Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘More than thousand words…’ Category

 

PATANI : PETERPAN, HUMVEE, DAN KECEK NAYU

Dunia Melayu di Tanah Siam

Oleh : Heru Susetyo1

Suara Ariel、 vokalis group musik Peterpan, yang melantunkan hit Ada Apa Denganmu mengalun dari pojok hypermarket. Beberapa pramuniaga pria yang bertugas di soundsystem section tampak menikmati lagu ini. Mereka turut bersenandung mengikuti hentakan vokal Ariel. Di Jakarta-kah? Bukan. Di Kuala Lumpur? Ternyata juga bukan. Ini pemandangan nyata yang kami jumpai di Big C Supercenter di kota Patani, provinsi Patani, Thailand Selatan pada awal Desember 2007..

Dan bukan hanya itu infiltrasi budaya Melayu di Patani. Jangan heran kalau di pasar tradisional Patani kita mudah menemukan lagu-lagu Indonesia dan Malaysia dijual oleh pedagang kaki lima. Yang menjadi favorit adalah lagu dangdut dan lagu pop romantis. Nama-nama seperti Krisdayanti atau Rhoma Irama sudah tak asing bagi telinga mereka. “Lagu-lagu dangdut Indonesia sangat populer disini. Orang disini suka dengan dangdut Indonesia,” ujar Sasudong Dosomy, warga asli Patani、 dalam bahasa Melayu. Tapi apakah mereka paham dengan artinya? Sekitar lima puluh persen saja bahasa Indonesia yang dapat mereka tangkap dan pahami melalui lagu. Selebihnya tak paham. Mereka senang dengan lagu Indonesia dan Malaysia karena di Patani sendiri tak banyak seniman ataupun penyanyi yang mewakili kultur mereka,” ujar Zakariya Amataya, warga asli Narathiwat yang tengah studi di Bangkok.

Sinetron dan film Indonesia juga termasuk yang diminati oleh warga Patani. Mereka mudah mengakses produk tersebut via antena parabola ataupun VCD yang dijual murah di pasar-pasar. Pada saat remaja Thai yang tinggal di Bangkok menggila-gilai film dan artis Korea, remaja dan pemuda Patani lebih condong pada artis Indonesia ataupun Malaysia. Tak perlu heran, karena di Malaysia-pun grup musik seperti Peterpan, Dewa 19, Samson, ataupun Ungu dan artis seperti Dian Sastro, Luna Maya, hingga Nia Ramadhani mendapat sambutan luar biasa besar dari warga muda Malaysia. Alasan kedua adalah, sebagai minoritas di Thailand, mereka tak memiliki cukup ruang untuk mengekspresikan kultur dan keseniannya. Tak ada stasiun TV Patani. Hanya beberapa radio lokal dengan siaran lokal berbahasa Melayu saja.

Sama halnya dengan busana harian. Kendati di hypermarket besar seperti Big C, yang hampir sama dengan Carrefour atau Giant di Indonesia, rata-rata pembelanja mengenakan busana muslim. Ada yang menggunakan sarung Samarinda, baju gamis (tob dalam bahasa Melayu Patani), ataupun baju koko (talo blago) . Yang wanita rata-rata menggunakan jilbab dan baju muslim yang bervariasi. Mulai dari yang berjilbab pendek, baju kurung ala Malaysia, hingga. yang mengenakan cadar (niqab) ada semua. Mereka yang tak berbusana muslimah adalah minoritas disini. Biasanya adalah warga Thai Buddhist ataupun Chinese Thai.

Namun ada satu pemandangan yang berbeda dengan hypermarket di Indonesia. Disini tentara berpakaian tempur dan menyandang senapan mesin M-16 tampak ikut berbelanja. Melihat-lihat barang sambil mengenakan kacamata hitam. Tak jelas apa tugasnya, mengamankan tempat atau karena memang ingin berbelanja.

Di luar hypermarket pemandangan lebih seram. Tentara berpatroli dengan menunggang humvee armoured vehicle (jeep tempur Amerika yang tersohor karena Perang Teluk) berseliweran dimana-mana. Hampir di setiap jalan besar, setiap beberapa kilometer, ada posko militer (military checkpoint) dan posko polisi (police checkpoint). Disana setiap kendaraan mesti berjalan pelan dan melapor pada penjaga posko. Persis kondisi di Aceh sebelum tsunami 2004.

Dunia Melayu di Tanah Siam

Kendati mereka adalah warganegara Thailand, sebagian besar masyarakat Patani, utamanya kalangan dewasa hingga tua, lebih banyak menggunakan bahasa Melayu Patani atau Kecek Nayu. Telinga Indonesia mungkin agak sulit menangkap percakapan dalam Kecek Nayu apabila mereka berbicara cepat. Namun apabila berbicara lambat, maka banyak kesamaan bahasa dengan Melayu Malaysia ataupun Bahasa Indonesia. Mereka menyebut `Babo` untuk memanggil `Bapak.` Menyebut `Toh Ayah` untuk memanggil Kakek dan `Siti` untuk memanggil `Nenek.` Menyebut dirinya sendiri sebagai Orae Nayu (orang Melayu). Warga Thai non muslim menyebut muslim sebagai `khek` (orang asing), walaupun belakangan panggilan ini jarang digunakan karena bertendensi merendahkan. Secara bahasa maupun kultural, Melayu Patani amat dekat dengan Melayu Kelantan (Malaysia). Karena secara geografis mereka bersisian dan secara historis adalah bagian dari kesultanan yang sama lima abad silam.

Warga Melayu Patani juga mengenal apa yang disebut dengan Bahasa Kampong dan Bahasa Tengoh ataupun bahasa tulisan. Bahasa Kampong adalah bahasa Melayu khas Patani yang digunakan penduduk sehari-hari. Bahasa ini sukar ditangkap telinga Indonesia. Bahasa Tengoh adalah bahasa Melayu yang biasa digunakan untuk keperluan formal seperti pada tulis menulis ataupun khutbah Jum`at. Kami mengikuti khutbah Jum`at di masjid desa Tiraya, Patani dan Sang Khatib menyampaikan khutbah dengan membaca buku khutbah dalam bahasa Melayu Tengoh. Amat mirip dengan bahasa Melayu Malaysia sehingga cukup akrab dengan telinga Indonesia.

Disamping bahasa percakapan, warga muslim Patani mulai kembali menghidupkan aksara Yawi(Arab Melayu) sebagai aksara dalam tulis menulis. Aksara Yawi menggunakan aksara Arab (huruf Hijaiyah) namun untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Melayu. Aksara Yawi dahulu sempat populer di negeri-negeri yang kini menjadi wilayah negara Malaysia, propinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, hingga Sumatera Selatan, sebagian wilayah Kalimantan dan bagian Indonesia lain yang dahulu dikuasai oleh kesultanan-kesultanan Islam. Di hypermarket BigC Patani sendiri misalnya, kami menjumpai tulisan `Selamat Datang` dalam aksara Yawi berdampingan dengan `Selamat Datang` dalam bahasa Thai.

Warna budaya muslim Melayu memang sangat kental disini. Lebih dari budaya Thai Buddhist. Tidak hanya di Patani. Sejak kita mendarat di Hat Yai, propinsi Songkla, yang sering disebut sebagai pintu gerbang ke Patani, warna muslim Melayu sudah sangat terasa. Pemandangan para muslimah berjilbab, tua muda berseliweran dengan jalan kaki, naik motor tanpa helm, ataupun dengan angkutan umum amat mudah dijumpai. ”It`s a Malay world!” ujar Virginia, rekan peneliti asal Belgia, ketika ditanyakan impresi pertamanya terhadap Patani.

Memang, bagi mereka yang sering singgah ke Malaysia dan Aceh,  sepintas pemandangan di Patani tak jauh berbeda.  Yang menandakan bahwa ini masih wilayah Thailand hanyalah potret Raja Bhumibol yang masih bertebaran disana sini, juga bendera merah putih biru Thailand serta bendera kuning kerajaan yang bertengger di semua institusi formal. Yang unik, di kubah masjid Jami Patani, dipasang pula bendera Thailand persis di bawah tiang bulan bintang.

Tak jelas siapa mendominasi siapa. Sepertinya profil Melayu di Patani kerap bertukar kultur dengan Melayu di Malaysia ataupun Indonesia. Warga Melayu Patani juga akrab dengan pakaian batik (dengan bahasa yang sama : batik) dan dengan kesenian wayang. Untuk keperluan ibadah, banyak warga Patani yang mengenakan sarung asli Samarinda. Bahkan, menurut Sasudong Dosomy, salah satu kontribusi positif muslim Indonesia ke Patani adalah mengenalkan metode pembelajaran Al Qur`an ala qira`ati. ”Sejak metode qiraati diperkenalkan di Patani, banyak anak kecil yang sudah dapat membaca Al Qur`an. Dahulu dengan metode konvensional belajar Al Qur`an terasa sukar,” ujar Sasudong.

Apa dan Siapa Patani

Apabila kita menyebut nama `Patani` (atau `Pattani` dalam bahasa Thai) maka harus jelas dalam konteks apa. Karena nama Patani bisa punya empat makna : kota Patani, propinsi Patani, kesultanan Patani ataupun Patani Darussalam (Patani Raya). Kota Patani dan Propinsi Patani adalah bentukan pemerintah Thailand. Kesultanan Patani adalah kerajaan Islam Patani yang sempat eksis sejak pertengahan abad 16 hingga awal abad 20 (sebelum dipaksa bergabung dengan Siam/ Thailand). Istilah Patani Darussalam atau Patani Raya adalah istilah tidak resmi untuk gabungan dari empat propinsi mayoritas muslim di Selatan Thailand yaitu Patani, Yala, Narathiwat,  dan sebagian Songkla. Sebenarnya dua provinsi selatan Thailand lain yaitu Satun dan Trang adalah berpenduduk mayoritas muslim. Namun karena secara kultural dan historis mereka lebih dekat ke kultur Thai, maka tak tergabung dalam Patani Darussalam.

Asal usul nama `Patani` cukup unik. Berdasarkan cerita rakyat setempat (folklore) nama Patani ditemukan oleh Sultan Ismail Shah, raja Patani ketika itu, ketika ia tengah mencari calon ibukota kerajaan. Ketika tiba di wilayah (yang sekarang bernama Patani) ia menyebut : ”Pantai ini” (karena memang Patani berada di tepi laut teluk Thailand), dan akhirnya menjadi `Patani` dalam bahasa orang setempat.

Kerajaan Patani masa silam bertahan sekitar lima abad sejak awal abad 16 hingga awal abad 20. Saat itu Patani adalah kerajaan Islam terpandang di Asia Tenggara, bersama-sama dengan kesultanan di Semenanjung Malaya, Aceh dan pantai timur Sumatera. Patani mulai dikenal dunia barat ketika petualang Portugis Godinho de Eradia mendarat di Patani pada tahun 1516.

Patani sempat berjaya pada era Sultan Muzaffar Shah (pertengahan abad 16). Sultan ini mendirikan masjid pertama di provinsi Patani yang berarsitektur Timur Tengah. Masjid ini bernama ‘Krisek‘ atau ‘Krue Se‘ dalam bahasa Thailand. Hingga kini masjid Krue Se masih berdiri di tepi jalan raya Patani dan tetap digunakan untuk beribadah. Masjid ini sebenarnya sederhana. Hanya berupa masjid kecil yang disusun dari ribuan batu merah tanpa plesteran. Namun nilai historisnya luar biasa. Sejak tahun 1935 diabadikan sebagai monumen bersejarah oleh Kementerian Pariwisata Thailand. Maka, bagi siapapun turis yang ke Patani, menjadi semacam `kewajiban` untuk melongok tempat ini.

Zaman keemasan Patani berlanjut pada era empat Ratu Patani yang memerintah sejak tahun 1584 masing-masing adalah Ratu Hijau, Ratu Biru, Ratu Ungu, dan Ratu Kuning. Ketika itu kekuatan ekonomi dan militer Patani begitu dahsyat hingga bisa melawan empat kali invasi kerajaan Siam dengan bantuan Kesultanan Pahang dan Johor (kini bagian dari Malaysia). Suatu bukti bahwa pemimpin muslimah zaman dahulu begitu perkasa.

Patani mulai mengalami keruntuhan setelah era Ratu yang keempat pada abad 17. Sultan Muhammad yang berkuasa ketika itu terbunuh dalam pertempuran melawan kerajaan Siam dan kota Patani dibumi hanguskan. Empat ribu orang rakyat Patani kemudian diperbudak dan dibawa ke Bangkok untuk membuat khlong (kanal-kanal air/ sungai).

Pada tahun 1902, Pattani secara resmi dianeksasi oleh Siam. Tujuh tahun kemudian Perjanjian Bangkok antara Inggris (Great Britain-penguasa Malaya ketika itu) dan Siam menetapkan bahwa Patani secara resmi diakui di bawah kedaulatan Siam, dan negeri Kelantan secara resmi diserahkan kepada Inggris (pada tahun 1957 Kelantan bergabung dalam Federasi Malaysia).

Konfik di Patani

Konflik di Patani, Yala, dan Narathiwat sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Sama tuanya dengan ketika ketiga propinsi tersebut dilebur ke dalam kerajaan Siam secara sepihak pada tahun 1909.  Berbagai organisasi perlawanan muncul di Patani dan sekitarnya apakah dengan nama PULO (Patani United Liberation Organization), BERSATU, BRN, BNP, BNPP, GMIP, ataupun RKK (Runda Kumpulan Kecil). Oleh pemerintah Thai mereka dicap sebaga gerakan militan separatis dan belakangan, pasca tragedy 9/11, dicap sebagai teroris yang dianggap berhubungan dengan Al Qaida dan Jama`at Islamiyah (JI). Suatu klaim yang sukar dibuktikan. Tapi bahwasanya mereka punya hubungan dengan Libya, MILF di Mindanao Philippina dan GAM di Aceh, tidaklah terlalu salah.

Kendati ratusan konflik telah lama melanda Patani. Konflik pasca tragedi 9/11 berlangsung lebih buruk. Konflik berskala meluas dan massif berlangsung mulai Januari 2004 di Narathiwat ketika gudang senjata dan amunisi tentara Thailand diserbu kelompok militan. Dilanjutkan dengan penyerbuan Masjid Krue Se di Patani pada April 2004  yang menewaskan 31 aktivis muslim dan penganiayaan di Tak Bai, propinsi Narathiwat pada 25 Oktober 2004 yang menewaskan 78 warga muslim.  Kedua peristiwa tersebut menambah eskalasi konflik Thailand Selatan dan memaksa pemerintah Thai era Thaksin berpikir keras cara mengintegrasikan warga Thai beretnis Melayu (yang tak pernah merasa sebagai orang Thai ini) ke dalam Negara Thailand yang mayoritas Buddhist.

Menurut Sutthida, warga Thai Buddhist asli Patani konflik mulai meninggi pasca 9/11 dan sejak tahun 2004. “Sejak dahulu sebenarnya sudah ada konflik. Namun hanya menyerang tentara dan polisi saja. Namun entah mengapa sejak tahun 2004 sudah mulai mengorbankan rakyat sipil. Termasuk guru, monk (pendeta Budha), ulama Islam, bahkan anak kecil.”

Sutthida tak habis pikir, kini kehidupan di Patani tak lagi nyaman baginya. “Dulu ketika saya masih kecil, kami hidup bertetangga dengan rukun dengan tetangga kami yang muslim. Orangtua saya sering menyumbangkan makanan untuk buka puasa orang muslim ketika Ramadhan. Merekapun datang ke tempat kami ketika ada perayaan Buddhist. Saya punya banyak teman orang muslim ketika kecil. Kami bersekolah dan bermain bersama-sama. Kini yang tertinggal di Patani hanyalah saling curiga dan tak percaya. Sesama muslim sekalipun,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang sangat lancar.

Sampai kini konflik masih berlangsung. Terjadi sekitar 2300 insiden yang menelan korban tewas 2500 jiwa sejak awal 2004 hingga kini. Bahkan, pada akhir November 2007, sebuah karaoke dibom oleh orang tak dikenal di luar kota Patani hingga tujuh orang tewas. Bulan Agustus 2007 dua rumah dibakar di desa Tiraya, tak jauh dari kota Patani.  Penduduk hidup dalam cengkeraman ketakutan.  Kendati kehidupan sepintas lalu berjalan normal. Mahasiswa tetap pergi kuliah ke kampus, pedagang berjualan ke pasar, pegawai bekerja di kantor, jama`ah shalat tetap pergi ke masjid.  Namun setelah maghrib kondisi berubah,  jalanan menjadi makin lengang, kedai menjadi semakin sepi. Minoritas China dan Buddhist tak tampak di jalan-jalan umum.   Sekali lagi, mirip Aceh di era sebelum tsunami 2004 dan Perjanjian Helsinki.

Konflik Patani secara tak langsung mengusir warga Thai non muslim keluar dari ketiga provinsi tersebut.  Juga mengusir warga muslim Patani sendiri yang bingung mengungsi kemana. Mengungsi ke Bangkok tak lebih baik karena juga tak merasa sebagai negeri sendiri.  Ke Malaysia kendati secara kultural sama, namun juga mengundang masalah karena negaranya berbeda dan tak cukup ramah menampung ’pendatang haram.’. Sebagian kecil pengungsi akhirnya memang mengungsi ke Malaysia hingga kini.

Konflik membuat warga Patani kesulitan pulang kampung ke rumahnya sendiri. Hafidz,seorang muslim asli Patani, dan Lek seorang Buddhist asli Yala, Mengaku bahwa apabila mereka ingin pulang ke kampong mereka di Betong, Yala, harus memutar dahulu melalui Negara bagian Perlis dan Kedah di Malaysia sebelum tiba di Betong, yang memang berbatasan dengan Kedah. Mereka takut melalui Patani dan Yala yang sebenarnya jauh lebih dekat. “Ini demi keamanan, walaupun saya asli Betong, Yala, tapi saya minoritas Buddhist disana. Maka lebih baik memutar via Malaysia, jauh lebih aman,” ujar Lek.

Kampus Prince of Songkla University (PSU), Patani Campus, kini 90% mahasiswanya muslim dari ketiga provinsi sekitar.  Padahal dahulu sebelum konflik, mahasiswa dari seantero Thai yang berbeda agama datang studi kesana.  Tak heran, pemandangan di PSU Patani Campus mirip dengan kampus Indonesia .  Banyak mahasiswi berjilbab, ada masjid, ada banyak tempat shalat, makanan semua halal. Sangat berbeda dengan wajah kampus-kampus di Bangkok .

Kendati infrastruktur Patani amatlah baik, jalan luas dan mulus, listrik dan lifelines tersedia. Jauh lebih baik dari Aceh dan propinsi terpencil Indonesia lainnya. Tapi tidaklah lebih baik dari propinsi Thai yang lain.  Patani, Yala, dan Narathiwat adalah di antara provinsi termiskin di Thailand.

Sekitar 69.80% warga muslim di tiga propinsi tersebut hanya mengenyam pendidikan dasar (sementara warga Thai Buddhist sekitar 49.6%). Hanya 9.20% yang menamatkan sekolah menengah (Thai Buddhist sekitar 13.20%). Dan hanya 1.70% yang bergelar sarjana (bandingkan dengan Thai Buddhist yang 9.70%). Alasan utama rendahnya angka melek sekolah ini adalah karena mereka enggan bersekolah di sekolah Thai. Alih-alih di sekolah Thai, sebagian dari mereka lebih suka menyekolahkan anaknya ke Malaysia ataupun Indonesia. Tak heran, mudah menemukan warga Patani di Gontor, Yogyakarta ataupun di LIPIA dan UIN Jakarta.

Jumlah muslim yang bekerja sebagai pegawai pemerintah juga amat rendah. Hanya 2.4% berbanding dengan 19.2% warga Thai Buddhist. Pekerjaan di pemerintah amat sulit didapatkan bagi mereka yang tak berbahasa Thai dan tak pernah mengenyam sistem pendidikan Thai.

Ada banyak cerita tentang Patani, kisah tentang semangat kaum minoritas bertahan di tengah mayoritas.  Perjalanan kebingungan menentukan jatidiri. Wajah kekerasan yang menahun dan melegenda. Ketidakpastian dan kecemasan yang selalu mendominasi hari-hari.  Hidup terasing di negerinya sendiri. Patani memang terbilang dekat dari Bangkok, tapi bagi sebagian besar warga Thai terasa begitu jauh (di hati). Karena, Patani adalah Dunia Melayu di Tanah Siam.

Wallahua�lam

Salaya, Nakhorn Pathom 13 Desember 2550 (Tahun Siam)

 

 

Read Full Post »

HAPPY VALENTINE !
For personal reasons, saya tak punya tradisi merayakan Valentine. Kendati saya pernah merayakan Valentine ketika SMP dan SMA dua puluh tahun silam.  Kendati saya pernah sehari menggunakan baju dan setelan pink demi memaknai hari kasih sayang. Kendati saya pernah memberi hadiah khusus untuk orang-orang tertentu. Dulu. Dua puluh tahun silam.

Saya hanya ingin berbagi.  Bahwasanya berbagi hadiah, berbagi perhatian, berbagi senyum, ,berbagi tawa, berbagi canda, dan berbagi hati itu penting.  Abraham Maslow, psikolog kondang itu pernah berteori bahwa manusia memiliki lima hirarki kebutuhan. Mulai dari kebutuhan psikologis, keamanan, cinta, keyakinan diri dan aktualisasi dari.  Karena manusia adalah manusia, bukan robot apalagi mutan. I am only human, from flesh and blood I made, tutur sebuah lagu.

14 Februari 2008 ini teman-teman satu program saya di kampus Mahidol, Nakhorn Pathom memaknai Valentine dengan berbagi hadiah.  Mereka berasal dari Thai, Laos, Philippine, Jepang,Australia, Swedia, Indonesia, Nepal, Pakistan, dan Burma. Sebagian besar  adalah Buddhist. Seorang teman membagikan buah-buahan. Kami semua mendapat jambu air dan jeruk secara merata. Boleh mengambil sebanyak apapun. Nyam nyam. Jambu air Bangkok terkenal dahsyat rasanya. Teman lain membagi-bagikan cokelat. Ajarn (professor) kami bahkan mendapat hadiah special.  Bunga mawar merah.  Hmm, say it with flower !

Saya jadi malu sendiri.  Karena saya tak membawa barang apapun untuk dibagikan. Karena saya memang tak merayakan Valentine. Dan bukan sekali ini teman-teman saya berbagi hadiah. Pernah suatu hari Khun Wanee, kawan Thailand saya, tiba-tiba membagi-bagikan tas LSM-nya secara Cuma-Cuma. Esok harinya ia membagi sayuran nikmat racikan tetangganya untuk dimakan bersama kami saat lunch. Esok harinya lagi ia membawa buah-buahan. Lagi-lagi dibagi-bagikan dengan cuma-Cuma.  Khun Suwan, juga orang Thailand, lain lagi. Ia rajin membagi-bagikan coklat dan juga buah-buahan. Tak tentu waktunya. Namun sering. Khun Medaphan, lagi-lagi orang Thailand, sama halnya. Ia tahu-tahu membagi-bagikan calendar UNHCR kepada kami semua secara cuma-cuma. Vatchanaphone, kawan Laos kami, sama juga. Tahu-tahu pada suatu hari ia memberikan souvenir dari Laos. Jelas Cuma-Cuma.

Dan bukan sekedar mahasiswa. Ajarn kami juga punya kelakuan yang sama. Ajarn Scott, demikian kami memanggil dia, seorang Amerika, seusai memberikan kuliah dalam tiga sesi tiba-tiba  membuka tasnya dan memberikan kue cokelat, semacam brownies kepada kami semua. ”I made it by myself this morning,” ujarnya bangga.

Lagi-lagi saya malu. Kok saya jarang berbagi hadiah ya?

Hari ini Valentine Days. Mahasiswa undergraduate Mahidol merayakan dengan caranya masing-masing. Mahasiswa Buddhist, the devoted one, berdoa di ruang mahasiswa Buddhist. Mahasiswa Thai Christian, merayakan dengan makan, pesta balon, dan doa bersama di ruang mahasiswa Kristen. Mahasiswa club Pengmas (Pengabdian Masyarakat) mematikan lampu ruangannya. Memasang lampu-lampu berbentuk hati. Bermain gitar. Bercanda ria. Lalu pesta makan-makan.Persis di samping ruang Muslim Study Club.  Apa makna Valentine bagi mereka? Tak paham, tapi kelihatan betul mereka happy.

Tentunya kita tak harus berbagi hadiah, berbagi senyum, berbagi tawa, berbagi suka, dan berbagi hati di hari Valentine saja. Tapi, terkadang di 364 hari yang lain-pun kita tak juga melakukannya. Mulut kita kelu untuk menarik kedua sudut bibir. Untuk tersenyum. Air muka kita sering keruh. Tangan kita berat untuk memberi. Hati kita agak tertutup untuk sekedar berbagi cahaya hati. Lalu dimana kelebihan kita dibandingkan mereka yang merayakan Hari Valentine?

”Saling berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai; dan saling berjabat tanganlah kalian, niscaya akan hilang rasa dendam dari diri kalian. ( HR Ibn ‘Asakir)”

Satu penelitian menyebutkan bahwa bayi yang sering disentuh Ibunya maka otaknya lebih cepat bekerja, ikatan antara sel-sel otaknya akan lebih langgeng, yang berarti otaknya semakin mudah menerima sinyal-sinyal kasih maupun ilmu dari sekitarnya.

Senyummu itu sedekah. Rasulullah SAW sudah lama mengajarkan hal tersebut. Penelitian juga menunjukkan bahwa orang yang bergembira cenderung memiliki harapan hidup yang lebih lama.

Maka tersenyumlah. Maka berbagi hadiahlah. Karena manusia senang dicintai. Karena manusia senang diperhatikan. Karena manusia memiliki hati dan perasaan. Disamping otot keras dan tulang kukuh.

Sebulan silam dua SMS datang dari Jakarta. Dari teman SMP.  Mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. SMS sederhana tapi amat bermakna. Seketika sepanjang hari itu saya terus bersenang hati. Kendati tinggal jauh dari mereka yang dicintai di Indonesia.  Dua hari silam, Bapak saya tercinta mengirim email. Beliau sudah tua namun masih senang ber-email ria.  Isi emailnya sederhana. Memuji tulisan saya tentang pariwisata di Indonesia –yang saya kirim via email untuknya. Bapak mengatakan bahwa isinya relevan dengan kenyataan. Ayah saya senang dengan tulisan tersebut dan memforward tulisan tersebut ke rekan-rekan kantornya. Maka hari itupun saya senang luar biasa.  Apalagi yang lebih membahagiakan hati daripada ketika orang tua kita bangga dengan kita?

Therefore, Show your love, show your affection, pay attention to people, express your gratitude. Keep smiling…keep shining…

Barangsiapa yang mencintai yang berada di bumi karena Allah, akan dicintai oleh yang ada di langit…
Refleksi di hari Valentine

Teras muka Muslim Study Club

Mahidol Salaya Campus

Read Full Post »

BELAJAR HAM DARI BANGSA CHINA*

By : Heru Susetyo

Advokat Publik pada Pusat Advokasi Hukum dan HAM Indonesia (PAHAM)

 

                                                                                                      

Sesuai dengan hadits dhaif,  tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Kesanalah akhirnya kami berlabuh untuk belajar Human Rights Education sejak Ahad 27 November 2005. Tepatnya di kota Kaohsiung, Taiwan.  Kendati berjudul ‘Taiwan’,  namun negara ini adalah juga negeri bangsa China.  Karena sejak tahun 1949 China terpecah dua.  Antara China daratan yang kemudian disebut RRC (Republik Rakyat China atau People Republic of China) dan China kepulauan yang kemudian memerdekakan diri dan menjadi Taiwan (nama formalnya adalah ‘ROC’ – Republic of China).  Pangkal perpecahan adalah berkuasanya partai Komunis di daratan China sejak 1949, yang membuat dua juta warga nasionalis pimpinan Chiang Kai Sek gerah dan menyeberang ke pulau Formosa lalu mendirikan negara baru disana (kemudian dikenal sebagai Taiwan).

 

Tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya,  ternyata bangsa China (terutama yang berada di Kaohsiung) sangat ‘civilized’ dan peduli dengan masalah-masalah kemanusiaan. Alias,  tidak semata-mata hobby berdagang dan bisnis seperti yang menjadi ‘stereotipe’ etnis China (utamanya di Indonesia) selama ini.

 

Chinese di Taiwan (sebagian dari  mereka lebih suka disebut sebagai Taiwanese,  karena ‘Chinese’  lebih diasosiasikan dengan RRC),  adalah  sama seperti kelompok manusia lainnya di muka bumi.   Mereka bekerja hampir di seluruh wilayah kehidupan.  So, tidak semua semata-mata hidup untuk uang dan bisnis.  Kami menjumpai banyak dari mereka yang juga senang menjadi guru, pekerja sosial, polisi, bahkan menjadi aktivis NGO yang otomatis minim pendapatannya.

 

Paling tidak itu bisa dilihat di Kaohsiung.  Kaohsiung adalah kota terbesar kedua di Taiwan.  Penduduknya sekitar 1.5 juta jiwa.  Taiwan sendiri berpenduduk sekitar 23 juta jiwa.  Kendati berstatus ‘second city’,  namun Kaohsiung adalah kota pelabuhan nomor tiga terbesar di dunia.  Sepanjang pesisir pantainya mudah ditemui aktivitas bongkar muat kontainer dari pelabuhan yang bekerja nyaris 24 jam.  Hebatnya,  pekatnya aktivitas bisnis tersebut tak lantas mengurangi keindahan dan kebersihan kota ini.

 

Kaohsiung adalah kota besar yang bersih ‘abis.’  Sukar menemukan sampah dan gunungan kotoran disini.  Walau di pelabuhan dan pasar sekalipun.  Semuanya ‘rightly in order’ dan ‘well organized.’  Sama seperti negara barat,  penduduk disini sudah terbiasa mendaur ulang (recycle) sampah rumah tangga maupun sampah industrinya.  “Taiwan is environmental friendly country,”  ujar Andy Lee  pemandu training kami, dengan bangga.

 

 

 

Kaohsiung Kota Hak Asasi Manusia

Kaohsiung menahbiskan dirinya menjadi ‘kota HAM’ (human rights city) sejak akhir tahun 2002.  Inisiatif ini datang langsung dari kantor walikota,  setelah sebelumnya mendapat pencerahan dari PDHRE (People Decade for Human Rights Education  – NGO Amerika yang bergerak di bidang human rights education).  Konsekuensinya,  Kaohsiung membaktikan dirinya kepada HAM dan mendasarkan seluruh aktivitas kotanya kepada HAM. 

 

Istilah kota HAM (human rights cities) memang pertama kali diperkenalkan oleh  PDHRE yang bermarkas di New York, USA, sejak tahun 90-an. Sampai kini,  ada sekitar 12 kota HAM yang telah berdiri, terserak mulai dari Canada, Argentina, Phillipina, India, Ghana, Mali, Afrika Selatan,  sampai Austria.

 

Kendati inisiatifnya datang dari pemerintah kota ,  tak pelak banyak NGO lokal yang bergerak di bidang HAM yang mendukung  ide cerdas ini.  Apalagi,  sebelumnya telah banyak NGO lokal bergerak di bidang HAM di negeri ini.  Sebutlah Amnesty International,  Taiwan Association for Human Rights,  Taiwan Foundation for Democracy, dan lain-lain.

 

Ikhtiar menjadikan Kaohsiung sebagai kota HAM ini semakin mengkristal pada 9 Desember 2003.  Saat itu,  berdirilah Kaohsiung Human Rights City Association (KHRCA), yang bertugas memonitor dan mengembangkan Kaohsiung sebagai kota HAM.

 

Uniknya,  aktivis HAM di negeri ini datang dari berbagai kalangan. Bila di Indonesia kebanyakan aktivis HAM adalah mahasiswa, pemuda, akademisi, ataupun aktivis gerakan buruh,  di Kaohsiung lebih bervariasi.  Kami menjumpai seorang polisi yang bertugas di Kaohsiung County, bernama Jerry Chen,  yang sekaligus adalah seorang human rights educator.  Di waktu-waktu senggangnya sering ia manfaatkan untuk memberikan training kepada siswa sekolah maupun warga kota tentang apa itu HAM.  Hebatnya,  Jerry memilih tidak memiliki pistol,  kendati ia berhak memilikinya.  “Memiliki pistol membuat kami cenderung pada kekerasan,”  ujarnya santai.

 

Banyak juga dari kalangan aktivis HAM ini yang berasal dari profesi guru.  Ada guru TK, guru SD, SMP dan SMA. Doktor Su Ing Wang misalnya, pimpinan NGO NAFIA (NGO Association for International Affairs) adalah guru TK yang mendapatkan pendidikan early childhood education –nya di Boston.  Kate Kuo,  pimpinan KHRCA adalah pensiunan guru.  Belum lagi beratus-ratus aktivis yang berasal dari Kaohsiung Teacher Association, Youth Knowledge Network, Taipei Elementary School,  dan lain-lain.

 

Ibu rumah tangga dan warga pensiunan juga adalah bagian dari aktivis HAM di negeri ini. Seorang warga tua (senior citizen) bernama Ching Fu misalnya,  ia telah berusia enam puluh tahun dan sudah pensiun dari pekerjaannya. Lazimnya di Indonesia pada umur demikian orang lebih banyak tinggal di rumah.  Sebaliknya dengan Ching Fu, ia  mendirikan sebuah NGO di bidang pendidikan.  Mengikuti training HAM dan selalu  aktif dalam bertanya dan menjelaskan segala hal tentang Taiwan pada rekan-rekan non Taiwan.

 

 

Budaya Bersih, Aman, dan Peduli Lingkungan

Hampir sama dengan kebanyakan negara-negara maju (developed countries),  Taiwan memiliki budaya bersih yang mengagumkan.  Mereka menyebutnya enviromental friendly country.  Hampir di semua tempat publik tersedia tempat sampah yang dibedakan atas sampah kering, basah, dan daur ulang (recycling garbage).  Anak-anak sejak dini telah diajar bagaimana cara membuang sampah yang tepat.  Hebatnya,  petugas kesehatan nyaris tak kelihatan berkeliaran di tempat-tempat publik namun kotanya tetap bersih.

 

Kemudian,   negeri ini juga memiliki budaya aman dan selamat yang baik (public safety). Hampir di semua tempat publik tersedia akses yang cukup terhadap hidran, kalau-kalau terjadi kebakaran.  Di dalam gedung tersedia tabung pemadam kebakaran. Di setiap lift tersedia petunjuk yang jelas kalau-kalau terjadi gempa dan kebakaran. Bahkan di dalam perahu turis yang melaju di sepanjang Love River di pusat kota Kaohsiung,  juga tersedia minimal satu pelampung untuk setiap penumpang,  dimana sebelum berlayar, sang petugas memperagakan teknik mengenakan pelampung kepada penumpang.  Persis seperti pramugari di pesawat terbang. Padahal ini hanya perjalanan 20 menit di sungai yang dangkal pula!

 

Budaya Menjunjung Tinggi HAM

Perlindungan HAM yang paling nyata adalah pada kelompok cacat (differently abled) pengguna motor, serta perlindungan terhadap penduduk asli (aboriginal people). Penduduk yang cacat memiliki akses yang sama terhadap fasilitas publik seperti halnya mereka yang normal.  Hampir semua tempat publik memiliki tempat parkir khusus, lift khusus, WC khusus, bahkan komputer khusus bagi orang cacat.    Di airport,  tersedia counter informasi khusus untuk orang cacat dimana mereka dapat membaca dan menerima pesan dalam bahasa yang mereka pahami.

 

Sama halnya dengan pengguna motor.  Apabila di Indonesia pengguna motor dapat dikatakan sebagai ‘warga negara kelas dua.’  Yang sulit menemukan tempat parkir, kalaupun ada harus memutar ke belakang ataupun berada di tempat yang paling bawah di suatu gedung,  maka di Taiwan hal seperti itu tak terlihat.  Pengguna motor dapat memarkir motornya dimana saja. Di depan toko, gedung, di emperan, bahkan di muka kantor-kantor pemerintah.  Tampaknya motor memang salah satu moda transportasi favorit di Taiwan. Tidak mereka yang muda saja,  orang dewasa dan penduduk tua-pun menggemarinya. Bedanya,  motor disini hampir semuanya seragam.  Kalau tidak bermerk Kymco ya Yamaha.  Dan semuanya motor otomatis yang tak memerlukan kopling dan perseneling. Maka, benar-benar user friendly.

 

Taiwan adalah juga tempat bagi dua belas penduduk asli (lazim disebut aboriginal people/ tribes).  Mereka adalah penghuni asli pulau Formosa sebelum bangsa China dari China daratan datang ke pulau ini pada abad ke 16.  Kini,  kebanyakan mereka tinggal di pegunungan di Taiwan bagian tengah dan selatan.  Kendati hampir semuanya dapat berbicara Mandarin,  namun mereka tetap mempertahankan bahasa dan kultur asli.  Data antropologi menunjukkan bahwa suku asli Taiwan ini justru lebih memiliki kedekatan genealogis dengan ras proto-Malaya dari rumpun Austronesia daripada etnis China.

 

Tak heran,  ketika kami bertemu dengan Ibu (‘Ibu’ adalah nama orang) dan Ijebaw, keduanya adalah  wanita yang berasal dari suku asli Taiwan,  kami seperti melihat orang Indonesia atau orang Philipina.  Wajah mereka mirip orang Philipina atau Thailand,  mata tak terlalu sipit dan warna kulit sawo matang mirip orang Indonesia.  Uniknya,  ketika berdialog, kami mencatat paling tidak ada beberapa kata yang mirip dengan bahasa Indonesia.  Misalnya kata ‘Ibu’ dalam bahasa asli Aborigin adalah sama artinya dengan ‘Ibu’ dalam bahasa Indonesia. Kata ‘lima’ sama dengan ‘lima’ dalam bahasa Indonesia. Uniknya mereka menyebut angka tujuh sebagai ‘pitu’  yang sama artinya dengan tujuh dalam bahasa Jawa.

 

Ibu berasal dari etnis Bunun,  sedangkan Ijebaw dari etnis Taiwan. Keduanya bekerja sebagai pedagang yang memasarkan hasil kerajinan tangan etnis asli Taiwan ke pusat-pusat keramaian.  Selain sebagai pedagang, Ijebaw ternyata adalah juga seorang aktivis pada Kaohsiung County Indigenous Women Growth Association. Yang peduli pada pengembangan dan perlindungan wanita etnis asli Taiwan.

 

Secara kultur,  etnis asli Taiwan ini agak berbeda dengan etnis China.  Mereka tak begitu gemar menari ataupun minum anggur.  “Saya tak pernah menari di kampung saya,”  ujar Ibu.  Kendati demikian,  perlakuan yang baik dari pemerintah terhadap warga minoritas ini membuat mereka merasa ‘feel at home’  dan tak merasa dibedakan dibandingkan dengan warga pendatang yang mayoritas dari etnis China.

 

 

Wajah Islam di Kaohsiung

Kalau ada yang kurang dari Kaohsiung,  barangkali adalah jumlah penduduk muslimnya.

Kendati nilai-nilai Islam seperti kebersihan, kedisiplinan, dan keamanan begitu terlihat nyata dalam keseharian warga Kaohsiung,  namun dari sisi kuantitas dan fisik wajah Islam nyaris tak terlihat di kota ini.  Banyak yang tak tahu Islam sama sekali.  “Saya tak pernah punya teman orang Islam di Taiwan,”  ujar Sandy Wu,  peserta training yang juga adalah guru SD di Kaohsiung.

 

Sebaliknya,  gairah belajar Kristiani begitu membara di negeri ini.  Gereja mudah ditemukan. Banyak penduduk, utamanya kaum muda mengenakan kalung salib.  Produk-produk pelengkap Natal seperti kartu, pohon cemara, boneka St. Claus dijual bebas di pasar malam.  Ini karena, misionaris Kristiani memang proaktif menyebarkan agamanya di negeri ini.

 

Sebaliknya, di Kaohsiung dan Tainan (kota yang berdekatan dengan Kaohsiung) hanya ada satu masjid dan dua bangunan apartemen yang dijadikan masjid. Total di Taiwan ada sekitar enam masjid. Terbanyak ada di Taipei dengan tiga masjid. Pada tahun 1999 penduduk muslim berjumlah 53.000 jiwa.  Padahal akar dari warga muslim di Taiwan dapat dirunut ke belakang sejak abad ke 17.  Ketika itu migran pertama dari China daratan termasuk diantaranya sejumlah migran muslim.  Bahkan,  pada hijrah kaum nasionalis dari China daratan pada tahun 1949,  turut diantaranya sekitar 20.000 warga muslim yang sebagian besar adalah tentara, pegawai negeri, dan pekerja catering.

 

Warga Indonesia di Taiwan

Salah satu kelompok warga muslim terbesar di Taiwan tak pelak lagi adalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI).  Pada bulan Juni tahun 2000 tercatat 52.000 orang Indonesia bekerja sebagai TKI di Taiwan.  Sebagian besar bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT) di Taipei dan Kaohsiung.  Dalam perjalanan pergi dan pulang dari Taiwan kami menjumpai beberapa TKW yang pergi dan pulang ke dan dari Indonesia.  Bahkan sejak mengurus visa di perwakilan Taiwan di Jakarta-pun permohonan visa TKI untuk Taiwan banyak sekali.

 

Memang,  bekerja di Taiwan cukup menggiurkan.  Sukamti, salah seorang TKW asal Solo yang kami jumpai di pesawat,  menuturkan bahwa ia cukup betah bekerja di Taiwan.  Ia telah tiga tahun bekerja sebagai PRT di Kaohsiung dan belum terpikir untuk berhenti bekerja.  Berganti majikan mungkin tapi tidak berhenti bekerja di Taiwan.  Dua rekannya sama nasibnya.  “Saya disini bekerja sebagai Pembantu Mas.  Ya enak gak enak sih. Kalau ketemu majikan yang baik ya alhamdulillah. Saya punya anak di Indramayu yang harus saya biayai.  Makanya saya harus bekerja disini,”  ujar Wiwin (sebut saja begitu).

 

 

Belajar dari Taiwan

Hikmah adalah harta benda kaum muslimin, dimanapun ia berada kita wajib mendapatkannya.  Demikianlah yang kami dapatkan selama sembilan hari di Taiwan. Nilai-nilai Islam,  utamanya tentang kebersihan,  keamanan, keselamatan publik, anti diskriminasi, keadilan, dan kesetaraan terasa betul disini.  Kendati warganya mayoritas non muslim dan fisik Islam tak kentara betul disini, namun tak pelak kehidupan keseharian mereka cukup mencerminkan sebagian dari nilai Islam.  Nilai utama yang kami dapatkan adalah bagaimana mereka menghargai Hak Asasi Manusia.  Menghargai kaum Ibu, anak-anak, orang cacat, pengendara motor, dan kelompok rentan lainnya.  Menghargai kerja keras dan belajar keras.  Anak sekolah disini belajar hampir dua belas jam sehari.  Pekerja disini bekerja nyaris dua belas jam dalam sehari.   Waktu begitu dihargai.  Sesuatu yang juga merupakan bagian dari Islam.  Maka,  di luar segala kekurangan mereka,  barangkali kita bisa mulai menggeser kiblat belajar HAM kita,  tak lagi ke Amerika Serikat ataupun Eropa Barat,  namun juga ke Jepang, Korea, dan (tentunya) Taiwan.  Sesuai dengan hadits dhaif,  tuntutlah ilmu sampai ke negeri China…

 

Wallahua’lam

 

 *telah dimuat di majalah UMMI tahun 2006

 

Read Full Post »

AISYAH ADINDA KITA :
YANG BUKAN SEKEDAR PEKERJA MIGRAN

Tangan kanannya sigap memencet tombol-tombol ponsel Nokia-nya, sementara tangan kirinya mencencang tas laptop berisi laptop Acer keluaran terbaru. Setiap lima menit ia mengkontak dan dikontak orang melalui ponsel merah maroon tersebut. Di sela-sela pembicaraan, ia mengeluarkan laptop, memasang modem seukuran flash disk, dan segera menuju jendela untuk mencari sinyal terbaik bagi akses internet-nya. Usai mendapat koneksi, kedua tangan kecil itu bergantian memencet keyboards dan meluncurkan ratusan kata-kata kreatif di layar laptop mini-nya. Di antara kegiatan mengetik, ia beberapa kali mengeluarkan Olympus digital camera-nya dan mengambil gambar teman-temannya yang ikut bergadang di dinihari malam Ramadhan tersebut

Malampun merambat pelan, dinihari sudah akan dijelang, namun pemilik tangan lincah itu terus menekuri keyboard laptopnya. Tak sedikitpun ia tampak lelah. Sepertinya ia tengah dikejar deadline. Siapakah ia? Wanita entrepreneur? Professional muda? Career woman? Salesperson?

Bukan, wanita muda super sibuk berjilbab rapi itu adalah pekerja migran Indonesia di Hong Kong. Sebut saja namanya Aisyah. Pagi hingga menjelang maghrib ia sibuk bekerja di rumah tangga warga Chinese Hong Kong di Kowloon. Mengerjakan tugas-tugas khas domestic worker, atau housekeeper, atau maid, atau bahasa Indonesianya adalah PRT (Pekerja Rumah Tangga ataupun Pembantu, btw sudah lama saya menghindari penggunaan kata ini karena terkesan kurang manusiawi). Disana, Aisyah seharian penuh memasak, berbelanja, mengantar anak majikan, mencuci, mensetrika, dan lain-lain pekerjaan rumah tangga lainnya.

Menjelang malam, Aisyah kembali ke laptop Acer-nya. Mengetik, menulis, mem-browsing perkembangan jagat dari bilik kecilnya. Terkadang, ketika majikan berangkat kerja dan anak-anak sudah diantar sekolah, iapun kembali bekerja dengan laptopnya. Beruntunglah, banyak majikan di Hong Kong yang ikhlas domestic worker-nya memiliki laptop ataupun meminjam computer milik majikan. Juga, ikhlas sang housemaid mem-browsing dunia maya melalui internet, yang di Hong Kong aksesnya amat cepat dan bukan perkara yang luar biasa mewah. Tentunya, ini berkah buat Aisyah. Karena rekan-rekan senasibnya di Malaysia, Saudi Arabia, apalagi di Indonesia belum tentu dapat menikmati teknologi ini. Karena, jangankan berinternet dan ber-fesbuk ria, banyak majikan di Indonesia yang ‘super gerah’ melihat PRT-nya ber-ponsel ria di sela-sela mencuci dan mensetrika (padahal apa salahnya ya, PRT juga manusia).

Sepintas lalu, tak banyak perbedaan antara Aisyah dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri. Ponsel-nya, kendati bukan i-phone ataupun Blackberry, namun juga bukan Nokia seri jadul. Laptop-nya, kendati bukan Sony Vaio atau Fujitsu, namun tetap Acer seri terakhir. Penampilannya, kendati bukan ala fifth avenue New York ataupun Ginza Tokyo, namun juga tetap nyambung untuk bergaul di sepanjang Causeway Bay, Hong Kong. Camera digitalnya, kendati bukan Nikon atau Canon DSLR, namun juga bukan Olympus tahun jadul.

Singkatnya, Aisyah adalah juga manusia Indonesia masa kini dengan segala kesederhanaannya. Dengan segala mimpi-mimpinya. Dengan segala keterbatasannya. Dengan segala keinginannya. Imajinasinya tak mampu dibendung oleh bilik kecil ruang tidurnya. Kreativitasnya tak mampu dibelenggu status domestic worker-nya.

Nyaris sepuluh tahun Aisyah tinggal di Hong Kong. Dan ia belum dapat dikatagorikan senior. Karena di dalam bis E11 menuju Hong Kong airport dari Wan Chai area, saya mendapati seorang PMI (pekerja migran Indonesia) yang sudah tinggal 11 tahun di luar negeri. Tujuh tahun di Singapore dan empat tahun di Hong Kong. Alias lebih senior dai Aisyah. Rekan Aisyah yang lain bahkan sudah menyandang status sebagai permanent resident Hong Kong, karena sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di negeri ini.

Namun, di luar penampilan modisnya, Aisyah tetaplah perempuan Jawa dengan segala keluguannya. . “Saya minder mas, melihat Mas dan teman-teman penulis yang lain.” “Mas sempat sekolah tinggi-tinggi dan pengetahuannya banyak,” “Saya hanya anak orang biasa dan sekolah-pun tak sampai SMA.”

Saya mencoba membangkitkan kepercayaan dirinya. “Mbak, yang penting bukanlah siapa kita, tapi apa yang telah kita hasilkan. Mbak sudah banyak menulis dan karya-karyanya konkrit. Saya sudah melihat banyak orang yang nasibnya, maaf, jauh lebih baik dari Mbak, tapi belum menghasilkan apa-apa,”. Lagian, di mata Allah SWT kita semua sama kok,” ujar saya. Mencoba bersikap arif.

“Iya sih Mas, tapi kadang saya ragu dengan tulisan saya sendiri. Takut bahasanya jelek, atau pandangannya terlalu sempit, maklumlah saya anak orang susah, tak sempat juga sekolah tinggi-tinggi. Enak ya jadi Mas, bisa kemana-mana,” sahut Aisyah datar.

Saya tercekat. “Lha, Mbak tinggal di luar negeri jauh lebih lama daripada saya. Saya juga baru kali ini menginjak Hong Kong, Mbak kan sudah bertahun-tahun. Tentunya pengalaman Mbak jauh lebih banyak daripada saya!”

“Iya sih Mas, tapi saya kan lama di luar negeri sebagai PRT, visa saya aja bunyinya domestic helper. Sampeyan kan nggak!”

Kontan saya terdiam. Speechless. Bingung mau bicara apa lagi.

Lalu sayapun teringat lagu “Aisyah Adinda Kita” karya Bimbo tahun 1970-an. Aisyah yang sopan dan jelita. Aisyah yang angka SMP dan SMA sembilan rata-rata. Aisyah yang pandai mengarang dan organisasi. Aisyah yang memakai jilbab, menutup rambutnya, Aisyah yang Indek Prestasinya tertinggi tiga tahun lamanya. Aisyah yang calon insinyur dan bintang di kampus. Aisyah yang tidak banyak berkata, memberi contoh saja.

Sayangnya, Aisyah Hong Kong ini tak mengenal istilah Indeks Prestasi, karena ia tak sempat kuliah. Kendati ia amat menginginkannya. Terngiang-ngiang dalam telinga saya ia berkata, “bagaimana sih caranya dapat beasiswa kuliah, Mas? Harus lulus SMA dulu ya?” tanyanya polos.

Sayangnya, Aisyah Hong Kong ini juga bukan calon insinyur dan bintang di kampus. Bahkan kata-kata ‘kampus’ terkesan amat asing baginya.

Namun, persamaan antara Aisyah Bimbo dengan Aisyah Hong Kong ini adalah, mereka berdua sama-sama sopan, sama-sama pandai mengarang dan organisasi. Sama-sama memakai jilbab dan menutup aurat. Sama-sama tidak banyak berkata, memberi contoh saja.

Aisyah Hong Kong amat sibuk dengan organisasi. Organisasi kepenulisan hanyalah salah satunya. Di luar itu, ia sibuk juga dengan organisasi kedaerahan, organisasi pengajian, hingga organisasi bisnis (ia berbisnis juga di luar kegiatan domestic worker-nya). Setiap pekan, ketika banyak rekan senasibnya menghabiskan waktu tak karuan di Victoria Park, Aisyah juga pergi ke Victoria Park. Namun untuk diskusi ilmiah dengan teman-teman sehobby, ataupun ikut pengajian rutin setiap Ahad siang.

Ketika banyak rekan-rekan seprofesinya berdandan tak karuan, mengenakan celana pendek, kaos pendek ketat dan high heels shoes, serta rambut warna-warni, Aisyah tetap konsisten berbusana muslimah.

Dan ini bukanlah perkara sederhana. “Banyak majikan yang melarang kami mengenakan busana muslimah, Mas. Rata-rata tak mengerti dan takut dengan perempuan berjilbab. Kami juga terkadang susah shalat dan puasa. Bukannya dilarang, tapi mereka sering khawatir. Majikan baik sih tapi sering takut kalau kami mati kelaparan akibat puasa. Rekan saya ada yang mulutnya sengaja dijejalkan nasi oleh sang majikan supaya ia tak mati kelaparan. Majikan khawatir kalau ia mati kelaparan akan menjadi tanggungjawab majikan”, ujar Sarah, bukan nama sebenarnya, rekan Aisyah.

“Banyak dari kami yang berjilbab hanya setiap hari Minggu saja. Di hari biasa ada majikan yang melarang, karena tak mengerti kenapa juga di rumah masih pakai jilbab. Bahkan, beberapa dari kami untuk shalat dan puasa-pun harus nyolong-nyolong. Teman saya ada yang sampai harus shalat di WC atau di depan majikan mengesankan tidak sedang puasa, padahal ia tengah puasa,” lanjut Sarah lagi. “Sebenarnya majikan kami banyak yang baik, tapi ya itulah, sukar mengerti ajaran dan tradisi Islam.”

“Yang paling sulit adalah ketika kami harus berbelanja dan memasak daging babi. Majikan tahu sih kami tak makan daging babi atau daging apapun yang tak ada logo halal-nya. Tapi tetap saja kami harus masak daging babi juga. Beruntunglah, belakangan ini ada sabun khusus buatan Malaysia yang dapat dengan mudah menghilangkan najis dari daging tersebut,” tambah Sarah.

Maka, Aisyah menjadi pribadi yang lain di malam hari dan juga di hari Ahad. Karena, ketika Senin menjelang ia kembali menekuri pekerjaan rutin di rumah tangga. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga khas domestic worker. Namun, tak pernah sekalipun lontaran “I don’t like Monday!” keluar dari mulutnya.

Dari Aisyah saya belajar banyak. Maksud hati ingin memberikan pencerahan, malah saya yang tercerahkan. Bahwasanya kata kunci dari kemajuan adalah kemauan. Banyak orang memiliki kesempatan namun kurang memiliki kemauan. Sebaliknya, banyak orang memiliki kemauan namun kurang mendapat kesempatan. Ketika kemauan bertemu dengan kesempatan, maka kreativitas akan lahir.

Aisyah memiliki kemauan keras namun kesempatannya minim. Mimpi-mimpi indahnya sudah terpenggal jauh hari setelah tamat SMP. Cita-cita kanak-kanaknya segera buyar begitu menjumpai kenyataan sang ayah tak sanggup mensekolahkannya ke bangku SMA. Adik-adiknya yang berjumlah banyak lebih menyedot perhatian ayahnya. Walhasil, Aisyah muda sedari usia SMA telah melenggang ke luar negeri. Menjadi pekerja migran. Bukan semata-mata karena ingin keluar negeri, tapi karena tak ada pilihan lain.

Kini, sedikit kesempatan yang dimiliki Aisyah tak satupun dilewatkannya. Perbendaharaan gadgets-nya juga sudah lumayan komplit. Laptop, handphone, digital camera, etc. Yang hebatnya, di tangannya semuanya jadi bermakna lebih. Sedikit waktu yang dimilikinya, miring komentar orang tentang profesinya, heran majikan mensikapi konsistensinya berbusana muslimah, namun toh ia tetap kreatif dalam menulis dan berorganisasi.

Saya jadi semakin percaya, bahwa setiap orang memiki potensi untuk maju selama memiliki kemauan dan kesempatan. Kalau mereka tak memiliki kesempatan, berilah mereka kesempatan. Karena, bukan salah mereka apabila mereka jarang memiliki kesempatan…tak ada manusia yang ingin miskin…dan tak ada anak yang bisa memilih dari orangtua seperti apa dan di tempat seperti apa ia dilahirkan…

Menjelang tidur di malam hari bulan suci Ramadhan ini, sayup-sayup untaian lagu “Aisyah Adinda Kita” Bimbo kembali merobek dinding telinga saya…
Ada sepuluh Aisyah berbusana muslimah
Ada seratus Aisyah berbusana muslimah
Ada sejuta Aisyah berbusana muslimah…yang kurang beruntung…yang menjadi pekerja migran…yang hidup jauh dari keluarga dan sanak saudara karena tak ada pilihan lain…namun tetaplah Aisyah Adinda Kita….

Salaya, penghujung Agustus 2009

Read Full Post »

FAMILE FATMA ARSLAN SANG PIONEER

Pengacara Muslimah Berjilbab Pertama di Belanda

 

 Dalam kunjungannya ke Salzburg Austria akhir Oktober 2008 sebagai partisipan Salzburg Global Seminar on Islamic Law and International Law, kontributor Tarbawi Heru Susetyo bertemu dengan Famile Fatma Arslan, pengacara muslimah pertama di Belanda yang mengenakan jilbab. Berikut petikan kisah Famile dalam beradvokasi di Belanda yang disarikan dari wawancara dalam bahasa Inggris.

 

Profilnya tak mengesankan sebagai pengacara. Berbadan kecil, selalu mengenakan jilbab warna-warna cerah, berkulit putih dan berwajah khas Turki. Namun ketika berdialog dengannya nampak jelas bahwa ia sangat berkualifikasi sebagai pengacara. Sorot matanya tajam, tutur katanya runtut, kritis, dan menampakkan keluasan perspektif. Dan hebatnya, ia lihai berbicara dalam enam bahasa, bahasa Ibunya Turki, bahasa negerinya kini Belanda, bahasa Inggris, Perancis, Jerman, dan sedikit bahasa Arab.

 

Sampai dengan awal tahun 2000 belum banyak orang mengenal namanya, Famille Fatma Arslan. Apalagi sebagai minoritas muslim, perempuan pula, di Belanda, posisinya kurang menguntungkan. Nasib yang sama dialami oleh semua perempuan minoritas di dunia ini.

 

Lahir sebagai etnis Turki di Diyarbakir Turki Timur pada tahun 1974, Famile hijrah ke Belanda (Netherland) ikut orangtuanya pada usia empat tahun. Setelah itu, ia tinggal di Belanda hingga kini. Tiga puluh tahun lebih di negeri keju, tak heran langgam bahasa Belanda Famile amat khas Belanda. Iapun mengerti betul kultur dan kehidupan sosial negeri Kincir Angin ini yang notabene amat berbeda dengan negeri tempat lahirnya.

 

Belanda, atau Nederland (Netherlands dalam bahasa Inggris) ataupun Holland memang adalah negeri yang semula ramah untuk para imigran. Dari 16.5 juta penduduknya (tahun 2008) 20% nya adalah imigran.  Imigran terbesar adalah keturunan Indonesia/ Maluku sebanyak 2.4.% diikuti German (2.4%), Turki (2.2%), Suriname (2%), Maroko (1.9%) dan lainnya.

 

Namun konstelasi politik dunia, utamanya pasca tragedi WTC 9/11, cenderung kurang menguntungkan bagi minoritas muslim di negeri-negeri barat. Termasuk di Belanda. Berbagai bentuk diskriminasi, pembatasan, kekerasan atas nama kebencian (hate crimes), subordinasi dan marjinalisasi terjadi terhadap minoritas muslim. Puncak kebencian terhadap kaum muslimin di Belanda adalah dilansirnya film Fitna oleh Geert Wilders anggota parlemen Belanda pada tahun 2008. Pada film tersebut Wilders menggambarkan Islam sebagai agama haus darah, paling tidak toleran, dan tidak cocok untuk negara Belanda. Ia bahkan mensinyalir imigran muslim Belanda pada tahun 2025 akan melampaui jumlah orang Belanda asli.

 

Dalam situasi yang kurang nyaman inilah Famile hidup dan mengaktualisasikan dirinya. Dia menyebut dirinya sebagai pioneer.  “Saya adalah wanita muslim pertama di Belanda yang masuk ke fakultas hukum. Saya juga wanita muslim pertama yang bekerja di Kementerian Kehakiman. Saya yang pertama juga menjadi pengacara. Dan saya juga muslimah pertama yang mengenakan jilbab ketika beracara di pengadilan Belanda,” tukas Famile berapi-api tanpa bermaksud menyombongkan diri.

 

Dan memang begitulah yang terjadi. Bagi wanita muslim di Belanda untuk masuk ke fakultas hukum adalah suatu persoalan. Suasana bekerja yang kurang nyaman, biaya studi yang mahal, prospek karir yang belum jelas, dan persaingan dengan pengacara asli Belanda, adalah beberapa alasan yang mengemuka. “Kalaupun imigran muslim termasuk keluarga yang kaya, mereka lebih suka mensekolahkan putrinya ke fakultas kedokteran daripada fakultas hukum. Prospek karir dan suasana bekerja di wilayah kesehatan cenderung lebih nyaman bagi muslimah daripada di bidang hukum,” Famile menjelaskan.

 

“Ketika saya studi di Universitas Leiden tahun 1992 – 1997, kemudian mengikuti ujian pengacara, sampai akhirnya mengenakan jilbab ketika beracara di pengadilan, banyak orang yang terkejut dan saya menjadi pemberitaan di media massa,” ujar Famile. “Alhamdulillah keluarga saya mapan secara ekonomi dan bisnis sayapun lancar, hal mana amat mendukung profesi hukum saya,” tambah Famile.

 

Saat ini Famile menjalankan firma hukumnya, bernama Arslan Advocaten (Arslan Lawyers dalam bahasa Inggris) yang berkedudukan di kota Den Haag (The Hague). Suatu pilihan yang tepat, Den Haag adalah Ibukota Hukum Dunia, karena di kota ini berlokasi lima pengadilan internasional.

 

Kini nama Famile amat identik dengan pembelaan hak-hak kaum minoritas muslim di Belanda. Ia hampir selalu berada dalam barisan terdepan dalam menyuarakan hak-hak kaum minoritas. Iapun menjadi anggota untuk Dewan Belanda untuk Islam dan Kewarganegaraan (Islam and Citizenship).

 

Suara Famile dikenal vokal untuk pembelaan terhadap hak-hak mengenakan busana muslimah, kebebasan beribadah, termasuk penentangan kerasnya terhadap film Fitna karya Geert Wilders. Famile dan aktivis muslim lainnya menentang film Fitna melalui masjid-masjid, pertemuan publik, dan program-progam kampanye dan pendidikan masyarakat. Majalah The Economist mengomentari Famile sebagai :  If there is a problem between Islam and the West, people like her are surely part of the answer.

 

Namun, di usianya kini yang telah 34 tahun ia masih tetap melajang. “Saya terlalu sibuk dan mobile untuk urusan advokasi maupun bisnis, saya bisa berada di beberapa negara berbeda dalam satu pekan. Saya tak tahu apakah saya bisa membagi waktu untuk keluarga kalau saya menikah,” ujarnya menutup perbincangan kami.

 

Tidak mengapa Fatima, apabila Ayat-Ayat Cinta memiliki tokoh sentral Aisha wanita Turki – Jerman, maka Ayat-Ayat Hukum Eropa telah memiliki tokoh sentralnya, Fatima, wanita Turki – Belanda !

 

 

Read Full Post »

KARIMAH :

PERJUANGAN PANJANG MUALAF DI NEGERI MANTAN KOMUNIS

 

Heru Susetyo, Kontributor Tarbawi di Thailand, melakukan perjalanan ke Austria dan Jerman pada akhir Oktober 2008 sebagai partisipan dari Salzburg Global Seminar on Islamic Law and International Law.  Dalam seminar tersebut Heru Susetyo berjumpa dan mewawancara dua muslimah luar biasa, masing-masing adalah Karimah, mualaf sekaligus pejabat tinggi Kementerian Kehakiman Republik Ceko dan Famille Fatma Arslan, pengacara muslimah pertama di Nederland yang menggunakan hijab.  Berikut petikan wawancara dengan Karimah.

 

Republik Ceko (Czech Republic) adalah negeri kecil di Eropa Tengah berpenduduk 10 juta jiwa dengan luas hanya seperduapuluh luas Indonesia.  Sebelum tahun 1993 negeri ini bernama Czechoslovakia, namun seiring dengan runtuhnya komunisme di Eropa Timur, persekutuannya dengan negeri Slovakia-pun bubar sehingga menjadi Republik Ceko. Negeri yang lama hidup dalam cengkeraman komunisme (sejak perang dunia II hingga tahun 1989) ini terkenal telah melahirkan banyak orang-orang besar, utamanya di jagat olahraga, sains, dan budaya. Bahkan mantan Presidennya saja, Vaclac Havel (memerintah pada 1990 – 2003) dikenal sebagai penulis dan dramawan terkenal. Di jagat olahraga tenis, nama-nama Ceko seperti Martina Navratilova, Ivan Lendl, Helena Sukova, Jana Novotna, Hana Mandlikova sudah lama merajai tenis dunia. Belum lagi para pesepakbola seperti Petr Cech, Patrick Berger, Pavel Nedved, dan Karel Poborsky yang lama malang melintang sebagai pesepakbola profesional di liga Inggris, Italia, dan Jerman.

 

Di luar nama-nama besar tersebut, negeri kecil yang tak memiliki laut ini (landlocked) ternyata juga menjadi rumah bagi minoritas muslim yang jumlahnya kurang dari 10.000 jiwa. Di antara mereka ada seorang mualaf muslimah berkulit putih asli Ceko yang luar biasa.

 

Namanya Karimah. Bukan nama asli memang. Nama hijrah setelah ia memutuskan kembali ke Islam. Nama aslinya adalah nama khas warga Republik Ceko (CzechRepublic). Nama yang indah namun sukar diucapkan. Namun ia tak hendak menggunakan nama aslinya untuk kepentingan jurnalistik. “Saya seorang pejabat tinggi di Kementerian Kehakiman Czech Republic, dan perjuangan saya selaku seorang mualaf masih panjang, maka gunakan saja nama Karimah,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang amat lancar.

 

Karimah lahir pada tahun 1965 di Republik Ceko (sebelum tahun 1993 bernama Chekoslovakia). Alias kini ia berusia 43 tahun. Di usia yang relatif muda untuk ukuran wanita Eropa ini ia telah menjanda. Suaminya telah meninggal karena sakit dan kini ia hidup dengan putranya yang berusia tujuh belas tahun.  Ia tinggal di Prague (atau Praha dalam dialek Indonesia), ibukota Republik Ceko.

 

Seperti halnya dengan mayoritas rakyat Ceko, Karimah dibesarkan sebagai seorang Atheis. Tidak terlalu aneh, sebagai mantan negara komunis, 60% penduduk Ceko adalah atheis ataupun agnostik, 27% -nya Katolik Roma dan 3% -nya Kristen Protestan. ”Identitas agama tidak menjadi hal yang penting bagi negara dan rakyat  Republik Ceko sampai saat ini,” tutur Karimah.

 

Berbeda dengan kebanyakan rakyat Ceko, kendati atheis, Karimah kecil sejak usia muda sudah tertarik dengan agama. Semua dimulainya pada usia delapan belas tahun ketika ia mempelajari semua agama dan menggali cara hidup orang-orang dari agama yang berbeda. ”Saya senang belajar semua hal. Saya mempelajari teori relativitas waktu Einstein, ilmu-ilmu biologi, astronomi, dan sejarah orang-orang besar. Dari sinilah saya mengenal keagungan Islam.” Tak cukup belajar sendiri, ia belajar Islam dan menyambangi Islamic Center ketika berkesempatan belajar di Inggris. Ketika ke Belanda, ia memaksakan bertemu dengan Famille Fatma Arslan, pengacara pertama di Belanda yang menggunakan hijab, guna mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya tentang menjadi muslimah di Eropa.

 

”Saya kagum dengan Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq yang sudah memperkenalkan prinsip-prinsip good governance (tatakelola pemerintahan yang baik adil bersih dan bebas korupsi) sejak 14 abad silam. Saya kagum dengan hukum peperangan dalam Islam yang sudah dikenal sejak turunnya Al Qur`an dan diperkuat oleh Sunnah Nabi Muhammad, padahal hukum peperangan internasional (humanitarian law) baru dikenal sejak tahun 1907 melalui Konvensi Den Haag dan belakangan pada tahun 1949 melalui Konvensi Jenewa. Namun yang paling membuat saya kagum adalah pribadi Nabi Muhammad SAW sendiri. Saya mempelajari akhlaknya dalam kehidupan, cara memperlakukan tetangga, cara memperlakukan perempuan, termasuk hak-hak suami dan istri dalam perkawinan.  Bayangkan, Republik Ceko baru memperkenalkan hukum perjanjian perkawinan antara suami dan istri pada tahun 1998 sementara Islam sudah melakukannya empat belas abad silam!” tukas Karimah bersemangat.

 

Sulit mempercayai kata-kata indah ini meluncur dari bibir seorang perempuan `bule` berambut pirang yang sepanjang seminar di Salzburg Austria selalu mengenakan jilbab. Siapapun tak akan menyangka bahwa dia adalah muslim karena menutupi kepala di Eropa pada musim dingin adalah perilaku yang biasa dilakukan semua orang demi menahan dingin yang menusuk. Bukan monopoli muslimah saja.

 

”Masalahnya adalah informasi tentang Islam amat minim bagi rakyat Ceko,” lanjut Karimah. ”Islam dipahami sebatas sebagai agama kekerasan, mengilhami terorisme dan pelaku pemboman, memperkenalkan hukuman cambuk dan rajam bagi pelaku kejahatan dan  membolehkan poligami. Banyak orang Ceko yang tidak mengerti Islam.

 

”Keputusan saya masuk Islam memang dianggap aneh dan luar biasa oleh orang-orang di sekeliling saya. Keluarga saya banyak yang tidak setuju. Anak saya sendiri yang kini berusia 17 tahun berkomentar singkat ketika saya memutuskan masuk Islam : ”Mam, kamu benar-benar sudah gila.”  Apalagi saya perempuan, berkulit putih, dan memegang jabatan di Kementerian Kehakiman. Memang, negeri ini tidak melarang orang menganut agama apapun. Namun layaknya negeri sekuler dan mantan komunis pula, untuk terang-terangan memproklamirkan diri sebagai seorang muslim juga bukan hal yang mudah. Sampai saat ini saya masih menyembunyikan keislaman saya, kecuali kepada orang-orang terdekat. Sejak saya masuk Islam pada tahun 2007, saya shalat dan berpuasa Ramadhan di ruangan kantor saya. Alhamdulillah saya memiliki ruangan pribadi. Dan memang saya tidak mengenakan jilbab selama bekerja. Sehingga teman-teman sekantor saya belum banyak yang tahu tentang keislaman saya,” cerita Karimah.

 

”Komunitas muslim di negeri ini amat minim. Tidak ada angka pasti tentang jumlah muslim di Ceko karena memang sensus penduduk disini tak pernah memasukkan klausul agama penduduk. Namun perkiraan saya sekitar 4000 – 5000 jiwa saja. Diantara jumlah tersebut ada imigran dari Turki maupun Afrika Utara, ada warga Ceko yang masuk Islam karena menikah dengan imigran, dan ada juga mahasiswa muslim dari Mesir, Yaman, Iran, dan Bosnia yang belajar di kampus-kampus Ceko. Muslim asli Ceko yang masuk Islam bukan karena pernikahan, seperti dalam kasus saya ini, adalah amat langka,” papar Karimah bersemangat..

 

Hanya ada dua masjid di Ceko.  Satu di kota Prague (Praha) dan satu lagi di Brno. Itupun tak nampak sebagai masjid karena tak diperlengkapi oleh minaret (menara). Maka, amat wajar apabila komunitas muslim Ceko kesulitan dalam mengembangkan interaksinya. Belum lagi kesulitan dalam mendapatkan makanan halal.  ”Alhamdulillah saya sejak dulu tak suka merokok dan minum alkohol. Juga saya jarang makan pork (babi), padahal babi adalah satu makanan pokok warga Ceko. Ini juga yang memudahkan saya masuk Islam,” tutur Karimah.

 

Karimah memandang persoalan muslim di Ceko tak hanya akibat cara pandang yang salah dari Warga Ceko terhadap muslim namun juga karena perilaku hidup muslim Ceko sendiri. “Sudah muslim disini jumlahnya amat minim, namun yang sedikit ini terkadang juga tidak menunjukkan keindahan dan keagungan Islam. Beberapa muslim terkadang melakukan tindakan kriminal dan tindakan tak terpuji lainnya. Yang muslimah seringkali berbusana muslim dengan warna-warna hitam dan warna gelap lainnya, sehingga tampak menakutkan di mata orang awam.”

 

Tantangan berikutnya dan sekaligus harapan, menurut muslimah yang tengah menuntaskan disertasi Doktornya tentang Hukum Perdata Islam dan Hukum Internasional  di Universitas Ceko ini, adalah ia menginginkan Republik Ceko mengakui Islam sebagai salah satu agama yang hidup di Ceko. Iapun menginginkan jumlah muslim dan jumlah masjid bertambah banyak di Ceko. Satu lagi keinginan pribadinya, “saya ingin naik haji suatu waktu. Saya akan ambil cuti sebatas waktu yang diperlukan untuk naik haji sehingga tak ada seorangpun tahu saya pergi haji.”

 

Di ujung perjumpaan kami, Karimah tak lupa menitipkan pesan :”Mari sama-sama memberikan perhatian kepada minoritas muslim di Republik Ceko. Kami memang sedikit tapi adalah saudara anda juga. Perjuangan saya selaku mualaf dalam memperkenalkan Islam di Republik Ceko masih panjang, maka bantulah saya. Lalu, berikanlah informasi yang benar dan memadai tentang Islam kepada rakyat Ceko sehingga mereka dapat mengapresiasi Islam dengan baik, fi amaanillah….” ujarnya.

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

BERNEGOSIASI DENGAN BABI DAN UDARA DINGIN

Tribute to Indonesian Women Migrant Workers in Macau SAR

Shelter itu sejatinya adalah sebuah apartemen sederhana.  Berada di lantai lima di salah satu rumah bertingkat di Rua Silva Mendes.   Tetangga kiri kanannya adalah warga Macau (dapat diidentifikasi dari perangkat sembahyang yang digeletakkan di luar).   Tak ada pemanas ruangan juga tak ada hot water pada shower di kamar mandi.  Padahal winter di Macau lumayan sangar. Di bawah 10 derajat Celcius.  Maka, sayapun duduk merinding dan berharap matahari segara muncul.  Maklum salah kostum.

Hebatnya, teman-teman BMI (Buruh Migran Indonesia) atau bahasa kasarnya TKI/ TKW, bisa survive dalam keadaan seperti itu.  Tak hanya satu, ada sekitar enam penghuni tetap dan beberapa penghuni tetap lainnya yang datang dan pergi.  Maklum, namanya juga shelter, alias tempat penampungan sementara.

Hampir semua penghuni shelter adalah pekerja part time di rumah tangga keluarga Macau. Pagi hingga malam hari mereka bekerja sebagai domestic workers ataupun helper, dan malam hari pulang ke shelter tersebut.   Selain penghuni tetap, ada beberapa tamu yang pulang dan pergi.  Sebagian adalah mereka yang menunggu visa kerja ke Hongkong, menunggu kontrak baru dengan majikan, ataupun yang bermasalah karena urusan imigrasi, ekonomi, dan lain-lain.

Macau seringkali menjadi tempat persinggahan sementara apabila para pekerja yang sebelumnya bekerja di Hongkong kontraknya usai ataupun visanya expired.  Karena, visa habis berarti mereka tak dapat lagi tinggal secara legal di Hongkong.  Pulang ke Indonesia biaya mahal, maka alternatifnya, selagi menunggu visa dan kontrak kerja baru, adalah pergi ke Macau SAR.  Negeri mantan koloni Portugis, yang memiliki status serupa Hongkong yaitu Special Autonomous Region dari RRC.  Mengapa Macau?  Karena negeri ini hanya berjarak 60km dari Hongkong dan dapat ditempuh dari Hongkong dengan ferry dalam waktu sejam saja.   Sebenarnya RRC (mainland China) lebih mudah diakses dari Hongkong, karena berbatasan darat langsung, namun untuk memasuki RRC memerlukan visa khusus.  Sedangkan, Macau, seperti halnya Hongkong, menerapkan policy bebas visa untuk kunjungan kurang dari 30 hari bagi WNI.

Kebanyakan BMI yang menghuni shelter MATIM (Majelis Taklim Indonesia Macau) berasal dari pulau Jawa, utamanya Jawa Timur dan Jawa Tengah.  Ada beberapa Mbak-Mbak BMI dari Jawa Barat maupun luar Jawa, namun jumlahnya tak dominan.  Maka, bahasa Jawa adalah bahasa yang paling banyak digunakan di shelter selain bahasa Cantonese.

Bahasa Cantonese?  Ya, inilah yang membuat kami salut.  Hampir semua BMI di Macau dapat berbahasa Cantonese, bahasa yang sehari-hari digunakan di Hongkong dan Macau.  Kendati logatnya berbau Jawa, namun tetap di telinga kami mereka bertutur Cantonese dengan lancar.  Kadang diantara teman-teman Indonesia mereka bercakap-cakap dalam bahasa Cantonese.  Padahal, amat sedikit dari mereka yang pernah duduk di bangku kuliah, pun yang pernah belajar bahasa Cantonese secara khusus.  Kebanyakan belajar bahasa tersebut secara singkat di Indonesia (PJTKI) ataupun bisa dengan sendirinya karena paksaan kondisi dan tinggal dengan keluarga China Macau.

Shelter tersebut dikelola oleh MATIM,  suatu pengajian yang dibina oleh seorang Ustadz Indonesia di Hongkong dan juga Dompet Dhuafa.   Tak sekedar shelter, ia juga adalah tempat pengajian dan pembinaan keagamaan. Setiap hari diadakan shalat jama’ah dengan imam bergantian. Bahkan, setiap hari Ahad, hari libur mereka, ada pengajian rutin, belajar Iqra, belajar menjahit dan computer, dan lain sebagainya.

Pendapatan mereka memang tidak besar untuk ukuran Macau.  Namun terbilang besar untuk ukuran Indonesia.  Rata-rata gaji minimalnya adalah 3000 MOP (Macau Pataca). Ada pula yang bekerja di dua rumah tangga (anak dan orangtua) sehingga mendapat gaji 5000 MOP (1 MOP = Rp 1200,-).  Kondisi kerja mereka relatif baik, dibandingkan dengan sesama BMI di Timur Tengah ataupun Malaysia yang kerap mengalami penderitaan.

Kendati demikian, tinggal dan bekerja di luar negeri bukanlah cita-cita mereka.  “Saya bertahan untuk bekerja disini Pak, dua anak saya sekolah di satu perguruan tinggi swasta di Purwokerto, kalau saya pulang mereka tak bisa bayar kuliah lagi.  Ayah mereka sudah almarhum sejak anak nomor dua berusia empatbelas bulan, karena kecelakaan,”  ujar Ibu Y.

“Saya lama tinggal di luar negeri.  Tiga tahun di Malaysia, empat tahun di Singapura, delapan tahun di Hongkong, dan sekarang sudah tahun keempat di Macau,”  tambah Ibu Y lagi.

“Sama Pak, saya juga sudah lama disini.  Sekarang saya nunggu visa untuk kontrak kerja baru di Hongkong. Sudah Sembilan tahun saya kerja di Hongkong. Saya lulus S1 Teknik Sipil dari satu PTS di Jakarta. Tapi saya kerja di rumahtangga lho Pak, bukan sebagai engineer.   Inginnya sih saya kerja di company, tapi sejak awal kontrak saya di Hongkong sebagai domestic worker, mau bilang apa,”  tutur Mbak A.

Rata-rata para BMI di Macau memang pernah punya pengalaman kerja di Hongkong atau di negeri lain seperti Malaysia, Singapore, dan Timur Tengah.  Ibu L bercerita bahwa ia pernah bekerja selama delapan tahun di Saudi Arabia.  “Saya sudah pernah tinggal hampir di semua kota di Saudi Arabia, mengikuti majikan saya yang Dokter.  Alhamdulillah saya sudah pergi haji dan berkali-kali umrah.  Tapi disana saya tak bisa keluar rumah Pak.  Saya tak pernah belanja karena semua keperluan rumah dibelikan oleh majikan laki.  Di Macau sini lebih bebas.  Gaji lumayan, tapi ya nggak bisa lihat Mekkah,”  tambah Ibu L polos.

Apa hal terberat menjalani hidup selaku domestic helper di Macau?  “terus terang kita nggak mengalami banyak masalah, Pak, hanya suka kagok saja kalau harus masak daging babi.  Kita nggak bisa nolak wong kerja sama majikan.  Saya sering belanja daging babi, mencuci, hingga memasaknya.  Tapi jangan tanya gimana rasanya wong saya sedikitpun tak pernah mencicipi. Saya bilang sama majikan, okelah saya masak daging babi tapi saya takkan pernah mencicipinya, jadi tolong jangan tanyakan saya bagaimana rasa masakan saya,” ujar Ibu Y lugas.

“Dulu pertama-tama, saya selalu membasuh tangan tujuh kali untuk menghilangkan najis daging babi tersebut.  Tapi sekarang ada sabun khusus dari Malaysia, namanya sabun Thaharah, yang bisa menghilangkan najis tersebut. Jadi saya cukup menggunakan sabun tersebut. Tapi memang harganya agak mahal.

Untuk ibadah sehari-hari, rata-rata teman-teman BMI ini tak mendapati kesulitan.  Hanya saja disini sulit menemukan masjid.   Menurut informasi mereka, hanya ada satu masjid di Macau yang sekaligus menyediakan tanah untuk pekuburan (muslim cemetery).  Sayangnya, ketika kami kesana, masjid digembok dan ditutup.  Tak bisa melihat selain dari kejauhan. Memandang luas tanah dan asri pepohonannya lengkap dengan tanah pekuburannya.   Seram? Tidak sama sekali wong masjid ini berlokasi di kawasan padat, di seberang public school dan tak jauh dari tepi laUt. Konon,  Imam masjid ini adalah seorang pria keturunan Indonesia yang menikah dengan wanita Pakistan.

Macau memang berbeda dengan Hongkong.  Kendati sama-sama merupakan Special Administrative Region dari PRC/ RRC, namun sejarahnya berbeda.  Macau adalah mantan koloni Portugal/ Portugis sedangkan Hongkong adalah mantan koloni Inggris. Macau kembali bergabung dengan RRC dan menjadi SAR sejak tahun 1999, sedangkan Hongkong sejak 1997.  Di Hongkong takkan ditemukan papan penunjuk jalan dan berbagai macam informasi public dalam bahasa Portugis.  Macau menggunakan mata ulang Macau Patacas (MOP) sedangkan Hongkong dengan Hongkong Dollar (HKD). Nilai tukar keduanya dengan USD tak berbeda jauh.  1 USD adalah berkisar 100 HKD dan 103 MOP.   Mengenai bahasa, kedua negeri ini sama-sama menggunakan bahasa Cantonese.  Bahasa yang berbeda dengan bahasa nasional RRC, yaitu Mandarin.

Di Hongkong masjid dan tempat makan halal tersedia lebih banyak. Negerinya lebih luas dan dinamika kehidupannya lebih terasa.  Macau jauh lebih kecil dari Hongkong.  Hanya seluas 29.2 km2 dengan penduduk hanya 541.000 jiwa (tahun 2009).   Macau SAR terdiri atas tiga region, masing-masing Macau City yang melekat dengan mainland China, lalu Taipa Island dan Coloane Island.  Belakangan antara Taipa dan Coloane Island sudah tak berjarak lagi karena pemisah antara keduanya telah direklamasi.

Denyut nadi Macau sepertinya memang terletak pada bisnis perjudian alias Casino. Begitu banyak casino berukuran dahsyat dan mewah serta megah.  Transportasi dari dan ke Casino dari terminal bus diberikan cuma-Cuma.  Dengan bus super mewah, pelancong ataupun penjudi bebas melenggang ke Casino-casino ngetop seperti The Venetians, City of Dreams, Wynn, Sands, Grand Lisboa, dan lain sebagainya.  Tak salah kalau negeri ini kerap disebut surga para penjudi.

Pekerja migran Indonesia di Macau tak banyak. Berkisar 3700 – 4000 jiwa saja.  Bandingkan dengan di Hongkong yang berkisar 140.000 jiwa.  Sayangnya, tak ada konsulat permanen Indonesia di Macau. KJRI hanya ada di Hongkong yang membuka special branch-nya di Macau konon untuk dua hari  saja setiap pekan.

Kendati sedikit, teman-teman BMI ini cukup solid dan berhimpun dalam beberapa organisasi.  Ada yang bersifat kedaerahan, ada juga yang keagamaan.  Selain MATIM, wadah organisasi muslimah BMI lainnya adalah HALIMAH.

Yang luar biasa, kendati hidup jauh dari anak dan suami, dari orang tua dan kerabat, kedinginan di musim dingin dan kepanasan di musim panas, para BMI di MATIM tetap istiqomah.  Tetap beribadah, mengaji dan saling berbagi ilmu dan ketrampilan.  Lalu, mereka juga amat menghargai tamu, dalam kunjungan singkat kami ke MATIM, sedikitpun kami dilarang mengeluarkan uang dan dilarang menginjak dapur.  Alias biaya akomodasi, transportasi, dan makanan semua mereka tanggung.  Membersihkan dan mencuci piring sehabis makan dilarang keras. Saya jadi tak enak, saya paham bahwa mereka bukanlah orang yang sangat berada dan berpunya, namun izzah dan keinginan memuliakan tamunya luar biasa. Padahal, saya tak pernah mengenal mereka, tak berhubungan darah, keluarga, ataupun perkawinan. Pun, tak mengkontak mereka secara langsung, hanya via SMS dan email dengan seorang rekan di Hongkong yang kenal dengan mereka.

Salam hormat teman-teman BMI di Macau, semoga Allah SWT meringankan jalan dan ikhtiar suci teman-teman sekalian…

Salaya,  200110

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read Full Post »

RAMADHAN DI YALA DAN NARATHIWAT :

Antara Petai, Nasi Kerabu, Sarung, dan Askar

Oleh : Heru Susetyo

 

Anak-anak kecil berlarian menuju masjid. Ibu-ibu bermukena putih berjalan perlahan menuju surau terdekat. Kaum Bapak dan para pemuda tampak mengobrol sambil minum air es dan teh tarik. Beberapa diantaranya tampak asyik merokok. Mereka asyik mengobrol. Entah bicara politik, konflik, ataupun sekedar berdiskusi besok hendak makan apa. Inilah suasana setelah berbuka puasa (buke poso dalam bahasa setempat) dan menjelang shalat Isya di Raman, distrik kecil di timur kotaYala, Thailand Selatan.

 

Ketika adzan berkumandang (sungguh senang mendengar ada adzan berkumandang di negeri Thailand), semua kegiatan praktis terhenti. Langkah-langkah orang menuju masjid semakin banyak. Hampir semua kaum pria mengenakan kalau tidak sarung dan baju lengan panjang, ya baju gamis berwarna putih. Lengkap dengan peci haji ataupun sorban. Kaum Ibu rata-rata mengenakan mukena putih. Busana remaja putri bervariasi, dari yang mengenakan mukena putih, berjilbab dengan tangan pendek, yang berjilbab lebar, hingga yang mengenakan cadar hitam atau berwarna gelap, semua ada.

 

Shalat Isya-pun berjalan. Setelah Isya ada sedikit ceramah dalam bahasa Melayu setempat (Melayu Kampong atau Melayu Patani dalam istilah mereka). Agak mirip dengan bahasa Melayu di Malaysia atau Indonesia tapi pengucapannya berbeda. Misalnya, dalam bahasa setempat, `pergi` diucapkan sebagai `gi`, `beri` sebagai `wi`, `tidak` adalah `do`, `datang` adalah `mari`, `makan` disebut `make` dan lain-lain.

 

Berbeda halnya dengan langgam khutbah dalam shalat Jum`at. Dari dua shalat Jum`at yang kami hadiri di Patani dan di Masjid Narathiwat, khatib menyampaikan khutbah dalam bahasa Melayu ala Malaysia. Maka, untuk telinga Indonesia, versi Melayu ini lebih mudah dicerna. Sebaliknya bagi warga setempat, mereka malah tak semua akrab dengan bahasa Melayu ala Malaysia. Apa pasal? ”Ini karena sebagian besar buku-buku khutbah Jum`at berasal dari Malaysia, juga ada semacam keyakinan khotib bahwa bahasa Melayu yang baik untuk khutbah adalah dalam langgam tersebut. Padahal, tidak semua jama`ah memahaminya,” cerita Zakaria, warga asli Narathiwat.

 

Shalat tarawih di Yala bervariasi.  Ada masjid yang memilih 23 rakaat, ada juga yang 11 rakaat. Di Masjid Jami Yala, shalat tarawih berlangsung 23 rakaat. Jamaah yang menganut 11 rakaat tertib keluar dari masjid setelah tarawih menginjak rakaat ke -8. Sementara yang menganut 23 rakaat memilih tetap melanjutkan shalat. Di lokasi yang lain, Di masjid pondok Nahdhatul Ulum tarawih berlangsung 11 rakaat. Namun, bacaan shalat-nya amat panjang. Sekitar 10 menit dihabiskan sang imam untuk rakaat pertama. Tak heran, sang Imam memang hafidz qur`an alumni Al Azhar Kairo. Maka, kendati kaki terasa bengkak namun alhamdulillah tetap bisa bertahan hingga rakaat akhir karena bacaannya begitu indah dan menyentuh.

 

Dan ini memang bagian mengagumkan dari muslim di Thailand Selatan. Untuk ukuran tiga propinsi kecil dengan jumlah penduduk muslim tidak lebih banyak dari DKI Jakarta, mereka memiliki cukup banyak penghafal Al Qur`an (hafidz). Banyak imam dan ulama setempat yang pernah menempuh pendidikan Islam di Mesir, Saudi Arabia, dan Pakistan, disamping Malaysia, dan juga di Indonesia. Pondok-pondok dan madrasah Al Qur`an banyak didirikan di ketiga propinsi ini. Sebagian pondok mengadopsi metode pembelajaran ala Qira`ati yang cukup populer di Indonesia.  ”Saya belajar langsung ke tempat pembelajaran Qira`ati di Jawa Tengah, alhamdulillah sejak metode ini diperkenalkan, anak-anak kecil di Thailand Selatan banyak yang sudah bisa baca tulis Al Qur`an pada usia mudah,” ujar Ustadz Abdullah, pengasuh pondok qiraati di Patani.

 

Hal lain yang menarik dari tradisi beribadah warga muslim Thailand Selatan adalah kebiasaan mereka untuk berbusana terbaik ketika melaksanakan shalat. Busana minimal yang mereka kenakan untuk kaum pria adalah kemeja tangan panjang, baju koko/ teluk belanga dan sarung (yang kebanyakan sarung produksi Indonesia juga). Peci haji tak pernah lepas dari kepala mereka. Sebagian jamaah yang lain bahkan lebih `serius` lagi, mengenakan baju gamis putih ataupun warna lainnya lengkap dengan peci haji ataupun sorban. Amat jarang menemukan jama`ah shalat yang mengenakan t-shirt dan celana jeans. Maka, ketika kami melaksanakan shalat dengan celana camping dan kemeja lapangan, sepertinya menjadi tontonan jama`ah, karena telah `salah kostum` dan akhirnya menjadi `mati gaya.`

 

Situasi agak berbeda berlangsung ketika makan sahur dan itikaf.  Untuk berdiam diri di masjid sepanjang malam dalam rangka ber-itikaf sambil makan sahur bersama, adalah persoalan besar bagi sebagian muslim di Thailand Selatan. Persoalannya bukanlah karena mereka tidak ingin itikaf, namun lebih kepada masalah keamanan dan keselamatan. Bagaimanapun konflik masih terus berlangsung dan Yala, Narathiwat dan Patani masih berstatus `red alert`. ”Saya khawatir apabila pulang menjelang subuh dari masjid untuk makan sahur di rumah akan ditangkap askar (tentara –pen.), kerana askar sentiasa berpatroli dan memonitor orang yang hilir mudik di sekitar masjid,” ujar Anwar, seorang mahasiswa dan aktivis LSM di Yala.

 

Persoalan kedua adalah keamanan masjid sendiri. Memang masjid di tiga propinsi selatan ini tidak sampai dibakar ataupun dibom (walaupun pernah juga terjadi penyerangan terhadap Masjid Krue Se di Patani pada 28 April 2004 karena dianggap dijadikan basis `pemberontak`), namun serangan lain dalam bentuk pelemparan daging babi ke masjid kerap terjadi. ”Dua hari silam masjid di Pondok Nahdhatul Ulum dilempari daging babi entah oleh siapa. Dugaan kami adalah sebagai balas dendam dari kelompok tertentu karena sebelumnya terjadi pembunuhan terhadap seorang Thai Buddhist oleh kelompok tak dikenal,” tutur Soleh Talek, pengurus pondok alumni Karachi Pakistan, sekaligus Dekan Ilmu Sains dan Teknologi di Yala Islamic University.

 

Waktu berbuka puasa adalah keindahan yang lain. Gubernur Yala, Abdul Kadir, satu-satunya Gubernur muslim di Thailand, selalu menyediakan makanan setiap harinya di kediamannya, persis di pusat kota Yala. Setiap warga boleh datang dan turut menyantap makanan. Kendati mesti melewati metal detector yang dijaga tentara dan mengisi buku tamu, iftaar ini tetap berlangsung menarik. Acara berlangsung secara open air, di pelataran kediaman Sang Gubernur. Dengan memasang tenda dan melengkapinya dengan kursi-kursi dan meja yang ditata seperti di tempat resepsi, buka bersama ini terasa berbeda. Sayangnya, hari itu sang gubernur tak ikut hadir, karena hampir setiap hari ia berkeliling untuk berbuka puasa di distrik yang berbeda-beda. Namun alhamdulilah sang Ibu Gubernur turut hadir. Ibu ini, yang juga fasih berbahasa Melayu logat Malaysia, nampak sederhana. Jauh dari penampilan khas ibu-ibu pejabat.  Hanya mengenakan jilbab dengan kaos kuning tangan panjang, dan celana jeans. Turut mendampingi sang Ibu adalah Deputi Gubernur Yala, seorang Thai Buddhist namun amat pandai menempatkan dirinya sebagai pejabat di daerah mayoritas muslim. Iapun tampil sederhana, hanya mengenakan polo t-shirt berwarna pink dan celana jeans. Sama sekali tak nampak sebagai orang nomor dua di propinsi ini.

 

Menu buka puasa disini cukup beragam. Yang pasti adalah air es (heran juga, mengapa orang Thai sangat suka meminum air putih es di segala tempat dan segala waktu), kemudian ada agar-agar, ikan, ayam, capcay, dan tentu saja tom yam kung. Hebatnya, beberapa teman Thai yang duduk di sebelah kami enteng saja mencampur agar-agar dengan nasi dan tom yam kung untuk dimakan bersama-sama.

 

Setelah buka puasa, acara dilanjutkan dengan shalat maghrib berjamaah di gedung Palang Merah (Red Cross) yang berlokasi di kediaman Gubernur Yala. Uniknya, semua berlangsung tanpa komando, tanpa MC dan protokoler. Setelah datang, mencari kursi, lalu makan, dan akhirnya shalat lalu pulang ke tempat masing-masing tanpa sedikitpun aba-aba dari MC.

 

Buke Poso yang agak berbeda berlangsung di muka kantor Young Muslim Association of Thailand (YMAT) cabang Yala.  Acara berlangsung lebih sederhana. Sekitar 200 orang anak yatim hadir dalam kesempatan ini disamping undangan dari tokoh-tokoh muslim dan aktivis YMAT setempat. Kaum pria duduk di kursi-kursi yang tertata di bawah tenda. Kaum wanita di dalam ruangan. Mereka mengenakan busana muslimah bervariasi. Dari berjilbab dengan lengan pendek, hingga jilbab lebar dan banyak pula yang bercadar.

 

Makanan juga nampak sederhana. Sebelum makan besar, ta`jilnya adalah berupa roti dengan bubur kacang campur daging. Sepintas aneh juga makan roti yang dioleskan dengan bubur kacang campur daging. Tapi lama kelamaan terasa enak juga, aroi mak mak

 

Selain roti, di meja makan turut terhidang petai mentah dan telur. Terus terang kami bingung, bagaimana memadukan antara petai mentah, telur, dan roti bubur kacang?  Ternyata jawabannya lahir setelah shalat maghrib. Petai dan telur dimakan bersama nasi kerabu. Nasi kerabu adalah nasi bercampur kelapa (ulam) dan ikan kembung. Nasi ini mudah ditemukan juga di Kelantan Malaysia. Rasanya? Subhanallah, dahsyat juga. Apalagi kalau dicampur dengan petai dan telur.

 

Kami baru tahu bahwa Thailand Selatan punya kultur ber-petai ria juga. Sama dengan warga Sunda di Jawa Barat. Bedanya barangkali di Thai Selatan orang lebih suka memangsanya mentah-mentah, sedangkan di bumi Pasundan bervariasi apakah mentah, digoreng, ataupun dibakar. Kamipun sempat diberi oleh-oleh `asinan` petai oleh penduduk setempat. Semula sang Ibu menawarkan apabila kami ingin `petai jeruk`. Kami salah sangka dan mengartikannya sebagai `air jeruk`. Maka tanpa ragu-ragu langsung mengiyakan. Ternyata petai jeruk adalah `asinan petai` dalam jumlah besar yang dimasukkan dalam botol coca cola 1000ml dan kami yakini telah berusia cukup lama. Karena begitu tutup botol dibuka air petainya langsung muncrat dan menyebarkan aroma yang dahsyat (bisa dibayangkan kan bagaimana kalau ratusan petai berhimpun dalam satu botol yang diberi air dan tak dibuka dalam waktu lama?).

 

Ramadhan di Yala dan Narathiwat adalah sebagaimana Ramadhan di ranah Melayu yang lain. Sahur, buka puasa, dan tarawih mereka adalah sebagaimana di bumi Melayu yang lain juga. Menu makanan dan ta`jil memang mesti berbeda, namun di luar itu, aura-nya nyaris sama. Satu hal yang berbeda adalah, mereka mesti menjalani ibadah Ramadhan ini di tengah kegelisahan, ketakutan, dan kekalutan identitas. Akibat konflik laten yang telah memangsa saudara dan keluarga mereka bertahun-tahun lamanya.  Setiap saat bom bisa meledak, setiap waktu ada saja orang diculik dan dibunuh, setiap sudut ada askar dan polisi berpatroli dengan panzer, humvee, mobil pick-up ataupun helikopter.

 

Azan dan tilawatil qur`an menggema di bumi Darussalam ini bersamaan dengan desingan peluru, ledakan bom, dan tangisan kaum hawa dan anak-anak belia. Memang, tidak seseram konflik di Jalur Gaza dan Tepi Barat, namun juga tidak senyaman dan senikmat Ramadhan di negeri jirannya, Indonesia dan Malaysia…

Wallahua`lam

23 Ramadhan 1429 H

 

 

Read Full Post »

DUKA ETNIS ROHINGYA :

“JANGANKAN BERMIMPI TENTANG MASA DEPAN

MEMIKIRKAN HARI ESOK SAJA KAMI TAK BERANI”

 

By : Heru Susetyo

 Siang hari di awal Agustus 2012 itu Tokyo begitu terik.  Apalagi di lantai 4 bangunan bertingkat di dekat stasiun KA Shin Okubo, di barat Tokyo..  Ruangan  yang dikenal sebagai Islamic Center Shin Okubo itu menempati area yang kecil saja.  Tak ada AC, hanya kipas angin berkapasitas kecil.  Di lantai dua-nya ada toko kelontong dan makanan yang menjual produk-produk halal.  Banyak muslim berwajah Burma dan Asia Selatan lalu-lalang keluar masuk masjid dan toko tersebut.

 Di tempat yang lazim disebut sebagai ‘Masjid Burma” itu kami berjumpa dengan Zaw Min Htut, pemimpin orang Rohingya di Jepang atau lazim disebut sebagai President of Burmese Rohingya Association in Japan (BRAJ).  Kendati dikenal sebagai tokoh Rohingya, Zaw atau biasa dipanggil Lukman Hakim adalah pemuda 30-an yang berwajah klimis.  Jauh dari citra garang pemimpin pergerakan ala Che Guevarra atau Fidel Castro, misalnya.

Kendati demikian, gurat wajahnya dan kelam matanya menyiratkan bahwa Zaw sudah lama berkubang dalam penderitaan. “Saya sudah limabelas tahun meninggalkan Myanmar, dan saya tak bisa pulang sampai hari ini,” ujarnya dalam bahasa Inggris yang amat fasih.  “Dua bulan lalu ayah saya wafat, dan saya tetap tak bisa pulang, hanya mendoakannya dari kejauhan,” tutur Zaw dengan tabah.

“Saya meninggalkan Myanmar pada tahun 1998 ketika tengah studi di universitas di Yangoon (d/h Rangoon). Ketika itu ada aksi mahasiswa yang memprotes penguasa.  Saya termasuk pimpinan mahasiswa yang diburu tentara. Sehingga saya melarikan diri dan akhirnya berlabuh di Jepang dengan menyandang status sebagai pengungsi,” papar Zaw.

“Bagaimana saya meninggalkan Myanmar? Terus terang saya tergolong sedikit dari orang Rohingya yang beruntung bisa sekolah di Yangoon. Orangtua saya tergolong mampu dan mempunyai beberapa properti. Dengan modal tersebut saya bisa sekolah di Yangoon dan menjadi aktifis mahasiswa. Untuk alasan keamanan dan supaya mudah mendapatkan passport, saya juga harus menukar nama muslim saya menjadi nama Burma (Zaw Min Htut) dan berpura-pura seolah-olah bukan orang Rohingya.”

“Lalu, dengan modal passport palsu tersebut saya keluar Myanmar dan akhirnya berlabuh ke Jepang. Teman-teman saya, aktifis Rohingya yang lain, kebanyakan melarikan diri melalui Malaysia untuk kemudian ke negara ketiga yang mau menampung kami.  Sampai di Jepang bukan berarti masalah selesai.  Saya sempat ditahan oleh imigrasi selama setahun. Itu saat-saat sulit bagi saya yang membuat saya akhirnya menjadi perokok,” lanjut Lukman lagi.

Lukman memang sedikit dari orang Rohingya yang beruntung.  Bisa tinggal di negara maju seperti Jepang walaupun berstatus sebagai pengungsi. “Etnis Rohingya adalah kelompok masyarakat yang paling menderita di Myanmar.  Paling miskin dan juga paling tidak berpendidikan,” papar Lukman.  “Tapi kami di Jepang bisa hidup relatif lebih baik atas dukungan pemeriintah Jepang. Saya hidup di prefektur Saitama sekarang dengan seorang istri Rohingya dan dua anak.”

Masalah berikutnya, kaum muslimin maupun masyarakat internasional lainnya juga tidak banyak tahu dengan problem kekerasan di Arakan dan orang Rohingya.  Etnis  Rohingya adalah orang yang terlupakan (forgotten) dan termasuk yang paling teraniaya di dunia.  “Bahkan Palestina yang dijajah Israel puluhan tahun saja masih punya negara dan kaum muslimin dunia mendukung mereka habis-habisan.  Namun berbeda halnya dengan Rohingya,” tukas Lukman sendu.

Begitupun di Indonesia. Tidak banyak orang Indonesia yang tahu tentang etnis Rohingya. Jangankan memahami kasusnya, istilah `Rohingya` pun terasa asing di telinga. Sampai beberapa pekan terakhir ini kata `Rohingya` tiba-tiba menyesaki media-media di Indonesia.

Pemicunya adalah berita duka bertubi-tubi tentang kekerasan dan pembantaian yang terjadi terhadap muslim Rohingya di Arakan/ Rakhine, Myanmar. Tepatnya pada awal bulan Juni 2012 ketika terjadi konflik antara warga Arakan non muslim (Rakhine Buddhist) dengan muslim Arakan (Rohingya).  Konflik ini adalah buah dari informasi bahwa ada perkosaan terhadap wanita non muslim oleh pria muslim di Arakan. Berlanjut dengan tindakan pembalasan oleh warga non muslim. Sepuluh pria muslim Myanmar (Non Rohingya) dibantai ketika berada di dalam bus di Thandwe menuju Yangoon oleh 300-an warga Rakhine.

Kemudian konflik antar dua kelompok tak terhindarkan.  Terjadi saling bantai dan saling serang. Muslim Rohingya, karena berjumlah lebih sedikit dan beratus tahun terpinggirkan, lantas terdesak.  Ratusan desa muslim dibakar dan dihancurkan dan sekitar 850- 1000-an warga tewas.  Sekitar 90.000 ribuan lainnya terusir  atau tetap berdiam dalam penderitaan.  Karena hijrah ke bagian lain dari negara Myanmar adalah tidak mungkin.  Mengungsi ke Bangladesh, negeri yang berbatasan langsung, adalah juga tidak mungkin. Karena Bangladesh menolak masuknya pengungsi Rohingya.   Bangladesh sendiri adalah negeri miskin dengan luas wilayah kecil namun berpenduduk nyaris 150 juta jiwa. “Pengungsi Rohingya adalah masalah Myanmar bukan masalah Bangladesh, Myanmar-lah yang harus mengurusi mereka dan bukan kami. Negeri kami kecil dan sudah overpopulated,” ujar PM Bangladesh Hashina ketika diwawancara BBC

Dan itu adalah salah satu seri kekerasan terhadap warga Rohingya.  Sebelum dan sesudah merdekanya negara Myanmar (dulu bernama Burma) dari Inggris pada 4 Januari 1948 warga Rohingya kerap mengalami kekerasan dan diskriminasi. Keberadaan mereka tidak diakui sebagai salah satu etnis yang eksis di Myanmar dari 136 etnis yang ada. Ada saat keberadaan mereka diakui oleh Parlemen Myanmar yaitu pada tahun 1948 – 1962.  Lalu pada 1959 ada perwakilan Rohingya duduk di kabinet Myanmar.  Namun, sejak diktator U Ne Win berkuasa pada 1962 berlakulah horror yang lestari sampai sekarang.  Etnis Rohingya dikeluarkan dari daftar etnis yang eksis di Burma. Disusul UU Kewarganegaraan Myanmar tahun 1982 yang tidak mencantumkan  Rohingya sebagai salah satu etnis yang diakui pemerintah Myanmar. Akibatnya, mereka-pun tidak diakui sebagai warganegara Myanmar (stateless). Sampai hari ini.

Mengenai istilah ‘Rohingya’ sendiri ada perdebatan.  Nama ‘Rohingya’ dianggap   bukan sebagai identitas etnis.  Lebih tepat sebagai identitas politik dan label yang disematkan oleh Francis Buchanan-Hamilton, dokter Inggris yang mengunjungi daerah Chittakaung pada akhir abad 18 untuk menyebut entitas muslim Arakan. Tidak ada makna yang jelas tentang apa arti kata ‘rohingya’ selain bahwa ia adalah label dan identitas untuk warga muslim Arakan tersebut.

Pendapat berbeda disampaikan Lukman Hakim. Menurutnya, “Rohingya” adalah juga identitas etnis.  Warga muslim Arakan tak keberatan disebut sebagai ‘Rohingya’. “ Istilah ‘Rohingya’ berasal dari ‘Rohang”, nama daerah di Arakan.  Maka orang yang tinggal di Rohang disebut sebagai ‘Rohingya’.  Sama seperti anda orang Indonesia, “Indonesia adalah nama wilayah dan nama orang yang berdiam di dalam-nya disebut sebagai Indonesian,”  ujar Lukman, mencoba membuat analogi.

Lukman juga menolak tegas bahwa etnis Rohingya adalah imigran dari Bangladesh dan punya keturunan Bengali. “Kami adalah orang Rohingya, bukan orang Bengali atau Bangladesh. Bahasa kami berbeda. Sejarah kami juga berbeda. Kami adalah percampuran Arab, Persia dan etnis local. Sampai sekarang saya juga tak bisa berbahasa Bengali,” jelas Lukman.

Rohingya bukan satu-satunya etnis minoritas yang menderita di Myanmar.  Ada etnis Kachin yang mayoritas kristiani,  lalu perlawanan etnis Chin, Kayah, Karen dan Shan.  Perbedaannya, hanya etnis Rohingya muslim yang demikian tak berdaya. Orang Kachin melawan pemerintah Myanmar dengan senjata api dan 20.000 tentara aktif. Juga gerakan separatis Karen. “Orang Rohingya hanya berjuang dengan tangan kosong dan paling bagus dengan pisau,” tambah Lukman.

Perbedaan berikutnya, ujar Lukman. “Kami berjuang bukan dalam rangka memisahkan diri dari Union of Myanmar seperti halnya gerakan separatis etnis minoritas lain. Kami berjuang dalam rangka survival karena justru kami ingin diakui sebagai bagian dari warganegara Myanmar.”

Saat ini, papar Lukman.  Muslim Rohingya terdesak hanya tinggal di 4 dari 17 kota kecamatan yang ada di Arakan/ Rakhine. Sebelumnya orang Rohingya mendiami sisi utara negara bagian Rakhine (sebelumnya bernama Arakan) di kota-kota Maungdaw, Buthidaung, Rathedaung, Akyab (Sittwe), Sandway, Tongo, Shokepro, Rashong Island, dan Kyauktaw. Namun kini orang Rohingya bertahan hanya di empat kota saja, antara lain di Maungdaw, Buthidaung dan Sittwe..

Kendati Burma telah merdeka pada tahun 1948, namun warga Rohingya tak pernah merdeka. Mereka terus menerus mengalami kekerasan.  Pembantaian dalam skala besar terhadap warga Rohingya terjadi berturut-turut pada tahun 1942, 1948, 1978, 1992 -1993 dan akhirnya pada Juni 2012.

Pada saat bersamaan ada sekitar 300.000 pengungsi Rohingya di Bangladesh dan jumlah yang cukup signifikan di Thailand, Malaysia, Pakistan, India, Timur Tengah dan beberapa yang memperoleh status pengungsi atau suaka politik di Inggris, AS, Jepang dan beberapa negara lainnya.  “Kalau dijumlahkan secara total ada sekitar 1.5 juta jiwa orang Rohingya. Sekitar 800.000 hidup di Arakan dan selebihnya mengungsi dan hidup menderita sebagai pendatang tak diinginkan di banyak negara,” kata Lukman.

Masalahnya, apabila mereka tidak ditampung di negara lain, hendak kemana mereka pergi? Lukman mengatakan : “Brother, perhaps it is easier for you to dream about the future, but for us, Rohingya People, never dream about the future since we  are also not sure whether we still have tomorrow…”

Kegalauan Lukman Hakim amat beralasan. Presiden Myanmar Thein Sein sudah mengatakan di forum internasional pada Juli 2012 supaya warga Rohingya mencari negara lain saja di luar Myanmar atau PBB mencarikan tempat penampungan lain di luar Myanmar.  Myanmar tidak welcome dengan orang Rohinya dan siap mendeportasi mereka. Suatu pernyataan yang ahistoris dan tidak pantas, dari seorang kepala negara yang berdaulat.

Atas nama kemanusiaan, keadilan dan hak asasi manusia, sudah sepantasnya dunia memikirkan secara bersama-sama solusi permanen untuk Rohingya.  Tanggung jawab utama dan pertama jelas terletak pada negara Myanmar yang sejak awal berdirinya telah menegasikan eksistensi bangsa Rohingya.  Termasuk yang wajib memperjuangkan warga Rohingya adalah icon  perjuangan demokrasi Myanmar, Daw Aung San Suu Kyi.  “Terus terang kami kecewa dengan Daw Aung San karena dia  diam saja ketika berhadapan dengan masalah Rohingya,” tukas Lukman.

Sebelum menutup perjumpaan kami, Lukman berpesan supaya Indonesia dan pemerintah Indonesia memainkan peran lebih proaktif terhadap persoalan Rohingya. “Indonesia  adalah negeri demokrasi yang bebas dan berpenduduk muslim terbesar sedunia.  Indonesia juga adalah pendiri ASEAN dan bahkan sekretariat ASEAN ada di Jakarta. Kami mohon kepada Presiden Indonesia untuk menekan pemerintah Myanmar supaya menghentikan kekerasan di Arakan dan menetapkan solusi permanen permasahan Rohingya di Arakan secara damai. Akui kami sebagai manusia yang sama seperti anda, yang berhak untuk hidup bebas dari rasa takut dan kemiskinan….

Read Full Post »

Here we go…

Catatan Gaza Day 1 Humanitarian Report

Catatan Gaza Day 2 Jatuh Cinta pada Anak-Anak Gaza

Catatan Gaza Day 3 Menteri Kehakiman Mendatangi Kami

Catatan Gaza Day 4 Gaza Tidak Membutuhkanmu

Read Full Post »

« Newer Posts - Older Posts »