Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘A Walk to Remember’ Category

Materi Presentasi Heru Susetyo ttg Kiat2 Beroleh Beasiswa :

KULIAH GRATIS KE LUAR NEGERI MAU – Heru Susetyo

Read Full Post »

Read Full Post »

DUKA ETNIS ROHINGYA :

“JANGANKAN BERMIMPI TENTANG MASA DEPAN

MEMIKIRKAN HARI ESOK SAJA KAMI TAK BERANI”

 

By : Heru Susetyo

 Siang hari di awal Agustus 2012 itu Tokyo begitu terik.  Apalagi di lantai 4 bangunan bertingkat di dekat stasiun KA Shin Okubo, di barat Tokyo..  Ruangan  yang dikenal sebagai Islamic Center Shin Okubo itu menempati area yang kecil saja.  Tak ada AC, hanya kipas angin berkapasitas kecil.  Di lantai dua-nya ada toko kelontong dan makanan yang menjual produk-produk halal.  Banyak muslim berwajah Burma dan Asia Selatan lalu-lalang keluar masuk masjid dan toko tersebut.

 Di tempat yang lazim disebut sebagai ‘Masjid Burma” itu kami berjumpa dengan Zaw Min Htut, pemimpin orang Rohingya di Jepang atau lazim disebut sebagai President of Burmese Rohingya Association in Japan (BRAJ).  Kendati dikenal sebagai tokoh Rohingya, Zaw atau biasa dipanggil Lukman Hakim adalah pemuda 30-an yang berwajah klimis.  Jauh dari citra garang pemimpin pergerakan ala Che Guevarra atau Fidel Castro, misalnya.

Kendati demikian, gurat wajahnya dan kelam matanya menyiratkan bahwa Zaw sudah lama berkubang dalam penderitaan. “Saya sudah limabelas tahun meninggalkan Myanmar, dan saya tak bisa pulang sampai hari ini,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang amat fasih.  “Dua bulan lalu ayah saya wafat, dan saya tetap tak bisa pulang, hanya mendoakannya dari kejauhan,” tutur Zaw dengan tabah.

“Saya meninggalkan Myanmar pada tahun 1998 ketika tengah studi di universitas di Yangoon (d/h Rangoon). Ketika itu ada aksi mahasiswa yang memprotes penguasa.  Saya termasuk pimpinan mahasiswa yang diburu tentara. Sehingga saya melarikan diri dan akhirnya berlabuh di Jepang dengan menyandang status sebagai pengungsi,” papar Zaw.

“Bagaimana saya meninggalkan Myanmar? Terus terang saya tergolong sedikit dari orang Rohingya yang beruntung bisa sekolah di Yangoon. Orangtua saya tergolong mampu dan mempunyai beberapa properti. Dengan modal tersebut saya bisa sekolah di Yangoon dan menjadi aktifis mahasiswa. Untuk alasan keamanan dan supaya mudah mendapatkan passport, saya juga harus menukar nama muslim saya menjadi nama Burma (Zaw Min Htut) dan berpura-pura seolah-olah bukan orang Rohingya.”

“Lalu, dengan modal passport palsu tersebut saya keluar Myanmar dan akhirnya berlabuh ke Jepang. Teman-teman saya, aktifis Rohingya yang lain, kebanyakan melarikan diri melalui Malaysia untuk kemudian ke negara ketiga yang mau menampung kami.  Sampai di Jepang bukan berarti masalah selesai.  Saya sempat ditahan oleh imigrasi selama setahun. Itu saat-saat sulit bagi saya yang membuat saya akhirnya menjadi perokok,” lanjut Lukman lagi.

Lukman memang sedikit dari orang Rohingya yang beruntung.  Bisa tinggal di negara maju seperti Jepang walaupun berstatus sebagai pengungsi. “Etnis Rohingya adalah kelompok masyarakat yang paling menderita di Myanmar.  Paling miskin dan juga paling tidak berpendidikan,” papar Lukman.  “Tapi kami di Jepang bisa hidup relatif lebih baik atas dukungan pemeriintah Jepang. Saya hidup di prefektur Saitama sekarang dengan seorang istri Rohingya dan dua anak.”

Masalah berikutnya, kaum muslimin maupun masyarakat internasional lainnya juga tidak banyak tahu dengan problem kekerasan di Arakan dan orang Rohingya.  Etnis  Rohingya adalah orang yang terlupakan (forgotten) dan termasuk yang paling teraniaya di dunia.  “Bahkan Palestina yang dijajah Israel puluhan tahun saja masih punya negara dan kaum muslimin dunia mendukung mereka habis-habisan.  Namun berbeda halnya dengan Rohingya,” tukas Lukman sendu.

Begitupun di Indonesia. Tidak banyak orang Indonesia yang tahu tentang etnis Rohingya. Jangankan memahami kasusnya, istilah `Rohingya` pun terasa asing di telinga. Sampai beberapa pekan terakhir ini kata `Rohingya` tiba-tiba menyesaki media-media di Indonesia.

Pemicunya adalah berita duka bertubi-tubi tentang kekerasan dan pembantaian yang terjadi terhadap muslim Rohingya di Arakan/ Rakhine, Myanmar. Tepatnya pada awal bulan Juni 2012 ketika terjadi konflik antara warga Arakan non muslim (Rakhine Buddhist) dengan muslim Arakan (Rohingya).  Konflik ini adalah buah dari informasi bahwa ada perkosaan terhadap wanita non muslim oleh pria muslim di Arakan. Berlanjut dengan tindakan pembalasan oleh warga non muslim. Sepuluh pria muslim Myanmar (Non Rohingya) dibantai ketika berada di dalam bus di Thandwe menuju Yangoon oleh 300-an warga Rakhine.

Kemudian konflik antar dua kelompok tak terhindarkan.  Terjadi saling bantai dan saling serang. Muslim Rohingya, karena berjumlah lebih sedikit dan beratus tahun terpinggirkan, lantas terdesak.  Ratusan desa muslim dibakar dan dihancurkan dan sekitar 850- 1000-an warga tewas.  Sekitar 90.000 ribuan lainnya terusir  atau tetap berdiam dalam penderitaan.  Karena hijrah ke bagian lain dari negara Myanmar adalah tidak mungkin.  Mengungsi ke Bangladesh, negeri yang berbatasan langsung, adalah juga tidak mungkin. Karena Bangladesh menolak masuknya pengungsi Rohingya.   Bangladesh sendiri adalah negeri miskin dengan luas wilayah kecil namun berpenduduk nyaris 150 juta jiwa. “Pengungsi Rohingya adalah masalah Myanmar bukan masalah Bangladesh, Myanmar-lah yang harus mengurusi mereka dan bukan kami. Negeri kami kecil dan sudah overpopulated,” ujar PM Bangladesh Hashina ketika diwawancara BBC

Dan itu adalah salah satu seri kekerasan terhadap warga Rohingya.  Sebelum dan sesudah merdekanya negara Myanmar (dulu bernama Burma) dari Inggris pada 4 Januari 1948 warga Rohingya kerap mengalami kekerasan dan diskriminasi. Keberadaan mereka tidak diakui sebagai salah satu etnis yang eksis di Myanmar dari 136 etnis yang ada. Ada saat keberadaan mereka diakui oleh Parlemen Myanmar yaitu pada tahun 1948 – 1962.  Lalu pada 1959 ada perwakilan Rohingya duduk di kabinet Myanmar.  Namun, sejak diktator U Ne Win berkuasa pada 1962 berlakulah horror yang lestari sampai sekarang.  Etnis Rohingya dikeluarkan dari daftar etnis yang eksis di Burma. Disusul UU Kewarganegaraan Myanmar tahun 1982 yang tidak mencantumkan  Rohingya sebagai salah satu etnis yang diakui pemerintah Myanmar. Akibatnya, mereka-pun tidak diakui sebagai warganegara Myanmar (stateless). Sampai hari ini.

Mengenai istilah ‘Rohingya’ sendiri ada perdebatan.  Nama ‘Rohingya’ dianggap   bukan sebagai identitas etnis.  Lebih tepat sebagai identitas politik dan label yang disematkan oleh Francis Buchanan-Hamilton, dokter Inggris yang mengunjungi daerah Chittakaung pada akhir abad 18 untuk menyebut entitas muslim Arakan. Tidak ada makna yang jelas tentang apa arti kata ‘rohingya’ selain bahwa ia adalah label dan identitas untuk warga muslim Arakan tersebut.

Pendapat berbeda disampaikan Lukman Hakim. Menurutnya, “Rohingya” adalah juga identitas etnis.  Warga muslim Arakan tak keberatan disebut sebagai ‘Rohingya’. “ Istilah ‘Rohingya’ berasal dari ‘Rohang”, nama daerah di Arakan.  Maka orang yang tinggal di Rohang disebut sebagai ‘Rohingya’.  Sama seperti anda orang Indonesia, “Indonesia adalah nama wilayah dan nama orang yang berdiam di dalam-nya disebut sebagai Indonesian,”  ujar Lukman, mencoba membuat analogi.

Lukman juga menolak tegas bahwa etnis Rohingya adalah imigran dari Bangladesh dan punya keturunan Bengali. “Kami adalah orang Rohingya, bukan orang Bengali atau Bangladesh. Bahasa kami berbeda. Sejarah kami juga berbeda. Kami adalah percampuran Arab, Persia dan etnis local. Sampai sekarang saya juga tak bisa berbahasa Bengali,” jelas Lukman.

Rohingya bukan satu-satunya etnis minoritas yang menderita di Myanmar.  Ada etnis Kachin yang mayoritas kristiani,  lalu perlawanan etnis Chin, Kayah, Karen dan Shan.  Perbedaannya, hanya etnis Rohingya muslim yang demikian tak berdaya. Orang Kachin melawan pemerintah Myanmar dengan senjata api dan 20.000 tentara aktif. Juga gerakan separatis Karen. “Orang Rohingya hanya berjuang dengan tangan kosong dan paling bagus dengan pisau,” tambah Lukman.

Perbedaan berikutnya, ujar Lukman. “Kami berjuang bukan dalam rangka memisahkan diri dari Union of Myanmar seperti halnya gerakan separatis etnis minoritas lain. Kami berjuang dalam rangka survival karena justru kami ingin diakui sebagai bagian dari warganegara Myanmar.”

Saat ini, papar Lukman.  Muslim Rohingya terdesak hanya tinggal di 4 dari 17 kota kecamatan yang ada di Arakan/ Rakhine. Sebelumnya orang Rohingya mendiami sisi utara negara bagian Rakhine (sebelumnya bernama Arakan) di kota-kota Maungdaw, Buthidaung, Rathedaung, Akyab (Sittwe), Sandway, Tongo, Shokepro, Rashong Island, dan Kyauktaw. Namun kini orang Rohingya bertahan hanya di empat kota saja, antara lain di Maungdaw, Buthidaung dan Sittwe..

Kendati Burma telah merdeka pada tahun 1948, namun warga Rohingya tak pernah merdeka. Mereka terus menerus mengalami kekerasan.  Pembantaian dalam skala besar terhadap warga Rohingya terjadi berturut-turut pada tahun 1942, 1948, 1978, 1992 -1993 dan akhirnya pada Juni 2012.

Pada saat bersamaan ada sekitar 300.000 pengungsi Rohingya di Bangladesh dan jumlah yang cukup signifikan di Thailand, Malaysia, Pakistan, India, Timur Tengah dan beberapa yang memperoleh status pengungsi atau suaka politik di Inggris, AS, Jepang dan beberapa negara lainnya.  “Kalau dijumlahkan secara total ada sekitar 1.5 juta jiwa orang Rohingya. Sekitar 800.000 hidup di Arakan dan selebihnya mengungsi dan hidup menderita sebagai pendatang tak diinginkan di banyak negara,” kata Lukman.

Masalahnya, apabila mereka tidak ditampung di negara lain, hendak kemana mereka pergi? Lukman mengatakan : “Brother, perhaps it is easier for you to dream about the future, but for us, Rohingya People, never dream about the future since we  are also not sure whether we still have tomorrow…”

Kegalauan Lukman Hakim amat beralasan. Presiden Myanmar Thein Sein sudah mengatakan di forum internasional pada Juli 2012 supaya warga Rohingya mencari negara lain saja di luar Myanmar atau PBB mencarikan tempat penampungan lain di luar Myanmar.  Myanmar tidak welcome dengan orang Rohinya dan siap mendeportasi mereka. Suatu pernyataan yang ahistoris dan tidak pantas, dari seorang kepala negara yang berdaulat.

Atas nama kemanusiaan, keadilan dan hak asasi manusia, sudah sepantasnya dunia memikirkan secara bersama-sama solusi permanen untuk Rohingya.  Tanggung jawab utama dan pertama jelas terletak pada negara Myanmar yang sejak awal berdirinya telah menegasikan eksistensi bangsa Rohingya.  Termasuk yang wajib memperjuangkan warga Rohingya adalah icon  perjuangan demokrasi Myanmar, Daw Aung San Suu Kyi.  “Terus terang kami kecewa dengan Daw Aung San karena dia  diam saja ketika berhadapan dengan masalah Rohingya,” tukas Lukman.

Sebelum menutup perjumpaan kami, Lukman berpesan supaya Indonesia dan pemerintah Indonesia memainkan peran lebih proaktif terhadap persoalan Rohingya. “Indonesia  adalah negeri demokrasi yang bebas dan berpenduduk muslim terbesar sedunia.  Indonesia juga adalah pendiri ASEAN dan bahkan sekretariat ASEAN ada di Jakarta. Kami mohon kepada Presiden Indonesia untuk menekan pemerintah Myanmar supaya menghentikan kekerasan di Arakan dan menetapkan solusi permanen permasahan Rohingya di Arakan secara damai. Akui kami sebagai manusia yang sama seperti anda, yang berhak untuk hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan….

Read Full Post »

 ….Teach the gifted children, teach them to have mercy, Teach them about sunsets,teach them about moonrise, Teach them about anger, the sin that comes with dawning, Teach them about flowers, the beauty of forgetfulness, Then take me to the river and put me in the water………

(Reed Lou)

Bila ada kota yang begitu mengapresiasi binatang Kucing  dan sungai itulah kota Kuching di Serawak, Malaysia.  Serawak adalah negara bagian Malaysia yang berbatasan darat dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Serawak adalah juga negara bagian terbesar di Federasi Malaysia.  Luasnya hampir seluas Pulau Jawa. Walaupun penduduknya hanya berkisar 2.4 juta jiwa sahaja.

 

Kata Kuching berasal dari nama ‘Sungai Kuching’ dan ‘Bukit Kuching’, yang memang berlokasi di (saat ini) Kota Kuching.  Kuching memang berarti ‘kucing’ juga dalam bahasa Indonesia.  Bahkan pada satu sudut kota ada patung kucing yang menjadi iconkota ini disamping burung hornbills yang menjadi icon Sarawak.  Bahkan nicknameuntuk kota Kuching memang ‘cat city’.

Landmark utama Kota Kuching adalah sungai bernama Sungai Sarawak yang membelah kota.  Sungai ini tidak terlalu lebar (dibandingkan sungai Kapuas di Pontianak atau Mahakam di Samarinda) dan bermuara ke laut China Selatan yang tak jauh dari kota Kuching.

Ini yang banyak orang sering keliru.  Ternyata Kota Kuching tidak berada di pinggir laut seperti halnya Kota Kinabalu, Johor Bahru ataupun Melaka.  Kota Kuching berada di tepi Sungai Sarawak.  Laut-nya sendiri tak berjarak jauh dari Kota Kuching, namun lebih disarati dengan tetumbuhan pantai khas muara yang juga cantik ketimbang pemukiman.   Taman Nasional Bako yang indah, berjarak 40 km saja dari Kota Kuching.

Walau berada tak jauh dari perbatasan Kalimantan Barat, tapi nyata sekali bahwa Kuching adalah bukan bagian dan tidak sama dengan kota-kota di Indonesia. Alias,bukan Indonesia banget. Kota ini tertata rapi. Gedung –gedung tinggi banyak bertebaran di sela-sela bangunan-bangunan lama peninggalan British.  Memang  Kuching tidak se-sophisticated Shanghai, Hong Kong atau Singapore.  Namun juga sulit untuk disebut bukan kota modern.

Sungai Serawak juga nampak diapresiasi sedemikian rupa.  Diperlengkapi dengan ruang publik yang cukup luas.  Waterfront Kuching,  teras panjang di tepi Sungai Serawak.  Adalah tempat dimana orang bebas untuk walking, jogging, bicycling, atau sekedar menumpang rehat dan makan di sejumlah kedai makan sederhana yang bertebaran di sepanjang waterfront.  Jangan lewatkan nasi lemak, laksa serawak ataupun teh tarik bila berkunjung ke sana.

Operator pariwisata air turut mengambil momentum juga.  Sepanjang waterfront Kuching banyak operator kapal dan perahu yang menawarkan paket perjalanan menyusuri Sungai Serawak, mengunjungi Bako National Park, bahkan menyusuri sungai hingga ke batas “Indon” (ini bahasa dari mereka ya, tercantum jelas dalam standing banner-nya).  Tak sedikit dari mereka yang berasal dari Indonesia.  Ada perahu yang bertuliskan ‘Mail Boyan’ yang kurang lebih bermakna “Ismail Bawean”.

Sepintas lalu, wajah Kuching tak jauh beda dengan kota Malaysia lain di Semenanjung Malaya.  Wajah-wajah Melayu, Tionghoa,  penduduk asli Sarawak. sampai Jawa, Bawean dan Bugis bertebaran dimana-mana.  Hanya etnis Indian-Tamil yang saya lihat tak banyak terlihat.  Kedai-kedai syarikat perniagaan didominasi oleh orang Tionghoa dan orang Melayu.  Nampak nyata dari tulisan di muka kedai yang mengiklankan produk jualan mereka.

Bukti bahwa orang keturunan Jawa banyak bertebaran di Kuching adalah adanya kampong bernama Kampung Sorabaya,  Kampung Gersik dan Kampung Boyan (baca : Bawean).  Bawean bukan bagian dari Jawa ya, ia adalah pulau kecil di tengah Laut Jawa yang memang berlokasi paling dekat ke Jawa Timur.  Eksistensi ketiga kampong warga Jatim ini terlihat betul pada peta Kuching.  Mereka terletak pada sisi utara Sungai Serawak.

Eksistensi berikutnya nampak pada kedai makanan muslim.   Tak sulit mendeteksi bahwa pemilik kedai adalah keturunan Indonesia.  Dengarkanlah apa lagu yang diputar.  Di kedai makan di ujung barat Waterfront Kuching terdengar lagu “Aku Bukan Bang Toyib” dari Wali, Lagu Rossa, Gombloh, “Aku Tak Biasa” Alda, dan lain-lain.  Memang sih, tak mesti bahwa pemilik kedai adalah orang keturunan  Indonesia. Kerana ramai orang Melayu Malaysia yang juga gemar dengan lagu daripada Indonesia.

Laksa Sarawak adalah menu terhebat yang menurut saya jangan dilewatkan kalau kita berkunjung ke Kuching.  Mungkin kita akan menemukannya juga di resto Secret Recipeyang biasa bertengger di mal-mal di KL.  Tapi kalau dimakan di kedai pinggir jalan di Kuching terasa lain. Terasa Sarawak sekali.

Tak jauh dari kedai makan Haji Umar yang saya tandangi, saya menangkap ungkapan-ungkapan bahasa Jawa Timuran dari tiga pemuda yang sedang duduk santai di tepi sungai.  “Aku wis nang ngarep yo….”  Ujar salah seorang dari mereka,  yang bercakap dengan mengguna talipun bimbit (handphone).   Aha. Seru saya dalam hati.  Ini kawasan orang keturunan Jawa.  Mereka bisa jadi pekerja migran (TKI). Bisa juga keturunan Jawa yang sudah tinggal bertahun  lamanya di Kuching.  Sebagian mungkin telah menjadi warganegara Malaysia. Sebagian lagi tidak.

Berbilang 200 meter dari ujung barat waterfront ada sebuah masjid bernama Masjid Bandaraya Kuching.  Masjid ini besar sebenarnya, namun tak tampak dari luar.  Terhalang kedai-kedai syarikat perniagaan.  Pintu masuknya –pun serupa kedai.  Tapi ternyata di dalamnya besar.  Bentuk masjid dan tatacara beribadah-nya mirip masjid-masjid di Jawa.

Menjangkau Kuching-pun tak sulit dari Indonesia.  Bisa menggunakan jalan darat dari Kota Pontianak di Kalbar atau via pesawat terbang.  Via pesawat terbang bisa dengan Batavia Air atau MAS Wings dari Pontianak.  Sayang ya tak ada direct flight dari Jakarta.  Walau dulu pernah Air Asia terbang langsung dari Jakarta ke Kuching.   Maka, anda yang berasal dari Jakarta, mesti mampir dulu ke Singapore, KL, Penang atau Kota Kinabalu dulu sebelum melanjutkan ke Kuching.

Akhirnya, saya hanya bisa bilang bahwa mengunjungi Kuching ini really worth visiting.  Utamanya untuk mengunjungi waterfront dan Sarawak river di kala senja.  So romantic.   Good for young and old honeymooners.  Dengan gedung Dewan Undangan Negeri menjulang tinggi di seberang bersebelahan dengan Astana (istana kediaman Yang Dipertuan Negeri Serawak) dan Fort Margherita yang tua namun cantik.   Melihat cahaya bertaburan di sepanjang sungai, ditengahi riak gelombang tenang dari Sungai Serawak dan matahari yang perlahan terbenam di ufuk barat, akan memberikan nuansa tersendiri.

Terkadang saya iri.  Kota Kuching dapat mengapresiasi sungai sedemikian rupa. Dapat menjadikan sungai sebagai ruang publik untuk rehat mata dan rehat badan. Secara percuma (gratis) pula.   Semoga Palembang, Pontianak, Samarinda, Banjarmasin, Jambi dan pelbagai kota sungai lain-nya di Indonesia akan pula semakin memanjakan mata namun tetap ramah terhadap kantong para musafir…

Read Full Post »

Read Full Post »

attached

Muslim Thailand di Tengah Konflik Sipil

Read Full Post »

attached

Patani Humvee Peterpan dan Kecek Nayu

Read Full Post »

attached

Roh Islam Melayu di Jasad Pinay

Read Full Post »

TIN YU DAN  KEMISKINAN DI NEGERI PENUH ANOMALI

By : Heru Susetyo

Namanya Tinyu atau Tin Yu. Nama asli. Ia lelaki berusia lima puluh tahun yang nampak lebih tua dari usianya. Profesinya adalah menarik becak Myanmar (alias threeshaw). Berbeda dengan becak Indonesia, becak Myanmar adalah sepeda onthel (jengki) yang dipasang bangku tambahannya di sampingnya. Bangku ini menghadap ke depan dan ke belakang.  Maka, sang pengemudi berada persis di samping penumpang, tidak di depan apalagi di belakangnya.

Tin Yu biasa ngetem di 25th street Mandalay city Myanmar. Tepatnya di satu ruas jalan antara 82nd dan 83rd street. Seperti halnya hampir semua lelaki Myanmar, ia selalu menggunakan sarung (longyi) kemanapun. Terbayang kan bagaimana menarik becak dengan menggunakan sarung?

Di limapuluh tahun usianya hidup tampak masih amat sulit bagi Tin Yu. Saat pria-pria seusianya di negeri jiran Thailand, Malaysia dan Singapore sudah mentas dan menggapai puncak karir, Tin Yu masih asyik berkutat menekuri jalan-jalan rusak kota cultural Mandalay setiap hari.

“Terimakasih mau menjadi penumpang kami hari ini. Anda adalah tamu pertama kami di hari ini dan mungkin juga hanya satu-satunya.” Ujar Tin Yu riang dalam bahasa Inggris yang amat lancar.

“Bagaimana bisa?” tanya kami penasaran. “Ini kan kota turis?” “Kami sering tidak dapat pelanggan dalam satu hari . Susah mencari pelanggan disini. Makanya kami bilang anda mungkin pelanggan kami satu-satunya hari ini. Terimakasih mau menjadi penumpang kami. Kami akan pulang bawa uang hari ini, istri kami akan senang,” tambah Tin Yu.

Kami terkesima. Kami hanya membayarnya 2000 Kyat (setara dengan US $ 1.7  alias  Rp 15.000 saja untuk perjalanan dari motel kami ke sisi Mandalay Ancient Royal Palace (istana tua  kerajaan).  Perjalanan sekitar lima kilometer dengan menggenjot becak berisi kami tentunya tidak mudah.

Layaknya tourist guide, Tin Yu kerap mengajak kami bercakap-cakap. Tak bosan-bosan ia menerangkan ini itu tentang Mandalay. Lelaki berputra lima dan bercucu dua ini ternyata rekan perjalanan yang mengasyikkan.

“Iya istri kami pasti senang kami membawa 2000 Kyat, kami bisa pulang dengan tenang,” tambahnya lagi. Kami jadi malu. Sering tanpa merasa berdosa kami menghambur-hamburkan uang senilai 2000 kyat untuk keperluan yang tidak jelas. Tapi, bagi seorang Tin Yu, 2000 Kyat adalah kehidupan. Maka, untuk ‘mengurangi dosa’ kami, seusai fun trip dengan Tin Yu, kami menambah lagi 1300 Kyat sebagai bonus untuknya (belakangan kami menyesal lagi, mengapa kami hanya menambah 1300 Kyat yang hanya setara US $ 1, padahal kami bisa memberi lebih).

Dan Tin Yu bukan satu-satunya orang yang mewakili wajah kemiskinan Myanmar. Masih banyak Tin Yu – Tin Yu lain dari beragam profesi yang tetap survive di tengah keterpurukan negeri ini. Rekan Myanmar kami, sebut saja Ko, mengatakan bahwa starting salary untuk lulusan S-1 di Myanmar hanya berkisar 40.000 kyat per bulan (alias US $ 34 sahaja karena US $ 1 = 1200 kyat). Tak heran negeri ini menempati urutan ke 135 dalam daftar Human Development Index UNDP tahun 2008. Bukan yang paling bawah di dunia, tapi termasuk yang paling jeblok di Asia Tenggara (Indonesia pada saat bersamaan menempati urutan ke 109, Vietnam 114, dan Lao PDR urutan ke 133. Hanya Brunei, Singapore dan Malaysia yang masuk kategori high HDI di papan atas).

Kembali, didorong rasa penasaran, kami mengajukan pertanyaan bodoh : “Kok bisa kalian survive dengan uang segitu?” “Buktinya bisa kok. Kami survive,” ujar Ma, rekan kami yang lain.

Disamping miskin, negeri ini juga sarat dengan anomali. Mulanya kami tak percaya informasi tentang sejumlah anomali di buku biru Lonely Planet berjudul “Myanmar” yang kami miliki. Namun setelah terjun ke dalamnya, ternyata sebagian besar benar adanya. Ini dia beberapa anomali Myanmar yang kami jumpai :

1. Negeri ini tidak memiliki ATM (Automatic Teller Machine) satupun juga dan kurang menyukai pembayaran dengan credit card.  Pembayaran model tunai paling disukai.

2. Mata uang US Dollar lebih disukai daripada mata uang mereka sendiri, Kyat. 1 USD sama dengan 1200 Kyat. Kondisi ini hampir sama dengan Lao PDR, Cambodia, dan Vietnam. Anehnya lagi, mereka hanya menerima US Dollar seri yang lebih baru, tak boleh ada noda sedikitpun, tak boleh terlipat atau lecek dan tak terpotong. Hampir mirip money changer di Indonesia.
3. Money changer adalah barang langka di negeri ini. Hanya sedikit dijumpai dan rata-rata diemohi oleh pelanggan karena rate-nya yang abnormal. Pelanggan lebih suka ke ‘black market’ karena rate-nya yang biasanya lebih tinggi ataupun menukar di hotel yang sedikit lebih terpercaya.

4. Myanmar memiliki traffic yang aneh. Mobil dan semua moda transportasi berjalan di sebelah kanan jalan (seperti di US dan Eropa) dan mirip dnegan jirannya Lao PDR, Vietnam dan Cambodia. Namun, sebagian mobilnya justru ber-stir kanan juga (persis di Indonesia dan Thailand).  Padahal, semestinya apabila jalan di kanan harus menggunakan stir kiri supaya lebih safe dan tidak disoriented.

5. Kami seperti melihat Indonesia di tahun 1970 – 1980-an ketika melihat moda transportasi Myanmar. Mobil-mobil jadoel berstir kanan seperti Corolla DX, Corolla GL, Corona 76, Nissan jadul, hingga Mazda kotak sabun produksi tahun 1960-an masih bertebaran di jalanan Yangon dan Mandalay. Sulit sekali menemukan mobil produksi 90-an apalagi 2000-an.

6. Hampir semua taxi-nya, maaf, buruk rupa. Ber-cat putih, bertahun jadoel, sering tanpa jendela, tanpa karpet di bawahnya, persneling nyaris lepas dari dudukannya, dan, ini yang menarik, sama sekali tak perlu menggunakan seat belt.
7. Listrik adalah persoalan besar di Myanmar. Di kota besarnya seperti Yangon dan Mandalay saja sering mati lampu. Maka, hampir semua bangunan publik memiliki generator. Jalanan di Mandalay pada malam hari diliputi kegelapan. Karena lampu jalan tak tersedia. Cahaya-cahaya yang tersedia kebanyakan berasal dari lampu-lampu rumah yang menyala via generator.

8. Air Conditioner alias AC juga tak otomatis mudah dinikmati. Kamar ber-AC di hostel murahan, seperti yang kami tinggali di Mandalay, bisa diperoleh tapi dengan embel-embel : “listrik akan mati sewaktu-waktu, Air Conditioner akan nyala selama listrik disuplai oleh pemerintah”

9. Sirih menyirih adalah budaya Myanmar yang menarik. Hampir semua kalangan gemar mengunyah sirih. Sebungkah daun yang konon tumbuh di sekitar Inle Lake, diisi dengan satu dua jenis tumbuhan lalu dipoles dengan cairan tertentu dan akhirnya dilipat. Ketika dikunyah akan meninggalkan rona merah pada gusi dan gigi lalu siap disemprotkan. Kendati tradisi ini menarik, sayangnya orang terkadang tidak pilih-pilih tempat untuk menyemprot dan meludah. Seorang rohaniawan yang duduk di kursi samping kami di pesawat ATR 72 Air Bagan , dengan tenangnya meludah beberapa menit sekali ke dalam plastic yang dibawanya. Kumpulan ludah berwarna merah itu ditinggalkan begitu saja dalam plastic di bawah kursi pesawat ketika ia beranjak keluar pesawat. Meninggalkan pe-er besar bagi cleaning service.

10. Bandara alias airport adalah anomali berikutnya di Myanmar. Di tiga bandara yang kami singgahi, Yangon, Naypyidaw, dan Mandalay, terkandung nilai-nilai kemewahan sekaligus kemiskinan. International terminal di Yangon Airport begitu mewah, sementara domestic terminalnya begitu kumuh.  Domestic terminal Yangon airport tak ubahnya, maaf, seperti bis terminal. Tak ada ban berjalan dalam bentuk yang modern maupun yang sederhana sekalipun untuk menghantarkan bagasi ke penumpang. Maka, begitu barang dihantarkan petugas ke pintu terminal, silakan geret sendiri bagasi anda mulai dari pintu terminal hingga ke taxi.

11. Petugas porter banyak tersedia, yang uniknya, menunggu langsung di tangga pesawat atau di tempat bis airport menurunkan penumpang. Security terminal juga santai saja. Kami kebetulan masuk terminal pertama kali di pagi hari. Ketika kami check in, metal detector belum lagi dinyalakan dan counter check in baru buka. Barang kami dengan enteng digeret saja oleh petugas menuju mobil pengangkut. Karena ban berjalan tak tersedia. Kamipun melenggang masuk terminal keberangkatan dengan leluasa, karena kami datang lebih cepat dari petugas dan metal detector belum nyala. Serunya, sebelum pintu terminal dibuka, para calon penumpang duduk lesehan berjongkok di tangga terminal dan di parkiran sambil membawa berbagai macam perabot. Persis, maaf lagi, menanti bus antar kota tiba.

12. Kemubaziran adalah bahasa yang pantas untuk fasilitas bandara di Yangon dan Mandalay. International terminal-nya memiliki garbarata cukup banyak namun tak satupun digunakan. Penumpang turun dari pesawat dengan menumpang bus aiport lalu masuk ke arrival terminal melalui tangga biasa. Lalu untuk apa garbarata yang masih baru dan tampak lux tersebut?

13. Myanmar memiliki lima maskapai penerbangan, Myanma Airways-Myanmar Airways International, Yangon Airways, Air Bagan dan Air Mandalay. Tiga yang terakhir adalah dimiliki. . Mayoritas pesawat kelima maskapai ini adalah pesawat tua berbaling baling, apakah Fokker 27 dan ATR 42/ ATR 72. Air Bagan memiliki Fokker 100 dan Airbus A310 (namun sedang tidak terbang), dan MAI punya pesawat Boeing 737 800. Namun tetap yang terlihat lalu lalang beredar adalah pesawat propeller ATR. Maka, pemandangan di bandara cukup unik. Apron di bandara internasional-nya sepi pesawat, kalaupun ada hanyalah pesawat berbaling-baling.

14. Informasi dari buku Lonely Planet, imigrasi di Myanmar tidak hanya untuk international tapi juga untuk domestic departures. Dan kami menemukannya di Mandalay, ketika penumpang berkewargenegaraan Burma mesti dicek ID card-nya di bandara Mandalay hanya untuk terbang ke kota lain di negara yang sama. Kondisi ini mengingatkan pada Muslim Rohingya di provinsi Rakhaing/ Rakhine/ Arakan, dimana untuk bepergian ke desa lain saja mereka mesti memiliki traveling permit.

15. Jaringan selular di Myanmar termasuk mengerikan. Harga satu sim card amat mahal, sekitar US $ 20, itupun pulsanya mahal dan berlaku hanya satu bulan.

16. Internet? Ini problem besar. Di dua warnet yang kami kunjungi di Yangon dan Mandalay, aksesnya lumayan lambat dan situs umum seperti http://www.yahoo.com serta http://www.gmail.com diblokir. Dan jangan lama-lama di warnet, karena listrik bisa mati sewaktu-waktu ketika kita tengah asyik fesbukan dan ber-email ria.

17. Jangan banyak bicara politik di Myanmar. Dalam bahasa apapun. Dua teman Myanmar kami amat hati-hati (bahkan cenderung takut) menjawab pertanyaan kami yang sering ‘kelepasan’. Ketika kami terlalu banyak bertanya tentang berbagai macam anomali politik sosial dan ekonomi Myanmar, mereka dengan gampang menjawab, “ Ok, kami akan jawab pertanyaan kamu di Bangkok, tidak disini.”

18. Resep untuk survive di Myanmar di tengah iklim ketidakbebasan ini, menurut kedua teman Myanmar kami adalah : “Jadilah low profile dan bekerja keras, jangan terlalu hiraukan segala macam keanehan di sekeliling kamu,”

Namun, bagaimanapun parah kondisinya, Myanmar tetap worth visiting. Tetap banyak local wisdoms yang bisa kita pelajari dan orang-orang hebat tempat kita berguru, di tengah segala kesederhanaan dan keterbatasan yang mereka miliki.

Read Full Post »

   Bulan Sabit di Palu Arit

BULAN SABIT DI TENGAH PALU ARIT

Minoritas Muslim di Hanoi-Vietnam

Bendera dan lambang palu arit bisa dipastikan mustahil bisa ditemukan di Indonesia.  Karena negeri ini masih trauma dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan G30/S PKI-nya. Bahkan TAP MPR yang melarang PKI dan penyebarluasan ajaran komunisme masih berlaku sampai kini.

Beda halnya dengan di Vietnam.  Di negeri ini sejauh mata memandang, setiap kantor pemerintah atau lembaga resmi mesti ditaburi bendera bintang kuning berlatar merah dan bendera palu arit berwarna kuning dengan background juga merah. Lambang komunisme.

Vietnam memang negeri komunis.  Predikat yang disandang sejak tahun 1975 ketika Vietnam Utara dan Vietnam Selatan bergabung di bawah pemerintahan Sosialis Vietnam, yang didahului oleh Perang Vietnam (atau ‘Perang Amerika’ menurut bangsa Vietnam) pada kurun waktu 1965-1975. Sebelumnya, Vietnam dijajah Perancis sejak abad 20 hingga tahun 1954.

Kendati palu arit bertaburan dengan leluasa dimana-mana, tetap saja napas bulan sabit masih terasa.  Islam dan muslim tetap eksis di Vietnam kendati jumlahnya kurang dari 1% dari total penduduk Vietnam yang 89 juta jiwa (data tahun 2011).

Konsentrasi muslim di Vietnam sebagian besar berada Vietnam Selatan-Tenggara, utamanya di Delta Sungai Mekong, di Propinsi Ninh Thua, Binh Thuan,  An Giang dan Ho Chi Minh City (HCMC).   Asal usul muslim Vietnam dapat diurut sejak abad 10-11 Masehi, saat dimana utusan Khalifah Utsman bin Affan dari jazirah Arab berdakwah dan mensyi’arkan Islam di Kerajaan Champa.

Sepertiga dari muslim Vietnam memang ber-etnis Cham (Champa).  Sebagian lainnya adalah keturunan Khmer, India-Pakistan, Melayu, Indonesia (utamanya dari Pulau Bawean) , dari Timur Tengah dan juga Afrika Utara.   Secara sosio-kultural Muslim Cham amat dekat dengan bangsa di Semenanjung Malaya  yang kini bernama Malaysia.   Bahkan ada yang mengatakan bahwa orang Cham berasal dari Malaysia.  Faktanya, hingga kini memang banyak keturunan Cham yang tinggal dan bersekolah di Malaysia.  Ketika Republik sosialis Vietnam didirikan 1975, sekitar 55.000 muslim Cham hengkang ke Malaysia dan juga ke Yaman. Hal ini turut menjelaskan mengapa orang Cham banyak yang bisa berbahasa Melayu dan mengapa ada beberapa restoran Malaysia di Ho Chi Minh City (Saigon).

Satu hal sering dilupakan.  Di luar komunitas besar muslim di Vietnam Tenggara (Delta Sungai Mekong), ada minoritas muslim lain yang tinggal di Hanoi, ibukota Vietnam.  Saigon alias Ho Chi Minh City (HCMC) memang kota terbesar dan pusat bisnis Vietnam, namun sejatinya ibukota Vietnam adalah Hanoi.  Keunikan berikutnya, apabila di Ho Chi Minh City mudah menemukan masjid (paling tidak ada 8 masjid di dalam kota), maka di Hanoi hanya ada satu masjid.  Bahkan bukan hanya di Hanoi, satu masjid tersebut adalah mewakili seluruh daerah di Vietnam bagian utara (menurut versi Rough Guides 2006 Edisi Vietnam-buku panduan traveller).

Masjid An-Noor namanya, atau Guiding Light Mosque dalam bahasa Inggris.  Terletak di jalan Hang Luoc No. 12 Old Quarter alias di kawasan kota tua Hanoi yang khas Pecinan (Chinatown).  Kawasan yang padat dengan pertokoan dengan jalannya yang kecil-kecil dan aktifitas perdagangan yang luar biasa marak dari pagi hingga malam.

Menilik lokasinya di tengah kawasan bisnis, siapapun takkan mengira ada tersempil sebuah masjid.  Apalagi di kiri kanan-nya sama sekali tidak ada perkampungan muslim.  Sebaliknya, di luar masjid berkeliaran anjing-anjing dan tempat makan yang menghidangkan daging babi.   Kendati nyaris tak terdeteksi oleh mata wisatawan asing yang umumnya menjelajahi Hoan Kiem Lake (danau kecil di daerah Old Quarter yang menjadi sentra turisme Hanoi), sejatinya masjid ini memiliki nilai historis juga.  Bentuknya mengingatkan kita pada masjid-masjid kuno di Indonesia yang dibangun di era Wali Songo. Di atas mihrab-nya ada tulisan timbul ‘la ilaha ilallah’ dan angka 1323 dalam aksara Arab.  Menurut versi buku panduan turis Rough Guide Edisi Vietnam 2006, masjid ini didirikan tahun 1890 oleh pedagang dan imigran asal India yang bermukim di Hanoi.

Masjid ini tidak besar. Walau juga tidak kecil.   Berwarna putih dengan aksen hijau di beberapa sisi. Tidak ada tempat parkir untuk mobil.  Ruang yang tersisa hanya dapat menampung beberapa motor.  Terdiri dari satu lantai saja yang ditutupi dengan karpet.  Tempat wudhu berada di sisi kanan masjid.  Ruang shalat sendiri ditinggikan sekitar dua meter dari permukaan jalan.  Tempat shalat pria dan wanita dipisah dengan hijab kain.

Lokasi masjid ini memang di kawasan turisme Old Quarter Hanoi, namun jangan tanya tentang jama’ahnya.  “Total jama’ah di masjid ini hanya berkisar 70 orang saja dan itu datang dari seluruh Hanoi.  Kalau digabung dengan muslim dari kalangan diplomatik asing yang berdinas di Hanoi maka sekitar 150 orang saja,” tutur Imam Abdussalam, Imam Masjid An-Noor yang keturunan Cham dan menempuh studi Islam-nya di Libya.  Jumlah yang cukup memprihatinkan karena di Indonesia itu setara dengan jama’ah masjid satu RT saja.

Dan penulis sudah membuktikannya.  Dua kali menyambangi masjid ini pada Januari 2010 dan Agustus 2011 masjid ini memang sepi.  Pada kunjungan kedua adalah bertepatan dengan bulan Ramadhan 1432 H maka jama’ah sedikit lebih banyak.  Pada kesempatan empat kali shalat tarawih disana jama’ah tidak beranjak dari tiga shaf dengan jumlah berkisar 30 orang saja.  Jama’ah Shalat Subuh di bulan Ramadhan juga tidak lebih dari 20 orang.

“Jama’ah disini memang tidak banyak Mas, juga orang Indonesianya.  Kebanyakan hanya kami yang bekerja di KBRI Hanoi saja,” ujar Rizal, staf lokal di KBRI Hanoi yang telah delapan tahun tinggal di Hanoi.  “Di dalam kantor KBRI juga tidak ada masjid dan tidak diselenggarakan tarawih, maka kami ikut shalat di masjid An-Noor ini,” tambah Rizal lagi.

“Betah tidak tinggal di kota ini Mas?” ujar saya iseng. “Buktinya saya bisa bertahan delapan tahun disini Mas.  Saya tinggal dengan istri saya (asli Indonesia) dan anak-anak saya.  Anak-anak saya bahkan bersekolah di sekolah Vietnam dengan bahasa pengantarnya bahasa Vietnam.  Tidak di sekolah internasional,” jawab Rizal saat bersantai usai shalat tarawih di Masjid An-Noor.

Pemahaman masyarakat Vietnam, utamanya Hanoi tentang Islam memang minim.  Umumnya hanya mengetahui bahwa orang Islam tidak makan babi dan lelakinya bisa menikah lebih dari satu kali.  Akan halnya apa itu Allah, Nabi Muhammad, Al Qur’an,  masjid dan Al Qur’an nyaris tidak diketahui.  Maklum negeri komunis, dimana agama dinihilkan dan dianggap urusan pribadi, sama sekali bukan urusan negara.

Walau berwajah komunis, namun penganut agama apapun tetap bisa bertahan dan  hidup tenang di Vietnam.   Disamping masjid di selatan Vietnam, banyak gereja bertebaran di seantero Vietnam.  Tidak ada intimidasi dari negara.  Negeri komunis era millennium ini memang berbeda dengan komunis di era awal atau pertengahan abad 20 yang memandang agama sebagai candu  yang mengganggu tercapainya masyarakat komunis sejati yang ‘sama rata sama rasa’.   Dalam pemantauan kami, negeri ini malah tampak luarnya lebih ‘kapitalis’, karena dunia bisnis begitu maju dan dimana –mana bertebaran produk-produk ‘kapitalis’ seperti resto siap saji KFC, McDonald, Burger King, dan sebagainya.

Begitupun Ramadhan di Hanoi.  Kendati suasana Ramadhan nyaris tak terlihat dan tak terasa, namun di Masjid An Noor begitu terasa.  Makanan untuk sahur dan ifthar diberikan Cuma-Cuma.  Makanan disediakan secara bergiliran oleh kedutaan-kedutaan dari negeri-negeri muslim yang memiliki perwakilan di Hanoi.  Oleh karena itu, tidak aneh apabila menu harian ifthar di masjid ini bervariasi. Kadang makanan penuh kari dan nasi biryani apabila Kedutaan Pakistan yang menjamu. Kadang makanan Melayu apabila tiba giliran Kedubes Malaysia-Indonesia, ataupun makanan khas Timur Tengah ketika tiba giliran menjamu negara-negara Arab.

Kesempatan menikmati makanan halal di waktu Ramadhan secara percuma ini adalah suatu berkah bagi muslim di Hanoi. Karena tidak ada restoran halal di Hanoi.  “Disini tak ada restoran halal.  Ada satu restoran India di dekat Hoan Kiem Lake, dagingnya saja halal dan selebihnya tidak,”  ujar Imam Abdussalamn dalam bahasa Inggris bercampur Arab.  Tak heran selepas tarawih, banyak jama’ah membungkusi sisa makanan yang tersisa untuk dibawa ke rumah .

Mengenai ibadahnya sendiri, terbilang unik.  Masjid ini amat toleran terhadap perbedaan.  Sebagai contoh, dalam shalat isya dan shalat tarawihnya ada empat imam yang berbeda.  Ketika kami shalat disana pada malam ketiga Ramadhan, imam shalat isya adalah orang Vietnam, imam empat rakaat pertama tarawih adalah orang Arab, imam empat rakaat kedua adalah orang Afrika dan imam witirnya (tiga rakaat) adalah orang Indonesia.  Bisa dibayangkan, perbedaan langgam qira’ah dan cara shalat melahirkan sensasi tersendiri bagi para ma’mum.  Para ma’mum pun berasal dari banyak negeri.  Ada wajah-wajah Vietnam, Malaysia-Indonesia, Pakistan-India, Arab-Afrika Utara, hingga muslim berwajah Eropa.

Karena populasinya kecil juga,  penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal amat mudah dan sederhana disini. Tak ada komite khusus yang merukyat hilal atau menghisab wujudul hilal.  Cukup dengan tulisan tangan dari Sang Imam Masjid yang ditempelkan di papan pengumuman di muka masjid yang menyatakan : “tanggal ini sudah masuk tanggal 1 Ramadhan”.  Bisa jadi Sang Imam merujuk pada putusan di Vietnam Selatan atau bahkan di Malaysia yang menjadi rujukan muslim Cham.  Sedangkan, mengenai jadwal imsakiyah Ramadhan  sendiri, Sang Imam mencetak jadwal imsakiyah online yang tersedia secara gratis di internet di situs-situs islam internasional.  Begitu mudah, sederhana dan minim konflik.

Di masjid ini saya-pun bertemu dengan Hisyam.  Seorang muslim asli Maroko yang warganegara Perancis dan bekerja sebagai engineer di perusahaan konstruksi Perancis di Hanoi.  Brother Maroko ini terlihat amat rajin shalat dan tawadhu.  Ketika shalat subuh dan maghrib sampai tarawih ia selalu hadir. “Saya sudah empat tahun disini dan saya tetap bisa bertahan. Dimana-mana adalah bumi Allah,” tutur Hisyam dalam bahasa Inggris.  Ia datang dan pergi ke masjid dengan moda transportasi yang mayoritas digunakan oleh rakyat Hanoi, yaitu sepeda motor.  Sayangnya dia enggan difoto.  “Saya tak mau difoto, brother” ungkapnya tegas.

Melihat kesahajaan masjid di Hanoi dengan kesahajaan warga muslimnya yang multietnis namun minoritas, yang tetap bersemangat menyelenggarakan ibadah Ramadhan di tengah segala keterbatasan, hati siapapun akan tersentuh, sekaligus tertantang.   Mereka telah membuktikan bahwa minimnya jumlah masjid dan saudara-saudara muslim tidak berarti dakwah dan ibadah mereka harus berhenti.   Juga,  kendati hidup di bawah naungan Palu Arit tak mesti Bulan Sabit harus tenggelam di bawah permukaan lalu iman menjadi defisit.  Karena, The show must go onIsyhadu bi ana muslim !

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »