Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘More than thousand words…’ Category

ROAD TO MANDALAY
Catatan Perjalanan Myanmar 2009
By : Heru Susetyo

By the old Moulmein Pagoda, lookin’ eastward to the sea,
There’s a Burma girl a-settin’, and I know she thinks o’ me;
For the wind is in the palm-trees, and the temple-bells they say:

“Come you back, you British soldier; come you back to Mandalay!”
Come you back to Mandalay,
Where the old Flotilla lay:
Can’t you ‘ear their paddles chunkin’ from Rangoon to Mandalay?
On the road to Mandalay,
Where the flyin’-fishes play,
An’ the dawn comes up like thunder outer China ‘cross the Bay!

(Road to Mandalay, Rudyard Kipling)

Apa persamaan antara Bajaj dengan Myanmar? Perbedaannya jelas, yang satu alat transportasi umum di Jakarta dan yang lainnya Negara di bilangan Asia Tenggara. Persamaannya? Sama-sama misterius. Bajaj ataupun supir Bajaj tak diketahui kapan akan mengerem, memacu, memutar, dan berbelok. Myanmar juga sama, lebih dari 60 tahun merdeka dari jajahan Inggris, tapi pengetahuan orang tentang Myanmar (dulu Burma atau Birma) tak jauh dari U Nu (PM Pertama), U Thant (Sekjen PBB dari Myanmar), Rangoon (kini bernama Yangoon, mantan Ibukota Myanmar sebelum pindah ke Naypidaw), dan Aung San Suu Kyi (tokoh perlawanan legendaris Myanmar, putra Bogyoke Aung San, pendiri Myanmar).

Belakangan, memori orang tentang Myanmar tertuju melulu kepada dua peristiwa tragis, masing-masing topan alias Cyclone Nargis yang menghantam Irawady Division dan Yangoon dan menelan ribuan jiwa, serta terusirnya etnis minoritas Rohingya dari Northern Rakhine State karena rezim militer Jenderal Than Shwee tak kunjung mengakui mereka sebagai warga Negara Myanmar (stateless persons).

Maka, Bajaj di Jakarta jauh lebih beruntung. Kendati pendapatan supir bajaj jauh dari cukup, namun sebagian publik Jakarta, tetap merindukan kendaraan jingga boros asap ini untuk menempuh perjalanan jarak dekat. Benci tapi rindu.

Dua tahun terakhir eksistensi etnis Rohingya mulai menyita perhatian ASEAN dan juga masyarakat Indonesia. Utamanya ketika sebagian dari mereka terdampar di Laut Andaman, Samudera Hindia hingga Selat Melaka dalam rangka mencari suaka karena terusir dari tanah air mereka, Myanmar.

Selain etnis minoritas Rohingya, satu sisi gelap Myanmar yang jarang diketahui publik adalah eksistensi masyarakat muslim non Rohingya yang ternyata berjumlah cukup banyak.

Begitu menjejakkan kaki di Yangoon setelah menempuh perjalanan udara dari Bangkok dengan Air Asia, dengan mudah mata saya menemukan sejumlah masjid di Yangoon. Tak hanya masjid, ada juga restoran halal India lengkap dengan nasi Biryani-nya, samosa, dan lain-lain.

Terus terang, pemandangan seperti itu sukar ditemukan di Ibukota Mekong River States lainnya seperti Vientiene (Lao PDR), Hanoi (Vietnam), dan Phnom Penh (Cambodia). Hanya Bangkok ibukota Thailand yang mengalahkan Yangoon dalam banyaknya jumlah masjid.

Dan ternyata tak hanya di Yangoon, kota terbesar dan mantan Ibukota Myanmar, muslim dan masjid juga terserak di Mandalay Division, provinsi indah yang terletak di Myanmar bagian tengah.

Perjalanan menuju Myanmar bisa ditempuh dengan tiga cara. Via sungai melalui Irrawaddy atau Ayyeyarwady river, jalan darat, ataupun udara. Bagi penyuka backpacking dan traveling, dua cara di depan bolehlah ditempuh. Apalagi bumi Myanmar amatlah indah. Bagi yang tak suka dengan perjalananan panjang dan lama (jalanan di Myanmar tidak lebih baik dari Indonesia dan bis –pun berjalan lambat, perjalanan udara dari Yangoon ke Mandalay boleh jadi pilihan.

Menggunakan jasa transportasi udara di Myanmar seperti kembali ke Indonesia di tahun 1970-an. Maskapai penerbangan dan jumlah pesawat amat sedikit. Pesawat lebih banyak yang berbaling-baling seperti ATR 72 ketimbang bermesin jet seperti Airbus atau Boeing 737. Beberapa airlines yang terkenal antara lain Air Bagan, Myanmar Airways, Myanmar Airways International, Yangoon Airways, dan Air Mandalay. Dan jangan samakan jumlah armada pesawat mereka seperti yang dimiliki Garuda, Singapore Airlines ataupun Thai Airways. Paling banyak jumlah pesawat mereka adalah lima buah, termasuk yang berbaling-baling tentunya.

Sama halnya dengan bandara, bandara international Yangoon tak lebih baik dari Bandara Kelas II di Indonesia. Apalagi terminal domestiknya. Amat memprihatinkan. WC-nya penuh kotoran, tak ada fasilitas pengiriman bagasi dari check in counter ke pesawat (dan sebaliknya) selain tenaga manusia (bagasi kita didorong dan diseret). Tak ada pula kursi tersedia di terminal bagian luar. Walhasil, sebelum calon penumpang masuk ke terminal, mereka menunggu di emperan jalan sambil jongkok, karena pintu belum lagi terbuka di subuh hari tersebut dan tak ada kursi tersedia di pelataran bandara.

Terminal Internasional Yangoon Airport sedikit lebih baik, namun counter imigrasinya cukup aneh. Ada dua orang yang melayani di setiap counter. Satu mengecek dan memverifikasi dan yang lainnya memberikan stamp. Petugas imigrasinya menggunakan baju hijau, persis tentara. Lucunya, airport tax yang dibayarkan bagi outgoing passengers, lebih disukai apabila dalam bentuk US $ Dollar dan tidak lecek.

Dengan menumpang ATR 72 Air Bagan, di pagi hari tersebut saya menuju Mandalay. Di tengah jalan pesawat sempat transit di Naypidhaw, ibukota baru Myanmar, untuk menurunkan sejumlah pejabat dan tentara, tanpa memberitahukan dulu kepada penumpang. Maka, dengan entengnya saya keluar pesawat dan berjalan meninggalkan pesawat. Belakangan saya sadar, kok airport ini sepi sekali, tak ada pesawat dan bangunan apapun selain terminal. Airport-nya pun seperti masih baru. Karena penasaran saya tanya seorang opsir, dan dia bilang ini memang belum Mandalay ! gubrakk ! sekali-sekalinya seumur hidup saya turun dari pesawat di bandara bukan tujuan.

Ajaibnya, Airport Mandalay jauh lebih cantik dan modern dari Airport Yangoon. Ada garbarata yang menyambungkan terminal ke pesawat (walaupun tak terpakai karena pesawat jarang mendarat dan biaya mengoperasikannya mahal). Kecantikan dan kemegahan yang mubazir. Ruangan-pun agak gelap karena lampu-lampu tak dinyalakan semua. Pengiritan listrik barangkali. Toiletnya ditunggui oleh cleaning service yang berbaju tak seperti CS. Tissue tak tersedia di wastafel atau tergantung di dinding, melainkan diberikan langsung oleh sang cleaning service.

Disamping itu, banyak dijumpai porter ngganggur. Karena jarang pesawat mendarat dan tak ramai penumpang yang memerlukan jasa pengangkat barang. Agak mirip dengan bandara Soekarno Hatta. Bedanya di bandara Soeta frekuensi penerbangannya jauh lebih banyak

Bumi Mandalay sendiri mirip dengan Sulawesi atau Kalimantan. Tanah pertanian, hutan, pegunungan, danau dan sungai bergeletakkan dimana-mana. Jalan dari bandara Mandalay ke Mandalay city jauh dari mulus, malah dipenuhi oleh sapi, gerobak, sepeda, mobil-mobil era 70-an. Mobil seperta Toyota DX, Corolla GL, Nissan Sunny, era 70 – 80-an masih amat mudah ditemui di Mandalay. Belum lagi Mazda kotak sabun RX 600 produksi tahun 1960-an. Di Indonesia mobil ‘culun’ ini nyaris masuk museum. Di Mandalay malah jadi angkutan umum, semacam angkot di Indonesia dengan ukuran seluas bemo sahaja.

Betul, sepertinya sepeda adalah moda transportasi utama di Mandalay. Dimana-mana orang bersepeda, tua muda, laki perempuan. Untuk keperluan bersekolah, pergi dan pulang kerja, dan urusan apapun. Bukan semata-mata karena mereka hobi bersepeda, namun karena penduduknya relatif miskin dan tak mampu membeli motor apalagi mobil. Sepedanya-pun tidak bermerk Federal atau Wim Cycle, tapi mirip sepeda jengki yang digunakan di Jawa pada zaman penjajahan doeloe.

Bagaimana dengan kehidupan warga muslimnya? Inilah ajaibnya Mandalay. Di antara Negara-negara Mekong River States (kecuali Thailand Selatan tentunya), terdapat 52 masjid di Mandalay City dan 6 masjid di kota indah di sisi timurnya Pyin Oo Lwin (sampai saat ini saya masih gagal melafazkan nama kota tersebut dengan benar, anda bisa?). Keterangan ini disampaikan oleh Muhammad Yusuf, seorang imam masjid keturunan Tionghoa yang kami jumpai di Masjid Pyin Oo Lwin. “There are eight lakh (80.000) muslim in Mandalay city and another two lakh (sama dengan 20.000) in Pyin Oo Lwin,” tambah Imam Muhammad Yusuf dengan ramah.

Kota Mandalay indah di waktu siang, namun gelap di waktu malam. Kendati ia kota nomor dua terbesar di Myanmar (seperti halnya Surabaya di Indonesia atau Chiang Mai di Thailand) dengan keramaian dan kepadatan penduduk yang lumayan, namun di malam hari seperti kota mati. Penerangan jalan umum amat minim. Pasokan listrik amat terbatas. Listrik nyala sebentar untuk kemudian mati. Tak heran, hampir di seluruh fasilitas publik (hotel, toko, masjid) sampai rumah pribadi, selalu tersedia genset di muka rumahnya. Suara genset bersahut-sahutan menjadi menu lain dari malam hari di Mandalay.

Masjid di Mandalay city amat banyak. Dari hotel tempat kami menginap, dalam radius satu kilometer tak kurang kami menemukan enam buah masjid. Ukurannya –pun benar-benar berukuran masjid (bukan seperti mushalla yang tak dipakai untuk shalat Jum’at). Beberapa bahkan sangat megah dan berusia lumayan lanjut.

Penamaan dan penomoran jalan di Mandalay sepertinya mengadopsi sistem di Amrik. Pemukiman dipetak-petak dan diblok-blok ala persegi panjang dan jalan dinomori secara sederhana seperti 1st street, 2nd street, 3rd street dan seterusnya. Nah, masjid-masjid tersebut terletak hampir di setiap jalan atau berselang seling dua atau tiga jalan.

Jama’ah masjid rata-rata berwajah seperti orang Bengali (Bangladesh dan sekitarnya), kulit agak hitam tapi tidak legam. walaupun tidak berarti mereka etnis Rohingya (yang memang keturunan Bengali). Ada juga yang keturunan Tionghoa, seperti Imam Muhammad Yusuf di Pyin Oo Lwin, juga yang berwajah Melayu. Jangan salah, orang Burma banyak yang berwajah layaknya orang Melayu. Dua teman Burma saya dan para petugas hotel tempat saya menginap di Yangoon mengatakan wajah saya mirip orang Burma. Dan mereka percaya ketika saya bilang : “I am Burmese but can not speak Burmese.”

Penasaran ingin tahu model shalat di Mandalay? saya mencoba ikut shalat di empat masjid berbeda di radius satu kilometer dari penginapan saya. Dua kali shalat jama’ah di waktu Isya dan Subuh, dan dua kali shalat sendiri karena sudah di luar waktu shalat jama’ah.

Rata-rata jama’ah masjid mengenakan busana yang serius untuk pergi ke masjid. Bergamis putih, atau baju model Pakistan – India yang panjangnya selutut plus celana panjang dengan warna senada, ada juga yang mengenakan sarung. Jarak antara waktu adzan dengan shalat jama’ah cukup lama, sekitar tiga puluh menit. Menunggu jama’ah berkumpul dahulu, barangkali. Jama’ah pun tak bersuara keras menyuarakan ‘amin’ ketika imam usai membaca Al Fatihah. Berbeda sekali dengan shalat jama’ah model Indonesia dimana para jama’ah mengumandangkan ‘amin’ dengan lantang, apalagi anak-anak..

