam sehari. Tanpa rasa capai, tanpa keluhan, tanpa rasa, dan tanpa hati. Hidupnya bak sebuah robot yang disetel secara mekanis untuk mengerjakan pekerjaan yang sama secara rutin, berulang-ulang, bertahun-tahun lamanya. Pagi hari ia bersekolah. Sore dan malam hari ia menjadi pelayan di restoran Italia. Ia menamatkan high school-nya di Woolongong, kota kecil 75 kilometer di selatan Sydney. Kemudian ia melanjutkan ke University of New South Wales, School of Law, di Sydney hingga mencapai gelar master bidang hukum internasional dengan predikat summa cum laude. Sesudahnya, dunia begitu ramah bagi Cindy. Hampir semua law firm besar di kota ini melamarnya. Cindy memilih salah satu yang terbesar. Semuanya berjalan begitu lugas, sampai suatu waktu ia bertemu pemuda Indonesia bernama Tommy…

Dan akulah si Tommy itu. Pria Indonesia beruntung yang dikirim ke Sydney untuk studi Doktor di bidang hukum. Kantor pengacara-ku di Jakarta memandang aku sangat prospektif untuk melanjutkan firma ini di kemudian hari. Dengan senang hati mereka mengirimku untuk studi S-3 dan magang di kantor mitra asing kami di Sydney, Krueger and Associates.

Studi di University of New South Wales (UNSW) dan pada saat bersamaan magang di Krueger and Associates bukanlah pekerjaan yang mudah. Aku hampir tak memiliki waktu untuk kehidupan sosialku. Hari-hariku terbenam dalam riset dan studi di perpustakan kampus maupun di firma. Kawan akrabku hanyalah kopi pahit Starbuck dan PC Notebook. Aku nyaris tak punya waktu untuk manusia. Kecuali tiga jam saja setiap pekan, ketika shalat Jum’at di Masjid Indonesia Wabash Street, dan pengajian Ahad juga di tempat yang sama.

Allah Maha Mengatur Segala Sesuatu. Pada saat-saat terbenam di perpustakaan UNSW dan Kruger and Associates, ternyata ada sepasang mata yang selalu memperhatikanku. Aku nyaris tak sadar sampai suatu waktu pemilik mata biru ini menegurku dengan bahasa Inggris aksen Australia yang khas. “Mengapa anda selalu menggelar kain merah dan sujud ke arah barat laut setiap pukul dua siang, lima sore, delapan sore, dan sembilan malam? Saya memperhatikan anda sudah tiga bulan ini, di library UNSW maupun di Krueger and Associates, dan anda selalu seperti itu. Apakah anda pengikut suatu aliran kepercayaan di Asia Selatan?” Tanya pemilik mata biru tersebut setengah menyelidik. “Oh No. Saya seorang muslim. Islam agama saya. Seorang muslim wajib melaksanakan ibadah yang kami sebut shalat lima kali setiap hari pada waktu-waktu yang tadi anda sebutkan.”, aku menjawab sambil terheran-heran. Agak tak biasa seorang wanita Aussie membuka percakapan dengan pria asing yang tak dikenal.

“Oh ya. Saya pernah mendengar Islam, tapi saya baru tahu bahwa cara anda menyembah Tuhan anda seperti ini,” tambahnya lagi.
Kemudian dialog pun mengalir lancar. Hingga, dinginnya perpustakaan UNSW seperti tak terasa. Si Aussie bermata biru ini ternyata bernama Cindy Stuart Masterson. Ia seorang junior lawyer di Krueger sekaligus kandidat Doktor di UNSW. “Pardon, Miss….?” Just call me, Cindy!” ujarnya riang.

Laiknya roman Indonesia, perjumpaan kami yang teramat sering membuat kami saling tertarik satu sama lain. Sampai suatu hari Cindy menanyaiku serius, “Tommy, will you marry me?” Ditanya mendadak seperti itu aku kontan gelagapan. Kendati aku sudah kenyang hidup di negeri orang, namun sebagai pria yang besar di kultur Jawa puritan aku masih berpegang pada nilai bahwa lelaki-lah yang berhak ofensif dan perempuan pasif saja. Akhirnya aku hanya mengatakan, “ Ah, ya. I am. Insya Allah!”

Dan kamipun menikah pada 21 Februari 1997. Sepekan saja setelah Iedul Fitri 1417 H. Dua hari sebelumnya Cindy mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan komunitas muslim Indonesia di Masjid Wabash Street. Imam masjid memberinya nama Aisyah Muthmainah. Sehingga namanya menjadi Cindy Aisyah Muthmainah Masterson.

Pada setahun pertama pernikahan, kami adalah pasangan yang amat harmonis. Kami sering menyusuri taman di seberang Gedung Opera Sydney dan duduk menatap Sydney Bridge sambil menunggu matahari terbenam. Sepekan sekali kami ke pantai Bondi untuk menanti matahari terbit dan saling melempar pasir ke tubuh masing-masing.

Petaka mulai timbul setelah anak pertama kami lahir. Aku ngotot memberinya nama Islam, Faiz atau Raihan. Cindy protes. “Nama Islam kurang akrab di telinga Australia. Terlalu kearab-Araban,” ujarnya dengan nada tinggi. “Aku akan memberinya nama Ian.” Mudah-mudahan ia akan menjadi pemuda ganteng, tegap, dan sportif seperti Ian Thorpe, perenang juara Olympiade kebanggaan Australia.”
Aku malas berdebat. Apalah arti sebuah nama kataku menghibur diri sendiri. Sayang, sebuah nama akhirnya menjadi berarti sekali. Karena setelah itu Cindy menjadi sangat berkuasa. Cindy-lah yang menentukan Ian sekolah dimana. Makan apa. Boleh ke masjid atau tidak. Bermain dengan anak Indonesia atau tidak.

Pun untuk anak kedua kami yang lahir dua tahun kemudian. Aku memberinya pilihan nama Nadia atau Yasmin, yang kurasa agak akrab dengan telinga Australia. “No, Tommy. No Arabian name anymore. “Nicole nama bayi cantik ini. Lihatlah badannya tinggi semampai seperti Nicole Kidman, mantan istri Tom Cruise. Mudah-mudahan ia akan mulus menapak Hollywood seperti Nicole Kidman.”, lanjut Cindy santai.
Astagafirullah! Kataku dalam hati.

Semakin banyak bilangan tahun pernikahan yang kami gapai, Cindy semakin sulit diatur. Janjinya untuk belajar Islam, belajar Al Qur’an, dan belajar shalat tak pernah terwujud. Iapun membatasi Ian dan Nicole untuk berinteraksi dengan komunitas muslim Indonesia. Rencanaku untuk membawanya pindah dari apartemen kami sekitar Darling Harbour ke kawasan muslim Lakemba ditolaknya mentah-mentah. Padahal, niatku baik, ingin mendekatkan keluargaku dengan muslim mancanegara di Lakemba. Formally, I’m muslim, but I‘m Australian!” teriaknya.

Hari demi hari kujalani dengan setengah hati. Aku masih berharap rumah tanggaku kembali normal. Aku ingin mengajak mereka tinggal di Bandung. Kalaupun tidak, sekedar bertemu ayah dan ibu ketika Lebaran-pun cukup. Dari surat-suratnya, ayah dan ibu terkesan sangat ingin bertemu dengan cucu Australia-nya. Namun Allah berkehendak lain, sampai ayah dipanggilNya, Cindy, Ian, dan Nicole, tak sekalipun mengunjunginya.

Disitulah juga letak habisnya kesabaranku. Cindy enggan diajak ta’ziah ke Bandung. Pekerjaannya terlalu berharga baginya. Mertuanya tak lebih berharga dari appointment dan contract-contract yang harus dibuatnya. Tragisnya, Cindy-pun melarang aku membawa Ian dan Nicole dengan alasan takut sakit terkena virus tropis Indonesia. Ia lebih percaya tempat penitipan anak di Belmore dengan perawat-perawat yang tak pernah tersentuh air wudhu ketimbang aku, ayah kandung Ian dan Nicole!

Sejujurnya, aku sudah tak betah di rumah ini. Satu-satunya alasanku untuk tetap tinggal adalah Ian dan Nicole, dua makhluk mungil ciptaan Allah yang innocent, yang dipercayakanNya kepadaku. Sesekali aku memang mencoba merayu Cindy dengan kata-kata mesra. “Honey, darling, sweetheart, sampai panggilan manja ya..Aisyah, ya Humairah..”. Apa jawab Cindy? Don’t call me Aisyah, listen, I’m Australian. Call me Ally Mc Beal! Esoknya, akupun meninggalkan rumah tersebut tanpa pamit.

Kini, di dalam kabin Boeing 777 Ansett Aussie 245 yang ada dalam pikiranku hanyalah Cindy, Ian, dan Nicole. Dua pekan sudah aku meninggalkan mereka. Aku tinggal ‘menggelandang’ dari rumah ke rumah teman-teman Indonesiaku. Malam hari aku tidur di masjid, siang belajar di UNSW. Aku tak pernah lagi ke Krueger and Associates. Aku belum sanggup bertemu Cindy disana sekarang-sekarang ini.

Permintaan Sarah untuk menjadi wali nasab di pernikahan dadakannya di e-mail sepekan silam menghentikan petualanganku. Aku senang pulang ke Indonesia. Satu saja yang membuatku resah. Delapan kalimat terakhir Sarah : bawa Teh Cindy, Ian, dan Nicole, ya Mas!
Seiring tertunduknya pandangan Richard Gere dan diselimutinya jenazah Winona Ryder yang mengakhiri film Autumn in New York, akupun termenung. Apakah rumah tanggaku sudah berakhir ? Masih dapatkah aku melihat tawa renyah Ian dan senyum mungil Nicole?

