Here we go…
Catatan Gaza Day 1 Humanitarian Report
Catatan Gaza Day 2 Jatuh Cinta pada Anak-Anak Gaza
Catatan Gaza Day 3 Menteri Kehakiman Mendatangi Kami
Posted in A Walk to Remember, Human Rights and Humanitarian Law, More than thousand words... on December 26, 2011| Leave a Comment »
Posted in More than thousand words... on December 24, 2011| Leave a Comment »
Posted in A Walk to Remember on December 24, 2011| Leave a Comment »
SATU NUSA SATU BANGSA BEDA AGAMA
Muslim Bangkok di Tengah Mayoritas Thai-Buddhist[1]
By : Heru Susetyo[2]
Pengantar
Mendengar kataThailand, imaji kita mestilah mengembara ke negeri gajah putih yang terkenal eksotis dengan daerah wisata cantiknya seperti Phuket,Ayutthaya, maupun Chiang Mai. Bagi mereka yang berpikiran nakal, kata `Thailand` mestilah identik dengan daerah turisme seks seperti Patpong di Bangkok dan Pattaya di propinsi Chon Buri yang luar biasa terkenal ke manca negara dan menyedot devisa luar biasa besar.
Sebagai negeri jiran, bagi kebanyakan masyarakatIndonesia,Thailandrelatif kurang dikenal dibandingkanMalaysiaataupun Singapura. Perbedaan bahasa, agama, dan budaya seringkali dituding sebagai penyebabnya. Mayoritas rakyat Thai berbahasa Thai, beragama Budha, dan memiliki budaya yang berakar kuat pada tradisi Sino-Siam yang berakulturasi dengan tradisi Budha-Hindu. Amat berbeda denganMalaysia, Singapura, ataupun Brunei Darussalam, yang sebagai negeri jiran nyaris memiliki kesamaan bahasa dan budaya dengan pendudukIndonesia.
Negeri yang terkenal sebagai `land of smile` ini berbatasan darat dengan Myanmar (Burma) di sebelah barat dan utara, Laos di utara dan timur, Kamboja (Cambodia) di timur, dan Malaysia di Selatan. Dengan luas wilayah sekitar 514.000km2, luasThailandhanya sekitar seperempat dari luasIndonesia. Demikian pula dengan penduduknya, data pada bulan Juli 2006 menunjukkan bahwa penduduk Thailand berjumlah 64 juta jiwa, alias lebih dari seperempat dari jumlah penduduk Indonesia.
Negeri yang kini bernamaThailandpada mulanya adalah suatu negeri berbentuk kerajaan yang telah berdiri sejak abad ke 6 dan 7 Masehi. Sedari awalnya kerajaan ini telah lekat dengan pengaruh Budha dan Hindu. Penguasa kerajaan ini juga berganti-ganti. Mulai dari kerajaan Dvaravati pada abad ke 6 dan 7 Masehi, kemudian Khmer pada abad 11 Masehi, Sukhothai (abad 13), Kerajaan Burma (abad 16 – 18), dan Siam yang antara lain ditandai dengan berkuasanya Dinasi Chakri (dengan gelar rajanya adalah `Rama`) hingga kini. Pada tahun 1932 melalui suatu revolusi tak berdarah, Thailand berubah bentuk dari kerajaan (monarkhi absolut) menjadi monarkhi konstitusional, dengan Raja sebagai Kepala Negara dan Perdana Menteri (PM) sebagai Kepala Pemerintahan. Nama `Thailand` sendiri sebagai nama resmi negara ditahbiskan pada tahun 1939 menggantikan nama `Siam`.
Tradisi Budha (terutama Budha Theravada) dan Hindu yang mengakar kuat di Thailand hingga kini, dengan populasi warga Thai Buddhist lebih dari 80% menyebabkan Thailand sering disebut sebagai negeri Budha. Orang Thai juga sering disebut orang Budha. Ada semacam generalisasi dan stereotipe bahwa menjadi Thai otomatis menjadi Budha. Sama seperti stereotipe yang berkembang di Malaysia dan Indonesia bahwa menjadi Melayu otomatis menjadi muslim.
Kenyataannya tidak demikian. Kendati warga Budha memang mayoritas, Thailand juga memiliki penduduk yang tidak beragama Budha. Warga minoritas ini ada yang beragama Islam, Hindu, Kong Hucu, bahkan aliran kepercayaan.
Keberadaan komunitas muslim sendiri cukup signifikan. Mereka tersebar di banyak provinsi Thailand. Tidak hanya di tiga propinsi selatan berbahasa Melayu-Yawi (Pattani, Yala, Narathiwat) seperti yang dikenal selama ini. Muslim Thailand terserak mulai dari Chiang Mai、Chiang Rai, dan Mai Hong Son di Utara, Khon Khaen di Timur Laut, Tak, Ayutthaya, Nakhon Nayok, Chachoengsao, Chon Buri dan Bangkok di tengah, Phuket, Ranong, Phang Nga dan Krabi di tepi laut Andaman (barat daya Thailand), muslim di Nakhon Si Thammarat, Surat Thani dan Songkhla, hingga Satun, Pattani, Yala, dan Narathiwat yang berdekatan dengan Malaysia.
Data dari Islamic Committee Office of Thailand (Kana Kammakan Klang Islam) pada bulan Desermber 2000 menunjukkan bahwa jumlah muslim Thailand sekitar 7.4 juta jiwa, dimana 6.3 juta diantaranya bermukim di propinsi selatan, masing-masing Pattani, Narathiwat, Yala, Satuin dan Songkhla dan 700.000 diantaranya bermukim di sekitar Bangkok dan Ayutthaya.
Asal muslimThailandjuga bervariasi. Adamemang yang berasal dari tiga propinsi selatan yang berbatasan denganMalaysia.Adayang dariChina, ada yang keturunan Pakistan-India-Persia.Adajuga yang berasal dari Champa, kerajaan kuno yang dahulu berada diVietnamdan kemudian hijrah ke Kamboja.
Muslim Bangkok dan Muslim Thai Selatan
Ketika bicara tentang muslim Thai lazimnya orang langsung merujuk kepada muslim di Pattani, Yala, dan Narathiwat di Thailand Selatan. Dengan jumlah sekitar 70% dari total muslim di Thailand amat wajar bahwa komunitas ini dianggap sebagai representasi muslim Thai. Padahal, secara geografis, etnis dan kultural mereka lebih dekat denganMalaysiadan tradisi muslim Melayu. Tak terlalu aneh. Thailandmemiliki empat propinsi yang berbatasan langsung denganMalaysia. Narathiwat berbatasan dengan Kelantan. Yala berbatasan dengan Perak dan Kedah. Songkhla berbatasan dengan Kedah dan Perlis, dan Satun berbatasan langsung dengan Perlis.
Sampai saat ini, bahasa Melayu Pattani (Yawi) adalah bahasa sehari-hari yang digunakan penduduk di Yala, Narathiwat, dan Pattani disamping bahasa nasional Thai. Sementara itu, penduduk propinsi Satun lebih banyak berbahasa Thai. Bahasa Melayu Pattani amat mirip dengan bahasa Melayu khas Kelantan (Malaysia) dari sisi dialek. Wajah, dan cara berbusana mereka juga tak jauh berbeda dengan saudara-saudaranya di Malaysia. Kaum perempuannya umumnya menggunakan jilbab/ kerudung khas Melayu dan kaum pria gemar menggunakan songkok (peci), sarung, dan memelihara janggut
Secara historis, muslim di Thailand Selatan memang tidak berakar secara kultural maupun genealogis dengan penduduk Thai yang lain. Dahulu, mereka adalah bagian dari warga kerajaan muslim Pattani yang kemudian dianeksasi oleh kerajaan Siam pada abad 18. Imperialisme dan perjanjian antara Inggris Raya dengan kerajaan Siam pada tahun 1909 semakin memperteguh aneksasi ini. Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun tetap dikuasai oleh Siam. Sedangkan Kedah, Perak, Perlis, dan Kelantan tetap dikuasai oleh Inggris Raya (yang kemudian menjadi bagian dari Malaysia).
Berbeda halnya dengan muslim Thai yang tinggal di sekitar Bangkok. Muslim Bangkok adalah komunitas muslim terbesar kedua di Thailand. Mereka tidak identik dengan muslim Thailand Selatan kendati sebagian kecil berasal dari Thailand Selatan untuk kemudian hijrah ke Bangkok berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mereka hanya bisa berbahasa Thai seperti orang Thai yang lain. Berpenampilan fisik nyaris sama seperti orang Thai yang lain. Mengaku sebagai bagian dari bangsa Thai seperti orang Thai yang lain. Hanya satu saja perbedaannya. Mereka beragama Islam tidak sama seperti orang Thai yang lain. Satu Nusa, Satu Bangsa, Beda Agama.
Bangkok sendiri adalah Ibukota Thailand sekaligus satu kota terbesar di Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 1782 oleh Raja Siam Rama I, menggantikan ibukota Siam sebelumnya yaitu Ayutthaya. Kota ini didirikan persis di tepi sungai Chao Phraya dan berjarak hanya 40 (empat puluh) kilometer saja dari Teluk Thailand. Bangkok kerap dijuluki sebagai Krung Thep alias `Kota Malaikat`. Dari sekitar 10 juta penduduknya, 70% diantaranya adalah keturunan China.
Muslim Bangkok bermukim di sekitar kota Bangkok maupun di kota-kota satelit di sekitarnya seperti Ayutthaya, Chachoengsao, Nakhon Pathom, Pathumthani, dan Samut Prakan. Di kota Bangkok saja ada sekitar 570.000 muslim dengan masjid berjumlah 165 dan imam berjumlah 2475 (data Islamic Committee of Thailand December 2000). Apabila digabungkan dengan kota-kota satelitnya, muslim Bangkok berjumlah sekitar 700.000 dengan masjid berjumlah 260 buah. Suatu angka yang cukup signifikan.
Asal muslim Bangkok bervariasi. Ada yang berasal dari Thailand Selatan, Persia, Arab, Pakistan-India, Bengali, Cambodia, China Selatan – Yunan, ataupun dari Thailand Utara seperti daerah Chiang Mai dan Chiang Rai. Kita dapat mengenal asal etnis muslim Bangkok dari pilihan tempat tinggal mereka. Muslim di daerah Soi Nana (soi berarti `gang` atau jalan kecil dalam bahasa Thai) biasanya adalah keturunan Arab. Muslim di daerah Si Lom dan Bang Rak adalah keturunan Pakistan – India. Muslim di daerah Bang Kha Lam berasal dari India maupun Afrika. Muslim di Ban Khrua adalah keturunan etnis Cham di Cambodia. Muslim di daerah Soi 7 Thanon Petchburi maupun di Minburi Nongcok berasal dari Pattani dan sekitarnya. Mayoritas muslim Bangkok adalah muslim Sunni bermazhab Syafi`i. Mirip dengan kebanyakan muslim di Thailand Selatan dan juga di Indonesia.
Berbeda dengan muslim di Thailand Selatan, muslim Bangkok relatif lebih berpendidikan dan baik status sosial ekonominya. Mereka bekerja hampir di semua wilayah seperti halnya warga Thai yang lain. Menjadi pedagang, pegawai swasta, ataupun menjadi pegawai pemerintah. Komunitas mereka, kendati kecil namun tetap solid. Muslim Thailand Selatan secara kuantitas berjumlah besar namun cenderung miskin, kurang berpendidikan, dan lemah aksesnya terhadap sumber daya kekuasaan di Thailand.
Kegamangan dan Konflik Identitas
Hidup sebagai minoritas di tengah mayoritas Thai Buddhist bukan sama sekali tanpa persoalan. Kendati berpenampilan fisik sama, berbahasa sama, lahir-pun di negeri Thai, namun perbedaan agama sedikit banyak mengundang masalah. Masalah terbesar bukanlah dengan warga Thai non muslim di Bangkok, karena mereka tergolong toleran dan tak bersikap diskriminatif terhadap warga muslim. Perbedaan cara hidup, kebiasaan, dan sistem nilai yang berakar dari perbedaan agama adalah masalah yang lebih serius.
”Masyarakat Thai non muslim relatif memperlakukan warga muslim dengan baik. Kami tidak menemukan kesulitan untuk hidup sebagai muslim di Bangkok. Hanya saja pengetahuan mereka tentang Islam amat minim. Mereka hanya memahami Islam sebatas melarang makan daging babi,” ujar Ibnu Abdul Razak, muslim Bangkok yang berdiam di Soi 7 Thanon Petchburi.
Kehidupan muslim Bangkok memang dikepung ritual, kebiasaan, dan budaya-budaya Thai Buddhist. Dan ini berlangsung sejak pagi hari. Adalah pemandangan yang umum di pagi hari menyaksikan para pendeta Budha (monk) berpakaian orange (saffron) berkepala plontos dengan hanya mengenakan sandal, mengedarkan bakul kosong di pagi hari supaya diisi oleh warga yang didatanginya. Para warga, apakah pedagang pasar, orang lewat, pegawai kantor yang tengah menanti kendaraan, biasanya mengisi bakul tersebut entah dengan makanan ataupun barang lain. Kemudian sang monk memberkati si pemberi barang tersebut. Menurut Roger Welty (2005), tradisi ini berlangsung setiap hari selama lebih dari 2500 tahun silam. Para monk adalah `warganegara kelas satu` di Thailand. Mereka selalu mendapat prioritas di mana-mana. Ketika menumpang bus, kereta maupun kapal, monk selalu mendapat kursi khusus.
Hampir di setiap rumah warga Thai juga selalu tersedia rumah roh (spirit house) yang menurut keyakinan penduduk Budha adalah salah satu cara untuk melokalisir pengaruh buruk dan memberi keselamatan bagi rumah, gedung dan penghuninya. Rumah roh ini lazimnya diberikan sesajen di pagi hari, bisa berupa kelapa muda, minuman botol, makanan kecil, hingga bunga-bungaan dan patung-patung gajah berukuran kecil. Apabila melewati rumah roh, lazimnya warga Thai Buddhist akan merapatkan kedua tangannya (wai) dan menunduk menghormat seraya berdoa. Rumah roh ini mudah ditemukan dimana-mana. Di pusat-pusat pertokoan besar di Bangkok seperti Central World ataupun Mahboonkrong, rumah-rumah roh ini bahkan menjadi tempat pemujaan yang berukuran besar lengkap dengan patung Ganesha, gajah, dan lain-lain.
Warga Bangkok non muslim juga amat mencintai dan menghormati raja. Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) yang bertahta sejak tahun 1946 nyaris seperti tuhan bagi warga Thai Buddhist. Mereka menyembah raja nyaris seperti muslim menyembah Tuhan. Raja adalah pemimpin tertinggi dan simbol keadilan dan kebenaran. Maka, mengkritisi dan berbicara buruk tentang raja adalah suatu kejahatan berdasarkan hukum Thailand. Saking cintanya kepada raja, warga Thai biasa menggunakan baju berwarna kuning bertuliskan `long live the king` setiap hari Senin. Karena raja Bhumibol lahir pada hari Senin, dan warna untuk hari Senin adalah kuning berdasarkan kepercayaan mereka. Warga juga biasa memakai baju berwarna biru muda setiap hari Jum`at, karena Ratu Sirikit lahir pada hari Jum`at dan warna untuk hari Jum`at adalah biru muda. Warga Thai juga tak pernah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan raja. Apabila mereka menjumpai raja, biasanya mereka duduk di lantai dengan bersila atau lesehan dan tidak memandang langsung wajah raja, sementara sang raja duduk di kursi kebesarannya. Bahkan para petinggi militer Thailand yang melakukan kudeta tak berdarah pada 19 September 2006 untuk menggulingkan PM Thaksin Shinawatra-pun, ketika menjumpai raja tetaplah duduk lesehan di lantai.
Penghormatan terhadap raja berlangsung dimana-mana. Setiap hari pada jam 08.00 dan jam 18.00 di tempat-tempat publik disiarkan lagu kebangsaan untuk menghormati raja. Dimana siapapun yang mendengarnya wajib berdiri mematung dan menghormati raja. Tak hanya itu, di bioskop-pun sebelum film diputar ada film pendahuluan sekitar 2 menit tentang raja dimana para penonton wajib berdiri menghormat sebelum menonton film yang sebenarnya.
Bagaimana dengan warga muslim? ”Saya tak pernah menggunakan baju kuning setiap hari Senin, karena saya kan muslim,” ujar Zaman, warga muslim Bangkok asli Songkhla. ”Menggunakan baju kuning berarti menuhankan raja dan itu termasuk syirik,” ujar Zaman lagi.
”Terus terang kami jarang pergi ke Ayutthaya untuk melihat reruntuhan kuil dan pagoda, itu kan peninggalan kerajaan Siam-Budha, sedangkan kami muslim. Terlalu banyak berhala disana,” ujar Farid, muslim Bangkok yang aktif di Islamic Center Ramkamhaeng Bangkok.
”Orang Thai Buddha tak memiliki konsep monotheisme. Adalah aneh dalam konsep orang Thai apabila hanya memiliki satu tuhan atau satu dewa yang disembah saja. Itulah yang membuat saya masuk Islam. Saya tertarik dengan konsep satu Tuhan dalam Islam,” ujar Chonlada, mahasiswa sastra Inggris Chulalongkorn University yang ketika masuk Islam pada tahun 2005 mengganti namanya menjadi Tasnim.
Benturan-benturan nilai dan kebiasaan di atas adalah wajah keseharian muslim Bangkok. Mereka mengalami konflik identitas, sebagai warganegara Thailand, sebagai bangsa Thai, namun juga sebagai muslim. Ada nilai-nilai Islam tertentu yang tak memudahkan mereka untuk hidup layaknya warga Thai yang lain. Mereka tak mungkin menyembah raja Thailand sebagaimana rakyat Thai yang lain. Mereka-pun tak mungkin menghormati rumah roh dan patung, karena terkategori syirik besar. Mereka-pun tak mudah makan di sembarang tempat dan membeli makan di kedai-kedai penjual Thai Buddha, karena tak jelas halal haramnya dari makanan yang digelar tersebut. Juga, mereka tak mudah untuk shalat di sembarang tempat, karena warga Bangkok banyak yang memelihara anjing di dalam maupun di luar rumah.
”Inilah salah satu kesulitan hidup sebagai warga muslim di Bangkok. Kita harus hidup secara sekuler untuk dapat bekerja dan mencapai jenjang tertinggi di pemerintahan,” papar Ibnu Abdul Razak.
Perbedaan cara hidup dan sistem nilai dengan mayoritas Thai Buddhist membuat warga muslim kerap dijuluki sebagai ’khek’ (`pendatang’ atau ’orang asing’ dalam bahasa Thai). Semula istilah ini digunakan untuk menyebut muslim pendatang dari Timur Tengah maupun dari India-Pakistan-Bengali. Namun lama kelamaan semua muslim akhirnya disebut sebagai `khek` juga. Berbeda dengan orang asing yang datang dari barat dan berkulit putih, dimana untuk kelompok ini disebut sebagai `farang’.
Upaya Mempertahankan Eksistensi
Sedikit tapi bergigi adalah ungkapan yang paling pas untuk melukiskan muslim Bangkok. Mirip seperti oase di tengah padang pasir, yang kendati jumlahnya jarang namun mampu menawarkan kesejukan.
Satu contoh paling menarik adalah aktifnya berbagai asosiasi pelajar muslim di universitas-universitas Thailand. Kampus-kampus utama di Bangkok, seperti Chulalongkorn University, Thammasat University, Mahidol University, dan Asian Institute of Technology (AIT) memiliki asosiasi mahasiswa muslim (Muslim Students Association) yang sangat aktif dan saling berhubungan erat satu sama lain.
Di Chulalongkorn University ada sekitar 100 mahasiswa dan pegawai muslim. Namun hanya ada satu musholla kecil yang mereka sebut sebagai `hong lamat` ataupun muslim study club center disana. Letaknya di lantai empat gedung serbaguna Chulalongkorn. Persis di atas cafetaria. Musholla ini berukuran kecil. Kurang dari 6 X 3 meter. Dengan bentuk yang tidak persegi empat. Nyaris berbentuk segitiga dimana di bagian Imam musholla menyempit menjadi hanya berukuran dua orang dewasa saja.
Kendati kecil, musholla ini ramai dikunjungi oleh mahasiswa muslim baik pria maupun wanita. Baik mahasiswa Thai maupun mahasiswa muslim, termasuk mahasiswa Indonesia. Pria menempati bagian depan dan wanita di bagian belakang dimana diantara keduanya diletakkan hijab kayu setinggi tubuh orang dewasa. Setiap waktu sholat musholla ini nyaris penuh , karena memang berukuran kecil sekali. Setiap hari Jum`at, utamanya ketika musim kuliah, digelar shalat Jum`at dengan imam yang bergantian di kalangan mahasiswa. Berapapun makmumnya shalat Jum`at tetap digelar. Pernah suatu Jum`at makmum laki-lakinya hanya berjumlah dua orang saja dan shalat Jum`at tetap berjalan. Muslimah Chulalongkorn University juga berhijab rapi dan amat rajin melaksanakan shalat fardhu dan mengikuti shalat Jum’at.
Menurut Adib, mantan ketua Chulalongkorn Muslim Study Club sekaligus mahasiswa tingkat akhir faculty of engineering, kegiatan keislaman seperti ini adalah kegiatan yang umum terjadi di kampus-kampus Bangkok. ”Kami memiliki hubungan dengan mahasiswa muslim lain di universitas lain. Secara berkala kami mengadakan muslim study camp bersama ke luar kota untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, ” tukas Adib dalam bahasa Melayu Pattani bercampur bahasa Inggris.
Kalangan pedagang dan pengusaha muslim Bangkok juga bangga dengan keislaman mereka. Pedagang muslim selalu menandai makanan dagangannya dengan stiker berlafaz Allah, Muhammad, ataupun Bismillahirrahmanirrahim, disamping label halal yang mereka tempelkan di etalase. Ini adalah cara mudah untuk mengidentifikasi bahwa makanan yang mereka jual adalah layak dikonsumsi dan berstatus halal. Hal ini perlu dilakukan mengingat wajah dan bahasa yang digunakan Thai muslim dan non muslim relatif sama. Juga tak hanya pedagang kaki lima, salah satu toko komputer eksklusif di lantai 5 Panthip Plaza Thanon Petchburi di Bangkok-pun dengan bangga memasang kaligrafi di tembok atasnya untuk menandakan bahwa pemiliknya adalah muslim.
Sentra kegiatan muslim Bangkok adalah di Islamic Center di daerah Ramkamhaeng. Di dalamnya terletak masjid berukuran besar berlantai dua. Tempat shalat terletak di lantai dua, dan di lantai bawahnya digunakan untuk aula, perpustakaan, tempat makan, toko buku, dan kantor-kantor. Masjid ini selalu ramai dikunjungi minimal setiap hari Jum`at dan Ahad dengan beragam corak muslim yang mendatanginya. Dari yang bercadar dan berjilbab lebar, ataupun bersorban dan bergamis putih hingga muslim yang mengenakan celana jeans ketat dan kaos oblong saja.
Muslim Bangkok telah memberi warna lain bagi kehidupan kota Bangkok dan negeri Thailand pada umumnya. Mudah sekali menemukan mereka berseliweran di pojok-pojok kota Bangkok yang amat mudah dikenali dari pakaian yang mereka gunakan. Terkadang amat kontras dengan penduduk Bangkok yang lain yang cenderung berbusana ala kadarnya. Dari rahim mereka telah lahir banyak orang penting Thailand seperti Jenderal Sonthi Boonyaratglin, panglima Angkatan Bersenjata dan Ketua Dewan Keamanan Nasional Thailand, yang sekaligus pemimpin kudeta tak berdarah tahun 2005. Juga ada figur-figur akademisi terkenal seperti Professor Anas dari Mahidol University, Professor Chaiwat Satha Anand dari Thammasat University, ataupun Professor Isra Santisart dari Chulalongkorn University. Muslim Bangkok memang minoritas dan hidup setengah terasing dengan warga Bangkok yang lain. Namun eksistensi mereka nyata.
Wallahua`lam
Posted in A Walk to Remember on December 24, 2011| Leave a Comment »
Chonlada Bangluansanti, Muslimah Muallaf Thailand (22 tahun)
INGIN MENJADI GURU DI THAILAND SELATAN
Musholla kampus itu sangat sempit. Berukuran segitiga. Di Bagian belakang lebarnya empat meter namun di bagian depan hanya satu meter. Panjangnya sendiri hanyalah enam meter. Sempit? Memang. Namun di ruang sempit inilah jantung kegiatan mahasiswa muslim Chulalongkorn University di Bangkok.
Musholla memang nama khas Indonesia. Mahasiswa muslim Chula (nama populer untuk Chulalongkorn University) menyebutnya Muslim Study Club. Letaknya tidak strategis dan tidak mudah dicapai. Di lantai empat gedung aktivitas mahasiswa yang tidak memiliki lift. Berdampingan dengan klub kegiatan mahasiswa yang lain termasuk klub mahasiswa Buddhist dan Christian. Mengambil air wudhu-nya pun cukup jauh. Perlu berjalan kaki ke WC yang jaraknya nyaris sepanjang gedung. Musholla ini memang kurang menarik. Cukup ironis dengan keberadaan Chulalongkorn sebagai kampus paling bergengsi di Thailand.
Kendati kurang menarik, namun Muslim Study Club adalah tempat banyak mahasiswa muslim Chula melepas dahaga keislaman. Hidup di tengah mayoritas mahasiswa Buddhist di negara Buddhist tidaklah mudah. Maka, menemukan musholla, kendati jauh dari standar nyaman, ibarat menemukan oase di padang pasir. Dan hal ini berlaku pula bagi saudari kita, Chonlada Bangluansanti alias Tasnim.
Chonlada adalah mahasiswa sastra Inggris tingkat akhir di Chulalongkorn University. Tak heran, bahasa Inggrisnya di atas rata-rata mahasiswa Chula (karena rata-rata mahasiswa dan penduduk Thai memang tak cakap berbahasa Inggris). Tak ada kesulitan berdialog dengannya dalam bahasa Inggris. Namun, bahasa Inggris saja tak membuatnya menarik. Keputusan besarnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2005-lah yang lebih menarik. “Saya kembali kepada Islam bukan masuk Islam,” ujar Tasnim menegaskan.
Chonlada, yang ketika bersyahadat mengganti namanya menjadi Tasnim (atau Tasneem dalam ejaan Inggris), adalah muslimah asli Thai (keturunan China). Ia tak berdarah Thailand Selatan ataupun Pakistan dan Timur Tengah seperti halnya warga muslim Thailand yang lain. Orangtuanya asli Thai dan iapun tinggal di daerah warga Thai. Bukan di komunitas muslim ataupun komunitas Thailand Selatan seperti umumnya warga muslim Thai yang lain.
Tasnim telah bersinggungan dengan komunitas muslim sejak lama. Karena memang Thailand memiliki sepuluh persen warga muslim dan kota Bangkok sendiri dihuni sekitar tujuh ratus ribu warga muslim. Namun demikian, interaksi intensif antara Tasnim dengan muslim Thai memang ketika ia kuliah di Chula. Kendati warga muslim Chula, apakah mahasiswa, dosen, maupun karyawan, hanya berjumlah sekitar 100 orang, namun Tasnim tak menjumpai kesulitan dalam bergaul dengan mahasiswa muslim. Karena, mereka berbicara dalam bahasa yang sama, menggunakan busana yang sama (di kampus Chula, mahasiswa program S1 wajib menggunakan busana putih-hitam setiap hari), juga mudah menandai mahasiswa muslim dari jilbab dan janggutnya. Wajah mereka-pun tak terlalu berbeda, karena banyak pula muslim Thai berkulit putih dan bermata agak sipit. Seperti warga Thai yang lain.
Tasnim lahir di Bangkok pada tanggal 27 April 1985. Ia memiliki tiga saudara. Hingga kini ia masih tinggal bersama keluarganya di daerah Bangkae Bangkok. Kembalinya Taslim ke pangkuan Islam tidak dengan sendirinya. Terjadi melalui proses dan pergulatan panjang. Bagi warga Thai Non Muslim, Thai muslim disebut `khek` alias orang asing. Karena kendati ciri-ciri fisik, bahasa, dan asal daerah hampir sama, namun tradisi hidup dan nilai-nilai religi mereka sangat bertolak belakang. Alias, mereka hidup secara terasing di tanahnya sendiri.
Hal yang sama dirasakan Tasnim. Kendati ia tak asing dengan pemandangan perempuan berjilbab, lelaki berjanggut, restoran muslim, dan masjid di seputar Bangkok, namun sebagai warga Thai yang lahir dan besar sebagai Buddhist ia tetap asing dengan tradisi Islam. Sampailah suatu waktu ketika Tasnim tertarik dengan kesenian Islam. Ia memang senang dengan kesenian. Suatu waktu ia terkesima dengan lagu-lagu Islam yang syair dan iramanya terkesan asing. Dari situ pengembaraannya dimulai. Berangkat dari kesenian Islam, ia kemudian melanjutkan dengan membaca buku-buku tentang Islam di perpustakaan kampus. Sehabis dua hingga tiga buku dilahap, ia melanjutkan dengan membaca Al Qur`an berbahasa Thai. “Saya menemukan sesuatu ketika membaca buku-buku Islam dan juga Al Qur`an. Apa temuan saya yang paling menarik? Saya menemukan kata dan konsep tentang `Tuhan`,” jelas Tasnim.
Bagi kebanyakan warga Thai Buddhist, konsep Tuhan memang terkesan asing. Tasnim sendiri tidak mengenal konsep Tuhan sebelumnya. Maka ia tak memiliki pengetahuan apakah Tuhan itu eksis atau tidak. “Maka, saya memutuskan untuk terus mencari dan tak menyerah begitu saja,” papar Tasnim.
“Saya sangat tertarik dengan konsep monotheisme Islam. Saya pernah juga belajar agama Christian, tapi menurut saya ajaran Christian lebih banyak berkisah tentang orang-orang masa lalu. Konsep tentang trinitas juga tidak make sense buat saya. Saya meyakini bahwa pasti ada Pencipta dari semua isi alam ini. Memikirkan Sang Pencipta saja membuat saya merasa lebih nyaman,” ujar Tasnim.