Mencari makanan halal juga tidak terlalu sulit di Mandalay. Mau versi mahal atau murah tersedia semua. Saya sendiri pilih versi murah, yaitu kedai halal di pinggir jalan yang cukup mudah dikenali dari stiker Allah, Muhammad, Bismillah, ataupun kaligrafi yang bertempelan di dinding.

Menu apa yang tersedia? Karena tak tersedia menu dalam bahasa Inggris, semuanya dalam bahasa Myanmar, maka melulu saya makan nasi goreng. Rasanya dahsyat. Terkesan dibuat sembarangan namun mak nyus. Untuk minum saya pilih Teh. Terus terang teh Mandalay amat nikmat. Berkali-kali saya meminumnya tanpa gula. Apalagi gelasnya memang ukuran mini, maka segelas saja tak cukup untuk membasahi tenggorokan. Sayangnya, orang Myanmar punya kebiasaan mengunyah sirih hingga mulutnya merah, dan membuang muntahan sirih merah tersebut dengan sembarangan saja. Termasuk di kedai saya. Kenikmatan memangsa nasi goring Mandalay sedikit terganggu dengan pemandangan orang meludah sirih dan sisa sirih merah di sekitar kedai.

Tapi sebutan kedai halal hanya namanya saja, karena sajian hiburannya ternyata ‘kurang halal’. Beberapa kali saya disuguhi tayangan teve dengan program utama lagu dan tarian Bollywood dalam bahasa India. Semua tamu, termasuk banyak anak kecil, tampak memelototi layar. Apalagi para pelantun dan penari-penarinya memang berwajah cantik dan berbusana pas-pasan pula. Tampaknya tayangan Bollywood tersebut memang jadi jualan dan salah satu daya tarik utama kedai disana. Bagaimana tidak, teve-nya berlayar lebar dan pengeras suara yang digunakan bisa terdengar hingga puluhan meter jauhnya. Padahal, tak jelas betul apakah mereka memahami bahasa India (Hindi) atau tidak.

Tapi lagi, tak semua muslim Mandalay ala Muslim Bollywood. Di Pyin Oo Lwin, kota cantik di dataran tinggi timur Mandalay yang dulu merupakan ibukota musim panas British Burma, dan dapat ditempuh dalam 2 – 3 jam dari Mandalay City, tersedia enam masjid dan satu pondok penghafal qur’an (tahfidzul qur’an). Ada juga satu kedai halal persis di samping masjid jami yang terletak di jalan utama (downtown) Pyin Oo Lwin. Uniknya, kedai ini dikelola oleh muslim keturunan Tionghoa. Berbeda dengan di Mandalay city yang kebanyakan dikelola oleh muslim berparas Bengali.

Di Pyin Oo Lwin juga saya bertemu dengan seorang muslim berhati malaikat. Namanya Kamrun. Dia bilang dalam bahasa Arab nama dia sepadan dengan Kamaruddin. Kamrun adalah penjual barang antik bernilai tinggi di pasar Pyin Oo Lwin. Semua barang dijual Kamrun. You name it. Uang dan koin kuno, senjata tajam, buku dan foto-foto masa silam, peta jaman dahulu, dan ribuan barang-barang antik lainnya. Customer-nya bukan orang setempat, tapi banyak dari Thailand bahkan Inggris. Maklum, kota sejuk di puncak gunung ini adalah mantan summer capital British Burma era kolonial silam.

Tapi bukan itu saja keistimewaan Kamrun, ia amat lancar berbahasa Inggris dan amat ramah. Bertemu sekali di masjid jami Pyin Oo Lwin, langsung ia mengantar saya mencari kendaraan pulang ke airport. Bercerita banyak tentang pekerjaan dan kotanya. Termasuk mengoleh-olehi saya mata uang kuno Myanmar. Tak ingin mengecewakannya, sayapun tertarik untuk membeli setrika besi kuno ukuran mini yang ditawarkan ke saya dengan harga amat murah. “I got it from villager around here Brother, you will not easily find it in other areas,” tukasnya.

Kepada Kamrun, Sayapun bercerita tentang kehidupan muslim di Indonesia. Bahwasanya muslimah di Indonesia pergi shalat ke masjid juga, tidak hanya yang laki-laki. Apa komentarnya? “Muslim’s belief in Indonesia is so strange,”. Karena di Mandalay, tak umum perempuan shalat di masjid.

Akhirnya, di penghujung perjumpaan kami, saat saya mesti mengejar sedan yang akan mengantar saya balik ke Mandalay Airport, Kamrun mendekap erat saya disaksikan Omar, salah seorang pekerjanya. Dengan lirih ia mengatakan : “Allah hafidz Brother…”

Advertisements

Read Full Post »

KISAH COBRA DI LP ANAK PRIA TANGERANG

 

LP Anak Tangerang 22 Mei 2007

Namanya Cobra.  Bukan nama asli memang.  Nama aslinya adalah Dhani Ahmad. Cobra adalah nama julukan teman-temannya, sesama napi anak di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Anak Pria di Tangerang.

Tapi jangan bayangkan ia ganas ataupun berwibawa laksana ular Cobra ataupun gesit dan cepat seperti motor Yamaha RX King Cobra.  Cobra yang satu ini justru amat mengundang iba.

Cobra adalah napi anak (istilah yang lebih manusiawi adalah ‘andipas’- Anak Didik Pemasyarakatan) yang memiliki cacat berlipat.  Sejak lahir ia memiliki keterbelakangan mental. Belakangan, didapati pula ia sulit berbicara.  Apalagi ia nyaris tidak memiliki gigi di bagian depan. Belum lama berselang iapun tertimpa penyakit katarak permanen, yang membuat kedua matanya nyaris tak bisa melihat lagi.  “Kami menyebutnya multiple handicap,” ujar F. Haru Tamtomo, kepala Lapas Anak Pria Tangerang.

 

Derita Cobra yang berujung di LP Anak Pria Tangerang tak lahir dengan sendirinya.  Cobra dilahirkan di Poso, Sulawesi Tengah.  Ketika konflik berlatar etnis dan agama merobek Poso kedua orangtuanya tewas terbunuh.  Jadilah ia hidup sebatang kara.  Gencarnya arus pengungsian mengantar Cobra hingga ke Balikpapan.  Di tanah yang baru dijamahnya ini ia mesti berjuang sendirian.  Tak ada orang tua, tak ada sanak keluarga. Dan hidup semakin tidak mudah bagi Cobra karena iapun memiliki cacat ganda.  Jadilah Cobra mencuri kesana kemari demi menyambung hidup.  Sampai suatu waktu petualangannya berakhir di terali besi.  Kondisi Cobra yang special membuatnya ditransfer ke LP Anak Pria Tangerang.  Pada usia yang amat muda.  Sekitar tiga belas tahun.

 

Di LP Anak Pria Tangerang Cobra hidup ‘relatif lebih baik’ daripada di luar penjara.  Disini ia punya banyak teman.  Bahkan ia dijadikan maskot oleh teman-temannya. Setiap ada kunjungan dari tamu-tamu LP ia selalu didaulat teman-temannya untuk menyanyi ataupun menerima hadiah. Relatif lebih baik?  “Coba Bapak pikirkan, siapa yang memikirkan nasib Cobra sekarang, dia tak punya siapa-siapa.  Kalaupun keluar penjara iapun tak tahu harus pergi kemana,” tambah Haru Tamtomo lagi.

 

Namun penjara tetaplah penjara. Dan Cobra tetaplah anak-anak.  Kendati ia terkesan senang berada di LP Anak namun ia juga sering frustrasi.  “Saya sering melihat dia shalat . Dia rajin sekali shalat.  Namun di saat lain saya juga mendapat laporan bahwa ia sering membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Sepertinya ia frustrasi.  Ia ingin berbicara normal seperti teman-temannya yang lain namun tak dapat berbicara.  Ingin melihat normal seperti teman-temannya yang lain namun tak dapat melihat normal karena katarak permanen,” papar Haru Tamtomo.

penyakit katarak Cobra bukannya belum pernah ditangani.  “Kami sudah membawanya ke Jakarta Eye Center, tapi mereka mengatakan bahwa penyakit kataraknya sudah parah. Retinanya sudah rusak.  Ada memang donor mata dari Sri Lanka, tapi baru siap enam tahun dari sekarang,” sambung Kalapas Bapak Haru Tamtomo.

 

Mendengar komplitnya kisah duka Cobra tak terasa mata saya mulai basah.  Apalagi menyaksikan ia menyanyi lagu kebangsaan penjara guna menyambut kami, para mahasiswa.  “Apa kabar hari ini?” luar biasa dahsyat, yes yes yes !!! ujar Cobra. Ia berteriak dan bernyanyi penuh semangat kendati tak jelas apa yang digumamkan.

 

LP Anak Tangerang, 19 April 2008

Setahun berselang saya kembali mengunjungi LP Anak Pria Tangerang.  Memang ini sudah kegiatan rutin tahunan kami sebagai bagian dari perkuliahan Hukum Perlindungan Anak dan Viktimologi.  Mengantar para mahasiswa supaya lebih akrab dengan dunia hukum dalam kenyataannya.

 

Saya kembali bertemu Pak Haru Tamtomo, Kalapas Tangerang yang sangat kebapakan dan ramah tersebut. Di tangannya LP Anak tak terkesan seperti LP. Kini bertaburan warna-warna cerah dan lukisan tembok anak-anak didik disana-sini.  Lalu saya teringat Cobra yang saya temui tahun lalu. “Apa kabar Cobra, Pak?” tanya saya.  “Wah Cobra sudah tidak disini Pak. Sudah kami pindahkan ke Panti Asuhan Tanmiyah di Bekasi.  Memang masa hukumannya masih belum habis, tapi kalaupun disini kamipun tak banyak dapat menolong karena ia menderita cacat berlipat,” papar Pak Haru. “Tapi ia masih bisa melihat kan, pak, tahun lalu ia masih dapat melihat?” tanya saya lagi penasaran. “Cobra sekarang sudah tuna netra total Pak. Ia menderita katarak parah yang tak dapat disembuhkan. Operasi pun tak dapat menolong dia terkecuali ada donor mata,” jawab Pak Haru. Jawaban yang sama dengan tahun lalu.

 

Saya sedih tak menemukan Cobra. Saya semakin sedih menyadari bahwa kalaupun saya menemukannya saya pun tak banyak dapat menolongnya. Kecuali dengan doa tentunya.  Namun ternyata saya salah.  Setelah kembali menjumpai adik-adik Andipas (Anak Didik Pemasyarakatan) di aula LP Anak siang hari ini, ternyata saya menjumpai ‘Cobra” – “Cobra” baru yang tak kalah menyedihkan nasibnya.

 

Saya berjumpa dengan Ilham, seorang anak berusia 12 tahun yang berwajah sangat innocent. Berbadan kurus dan bertubuh pendek. Memang masih sangat anak-anak ia. “Mengapa Ilham sampai disini Pak?”  iseng saya bertanya pada sipir LP di sebelah saya.  “Oh dia terlibat pencurian motor bersama dua temannya,” jawab sang sipir.  “Mencuri motor? How come Pak? Kan badannya kecil begitu?” tanya saya keheranan.  “Kenyataannya bisa Pak. Dia tertangkap tangan oleh polisi di Tangerang. Ia sendiri berasal dari Lampung. Sampai sekarang tak ada satupun keluarganya yang mem-bezuknya. Pun sejak ia diperiksa di kepolisian. Tak jelas juga siapa ayah dan ibunya. Ilham sendiri bingung ketika ditanya siapa ayah dan ibunya,” tutur Pak Sipir.  Tak terasa kedua mata saya mulai sembab menahan air mata.

 

Akhirnya air mata di pelupuk mata saya benar-benar jatuh ketika saya menangkap wajah “Cobra” yang lain.  Sama seperti Ilham. Badannya kecil, berwajah innocent (bisa dibilang “culun”),  berkaus warna oranye dan selalu menunduk. Namanya, sebut saja D. Saya duga ia terjebak pencurian motor juga.  Karena penasaran akhirnya saya bertanya juga pada Pak Sipir.  “Kalau dia kenapa sampai disini Pak, mencuri motor juga?” tanya saya hati-hati takut terdengar D.  “Oh tidak Pak, dia mah kena pasal 289, korbannya anak umur sembilan tahun. Dia sendiri masih berusia sebelas tahun,” jawab Pak Sipir tenang.

Innalillahi wa ina ilaihi raajiiunn… Pasal 289 di KUHP adalah pasal perkosaan! Anak sekecil itu melakukan perkosaan?

 

Tiba-tiba saya menjadi begitu bersyukur karena masa kecil saya begitu indah, sekaligus bersedih bahwa mereka tak sempat mengecap keindahan masa kecil seperti saya, ataupun seperti anak-anak saya yang seusia mereka…fabiayyi alaa i Rabbikumaa tukadzzibaan

 

 

Jakarta, 19 April 2008

– Heru Susetyo-

Read Full Post »

BANGSAMORO DI MINDANAO :

ROH ISLAM MELAYU DI JASAD PINOY

 

Oleh : Heru Susetyo[1]

 

 Hampir semua orang Indonesia yang pernah ke Philippina,utamanya ke Mindanao, Philippina Selatan,  hampir pasti akan disangka sebagai orang Philippina. Lalu akan diajak berbicara dalam bahasa setempat, apakah Tagalog (Philippino) ataupun Visayan. Sama halnya dengan orang Philippina yang ke Indonesia. Kendati bertahan mati-matian mengaku sebagai orang Philippina, tetap saja orang Indonesia tak akan percaya. “You are a hundred percent Filipino,” ujar Ruby, rekan Filipino penulis di Davao, Mindanao. “You look like Pinoy !” ujar Melissa, rekan Filipino lain yang tinggal di Manila.

 

Memang, penduduk Philippina Selatan, seperti halnya warga Thailand Selatan, sebagian Malaysia dan Singapura, Brunei Darussalam, serta  sebagian penduduk Indonesia,  berasal dari rumpun antropologi yang sama yaitu Austronesian/ Malayo Polynesian. Maka, tak heran memiliki kesamaan ciri-ciri fisik dan bahasa (etnolinguistik) yang hampir sama. Dalam bahasa Tagalog (Filipino) yang kini menjadi bahasa nasional Philippina, terdapat kurang lebih 5000 kata-kata yang hampir sama dengan bahasa Melayu (Indonesia) walau kadang artinya berbeda, seperti : pintu, kanan, murah, mahal, gunting, anak, balai, aku (ako), kita, dan hitungan angka (1 sampai 10 yang amat mirip dengan bahasa Indonesia, Jawa, dan Sunda sekaligus).

 

Kesamaan ini semakin kental ketika kebetulan mereka sama-sama beragama Islam. Ketika muslim Melayu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand Selatan, Brunei dan Philippina berkumpul bersama-sama, katakanlah ketika ibadah haji di tanah suci, maka tak ada yang dapat memastikan asal kewarganegaraan mereka. Selain, ketika mereka mulai berbicara tentunya.

 

Batas negara memang tidak sama dengan batas kultural. Muslim nusantara boleh berbeda kewarganegaraan, namun secara budaya nyaris sama. Di pusat souvenir Aldevinco, Davao City misalnya, mudah dijumpai muslimah Mindanao yang berjualan disana. Di antara barang-barang yang dijual adalah sarung Samarinda dan batik asli Solo dan Pekalongan. “Saya sering pergi ke Tanah Abang di Jakarta dan juga ke Bangkok untuk berbelanja barang-barang kebutuhan muslim,” ujar Aminah, salah seorang pedagang di Aldevinco.

 

Sayangnya, eksistensi dan status muslim nusantara tersebut tidaklah sama. Muslim menjadi mayoritas di Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Namun menjadi minoritas di Thailand, Singapura, dan Philippina. Memang, menjadi mayoritas tidak menjamin hidup lebih baik, namun terlebih lagi ketika menjadi minoritas. Demikianlah yang terjadi dengan minoritas muslim Moro di Mindanao Philippine.

Apa dan Siapa Bangsamoro

Salah Jubair dalam bukunya Bangsamoro : A Nation Under Endless Tyranny (1999) menyebutkan bahwa istilah Moro atau Bangsamoro (“bangsa” disini memiliki arti yang sama dengan “bangsa” dalam bahasa Indonesia) adalah istilah yang berasal dari penjajah Spanyol (Spaniards). Sama halnya dengan sebutan etnis lain di Philippina seperti ‘Indio” dan “Filipino”.  Kata “Moro” sendiri diadopsi dari bangsa Mauri atau Mauritania di Afrika yang kemudian juga dikenakan kepada bangsa Berbers di Afrika Utara dan juga kepada kaum muslimin yang datang dan menaklukkan Spanyol berabad-abad silam.  Maka, istilahMoro akhirnya tidak merujuk kepada kelompok etnis, ras, waktu dan geografis tertentu, namun lebih merujuk kepada kelompok orang yang berafiliasi kepada agama tertentu, dalam hal ini adalah Islam.

 

Muslim di Philippina terdiri atas 13 kelompok etnolinguistik, masing-masing  Iranun, Magindanaon, Maranao, Tao-Sug, Sama, Yakan, Jama Mapun, Ka’agan, Kalibugan, Sangil, Molbog, Palawani and Badjao.  Ada pula muslim di kalangan penduduk pribumi (indigenous people) Mindanao seperti Teduray, Manobo, Bla-an, Higaonon, Subanen, T’boli, dan lain-lain.  Selain itu penduduk Muslim juga dapat diketemukan di Luzon maupun Visayas  kendati tidakdalam jumlah yang signifikan. Muslim yang mendiami Mindanao, pulau Basilan, Palawan, Sulu dan kepulauan Tawi-Tawi kemudian disebut sebagai Bangsamoro (Lingga, 2004). Data tahun 2005 menyebutkan total muslim di Philippina berjumlah 5% (4.5 juta jiwa) dari total penduduk Philippina.

 

 

Peran Pendakwah Minangkabau, Makassar dan Ternate

Indonesia, tepatnya warga Minangkabau, Makassar dan Ternate patut berbangga. Penyebaran Islam di Mindanao tak lepas dari peran pendakwah Minangkabau masa silam. Salah Jubair (1999) menyebutkan sejarah keislaman Bangsamoro berakar sejak tahun 1310 M dengan ditemukannya nisan seorang pemimpin dan pendakwah Islam generasi awal di Mindanao. 

 

Penyebaran Islam di Sulu dan Mindanao diyakini berasal dari para pedagang, guru-guru dan sufi keturunan Arab yang berlayar hingga ke Sulu dan Mindanao (hampir sama dengan model penyebaran Islam di Indonesia). Mereka kemudian mengislamkan dan menikahi penduduk setempat. Masjid pertama di Philippines tercatat berada di Tubig-Indangan di Pulau Simunul. Didirikan oleh Makhdum Karim alias Sharif Awliya, keturunan Arab, sekitar tahun 1380. Berikutnya para musafir keturunan Arab secara berturut-turut membangun kesultanan Sulu pada 1390, dan kesultanan Maguindanao dan Buayan pada akhir abad ke 15

 

Abhoud Syed M. Lingga (2004) menyebutkan bahwa Sultan pertama Sulu (Paduka Mahasari Maulana al-Sultan Sharif ul-Hashim) yang memerintah tahun 1450 – 1480 adalah berasal dari Sumatra. Sultan ini menikah dengan putri Rajah Baguinda yang berasal dari Minangkabau (‘Menangkabaw’ dalam istilah di Mindanao). Di Mindanao, Sharif Muhammad Kabungsuwan, pendiri kesultanan Maguindanao tiba di Mindanao pada 1515.  Ayahnya berasal dari Arab dan ibunya adalah keluarga kesultanan Johor (kini bagian dari Malaysia).  Sementara itu, Sultan Sulu ke -7 adalah memiliki darah Brunei (kini Brunei Darussalam).

 

Kesultanan Makassar dan Ternate masa silam turut memainkan peranan penting di Mindanao. Ketika Gubernur Spanyol Corcuera menyerbu Sulu pada 1638, Rajah Bongsu, Sultan Sulu, mendapat bantuan dari para prajurit Makassar. Sementara itu, kesultanan Ternate kerap membantu Sultan Buisan di Maguindanao dalam perangnya melawan kolonial Spanyol (Lingga, 2004).

 

Sampai kini masih cukup banyak keturunan Indonesia yang tinggal di Mindanao. Namun kini lebih banyak berasal dari Sulawesi Utara, utamanya kepulauan Sangir Talaud dan Miangas (Pulau Miangas adalah pulau terluar Indonesia yang berjarak sangat dekat dengan Mindanao dan sebaliknya amat jauh dari Manado).  “Saat ini ada sekitar 8000 orang Indonesia yang masih berkewarganegaraan Indonesia di Mindanao. Belum lagi mereka yang tak terdaftar dan mereka yang telah berkewarganegaraan Philippina,” ujar Bernard Loesi, konsul Indonesia di Konsulat Jenderal RI di Davao City.

 

Tak puas menyebarkan Islam di Mindanao, pergerakan Islam kemudian melaju ke utara, merambah area Visayan, yaitu Cebu, Mactan, kemudian Palawan, hingga Luzon, pulau dimana metropolitan Manila berada.  Salah Jubair (1999) mensinyalir bahwa Metropolitan Manila pada abad ke 16 adalah di bawah kekuasaan raja muslim yaitu Rajah Sulaiman Mahmud. Sama halnya dengan daerah Tondo, Cebu dan Mactan di Visayan.

 

Datangnya penjajah Spanyol (Spaniards) pada tahun 1521 kemudian mengubah semuanya. Ekspansi dakwah Islam dari Selatan (Mindanao dan Sulu) terhambat dan pertempuran terjadi di banyak tempat selama tiga abad lebih kekuasaan kolonial Spanyol. Perang dengan Spanyol baru mereda pada tahun 1898, yaitu saat beralihnya kekuasaan negeri Philippines dari Spanyol ke Amerika Serikat melalui perjanjian Paris 10 December 1898.

 

 

Identitas Filipino dan Bangsamoro

Selain mengenakan istilah “Moro” untuk menyebut kelompok muslim di Mindanao, penjajah Spanyol juga menciptakan istilah Philippines. Pada pertengahan abad ke -16 rombongan ekspedisi Spanyol mendarat di Sarangani Mindanao Selatan dan mencoba untuk membangun pemukiman baru. Namun di daerah baru tersebut mereka berbenturan dengan kemiskinan Bangsamoro sehingga rombongan berbalik pulang. Dalam perjalanan pulang ketika melewati gugus kepulauan Samar-Leyte, Bernardo de la Torre, salah seorang kru kapal, memberikan nama kepulauan tersebut sebagai Filipinas, ntuk menghormati Philip, putra mahkota kerajaan Spanyol ketika itu (di kemudian hari menjadi Raja Philip II).  Ketika Amerika Serikat menjajah Filipinas, nama tersebut kemudian di-Inggris-kan menjadi Philippines, sampai saat ini.

 

Apabila Philippines adalah nama negara, maka Filipino adalah sebutan untuk Spaniards yang lahir di Philippines. Namun sejak tahun 1898 istilah Filipino dikenakan juga untuk warga pribumi demi menggalang dukungan warga pribumi dalam melawan Amerika Serikat.  Belakangan, istilah Filipino ini kemudian mendapatkan ‘nickname’ baru yaituPinoy (untuk kaum Pria Filipino) dan Pinay (untuk kaum wanita Filipino)

 

Warga pribumi Philippines non Moro sebelum 1898 disebut sebagai Indios. Makna “Indios” adalah ‘native” ataupun “pribumi”. Istilah diskriminatif ala Spaniards kepada penduduk asli Philippina yang bermakna ras yang lebih rendah, primitif dan intelejensia terbatas. Sebenarnya, Indios secara antropologis adalah juga termasuk ras Indo-Malayan sama seperti Bangsamoro. Hanya saja mereka tidak memeluk Islam maka lebih kental dengan sebutan Indios.  

 

Sama halnya dengan etnis Dayak yang memeluk Islam di Kalimantan. Ketika memeluk Islam mereka disebut sebagai Melayu, kendati sebenarnya asal usul etnis tidak berubah. Tetap saja etnis Dayak. Karena ada asumsi bahwa etnis Dayak adalah penganut kepercayaan animism/dinamism ataupun kepercayaan lain di luar Islam.

 

Sebaliknya, Bangsamoro tetaplah Bangsamoro hingga kini.  Roh Islam Melayu jauh lebih dominan daripada Indios apalagi Spaniards.  Secara ras, Bangsamoro adalah ras Indo-Malayan.  Ciri-ciri fisiknya amat serupa dengan Indo Malayan lain yang kini bermukim di Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand Selatan.

 

Aksara yang digunakan di Mindanao dan Sulu sebelum datangnya pengaruh kolonial Spanyol adalah dalam huruf Yawi (Arab Melayu). Buku-buku agama ketika itu adalah dalam huruf Yawi, sama halnya dengan tradisi penulisan di Thailand Selatan (Patani) dan juga di kesultanan-kesultanan Islam di Indonesia masa silam. 

 

Secara etnolinguistik, semua dialek pribumi Moro, dan juga Luzon serta Visayas, adalah berhubungan dan memiliki akar yang sama dengan bahasa di rumpun Austronesian/ Malayo Polynesian. Tak heran, kita mudah menemukan banyak kata-kata yang sama antara bahasa Bangsamoro dengan bahasa Indonesia, Melayu-Sumatra, bahkan bahasa Jawa, ataupun Sunda.  Kata-kata seperti Tuhan, Raja, bichara, orangkaya, sultan, memiliki makna yang hampir sama dengan kata-kata yang sama dalam bahasa Indonesia.

 

Secara afialiasi keagamaan, hampir seratus persen penduduk Bangsamoro adalah beragama Islam. Dengan model keislaman yang kurang lebih sama dengan penduduk Asia Tenggara yang lain.

 

 

Problem Bangsamoro

Problem utama Bangsamoro kini adalah  hak untuk menentukan nasib sendiri (right to self-determination).  Selanjutnya adalah kemiskinan, ketertinggalan pembangunan, rendahnya pendidikan, minimnya pekerjaan, diskriminasi, dan juga stigma sebagai teroris.

 

Tidak salah kalau dikatakan bahwa Bangsamoro selalu berada dalam tirani dan penjajahan. Lepas dari penjajahan Spanyol selama lebih dari tiga abad (1521 – 1898), Bangsamoro berada dalam kekuasaan Amerika Serikat hampir selama lima dekade (1898 -1942). Berikutnya Jepang menguasai mereka selama tiga tahun sampai akhirnya berada dalam kekuasaan Republic of Philippines per 4 Juli 1946.  

 

Perjuangan menuju kemerdekaan masih berlangsung hingga kini.  Berturut-turut lahir Moro National Liberation Front (MNLF) pada akhir tahun 1960-an pimpinan Nur Misuari dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hasyim (wafat pada 2003) pada tahun 1981. Lahirnya MILF adalah respon dari ketidakpuasan terhadap MNLF yang dianggap kurang tegas dalam memperjuangkan hak-hak Bangsamoro dan terlalu akomodatif dengan pemerintah Philippina.  Belakangan, pada awal 1990-an, lahir Abu Sayyaf Group (ASG) yang dipimpin Abdulrajak Janjalani.  Namun yang terakhir ini lebih cocok disebut sebagai organisasi ‘teroris’(ASG digolongkan sebagai foreign terrorist organization oleh pemerintah AS), karena disinyalir kerap menebar teror di Philippina. Juga, baik MNLF maupun MILF menolak memiliki keterkaitan dengan aktivitas Abu Sayyaf Group.  Keberadaan segelintir pihak yang menempuh jalan radikal ini pada akhirnya amat merugikan Bangsamoro. Terjadi generalisasi dan stigmatisasi bahwa Bangsamoro identik dengan teroris.

 

Negosiasi Bangsamoro dan pemerintah Philippina untuk merumuskan wujud hak menentukan nasib sendiri ini berlangsung berpuluh tahun. Libya, Indonesia dan Malaysia adalah di antara negara-negara OKI (organisasi konferensi Islam) yang rajin memfasilitasi perundingan ini.  Pencapaian terakhir Bangsamoro dalam ikhtiar menuju kemerdekaan ini adalah dicapainya status otonomi khusus dengan nama ARMM (Autonomous Region of Muslim Mindanao) pada 1 Agustus 1989, buah perjanjian antara pemerintah Philippina dan MNLF.  Saat ini ARMM terdiri atas enam propinsi yaitu tiga di daratan Mindanao (Maguindanao, Lanao del Sur, Shariff Kabunsuan) dan tiga di kepulauan Sulu (Sulu, Basilan, dan Tawi-Tawi). Jumlah penduduk di enam propinsi mayoritas muslim tersebut mencapai hampir tiga juta jiwa.

 

Disamping ARMM, bentuk akomodasi lain terhadap Bangsamoro oleh pemerintah Philippina adalah pemberlakuan Code of Muslim Personal Laws of the Philippines pada tahun 1977 yang mengatur urusan hukum keluarga (perkawinan, perceraian, kewarisan) masyarakat muslim Philippine. Selanjutnya, beberapa mahkamah syari’ah dibentuk dan hakim-hakim syari’ah ditunjuk . Di bidang ekonomi Islam, Philippine Amanah Bank, yang beroperasi di kalangan muslim, dibentuk pada tahun 1974 oleh mantan Presiden Ferdinand Marcos.   

 

Masalah krusial Bangsamoro berikutnya adalah kemiskinan. Kemiskinan di ARMM adalah yang paling buruk di Philippina. Pendapatan per kapitanya hanya PhP 3.433 pada tahun 2005 (Phillipines Pesos). Pada saat yang sama-sama, rata-rata pendapatan per kapita di 16 region yang lain adalah PhP 14.186. Bahkan region termiskin kedua di Philippine, pendapatan per kapitanya masih dua kali lebih baik daripada ARMM.

 

Kesulitan dalam memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak adalah cerita yang yang lain. “Penduduk muslim sukar mendapatkan pekerjaan di kantor-kantor pemerintah maupun di pertanian umum, hanya karena mereka muslim,” tutur Evelyn, muslimah Moro yang tinggal di Mandug Barangay, Davao City.

 

Sejatinya, tak ada kebijakan pemerintah Philippina yang secara terang-terangan mendiskriminasikan penduduk muslim. Namun berhubung mayoritas penduduk Philippina adalah Kristen (Katholik dan Protestan), maka banyak kebijakan yang memang dirumuskan sesuai dengan kehendak mayoritas dan akhirnya merugikan minoritas. Sebagai contoh, kebijakan memindahkan penduduk Filipino non muslim ke Mindanao atas nama pembangunan akhirnya cenderung meminggirkan kaum minoritas di Mindanao, yaitu Bangsamoro.

 

 

Menegosiasikan Masa Depan

Bangsamoro kini hidup di tengah ketidaksinkronan. Ruh-nya adalah Islam Melayu sementara jasadnya adalah Pinoy (Philippines). Hampir sama dengan minoritas muslim Thailand Selatan yang hidup di tengah negeri Buddhist.  Muhammad al Hasan (1978) menyikapi situasi ini sebagai berikut : “Kami, Moros dan Filipinos adalah dua kelompok manusia yang berbeda, yang memiliki ideologi, budaya, dan sejarah yang berbeda. Kami juga memiliki konsep kedaulatan yang berbeda. Menurut Filipinos, kedaulatan berada di tangan rakyat Filipino, sedangkan kami sepenuhnya percaya bahwa kedaulatan adalah milik Allah SWT.”  Selanjutnya, Muhamad al Hasan mengatakan : “Budaya kami sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, ajaran, dan prinsip-prinsip Islam, yang sangat bertentangan secara diametral dengan kebudayaan Filipino yang sangat terpengaruh budaya kaum kolonial.”

 

Maka, perjuangan Bangsamoro ke depan  adalah perjuangan bernegosiasi. Menegosiasikan masa depannya sebagai minoritas. Menegosiasikan hak-haknya untuk menentukan nasib sendiri di tengah  mayoritas Pinoy yang bersamaan ras, bahasa, dan warna kulit-nya namun berbeda agama, kultur, maupun ideologi.  Perjuangan yang tidak mudah, karena kemiskinan, pengangguran, rendahnya pendidikan, dan stigma sebagai teroris senantiasa melekati mereka.


[1] Kontributor Tarbawi, bermukim sementara di Nakorn Pathom Thailand untuk menyelesaikan studi PhD bidang human rights and peace studies di Mahidol University.  Tulisan ini adalah oleh-oleh dari dua kali kunjungan ke Mindanao, Philippines pada November 2007 dan Maret 2008.

Read Full Post »

 

PATANI : PETERPAN, HUMVEE, DAN KECEK NAYU

Dunia Melayu di Tanah Siam

Oleh : Heru Susetyo1

Suara Ariel、 vokalis group musik Peterpan, yang melantunkan hit Ada Apa Denganmu mengalun dari pojok hypermarket. Beberapa pramuniaga pria yang bertugas di soundsystem section tampak menikmati lagu ini. Mereka turut bersenandung mengikuti hentakan vokal Ariel. Di Jakarta-kah? Bukan. Di Kuala Lumpur? Ternyata juga bukan. Ini pemandangan nyata yang kami jumpai di Big C Supercenter di kota Patani, provinsi Patani, Thailand Selatan pada awal Desember 2007..

Dan bukan hanya itu infiltrasi budaya Melayu di Patani. Jangan heran kalau di pasar tradisional Patani kita mudah menemukan lagu-lagu Indonesia dan Malaysia dijual oleh pedagang kaki lima. Yang menjadi favorit adalah lagu dangdut dan lagu pop romantis. Nama-nama seperti Krisdayanti atau Rhoma Irama sudah tak asing bagi telinga mereka. “Lagu-lagu dangdut Indonesia sangat populer disini. Orang disini suka dengan dangdut Indonesia,” ujar Sasudong Dosomy, warga asli Patani、 dalam bahasa Melayu. Tapi apakah mereka paham dengan artinya? Sekitar lima puluh persen saja bahasa Indonesia yang dapat mereka tangkap dan pahami melalui lagu. Selebihnya tak paham. Mereka senang dengan lagu Indonesia dan Malaysia karena di Patani sendiri tak banyak seniman ataupun penyanyi yang mewakili kultur mereka,” ujar Zakariya Amataya, warga asli Narathiwat yang tengah studi di Bangkok.

Sinetron dan film Indonesia juga termasuk yang diminati oleh warga Patani. Mereka mudah mengakses produk tersebut via antena parabola ataupun VCD yang dijual murah di pasar-pasar. Pada saat remaja Thai yang tinggal di Bangkok menggila-gilai film dan artis Korea, remaja dan pemuda Patani lebih condong pada artis Indonesia ataupun Malaysia. Tak perlu heran, karena di Malaysia-pun grup musik seperti Peterpan, Dewa 19, Samson, ataupun Ungu dan artis seperti Dian Sastro, Luna Maya, hingga Nia Ramadhani mendapat sambutan luar biasa besar dari warga muda Malaysia. Alasan kedua adalah, sebagai minoritas di Thailand, mereka tak memiliki cukup ruang untuk mengekspresikan kultur dan keseniannya. Tak ada stasiun TV Patani. Hanya beberapa radio lokal dengan siaran lokal berbahasa Melayu saja.

Sama halnya dengan busana harian. Kendati di hypermarket besar seperti Big C, yang hampir sama dengan Carrefour atau Giant di Indonesia, rata-rata pembelanja mengenakan busana muslim. Ada yang menggunakan sarung Samarinda, baju gamis (tob dalam bahasa Melayu Patani), ataupun baju koko (talo blago) . Yang wanita rata-rata menggunakan jilbab dan baju muslim yang bervariasi. Mulai dari yang berjilbab pendek, baju kurung ala Malaysia, hingga. yang mengenakan cadar (niqab) ada semua. Mereka yang tak berbusana muslimah adalah minoritas disini. Biasanya adalah warga Thai Buddhist ataupun Chinese Thai.

Namun ada satu pemandangan yang berbeda dengan hypermarket di Indonesia. Disini tentara berpakaian tempur dan menyandang senapan mesin M-16 tampak ikut berbelanja. Melihat-lihat barang sambil mengenakan kacamata hitam. Tak jelas apa tugasnya, mengamankan tempat atau karena memang ingin berbelanja.

Di luar hypermarket pemandangan lebih seram. Tentara berpatroli dengan menunggang humvee armoured vehicle (jeep tempur Amerika yang tersohor karena Perang Teluk) berseliweran dimana-mana. Hampir di setiap jalan besar, setiap beberapa kilometer, ada posko militer (military checkpoint) dan posko polisi (police checkpoint). Disana setiap kendaraan mesti berjalan pelan dan melapor pada penjaga posko. Persis kondisi di Aceh sebelum tsunami 2004.

Dunia Melayu di Tanah Siam

Kendati mereka adalah warganegara Thailand, sebagian besar masyarakat Patani, utamanya kalangan dewasa hingga tua, lebih banyak menggunakan bahasa Melayu Patani atau Kecek Nayu. Telinga Indonesia mungkin agak sulit menangkap percakapan dalam Kecek Nayu apabila mereka berbicara cepat. Namun apabila berbicara lambat, maka banyak kesamaan bahasa dengan Melayu Malaysia ataupun Bahasa Indonesia. Mereka menyebut `Babo` untuk memanggil `Bapak.` Menyebut `Toh Ayah` untuk memanggil Kakek dan `Siti` untuk memanggil `Nenek.` Menyebut dirinya sendiri sebagai Orae Nayu (orang Melayu). Warga Thai non muslim menyebut muslim sebagai `khek` (orang asing), walaupun belakangan panggilan ini jarang digunakan karena bertendensi merendahkan. Secara bahasa maupun kultural, Melayu Patani amat dekat dengan Melayu Kelantan (Malaysia). Karena secara geografis mereka bersisian dan secara historis adalah bagian dari kesultanan yang sama lima abad silam.