Bandung, 11 Oktober 2002
“Terimakasih Mas Tommy, hatur nuhun pisan Mas mau jadi wali Sarah,” . Mas jauh-jauh dari Sydney hanya untuk nikahin Sarah sama Kang Syamsul,” Sarah adikku berbisik haru sambil memelukku. “Sudah lah, Sarah. Aku kan kakak laki-lakimu yang tertua. Sudah sepantasnya aku menjadi pengganti Ayah. Semoga Allah SWT meridhoi pernikahan kamu dan semoga ayah-pun turut tersenyum senang di akhirat karena kamu mendapat jodoh yang baik,” sahutku setengah kebapakkan. Mendengar kata ‘ayah’ aku sebut mendadak Sarah menangis. Hingga, ruang utama Masjid Istiqomah ini mendadak mencekam. Syamsul, suami yang baru menikahinya sepuluh menit silam segera meredakan tangis Sarah. Ibu, yang sejak tadi menangis terharu di sisi kiri mihrab masjid turut terdiam lama sambil sesekali menengadahkan tangannya. Berdoa.

Acara pernikahan Sarah dan Syamsul ini memang unik. Wali nasabnya baru tiba dari Sydney. Mempelai wanitanya baru enam hari kembali dari Poso-Sulawesi Tengah, ikut misi kemanusiaan disana. Mempelai pria-nya, Syamsul, baru lima hari tiba dari Hannover-Jerman, karena ia masih tercatat sebagai mahasiswa program Doktor disana. Nikah kilat memang. Semuanya instan. Perkenalan, lamaran, dan akad nikah semuanya berlangsung kilat. Tukar menukar biodata plus foto berlangsung via internet, telepon dan teleconference. Baru empat hari silam Syamsul berjumpa dengan Sarah. Alhamdulillah mereka cocok. Keduanya memang profil muslim shaleh dan shalehah. Allah menyatukan hati mereka kendati mereka tak sempat mengenal lama satu sama lain.

Di sudut masjid Istiqomah yang temaram ini aku ‘cemburu’ berat melihat kemesraan Sarah dan Syamsul. Terlihat sekali Sarah begitu hormat pada Syamsul, dan Syamsul begitu melindungi Sarah. Sedangkan aku? Pergi dari Sydney seorang diri setelah ‘terusir’ dari rumah. Meninggalkan istri dan dua anak yang masih balita tanpa pamit. Ternyata, lima tahun mengenal Cindy tak cukup dapat membuat kami lebih mesra.
Dan, aku lebih tercekik lagi mendengar komentar Ibu ketika kami menuruni tangga masjid. “Kunaon atuh Teh Cindy, sareng putu Ibu nu kasep, nu geulis, Ian sareng Nicole teu dicandak Mas Tommy? Ibu hoyong pisan ningali dua-duana. Ditingalian di foto aduh meni kasep, meni geulis. Kawas urang Australia,pisan “ ujar Ibu dengan logat Sunda-nya yang masih kenceng. Yah, kendati sudah menikah empat puluh tahun dengan Ayah yang asli Malang, Ibu masih sangat Garut sekali.

Kenapa Cindy tidak diajak? Kenapa Ian dan Nicole ditinggal di Sydney? Ya kenapa aku pergi seorang diri? Hampir semua saudara Sunda-ku mengeroyokku dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dan, akupun terjerembab dalam kubangan rasa bersalah. Lama sekali.
Akhirnya, karena khawatir diberondong dengan pertanyaan sejenis, aku memutuskan pulang ke Sydney esok harinya, Sabtu 12 Oktober 2002. “Kenapa harus buru-buru, Mas Tommy, ikan-ikan di balong rumah kita nungguin dipancing sama Mas tuh, “ Tanya Sarah keheranan. “Iya, Aa Tommy, engke heula atuh. Ibu masih keneh sono ka Aa. Hoyong keneh ningali foto Ian sareng Nicole, “ lanjut Ibu . “Aduh, Gimana ya Bu, Sar,. Aku kangen banget nih sama Cindy, Ian dan Nicole !” jawabku asal. Hah kangen? Benar nih Tommy?

Sabtu, 12 Oktober 2002
Aku sedang berkemas-kemas. Satu jam lagi aku harus ke Jakarta. Sore nanti flight Ansett Aussie 247 tujuan Sydney telah menungguku di Bandara Soekarno Hatta. Tengah aku memasukkan rempeyek dan ketan hitam oleh-oleh Ibu ke dalam tas, mendadak suara keras penyiar SCTV merobek gendang telingaku dari pesawat televisi di ruang tengah :.”Laporan terkini dari Bali, pagi ini sekitar jam 11.30 sebuah bom berkekuatan dahsyat meledak di sebuah café di Bali. Diduga keras bom ini berasal dari mobil L-300 yang diparkir di depan café. Dilaporkan korban jiwa lebih dari 100 orang. Sebagian besar adalah warga Australia yang tengah berlibur…

Innalillahi, Bali diserang? Pulau teraman di dunia diserang ? Aku setengah tak percaya. How come? Gimana bisa? Aku pernah tinggal empat bulan di sana, untuk memantapkan nilai TOEFL- ku. Aku merasa aman dan enjoy tinggal disana. Kendati tinggal di tengah-tengah komunitas non muslim. Kini Bali hancur, dan kebanyakan korbannya warga Australia lagi. Negeri keduaku…tanah tumpah darah istriku.

Belum habis rasa terkejutku, mendadak ‘gempa susulan’ terjadi setengah jam kemudian. Semua penerbangan ke Australia dari Indonesia ditunda sampai waktu yang tak ditentukan, demikian berita dari televisi. Semua penerbangan ke Australia ditunda? Lalu bagaimana dengan penerbanganku nanti sore? Setengah tergesa aku menghubungi kantor perwakilan Ansett Aussie di Jakarta. Dua menit kemudian aku terhenyak di sofa. Seluruh penerbangan Ansett Aussie, termasuk Jakarta – Sydney ditunda sampai batas waktu yang tak ditentukan. Innalillahi…

Senin, 14 Oktober 2002
Headlines Sydney News yang aku baca via internet sungguh mengejutkanku. Gelombang anti muslim dan anti Indonesia yang merebak di seluruh Australia pasca ledakan bom di Bali memakan korban warga muslim mancanegara yang tinggal disana. Islamic Center dan Masjid di Brisbane-Queensland diserang. Juga di Perth, Western Australia. Kotoran manusia dilemparkan ke masjid. Tak cukup kotoran, kata-kata kotor-pun turut dituliskan di tembok masjid.

Beberapa muslim Indonesia di Sydney, Melbourne, dan Perth diinterograsi oleh dinas intelijen Australia. Beberapa diinterogasi dan digeledah rumahnya dengan sangat tidak manusiawi. Ditanya-tanya dengan kasar di hadapan anak dan istrinya tanpa kehadiran kuasa hukumnya. Juga, seorang muslim di Melbourne disita computer beserta segala perangkatnya dengan dalih mengandung data-data yang terkait dengan satu Jama’ah Islam yang diduga menjadi otak tragedi bom Bali.

Dan akupun murka. Napasku mendengus kesal. Sekaligus sedih. Aku teringat shohib-shohibku di Masjid Buranda-Holland Park. Terbayang wajah Imam Masjid Brother Abdul Quddus, pria asal Madras yang amat ramah, bersahabat, dan soleh. Juga Brother Dwi dan Seno di University of Queensland, Brother Kiki di Gold Coast. Ah, brother, gimana nasib kalian? Are you O.K ?

Selasa, 15 Oktober 2002
Akhirnya kabin Ansett Aussie 247 ini aku injak juga. Tertunda tiga hari lebih dari jadwal semula. Tiga hari memang bukan waktu yang lama, namun cukup lama untuk menyiksa batinku. Empat hari di Bandung di tengah kepungan pertanyaan tentang anak dan istri sungguh mengerikan. Belum lagi harus melihat begitu banyak pasangan suami istri yang mesra dan harmonis berseliweran di depanku. Sungguh mengerikan.
Ada yang berbeda kali ini. Pemeriksaan di Bandara sangat ketat. Tidak cukup dengan metal detector, akupun nyaris di geledah petugas Imigrasi kalau saja aku tak teriak bahwa aku asli Indonesia. Mereka bilang, mereka terpaksa melakukan ini karena permintaan sejumlah Kedubes negara barat di Jakarta. Hmmm….kok nurut sih, komentarku dalam hati.

Senyum pramugari juga tampak berbeda, dan diskriminatif. Ketika mereka menjumpai penumpang bule, mereka tersenyum lebar. Giliran penumpang Melayu hanya diberi senyum tipis. Kenapa sih, apa aku ada tampang pembajak?

Rabu, 16 Oktober 2002 
Boeing 777 ini sungguh laju. Jakarta – Sydney diterabas hanya dalam enam jam saja. Hingga, Sabtu subuh ini aku tiba kembali di tanah air. Tanah air? Tanah air Cindy tepatnya. Airport Sydney subuh hari ini tampak indah. Airport yang terletak persis di di pinggir laut ini tampak indah dengan banyaknya runway dan taxiway berseliweran di sela-sela padang rumput yang indah. Berpuluh Airbus Qantas dan Boeing Ansett Aussie bergantian take off dan landing. Sementara, di sisi timur nampak sang surya mulai menguak fajar melalui segaris cahaya jingga yang merobek permukaan laut. Ah, seandainya aku di Pantai Bondi saat ini, tentu sunrise akan lebih indah lagi. Apalagi, jika Cindy menemaniku. Dan kamipun berjalan kaki sepanjang pantai sambil bergandengan tangan dengan mesranya …

Excuse me, Sir ! Astagafirullah, nyanyian fajar-ku seketika tersendat. Seorang petugas imigrasi bertubuh tinggi besar menegurku, persis ketika aku menyodorkan paspor hijauku. Are you Indonesian? Are you muslim? Are you belong to a group of terrorist? Bla..bla… sembarangan kawan satu ini, aku diinterogasi habis-habisan. Aku terroris, aku pembajak, enak aja. Istriku orang Australia tahu! Dan anakku setengah Australia. Satu jam habis untuk berdebat dengan dia. Dia bertahan bahwa aku tak bisa masuk ke Australia karena status visa-ku tidak jelas. Aku ngotot. Bahwa aku ini permanent resident dan bisa menjadi citizen karena aku menikah dengan wanita Australia. Bahwa aku telah enam tinggal di Sydney. Bahkan akupun hapal dialek slank Sydney. Bahwa aku ini lawyer dan kandidat doktor di bidang hukum dan bisa menggugat kamu ke pengadilan karena melecehkan statusku.

Ternyata yang terakhir itu mujarab. Setelah aku mengaku sebagai seorang lawyer dan kandidat Doktor iapun menyurut. Dan akupun melenggang bebas melewati pintu imigrasi dan bea cukai Sydney. Heran aku. Berpuluh kali aku menghadapi imigrasi dan baru kali ini aku dihina seperti ini. Aku mirip pembajak, namaku kearab-araban, aku adalah bagian dari terorisme internasional. Huh!

Sabtu, 19 Oktober 2002
Hari ini aku giliran jaga malam di masjid Wabash Street. Jaga malam? Ya. Karena masjid ini berulangkali menerima ancaman akan di bom-lah, akan dibakar-lah, akan dirusak-lah. Komunitas Indonesia di Wabash Street memutuskan bahwa ancaman tersebut harus dianggap serius. Apalagi, Jum’at kemarin satu grup pemuda botak, bertatto dan bermotor besar bolak-balik di depan masjid sambil menunjuk-nunjuk masjid. Mereka dikenal sebagai kelompok pemuda rasis yang benci orang asing, apalagi yang kulit berwarna. You’re next ! teriak mereka.

Malam ini aku ditemani Brother Faris, Imam masjid yang hafidz Qur’an dan masih muda, dan Brother Bahri, pemuda Indonesia yang telah lama tinggal di Sydney. Bertiga kami mengobrol. Tentang Indonesia. Tentang langit yang tak pernah mendung. Matahari yang tak pernah redup. Adzan yang selalu terdengar. Senandung Al Qur’an yang makin marak mengalun. Indonesia yang lama kami tinggalkan. Dan konon, sekarang sedang sekarat akibat krisis total, dan bom Bali….

Malam semakin larut. Jarum jam menunjukkan pukul dua dinihari. Akupun menyeruput sisa teh terakhirku. Membangunkan Brother Bahri untuk bergantian ronda. Lalu, akupun berjalan ke tempat wudhu. Bersiap untuk shalat malam.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Dari samping tempat wudhu kudengar suara-suara slank Australia dan bunyi cat disemprotkan. Aku tersentak. Ah, ini pasti graffiti yang menghina Islam. Cepat aku menyeret Brother Bahri keluar masjid. “Stop, you’re under arrest!” seru kami meniru lagak polisi. “What you’re doing here?” Tanya kami semakin keras. Tak usah dijawab kami sudah tahu jawabannya. Sederet kata-kata kotor di tembok mesjid yang dibuat dengan cat pylox yang masih basah. “Hey, you’re bloody foreigner, you won’t live here any longer, “ kata-kata kasar tersebut keluar dari empat mulut berbau minuman keras. Dengan cepat mereka mengeluarkan double stick-nya. Yang paling tinggi memainkan pisau-nya. Yang bertatto ular mengatupkan gerahamnya sambil menginjak rokok putih-nya.

Dengan bekal sabuk hitam karate dan sedikit jurus silat ala Jawa Barat Brother Bahri dan aku menerjang duluan. Tak percuma Brother Bahri ini pernah jadi atlit nasional, karena hanya dengan tiga kali tendangan keras si tattoo ular rebah ke tanah. Si tinggi besar menyerangku. Aku mengelak walau sempat limbung karena kuda-kudaku tak tertata baik. Kemudian aku menyerang balik dengan kombinasi pukulan dan tendangan yang cepat dan nyaris tak pernah ada dalam sejarah silat dunia (maklum jarang latihan). Syukurlah, kawan bertanding kami tak begitu lihai bersilat. Dalam dua menit si tinggi besar-pun roboh. Tragisnya, pisau si tinggi besar masih dipegangnya dan ia jatuh ke arah yang salah. Senjata makan tuan. Sang pisau menikam tuannya sendiri. Melihat pemimpinnya roboh dengan darah berceceran dua rekannya ambil langkah seribu. Kabur !

Akupun terhenyak. Darah. Air mata. Suara mengerang. Kenapa sampai sejauh ini? Aku tak bermaksud… . Sementara itu, raungan sirene polisi-pun semakin dekat. Rupanya tetangga sekitar yang terusik karena perkelahian tak seimbang ini menelepon polisi. Tenang, aku tak hendak lari. “Stop, you’re all under arrest !” innalillahi kali ini yang datang polisi betulan. Kamipun di borgol. Digelandang ke kantor polisi terdekat. Mirip pesakitan. “You have the right to remain silent,  Anything you say or do may be used against you in a court of law. You have the right to consult an attorney before speaking“ tambah si polisi galak tersebut.

Selasa, 22 Oktober 2002
Tiga hari sudah kami menginap di kantor polisi. Tuduhannya : penganiayaan dan percobaan pembunuhan ! Tiga hari polisi mencoba menginterogasi kami namun kami tetap bungkam. “I’m gonna talk if my attorney here with me, “ ujarku. Ya, aku hanya mau bicara kalau aku didamping oleh pengacara. Dan, hal itu memang diatur dalam konstitusi Australia. Polisi memberi waktu hingga Kamis jam dua belas siang. Jika kami tak juga mendapat pengacara maka polisi akan menyediakan pengacara negara untuk mendampingi kami. Pengacara negara? Akankah mereka berpihak pada kami, dua pemuda kulit berwarna yang nyaris menewaskan seorang Aussie? Aku tidak yakin.

Teman-teman kami bukannya tinggal diam. Mereka kelabakan mencari pengacara buat kami. Hampir semua pengacara berkelas hingga tak berkelas telah dihubungi. Sampai ke pelosok-pelosok negeri. Tapi hasilnya nihil. Sebenarnya ini perkara biasa. Tapi setting social politik-nya memang tidak biasa. Betapa tidak, tiga hari lebih kami menghiasi headlines suratkabar. Dihubung-hubungkan-lah dengan Osama bin Laden, dengan jaringan teroris internasional, dengan penyerangan WTC. Beribu orang mencaci kami. Gelombang aksi massa menyerbu kantor polisi. Mayoritas adalah massa rasis dan massa ultranasionalis. Dan, para pengacara-pun enggan menyentuh kami. Kendati kami siap membayar mahal mereka. It’s a hard and sensitive case, ujar mereka.

Kamis, 24 Oktober 2002
Setengah jam lagi pukul 12.00. Tenggang waktu yang diberikan polisi nyaris berakhir. Dan aku masih belum punya pengacara. Aku pasrah. Artinya aku akan didampingi oleh pengacara negara yang tak kukenal dan tak pernah kulihat. Dan tak kuketahui juga komitmen kemanusiaannya.
Semenit sebelum pukul dua belas. Langkah-langkah panjang polisi penjara memasuki lorong. Semakin dekat semakin jelas bahwa itu adalah langkah dari dua orang. Benar dua orang. Yang pertama pasti polisi penjara. Yang kedua? “Yeah, lady ini mengajukan diri untuk menjadi pengacara anda,” ujar sang Polisi setibanya di sel kami. « Namanya Lady Cindy Stuart Masterson!”
“Yeah, If you don’t mind. I’m gonna be your attorney Mr. Tommy. My name is Cindy!”

Kamis, 5 Desember 2002
Hari ini sidang terakhir. Setelah sebulan lebih menghadiri sidang sebagai pesakitan di District Court Sydney atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan, kini aku dan Brother Bahri menanti putusan hakim.  Tahu apa tuntutan jaksa? Aku dituntut tujuh tahun penjara atas tuduhan penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Brother Bahri dituntut empat tahun penjara atas tuduhan penyertaan dalam penganiayaan dan percobaan pembunuhan. Alhamdulillah, sejak pemeriksaan polisi, pemeriksaan district attorney (kejaksaan) hingga pengadilan di district court aku selalu didampingi Cindy. Wanita pengacara muda lulusan terbaik School of Law UNSW dan sebentar lagi menggaet Ph.D di bidang hukum. Dan, yang terpenting adalah, ia masih istriku secara hukum!

Cindy memang luar biasa. Kemampuan beracara-nya sangat piawai, nyaris seperti Ally McBeal. Aku nyaris tak mengenal istriku sendiri. Ah tidak. Ia bukan Ally Mc Beal. Dalam benakku, ia hampir seperti Hillary Clinton yang mati-matian membela Bill Clinton kendati sang Presiden terlibat skandal murahan di kanan kiri. Hingga Clinton-pun lolos dari impeachment. Tapi sorry, aku bukan Bill Clinton. Insya Allah aku tak gemar berskandal ria seperti Clinton. Aku hanya Tommy Firmansyah, pria Indonesia beruntung yang terdampar di hutan rimba Sydney.
Tapi Cindy memang seperti Hillary. Keduanya sama, lulusan terbaik dari sekolah hukum nomor wahid. Menjadi pengacara nomor wahid, juga di usia muda. Lihatlah betapa ia membelaku habis-habisan di pengadilan.

“Yang mulia, terdakwa harus dibebaskan dari semua tuduhan karena telah terbukti dalam persidangan ia tak sedikitpun memiliki niat untuk menganiaya ataupun membunuh. Ia hanya self defense, membela diri karena empat orang berandal menyerang masjid-nya.”

“Yang mulia, terdakwa harus dibebaskan dari semua tuduhan, pisau itu tidak digenggamnya, bukan miliknya dan tidak diarahkan untuk menusuk korban. Lihat, tak ada satupun sidik jarinya di pisau tersebut. Pisau itu menancap ke tubuh korban oleh peran korban sendiri.

“Yang mulia, ini tak adil. Terdakwa hanya membela diri dan rumah ibadahnya. Sementara keempat penyerangnya merusak rumah ibadahnya dan menyerangnya denga pisau dan double stick. Kedua terdakwa hanya melawan dengan tangan kosong. Ini tidak seimbang. Ini bela paksa. Sekarang mereka berdua jadi pesakitan, sementara sang penyerang masih bebas berkeliaran.

“Yang mulia, korban sekarang sudah sembuh dari lukanya. Ia telah bersaksi bahwa memang ia yang menyerang terlebih dahulu karena ia benci orang muslim. Ia benci semua muslim setelah tragedy WTC 11 September. Dan semakin benci setelah ratusan warga Australia tewas pada tragedi bom di Bali. Ia berfikir semua muslim adalah sama. Jahat, militan, dan kejam. Tapi, Yang Mulia, itu adalah prasangka, prejudice, kita ingat bahwa sampai kini biro investigasi federal belum dapat membuktikan bahwa pelakunya adalah muslim. Kalaupun memang benar muslim, bolehkah kita menggeneralisir? menghukum seluruh muslim di seluruh dunia atas kejahatan sekelompok radikal muslim saja yang mengatasnamakan Islam? Ini absurd, irrasional, Yang Mulia. Saya keberatan sekali. Muslim berbeda dengan Islam. Islam adalah agama peace !

“Yang Mulia, masjid bagi umat Islam adalah tempat yang sakral. Mereka memang tidak menyembah masjid, tapi masjid adalah tempat menyembah Tuhan, yang mereka panggil Allah. Sehingga menghina masjid berarti menghina Tuhan. Karena masjid adalah rumah Tuhan. Baa-itu-llah, demikian mereka menyebutnya. Mereka membela kehormatan diri sebagai seorang muslim dan seorang hamba dari Tuhannya, Allah. Justru yang lebih keji adalah para penyerangnya. Menyerang tempat ibadah adalah kejahatan HAM Yang Mulia. Crime against humanity and Gross Violation of Human Right. Kejahatan HAM berat. Mari kita simak Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Hak-Hak Politik………

Puas di’ceramahi’ Cindy, sang hakim hanya manggut-manggut saja, sambil berkata lirih..I understand. Saya akan memberikan putusan seadil-adilnya…

Dan, sekarang –lah saatnya. Saat sang hakim menjatuhkan ‘putusan seadil-adilnya.’ Setengah jam kemudian terbuktilah. Sang Hakim memang adil. Tepatnya, Allah-lah Yang Maha Adil. Karena Hakim District Court Sydney menjatuhkan putusan….

“Menyatakan kedua Terdakwa tak terbukti telah sengaja dan melawan hukum melakukan penganiayaan ataupun percobaan pembunuhan atas diri korban Billy Douglas. Menyatakan tindakan kedua terdakwa adalah semata-mata self defense. Membebaskan kedua Terdakwa dari semua tuduhan dengan Bebas murni….

Aku menangis terharu. Juga Brother Bahri. Cindy memelukku lama sekali. Pers berebutan memotret kami. Gelombang massa rasis dan ultranasionalis berteriak riuh memprotes putusan hakim. Aku bersujud syukur. Bersama Bahri. Hilang sudah kekhawatiran mendekam tujuh tahun di bui. Allah Maha Adil. Allahu Akbar !

Aku merasa seperti tokoh Cameron Poe dalam film Con Air. Tokoh US Ranger (tentara AS) yang diperankan oleh Nicholas Cage ini mendekam di bui selama delapan tahun. Sama sepertiku ia dipenjara karena membela diri dari serangan berandalan yang mengganggu istrinya. Karena ketrampilan militernya, sang penyerang tewas akibat pisau yang digenggamnya sendiri. Senjata makan tuan. Ketika dibebaskan, Cameron Poe terseret dalam pembajakan pesawat jailbird yang penuh berisi Napi kelas berat. Lewat pertarungan berat hidup mati akhirnya Poe berhasil mendaratkan pesawat yang dibajak tersebut di tengah keramaian kota Las Vegas. Jagoan memang selalu menang. Para Napi hilang atau tewas. Dan Poe keluar sebagai pahlawan.

Jum’at, 6 Desember 2002
Sydney di akhir musim semi. Tepat di sore hari 1 Syawal 1423 H. ‘Cameron Poe’ dan ‘Ally Mc Beal’ berjalan beriringan di taman seberang Gedung Opera Sydney. Di sisi barat nampak kapal perang angkatan laut Australia bersandar di dek. Di sisi utara Sydney Bridge berdiri dengan gagahnya. Di kejauhan, nampak Darling Harbour bermandi cahaya senja.

“Cindy, honey, kenapa kamu mau membela aku di pengadilan, di saat pengacara-pengacara sebangsamu menjauhi aku hanya karena aku berkulit coklat dan muslim, kamu malah menghampiriku,” tanyaku dalam bahasa Inggris yang paling santun.
“Kamu lupa, my dear Tommy. Aku masih istrimu. Kendati kita berpisah tempat berbulan lamanya, aku masih sayang sama kamu, my dear, “ Cindy menyahut mesra.

Deg! Hatiku berdebar tak karuan. “Really, Honey? Be honest ! Hanya itu?” tanyaku gelisah.
“Tidak hanya itu. Aku salut sama kamu. Kamu begitu mencintai Islam. Kamu begitu mencintai masjid. Kamu mati-matian menjaga agama kamu kendati kerap diintimidasi dan dihina. Ingat, saat pertama aku ketemu kamu di library UNSW lalu di library Krueger and Associates? Apa yang aku tanyakan? Ya aku bertanya tentang ibadah kamu. Tentang shalat kamu, kenapa kamu sujud selama lima waktu. Dan dalam lima tahun perkawinan kita, kamu tak sekalipun meninggalkan shalat. Aku malah yang jarang yang shalat.

Honestly, honey, kami ini yang sering kamu sebut sebagai ‘orang barat’ dan lebih civilized, sudah lama tak peduli lagi dengan apa yang disebut agama. Buat kami agama adalah ilusi. Formally, kami memang punya agama. Tapi dalam kenyataannya agama tak lebih dari urusan pribadi. Bukan urusan masyarakat, apalagi negara. You can’t interfere anyone’s belief. It’s a part of civil rights. Di negara ini ada dua pertanyaan yang tabu, kamu juga tahu, apa agama kamu dan apakah kamu sudah menikah. That’s pretty privacy ! oleh karena itu, jika ada orang yang nampak sangat patuh dengan ajaran agamanya kami biasanya sangat penasaran. Apa yang membuat dia sangat patuh? Apa yang membuat dia komit dengan Tuhan-nya?
Aku terharu mendengar penjelasan Cindy. Sudah lama aku ingin mendengar penuturan jujur dan terus terang seperti ini. Tak terasa guliran air mengalir pelan dari pelupuk mataku. Matahari senja 1 Syawal 1423 H bersinar semakin temaram. Tengah aku sibuk dengan segala perasaan dalam hatiku, mendadak Ian dan Nicole yang sejak tadi membuntuti kami berteriak-teriak. Mommy, Daddy, Mommy, Daddy. Look Mommy, Daddy is crying !

Cindy tersenyum haru. Ia juga menangis. Ian kembali berteriak, No Nicole ! Mommy is also crying ! Aku dan Cindy tertawa. Terimakasih ya Allah, Engkau memberiku istri dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata bagiku. Izinkan aku menjadi salah seorang pemimpin dari orang-orang bertaqwa. Rabbana hablana min azwajiina wazurriyatina qurrataa’yun waj’alna lil muttaqiina imaaama.

Aku segera merengkuh mereka bertiga dan berbisik lirih pada Cindy : thank you so much my dear, thank you so much my Ally Mc Beal. Cindy menjawab cepat : Don’t call me Ally Mc Beal anymore, sweetheart ! Panggil aku Aisyah Humaira, seperti dulu kamu selalu memanggil aku…

Taqaballahu minna wa minkum sweetheart !

Chicago, 13 November 2002

NB : Buat kawan-kawan di Sydney dan Brisbane, salam hangat dan tetap semangat, taqabalallahu minna wa minkum !

Saudara Serumpun

SAUDARA SERUMPUN

Heru Susetyo

I hate Indon !

Malingsia !

I hate Indon !

Malingsia !

I hate Indon!

Malingsia !

Demikianlah Agung dan Rashid saling bertukar sapa apabila berpapasan di kampus Thammasat University, Phra Chan, Bangkok.  Agung adalah mahasiswa Indonesiayang mendapat beasiswa pemerintah Thailanduntuk studi Master bidang Thai Studies.  Rashid adalah juga penerima beasiswa yang sama, namun ia berasal dariJohor,Malaysia.  Agung dan Rashid bak pinang dibelah dua. Ibarat kembar tidak identik. Ibarat Thompson dan Thomson dalam komik  Tintin.  Hidup di Bangkok, dimana sangat sedikit menemukan manusia berbahasa Melayu membuat mereka cepat akrab. Selalu pergi berdua kemana-mana  Apabila mereka berbeda jenis kelamin, mungkin sudah terjadi cinta lokasi.

Tapi itu dulu. Sebelum pelatih karate Indonesiadigebuki di Selangor, Malaysia. Sebelum Rasa Sayange dijadikan lagu pariwisata Malaysia. Sebelum Malaysia menerima muntahan asap dari Sumatera dan Kalimantan. Sebelum TKI tak terdaftar membanjiri dan menyulitkan pemerintah Malaysia.

Kini, Agung memandang Rashid bak maling. Dan Rashid memandang Agung bak TKI tak terdaftar yang disebut pendatang haram di Malaysia.  Diperburuk lagi dengan lahirnya situs internet www.ihateindon,com dan www.malingsia.comyang tak jelas siapa webmaster-nya.  Yang lebih jelas adalah Agung terprovokasi.  Ia tak suka disebut `Indon` yang konon berkonotasi budak.  ”Panggil aku orang Indonesia, jangan disingkat jadi `Indo` atau `Indon`.” ujar Agus penuh emosi.  Rashid juga terprovokasi. ”Janganlah awak sebut saya punya negeri Malingsia. Itu adalah bahagian daripada jinayah. Penghinaan,” tutur Rashid dalam logat Johor yang lumayan kental.