Tak sekedar buku-buku, Tasnim-pun melahap ajaran Islam dari browsing di internet, kemudian rajin silaturrahmi ke muslim study club Chula. Alhamdulillah para mahasiwa pegiat muslim study club ini sangat kooperatif dan inklusif. Terbuka terhadap mahasiswa non muslim yang ingin belajar Islam. Puncak silaturrahmi dengan para mahasiswa muslim ini terjadi pada bulan November 2005. Dimana ia memutuskan untuk bersyahadat di Muslim Study Club Chula yang disaksikan oleh tiga orang, masing-masing adalah Hamidah, Hafidz, dan Adib. Ketiganya adalah pimpinan mahasiswa muslim Chula. Ketiganya juga orang yang paling berperan dalam keislaman Tasnim. Hafidz adalah wakil ketua pemuda muslim se-Thailand sekaligus mahasiswa program Master di Chula, Adib adalah Ketua Muslim Student of Chulalongkorn University, dan Hamidah alias Pratubjit adalah mahasiswa senior sekaligus putri dari Somchai, pengacara muslim Thai yang diculik dan diduga dibunuh secara misterius pada tahun 2005 karena pembelaannya pada muslim di Thailand Selatan.
Bagaimana keluarga Tasnim bereaksi atas keislamannya? “Memang ketika kembali pada Islam pada November 2005 saya tidak langsung menyampaikannya pada keluarga saya. Saya melakukannya dengan diam-diam. Shalat-pun saya lakukan dengan diam-diam. Barulah pada bulan Mei 2006 saya berani memproklamirkan pada orang tua saya sekaligus memproklamirkan keputusan saya mulai menggunakan hijab. Awalnya orang tua saya sangat kecewa. Saya menduga bahwa Ibu saya pasti akan melarang saya. Namun alhamdulillah itu tidak terjadi. Ibu dan ayah saya hanya berdiam diri. Lagipula saya berkeyakinan bahwa keislaman saya tak harus membuat saya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai muslimah saya tetap dapat hidup dengan siapapun,” tutur Tasnim tegas.
Hingga kini Tasnim masih tinggal bersama orangtuanya. “Kesulitan saya hanya dalam hal makanan. Makanan keluarga kami bertaburan daging babi dan lingkungan tempat tinggal saya banyak anjing. Maka, saya selalu masak sendiri di rumah. Di kampus Chula sendiri malah tidak masalah, karena selalu ada kios makanan muslim terselip di tengah kios-kios makanan umum,” Tasnim menjelaskan.
Tasnim juga jarang bepergian ke luar kota apalagi ke luar negeri. Perjalanan paling jauhnya adalah ke Pattani di Thailand Selatan. Daerah yang selama ini diemohi oleh warga Thai lainnya karena sarat dengan konflik. Alih-alih menghindar, Tasnim justru pergi ke Pattani untuk menghabiskan Ramadhan pertamanya di tahun 2006. “Saya punya teman muslimah asli Pattani yang selalu pulang ketika Ramadhan. Maka sayapun mengunjunginya ketika Ramadhan dan menjumpai Idul Fitri 2006 juga di Pattani. Sungguh amat berkesan,” ujar Tasnim.
Namun, disamping keindahan berislam yang ditemuinya, ia juga sedikit kecewa dengan muslim di Pattani. “Saya melihat bahwa banyak muslim di Thailand, utamanya yang saya lihat di selatan, tidak menjalankan perintah Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW secara benar. Saya melihat sesuatu yang berbeda. Muslimah mengenakan pakaian berlengan pendek, berjilbab pendek. Juga dengan muslimnya, kurang menghargai hak-hak muslimah,” tambah Tasnim.
Tasnim memang memiliki ekspekstasi yang tinggi dengan keislamannya. Ia ingin turut mengembangkan Islam dan kaum muslimin. Utamanya di Thailand selatan. “Setelah lulus nanti saya ingin mengambil program Master bidang pendidikan di Chula, setelah itu saya ingin mengajar di Thailand Selatan. Daerah tersebut sungguh memprihatinkan. Penduduknya kurang berpendidikan dan rata-rata lebih miskin dari penduduk Thailand yang lain, “ ujar Tasnim.. Sungguh suatu cita-cita yang tak terbayangkan dalam benak warga Thai yang lain. Apalagi ia seorang perempuan.
Di ujung perjumpaan dengan Chonlada Bangluansanti, alias Tasnim, tak lupa ia menyampaikan harapannya tentang lembaga keluarga. “Jelas saya ingin menikah dan berkeluarga. Kendati sayapun tak mengharapkan calon suami saya adalah orang yang sangat ideal. Saya tak berharap terlalu banyak. Namun semoga Allah SWT mengirimkan saya suami yang baik, dapat memimpin keluarga dan membimbing saya. Ia tidak harus orang kaya, tapi minimal ia dapat menasehati saya. Mengenai anak? Saya ingin anak dua orang, laki laki ataupun perempuan,” tutur Tasnim mengakhiri perjumpaan kami.
Seperti disampaikan Chonlada Bangluansanti alias Tasnim di Muslim Study Club Chulalongkorn University- Bangkok, Thailand, kepada Heru Susetyo dan Krisnadi Yuliawan pada 8 Januari 2007.
Posted in A Walk to Remember on December 24, 2011| 3 Comments »
Maryam-san, Mualaf dan Aktivis Da`wah di Hamamatsu Jepang (29 tahun)
“Keluarga Tak Menerima Tapi Juga Tak Menolak”
Nama Maryam barangkali tidak terlalu asing bagi telinga muslim dimanapun. Nama ini terpatri dalam Al Qur’an (Surat Maryam). Menandakan posisi sang empunya nama (Maryam binti Imran) yang memang istimewa dalam sejarah Islam.
Sebaliknya, Maryam keturunan Jepang yang satu ini bukan siapa-siapa. Tak banyak orang mengenalnya. Tidak di Hamamatsu kota tempat tinggalnya, tidak di Jepang negaranya, apalagi di Indonesia. Kendati demikian, kisah hidup hamba Allah yang satu ini menarik untuk disimak. Apalagi, semangat dan performa keislamannya tak kalah dengan mereka yang berislam sejak lahir.
Nama Maryam memang bukan nama asli. Sebagai orang asli Jepang jelas ia memiliki nama Jepang. “Tapi tolong jangan paksa saya menyebutkan nama asli saya. Saya tak ingin membangkitkan kenangan lama saya. Kenangan yang tak ingin saya ingat-ingat lagi. Maka, panggil saya Maryam saja,” ujar Maryam tenang..
Kisah tentang Maryam adalah juga kisah sukses pengajian Hamamatsu dalam membina anggota pengajiannya. Hamamatsu adalah tempat dimana ia tinggal dan kemudian mengikuti pengajian-pengajian Islam. Kota ini berpenduduk 800.000 jiwa yang terletak di Pulau Honshu bagian tengah, dan dapat ditempuh dalam waktu empat jam saja dari Tokyo ke arah Selatan. Empat jam saja dari Tokyo ke arah selatan dengan menggunakan kereta biasa.
Muslim di Hamamatsu cukup banyak. Terdiri atas orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang (lazim disebut kenshusei alias trainee), muslim Pakistan, muslim keturunan Jepang karena perkawinan campuran (Nikkei) dan penduduk asli Jepang sendiri (Nihon jin).
Banyaknya muslim pekerja di Hamamatsu tak lepas dari keberadaan kota ini sebagai kota industri. Perusahaan multinasional seperti Yamaha dan Suzuki bermarkas besar di kota ini. Asal mula raksasa Honda-pun dari kota ini. Saratnya industri otomatis mengundang banyak pekerja asing. Termasuk pekerja asal Indonesia.
Pengajian rutin di Hamamatsu telah berlangsung lama. Pesertanya cukup banyak, dan semakin lama semakin bertambah. Muslimah asli Jepang sendiri terlibat secara aktif. Sebagian besar muslimah Jepang menjadi muslim melalui pernikahan, baik dengan muslim Indonesia, Pakistan, Malaysia, ataupun Bangladesh.
Salah satu muslimah asli Jepang aktivis pengajian Hamamatsu adalah Maryam, atau sering disebut Maryam-san oleh warga pengajian Indonesia di Hamamatsu. Maryam lahir pada 19 Juli 1977 di Shizuoka Jepang, kota yang berjarak satu jam perjalanan dari Hamamatsu ke arah utara. Ia adalah putri pertama dari empat bersaudara.
Maryam menikah dengan Bambang Harianto, pekerja Indonesia yang semula bekerja di salah satu industri di Hamamatsu, pada 16 Desember 2001. Lima hari sebelumnya dia mengucapkan dua kalimat syahadat disaksikan oleh pengajian Hamamatsu.
Pernikahan Maryam dengan Bambang berlangsung unik dan terkesan aneh bagi kebanyakan masyarakat Jepang, apalagi bagi orangtua Maryam. Ketika Bambang memberanikan diri untuk melamar Maryam, sang calon mertua tak berkomentar. Bingung. Karena biasanya pemudi pemuda Jepang hidup bersama dulu sebelum menikah (atau malah tidak menikah selamanya namun hidup bersama dengan pasangan yang sama atau bergonta ganti pasangan). Apalagi, Maryam kenal Bambang kurang dua bulan. Namun dasar pemuda Bambang ini baik imannya, maka kendati sang mertua rada bingung, namun pernikahan-pun tetap dilangsungkan di kampung halaman Bambang, Pasuruan-Jawa Timur, melalui perantaraan wali hakim.
Dari pernikahan yang penuh barokah ini Maryam dan Bambang (sementara ini) dikaruniai dua orang anak, masing-masing bernama Sakinah (lahir tahun 2002) dan Abdullah Alim (Lahir tahun 2004). Wajah kedua hamba Allah yang mungil ini cukup unik. Berkulit putih dan bermata agak sipit ala Maryam, namun sesekali bisa berbahasa Indonesia mengikuti Ayah-nya.
Komunikasi dalam keluarga ini cukup unik. Mereka lebih banyak bicara dalam bahasa Jepang, yang sesekali dicampur bahasa Indonesia. Maryam sendiri belum bisa berbahasa Indonesia kendati sudah paham banyak kata Indonesia. Bambang sebaliknya, sudah pintar berbahasa Jepang karena telah tinggal di Jepang nyaris sepuluh tahun. Namun, apabila bertemu dengan komunitas Indonesia, Bambang lebih banyak berbahasa Jawa logat Jawa Timur-an, apalagi ketika yang dijumpainya adalah orang Jawa.
Dua sejoli ini adalah pasangan serasi di dalam dan di luar rumah. Keduanya sama-sama aktif menggerakkan pengajian di Hamamatsu dan sekitarnya. Bambang, setelah usai kontrak tiga tahunnya dengan perusahaan di Jepang, lantas menetapkan untuk tinggal di Jepang. Apalagi ia telah beristrikan orang Jepang. Bambang kini berwirausaha jual beli mobil dan aktif memimpin Keluarga Masyarakat Indonesia Hamamatsu (KMIH). Juga, ia aktif menggerakkan aktivitas da`wah di masjid Muhammadi Hamamatsu, masjid satu-satunya di Hamamatsu yang berdiri pada tahun 2006 dan didominasi komunitas pekerja Indonesia. Maryam sendiri disamping menjadi ibu rumah tangga, juga aktif menjadi penggerak da`wah di kalangan muslimah Jepang (Nihon jin). “Maryam-san termasuk pioneer disini, ia sudah bisa disebut ustadzah, apalagi bacaan Al Qur`an-nya sudah lancar sekali,” komentar Ervin, seorang ibu muda Indonesia yang tinggal di Hamamatsu.
Apa yang membuat Maryam tertarik dengan Islam? Awalnya sederhana saja. Maryam remaja memiliki hobi menari. Hobi ini mengantarnya bertemu dengan orang Indonesia dalam acara-acara kebudayaan. Dalam sejumlah interaksi tersebut, ia heran mengapa orang Indonesia yang dijumpainya tak makan daging babi dan juga tak minum alkohol ataupun sake. Padahal, bagi kebanyakan orang Jepang, alkohol adalah bagian dari budaya keseharian.
Kemudian, setelah peristiwa WTC 11 September 2001, Maryam makin penasaran lagi dengan Islam. Mengapa Islam dikaitkan dengan terorisme? Mengapa muslim diidentikkan dengan kekerasan? Maka berbekal kegelisahan tersebut, Maryam-pun mendatangi pertemuan yang dihadiri orang Jepang dan orang Indonesia yang antara lain membahas persoalan tersebut.
Tak dinyana, Allah SWT punya kuasa, dari interaksi dengan muslim Indonesia dalam forum-forum diskusi tersebut, ia bertemu dengan Bambang Harianto, pemuda Pasuruan yang kini jadi suaminya, pada pertengahan bulan Oktober 2001. Dari interaksi-interaksi tersebut, ia juga sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa 11 September 2001 tak ada hubungannya dengan Islam. Muslim Indonesia di Hamamatsu tampak ramah, hangat, dan tak ada kesan sebagai teroris sama sekali. Tak seburuk yang digambarkan media massa.
Menurut Maryam, Islam tidak banyak dikenal di Jepang. Karena di Jepang tak ada pelajaran agama. Ia sendiri mengenal Islam pertama kali justru dari pelajaran sejarah di sekolah. Ketika ia di sekolah menengah, ada pelajar muslim yang mengikuti pertukaran pelajar di sekolahnya. Dimana ia banyak bertanya dan bertukar pikiran tentang agama dan masalah ketuhanan. Kemudian, ia juga mengenal Islam dari presentasi teman kuliahnya di universitas yang mempresentasikan tentang Islam sebagai bagian dari tugas kuliah..
Sepengetahuan Maryam selaku muslimah asli Jepang, orang Jepang masa kini umumnya tidak fanatik pada satu agama. Atau malah tidak beragama sama sekali. Mereka bisa lahir sebagai penganut Shinto, kemudian ketika menikah menggunakan ritual Kristen, dan ketika meninggal memilih ritual ala Budha. Maka, menerima konsep Tuhan yang satu ala Islam adalah persoalan besar bagi orang Jepang. Menurut Maryam, orang Jepang mengenal konsep Tuhan namun berbeda dengan monotheisme ala Islam. Sebagian merasakan kebutuhan terhadap adanya Tuhan namun mereka tidak punya perangkat untuk mengakses Tuhan tersebut. Namun, pada umumnya apabila mereka mendapatkan penjelasan yang memadai tentang Islam, mereka juga tak terlalu sulit untuk menerima.
Menanamkan rasa percaya akan keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta dan Rasulullah Muhammad SAW sebagai utusanNya adalah suatu perjalanan yang panjang bagi muslim Jepang. Menurut penuturan sejumlah mualaf Jepang, sebelum menjadi muslim, sebagian besar orang Jepang tidak percaya atau tidak yakin dengan adanya Tuhan. Mereka meyakini bahwa apa-apa yang sudah dan akan didapatkan semata-mata karena hasil usahanya sendiri. Maka, hidup terasa kosong. Bila kebutuhan terhadap Tuhan mereka rasakan di suatu waktu, mereka bingung kemana mencariNya. Maka, mereka mencari Tuhan dimana-mana dan menentukan Tuhan mana saja yang bisa dimintakan pertolongan. Karena kebiasaan ini, orang Jepang banyak memiliki dewa dan jimat sebagai sebagai manifestasi kebutuhannya terhadap Tuhan. “Itulah mengapa saya katakan bahwa bagian tersulit mengajarkan Islam bagi orang Jepang adalah untuk mencerna konsep ketuhanan yang satu tersebut,” jelas Maryam.
Maryam masih percaya bahwa terlepas dari masalah hidayah Allah SWT, jalan pernikahan adalah satu cara efektif untuk memperkenalkan Islam bagi orang Jepang. Kemudian, setelah mereka masuk Islam juga harus dibimbing. Ia menisbatkan pada dirinya sendiri, dimana ketika ia masuk Islam tahun 2001 sebenarnya iman dia pun belum begitu mantap. Alhamdulillah dia bertemu dengan suami yang baik dan senantiasa siap membimbingnya. “Jangan sampai ketika sang mualaf masuk Islam lantas ditinggal sendiri karena ternyata sang pasangannya juga tak terlalu taat dengan ajaran Islam, bimbinglah mereka karena mereka sangat perlu dibimbing,” pinta Maryam.
Oleh karenanya, Maryam bersyukur bahwa di Hamamatsu ada pengajian rutin yang dikelola oleh masyarakat muslim di kota tersebut. Pengajian muslimah Hamamatsu memiliki aktivitas beragam. Bisa berupa belajar membaca Al-qur’an, menghafal surat-surat pendek, belajar bacaan sholat dan do’a-do’a keseharian. Alhamdulillah, pada saat ini sudah ada beberapa orang yang bisa lancar membaca Al-Qur’an.
Bersama pengajian Hamamatsu, para muslimah dan mualaf Jepang ini mulai memahami Islam dengan benar. Bila pada awalnya mereka mengakui, masuk Islam karena pernikahan, namun kini Alhamdulillah mereka menjadi bersyukur dipertemukan dengan Islam dan meyakini bahwa karena Islam-lah hati mereka menjadi tenang, hidup terarah dan menjadi punya pegangan hidup. Seperti suatu waktu, ketika diselipkan kabar tentang kasus karikatur Rasulullah di koran Denmark yang sangat menyinggung umat Islam, mereka mencucurkan air mata. Bukan air mata tanpa makna, namun air mata yang lahir dari rasa cinta pada Rasulullah SAW yang telah bersemi di hati mereka.
Namun, menjadi muslimah di Jepang bukan berarti tanpa tantangan. Beragam masalah timbul sebagai konsekuensi hidup sebagai minoritas. Layaknya menjadi orang asing di negerinya sendiri. Salah satunya adalah benturan dengan keluarga yang tidak menerima keberadaan mereka sebagai muslim. Bahkan, ada pula yang tidak diakui sebagai anggota keluarga lagi oleh orang tua dan sanak saudaranya. Namun selepas anak-anak tercinta lahir dari rahim mereka, Alhamdulillah biasanya sebagian orang tua kembali mau menerima mereka. Kendati, yang lainnya tetap saja menjaga jarak dengan anak, menantu, dan cucu-cucunya.
Hal ini terjadi juga pada orang tua Maryam. Orangtuanya tidak pernah tegas-tegas menolak keislamannya, namun juga tidak pernah menyatakan menerima secara terbuka. Orangtua Maryam memberikannya pilihan bebas karena Maryam sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Suatu sikap khas Jepang. Alhamdulillah, hingga kini komunikasi Maryam dan suaminya dengan orangtua Maryam tetap baik. Mereka tetap bersilaturrahmi dan berkomunikasi secara wajar.
Masalah berikutnya bagi Maryam, dan juga para mualaf lainnya adalah kesulitan mendapatkan makanan yang halal. Makanan dan minuman yang ada di Jepang sebagian besar mengandung unsur haram, seperti babi (butaniku), arak/sake, wine ataupun bersifat syubhat, seperti banyaknya daging atau ayam yang tidak dipotong dengan menyebut asma Allah SWT. Maryam sangat menyadari hal tersebut. Ia tahu betul mana-mana produk makanan Jepang yang tak layak dikonsumsi karena sifat haramnya.
Alhamdulillah di Hamamatsu ada beberapa toko yang menjual daging halal. Keuntungan bagi Maryam, sebagai orang Jepang ia mudah saja membaca huruf kanji ketika berbelanja di supermarket. Maka ia dapat segera mengidentifikasi ingredients/ bahan kandungan yang ada dalam suatu produk makanan.
Berbeda halnya dengan muslim non Jepang. Banyak diantaranya yang tak bisa membaca huruf Jepang (hiragana-katakana-kanji). Akibatnya, mereka tak dapat memahami kandungan bahan makanan. Dalam kasus ini, muslim tersebut-lah yang harus proaktif. Contohnya, bila harus membeli roti atau datang ke restoran umum, maka harus berani bertanya pada penjualnya, kandungan makanan yang akan di makan. Memang terdengar merepotkan, namun bagi muslimah Jepang dan warga muslim lainnya, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Terbukti, sudah bertahun-tahun mereka menjalaninya tanpa sekalipun merasa repot. Alhamdulillah, rata-rata penjual atau penjaga toko diJepang sangat menghargai pembeli. Betul-betul menjadikan pembeli sebagai raja. Sehingga, sangat jarang ditemui penjual atau penjaga toko yang marah atau kesal saat ditanyakan kandungan makanan atau minuman yang dijualnya.
Masalah berikutnya adalah menanamkan dan memperkuat aqidah anak-anak utamanya ketka memasuki dunia sekolah. Kendati anak-anak Maryam belum masuk sekolah dasar, namun iapun memahami kendala ini dari hasil interaksinya dengan muslim yang lain. Kesulitannya adalah mulai dari menjelaskan pihak sekolah terkait makan siang yang ‘khusus’ alias bebas dari zat-zat haram seperti babi dan alkohol. Pelaksanaan sholat dzuhur bagi anak yang sudah menginjak remaja. Hingga, penjelasan ekstra tentang ketidakhadiran anak-anak pada acara-acara khusus di sekolah yang menyangkut kepercayaan orang Jepang, acara-acara mana berpotensi mendatangkan syirik.
Sudah bukan rahasia umum, di Hamamatsu dan di bagian Jepang yang lain. Sebagian anak muslim ada yang mengalami ‘ijime’ atau kebiasaan diejek oleh sekelompok anak di sekolahnya. Biasanya karena adanya perbedaan pakaian atau makanan. Namun Alhamdulillah, melalui komunikasi aktif dengan pihak sekolah dan bersikap tidak menutup diri, masalah-masalah yang timbul bisa di selesaikan dengan baik.
Penggunaan busana muslimah terkadang masih juga mengundang pertanyaan. Beberapa orang Jepang merasa aneh atas penggunaan jilbab dan busana muslimah. Misalnya saja saat musim panas (natsu), di Hamamatsu bisa mencapai 38 derajat celcius. Ketika semua orang Jepang berpakaian minim keberadaan muslimah berbusana ‘rapat’ jelas mengundang keanehan. Padahal, biasanya ketika musim panas, para muslimah menggunakan pakaian yang berbahan tidak tebal namun menyerap keringat. Begitupun dengan jilbabnya, diusahakan tidak berbahan tebal, namun tentunya tidak pendek dan tidak tembus pandang.
Maryam-san termasuk muslimah yang selalu mengenakan busana muslimah di semua tempat dan keadaan. Ia tak malu mengenakan baju gamis dan jilbab lebar untuk pergi ke pasar dan tempat-tempat umum lainnya. Bagi yang tak mengenalnya dan tak melihat wajahnya, takkan mengira bahwa ia adalah seorang muslimah Jepang. Dalam bayangan kebanyakan warga Jepang, muslimah berprofil demikian adalah melulu berasal dari Timur Tengah ataupun Afrika Utara.
Kendati sangat bahagia hidup dalam Islam, Maryam-pun memiliki kritik terhadap muslim, utamanya muslim Indonesia. Menurutnya, masih banyak muslim Indonesia yang belum mengamalkan Islam dengan benar. “Saya tidak mengatakan saya sudah benar, namun hal ini amat disayangkan karena sebenarnya umat Islam Indonesia sangat berpotensi dan amat dimudahkan Allah untuk beribadah. Apalagi dari segi jumlah-pun terbesar di dunia. Karena, ketika seorang muslim tidak menjalankan ajaran Islam atau bahkan berbuat keburukan, terkadang orang Jepang, yang saya ketahui, dengan mudah menisbatkannya ke Islam dan bukan orang itu sendiri. Akhirnya yang jelek adalah nama Islamnya dan bukan individu yang bersangkutan. Masih sulit bagi orang Jepang memisahkan antara Islam dan muslim, “ tukas Maryam.
Kritik Maryam berikutnya, dari pengamatannya ketika berkunjung ke Indonesia, kaum muda Indonesia cenderung berperilaku kebarat-baratan. “Banggalah sebagai muslim. Jangan terlalu condong ke barat,” ujar Maryam. Namun, Maryam juga senang dengan Indonesia untuk banyak hal. Bukan semata-mata karena suaminya orang Indonesia. Namun ia kagum dengan kehangatan dan suasana kekeluargaan orang Indonesia. “Saya juga senang dengan makanan Indonesia dan punya buah favorit bernama mangga,” ujar Maryam.
Maryam begitu cinta dengan Indonesia. Sama halnya dengan kecintaannya kepada Jepang. Namun, sejauh ini baru dua kali ia mengunjungi Indonesia. Ke kampung halaman suaminya di Pasuruan. Dan Maryam cukup populer di Pasuruan. Karena ketika ia disana, ia sempat diwawancara media setempat yang merasa aneh, karena ada perempuan Jepang yang masuk Islam dan menikah dengan warga asli Pasuruan.
Kecintaan Maryam pada Indonesia dan muslim Indonesia memiliki dasar yang tulus. Ia melihat muslim Indonesia, khususnya yang ada di Jepang, amat mudah bergaul dan tak menunjukkan perbedaan. Agak berbeda dengan kebanyakan orang Jepang yang biasanya tak bisa langsung akrab. Perlu waktu sedikit demi sedikit untuk dapat saling percaya. “Maka, manfaatkanlah modal silaturrahmi dan keluwesan pendekatan ala Indonesia untuk menda’wahi orang Jepang. Karena sesungguhnya orang Jepang amat senang mempelajari budaya asing,” tambah Maryam.
Terakhir, Maryam-san berpesan kepada warga muslim Indonesia, “Tolonglah bantu kami para mualaf di Jepang. Kirimkan para da’i dan bantulah membangun pendidikan Islam di Jepang. Jangan terlalu pelit dengan ilmu yang anda miliki. Saya melihat banyak orang pintar agama Islam di Indonesia. Maka, bagi-bagilah ilmunya ke Jepang,” ujar Maryam.
——————————-
*Kisah ini dituturkan langsung oleh narasumber kepada Heru Susetyo di kediamannya di Hamamatsu-shi, Shizuoka-ken, Jepang pada 9 Oktober 2006. Narasumber menuturkan kisahnya dalam bahasa Jepang dengan bantuan translasi ke dalam bahasa Indonesia oleh suaminya Bambang Harianto dan tokoh muslim Indonesia di Hamamats, Dr. Ratno Nuryadi. Data tambahan dituturkan oleh Ervin Hidayati, Ibu Indonesia yang juga adalah aktivis pengajian di Hamamatsu – Jepang.
Posted in More than thousand words... on December 23, 2011| Leave a Comment »
Posted in More than thousand words... on December 23, 2011| Leave a Comment »
Posted in A Walk to Remember on December 23, 2011| Leave a Comment »
Hidup Maupun Mati Tetap Dihargai*
By : Heru Susetyo
Siapapun mengakui bahwa bumi Jepang amat indah. Tak hanya indah alamnya, budaya dan tradisinya-pun terpelihara, santun pula perilaku manusia-manusianya. Amat menantang untuk direkam oleh para pecinta fotografi, termasuk saya.
Hobi fotografi membawa saya mengitari Jepang. Di sela-sela penelitian lapangan dan traveling selalu saya sempatkan menggendong camera Olympussaya (yang saya beli di Yamada-denki Kobe tapi ternyata made in Indonesia !) untuk merekam momen-momen indah yang jarang saya temukan di Indonesia. Memang saya hanya fotografer amatiran, namun keindahan bumi Jepang membuat obyek bidikan saya selalu tampak indah, minimal kata rekan-rekan saya.
Namun sekali waktu saya kena batunya. Ketika mengambil gambar di ruang pamer Japanese Red Cross kantor Tokyo (Palang Merah Jepang) pada bulan September 2006, seorang tua penjaga ruangan memarahi saya. Saya tak paham dia bicara apa. Namun dari nada bicaranya sepertinya sedang marah. Ohki-san, sahabat Jepang saya menerjemahkan bahwa saya dimarahi karena saya mengambil gambar para pengungsi dan korban tsunami di Aceh tanpa minta ijin ke dia.
Saya komplain, lah saya kan hanya mengambil gambar korban tsunami Aceh yang dibantu oleh Red Cross Jepang. Mereka adalah bangsa saya sendiri dan sayapun pernah ke Aceh untuk mengambil gambar-gambar yang sama, jawab saya gusar.
Ohki-san dengan sabar menjelaskan, tidak bisa seperti itu di Jepang. Kamu harus minta ijin ketika mengambil gambar obyek manusia. Apalagi ini adalah korban bencana, mereka punya hak sebagai korban untuk tidak dipublikasi dan tetap dihargai privacy-nya. Saya protes lagi, lah, ini kan untuk keperluan riset saya bukan untuk dipublikasi kemana-mana? Masih dengan sabar Ohki-san menjawab, tak pandang apa kewarganegaraannya, tak penting masih hidup ataupun sudah mati, yang jelas foto-foto korban yang terpampang disini adalah tak boleh difoto atau kamu harus minta ijin kepada mereka untuk mengambil gambar-gambar tersebut.
Saya tak protes lagi. Bukan karena sudah paham, tapi mencoba untuk memahami pilihan sikap seperti ini. Hmmm…penghargaan terhadap privacy manusia, entah hidup ataupun mati.
Dan privacy ini tak sebatas untuk korban bencana, juga dalam adab bertransportasi umum. Dimanapun di seluruh Jepang orang tak boleh menerima maupun menelpon dengan telepon genggam-nya ketika berada di kereta api maupun di bus umum. Saya menyaksikan sendiri, seorang Bapak tua memarahi seorang Ibu muda dalam perjalanan KA antara Kyoto – Osaka, hanya karena si Ibu menerima telepon. Tak heran, rata-rata perjalanan KA dan bis umum di Jepang adalah sunyi. Sepi dari lalulintas telpon dan obrolan antar penumpang. Rata-rata penumpang menyibukkan diri dengan membaca buku, bermain games atau internet-an dengan telepon genggam-nya, ataupun tidur.
Transportasi Anti-Pelecehan
Demi menjamin privacy dan keselamatan publik pula, pemerintah dan sejumlah perusahaan di Jepang menerapkan kebijakan-kebijakan yang mungkin tidak umum di mata publik Indonesia. Misalnya, kebijakan mengadakan gerbong KA khas perempuan. Sejak tahun 1912 telah diperkenalkan gerbong khusus perempuan (hana-densha) di Tokyo. Kemudian berlanjut di Osaka tahun 1950-an dan berkembang terus hingga merambah jalur JR (Japan Railway) East di Tokyo Area dan JR West di Osaka area pada awal tahun 2000-an.
Mengapa gerbong khusus perempuan? Pasalnya adalah di KA kota besar, khususnya Tokyo dan Osaka, sering terjadi pelecehan seksual (sexual molestation ataupun chikan) terhadap perempuan, utamanya pada saat-saat padat di jam-jam sibuk. Maka, hana-densha(kereta bunga) yang kadang berwarna pinkadalah satu proteksi untuk kelompok rentan ini, hanya perempuan yang boleh masuk. Lelaki silakan ke gerbong lainnya.
Untuk alasan yang berbeda, pemerintah maupun banyak perusahaan transportasi di Jepang menerapkan perlakuan khusus untuk penyandang cacat, ibu hamil dan menyusui, penumpang yang bepergian dengan anak kecil, dan orang lanjut usia (lansia). Dimanapun dalam moda transportasi umum mereka selalu mendapat perlakuan khusus dengan penyediaan kursi khusus di gerbong kereta maupun di bis umum. Tak ada orang boleh duduk di special seats tersebut selain penumpang dari kelompok rentan tersebut. Khusus bagi tuna netra, disamping kursi khusus, hampir di semua trotoar umum di jalan raya Jepang menyediakan jalur khusus bagi mereka. Bentuknya adalah jalur yang merupakan rangkaian ubin berwarna kuning yang permukaannya menonjol sebagian yang berfungsi sebagai pembeda untuk jalur umum pejalan kaki non tuna netra.
Kelompok lain yang menikmati perlakuan khusus sebagai kelompok rentan adalah para korban, apakah korban bencana alam, korban kecelakaan transportasi, maupun korban kejahatan. Disamping mendapatkan santunan dari negara ataupun pelaku kejahatan, hak-hak korban akan privacy dan keadilan terus dilindungi. Dalam kasus kecelakaan KA JR West di prefektur Hyogo (Amagasaki area dekat Osaka) pada 25 April 2005 yang menewaskan 107 jiwa dan mencederai 555 penumpang, berulangkali pimpinan perusahaan dan stafnya mendatangi korban dan keluarga, untuk menyampaikan permohonan maaf ataupun menyampaikan santunan. Bahkan, Direktur perusahaan KA tersebut mengundurkan diri tujuh bulan kemudian sebagai bentuk tanggung jawab moral-nya.
Bagi korban kejahatan, berdasarkan Basic Act for Crime Victims 2004, hak-haknya tidak sekedar mendapatkan kompensasi dari pelaku maupun Negara, namun juga berhak memberikan kesaksian di pengadilan baik sebagai saksi (terhadap pelaku/ tersangka) maupun sebagai korban, dalam kondisi perlindungan dan pengamanan penuh. Korban dimungkinkan memberikan kesaksian di tempat khusus tanpa terlihat oleh pelaku/ tersangka, yang membuatnya dapat memberikan keterangan tanpa takut diintimidasi dan meminimalisir trauma. Korban juga berhak tahu perkembangan proses persidangan terhadap sang pelaku sehingga ia dapat meyakini bahwa keadilan bagi dirinya selaku korban telah terjamin oleh hukum maupun peradilan.
Dan masih banyak lagi sisi indah perlindungan terhadap privacy dan kelompok-kelompok rentan di Jepang. Suatu bentuk penghargaan yang begitu indah dan amat manusiawi. Membuat setiap jiwa merasa aman dan nyaman tinggal di Jepang. Membuat saya selalu ingin pergi ke Jepang dari waktu ke waktu dan memaksanya menjadi tanah air kedua saya setelah negeri Indonesia tercinta.
*Pernah dimuat pada webtorial ‘Surat dari Osaka’ tahun 2010
Posted in A Walk to Remember on December 23, 2011| Leave a Comment »
BELGIA : NEGERI TINTIN YANG KLASIK DAN TERBELAH TIGA
By : Heru Susetyo
Anda pernah membaca komik Tintin? Kisah petualangan seorang wartawan muda yang selalu ditemani anjingnya Snowy, dan karibnya Kapten Haddock yang kerap mabuk dan gemar bersumpah serapah? Komik ini pernah sangat populer di Indonesia tahun 1970 – 1990-an sebelum lahirnya era komik-komik asal Jepang.
Nah Tintin adalah ‘kelahiran’ Belgia, karena penciptanya, Georges Prosper Remi alias Herge nama pena-nya, adalah orang Belgia. Dan Tintin telah menjadi icon dan ‘dutabesar’ tidak resmi Belgia. Bahkan, ada museum Tintin di kota Louvain La Neuve, juga toko-toko yang menjual merchandise Tintin di Brussels, Antwerpen, Ghent, dan hampir di semua kota besar Belgia.
Namun, Belgia memang bukan hanya Tintin. Negeri kecil yang yang tidak lebih luas dari Jawa Barat (Belgia memiliki luas 30.528 km2 dan Jawa Barat 34.816km2) ini juga terkenal dengan waffle, cokelat, dan kentang-nya. Konon kentang yang disebut French Fries ditemukan di Belgia dan bukan di negeri jirannya, Perancis (France).
Kendati kecil, negeri cantik ini bisa dikatakan terbelah tiga. Wilayahnya terbelah antara wilayah penduduk yang berbahasa Belanda di utara (Biasa disebut bahasa Flemish dengan daerahnya disebut Flanders), wilayah penduduk yang berbahasa Perancis (di daerah Walloonia) dan minoritas penduduk berbahasa Jerman di sisi timur yang berbatasan dengan Jerman. Dan, keterbelahan ini bukan sekedar pluralisme etnis dan lingustik belaka namun juga keterbelahan masyarakat secara faktual di bidang sosial dan politik. Belgia adalah negara monarki berbentuk Federal yang pembagian daerahnya ditentukan antara lain oleh penggunaan bahasa di daerah tersebut.
Maka, ada pemerintah Federal yang berlokasi di ibukota Brussels, ada daerah otonom Flanders yang berbahasa Flemish (Belanda) dan dibagi atas lima propinsi. Juga, daerah otonom Walloonia yang berbahasa Francais (Perancis) juga dibagi atas lima propinsi. Sementara itu, minoritas penduduk yang berbahasa Jerman tidak membentuk otonomi daerah tersendiri melainkan tergabung dalam daerah Walloonia.
Secara kasat mata, perseteruan sosial politik akhirnya memang mengerucut antara dua kelompok besar penduduk. Antara yang berbahasa Flemish/Belanda dan yang berbahasa Perancis. Padahal penduduk Belgia sendiri tidak banyak, hanya berkisar 10.8 juta jiwa di tahun 2010. Jauh lebih banyak penduduk DKI Jakarta. “Terus terang, kami mengalami konflik akibat perbedaan bahasa ini. Penduduk Belgia terbagi dua, demikian juga parlemennya. Bahkan saat ini pemerintah Federal Belgia sedang kosong. Akibat tidak ada kesepakatan antara parlemen Flanders dan Walloonia tentang siapa yang akan memimpin Belgia. Akibatnya, pemerintah yang kemarin demisioner sekarang diperpanjang sementara masa baktinya,” papar Didier, mahasiswa Doktoral Ghent University asal Flanders, kepada saya.
Dalam hati saya bersyukur sebagai orang Indonesia. Indonesia jauh lebih majemuk dan 23X
(baca : duapuluh tiga kali lipat) lebih banyak penduduknya dari Belgia namun tak mengalami keterbelahan seperti ini. Konflik bernuansa sosial budaya memang kerap terjadi di Indonesia, namun toh tak membelah masyarakat seperti halnya di Belgia.
Dua kali mengunjungi Belgia, pada tahun 2000 dan 2010, saya menyaksikan fenomena keterbelahan yang sama. Penduduk Belgia harus bisa berbahasa minimal dua bahasa, Perancis dan Belanda (Flemish). Contohnya rekan saya, Kathy. Wanita setengah baya asal Ghent ini bahasa Ibunya adalah Flemish/ Belanda. Iapun bercakap dalam bahasa Belanda sehari-harinya. Namun ketika ada orang mengajak bicara dalam bahasa Perancis (Francais), dengan seketika iapun dapat men-switch bahasanya menjadi bahasa Perancis. Yang sama lancarnya dengan bahasa Belanda-nya. “Kami biasa seperti itu. Sejak kecil kami belajar bahasa Perancis disamping bahasa Belanda dan juga bahasa Inggris,” ujar Kathy.
Semua bentuk informasi resmi apalagi informasi pemerintahan wajib disampaikan dalam dua bahasa. Di Ibukota Brussels, kendati berada di daerah Flanders, namun penduduknya lebih banyak menggunakan bahasa Perancis. Maka, mereka yang tinggal di Brussels harus bisa berbahasa Perancis, atau akan disebut sebagai warganegara kelas dua (second class citizen). “Kalau anda tinggal di daerah Flanders, anda cukup berbahasa Flemish saja, tapi kalau anda bekerja di Brussels, anda harus bisa bicara minimal tiga bahasa, yaitu, Francais, Flemish, dan English,” ujar Cedric (nama asli), resepsionis di Novotel Hotel, Ghent, yang asli Belgia.
“Saya sendiri bisa berbicara dalam lima bahasa, disamping tiga bahasa tersebut, juga bahasa Jerman dan bahasa Indonesia,” ujar Cedric lagi. Bahasa Indonesia? “ya, karena saya pernah tinggal tiga tahun di Indonesia dan istri saya juga orang Indonesia.” Oh pantaslah kalau begitu ujar saya dalam hati.
Sebenarnya tak terlalu mengherankan apabila negeri ini terbelah. Karena posisinya memang strategis. Terletak persis di tengah pusat-pusat budaya Eropa. Belgia berbatasan di sisi barat dan selatan-nya dengan Perancis. Di sisi timurnya dengan Belanda dan Jerman. Di sisi tenggara dengan Luxemburg. Dan di sisi utaranya dengan Inggris Raya (Great Britain) yang terhalang oleh Selat Channel.
Kendati secara sosial terbelah, mesti diakui bahwa negeri ini cantik dan klasik. Ia tidak sangat modern seperti Jepang ataupun Korea. Tidak jumawa dan megah seperti USA ataupun Australia. Tidak berlomba-lomba membangun arsitektur termegah dan tertinggi ala Dubai, Hong Kong, Taipei dan Shanghai. Sebaliknya, Belgia adalah negeri kecil dengan alam yang indah, dengan warisan budaya abad pertengahan yang masih terpelihara, dan penduduk yang welcome dengan pendatang asing.
Kota-kota besar di Belgia rata-rata dipadati dengan peninggalan budaya yang klasik. Apakah gereja, puri (castle), benteng, gedung pemerintahan kota dan parlemen, universitas, ataupun istana-istana. Sejauh mata saya memandang di kota-kota utamanya seperti Brussels, Antwerpen, Ghent, dan Leuven, sisi klasik ini yang selalu mendominasi.
Landmark utama kota Brussels adalah patung bocah pipis yang sering disebut Manneken Piss. Patung anak kecil yang memancurkan air dari alat kelaminnya ini dibuat pada tahun 1619 oleh Jerome Duquesnoy, dan terletak di persimpangan antara Rue de l’Étuve/Stoofstraat dan Rue du Chêne/Eikstraat. Ada semacam kewajiban bagi siapapun yang menyinggahi Brussels, untuk mampir ke patung bocah pipis ini.
Berlawanan dengan sisi klasiknya, Brussels juga memiliki landmark lain yang disebut atomium. Yaitu bangunan bertinggi 102 meter seperti ikatan atom (terdiri dari Sembilan unit sel-sel atom yang saling berhubungan) dan dibangun pada tahun 1958 dalam rangka World Expo 1958. Apabila kita berdiri pada unit atom tertinggi-nya maka akan terhampar pemandangan indah kota Brussels.
Lain di Brussels, lain di kota-kota besar lainnya. Antwerpen, selaku kota terbesar kedua di Belgia, juga sarat dengan peninggalan abad pertengahan. Utamanya gedung parlemen kota dan gereja katedral yang sangat indah. Ada pula puri indah seperti benteng yang berdiri persis di tepi sungai besar Scheldt yang membelah kota Antwerpen. Kendati agak jauh dari laut, uniknya Antwerpen juga dikenal sebagai pelabuhan terbesar kedua di Eropa setelah Rotterdam di Belanda, karena dialiri oleh Sungai Scheldt yang cukup luas dan dalam. Maka, bisnis dan turisme berjalan seiring di kota yang hanya berjarak setengah jam perjalanan darat dari perbatasan dengan Belanda ini.
Kota Ghent memiliki keunikan yang lain. Ia lebih kecil dan kurang ramai dibandingkan dengan Brussels dan Antwerpen, namun sangat klasik. Sebuah kanal yang membelah kota menambah kecantikan kota yang berlokasi di wilayah Flanders ini (wilayah berbahasa Flemish/ Belanda). Pemandangan gedung-gedung tua di kiri kanan kanal dan plaza yang amat luas di pusat kota (centrum) menjadikan kota ini salah satu tujuan wisata utama di Belgia. Para turis dimanja dengan kereta kuda, dentingan bel gereja, bunga warna-warni di setiap sudut kota, dan restoran multi rasa yang terserak di setiap sudut kota.
Kota Leuven di sisi timur Brussels memiliki sisi yang berbeda. Terletak di perbatasan antara wilayah Flanders yang berbahasa Flemish dan Walloonia yang berbahasa Perancis, ia dikenal sebagai kota pelajar. Leuven adalah rumah bagi kampus terkenal, Katholieke Universiteit of Leuven. Salah satu kampus tertua dan terbaik Belgia yang sarat dengan mahasiswa asing. Banyak juga orang Indonesia yang pernah studi di kampus ini.
Rata-rata kota berukuran besar di Belgia penduduknya terbilang sedikit untuk ukuran Indonesia. Ibukota Brussels saja hanya dihuni satu jutaan jiwa, itupun nyaris sepertiganya adalah imigran. Tak heran, kenyamanan bertempat tinggal ini pulalah yang antara lain menyebabkan Belgia menjadi rumah yang relatif ramah bagi pelbagai macam kultur dan etnis. Brussels dikenal sebagai ibukota dari Uni Eropa (European Union) sekaligus markas besar dari NATO (North Atlantic Treaty Organization).
Satu keunggulan Belgia yang patut ditiru Indonesia adalah kemudahan transportasi umum. Kemanapun kaki melangkah hampir selalu ada bus kota, kereta api, subway, hingga tram yang menjangkau hampir semua sudut-sudut kota dengan tarif yang relatif terjangkau.
Pelajaran indah berikutnya adalah gaya hidup sehat dengan bersepeda ria. Hampir di seluruh negeri mudah dijumpai orang bersepeda dari semua kalangan. Kota dan desa-pun dirancang sedemikian rupa hingga ramah terhadap pengguna sepeda. Dengan menyediakan jalur khusus sepeda hingga parkir khusus sepeda. Mahasiswa dan Professor-pun sama-sama bersepeda untuk menuju kampus. Tak terlalu aneh melihat sang Professor menyandang ransel dengan helm sepeda tergantung di tali ranselnya. Sementara, pada saat bersamaan, ia tetap mengenakan jas, kemeja tangan panjang dan dasi. Pemandangan yang cukup langka di Indonesia.
Begitu tingginya perhatian terhadap kesehatan diri dan lingkungan, setiap beberapa waktu kota besar seperti Brussels menerapkan ‘Car Free Day’. Hebatnya, kebijakan tanpa mobil dan motor selama satu hari ini berlaku untuk semua wilayah kota Brussels. Tidak seperti di Jakarta yang hanya menyentuh jalan protokol Sudirman-Thamrin atau HR. Rasuna Said, itupun hanya untuk setengah hari saja. Semua kendaraan bermotor tak boleh melewati semua ruas jalan, terkecuali KA dan tram, kendaraan pribadi dalam keadaan emergency ataupun mereka yang mendapat ijin dari otoritas kota. Maka, sungguh merupakan pemandangan yang indah melihat warga kota berjalan kaki, bersepeda, jogging, bersepatu roda, dan menyesaki KA dan tram dengan sepeda-nya, yang memang boleh dibawa ke dalam gerbong KA.
Bagaimana halnya dengan muslim Belgia? Citra Belgia sebagai negeri yang ramah terhadap imigran rupanya menarik minat banyak migran muslim juga. Islam adalah agama terbesar kedua di Belgia setelah Katolik Roma. Penganut Katolik Roma berjumlah sekitar 47% dan muslim sekitar 6% (pada tahun 2008) atau sama dengan 630.000 jiwa. Di Ibukota Brussels bahkan 25% penduduknya alias seperempat-nya adalah muslim. “Lihat saja Mas, mudah kan menemukan para muslimah berkerudung dimana-mana. Tidak di jalanan, tidak di dalam kereta api, banyak wajah-wajah muslim disini,” tukas Pak Edi, warga Indonesia di Brussels yang menemani kami berkeliling kota.
Ada benarnya. Amat mudah menemukan wajah-wajah muslim di Brussels. Bahkan tak hanya muslim, ratusan ribu wajah-wajah migran entah dari India ataupun kaum Yahudi amat mudah ditemui dimana-mana. Mereka bertebaran di antara wajah-wajah para ‘bule’ berkulit putih.
Populasi muslim terbesar berasal dari Maroko sekitar 265 ribu jiwa dan dari Turki sebanyak 160 ribu jiwa, kemudian imigran Albania, Pakistan, dan dari negara-negara Afrika Barat. Imigran Maroko dan Turki datang ke Belgia sejak tahun 1960-an. Mulanya sebagai pekerja migran dan akhirnya berlabuh turun temurun tinggal di Belgia.
Tak heran, mudah menemukan masjid dan restoran-restoran halal di kota-kota besar seperti Brussels, Antwerpen, Ghent dan Charleroi. Restoran yang menjual kebab, shawarma, nasi biryani khas India-Pakistan, dan lain-lain cukup mudah ditemukan dimana-mana. Kendati adzan memang tak terdengar dari menara-menara masjid, namun muslim Belgia relatif bebas untuk beribadah dan terkesan dapat beradaptasi dengan warga setempat.
“Hanya memang ada sedikit masalah dengan perilaku. Muslim perlu belajar hidup lebih bersih dan lebih santun dalam bergaul dengan warga setempat. Karena masih banyak warga Belgia kulit putih yang merasa kurang nyaman bertetengga dengan warga muslim, bukan karena mereka muslim namun karena perilaku yang kurang disiplin ataupun belum terbiasa hidup bersih. Migran muslim perlu membuktikan bahwa mereka dapat hidup berdampingan secara nyaman dan damai dengan warga Eropa lainnya. Karena sesungguhnya Islam sendiri amat mencintai kedisiplinan, kebersihan, dan kedamaian kan, sebagai agama yang rahmatan lil alamin,” tambah Pak Edi lagi.
Memang, ada betulnya. Di luar keindahan dan kecantikan warisan kultural Belgia, pada beberapa wilayah yang sarat imigran dan jauh dari kontrol petugas, seperti gerbong-gerbong KA, jembatan dan jalan-jalan kecil, tampak penuh dengan graffiti beraneka rupa. Beberapa tampak indah namun secara umum malah merusak kecantikan kota. Tidak jarang tulisan pada graffiti tersebut bernada kasar.
Memang, graffiti tersebut tidak menjadi tanggungjawab warga muslim sepenuhnya. Bukan hanya pekerjaan para anak-anak muslim saja. Namun sebagai minoritas terbesar dan penganut agama terbesar kedua di Belgia, mau tidak mau dan suka tidak suka, muslim Belgia harus turut menjamin dan meyakinkan warga Belgia bahwa mereka bisa juga menjadi warganegara dan warga kota yang baik. Disamping sebagai muslim yang shalih dan shalihah. Karena, Islam adalah rahmat bagi semesta alam dan sebaik-baik muslim adalah yang mendatangkan manfaat bagi sekitarnya. Termasuk manfaat bagi negeri cantik bernama Belgia…
Wallahua’lam