Warga Melayu Patani juga mengenal apa yang disebut dengan Bahasa Kampong dan Bahasa Tengoh ataupun bahasa tulisan. Bahasa Kampong adalah bahasa Melayu khas Patani yang digunakan penduduk sehari-hari. Bahasa ini sukar ditangkap telinga Indonesia. Bahasa Tengoh adalah bahasa Melayu yang biasa digunakan untuk keperluan formal seperti pada tulis menulis ataupun khutbah Jum`at. Kami mengikuti khutbah Jum`at di masjid desa Tiraya, Patani dan Sang Khatib menyampaikan khutbah dengan membaca buku khutbah dalam bahasa Melayu Tengoh. Amat mirip dengan bahasa Melayu Malaysia sehingga cukup akrab dengan telinga Indonesia.

Disamping bahasa percakapan, warga muslim Patani mulai kembali menghidupkan aksara Yawi(Arab Melayu) sebagai aksara dalam tulis menulis. Aksara Yawi menggunakan aksara Arab (huruf Hijaiyah) namun untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Melayu. Aksara Yawi dahulu sempat populer di negeri-negeri yang kini menjadi wilayah negara Malaysia, propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga Sumatera Selatan, sebagian wilayah Kalimantan dan bagian Indonesia lain yang dahulu dikuasai oleh kesultanan-kesultanan Islam. Di hypermarket BigC Patani sendiri misalnya, kami menjumpai tulisan `Selamat Datang` dalam aksara Yawi berdampingan dengan `Selamat Datang` dalam bahasa Thai.

Warna budaya muslim Melayu memang sangat kental disini. Lebih dari budaya Thai Buddhist. Tidak hanya di Patani. Sejak kita mendarat di Hat Yai, propinsi Songkla, yang sering disebut sebagai pintu gerbang ke Patani, warna muslim Melayu sudah sangat terasa. Pemandangan para muslimah berjilbab, tua muda berseliweran dengan jalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum amat mudah dijumpai. ”It`s a Malay world!” ujar Virginia, rekan peneliti asal Belgia, ketika ditanyakan impresi pertamanya terhadap Patani.

Memang, bagi mereka yang sering singgah ke Malaysia dan Aceh,  sepintas pemandangan di Patani tak jauh berbeda.  Yang menandakan bahwa ini masih wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol yang masih bertebaran disana sini, juga bendera merah putih biru Thailand serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di semua institusi formal. Yang unik, di kubah masjid Jami Patani, dipasang pula bendera Thailand persis di bawah tiang bulan bintang.

Tak jelas siapa mendominasi siapa. Sepertinya profil Melayu di Patani kerap bertukar kultur dengan Melayu di Malaysia ataupun Indonesia. Warga Melayu Patani juga akrab dengan pakaian batik (dengan bahasa yang sama : batik) dan dengan kesenian wayang. Untuk keperluan ibadah, banyak warga Patani yang mengenakan sarung asli Samarinda. Bahkan, menurut Sasudong Dosomy, salah satu kontribusi positif muslim Indonesia ke Patani adalah mengenalkan metode pembelajaran Al Qur`an ala qira`ati. ”Sejak metode qiraati diperkenalkan di Patani, banyak anak kecil yang sudah dapat membaca Al Qur`an. Dahulu dengan metode konvensional belajar Al Qur`an terasa sukar,” ujar Sasudong.

Apa dan Siapa Patani

Apabila kita menyebut nama `Patani` (atau `Pattani` dalam bahasa Thai) maka harus jelas dalam konteks apa. Karena nama Patani bisa punya empat makna : kota Patani, propinsi Patani, kesultanan Patani ataupun Patani Darussalam (Patani Raya). Kota Patani dan Propinsi Patani adalah bentukan pemerintah Thailand. Kesultanan Patani adalah kerajaan Islam Patani yang sempat eksis sejak pertengahan abad 16 hingga awal abad 20 (sebelum dipaksa bergabung dengan Siam/ Thailand). Istilah Patani Darussalam atau Patani Raya adalah istilah tidak resmi untuk gabungan dari empat propinsi mayoritas muslim di Selatan Thailand yaitu Patani, Yala, Narathiwat,  dan sebagian Songkla. Sebenarnya dua provinsi selatan Thailand lain yaitu Satun dan Trang adalah berpenduduk mayoritas muslim. Namun karena secara kultural dan historis mereka lebih dekat ke kultur Thai, maka tak tergabung dalam Patani Darussalam.

Asal usul nama `Patani` cukup unik. Berdasarkan cerita rakyat setempat (folklore) nama Patani ditemukan oleh Sultan Ismail Shah, raja Patani ketika itu, ketika ia tengah mencari calon ibukota kerajaan. Ketika tiba di wilayah (yang sekarang bernama Patani) ia menyebut : ”Pantai ini” (karena memang Patani berada di tepi laut teluk Thailand), dan akhirnya menjadi `Patani` dalam bahasa orang setempat.

Kerajaan Patani masa silam bertahan sekitar lima abad sejak awal abad 16 hingga awal abad 20. Saat itu Patani adalah kerajaan Islam terpandang di Asia Tenggara, bersama-sama dengan kesultanan di Semenanjung Malaya, Aceh dan pantai timur Sumatera. Patani mulai dikenal dunia barat ketika petualang Portugis Godinho de Eradia mendarat di Patani pada tahun 1516.

Patani sempat berjaya pada era Sultan Muzaffar Shah (pertengahan abad 16). Sultan ini mendirikan masjid pertama di provinsi Patani yang berarsitektur Timur Tengah. Masjid ini bernama ‘Krisek‘ atau ‘Krue Se‘ dalam bahasa Thailand. Hingga kini masjid Krue Se masih berdiri di tepi jalan raya Patani dan tetap digunakan untuk beribadah. Masjid ini sebenarnya sederhana. Hanya berupa masjid kecil yang disusun dari ribuan batu merah tanpa plesteran. Namun nilai historisnya luar biasa. Sejak tahun 1935 diabadikan sebagai monumen bersejarah oleh Kementerian Pariwisata Thailand. Maka, bagi siapapun turis yang ke Patani, menjadi semacam `kewajiban` untuk melongok tempat ini.

Zaman keemasan Patani berlanjut pada era empat Ratu Patani yang memerintah sejak tahun 1584 masing-masing adalah Ratu Hijau, Ratu Biru, Ratu Ungu, dan Ratu Kuning. Ketika itu kekuatan ekonomi dan militer Patani begitu dahsyat hingga bisa melawan empat kali invasi kerajaan Siam dengan bantuan Kesultanan Pahang dan Johor (kini bagian dari Malaysia). Suatu bukti bahwa pemimpin muslimah zaman dahulu begitu perkasa.

Patani mulai mengalami keruntuhan setelah era Ratu yang keempat pada abad 17. Sultan Muhammad yang berkuasa ketika itu terbunuh dalam pertempuran melawan kerajaan Siam dan kota Patani dibumi hanguskan. Empat ribu orang rakyat Patani kemudian diperbudak dan dibawa ke Bangkok untuk membuat khlong (kanal-kanal air/ sungai).

Pada tahun 1902, Pattani secara resmi dianeksasi oleh Siam. Tujuh tahun kemudian Perjanjian Bangkok antara Inggris (Great Britain-penguasa Malaya ketika itu) dan Siam menetapkan bahwa Patani secara resmi diakui di bawah kedaulatan Siam, dan negeri Kelantan secara resmi diserahkan kepada Inggris (pada tahun 1957 Kelantan bergabung dalam Federasi Malaysia).

Konfik di Patani

Konflik di Patani, Yala, dan Narathiwat sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan ketika ketiga propinsi tersebut dilebur ke dalam kerajaan Siam secara sepihak pada tahun 1909.  Berbagai organisasi perlawanan muncul di Patani dan sekitarnya apakah dengan nama PULO (Patani United Liberation Organization), BERSATU, BRN, BNP, BNPP, GMIP, ataupun RKK (Runda Kumpulan Kecil). Oleh pemerintah Thai mereka dicap sebaga gerakan militan separatis dan belakangan, pasca tragedy 9/11, dicap sebagai teroris yang dianggap berhubungan dengan Al Qaida dan Jama`at Islamiyah (JI). Suatu klaim yang sukar dibuktikan. Tapi bahwasanya mereka punya hubungan dengan Libya, MILF di Mindanao Philippina dan GAM di Aceh, tidaklah terlalu salah.

Kendati ratusan konflik telah lama melanda Patani. Konflik pasca tragedi 9/11 berlangsung lebih buruk. Konflik berskala meluas dan massif berlangsung mulai Januari 2004 di Narathiwat ketika gudang senjata dan amunisi tentara Thailand diserbu kelompok militan. Dilanjutkan dengan penyerbuan Masjid Krue Se di Patani pada April 2004  yang menewaskan 31 aktivis muslim dan penganiayaan di Tak Bai, propinsi Narathiwat pada 25 Oktober 2004 yang menewaskan 78 warga muslim.  Kedua peristiwa tersebut menambah eskalasi konflik Thailand Selatan dan memaksa pemerintah Thai era Thaksin berpikir keras cara mengintegrasikan warga Thai beretnis Melayu (yang tak pernah merasa sebagai orang Thai ini) ke dalam Negara Thailand yang mayoritas Buddhist.

Menurut Sutthida, warga Thai Buddhist asli Patani konflik mulai meninggi pasca 9/11 dan sejak tahun 2004. “Sejak dahulu sebenarnya sudah ada konflik. Namun hanya menyerang tentara dan polisi saja. Namun entah mengapa sejak tahun 2004 sudah mulai mengorbankan rakyat sipil. Termasuk guru, monk (pendeta Budha), ulama Islam, bahkan anak kecil.”

Sutthida tak habis pikir, kini kehidupan di Patani tak lagi nyaman baginya. “Dulu ketika saya masih kecil, kami hidup bertetangga dengan rukun dengan tetangga kami yang muslim. Orangtua saya sering menyumbangkan makanan untuk buka puasa orang muslim ketika Ramadhan. Merekapun datang ke tempat kami ketika ada perayaan Buddhist. Saya punya banyak teman orang muslim ketika kecil. Kami bersekolah dan bermain bersama-sama. Kini yang tertinggal di Patani hanyalah saling curiga dan tak percaya. Sesama muslim sekalipun,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang sangat lancar.

Sampai kini konflik masih berlangsung. Terjadi sekitar 2300 insiden yang menelan korban tewas 2500 jiwa sejak awal 2004 hingga kini. Bahkan, pada akhir November 2007, sebuah karaoke dibom oleh orang tak dikenal di luar kota Patani hingga tujuh orang tewas. Bulan Agustus 2007 dua rumah dibakar di desa Tiraya, tak jauh dari kota Patani.  Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan.  Kendati kehidupan sepintas lalu berjalan normal. Mahasiswa tetap pergi kuliah ke kampus, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, jama`ah shalat tetap pergi ke masjid.  Namun setelah maghrib kondisi berubah,  jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas China dan Buddhist tak tampak di jalan-jalan umum.   Sekali lagi, mirip Aceh di era sebelum tsunami 2004 dan Perjanjian Helsinki.

Konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai non muslim keluar dari ketiga provinsi tersebut.  Juga mengusir warga muslim Patani sendiri yang bingung mengungsi kemana. Mengungsi ke Bangkok tak lebih baik karena juga tak merasa sebagai negeri sendiri.  Ke Malaysia kendati secara kultural sama, namun juga mengundang masalah karena negaranya berbeda dan tak cukup ramah menampung ’pendatang haram.’. Sebagian kecil pengungsi akhirnya memang mengungsi ke Malaysia hingga kini.

Konflik membuat warga Patani kesulitan pulang kampung ke rumahnya sendiri. Hafidz,seorang muslim asli Patani, dan Lek seorang Buddhist asli Yala, Mengaku bahwa apabila mereka ingin pulang ke kampong mereka di Betong, Yala, harus memutar dahulu melalui Negara bagian Perlis dan Kedah di Malaysia sebelum tiba di Betong, yang memang berbatasan dengan Kedah. Mereka takut melalui Patani dan Yala yang sebenarnya jauh lebih dekat. “Ini demi keamanan, walaupun saya asli Betong, Yala, tapi saya minoritas Buddhist disana. Maka lebih baik memutar via Malaysia, jauh lebih aman,” ujar Lek.

Kampus Prince of Songkla University (PSU), Patani Campus, kini 90% mahasiswanya muslim dari ketiga provinsi sekitar.  Padahal dahulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi kesana.  Tak heran, pemandangan di PSU Patani Campus mirip dengan kampus Indonesia .  Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat shalat, makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok .

Kendati infrastruktur Patani amatlah baik, jalan luas dan mulus, listrik dan lifelines tersedia. Jauh lebih baik dari Aceh dan propinsi terpencil Indonesia lainnya. Tapi tidaklah lebih baik dari propinsi Thai yang lain.  Patani, Yala, dan Narathiwat adalah di antara provinsi termiskin di Thailand.

Sekitar 69.80% warga muslim di tiga propinsi tersebut hanya mengenyam pendidikan dasar (sementara warga Thai Buddhist sekitar 49.6%). Hanya 9.20% yang menamatkan sekolah menengah (Thai Buddhist sekitar 13.20%). Dan hanya 1.70% yang bergelar sarjana (bandingkan dengan Thai Buddhist yang 9.70%). Alasan utama rendahnya angka melek sekolah ini adalah karena mereka enggan bersekolah di sekolah Thai. Alih-alih di sekolah Thai, sebagian dari mereka lebih suka menyekolahkan anaknya ke Malaysia ataupun Indonesia. Tak heran, mudah menemukan warga Patani di Gontor, Yogyakarta ataupun di LIPIA dan UIN Jakarta.

Jumlah muslim yang bekerja sebagai pegawai pemerintah juga amat rendah. Hanya 2.4% berbanding dengan 19.2% warga Thai Buddhist. Pekerjaan di pemerintah amat sulit didapatkan bagi mereka yang tak berbahasa Thai dan tak pernah mengenyam sistem pendidikan Thai.

Ada banyak cerita tentang Patani, kisah tentang semangat kaum minoritas bertahan di tengah mayoritas.  Perjalanan kebingungan menentukan jatidiri. Wajah kekerasan yang menahun dan melegenda. Ketidakpastian dan kecemasan yang selalu mendominasi hari-hari.  Hidup terasing di negerinya sendiri. Patani memang terbilang dekat dari Bangkok, tapi bagi sebagian besar warga Thai terasa begitu jauh (di hati). Karena, Patani adalah Dunia Melayu di Tanah Siam.

Wallahua�lam

Salaya, Nakhorn Pathom 13 Desember 2550 (Tahun Siam)

 

 

Read Full Post »

HAPPY VALENTINE !
For personal reasons, saya tak punya tradisi merayakan Valentine. Kendati saya pernah merayakan Valentine ketika SMP dan SMA dua puluh tahun silam.  Kendati saya pernah sehari menggunakan baju dan setelan pink demi memaknai hari kasih sayang. Kendati saya pernah memberi hadiah khusus untuk orang-orang tertentu. Dulu. Dua puluh tahun silam.

Saya hanya ingin berbagi.  Bahwasanya berbagi hadiah, berbagi perhatian, berbagi senyum, ,berbagi tawa, berbagi canda, dan berbagi hati itu penting.  Abraham Maslow, psikolog kondang itu pernah berteori bahwa manusia memiliki lima hirarki kebutuhan. Mulai dari kebutuhan psikologis, keamanan, cinta, keyakinan diri dan aktualisasi dari.  Karena manusia adalah manusia, bukan robot apalagi mutan. I am only human, from flesh and blood I made, tutur sebuah lagu.

14 Februari 2008 ini teman-teman satu program saya di kampus Mahidol, Nakhorn Pathom memaknai Valentine dengan berbagi hadiah.  Mereka berasal dari Thai, Laos, Philippine, Jepang,Australia, Swedia, Indonesia, Nepal, Pakistan, dan Burma. Sebagian besar  adalah Buddhist. Seorang teman membagikan buah-buahan. Kami semua mendapat jambu air dan jeruk secara merata. Boleh mengambil sebanyak apapun. Nyam nyam. Jambu air Bangkok terkenal dahsyat rasanya. Teman lain membagi-bagikan cokelat. Ajarn (professor) kami bahkan mendapat hadiah special.  Bunga mawar merah.  Hmm, say it with flower !

Saya jadi malu sendiri.  Karena saya tak membawa barang apapun untuk dibagikan. Karena saya memang tak merayakan Valentine. Dan bukan sekali ini teman-teman saya berbagi hadiah. Pernah suatu hari Khun Wanee, kawan Thailand saya, tiba-tiba membagi-bagikan tas LSM-nya secara Cuma-Cuma. Esok harinya ia membagi sayuran nikmat racikan tetangganya untuk dimakan bersama kami saat lunch. Esok harinya lagi ia membawa buah-buahan. Lagi-lagi dibagi-bagikan dengan cuma-Cuma.  Khun Suwan, juga orang Thailand, lain lagi. Ia rajin membagi-bagikan coklat dan juga buah-buahan. Tak tentu waktunya. Namun sering. Khun Medaphan, lagi-lagi orang Thailand, sama halnya. Ia tahu-tahu membagi-bagikan calendar UNHCR kepada kami semua secara cuma-cuma. Vatchanaphone, kawan Laos kami, sama juga. Tahu-tahu pada suatu hari ia memberikan souvenir dari Laos. Jelas Cuma-Cuma.

Dan bukan sekedar mahasiswa. Ajarn kami juga punya kelakuan yang sama. Ajarn Scott, demikian kami memanggil dia, seorang Amerika, seusai memberikan kuliah dalam tiga sesi tiba-tiba  membuka tasnya dan memberikan kue cokelat, semacam brownies kepada kami semua. ”I made it by myself this morning,” ujarnya bangga.

Lagi-lagi saya malu. Kok saya jarang berbagi hadiah ya?

Hari ini Valentine Days. Mahasiswa undergraduate Mahidol merayakan dengan caranya masing-masing. Mahasiswa Buddhist, the devoted one, berdoa di ruang mahasiswa Buddhist. Mahasiswa Thai Christian, merayakan dengan makan, pesta balon, dan doa bersama di ruang mahasiswa Kristen. Mahasiswa club Pengmas (Pengabdian Masyarakat) mematikan lampu ruangannya. Memasang lampu-lampu berbentuk hati. Bermain gitar. Bercanda ria. Lalu pesta makan-makan.Persis di samping ruang Muslim Study Club.  Apa makna Valentine bagi mereka? Tak paham, tapi kelihatan betul mereka happy.

Tentunya kita tak harus berbagi hadiah, berbagi senyum, berbagi tawa, berbagi suka, dan berbagi hati di hari Valentine saja. Tapi, terkadang di 364 hari yang lain-pun kita tak juga melakukannya. Mulut kita kelu untuk menarik kedua sudut bibir. Untuk tersenyum. Air muka kita sering keruh. Tangan kita berat untuk memberi. Hati kita agak tertutup untuk sekedar berbagi cahaya hati. Lalu dimana kelebihan kita dibandingkan mereka yang merayakan Hari Valentine?

”Saling berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai; dan saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang rasa dendam dari diri kalian. ( HR Ibn ‘Asakir)”

Satu penelitian menyebutkan bahwa bayi yang sering disentuh Ibunya maka otaknya lebih cepat bekerja, ikatan antara sel-sel otaknya akan lebih langgeng, yang berarti otaknya semakin mudah menerima sinyal-sinyal kasih maupun ilmu dari sekitarnya.

Senyummu itu sedekah. Rasulullah SAW sudah lama mengajarkan hal tersebut. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang bergembira cenderung memiliki harapan hidup yang lebih lama.

Maka tersenyumlah. Maka berbagi hadiahlah. Karena manusia senang dicintai. Karena manusia senang diperhatikan. Karena manusia memiliki hati dan perasaan. Disamping otot keras dan tulang kukuh.

Sebulan silam dua SMS datang dari Jakarta. Dari teman SMP.  Mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. SMS sederhana tapi amat bermakna. Seketika sepanjang hari itu saya terus bersenang hati. Kendati tinggal jauh dari mereka yang dicintai di Indonesia.  Dua hari silam, Bapak saya tercinta mengirim email. Beliau sudah tua namun masih senang ber-email ria.  Isi emailnya sederhana. Memuji tulisan saya tentang pariwisata di Indonesia –yang saya kirim via email untuknya. Bapak mengatakan bahwa isinya relevan dengan kenyataan. Ayah saya senang dengan tulisan tersebut dan memforward tulisan tersebut ke rekan-rekan kantornya. Maka hari itupun saya senang luar biasa.  Apalagi yang lebih membahagiakan hati daripada ketika orang tua kita bangga dengan kita?

Therefore, Show your love, show your affection, pay attention to people, express your gratitude. Keep smiling…keep shining…

Barangsiapa yang mencintai yang berada di bumi karena Allah, akan dicintai oleh yang ada di langit…
Refleksi di hari Valentine

Teras muka Muslim Study Club

Mahidol Salaya Campus

Read Full Post »

BELAJAR HAM DARI BANGSA CHINA*

By : Heru Susetyo

Advokat Publik pada Pusat Advokasi Hukum dan HAM Indonesia (PAHAM)

 

                                                                                                      

Sesuai dengan hadits dhaif,  tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Kesanalah akhirnya kami berlabuh untuk belajar Human Rights Education sejak Ahad 27 November 2005. Tepatnya di kota Kaohsiung, Taiwan.  Kendati berjudul ‘Taiwan’,  namun negara ini adalah juga negeri bangsa China.  Karena sejak tahun 1949 China terpecah dua.  Antara China daratan yang kemudian disebut RRC (Republik Rakyat China atau People Republic of China) dan China kepulauan yang kemudian memerdekakan diri dan menjadi Taiwan (nama formalnya adalah ‘ROC’ – Republic of China).  Pangkal perpecahan adalah berkuasanya partai Komunis di daratan China sejak 1949, yang membuat dua juta warga nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek gerah dan menyeberang ke pulau Formosa lalu mendirikan negara baru disana (kemudian dikenal sebagai Taiwan).

 

Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya,  ternyata bangsa China (terutama yang berada di Kaohsiung) sangat ‘civilized’ dan peduli dengan masalah-masalah kemanusiaan. Alias,  tidak semata-mata hobby berdagang dan bisnis seperti yang menjadi ‘stereotipe’ etnis China (utamanya di Indonesia) selama ini.

 

Chinese di Taiwan (sebagian dari  mereka lebih suka disebut sebagai Taiwanese,  karena ‘Chinese’  lebih diasosiasikan dengan RRC),  adalah  sama seperti kelompok manusia lainnya di muka bumi.   Mereka bekerja hampir di seluruh wilayah kehidupan.  So, tidak semua semata-mata hidup untuk uang dan bisnis.  Kami menjumpai banyak dari mereka yang juga senang menjadi guru, pekerja sosial, polisi, bahkan menjadi aktivis NGO yang otomatis minim pendapatannya.

 

Paling tidak itu bisa dilihat di Kaohsiung.  Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan.  Penduduknya sekitar 1.5 juta jiwa.  Taiwan sendiri berpenduduk sekitar 23 juta jiwa.  Kendati berstatus ‘second city’,  namun Kaohsiung adalah kota pelabuhan nomor tiga terbesar di dunia.  Sepanjang pesisir pantainya mudah ditemui aktivitas bongkar muat kontainer dari pelabuhan yang bekerja nyaris 24 jam.  Hebatnya,  pekatnya aktivitas bisnis tersebut tak lantas mengurangi keindahan dan kebersihan kota ini.

 

Kaohsiung adalah kota besar yang bersih ‘abis.’  Sukar menemukan sampah dan gunungan kotoran disini.  Walau di pelabuhan dan pasar sekalipun.  Semuanya ‘rightly in order’ dan ‘well organized.’  Sama seperti negara barat,  penduduk disini sudah terbiasa mendaur ulang (recycle) sampah rumah tangga maupun sampah industrinya.  “Taiwan is environmental friendly country,”  ujar Andy Lee  pemandu training kami, dengan bangga.

 

 

 

Kaohsiung Kota Hak Asasi Manusia

Kaohsiung menahbiskan dirinya menjadi ‘kota HAM’ (human rights city) sejak akhir tahun 2002.  Inisiatif ini datang langsung dari kantor walikota,  setelah sebelumnya mendapat pencerahan dari PDHRE (People Decade for Human Rights Education  – NGO Amerika yang bergerak di bidang human rights education).  Konsekuensinya,  Kaohsiung membaktikan dirinya kepada HAM dan mendasarkan seluruh aktivitas kotanya kepada HAM. 

 

Istilah kota HAM (human rights cities) memang pertama kali diperkenalkan oleh  PDHRE yang bermarkas di New York, USA, sejak tahun 90-an. Sampai kini,  ada sekitar 12 kota HAM yang telah berdiri, terserak mulai dari Canada, Argentina, Phillipina, India, Ghana, Mali, Afrika Selatan,  sampai Austria.