Maka `perceraian` pun terjadi. Agung dan Rashid `pisah ranjang.` Tak melalui masa iddah. Langsung talak tiga.  Tak ada lagi agenda jalan-jalan ke Mahboonkrong dan pasar Chatuchak di Sabtu siang. Tak ada lagi Shalat Jum`at bersama di Soi Jet Petchburi road. Tak ada lagi jogging bersama di Suan Lumpini setiap Ahad pagi.  Tak ada lagi agenda ber-badminton ria di KBRI Petchburi Road dan bertennis ria di Malaysian Embassy Sathorn Tai road.  Pusat Perdagangan IT dan Computer di Panthip Plaza, juga kehilangan mereka. Karena mereka emoh menginjak surga penikmat komputer ini apabila datang berduaan.

 

Kampus Thammasat University, Phra Chan Bangkok

”Para mahasiswa sekalian. Saya ada kabar gembira. Sebagai bagian dari kuliah kita, saya menugaskan anda untuk mengikuti simposium kebudayaan di beberapa negara Asia. Ini adalah momentum terbaik untuk komunikasi antar budaya setelah anda belajar budaya Thai selama dua semester,” ujar Ajarn[1]Surichai pada saat awal kuliah. Ada beberapa universitas yang mengadakan simposium pada waktu yang sama, yaitu  Kyoto di Jepang,  Shanghai di China, Kaohsiung di Taiwan, Dubai di Emirat Arab, Istanbul di Turki, Bandung di Indonesia dan Penang di Malaysia. Kalian akan berangkat dengan biaya universitas. Biaya transportasi, akomodasi, termasuk perdiem semua ditanggung universitas.  ”Puji Tuhan,” ujar Anita Chan, mahasiswa Singapura.  ”Alhamdulillah ujar Rashid.”  ”Mantap, jalan-jalan euy !” teriak Agung pelan.

Belum lagi Ajarn Surichai menuntaskan informasinya.  Agung sudah menginterupsi.  ”Ajarn, saya pilih ke Kyoto. Saya ingin melihat ibukota tua Jepang itu di musim gugur. Pasti cantik dengan banyaknya pohon yang memerah.”  Rashid tak mau kalah.  ”Ajarn Surichai, please kirim saya ke Istanbul. Saya ingin menikmati Masjid Hagia Sophia dan warisan budaya Islam abad pertengahan di Bumi Eropa.”  ”Ajarn Surichai, saya pilih Dubai, kendati Emirat Arab adalah negeri Islam, namun Dubai adalah kota termaju di dunia saat ini. Saya ingin menikmati gedung tertinggi di dunia, Burj Al Dubai. Pasti asyik memandang jazirah Arab dari ketinggian 800 meter,” tutur Anita Chan polos.

”Tidak. Saya yang memutuskan. Bukan kalian. Dan saya sudah memutuskan. Michiko-san, karena anda orang Jepang anda saya kirim ke Shanghai. Anita Chan, karena anda keturunan Tionghoa, anda saya kirim ke Kaohsiung, Taiwan. So Young Park, karena kamu orang Korea Selatan, kamu saya kirim ke Kyoto, Jepang. Hussein, karena kamu dari Yordania, kamu saya kirim ke Istanbul.  Naufal karena asli Yaman silakan pergi ke Dubai, Emirat Arab. Dan anda berdua, wahai warga Melayu, karena bahasa dan kultur anda nyaris sama silakan saling bertukar tempat.  Agung, kamu pergi ke Penang Malaysia. Dan kamu, Rashid, pergi simposium ke Bandung,”  Ajarn Surichai menjelaskan dengan tenang.

Gubrak!!! Agung seperti tertimpa meteor dari Jupiter.  ”Tapi Ajarn, saya tak ingin ke Malaysia,” protes Agung.  ”Ajarn, saya juga emoh ke Indonesia,” protes Rashid. Keduanya lalu saling bertukar pandangan sinis. ”huh!” sungut Agung kepada Rashid. ”Yikes!” balas Rashid kepada Agung sambil melotot.

”Tidak, Agung dan Rashid. Saya sudah memutuskan. Silakan kemasi barang kalian dan siap berangkat pekan depan. Hubungi Khun[2] Waraporn di kantorInternational Students untuk arrangement ticket dan akomodasi,” jawab Ajarn Surichai santai.

”I hate Indon!” sungut Rashid kepada Agung.

”Malingsia!” balas Agung tak mau kalah.

 

Bandara Bayan Lepas, Penang

Dengan langkah gagah, sedikit arogan malah, Agung siap memasuki counter imigrasi airport  Bayan Lepas, Penang. Ia mengenakan dasi dan jas. Sangat resmi. Entah terpengaruh cerita darimana. Ia sangat khawatir dianggap TKI. ”Apa pekerjaan Encik?” tanya petugas imigrasi ramah. ”I am an assistant professor in Indonesia, currently pursuing Master degree in Thailand.” Agung menjawab dalam bahasa Inggris.  Sengaja, biar dianggap intelek dan tidak disamakan dengan TKI, ujar Agung dalam hati. Tapi sejatinya ia bukan asisten professor, mana ada asisten profesor masih bergelar S1?  ”Nak berapa lama Encik Agung duduk[3] di Malaysia, untuk tujuan apa, sila dikemukakan ?”  tanya sang petugas lagi.  ”Cik, this is actually not your business to ask me such questions, anyway, let me tell you that I am an honorable guest to give speech at Universiti Sains Malaysia workshop tomorrow.”  Jawab Agung sombong.  Dan juga bohong.  Ia bukan pembicara kok. Hanya partisipan biasa. Sang petugas hanya tersenyum simpul.  “Oke Cik, ini paspor anda. Sebagai ASEAN citizen anda boleh duduk di Malaysia untuk tiga puluh hari mulai tarikh[4] sekarang.”   Agung tersenyum menang. Berlalu dengan angkuh. Tanpa berterima kasih pula. Rasain lu, ujarnya dalam hati.

Bandara Husen Sastranegara, Bandung

Rashid turun dari pesawat Airbus A320 Air Asia.  Penuh dengan  kebanggaan ia menaiki maskapai pelopor low cost carrier milikMalaysia ini.  Rasain kamu Agung, katanya dalam hati.  Kamu kePenang dengan Air Asia. Aku juga keBandung dengan Air Asia.  Keduanya pesawatMalaysia.  Mana ada pesawatIndonesia terbang ke luar negeri. Mendarat di Eropa saja dilarang.

Setelah satu kali transit di Kuala Lumpur, ia melanjutkan dengan direct flightmenuju Bandung.  Kesan pertamanya mendarat di Bandung adalah…berantakan. Bandara kok di tengah kota. Kotor. Hmmm, mereka harus melihat KL  International Airport yang super megah dan Kota baru Putrajaya yang sangat multimedia-oriented, ujar Rashid dalam hati.

“Apa pekerjaan Bapak dan untuk keperluan apa ke Bandung?” tanya petugas imigrasi ramah. Ia menggunakan bahasa Indonesia karena paham orang di depannya adalah warganegara Malaysia.  Sebenarnya Rashid ingin menjawab dalam bahasa Indonesia. Namun ia ingin meyakinkan orang di depannya bahwa ia warga negara terhormat negeri tetangga. “ I am an assistant professor. I was invited to speech at a workshop organized byPadjajaranUniversity,” Rashid menjawab dalam bahasa Inggris. Tentu saja bohong. Kata siapa ia asisten professor.  Memang di Universiti Teknologi Malaysia Skudai-Johor, ia sudah tercantum sebagai calon asisten magang. Masih magang sebagai calon asisten. Bukan Asisten Professor.

”Oh, welcome to Bandung Encik. Here is your passport,” lanjut petugas imigrasi lagi. “Thank you!” jawab Rashid penuh kemenangan.  Sebenarnya ia bisa saja menjawab `terima kasih`, namun egonya menahannya untuk mengucapkan kalimat tersebut.

Di dalam Taksi Menuju USM Penang

“Friend, please take me to USM!” ujar Agung kepada supir taksi yang menunggu di luar Bandara Bayan Lepas. Tetap menggunakan bahasa Inggris. Biar terkesan intelek. “Oh sila Bang, nak conference –kah?” supir taksi menjawab dalam bahasa Melayu. Tahu bahwa tampang penumpangnya ini tampang Melayu. “Yes I am an honorable professor from Indonesia. I was here to give speech at USM,” jawab Agung lagi. Tetap sombong. Dan tetap bohong.   “Ah, seronok sekali Encik. Saya keturunan daripada Cina, tapi saya punya famili di Jakarta, Semarang, dan Surabaya,” ujar sang supir tanpa ditanya.  Emang gua pikirin, jawab Agung dalam hati.

Belum lama beranjak dari Bayan Lepas Agung terkesiap.  Ia baru sadar bahwa sejak masuk taksi tadi sang supir tengah menikmati lagu Ada Apa Denganmudari Peterpan. Sepanjang perjalanan ia mengangguk-anggukkan kepalanya dan bersiul mengikuti suara Ariel Peterpan.  Usai, hits Peterpan diputar, ia menggantinya dengan hits Ratu. Kini ia bersiul-siul mengikuti suara Maia Ahmad dan Mulan Kwok dalam Teman Tapi Mesra (TTM). “Hey friend, why are you singing Indonesian songs, because of me?” Tanya Agung penasaran.  “Tak lah Cik, lagu Indonesia sangat famous disini. Ramai budak-budak belia[5] Malaysia senang dengan grup music daripada Indonesia.  Lebih kreatif dan enerjik. Tak sama lah dengan lagu Malaysia. Tarikh 17 Disember nanti di Menara KOMTAR (Komplek Tunku Abdul Razak –pen.) Penang akan ada perfomance dari Dewa 19. Saya nak datang lah, nak jumpa Ahmad Dhani dan Once Dewa.”  ”Hah!!!”  Agung kaget sendiri.

Di dalam Taksi Menuju Unpad Bandung

“Bro, please take me to UNPAD campus, Dipati Ukur!” ujar Rashid sesegera setelah keluar dari Bandara Husen Sastranegara. “Apa Tuan, maaf saya tak bisa bahasa Inggris. Memang Tuan bukan orang Indonesia?” kok wajah Tuan mirip orang Sunda?” tanya supir taksi polos.  Dasar Indonbahasa Inggris saja tidak bisa, sungut Rashid dalam hati.  Sementara orang Malaysia saja sekarang sudah ada yang jadi kosmonot.  Ikut misi luar angkasa Rusia Oktober lepas, tambah Rashid dalam hati.

“”Saya orang Malaysia, sekarang tolong bawa saya ke kampus UNPAD Dipati Ukur!”  jawab Rashid dalam bahasa Indonesia yang lancar. Ia menekankan betul kalimat ”Saya orang Malaysia.”  ”Oh orang Malaysia. Apa kabar Encik? Istri saya sekarang kerja di Alor Setar, Kedah. Jadi maid di rumah orang Cina.” tambah supir taksi.  ”Oh ya?” hanya itu respon Rashid. Datar.  Tak heran lah kalau Indon jadi maid, ramai Indon jadi maid di Malaysia, ujar Rashid, tentu saja dalam hati.

Selepas dari Bandara Husen Sastranegara, barulah Rashid sadar bahwa sedari tadi sang supir memutar tembang Cindai, yang dilagukan Siti Nurhaliza. Usai Cindai, Siti melantunkan lagu Jika karya Melly Goeslaw berduet dengan Ari Lasso. Usai Jika, Siti berduet dengan Ariel Peterpan dalam tembang Mungkin Nanti.  Supir Sunda ini menikmati betul suara Siti.   ”Heh Bang, jangan kerana saya daripada Malaysia, awak mainkan lagu Siti Nurhaliza!” kata Rashid geram.  ”Tak lah Cik, sebelum Encik masuk teksi saya, saya sudah setel lagu Siti. Saya penggemar berat Siti.  Dan bukan hanya saya, ribuan orang Indonesia senang dengan Siti Nurhaliza.  Kerana ia berbusana sopan dan tentu saja, cantik ala Melayu,” sergah supir taksi. “Dan asal encik tahu saja, apabila nanti Encik jumpa dengan mahasiswa UNPAD, tanya saja siapa muslimah idola mereka. Pasti mereka jawab Nurul Izzah, putri mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Abraham yang cantik namun nampak shalihah itu,”  lanjut supir taxi.  “Hah!!!”  Rashid tak percaya. Ternyata Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah lebih popular di Indonesia daripada di Malaysia.

 

Conference Room, USM – Penang

Di tengah-tengah rehat workshop, Agung duduk semeja dengan lima orang Malaysia. Mereka semua adalah dosen di USM Malaysia.  “Darimana Cik, oh dari Indonesia, apa kabar? saya juga pernah studi di ITB Bandung ketika studi sarjana  mechanical engineering dulu,”  ujar Dosen I.  “Ah dari Indonesia, piye kabare, Mas? saya punya famili di Kebumen dan Purworejo. Grandfather saya berasal dari Jawa, tapi ayah saya hijrah ke Johor, Malaysia. Hingga saya lahir di Malaysia dan jadi citizen Malaysia. Jadi maaf saya tak boleh cakap[6] bahasa Jawa,”  ujar Dosen II.  “Darimana Bang, oh Indonesia.  Gimana akhbar Dian Sastro dan Nia Ramadhani? Saya penggemar mereka kerana saya senangmovie dan Sinetron Indonesia, lebih kreatif dari film Malaysia!” tambah Dosen III.  “Darimana Pak, ah Indonesia, ahlan wasahlan fi Penang.  Saya punya dua anak sekarang belajar di pondok pesantren Gontor. Satu di Pesantren putra di Ponorogo, satu lagi di pesantren putri Mantingan, Ngawi,”  ujar Dosen IV penuh kebanggaan.   “Darimana Bang, Ah Indonesia. Saya kagum betul dengan demokrasi dan kebebasan berekspresi di Indonesia. Kami tak bebas berdemo dan unjuk rasa di Malaysia kerana ada Internal Security Act[7] (ISA),” ujar Dosen V yang juga aktivis LSM.

Ruang Konferensi UNPAD, Bandung

Usai workshop, Rashid duduk semeja dengan lima Dosen UNPAD. Berbasa-basi menunggu waktu shalat maghrib. “Darimana Kang, oh Malaysia. Apa kabar?  Saya juga alumni Malaysia. Saya studi di Universiti Sains Malaysian Penang untuk Master, dan International Islamic University Malaysia di Gombak untuk Doktor,” ujar Dosen I.  ”Darimana, Mas, oh Malaysia. Wilujeng Sumping.  Saya juga alumni Malaysia. Saya tamat Master dari UKM Malaysia bidang medical.  Satu angkatan dengan Dr. Muszaphar Shukor, kosmonot Malaysia pertama yang terbang ke luar angkasa melalui misi luar angkasa Rusia.  Hebat sekali Malaysia sudah bisa mengirim orang ke langit luar.  Indonesia sudah dua puluh tahun punya calon astronot, tapi tak kunjung berangkat dengan NASA, ” ujar Dosen II. “Darimana Pak, ah Malaysia. Selamat Datang.  “Terus terang… dosen ini berbisik di telinga Rashid lalu melanjutkan kalimatnya… “Saya adalah penggemar berat Siti Nurhaliza dan Nurul Izzah Anwar Ibrahim. Saya sempat patah hati ketika mereka menikah di usia muda.”, ujar Dosen III.  Rashid tersenyum geli lalu berkata dalam hati. Benar kata si supir taksi. Tapi ternyata tidak hanya mahasiswa, dosen-pun ternyata penggemar berat kedua puanMalaysia ini.  ”Darimana Pak, Ah Malaysia, saya sering ke Malaysia dan kagum betul dengan KLIA[8], Menara Petronas- KLCC[9], dan MRT di KL. Dahysat !”  ujar Dosen IV.  ”Where are you from, Sir, ahMalaysia. Ahlan wasahlan! Saya pengguna setia mobil Proton Malaysia di Bandung, murah tapi tangguh!” lanjut Dosen V.

 

Masjid Negeri Penang, Air Itam

Usai workshop.  Agung menunaikan shalat jama qashar di Masjid Negeri Penang, Air Itam. Agung melihat banyak jama`ah shalat menggunakan sarung Samarinda.  Juga limakelompok anak kecil sedang mengaji Al Qur`an dibimbing seorang Ustadz. Penasaran, Agung mendekati.  Ah rupanya mereka menggunakan metode Qira`ati dari Indonesia.  Ini dimana sih, Penang atau Jakarta? Agung jadi bingung sendiri.

 

Masjid UNPAD, Dipati Ukur

Usai workshop, Rashid menunaikan shalat jama qashar di masjid UNPAD, Dipati Ukur. Usai shalat, sayup-sayup didengarnya satu grup mahasiswa berlatih Nasyid Raihan dengan riangnya.  Demi Masa, Ashabul Kafhi, Senyum, dan sederet Nasyid Raihan mereka lafazkan dengan lancarnya. Seusai Raihan, mereka melantunkan nasyid Secerah Pewarna dari The Dzikr Al Arqam. Juga dengan lancar.  Raihan dan The Dzikr-Al Arqam adalah dua grup nasyid dariMalaysia yang kini sudah mulai jarang dilagukan oleh mahasiswaMalaysia.  Rashid jadi ragu sendiri,  benarkah aku sekarang sedang diBandung?

 

Flight Air Asia Penang-Bangkok

Di dalam Boeing 737-400 yang membawanya ke Bangkok.  Tiba-tiba Agung merasa malu jadi orang Indonesia.  Pesawat yang membawanya di-delay take off selama enam jam karena bandara diliputi asap pekat. Tanpa bertanya pada siapapun Agung sudah tahu bahwa asap tersebut berasal dari pembakaran hutan di Sumatera.  Ia lebih malu lagi ketika buang air kecil di tandas (toilet) bandara.  Karena ia menjumpai banyak kata-kata jorok dan vulgar dalam bahasa Indonesia dituliskan di pintu tandas. Menyediakan cewek-lah, gigolo lah, dan lain-lain. Dan ia yakin penulisnya orang Indonesia, karena bahasa yang digunakan khas Jakarta dan juga khas Medan.  Dan ia semakin malu ketika membaca kepingan berita di koran Utusan Malaysia yang berbahasa Melayu. ”Banjir besar terjadi di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, Indonesia.  Kerajaan Malaysia mengirim tim medis daripada jabatan kesihatan aam dan daripada Bulan Sabit Merah Malaysia untuk menolong mangsa[10] banjir di Jakarta dan sekitarnya.

 

Flight Air Asia Bandung-Kuala Lumpur-Bangkok

Di dalam Airbus A 320 yang mengantarnya ke Bangkok. Tiba-tiba Rashid jadi malu sebagai orang Malaysia.  Shame on me!, ujarnya berulangkali.  Ia baru saja membaca Koran REPUBLIKA  bahwa ada banyak TKW Indonesia yang pulang ke Indonesia dalam keadaan babak belur. Disiksa oleh majikannya di Kuching, Johor, ataupun Penang.  Razia pasukan RELA (polisi swasta Malaysia) juga semakin ganas.  Mereka tak segan menangkap dan menyiksa orang Indonesia. Sering terjadi kasus salah tangkap. Dikira TKI ternyata pelajar ataupun eksekutif Indonesia.  Dan Rashid menjadi semakin malu ketika pada koran yang sama ia menemukan berita :  “Banjir besar terjadi di Johor, Pahang, dan Kelantan. Korban tewas puluhan orang. Pemerintah Indonesia dan Palang Merah Indonesia mengirimkan Tim Medis, obat-obatan dan bantuan sandang pangan untuk menolong  korban banjir”

 

Bandara Suvarnabhumi, Bangkok

Agung bertemu Rashid di ruang pengambilan bagasi bandara Suvarnabhumi. Pesawat Agung dari Penang berselisih sepuluh menit saja dengan pesawat Rashid dari Kuala Lumpur.  Awalnya mereka sama-sama kaget dan ingin membuang muka. Namun tak sempat lagi karena sudah begitu dekat. Akhirnya mereka sama-sama berucap, ”Assalamualaikum, sawasdee khap, sabay dee may?[11].

Mereka tertawa sendiri karena mengatakan kalimat yang sama secara bersamaan. Selanjutnya mereka berbasi-basi sejenak sebelum akhirnya Agung berkata jujur : ”Rashid, ternyata Malaysia tak begitu buruk. Aku bertemu banyak orang baik di Penang. Malaysia memang Truly Asia.”  ”Sama, Gung, Indonesia juga tak begitu buruk. Aku merasa feel at home di Bandung. Indonesia memang Bhinneka Tunggal Ika,” Rashid berkata sama jujurnya .  ”Kalau begitu, bagaimana kalau kita ”pacaran” lagi nih?” tantang Agus. ”Siapa takut?” jawab Rashid sambil terbahak dan menonjok bahu sahabatnya itu.

”I hate Indon!”  Teriak Agung.

”Malingsia!”  Balas Rashid.

Tak jelas,siapa orang Indonesia dan siapa orang Malaysia.

Mahidol, Salaya 20 Desember 2007

NB : Salam hangat untuk teman-teman Malaysia di Penang


[1] Professor

[2] Tuan/ Nyonya

[3] Tinggal/ tidur

[4] tanggal

[5] Anak-anak muda

[6] Tak bisa berbahasa

[7] Undang-Undang Anti Teroris/ Keamanan NasionalMalaysia

[8] KLIA : Kuala Lumpur International Airport

[9] KLCC :

[10] Korban

[11] Assalamualaikum, hallo, apa kabar?

 

Road to Mandalay

ROAD TO MANDALAY
Catatan Perjalanan Myanmar 2009
By : Heru Susetyo

By the old Moulmein Pagoda, lookin’ eastward to the sea,
There’s a Burma girl a-settin’, and I know she thinks o’ me;
For the wind is in the palm-trees, and the temple-bells they say:

“Come you back, you British soldier; come you back to Mandalay!”
Come you back to Mandalay,
Where the old Flotilla lay:
Can’t you ‘ear their paddles chunkin’ from Rangoon to Mandalay?
On the road to Mandalay,
Where the flyin’-fishes play,
An’ the dawn comes up like thunder outer China ‘cross the Bay!

(Road to Mandalay, Rudyard Kipling)

Apa persamaan antara Bajaj dengan Myanmar? Perbedaannya jelas, yang satu alat transportasi umum di Jakarta dan yang lainnya Negara di bilangan Asia Tenggara. Persamaannya? Sama-sama misterius. Bajaj ataupun supir Bajaj tak diketahui kapan akan mengerem, memacu, memutar, dan berbelok. Myanmar juga sama, lebih dari 60 tahun merdeka dari jajahan Inggris, tapi pengetahuan orang tentang Myanmar (dulu Burma atau Birma) tak jauh dari U Nu (PM Pertama), U Thant (Sekjen PBB dari Myanmar), Rangoon (kini bernama Yangoon, mantan Ibukota Myanmar sebelum pindah ke Naypidaw), dan Aung San Suu Kyi (tokoh perlawanan legendaris Myanmar, putra Bogyoke Aung San, pendiri Myanmar).

Belakangan, memori orang tentang Myanmar tertuju melulu kepada dua peristiwa tragis, masing-masing topan alias Cyclone Nargis yang menghantam Irawady Division dan Yangoon dan menelan ribuan jiwa, serta terusirnya etnis minoritas Rohingya dari Northern Rakhine State karena rezim militer Jenderal Than Shwee tak kunjung mengakui mereka sebagai warga Negara Myanmar (stateless persons).

Maka, Bajaj di Jakarta jauh lebih beruntung. Kendati pendapatan supir bajaj jauh dari cukup, namun sebagian publik Jakarta, tetap merindukan kendaraan jingga boros asap ini untuk menempuh perjalanan jarak dekat. Benci tapi rindu.

Dua tahun terakhir eksistensi etnis Rohingya mulai menyita perhatian ASEAN dan juga masyarakat Indonesia. Utamanya ketika sebagian dari mereka terdampar di Laut Andaman, Samudera Hindia hingga Selat Melaka dalam rangka mencari suaka karena terusir dari tanah air mereka, Myanmar.

Selain etnis minoritas Rohingya, satu sisi gelap Myanmar yang jarang diketahui publik adalah eksistensi masyarakat muslim non Rohingya yang ternyata berjumlah cukup banyak.

Begitu menjejakkan kaki di Yangoon setelah menempuh perjalanan udara dari Bangkok dengan Air Asia, dengan mudah mata saya menemukan sejumlah masjid di Yangoon. Tak hanya masjid, ada juga restoran halal India lengkap dengan nasi Biryani-nya, samosa, dan lain-lain.

Terus terang, pemandangan seperti itu sukar ditemukan di Ibukota Mekong River States lainnya seperti Vientiene (Lao PDR), Hanoi (Vietnam), dan Phnom Penh (Cambodia). Hanya Bangkok ibukota Thailand yang mengalahkan Yangoon dalam banyaknya jumlah masjid.

Dan ternyata tak hanya di Yangoon, kota terbesar dan mantan Ibukota Myanmar, muslim dan masjid juga terserak di Mandalay Division, provinsi indah yang terletak di Myanmar bagian tengah.

Perjalanan menuju Myanmar bisa ditempuh dengan tiga cara. Via sungai melalui Irrawaddy atau Ayyeyarwady river, jalan darat, ataupun udara. Bagi penyuka backpacking dan traveling, dua cara di depan bolehlah ditempuh. Apalagi bumi Myanmar amatlah indah. Bagi yang tak suka dengan perjalananan panjang dan lama (jalanan di Myanmar tidak lebih baik dari Indonesia dan bis –pun berjalan lambat, perjalanan udara dari Yangoon ke Mandalay boleh jadi pilihan.

Menggunakan jasa transportasi udara di Myanmar seperti kembali ke Indonesia di tahun 1970-an. Maskapai penerbangan dan jumlah pesawat amat sedikit. Pesawat lebih banyak yang berbaling-baling seperti ATR 72 ketimbang bermesin jet seperti Airbus atau Boeing 737. Beberapa airlines yang terkenal antara lain Air Bagan, Myanmar Airways, Myanmar Airways International, Yangoon Airways, dan Air Mandalay. Dan jangan samakan jumlah armada pesawat mereka seperti yang dimiliki Garuda, Singapore Airlines ataupun Thai Airways. Paling banyak jumlah pesawat mereka adalah lima buah, termasuk yang berbaling-baling tentunya.

Sama halnya dengan bandara, bandara international Yangoon tak lebih baik dari Bandara Kelas II di Indonesia. Apalagi terminal domestiknya. Amat memprihatinkan. WC-nya penuh kotoran, tak ada fasilitas pengiriman bagasi dari check in counter ke pesawat (dan sebaliknya) selain tenaga manusia (bagasi kita didorong dan diseret). Tak ada pula kursi tersedia di terminal bagian luar. Walhasil, sebelum calon penumpang masuk ke terminal, mereka menunggu di emperan jalan sambil jongkok, karena pintu belum lagi terbuka di subuh hari tersebut dan tak ada kursi tersedia di pelataran bandara.

Terminal Internasional Yangoon Airport sedikit lebih baik, namun counter imigrasinya cukup aneh. Ada dua orang yang melayani di setiap counter. Satu mengecek dan memverifikasi dan yang lainnya memberikan stamp. Petugas imigrasinya menggunakan baju hijau, persis tentara. Lucunya, airport tax yang dibayarkan bagi outgoing passengers, lebih disukai apabila dalam bentuk US $ Dollar dan tidak lecek.

Dengan menumpang ATR 72 Air Bagan, di pagi hari tersebut saya menuju Mandalay. Di tengah jalan pesawat sempat transit di Naypidhaw, ibukota baru Myanmar, untuk menurunkan sejumlah pejabat dan tentara, tanpa memberitahukan dulu kepada penumpang. Maka, dengan entengnya saya keluar pesawat dan berjalan meninggalkan pesawat. Belakangan saya sadar, kok airport ini sepi sekali, tak ada pesawat dan bangunan apapun selain terminal. Airport-nya pun seperti masih baru. Karena penasaran saya tanya seorang opsir, dan dia bilang ini memang belum Mandalay ! gubrakk ! sekali-sekalinya seumur hidup saya turun dari pesawat di bandara bukan tujuan.

Ajaibnya, Airport Mandalay jauh lebih cantik dan modern dari Airport Yangoon. Ada garbarata yang menyambungkan terminal ke pesawat (walaupun tak terpakai karena pesawat jarang mendarat dan biaya mengoperasikannya mahal). Kecantikan dan kemegahan yang mubazir. Ruangan-pun agak gelap karena lampu-lampu tak dinyalakan semua. Pengiritan listrik barangkali. Toiletnya ditunggui oleh cleaning service yang berbaju tak seperti CS. Tissue tak tersedia di wastafel atau tergantung di dinding, melainkan diberikan langsung oleh sang cleaning service.

Disamping itu, banyak dijumpai porter ngganggur. Karena jarang pesawat mendarat dan tak ramai penumpang yang memerlukan jasa pengangkat barang. Agak mirip dengan bandara Soekarno Hatta. Bedanya di bandara Soeta frekuensi penerbangannya jauh lebih banyak

Bumi Mandalay sendiri mirip dengan Sulawesi atau Kalimantan. Tanah pertanian, hutan, pegunungan, danau dan sungai bergeletakkan dimana-mana. Jalan dari bandara Mandalay ke Mandalay city jauh dari mulus, malah dipenuhi oleh sapi, gerobak, sepeda, mobil-mobil era 70-an. Mobil seperta Toyota DX, Corolla GL, Nissan Sunny, era 70 – 80-an masih amat mudah ditemui di Mandalay. Belum lagi Mazda kotak sabun RX 600 produksi tahun 1960-an. Di Indonesia mobil ‘culun’ ini nyaris masuk museum. Di Mandalay malah jadi angkutan umum, semacam angkot di Indonesia dengan ukuran seluas bemo sahaja.

Betul, sepertinya sepeda adalah moda transportasi utama di Mandalay. Dimana-mana orang bersepeda, tua muda, laki perempuan. Untuk keperluan bersekolah, pergi dan pulang kerja, dan urusan apapun. Bukan semata-mata karena mereka hobi bersepeda, namun karena penduduknya relatif miskin dan tak mampu membeli motor apalagi mobil. Sepedanya-pun tidak bermerk Federal atau Wim Cycle, tapi mirip sepeda jengki yang digunakan di Jawa pada zaman penjajahan doeloe.

Bagaimana dengan kehidupan warga muslimnya? Inilah ajaibnya Mandalay. Di antara Negara-negara Mekong River States (kecuali Thailand Selatan tentunya), terdapat 52 masjid di Mandalay City dan 6 masjid di kota indah di sisi timurnya Pyin Oo Lwin (sampai saat ini saya masih gagal melafazkan nama kota tersebut dengan benar, anda bisa?). Keterangan ini disampaikan oleh Muhammad Yusuf, seorang imam masjid keturunan Tionghoa yang kami jumpai di Masjid Pyin Oo Lwin. “There are eight lakh (80.000) muslim in Mandalay city and another two lakh (sama dengan 20.000) in Pyin Oo Lwin,” tambah Imam Muhammad Yusuf dengan ramah.

Kota Mandalay indah di waktu siang, namun gelap di waktu malam. Kendati ia kota nomor dua terbesar di Myanmar (seperti halnya Surabaya di Indonesia atau Chiang Mai di Thailand) dengan keramaian dan kepadatan penduduk yang lumayan, namun di malam hari seperti kota mati. Penerangan jalan umum amat minim. Pasokan listrik amat terbatas. Listrik nyala sebentar untuk kemudian mati. Tak heran, hampir di seluruh fasilitas publik (hotel, toko, masjid) sampai rumah pribadi, selalu tersedia genset di muka rumahnya. Suara genset bersahut-sahutan menjadi menu lain dari malam hari di Mandalay.

Masjid di Mandalay city amat banyak. Dari hotel tempat kami menginap, dalam radius satu kilometer tak kurang kami menemukan enam buah masjid. Ukurannya –pun benar-benar berukuran masjid (bukan seperti mushalla yang tak dipakai untuk shalat Jum’at). Beberapa bahkan sangat megah dan berusia lumayan lanjut.

Penamaan dan penomoran jalan di Mandalay sepertinya mengadopsi sistem di Amrik. Pemukiman dipetak-petak dan diblok-blok ala persegi panjang dan jalan dinomori secara sederhana seperti 1st street, 2nd street, 3rd street dan seterusnya. Nah, masjid-masjid tersebut terletak hampir di setiap jalan atau berselang seling dua atau tiga jalan.

Jama’ah masjid rata-rata berwajah seperti orang Bengali (Bangladesh dan sekitarnya), kulit agak hitam tapi tidak legam. walaupun tidak berarti mereka etnis Rohingya (yang memang keturunan Bengali). Ada juga yang keturunan Tionghoa, seperti Imam Muhammad Yusuf di Pyin Oo Lwin, juga yang berwajah Melayu. Jangan salah, orang Burma banyak yang berwajah layaknya orang Melayu. Dua teman Burma saya dan para petugas hotel tempat saya menginap di Yangoon mengatakan wajah saya mirip orang Burma. Dan mereka percaya ketika saya bilang : “I am Burmese but can not speak Burmese.”

Penasaran ingin tahu model shalat di Mandalay? saya mencoba ikut shalat di empat masjid berbeda di radius satu kilometer dari penginapan saya. Dua kali shalat jama’ah di waktu Isya dan Subuh, dan dua kali shalat sendiri karena sudah di luar waktu shalat jama’ah.

Rata-rata jama’ah masjid mengenakan busana yang serius untuk pergi ke masjid. Bergamis putih, atau baju model Pakistan – India yang panjangnya selutut plus celana panjang dengan warna senada, ada juga yang mengenakan sarung. Jarak antara waktu adzan dengan shalat jama’ah cukup lama, sekitar tiga puluh menit. Menunggu jama’ah berkumpul dahulu, barangkali. Jama’ah pun tak bersuara keras menyuarakan ‘amin’ ketika imam usai membaca Al Fatihah. Berbeda sekali dengan shalat jama’ah model Indonesia dimana para jama’ah mengumandangkan ‘amin’ dengan lantang, apalagi anak-anak..

Mencari makanan halal juga tidak terlalu sulit di Mandalay. Mau versi mahal atau murah tersedia semua. Saya sendiri pilih versi murah, yaitu kedai halal di pinggir jalan yang cukup mudah dikenali dari stiker Allah, Muhammad, Bismillah, ataupun kaligrafi yang bertempelan di dinding.

Menu apa yang tersedia? Karena tak tersedia menu dalam bahasa Inggris, semuanya dalam bahasa Myanmar, maka melulu saya makan nasi goreng. Rasanya dahsyat. Terkesan dibuat sembarangan namun mak nyus. Untuk minum saya pilih Teh. Terus terang teh Mandalay amat nikmat. Berkali-kali saya meminumnya tanpa gula. Apalagi gelasnya memang ukuran mini, maka segelas saja tak cukup untuk membasahi tenggorokan. Sayangnya, orang Myanmar punya kebiasaan mengunyah sirih hingga mulutnya merah, dan membuang muntahan sirih merah tersebut dengan sembarangan saja. Termasuk di kedai saya. Kenikmatan memangsa nasi goring Mandalay sedikit terganggu dengan pemandangan orang meludah sirih dan sisa sirih merah di sekitar kedai.

Tapi sebutan kedai halal hanya namanya saja, karena sajian hiburannya ternyata ‘kurang halal’. Beberapa kali saya disuguhi tayangan teve dengan program utama lagu dan tarian Bollywood dalam bahasa India. Semua tamu, termasuk banyak anak kecil, tampak memelototi layar. Apalagi para pelantun dan penari-penarinya memang berwajah cantik dan berbusana pas-pasan pula. Tampaknya tayangan Bollywood tersebut memang jadi jualan dan salah satu daya tarik utama kedai disana. Bagaimana tidak, teve-nya berlayar lebar dan pengeras suara yang digunakan bisa terdengar hingga puluhan meter jauhnya. Padahal, tak jelas betul apakah mereka memahami bahasa India (Hindi) atau tidak.

Tapi lagi, tak semua muslim Mandalay ala Muslim Bollywood. Di Pyin Oo Lwin, kota cantik di dataran tinggi timur Mandalay yang dulu merupakan ibukota musim panas British Burma, dan dapat ditempuh dalam 2 – 3 jam dari Mandalay City, tersedia enam masjid dan satu pondok penghafal qur’an (tahfidzul qur’an). Ada juga satu kedai halal persis di samping masjid jami yang terletak di jalan utama (downtown) Pyin Oo Lwin. Uniknya, kedai ini dikelola oleh muslim keturunan Tionghoa. Berbeda dengan di Mandalay city yang kebanyakan dikelola oleh muslim berparas Bengali.

Di Pyin Oo Lwin juga saya bertemu dengan seorang muslim berhati malaikat. Namanya Kamrun. Dia bilang dalam bahasa Arab nama dia sepadan dengan Kamaruddin. Kamrun adalah penjual barang antik bernilai tinggi di pasar Pyin Oo Lwin. Semua barang dijual Kamrun. You name it. Uang dan koin kuno, senjata tajam, buku dan foto-foto masa silam, peta jaman dahulu, dan ribuan barang-barang antik lainnya. Customer-nya bukan orang setempat, tapi banyak dari Thailand bahkan Inggris. Maklum, kota sejuk di puncak gunung ini adalah mantan summer capital British Burma era kolonial silam.

Tapi bukan itu saja keistimewaan Kamrun, ia amat lancar berbahasa Inggris dan amat ramah. Bertemu sekali di masjid jami Pyin Oo Lwin, langsung ia mengantar saya mencari kendaraan pulang ke airport. Bercerita banyak tentang pekerjaan dan kotanya. Termasuk mengoleh-olehi saya mata uang kuno Myanmar. Tak ingin mengecewakannya, sayapun tertarik untuk membeli setrika besi kuno ukuran mini yang ditawarkan ke saya dengan harga amat murah. “I got it from villager around here Brother, you will not easily find it in other areas,” tukasnya.

Kepada Kamrun, Sayapun bercerita tentang kehidupan muslim di Indonesia. Bahwasanya muslimah di Indonesia pergi shalat ke masjid juga, tidak hanya yang laki-laki. Apa komentarnya? “Muslim’s belief in Indonesia is so strange,”. Karena di Mandalay, tak umum perempuan shalat di masjid.

Akhirnya, di penghujung perjumpaan kami, saat saya mesti mengejar sedan yang akan mengantar saya balik ke Mandalay Airport, Kamrun mendekap erat saya disaksikan Omar, salah seorang pekerjanya. Dengan lirih ia mengatakan : “Allah hafidz Brother…”