Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2013

INVESTASI UNTUK NYAWA MANUSIA

 

Heru Susetyo

Mahasiswa Program Doktor Human Rights and Peace Studies

Mahidol University, Thailand

 

 

“Semua dimulai dari penghargaan terhadap nyawa, ketika suatu nyawa mulai kurang dihargai, akan sering berujung pada musibah seluruh bangsa…”  (Kofi Annan)

 

 

Di bulan Februari 2008 ini publik Indonesia seperti tertampar keras.  Seorang anak SD bunuh diri di Magetan karena tak kuasa menahan sakit akibat kelaparan. Di Makassar, seorang Ibu hamil dan anaknya juga meninggal dunia. Karena kelaparan. Otoritas setempat membantah bahwa ihwal matinya mereka karena penyakit biasa. Apapun sebabnya, faktanya mereka telah mati.

 

Februari 2008, negeri jiran Singapura juga diguncang duka. Ah Meng, orang utan kelahiran Sumatra dan telah menetap di kebun binatang Singapura sejak tahun 1971 meninggal pada Jum`at 8 Februari 2008.  Primata berusia 46 tahun yang memiliki empat anak dan enam cucu ini begitu dicintai rakyat republik pulau ini. Ia adalah figur non manusia paling populer yang kerap tampil di film, media cetak, mendampingi tamu negara, bahkan menjadi duta pariwisata Singapura.

 

Negeri jiran yang lain, Australia, memiliki keprihatinan yang sama. Di awal Februari ini, di lautan Antartika, penangkapan ikan paus untuk keperluan ilmiah oleh kapal riset Jepang menuai perseteruan diplomatik antara Jepang dan Australia. Petugas bea cukai Australia mengambil gambar penangkapan tersebut dan tak lama kemudian foto-foto eksklusifnya beredar ke mancanegara. Jepang luar biasa marah dan mengatakan bahwa tindakan tersebut dapat berdampak pada hubungan diplomatik kedua Negara.  Australia sebaliknya mengatakan bahwa penangkapan tersebut adalah isu lingkungan hidup yang amat serius.

 

Di Thailand, Plai Sampran, seekor gajah berusia enam tahun terluka kakinya karena terjebak perangkap pemburu di daerah Chachoengsao. Luka biasa, namun media massa nasional menganggap peristiwa tersebut luar biasa. Kisah sang gajah ditransfer ke rumah sakit khusus di daerah Lampang Thailand menjadi berita tersendiri (The Nation, 21/01/08).

 

Ketiga cuplikan peristiwa nyata di atas adalah contoh betapa rakyat di belahan dunia lain begitu menghargai nyawa. Tak sekedar nyawa manusia. Juga nyawa hewan.

 

Jangan lagi ditanya tentang penghargaan terhadap nyawa manusia.  Pada 6 Februari 2008, Manchester United, klub sepakbola tersohor Inggris memperingati lima puluh tahun tewasnya Busby Babes, delapan pemain bola klub tersebut yang tewas karena kecelakaan pesawat di Munich, Jerman.  Lima puluh tahun berselang. Orang tetap berduka. Orang tetap ingat. Orang tetap bersedih dan berdo`a.

 

Sama halnya dengan peristiwa tewasnya lima wartawan asal Australia, Inggris, dan New Zealand pada 16 Oktober 1975 di Timor Leste. Lebih dari tiga puluh dua tahun berselang,  peristiwa tersebut tetap dikenang. Bahkan otoritas di Australia tetap menyelidiki pihak yang dianggap bertanggungjawab. Mantan Gubernur Sutiyoso-pun sempat merasakan getahnya. Ketika tengah berkunjung ke Sydney pada akhir Mei 2007, kamar hotelnya dimasuki polisi federal yang mengantarkan surat perintah menghadap Pengadilan Coroner New South Wales. Ia dianggap turut bertanggungjawab sebagai salah seorang komandan militer di Timor Leste ketika itu.

 

Harga sebuah nyawa, tak pandang manusia tak pandang binatang memang demikian bermakna. Mereka yang pergi tak dilupakan. Mereka yang masih hidup tak meniadakan yang telah mati. Bagaimana halnya dengan Indonesia?

 

 

Nilai Nyawa di Indonesia

Enam puluh dua tahun merdeka. Dalam hal penghargaan terhadap nyawa manusia,  Indonesia saat ini nyaris belum berubah dari Indonesia di masa lalu. Nyawa manusia belum mendapat perhatian serius. Manusia Indonesia mati satu ataupun ratusan ribu nyaris tak ada bedanya.

 

Terlepas dari perihal takdir, banyak manusia Indonesia tewas karena sebab-sebab yang sebenarnya dapat diantisipasi. Apabila wajah kematian yang dominan di Februari ini adalah akibat kelaparan, maka Indonesia di akhir tahun 90-an dan awal milenium baru ditandai dengan tewasnya sejumlah besar anak bangsa akibat konflik sosial berlatar belakang etnis maupun agama. Ribuan nyawa melayang di Sambas, Sampit, Poso, Ambon, Halmahera Utara, hingga Aceh. Sedihnya, kematian tersebut nyaris tak bermakna apa-apa. Hanya sedikit pelaku kejahatan kemanusiaan tersebut yang nasibnya berujung di pengadilan. Padahal hingga kini para korban dan pengungsi masih hidup terlunta-lunta.

 

Setelah musim konflik sosial mereda, bencana alam dan bencana akibat peran manusia apakah bernama kecelakaan ataupun bencana teknologi bergantian mendera bangsa. Setelah tsunami, gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, maka terjadi pula bencana lumpur Lapindo diselingi kecelakaan transportasi disana sini. Apakah kecelakaan pesawat, kapal laut, kereta api hingga mobil dan motor.