 

Kendati inisiatifnya datang dari pemerintah kota ,  tak pelak banyak NGO lokal yang bergerak di bidang HAM yang mendukung  ide cerdas ini.  Apalagi,  sebelumnya telah banyak NGO lokal bergerak di bidang HAM di negeri ini.  Sebutlah Amnesty International,  Taiwan Association for Human Rights,  Taiwan Foundation for Democracy, dan lain-lain.

 

Ikhtiar menjadikan Kaohsiung sebagai kota HAM ini semakin mengkristal pada 9 Desember 2003.  Saat itu,  berdirilah Kaohsiung Human Rights City Association (KHRCA), yang bertugas memonitor dan mengembangkan Kaohsiung sebagai kota HAM.

 

Uniknya,  aktivis HAM di negeri ini datang dari berbagai kalangan. Bila di Indonesia kebanyakan aktivis HAM adalah mahasiswa, pemuda, akademisi, ataupun aktivis gerakan buruh,  di Kaohsiung lebih bervariasi.  Kami menjumpai seorang polisi yang bertugas di Kaohsiung County, bernama Jerry Chen,  yang sekaligus adalah seorang human rights educator.  Di waktu-waktu senggangnya sering ia manfaatkan untuk memberikan training kepada siswa sekolah maupun warga kota tentang apa itu HAM.  Hebatnya,  Jerry memilih tidak memiliki pistol,  kendati ia berhak memilikinya.  “Memiliki pistol membuat kami cenderung pada kekerasan,”  ujarnya santai.

 

Banyak juga dari kalangan aktivis HAM ini yang berasal dari profesi guru.  Ada guru TK, guru SD, SMP dan SMA. Doktor Su Ing Wang misalnya, pimpinan NGO NAFIA (NGO Association for International Affairs) adalah guru TK yang mendapatkan pendidikan early childhood education –nya di Boston.  Kate Kuo,  pimpinan KHRCA adalah pensiunan guru.  Belum lagi beratus-ratus aktivis yang berasal dari Kaohsiung Teacher Association, Youth Knowledge Network, Taipei Elementary School,  dan lain-lain.

 

Ibu rumah tangga dan warga pensiunan juga adalah bagian dari aktivis HAM di negeri ini. Seorang warga tua (senior citizen) bernama Ching Fu misalnya,  ia telah berusia enam puluh tahun dan sudah pensiun dari pekerjaannya. Lazimnya di Indonesia pada umur demikian orang lebih banyak tinggal di rumah.  Sebaliknya dengan Ching Fu, ia  mendirikan sebuah NGO di bidang pendidikan.  Mengikuti training HAM dan selalu  aktif dalam bertanya dan menjelaskan segala hal tentang Taiwan pada rekan-rekan non Taiwan.

 

 

Budaya Bersih, Aman, dan Peduli Lingkungan

Hampir sama dengan kebanyakan negara-negara maju (developed countries),  Taiwan memiliki budaya bersih yang mengagumkan.  Mereka menyebutnya enviromental friendly country.  Hampir di semua tempat publik tersedia tempat sampah yang dibedakan atas sampah kering, basah, dan daur ulang (recycling garbage).  Anak-anak sejak dini telah diajar bagaimana cara membuang sampah yang tepat.  Hebatnya,  petugas kesehatan nyaris tak kelihatan berkeliaran di tempat-tempat publik namun kotanya tetap bersih.

 

Kemudian,   negeri ini juga memiliki budaya aman dan selamat yang baik (public safety). Hampir di semua tempat publik tersedia akses yang cukup terhadap hidran, kalau-kalau terjadi kebakaran.  Di dalam gedung tersedia tabung pemadam kebakaran. Di setiap lift tersedia petunjuk yang jelas kalau-kalau terjadi gempa dan kebakaran. Bahkan di dalam perahu turis yang melaju di sepanjang Love River di pusat kota Kaohsiung,  juga tersedia minimal satu pelampung untuk setiap penumpang,  dimana sebelum berlayar, sang petugas memperagakan teknik mengenakan pelampung kepada penumpang.  Persis seperti pramugari di pesawat terbang. Padahal ini hanya perjalanan 20 menit di sungai yang dangkal pula!

 

Budaya Menjunjung Tinggi HAM

Perlindungan HAM yang paling nyata adalah pada kelompok cacat (differently abled) pengguna motor, serta perlindungan terhadap penduduk asli (aboriginal people). Penduduk yang cacat memiliki akses yang sama terhadap fasilitas publik seperti halnya mereka yang normal.  Hampir semua tempat publik memiliki tempat parkir khusus, lift khusus, WC khusus, bahkan komputer khusus bagi orang cacat.    Di airport,  tersedia counter informasi khusus untuk orang cacat dimana mereka dapat membaca dan menerima pesan dalam bahasa yang mereka pahami.

 

Sama halnya dengan pengguna motor.  Apabila di Indonesia pengguna motor dapat dikatakan sebagai ‘warga negara kelas dua.’  Yang sulit menemukan tempat parkir, kalaupun ada harus memutar ke belakang ataupun berada di tempat yang paling bawah di suatu gedung,  maka di Taiwan hal seperti itu tak terlihat.  Pengguna motor dapat memarkir motornya dimana saja. Di depan toko, gedung, di emperan, bahkan di muka kantor-kantor pemerintah.  Tampaknya motor memang salah satu moda transportasi favorit di Taiwan. Tidak mereka yang muda saja,  orang dewasa dan penduduk tua-pun menggemarinya. Bedanya,  motor disini hampir semuanya seragam.  Kalau tidak bermerk Kymco ya Yamaha.  Dan semuanya motor otomatis yang tak memerlukan kopling dan perseneling. Maka, benar-benar user friendly.

 

Taiwan adalah juga tempat bagi dua belas penduduk asli (lazim disebut aboriginal people/ tribes).  Mereka adalah penghuni asli pulau Formosa sebelum bangsa China dari China daratan datang ke pulau ini pada abad ke 16.  Kini,  kebanyakan mereka tinggal di pegunungan di Taiwan bagian tengah dan selatan.  Kendati hampir semuanya dapat berbicara Mandarin,  namun mereka tetap mempertahankan bahasa dan kultur asli.  Data antropologi menunjukkan bahwa suku asli Taiwan ini justru lebih memiliki kedekatan genealogis dengan ras proto-Malaya dari rumpun Austronesia daripada etnis China.

 

Tak heran,  ketika kami bertemu dengan Ibu (‘Ibu’ adalah nama orang) dan Ijebaw, keduanya adalah  wanita yang berasal dari suku asli Taiwan,  kami seperti melihat orang Indonesia atau orang Philipina.  Wajah mereka mirip orang Philipina atau Thailand,  mata tak terlalu sipit dan warna kulit sawo matang mirip orang Indonesia.  Uniknya,  ketika berdialog, kami mencatat paling tidak ada beberapa kata yang mirip dengan bahasa Indonesia.  Misalnya kata ‘Ibu’ dalam bahasa asli Aborigin adalah sama artinya dengan ‘Ibu’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘lima’ sama dengan ‘lima’ dalam bahasa Indonesia. Uniknya mereka menyebut angka tujuh sebagai ‘pitu’  yang sama artinya dengan tujuh dalam bahasa Jawa.

 

Ibu berasal dari etnis Bunun,  sedangkan Ijebaw dari etnis Taiwan. Keduanya bekerja sebagai pedagang yang memasarkan hasil kerajinan tangan etnis asli Taiwan ke pusat-pusat keramaian.  Selain sebagai pedagang, Ijebaw ternyata adalah juga seorang aktivis pada Kaohsiung County Indigenous Women Growth Association. Yang peduli pada pengembangan dan perlindungan wanita etnis asli Taiwan.

 

Secara kultur,  etnis asli Taiwan ini agak berbeda dengan etnis China.  Mereka tak begitu gemar menari ataupun minum anggur.  “Saya tak pernah menari di kampung saya,”  ujar Ibu.  Kendati demikian,  perlakuan yang baik dari pemerintah terhadap warga minoritas ini membuat mereka merasa ‘feel at home’  dan tak merasa dibedakan dibandingkan dengan warga pendatang yang mayoritas dari etnis China.

 

 

Wajah Islam di Kaohsiung

Kalau ada yang kurang dari Kaohsiung,  barangkali adalah jumlah penduduk muslimnya.

Kendati nilai-nilai Islam seperti kebersihan, kedisiplinan, dan keamanan begitu terlihat nyata dalam keseharian warga Kaohsiung,  namun dari sisi kuantitas dan fisik wajah Islam nyaris tak terlihat di kota ini.  Banyak yang tak tahu Islam sama sekali.  “Saya tak pernah punya teman orang Islam di Taiwan,”  ujar Sandy Wu,  peserta training yang juga adalah guru SD di Kaohsiung.

 

Sebaliknya,  gairah belajar Kristiani begitu membara di negeri ini.  Gereja mudah ditemukan. Banyak penduduk, utamanya kaum muda mengenakan kalung salib.  Produk-produk pelengkap Natal seperti kartu, pohon cemara, boneka St. Claus dijual bebas di pasar malam.  Ini karena, misionaris Kristiani memang proaktif menyebarkan agamanya di negeri ini.

 

Sebaliknya, di Kaohsiung dan Tainan (kota yang berdekatan dengan Kaohsiung) hanya ada satu masjid dan dua bangunan apartemen yang dijadikan masjid. Total di Taiwan ada sekitar enam masjid. Terbanyak ada di Taipei dengan tiga masjid. Pada tahun 1999 penduduk muslim berjumlah 53.000 jiwa.  Padahal akar dari warga muslim di Taiwan dapat dirunut ke belakang sejak abad ke 17.  Ketika itu migran pertama dari China daratan termasuk diantaranya sejumlah migran muslim.  Bahkan,  pada hijrah kaum nasionalis dari China daratan pada tahun 1949,  turut diantaranya sekitar 20.000 warga muslim yang sebagian besar adalah tentara, pegawai negeri, dan pekerja catering.

 

Warga Indonesia di Taiwan

Salah satu kelompok warga muslim terbesar di Taiwan tak pelak lagi adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI).  Pada bulan Juni tahun 2000 tercatat 52.000 orang Indonesia bekerja sebagai TKI di Taiwan.  Sebagian besar bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Taipei dan Kaohsiung.  Dalam perjalanan pergi dan pulang dari Taiwan kami menjumpai beberapa TKW yang pergi dan pulang ke dan dari Indonesia.  Bahkan sejak mengurus visa di perwakilan Taiwan di Jakarta-pun permohonan visa TKI untuk Taiwan banyak sekali.

 

Memang,  bekerja di Taiwan cukup menggiurkan.  Sukamti, salah seorang TKW asal Solo yang kami jumpai di pesawat,  menuturkan bahwa ia cukup betah bekerja di Taiwan.  Ia telah tiga tahun bekerja sebagai PRT di Kaohsiung dan belum terpikir untuk berhenti bekerja.  Berganti majikan mungkin tapi tidak berhenti bekerja di Taiwan.  Dua rekannya sama nasibnya.  “Saya disini bekerja sebagai Pembantu Mas.  Ya enak gak enak sih. Kalau ketemu majikan yang baik ya alhamdulillah. Saya punya anak di Indramayu yang harus saya biayai.  Makanya saya harus bekerja disini,”  ujar Wiwin (sebut saja begitu).

 

 

Belajar dari Taiwan

Hikmah adalah harta benda kaum muslimin, dimanapun ia berada kita wajib mendapatkannya.  Demikianlah yang kami dapatkan selama sembilan hari di Taiwan. Nilai-nilai Islam,  utamanya tentang kebersihan,  keamanan, keselamatan publik, anti diskriminasi, keadilan, dan kesetaraan terasa betul disini.  Kendati warganya mayoritas non muslim dan fisik Islam tak kentara betul disini, namun tak pelak kehidupan keseharian mereka cukup mencerminkan sebagian dari nilai Islam.  Nilai utama yang kami dapatkan adalah bagaimana mereka menghargai Hak Asasi Manusia.  Menghargai kaum Ibu, anak-anak, orang cacat, pengendara motor, dan kelompok rentan lainnya.  Menghargai kerja keras dan belajar keras.  Anak sekolah disini belajar hampir dua belas jam sehari.  Pekerja disini bekerja nyaris dua belas jam dalam sehari.   Waktu begitu dihargai.  Sesuatu yang juga merupakan bagian dari Islam.  Maka,  di luar segala kekurangan mereka,  barangkali kita bisa mulai menggeser kiblat belajar HAM kita,  tak lagi ke Amerika Serikat ataupun Eropa Barat,  namun juga ke Jepang, Korea, dan (tentunya) Taiwan.  Sesuai dengan hadits dhaif,  tuntutlah ilmu sampai ke negeri China…

 

Wallahua’lam

 

 *telah dimuat di majalah UMMI tahun 2006

 

Read Full Post »

AISYAH ADINDA KITA :
YANG BUKAN SEKEDAR PEKERJA MIGRAN

Tangan kanannya sigap memencet tombol-tombol ponsel Nokia-nya, sementara tangan kirinya mencencang tas laptop berisi laptop Acer keluaran terbaru. Setiap lima menit ia mengkontak dan dikontak orang melalui ponsel merah maroon tersebut. Di sela-sela pembicaraan, ia mengeluarkan laptop, memasang modem seukuran flash disk, dan segera menuju jendela untuk mencari sinyal terbaik bagi akses internet-nya. Usai mendapat koneksi, kedua tangan kecil itu bergantian memencet keyboards dan meluncurkan ratusan kata-kata kreatif di layar laptop mini-nya. Di antara kegiatan mengetik, ia beberapa kali mengeluarkan Olympus digital camera-nya dan mengambil gambar teman-temannya yang ikut bergadang di dinihari malam Ramadhan tersebut

Malampun merambat pelan, dinihari sudah akan dijelang, namun pemilik tangan lincah itu terus menekuri keyboard laptopnya. Tak sedikitpun ia tampak lelah. Sepertinya ia tengah dikejar deadline. Siapakah ia? Wanita entrepreneur? Professional muda? Career woman? Salesperson?