 

Kecelakaan tak terjadi dengan sendirinya. Pesawat jatuh di berbagai tempat karena usianya sudah tua, pemeliharaan kurang baik, dan pemakaiannya terlalu diforsir. Kapal penumpang tenggelam di berbagai tempat karena penuh muatan ataupun karena piranti keselamatan yang minim atau bahkan tak tersedia. Musibah kereta api banyak terjadi karena minimnya piranti keselamatan kereta api dan longgarnya kedisiplinan penumpang maupun awak kereta. Awal Februari ini, sebuah panser amfibi tenggelam di lepas pantai Situbondo. Menewaskan tujuh prajurit marinir TNI AL. Informasi awal menyebutkan bahwa panser tenggelam karena usianya sudah tua. Lebih dari empat puluh tahun.

 

Tak salah kalau Andre Vitchek (Jakarta Post, 3/02/08) menyebutkan bahwa Indonesia adalah ibarat raksasa yang tenggelam (the sinking giant). Banjir Jakarta di awal Februari yang turut membenamkan mobil kepresidenan Presiden SBY, adalah dampak dari apresiasi yang rendah terhadap nyawa manusia dan pembangunan manusia (human development).  Vitchek menyebutkan bahwa tidak seperti kota-kota besar di Asia Tenggara yang telah banyak berinvestasi untuk transportasi publik, penyediaan taman dan tempat bermain, trotoar, dan pembangunan wahana-wahana kultural seperti museum, gedung konser ataupun gedung pertemuan,  Jakarta tetaplah secara brutal membangun wilayah kotanya mengikuti selera pasar dengan tujuan mengejar profit sebanyak mungkin (pro market and profit-driven). Tak peduli banyak warganya yang masih miskin.

 

Pendatang baru yang tiba di Jakarta akan heran melihat minimnya sarana publik di Jakarta. Sukar menemukan taman, ruang hijau, toilet gratis, ataupun air minum gratis.  Ruang hijau yang tersisa akan sesegera mungkin berubah menjadi lapangan golf ataupun mal dan department store.  Bangkok, Hanoi, dan Port Moresby di Papua New Guinea bukanlah kota-kota modern. Namun di kota-kota tersebut warga mudah mengakses taman, tempat bermain, toilet, trotoar untuk pejalan kaki ataupun air minum gratis.

 

 

Ketahanan Nasional dan Keamanan Manusia

Nyawa manusia sedikit banyak terkait dengan masalah keamanan. Dan Indonesia sudah sejak lama memiliki doktrin keamanan nasional. Sayangnya, sedari awal paradigma keamanan tersebut belum banyak menaruh perhatian pada keamanan rakyat sebagai individu. Konsepsi ketahanan nasional (national resilience), sebagai doktrin keamanan nasional Indonesia (national security)  terlalu memusatkan perhatian pada negara (state-centered) sedangkan rakyat hanya salah satu  komponen dari negara.  Dari segi komprehensifitasnya sebenarnya doktrin ini sudah mumpuni, karena komponennya tidak sekedar pertahanan keamanan, namun juga Ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya.  Namun tetap saja, titik dominan pada konsepsi ketahanan nasional adalah keamanan militer (military security).

 

Padahal, sudah sejak tahun 1980-an paradigma keamanan dunia sudah melebar. Tak lagi sekedar keamanan militer namun juga keamanan ekonomi dan keamanan lingkungan. Bahkan UNDP, badan PBB yang memiliki mandat di bidang pembangunan, pada tahun 1994 melalui laporannya mempopulerkan istilah keamanan manusia (human security). Dimana pengertian keamanan dipandang secara luas. Tidak hanya keamanan militer namun juga keamanan ekonomi (economic security), pangan (food security), lingkungan (environmental security), kesehatan (health security), keamanan individu (personal security) keamanan kelompok budaya (community security) dan keamanan politik (political security).

 

Berdasarkan konsepsi human security, titik tolak keamanan mestilah bertolak pada sisi manusia (people-centered security) dan tidak melulu pada negara apalagi militer. Konsepsi ini juga menekankan perlunya keseimbangan antara kebutuhan untuk bebas dari rasa takut (freedom from fear) dan kebutuhan untuk bebas berkeinginan (freedom from want). Dalam arti, keamanan dalam pendekatan hankam dan militer amat penting supaya rakyat bebas dari rasa takut. Namun juga rakyat harus terjamin keinginannya, apakah dalam wilayah ekonomi, pangan, kesehatan, lingkungan, dan keamanan selaku individu maupun  komunitas.

 

Khususnya dalam hal keselamatan manusia, konsepsi human security menaruh perhatian pada keamanan manusia secara fisik, apakah dari ancaman kekerasan maupun kejahatan (personal security), juga keselamatan dari bencana alam dan bencana teknologi (environmental security).

 

 

Investasi untuk Nyawa Manusia

Saatnya kini untuk memperluas makna keamanan nasional dengan menjangkau aspek human security. Saatnya kini berinvestasi untuk nyawa manusia. Saatnya kini untuk menitiberatkan pembangunan pada pembangunan manusia (human development) dan pembangunan yang berlandaskan hak-hak manusia (rights-based development).

 

Investasi disini tak sekedar dalam ukuran kapital ekonomi-perdagangan, namun juga investasi di bidang sosial, kesehatan, pembangunan budaya, pendidikan, fasilitas umum-sosial, hingga teknologi. Pada tahun 2002 – 2003, pembelanjaan Indonesia di bidang pendidikan hanya berkisar 1.2.% dan untuk kesehatan juga 1.2 % dari GDP-nya. Sementara itu pembelanjaan militer berkisar 1.5 %.   Pada saat yang sama pembelanjaan pendidikan negeri jiran Malaysia adalah 8.1.%, Thailand 5.2. % dan Philippina adalah 3.1. dari GDP-nya.  Tak heran Indonesia menempati urutan ke 110 dalam indeks HDI (Human Development Index) 2005 yang antara lain meliputi wilayah pendidikan, kesehatan dan  ekonomi (UNDP, 2005).

 

Pembangunan militer dan mengejar keuntungan materiil amat penting. Namun menjadi tak ada artinya ketika mengorbankan subyek dan obyek utama dari pembangunan, yaitu manusia Indonesia. Kofi Annan, mantan Sekjen PBB pernah mengatakan : ”kemanusiaan takkan dapat menikmati keamanan tanpa pembangunan, ataupun takkan dapat menikmati pembangunan tanpa keamanan, dan keduanya takkan tercapai tanpa penghargaan terhadap hak-hak manusia…”.

 

Semoga takkan pernah lagi ada manusia Indonesia yang mati karena kelaparan.

Read Full Post »

MEDIA SEBAGAI PELAKU VIKTIMISASI

Heru Susetyo

 

Staf Pengajar Viktimologi Fakultas Hukum Universitas Indonesia/

Executive Committee World Society of Victimology

 

 Gatra edisi 30 Januari 2013 mengangkat berita menarik tentang lemahnya kode etik jurnalistik dalam perlindungan hak-hak korban kasus kekerasan seksual.   Bahwasanya pemberitaan terhadap kasus kejahatan seksual yang mestinya hati-hati seringkali diabaikan oleh praktisi media.   Berita yang ‘seksi’ dan ‘kontroversial’ seringkali diumbar . Media terjebak pada sensasionalisme sehingga keluar dari substansi mengedukasi publik.

 

Maka, ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan nasib korban kejahatan ini adalah  sudah jatuh tertimpa tangga.  Sudah menderita karena dirampok, dianiaya, dipukul, disiksa ataupun diperkosa,  tak jarang pula mengalami viktimisasi berulang (double victimization). Pelakunya bisa masyarakat umum.  Bisa pula oknum penegak hukum di kepolisian, kejaksaan, hingga di pengadilan.  Juga media,  karena tak jarang media, alih-alih menyiarkan informasi yang sehat,  malah mengeksploitasi penderitaan sang korban ataupun saksi.

 

Pengalaman berbeda dialami oleh korban kejahatan di India.   Paling tidak untuk seorang gadis korban perkosaan di bus di New Delhi.  Pada tanggal 16 Desember 2012 ia diperkosa oleh beberapa pria di atas bus ketika pulang malam dengan teman pria-nya.  Sang gadis dianiaya dan lalu dibuang di jalan.  Dua pekan kemudian ia meninggal dunia di satu RS di Singapore. 

Tragis. Dan juga membangkitkan amarah publik.  Kemarahan seluruh negeri tepatnya.  Berbagai aksi dan demonstrasi dilakukan.  Parlemen, pemerintah dan penegak hukum dikritisi.  Setelah itu terjadi pembenahan cepat.  Polisi berbenah diri dengan menambah jumlah dan piket polisi perempuan di setiap kantor polisi.  Pada rute bus yang rawan kejahatan ditugaskan polisi yang menyamar untuk mengawal perjalanan. Aparat transportasi publik berbenah diri.  Awak kendaraan umum harus memiliki ID card yang jelas dan terdaftar.   Lalu CCTV dipasang di dalam bus. Serta semua sekolah dihimbau untuk tidak men-charter bus apabila perusahaan tak terdaftar dan awak bus-nya tidak jelas.

 

Hebatnya.   Dari kesemua aksi dan reaksi tersebut,  media massa, apakah cetak, online ataupun media penyiaran sama sekali tidak menampilkan foto ataupun nama korban. Publik hanya tahu bahwa ia adalah seorang mahasiswi jurusan kesehatan di New Delhi, usia 23 tahun…lain tidak. 

 

Berbeda halnya dengan media massa di Indonesia.  Hampir dalam semua jenis kejahatan,  termasuk kejahatan seksual sekalipun, yang mestinya harus ekstra hati-hati pemberitaannya, baik tersangka pelaku, korban, ataupun saksi seringkali diekspos secara berlebihan.

 

Sekarang semua orang tahu siapa Maharani Suciyono, gadis muda yang terseret dalam kasus dugaan korupsi dalam penentuan quota impor sapi.  Sebagian membincangkannya dengan serius, sebagian dengan nada memperolok dan mencandainya.   Yang jelas, semuanya tak menguntungkan Maharani.

 

Sekarang hampir semua orang juga marah dengan Jamal, supir angkot yang membawa mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan UI, Annisa Azward, yang meloncat ketika angkot tengah berlari cepat namun melenceng dari rutenya,  pada 6 Februari 2013 di Jembatan Asemka, Jakarta Barat.  Akhirnya nyawa Annisa tak tertolong.   Liputan media yang berlebihan terhadap Jamal, tanpa mem-blurred wajahnya, tanpa menyingkat namanya dengan inisial tertentu,  melahirkan pengadilan opini terhadap Jamal.   Pengadilan media sudah menjatuhkan vonis terhadap Jamal jauh sebelum pengadilan hukum bekerja.

 

Yang terparah adalah liputan terhadap tersangka teroris.  Tidak sekali dua kali media massa, utamanya televisi, disengaja atau tidak, melakukan ‘viktimisasi berulang’ kepada tersangka teroris ataupun keluarganya.  Dalam beberapa kali operasi melabrak tersangka teroris tak jarang media disertakan (ini juga mengherankan, mengapa aparat menjadi narsis begini?) .  Entah kemudian sang tersangka tewas ataupun masih hidup, liputan tak berhenti sampai disitu.  Apabila ia hidup maka ia akan dikejar untuk diwawancarai dan seringkali namanya ditulis lengkap, bukan nama alias, bukan pula inisial.   Tak cukup sampai disitu, keluarganya juga akan dikejar.  Istri, anak, ayah, ibu hingga tetangga sekitar.   Sama terhadap sang tersangka,  ekspos terhadap keluarga juga seringkali amat  lengkap dengan menyebut nama keluarga, tempat tinggal berikut fotonya.

 

Selanjutnya mudah ditebak.   Masyarakat pembaca dan masyarakat penonton media mudah sekali menyimpulkan. Mudah memberi stigma dan label.  Keluarga tersangka teroris dianggap sebagai teroris juga.  Mayat tersangka teroris ditolak untuk dikuburkan di daerah tertentu oleh masyarakat setempat. Dan semua ini tentunya membuat tidak nyaman para istri dan anak-anak tersangka.  Tidak jarang mereka harus pindah rumah atau merubah identitas supaya tidak mendapatkan viktimisasi dari masyarakat sekitar.  Viktimisasi dan label yang bisa melekat sepanjang hidup : istri teroris dan anak teroris…

 

Tidak kalah serunya adalah persidangan perkara korupsi.  Tidak sedikit media menayangkan sidang-sidang besar macam Nazaruddin, Angelina Sondakh dan Anggodo Widjojo.  Kamera foto dan kamera film serta alat perekam mudah masuk ke ruang sidang.  Setiap saat dan setiap waktu berita di-update.  Masyarakat menikmati liputan tersebut dan lantas beropini sendiri.  Putusan hakim masih lama dijatuhkan, namun masyarakat sudah menjatuhkan vonisnya sendiri.   Sebagai perbandingan,  pada banyak persidangan di negeri barat,  kamera sama sekali tak boleh masuk ruang sidang.  Suasana sidang dan personil yang terlibat di dalamnya hanya digambar atau disketsa saja.

 

Memang, adalah amat penting untuk memberikan informasi yang lengkap dan luas kepada  masyarakat. Agar masyarat melek informasi. Dan memang adalah tugas dari praktisi media dan insan pers untuk menginformasikan.  Masalahnya adalah, tidak jarang liputan dan ekspos dari media justru membuat para tersangka, korban dan saksi mengalami viktimisasi berulang.   Mereka sudah mengalami kerugian dan penderitaan karena menjadi tersangka, korban ataupun saksi, namun masih pula mengalami ancaman penderitaan tambahan (viktimisasi) dari masyarakat dan media yang sudah memberikan opini, label dan stigma kepada mereka,  jauh sebelum palu hakim diketok.

 

Sejatinya rambu-rambu dan koridor untuk menangkal bahaya viktimisasi tersebut telah tersedia.  Yaitu Kode Etik Jurnalistik dan P3SPS alias dua Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tahun 2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS).

 

Kode Etik Jurnalistik tahun 2006  antara lain menyebutkan bahwa wartawan haruslah menunjukkan sikap profesionalisme,  antara lain dengan menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto,  tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan. 

 Sementara itu P3SPS menyebutkan bahwa dalam peliputan terorisme  lembaga penyiaran wajib menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi secara lengkap dan benar;  namun juga  tidak melakukan labelisasi berdasarkan suku, agama, ras, dan/atau antargolongan terhadap pelaku, kerabat, dan/atau kelompok yang diduga terlibat; dan  tidak membuka dan/atau mendramatisir identitas kerabat pelaku yang diduga terlibat.

Lalu, lembaga penyiaran  tidak boleh mewawancarai anak-anak dan/atau remaja berusia di bawah umur 18 tahun mengenai hal-hal di luar kapasitas mereka untuk menjawabnya, seperti: kematian, perceraian, perselingkuhan orangtua dan keluarga, serta kekerasan, konflik, dan bencana yang menimbulkan dampak traumatik.    Serta, wajib mempertimbangkan keamanan dan masa depan anak-anak dan/ atau remaja yang menjadi narasumber; dan wajib menyamarkan identitas anak-anak dan/atau remaja dalam peristiwa dan/atau penegakan hukum, baik sebagai pelaku maupun korban.

 Memang, kode etik dan pedoman penyiaran hanyalah bertaji di wilayah etik dan administratif.  Kurang sakti untuk memaksa praktisi dan insan media untuk betul-betul mentaatinya secara hukum.  Disamping itu,  sebagian masyarakat sendiri, harus diakui, senang dengan berita yang lebay, sensasional dan menabrak wilayah privat individu,  tanpa berfikir bahwa liputan tersebut berdampak buruk terhadap korban dan saksi.  Singkatnya, masih cukup panjang jalan yang harus ditempuh untuk menuju media dan masyarakat yang sehat tanpa viktimisasi berulang. 

Read Full Post »

BERNEGOSIASI DENGAN BABI DAN UDARA DINGIN

Tribute to Indonesian Women Migrant Workers in Macau SAR

Shelter itu sejatinya adalah sebuah apartemen sederhana.  Berada di lantai lima di salah satu rumah bertingkat di Rua Silva Mendes.   Tetangga kiri kanannya adalah warga Macau (dapat diidentifikasi dari perangkat sembahyang yang digeletakkan di luar).   Tak ada pemanas ruangan juga tak ada hot water pada shower di kamar mandi.  Padahal winter di Macau lumayan sangar. Di bawah 10 derajat Celcius.  Maka, sayapun duduk merinding dan berharap matahari segara muncul.  Maklum salah kostum.

Hebatnya, teman-teman BMI (Buruh Migran Indonesia) atau bahasa kasarnya TKI/ TKW, bisa survive dalam keadaan seperti itu.  Tak hanya satu, ada sekitar enam penghuni tetap dan beberapa penghuni tetap lainnya yang datang dan pergi.  Maklum, namanya juga shelter, alias tempat penampungan sementara.

Hampir semua penghuni shelter adalah pekerja part time di rumah tangga keluarga Macau. Pagi hingga malam hari mereka bekerja sebagai domestic workers ataupun helper, dan malam hari pulang ke shelter tersebut.   Selain penghuni tetap, ada beberapa tamu yang pulang dan pergi.  Sebagian adalah mereka yang menunggu visa kerja ke Hongkong, menunggu kontrak baru dengan majikan, ataupun yang bermasalah karena urusan imigrasi, ekonomi, dan lain-lain.

Macau seringkali menjadi tempat persinggahan sementara apabila para pekerja yang sebelumnya bekerja di Hongkong kontraknya usai ataupun visanya expired.  Karena, visa habis berarti mereka tak dapat lagi tinggal secara legal di Hongkong.  Pulang ke Indonesia biaya mahal, maka alternatifnya, selagi menunggu visa dan kontrak kerja baru, adalah pergi ke Macau SAR.  Negeri mantan koloni Portugis, yang memiliki status serupa Hongkong yaitu Special Autonomous Region dari RRC.  Mengapa Macau?  Karena negeri ini hanya berjarak 60km dari Hongkong dan dapat ditempuh dari Hongkong dengan ferry dalam waktu sejam saja.   Sebenarnya RRC (mainland China) lebih mudah diakses dari Hongkong, karena berbatasan darat langsung, namun untuk memasuki RRC memerlukan visa khusus.  Sedangkan, Macau, seperti halnya Hongkong, menerapkan policy bebas visa untuk kunjungan kurang dari 30 hari bagi WNI.

Kebanyakan BMI yang menghuni shelter MATIM (Majelis Taklim Indonesia Macau) berasal dari pulau Jawa, utamanya Jawa Timur dan Jawa Tengah.  Ada beberapa Mbak-Mbak BMI dari Jawa Barat maupun luar Jawa, namun jumlahnya tak dominan.  Maka, bahasa Jawa adalah bahasa yang paling banyak digunakan di shelter selain bahasa Cantonese.

Bahasa Cantonese?  Ya, inilah yang membuat kami salut.  Hampir semua BMI di Macau dapat berbahasa Cantonese, bahasa yang sehari-hari digunakan di Hongkong dan Macau.  Kendati logatnya berbau Jawa, namun tetap di telinga kami mereka bertutur Cantonese dengan lancar.  Kadang diantara teman-teman Indonesia mereka bercakap-cakap dalam bahasa Cantonese.  Padahal, amat sedikit dari mereka yang pernah duduk di bangku kuliah, pun yang pernah belajar bahasa Cantonese secara khusus.  Kebanyakan belajar bahasa tersebut secara singkat di Indonesia (PJTKI) ataupun bisa dengan sendirinya karena paksaan kondisi dan tinggal dengan keluarga China Macau.

Shelter tersebut dikelola oleh MATIM,  suatu pengajian yang dibina oleh seorang Ustadz Indonesia di Hongkong dan juga Dompet Dhuafa.   Tak sekedar shelter, ia juga adalah tempat pengajian dan pembinaan keagamaan. Setiap hari diadakan shalat jama’ah dengan imam bergantian. Bahkan, setiap hari Ahad, hari libur mereka, ada pengajian rutin, belajar Iqra, belajar menjahit dan computer, dan lain sebagainya.

Pendapatan mereka memang tidak besar untuk ukuran Macau.  Namun terbilang besar untuk ukuran Indonesia.  Rata-rata gaji minimalnya adalah 3000 MOP (Macau Pataca). Ada pula yang bekerja di dua rumah tangga (anak dan orangtua) sehingga mendapat gaji 5000 MOP (1 MOP = Rp 1200,-).  Kondisi kerja mereka relatif baik, dibandingkan dengan sesama BMI di Timur Tengah ataupun Malaysia yang kerap mengalami penderitaan.

Kendati demikian, tinggal dan bekerja di luar negeri bukanlah cita-cita mereka.  “Saya bertahan untuk bekerja disini Pak, dua anak saya sekolah di satu perguruan tinggi swasta di Purwokerto, kalau saya pulang mereka tak bisa bayar kuliah lagi.  Ayah mereka sudah almarhum sejak anak nomor dua berusia empatbelas bulan, karena kecelakaan,”  ujar Ibu Y.

“Saya lama tinggal di luar negeri.  Tiga tahun di Malaysia, empat tahun di Singapura, delapan tahun di Hongkong, dan sekarang sudah tahun keempat di Macau,”  tambah Ibu Y lagi.

“Sama Pak, saya juga sudah lama disini.  Sekarang saya nunggu visa untuk kontrak kerja baru di Hongkong. Sudah Sembilan tahun saya kerja di Hongkong. Saya lulus S1 Teknik Sipil dari satu PTS di Jakarta. Tapi saya kerja di rumahtangga lho Pak, bukan sebagai engineer.   Inginnya sih saya kerja di company, tapi sejak awal kontrak saya di Hongkong sebagai domestic worker, mau bilang apa,”  tutur Mbak A.

Rata-rata para BMI di Macau memang pernah punya pengalaman kerja di Hongkong atau di negeri lain seperti Malaysia, Singapore, dan Timur Tengah.  Ibu L bercerita bahwa ia pernah bekerja selama delapan tahun di Saudi Arabia.  “Saya sudah pernah tinggal hampir di semua kota di Saudi Arabia, mengikuti majikan saya yang Dokter.  Alhamdulillah saya sudah pergi haji dan berkali-kali umrah.  Tapi disana saya tak bisa keluar rumah Pak.  Saya tak pernah belanja karena semua keperluan rumah dibelikan oleh majikan laki.  Di Macau sini lebih bebas.  Gaji lumayan, tapi ya nggak bisa lihat Mekkah,”  tambah Ibu L polos.

Apa hal terberat menjalani hidup selaku domestic helper di Macau?  “terus terang kita nggak mengalami banyak masalah, Pak, hanya suka kagok saja kalau harus masak daging babi.  Kita nggak bisa nolak wong kerja sama majikan.  Saya sering belanja daging babi, mencuci, hingga memasaknya.  Tapi jangan tanya gimana rasanya wong saya sedikitpun tak pernah mencicipi. Saya bilang sama majikan, okelah saya masak daging babi tapi saya takkan pernah mencicipinya, jadi tolong jangan tanyakan saya bagaimana rasa masakan saya,” ujar Ibu Y lugas.

“Dulu pertama-tama, saya selalu membasuh tangan tujuh kali untuk menghilangkan najis daging babi tersebut.  Tapi sekarang ada sabun khusus dari Malaysia, namanya sabun Thaharah, yang bisa menghilangkan najis tersebut. Jadi saya cukup menggunakan sabun tersebut. Tapi memang harganya agak mahal.

Untuk ibadah sehari-hari, rata-rata teman-teman BMI ini tak mendapati kesulitan.  Hanya saja disini sulit menemukan masjid.   Menurut informasi mereka, hanya ada satu masjid di Macau yang sekaligus menyediakan tanah untuk pekuburan (muslim cemetery).  Sayangnya, ketika kami kesana, masjid digembok dan ditutup.  Tak bisa melihat selain dari kejauhan. Memandang luas tanah dan asri pepohonannya lengkap dengan tanah pekuburannya.   Seram? Tidak sama sekali wong masjid ini berlokasi di kawasan padat, di seberang public school dan tak jauh dari tepi laUt. Konon,  Imam masjid ini adalah seorang pria keturunan Indonesia yang menikah dengan wanita Pakistan.

Macau memang berbeda dengan Hongkong.  Kendati sama-sama merupakan Special Administrative Region dari PRC/ RRC, namun sejarahnya berbeda.  Macau adalah mantan koloni Portugal/ Portugis sedangkan Hongkong adalah mantan koloni Inggris. Macau kembali bergabung dengan RRC dan menjadi SAR sejak tahun 1999, sedangkan Hongkong sejak 1997.  Di Hongkong takkan ditemukan papan penunjuk jalan dan berbagai macam informasi public dalam bahasa Portugis.  Macau menggunakan mata ulang Macau Patacas (MOP) sedangkan Hongkong dengan Hongkong Dollar (HKD). Nilai tukar keduanya dengan USD tak berbeda jauh.  1 USD adalah berkisar 100 HKD dan 103 MOP.   Mengenai bahasa, kedua negeri ini sama-sama menggunakan bahasa Cantonese.  Bahasa yang berbeda dengan bahasa nasional RRC, yaitu Mandarin.

Di Hongkong masjid dan tempat makan halal tersedia lebih banyak. Negerinya lebih luas dan dinamika kehidupannya lebih terasa.  Macau jauh lebih kecil dari Hongkong.  Hanya seluas 29.2 km2 dengan penduduk hanya 541.000 jiwa (tahun 2009).   Macau SAR terdiri atas tiga region, masing-masing Macau City yang melekat dengan mainland China, lalu Taipa Island dan Coloane Island.  Belakangan antara Taipa dan Coloane Island sudah tak berjarak lagi karena pemisah antara keduanya telah direklamasi.

Denyut nadi Macau sepertinya memang terletak pada bisnis perjudian alias Casino. Begitu banyak casino berukuran dahsyat dan mewah serta megah.  Transportasi dari dan ke Casino dari terminal bus diberikan cuma-Cuma.  Dengan bus super mewah, pelancong ataupun penjudi bebas melenggang ke Casino-casino ngetop seperti The Venetians, City of Dreams, Wynn, Sands, Grand Lisboa, dan lain sebagainya.  Tak salah kalau negeri ini kerap disebut surga para penjudi.

Pekerja migran Indonesia di Macau tak banyak. Berkisar 3700 – 4000 jiwa saja.  Bandingkan dengan di Hongkong yang berkisar 140.000 jiwa.  Sayangnya, tak ada konsulat permanen Indonesia di Macau. KJRI hanya ada di Hongkong yang membuka special branch-nya di Macau konon untuk dua hari  saja setiap pekan.

Kendati sedikit, teman-teman BMI ini cukup solid dan berhimpun dalam beberapa organisasi.  Ada yang bersifat kedaerahan, ada juga yang keagamaan.  Selain MATIM, wadah organisasi muslimah BMI lainnya adalah HALIMAH.

Yang luar biasa, kendati hidup jauh dari anak dan suami, dari orang tua dan kerabat, kedinginan di musim dingin dan kepanasan di musim panas, para BMI di MATIM tetap istiqomah.  Tetap beribadah, mengaji dan saling berbagi ilmu dan ketrampilan.  Lalu, mereka juga amat menghargai tamu, dalam kunjungan singkat kami ke MATIM, sedikitpun kami dilarang mengeluarkan uang dan dilarang menginjak dapur.  Alias biaya akomodasi, transportasi, dan makanan semua mereka tanggung.  Membersihkan dan mencuci piring sehabis makan dilarang keras. Saya jadi tak enak, saya paham bahwa mereka bukanlah orang yang sangat berada dan berpunya, namun izzah dan keinginan memuliakan tamunya luar biasa. Padahal, saya tak pernah mengenal mereka, tak berhubungan darah, keluarga, ataupun perkawinan. Pun, tak mengkontak mereka secara langsung, hanya via SMS dan email dengan seorang rekan di Hongkong yang kenal dengan mereka.

Salam hormat teman-teman BMI di Macau, semoga Allah SWT meringankan jalan dan ikhtiar suci teman-teman sekalian…

Salaya,  200110

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

RAMADHAN DI YALA DAN NARATHIWAT :

Antara Petai, Nasi Kerabu, Sarung, dan Askar

Oleh : Heru Susetyo

 

Anak-anak kecil berlarian menuju masjid. Ibu-ibu bermukena putih berjalan perlahan menuju surau terdekat. Kaum Bapak dan para pemuda tampak mengobrol sambil minum air es dan teh tarik. Beberapa diantaranya tampak asyik merokok. Mereka asyik mengobrol. Entah bicara politik, konflik, ataupun sekedar berdiskusi besok hendak makan apa. Inilah suasana setelah berbuka puasa (buke poso dalam bahasa setempat) dan menjelang shalat Isya di Raman, distrik kecil di timur kotaYala, Thailand Selatan.

 

Ketika adzan berkumandang (sungguh senang mendengar ada adzan berkumandang di negeri Thailand), semua kegiatan praktis terhenti. Langkah-langkah orang menuju masjid semakin banyak. Hampir semua kaum pria mengenakan kalau tidak sarung dan baju lengan panjang, ya baju gamis berwarna putih. Lengkap dengan peci haji ataupun sorban. Kaum Ibu rata-rata mengenakan mukena putih. Busana remaja putri bervariasi, dari yang mengenakan mukena putih, berjilbab dengan tangan pendek, yang berjilbab lebar, hingga yang mengenakan cadar hitam atau berwarna gelap, semua ada.

 

Shalat Isya-pun berjalan. Setelah Isya ada sedikit ceramah dalam bahasa Melayu setempat (Melayu Kampong atau Melayu Patani dalam istilah mereka). Agak mirip dengan bahasa Melayu di Malaysia atau Indonesia tapi pengucapannya berbeda. Misalnya, dalam bahasa setempat, `pergi` diucapkan sebagai `gi`, `beri` sebagai `wi`, `tidak` adalah `do`, `datang` adalah `mari`, `makan` disebut `make` dan lain-lain.

 

Berbeda halnya dengan langgam khutbah dalam shalat Jum`at. Dari dua shalat Jum`at yang kami hadiri di Patani dan di Masjid Narathiwat, khatib menyampaikan khutbah dalam bahasa Melayu ala Malaysia. Maka, untuk telinga Indonesia, versi Melayu ini lebih mudah dicerna. Sebaliknya bagi warga setempat, mereka malah tak semua akrab dengan bahasa Melayu ala Malaysia. Apa pasal? ”Ini karena sebagian besar buku-buku khutbah Jum`at berasal dari Malaysia, juga ada semacam keyakinan khotib bahwa bahasa Melayu yang baik untuk khutbah adalah dalam langgam tersebut. Padahal, tidak semua jama`ah memahaminya,” cerita Zakaria, warga asli Narathiwat.

 

Shalat tarawih di Yala bervariasi.  Ada masjid yang memilih 23 rakaat, ada juga yang 11 rakaat. Di Masjid Jami Yala, shalat tarawih berlangsung 23 rakaat. Jamaah yang menganut 11 rakaat tertib keluar dari masjid setelah tarawih menginjak rakaat ke -8. Sementara yang menganut 23 rakaat memilih tetap melanjutkan shalat. Di lokasi yang lain, Di masjid pondok Nahdhatul Ulum tarawih berlangsung 11 rakaat. Namun, bacaan shalat-nya amat panjang. Sekitar 10 menit dihabiskan sang imam untuk rakaat pertama. Tak heran, sang Imam memang hafidz qur`an alumni Al Azhar Kairo. Maka, kendati kaki terasa bengkak namun alhamdulillah tetap bisa bertahan hingga rakaat akhir karena bacaannya begitu indah dan menyentuh.

 

Dan ini memang bagian mengagumkan dari muslim di Thailand Selatan. Untuk ukuran tiga propinsi kecil dengan jumlah penduduk muslim tidak lebih banyak dari DKI Jakarta, mereka memiliki cukup banyak penghafal Al Qur`an (hafidz). Banyak imam dan ulama setempat yang pernah menempuh pendidikan Islam di Mesir, Saudi Arabia, dan Pakistan, disamping Malaysia, dan juga di Indonesia. Pondok-pondok dan madrasah Al Qur`an banyak didirikan di ketiga propinsi ini. Sebagian pondok mengadopsi metode pembelajaran ala Qira`ati yang cukup populer di Indonesia.  ”Saya belajar langsung ke tempat pembelajaran Qira`ati di Jawa Tengah, alhamdulillah sejak metode ini diperkenalkan, anak-anak kecil di Thailand Selatan banyak yang sudah bisa baca tulis Al Qur`an pada usia mudah,” ujar Ustadz Abdullah, pengasuh pondok qiraati di Patani.

 

Hal lain yang menarik dari tradisi beribadah warga muslim Thailand Selatan adalah kebiasaan mereka untuk berbusana terbaik ketika melaksanakan shalat. Busana minimal yang mereka kenakan untuk kaum pria adalah kemeja tangan panjang, baju koko/ teluk belanga dan sarung (yang kebanyakan sarung produksi Indonesia juga). Peci haji tak pernah lepas dari kepala mereka. Sebagian jamaah yang lain bahkan lebih `serius` lagi, mengenakan baju gamis putih ataupun warna lainnya lengkap dengan peci haji ataupun sorban. Amat jarang menemukan jama`ah shalat yang mengenakan t-shirt dan celana jeans. Maka, ketika kami melaksanakan shalat dengan celana camping dan kemeja lapangan, sepertinya menjadi tontonan jama`ah, karena telah `salah kostum` dan akhirnya menjadi `mati gaya.`

 

Situasi agak berbeda berlangsung ketika makan sahur dan itikaf.  Untuk berdiam diri di masjid sepanjang malam dalam rangka ber-itikaf sambil makan sahur bersama, adalah persoalan besar bagi sebagian muslim di Thailand Selatan. Persoalannya bukanlah karena mereka tidak ingin itikaf, namun lebih kepada masalah keamanan dan keselamatan. Bagaimanapun konflik masih terus berlangsung dan Yala, Narathiwat dan Patani masih berstatus `red alert`. ”Saya khawatir apabila pulang menjelang subuh dari masjid untuk makan sahur di rumah akan ditangkap askar (tentara –pen.), kerana askar sentiasa berpatroli dan memonitor orang yang hilir mudik di sekitar masjid,” ujar Anwar, seorang mahasiswa dan aktivis LSM di Yala.

 

Persoalan kedua adalah keamanan masjid sendiri. Memang masjid di tiga propinsi selatan ini tidak sampai dibakar ataupun dibom (walaupun pernah juga terjadi penyerangan terhadap Masjid Krue Se di Patani pada 28 April 2004 karena dianggap dijadikan basis `pemberontak`), namun serangan lain dalam bentuk pelemparan daging babi ke masjid kerap terjadi. ”Dua hari silam masjid di Pondok Nahdhatul Ulum dilempari daging babi entah oleh siapa. Dugaan kami adalah sebagai balas dendam dari kelompok tertentu karena sebelumnya terjadi pembunuhan terhadap seorang Thai Buddhist oleh kelompok tak dikenal,” tutur Soleh Talek, pengurus pondok alumni Karachi Pakistan, sekaligus Dekan Ilmu Sains dan Teknologi di Yala Islamic University.

 

Waktu berbuka puasa adalah keindahan yang lain. Gubernur Yala, Abdul Kadir, satu-satunya Gubernur muslim di Thailand, selalu menyediakan makanan setiap harinya di kediamannya, persis di pusat kota Yala. Setiap warga boleh datang dan turut menyantap makanan. Kendati mesti melewati metal detector yang dijaga tentara dan mengisi buku tamu, iftaar ini tetap berlangsung menarik. Acara berlangsung secara open air, di pelataran kediaman Sang Gubernur. Dengan memasang tenda dan melengkapinya dengan kursi-kursi dan meja yang ditata seperti di tempat resepsi, buka bersama ini terasa berbeda. Sayangnya, hari itu sang gubernur tak ikut hadir, karena hampir setiap hari ia berkeliling untuk berbuka puasa di distrik yang berbeda-beda. Namun alhamdulilah sang Ibu Gubernur turut hadir. Ibu ini, yang juga fasih berbahasa Melayu logat Malaysia, nampak sederhana. Jauh dari penampilan khas ibu-ibu pejabat.  Hanya mengenakan jilbab dengan kaos kuning tangan panjang, dan celana jeans. Turut mendampingi sang Ibu adalah Deputi Gubernur Yala, seorang Thai Buddhist namun amat pandai menempatkan dirinya sebagai pejabat di daerah mayoritas muslim. Iapun tampil sederhana, hanya mengenakan polo t-shirt berwarna pink dan celana jeans. Sama sekali tak nampak sebagai orang nomor dua di propinsi ini.

 

Menu buka puasa disini cukup beragam. Yang pasti adalah air es (heran juga, mengapa orang Thai sangat suka meminum air putih es di segala tempat dan segala waktu), kemudian ada agar-agar, ikan, ayam, capcay, dan tentu saja tom yam kung. Hebatnya, beberapa teman Thai yang duduk di sebelah kami enteng saja mencampur agar-agar dengan nasi dan tom yam kung untuk dimakan bersama-sama.

 

Setelah buka puasa, acara dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamaah di gedung Palang Merah (Red Cross) yang berlokasi di kediaman Gubernur Yala. Uniknya, semua berlangsung tanpa komando, tanpa MC dan protokoler. Setelah datang, mencari kursi, lalu makan, dan akhirnya shalat lalu pulang ke tempat masing-masing tanpa sedikitpun aba-aba dari MC.

 

Buke Poso yang agak berbeda berlangsung di muka kantor Young Muslim Association of Thailand (YMAT) cabang Yala.  Acara berlangsung lebih sederhana. Sekitar 200 orang anak yatim hadir dalam kesempatan ini disamping undangan dari tokoh-tokoh muslim dan aktivis YMAT setempat. Kaum pria duduk di kursi-kursi yang tertata di bawah tenda. Kaum wanita di dalam ruangan. Mereka mengenakan busana muslimah bervariasi. Dari berjilbab dengan lengan pendek, hingga jilbab lebar dan banyak pula yang bercadar.

 

Makanan juga nampak sederhana. Sebelum makan besar, ta`jilnya adalah berupa roti dengan bubur kacang campur daging. Sepintas aneh juga makan roti yang dioleskan dengan bubur kacang campur daging. Tapi lama kelamaan terasa enak juga, aroi mak mak

 

Selain roti, di meja makan turut terhidang petai mentah dan telur. Terus terang kami bingung, bagaimana memadukan antara petai mentah, telur, dan roti bubur kacang?  Ternyata jawabannya lahir setelah shalat maghrib. Petai dan telur dimakan bersama nasi kerabu. Nasi kerabu adalah nasi bercampur kelapa (ulam) dan ikan kembung. Nasi ini mudah ditemukan juga di Kelantan Malaysia. Rasanya? Subhanallah, dahsyat juga. Apalagi kalau dicampur dengan petai dan telur.

 

Kami baru tahu bahwa Thailand Selatan punya kultur ber-petai ria juga. Sama dengan warga Sunda di Jawa Barat. Bedanya barangkali di Thai Selatan orang lebih suka memangsanya mentah-mentah, sedangkan di bumi Pasundan bervariasi apakah mentah, digoreng, ataupun dibakar. Kamipun sempat diberi oleh-oleh `asinan` petai oleh penduduk setempat. Semula sang Ibu menawarkan apabila kami ingin `petai jeruk`. Kami salah sangka dan mengartikannya sebagai `air jeruk`. Maka tanpa ragu-ragu langsung mengiyakan. Ternyata petai jeruk adalah `asinan petai` dalam jumlah besar yang dimasukkan dalam botol coca cola 1000ml dan kami yakini telah berusia cukup lama. Karena begitu tutup botol dibuka air petainya langsung muncrat dan menyebarkan aroma yang dahsyat (bisa dibayangkan kan bagaimana kalau ratusan petai berhimpun dalam satu botol yang diberi air dan tak dibuka dalam waktu lama?).

 

Ramadhan di Yala dan Narathiwat adalah sebagaimana Ramadhan di ranah Melayu yang lain. Sahur, buka puasa, dan tarawih mereka adalah sebagaimana di bumi Melayu yang lain juga. Menu makanan dan ta`jil memang mesti berbeda, namun di luar itu, aura-nya nyaris sama. Satu hal yang berbeda adalah, mereka mesti menjalani ibadah Ramadhan ini di tengah kegelisahan, ketakutan, dan kekalutan identitas. Akibat konflik laten yang telah memangsa saudara dan keluarga mereka bertahun-tahun lamanya.  Setiap saat bom bisa meledak, setiap waktu ada saja orang diculik dan dibunuh, setiap sudut ada askar dan polisi berpatroli dengan panzer, humvee, mobil pick-up ataupun helikopter.

 

Azan dan tilawatil qur`an menggema di bumi Darussalam ini bersamaan dengan desingan peluru, ledakan bom, dan tangisan kaum hawa dan anak-anak belia. Memang, tidak seseram konflik di Jalur Gaza dan Tepi Barat, namun juga tidak senyaman dan senikmat Ramadhan di negeri jirannya, Indonesia dan Malaysia…

Wallahua`lam

23 Ramadhan 1429 H

 

 

Read Full Post »

« Newer Posts