Bukan, wanita muda super sibuk berjilbab rapi itu adalah pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Sebut saja namanya Aisyah. Pagi hingga menjelang maghrib ia sibuk bekerja di rumah tangga warga Chinese Hong Kong di Kowloon. Mengerjakan tugas-tugas khas domestic worker, atau housekeeper, atau maid, atau bahasa Indonesianya adalah PRT (Pekerja Rumah Tangga ataupun Pembantu, btw sudah lama saya menghindari penggunaan kata ini karena terkesan kurang manusiawi). Disana, Aisyah seharian penuh memasak, berbelanja, mengantar anak majikan, mencuci, mensetrika, dan lain-lain pekerjaan rumah tangga lainnya.

Menjelang malam, Aisyah kembali ke laptop Acer-nya. Mengetik, menulis, mem-browsing perkembangan jagat dari bilik kecilnya. Terkadang, ketika majikan berangkat kerja dan anak-anak sudah diantar sekolah, iapun kembali bekerja dengan laptopnya. Beruntunglah, banyak majikan di Hong Kong yang ikhlas domestic worker-nya memiliki laptop ataupun meminjam computer milik majikan. Juga, ikhlas sang housemaid mem-browsing dunia maya melalui internet, yang di Hong Kong aksesnya amat cepat dan bukan perkara yang luar biasa mewah. Tentunya, ini berkah buat Aisyah. Karena rekan-rekan senasibnya di Malaysia, Saudi Arabia, apalagi di Indonesia belum tentu dapat menikmati teknologi ini. Karena, jangankan berinternet dan ber-fesbuk ria, banyak majikan di Indonesia yang ‘super gerah’ melihat PRT-nya ber-ponsel ria di sela-sela mencuci dan mensetrika (padahal apa salahnya ya, PRT juga manusia).

Sepintas lalu, tak banyak perbedaan antara Aisyah dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri. Ponsel-nya, kendati bukan i-phone ataupun Blackberry, namun juga bukan Nokia seri jadul. Laptop-nya, kendati bukan Sony Vaio atau Fujitsu, namun tetap Acer seri terakhir. Penampilannya, kendati bukan ala fifth avenue New York ataupun Ginza Tokyo, namun juga tetap nyambung untuk bergaul di sepanjang Causeway Bay, Hong Kong. Camera digitalnya, kendati bukan Nikon atau Canon DSLR, namun juga bukan Olympus tahun jadul.

Singkatnya, Aisyah adalah juga manusia Indonesia masa kini dengan segala kesederhanaannya. Dengan segala mimpi-mimpinya. Dengan segala keterbatasannya. Dengan segala keinginannya. Imajinasinya tak mampu dibendung oleh bilik kecil ruang tidurnya. Kreativitasnya tak mampu dibelenggu status domestic worker-nya.

Nyaris sepuluh tahun Aisyah tinggal di Hong Kong. Dan ia belum dapat dikatagorikan senior. Karena di dalam bis E11 menuju Hong Kong airport dari Wan Chai area, saya mendapati seorang PMI (pekerja migran Indonesia) yang sudah tinggal 11 tahun di luar negeri. Tujuh tahun di Singapore dan empat tahun di Hong Kong. Alias lebih senior dai Aisyah. Rekan Aisyah yang lain bahkan sudah menyandang status sebagai permanent resident Hong Kong, karena sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di negeri ini.

Namun, di luar penampilan modisnya, Aisyah tetaplah perempuan Jawa dengan segala keluguannya. . “Saya minder mas, melihat Mas dan teman-teman penulis yang lain.” “Mas sempat sekolah tinggi-tinggi dan pengetahuannya banyak,” “Saya hanya anak orang biasa dan sekolah-pun tak sampai SMA.”

Saya mencoba membangkitkan kepercayaan dirinya. “Mbak, yang penting bukanlah siapa kita, tapi apa yang telah kita hasilkan. Mbak sudah banyak menulis dan karya-karyanya konkrit. Saya sudah melihat banyak orang yang nasibnya, maaf, jauh lebih baik dari Mbak, tapi belum menghasilkan apa-apa,”. Lagian, di mata Allah SWT kita semua sama kok,” ujar saya. Mencoba bersikap arif.

“Iya sih Mas, tapi kadang saya ragu dengan tulisan saya sendiri. Takut bahasanya jelek, atau pandangannya terlalu sempit, maklumlah saya anak orang susah, tak sempat juga sekolah tinggi-tinggi. Enak ya jadi Mas, bisa kemana-mana,” sahut Aisyah datar.

Saya tercekat. “Lha, Mbak tinggal di luar negeri jauh lebih lama daripada saya. Saya juga baru kali ini menginjak Hong Kong, Mbak kan sudah bertahun-tahun. Tentunya pengalaman Mbak jauh lebih banyak daripada saya!”

“Iya sih Mas, tapi saya kan lama di luar negeri sebagai PRT, visa saya aja bunyinya domestic helper. Sampeyan kan nggak!”

Kontan saya terdiam. Speechless. Bingung mau bicara apa lagi.

Lalu sayapun teringat lagu “Aisyah Adinda Kita” karya Bimbo tahun 1970-an. Aisyah yang sopan dan jelita. Aisyah yang angka SMP dan SMA sembilan rata-rata. Aisyah yang pandai mengarang dan organisasi. Aisyah yang memakai jilbab, menutup rambutnya, Aisyah yang Indek Prestasinya tertinggi tiga tahun lamanya. Aisyah yang calon insinyur dan bintang di kampus. Aisyah yang tidak banyak berkata, memberi contoh saja.

Sayangnya, Aisyah Hong Kong ini tak mengenal istilah Indeks Prestasi, karena ia tak sempat kuliah. Kendati ia amat menginginkannya. Terngiang-ngiang dalam telinga saya ia berkata, “bagaimana sih caranya dapat beasiswa kuliah, Mas? Harus lulus SMA dulu ya?” tanyanya polos.

Sayangnya, Aisyah Hong Kong ini juga bukan calon insinyur dan bintang di kampus. Bahkan kata-kata ‘kampus’ terkesan amat asing baginya.

Namun, persamaan antara Aisyah Bimbo dengan Aisyah Hong Kong ini adalah, mereka berdua sama-sama sopan, sama-sama pandai mengarang dan organisasi. Sama-sama memakai jilbab dan menutup aurat. Sama-sama tidak banyak berkata, memberi contoh saja.

Aisyah Hong Kong amat sibuk dengan organisasi. Organisasi kepenulisan hanyalah salah satunya. Di luar itu, ia sibuk juga dengan organisasi kedaerahan, organisasi pengajian, hingga organisasi bisnis (ia berbisnis juga di luar kegiatan domestic worker-nya). Setiap pekan, ketika banyak rekan senasibnya menghabiskan waktu tak karuan di Victoria Park, Aisyah juga pergi ke Victoria Park. Namun untuk diskusi ilmiah dengan teman-teman sehobby, ataupun ikut pengajian rutin setiap Ahad siang.

Ketika banyak rekan-rekan seprofesinya berdandan tak karuan, mengenakan celana pendek, kaos pendek ketat dan high heels shoes, serta rambut warna-warni, Aisyah tetap konsisten berbusana muslimah.

Dan ini bukanlah perkara sederhana. “Banyak majikan yang melarang kami mengenakan busana muslimah, Mas. Rata-rata tak mengerti dan takut dengan perempuan berjilbab. Kami juga terkadang susah shalat dan puasa. Bukannya dilarang, tapi mereka sering khawatir. Majikan baik sih tapi sering takut kalau kami mati kelaparan akibat puasa. Rekan saya ada yang mulutnya sengaja dijejalkan nasi oleh sang majikan supaya ia tak mati kelaparan. Majikan khawatir kalau ia mati kelaparan akan menjadi tanggungjawab majikan”, ujar Sarah, bukan nama sebenarnya, rekan Aisyah.

“Banyak dari kami yang berjilbab hanya setiap hari Minggu saja. Di hari biasa ada majikan yang melarang, karena tak mengerti kenapa juga di rumah masih pakai jilbab. Bahkan, beberapa dari kami untuk shalat dan puasa-pun harus nyolong-nyolong. Teman saya ada yang sampai harus shalat di WC atau di depan majikan mengesankan tidak sedang puasa, padahal ia tengah puasa,” lanjut Sarah lagi. “Sebenarnya majikan kami banyak yang baik, tapi ya itulah, sukar mengerti ajaran dan tradisi Islam.”

“Yang paling sulit adalah ketika kami harus berbelanja dan memasak daging babi. Majikan tahu sih kami tak makan daging babi atau daging apapun yang tak ada logo halal-nya. Tapi tetap saja kami harus masak daging babi juga. Beruntunglah, belakangan ini ada sabun khusus buatan Malaysia yang dapat dengan mudah menghilangkan najis dari daging tersebut,” tambah Sarah.

Maka, Aisyah menjadi pribadi yang lain di malam hari dan juga di hari Ahad. Karena, ketika Senin menjelang ia kembali menekuri pekerjaan rutin di rumah tangga. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga khas domestic worker. Namun, tak pernah sekalipun lontaran “I don’t like Monday!” keluar dari mulutnya.

Dari Aisyah saya belajar banyak. Maksud hati ingin memberikan pencerahan, malah saya yang tercerahkan. Bahwasanya kata kunci dari kemajuan adalah kemauan. Banyak orang memiliki kesempatan namun kurang memiliki kemauan. Sebaliknya, banyak orang memiliki kemauan namun kurang mendapat kesempatan. Ketika kemauan bertemu dengan kesempatan, maka kreativitas akan lahir.

Aisyah memiliki kemauan keras namun kesempatannya minim. Mimpi-mimpi indahnya sudah terpenggal jauh hari setelah tamat SMP. Cita-cita kanak-kanaknya segera buyar begitu menjumpai kenyataan sang ayah tak sanggup mensekolahkannya ke bangku SMA. Adik-adiknya yang berjumlah banyak lebih menyedot perhatian ayahnya. Walhasil, Aisyah muda sedari usia SMA telah melenggang ke luar negeri. Menjadi pekerja migran. Bukan semata-mata karena ingin keluar negeri, tapi karena tak ada pilihan lain.

Kini, sedikit kesempatan yang dimiliki Aisyah tak satupun dilewatkannya. Perbendaharaan gadgets-nya juga sudah lumayan komplit. Laptop, handphone, digital camera, etc. Yang hebatnya, di tangannya semuanya jadi bermakna lebih. Sedikit waktu yang dimilikinya, miring komentar orang tentang profesinya, heran majikan mensikapi konsistensinya berbusana muslimah, namun toh ia tetap kreatif dalam menulis dan berorganisasi.

Saya jadi semakin percaya, bahwa setiap orang memiki potensi untuk maju selama memiliki kemauan dan kesempatan. Kalau mereka tak memiliki kesempatan, berilah mereka kesempatan. Karena, bukan salah mereka apabila mereka jarang memiliki kesempatan…tak ada manusia yang ingin miskin…dan tak ada anak yang bisa memilih dari orangtua seperti apa dan di tempat seperti apa ia dilahirkan…

Menjelang tidur di malam hari bulan suci Ramadhan ini, sayup-sayup untaian lagu “Aisyah Adinda Kita” Bimbo kembali merobek dinding telinga saya…
Ada sepuluh Aisyah berbusana muslimah
Ada seratus Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah…yang kurang beruntung…yang menjadi pekerja migran…yang hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara karena tak ada pilihan lain…namun tetaplah Aisyah Adinda Kita….

Salaya, penghujung Agustus 2009

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »