Feeds:
Posts
Comments

CSR
attached

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY – Heru Susetyo

Hukum Acara Perdata

hukum acara perdata modified April 2011

terlampir

UU Kekuasaan Kehakiman 2009

   Bulan Sabit di Palu Arit

BULAN SABIT DI TENGAH PALU ARIT

Minoritas Muslim di Hanoi-Vietnam

Bendera dan lambang palu arit bisa dipastikan mustahil bisa ditemukan di Indonesia.  Karena negeri ini masih trauma dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan G30/S PKI-nya. Bahkan TAP MPR yang melarang PKI dan penyebarluasan ajaran komunisme masih berlaku sampai kini.

Beda halnya dengan di Vietnam.  Di negeri ini sejauh mata memandang, setiap kantor pemerintah atau lembaga resmi mesti ditaburi bendera bintang kuning berlatar merah dan bendera palu arit berwarna kuning dengan background juga merah. Lambang komunisme.

Vietnam memang negeri komunis.  Predikat yang disandang sejak tahun 1975 ketika Vietnam Utara dan Vietnam Selatan bergabung di bawah pemerintahan Sosialis Vietnam, yang didahului oleh Perang Vietnam (atau ‘Perang Amerika’ menurut bangsa Vietnam) pada kurun waktu 1965-1975. Sebelumnya, Vietnam dijajah Perancis sejak abad 20 hingga tahun 1954.

Kendati palu arit bertaburan dengan leluasa dimana-mana, tetap saja napas bulan sabit masih terasa.  Islam dan muslim tetap eksis di Vietnam kendati jumlahnya kurang dari 1% dari total penduduk Vietnam yang 89 juta jiwa (data tahun 2011).

Konsentrasi muslim di Vietnam sebagian besar berada Vietnam Selatan-Tenggara, utamanya di Delta Sungai Mekong, di Propinsi Ninh Thua, Binh Thuan,  An Giang dan Ho Chi Minh City (HCMC).   Asal usul muslim Vietnam dapat diurut sejak abad 10-11 Masehi, saat dimana utusan Khalifah Utsman bin Affan dari jazirah Arab berdakwah dan mensyi’arkan Islam di Kerajaan Champa.

Sepertiga dari muslim Vietnam memang ber-etnis Cham (Champa).  Sebagian lainnya adalah keturunan Khmer, India-Pakistan, Melayu, Indonesia (utamanya dari Pulau Bawean) , dari Timur Tengah dan juga Afrika Utara.   Secara sosio-kultural Muslim Cham amat dekat dengan bangsa di Semenanjung Malaya  yang kini bernama Malaysia.   Bahkan ada yang mengatakan bahwa orang Cham berasal dari Malaysia.  Faktanya, hingga kini memang banyak keturunan Cham yang tinggal dan bersekolah di Malaysia.  Ketika Republik sosialis Vietnam didirikan 1975, sekitar 55.000 muslim Cham hengkang ke Malaysia dan juga ke Yaman. Hal ini turut menjelaskan mengapa orang Cham banyak yang bisa berbahasa Melayu dan mengapa ada beberapa restoran Malaysia di Ho Chi Minh City (Saigon).

Satu hal sering dilupakan.  Di luar komunitas besar muslim di Vietnam Tenggara (Delta Sungai Mekong), ada minoritas muslim lain yang tinggal di Hanoi, ibukota Vietnam.  Saigon alias Ho Chi Minh City (HCMC) memang kota terbesar dan pusat bisnis Vietnam, namun sejatinya ibukota Vietnam adalah Hanoi.  Keunikan berikutnya, apabila di Ho Chi Minh City mudah menemukan masjid (paling tidak ada 8 masjid di dalam kota), maka di Hanoi hanya ada satu masjid.  Bahkan bukan hanya di Hanoi, satu masjid tersebut adalah mewakili seluruh daerah di Vietnam bagian utara (menurut versi Rough Guides 2006 Edisi Vietnam-buku panduan traveller).

Masjid An-Noor namanya, atau Guiding Light Mosque dalam bahasa Inggris.  Terletak di jalan Hang Luoc No. 12 Old Quarter alias di kawasan kota tua Hanoi yang khas Pecinan (Chinatown).  Kawasan yang padat dengan pertokoan dengan jalannya yang kecil-kecil dan aktifitas perdagangan yang luar biasa marak dari pagi hingga malam.

Menilik lokasinya di tengah kawasan bisnis, siapapun takkan mengira ada tersempil sebuah masjid.  Apalagi di kiri kanan-nya sama sekali tidak ada perkampungan muslim.  Sebaliknya, di luar masjid berkeliaran anjing-anjing dan tempat makan yang menghidangkan daging babi.   Kendati nyaris tak terdeteksi oleh mata wisatawan asing yang umumnya menjelajahi Hoan Kiem Lake (danau kecil di daerah Old Quarter yang menjadi sentra turisme Hanoi), sejatinya masjid ini memiliki nilai historis juga.  Bentuknya mengingatkan kita pada masjid-masjid kuno di Indonesia yang dibangun di era Wali Songo. Di atas mihrab-nya ada tulisan timbul ‘la ilaha ilallah’ dan angka 1323 dalam aksara Arab.  Menurut versi buku panduan turis Rough Guide Edisi Vietnam 2006, masjid ini didirikan tahun 1890 oleh pedagang dan imigran asal India yang bermukim di Hanoi.

Masjid ini tidak besar. Walau juga tidak kecil.   Berwarna putih dengan aksen hijau di beberapa sisi. Tidak ada tempat parkir untuk mobil.  Ruang yang tersisa hanya dapat menampung beberapa motor.  Terdiri dari satu lantai saja yang ditutupi dengan karpet.  Tempat wudhu berada di sisi kanan masjid.  Ruang shalat sendiri ditinggikan sekitar dua meter dari permukaan jalan.  Tempat shalat pria dan wanita dipisah dengan hijab kain.

Lokasi masjid ini memang di kawasan turisme Old Quarter Hanoi, namun jangan tanya tentang jama’ahnya.  “Total jama’ah di masjid ini hanya berkisar 70 orang saja dan itu datang dari seluruh Hanoi.  Kalau digabung dengan muslim dari kalangan diplomatik asing yang berdinas di Hanoi maka sekitar 150 orang saja,” tutur Imam Abdussalam, Imam Masjid An-Noor yang keturunan Cham dan menempuh studi Islam-nya di Libya.  Jumlah yang cukup memprihatinkan karena di Indonesia itu setara dengan jama’ah masjid satu RT saja.

Dan penulis sudah membuktikannya.  Dua kali menyambangi masjid ini pada Januari 2010 dan Agustus 2011 masjid ini memang sepi.  Pada kunjungan kedua adalah bertepatan dengan bulan Ramadhan 1432 H maka jama’ah sedikit lebih banyak.  Pada kesempatan empat kali shalat tarawih disana jama’ah tidak beranjak dari tiga shaf dengan jumlah berkisar 30 orang saja.  Jama’ah Shalat Subuh di bulan Ramadhan juga tidak lebih dari 20 orang.

“Jama’ah disini memang tidak banyak Mas, juga orang Indonesianya.  Kebanyakan hanya kami yang bekerja di KBRI Hanoi saja,” ujar Rizal, staf lokal di KBRI Hanoi yang telah delapan tahun tinggal di Hanoi.  “Di dalam kantor KBRI juga tidak ada masjid dan tidak diselenggarakan tarawih, maka kami ikut shalat di masjid An-Noor ini,” tambah Rizal lagi.

“Betah tidak tinggal di kota ini Mas?” ujar saya iseng. “Buktinya saya bisa bertahan delapan tahun disini Mas.  Saya tinggal dengan istri saya (asli Indonesia) dan anak-anak saya.  Anak-anak saya bahkan bersekolah di sekolah Vietnam dengan bahasa pengantarnya bahasa Vietnam.  Tidak di sekolah internasional,” jawab Rizal saat bersantai usai shalat tarawih di Masjid An-Noor.

Pemahaman masyarakat Vietnam, utamanya Hanoi tentang Islam memang minim.  Umumnya hanya mengetahui bahwa orang Islam tidak makan babi dan lelakinya bisa menikah lebih dari satu kali.  Akan halnya apa itu Allah, Nabi Muhammad, Al Qur’an,  masjid dan Al Qur’an nyaris tidak diketahui.  Maklum negeri komunis, dimana agama dinihilkan dan dianggap urusan pribadi, sama sekali bukan urusan negara.

Walau berwajah komunis, namun penganut agama apapun tetap bisa bertahan dan  hidup tenang di Vietnam.   Disamping masjid di selatan Vietnam, banyak gereja bertebaran di seantero Vietnam.  Tidak ada intimidasi dari negara.  Negeri komunis era millennium ini memang berbeda dengan komunis di era awal atau pertengahan abad 20 yang memandang agama sebagai candu  yang mengganggu tercapainya masyarakat komunis sejati yang ‘sama rata sama rasa’.   Dalam pemantauan kami, negeri ini malah tampak luarnya lebih ‘kapitalis’, karena dunia bisnis begitu maju dan dimana –mana bertebaran produk-produk ‘kapitalis’ seperti resto siap saji KFC, McDonald, Burger King, dan sebagainya.

Begitupun Ramadhan di Hanoi.  Kendati suasana Ramadhan nyaris tak terlihat dan tak terasa, namun di Masjid An Noor begitu terasa.  Makanan untuk sahur dan ifthar diberikan Cuma-Cuma.  Makanan disediakan secara bergiliran oleh kedutaan-kedutaan dari negeri-negeri muslim yang memiliki perwakilan di Hanoi.  Oleh karena itu, tidak aneh apabila menu harian ifthar di masjid ini bervariasi. Kadang makanan penuh kari dan nasi biryani apabila Kedutaan Pakistan yang menjamu. Kadang makanan Melayu apabila tiba giliran Kedubes Malaysia-Indonesia, ataupun makanan khas Timur Tengah ketika tiba giliran menjamu negara-negara Arab.

Kesempatan menikmati makanan halal di waktu Ramadhan secara percuma ini adalah suatu berkah bagi muslim di Hanoi. Karena tidak ada restoran halal di Hanoi.  “Disini tak ada restoran halal.  Ada satu restoran India di dekat Hoan Kiem Lake, dagingnya saja halal dan selebihnya tidak,”  ujar Imam Abdussalamn dalam bahasa Inggris bercampur Arab.  Tak heran selepas tarawih, banyak jama’ah membungkusi sisa makanan yang tersisa untuk dibawa ke rumah .

Mengenai ibadahnya sendiri, terbilang unik.  Masjid ini amat toleran terhadap perbedaan.  Sebagai contoh, dalam shalat isya dan shalat tarawihnya ada empat imam yang berbeda.  Ketika kami shalat disana pada malam ketiga Ramadhan, imam shalat isya adalah orang Vietnam, imam empat rakaat pertama tarawih adalah orang Arab, imam empat rakaat kedua adalah orang Afrika dan imam witirnya (tiga rakaat) adalah orang Indonesia.  Bisa dibayangkan, perbedaan langgam qira’ah dan cara shalat melahirkan sensasi tersendiri bagi para ma’mum.  Para ma’mum pun berasal dari banyak negeri.  Ada wajah-wajah Vietnam, Malaysia-Indonesia, Pakistan-India, Arab-Afrika Utara, hingga muslim berwajah Eropa.

Karena populasinya kecil juga,  penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal amat mudah dan sederhana disini. Tak ada komite khusus yang merukyat hilal atau menghisab wujudul hilal.  Cukup dengan tulisan tangan dari Sang Imam Masjid yang ditempelkan di papan pengumuman di muka masjid yang menyatakan : “tanggal ini sudah masuk tanggal 1 Ramadhan”.  Bisa jadi Sang Imam merujuk pada putusan di Vietnam Selatan atau bahkan di Malaysia yang menjadi rujukan muslim Cham.  Sedangkan, mengenai jadwal imsakiyah Ramadhan  sendiri, Sang Imam mencetak jadwal imsakiyah online yang tersedia secara gratis di internet di situs-situs islam internasional.  Begitu mudah, sederhana dan minim konflik.

Di masjid ini saya-pun bertemu dengan Hisyam.  Seorang muslim asli Maroko yang warganegara Perancis dan bekerja sebagai engineer di perusahaan konstruksi Perancis di Hanoi.  Brother Maroko ini terlihat amat rajin shalat dan tawadhu.  Ketika shalat subuh dan maghrib sampai tarawih ia selalu hadir. “Saya sudah empat tahun disini dan saya tetap bisa bertahan. Dimana-mana adalah bumi Allah,” tutur Hisyam dalam bahasa Inggris.  Ia datang dan pergi ke masjid dengan moda transportasi yang mayoritas digunakan oleh rakyat Hanoi, yaitu sepeda motor.  Sayangnya dia enggan difoto.  “Saya tak mau difoto, brother” ungkapnya tegas.

Melihat kesahajaan masjid di Hanoi dengan kesahajaan warga muslimnya yang multietnis namun minoritas, yang tetap bersemangat menyelenggarakan ibadah Ramadhan di tengah segala keterbatasan, hati siapapun akan tersentuh, sekaligus tertantang.   Mereka telah membuktikan bahwa minimnya jumlah masjid dan saudara-saudara muslim tidak berarti dakwah dan ibadah mereka harus berhenti.   Juga,  kendati hidup di bawah naungan Palu Arit tak mesti Bulan Sabit harus tenggelam di bawah permukaan lalu iman menjadi defisit.  Karena, The show must go onIsyhadu bi ana muslim !

DELAPAN TAHUN ENAM BELAS BEASISWA

By : Heru Susetyo

Tak diragukan lagi, saya adalah seorang pemburu beasiswa.  Aktifitas yang sudah saya lakukan sejak lulus Universitas Indonesia pada tahun 1996.  Motifnya? Saya senang belajar. Senang melihat sesuatu yang baru. Hobi traveling ke tempat-tempat seru. Dan sangat ingin ke luar negeri.  Apa daya sumber daya yang saya miliki terbatas.  Memang keluarga saya Alhamdulillah tidak masuk kategori keluarga miskin.  Namun juga bukan keluarga yang dengan mudah merogoh kocek dan mengirim saya kemanapun saya ingin.   Seperti teman-teman saya. Ingin kuliah ke Boston, Sydney, London, Paris, Amsterdam, tinggal lapor orang tua.  Sayapun lapor orangtua. Dan Bapak  Ibu menanggapi dengan tersenyum saja.  Maka, sayapun memutuskan menjadi scholarship hunter.

Alhamdulillah, dengan ijin Allah SWT, pilihan tersebut tidak terlalu salah.  Dalam kurun waktu delapan tahun, 2002 – 2010, saya mendapatkan Enam belas beasiswa.  Dua beasiswa studi lanjut, satu beasiswa riset, lima beasiswa training , enam beasiswa seminar, satu beasiswa internship, dan satu beasiswa pertukaran aktifis  (student exchange). Dan semuanya Alhamdulillah di luar negeri.  Tepatnya di Amerika, Asia, Eropa, Oceania, minus Afrika.

Saya mendapatkan beasiswa studi S2 ke Amerika Serikat tahun 2002. Studi S3 ke Thailand tahun 2007. Beasiswa riset lapangan di Jepang dan Thailand pada tahun 2006 – 2007. Beasiswa training masalah hukum dan HAM di Chicago, USA (2002 dan 2003), di New Zealand (2004), di Kaohsiung Taiwan (2005), di Mito Jepang (2007), di Malaysia (2008), di Ghent dan Antwepen, Belgia (2010). Sedangkan travel grant dan beasiswa seminar saya dapatkan untuk menjadi peserta ataupun penyaji seminar ke Shanghai RRC (2006), Nakhorn Si Thammarat Thailand (2007), Davao Philippines (2008),  Salzburg Austria (2008), dan Tokyo (2010).   Dua beasiswa dalam bentuk lain, masing-masing internship di Amnesty International, London- Inggris saya dapatkan tahun 2004 dan pertukaran aktifis ke Australia saya peroleh tahun 2005.

Mengapa beasiswa luar negeri?  Jelas bukan karena negeri sendiri lebih buruk -fakta membuktikan bahwa keindahan alam Indonesia adalah tiada tara- tapi karena ada sejumlah tantangan, pengalaman dan wawasan yang ingin saya dapatkan.  Yang terkadang hanya bisa diperoleh di luar negeri. Juga, usia kita adalah misterius, termasuk kondisi kesehatan kita.   So, mumpung masih mudah dan badan sehat saya harus hunting beasiswa !

Dan tidak selamanya saya berhasil. Dalam kurun waktu delapan tahun (2002 – 2010) mungkin posisi saya 50 : 50 (baca : fifty fifty). Sebagian aplikasi beasiswa saya diterima, dan sebagian lagi gagal.  Yang diterima-pun tidak otomatis langsung ikut program-nya.  Pernah beasiswa saya diterima ke Inggris tapi visa-nya tidak keluar. Dapat beasiswa ke Australia, tapi mendadak program tahun itu ditunda. Dapat beasiswa seminar di Hongaria, eh malah sayanya yang tidak siap berangkat karena bentrok dengan program lain.  Atau, saya pernah dapat beasiswa bersamaan waktunya di dua negara, satu training di Malaysia dan satu lagi seminar di Davao, Philippines. Walhasil, yang satunya saya lepas. Tak elok mengambil semuanya.

Maka, syarat utama untuk menjadi pemburu beasiswa adalah pantang menyerah.  Kita nothing to lose saja. Mungkin kita memang sedikit menghabiskan waktu, perangko, uang, email, ketika mengirim aplikasi, tapi itu tidak ada artinya dengan beasiswa yang akan kita dapatkan.  Prinsip saya, kirimkanlah sebanyak mungkin aplikasi, masak satu saja tidak ada yang nyangkut?  Kalau belum ada yang nyangkut?  Kirimkan lagi !  belum dapat lagi?  Kirimkan terus!  Kirimkan lebih banyak lagi dan belajarlah dari kegagalan kita dan keberhasilan orang lain !

Syarat kedua adalah harus gaul. Alias rajin buka mata dan pasang telinga untuk dapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang beasiswa.  Informasi beasiswa bisa mampir dari pintu mana saja. Surat resmi di kantor atau kampus, melalui poster, leaflet, e-mail di mailing list, tersurat di Koran atau majalah, atau dari mulut ke mulut dalam obrolan resmi ataupun informal.  Banyak pintu menuju informasi beasiswa.   Pengalaman saya pribadi, saya mendapatkan informasi lebih banyak via e-mail karena saya bergabung dengan banyak mailing list.

Kini, dengan maraknya social networking sites seperti facebook dll, akses menuju informasi beasiswa semakin terbuka luas.   Juga, kita mesti proaktif dan tak sekedar menunggu informasi tersebut datang.  Misalnya, apabila tertarik studi ke Amrik, bukalah secara periodik situs AMINEF, kalau ingin ke Inggris, pantaulah informasi tentang Chevening.  Kalau hendak ke Australia, jangan lupa mengamati situs ADS Indonesia. Kalau gemar ke Jepang, selalu ikuti informasi terbaru tentang Monbukagakusho.  Kalau kita tak bertemu situsnya, jangan segan-segan untuk mendatangi Kedutaan Besar ataupun Konsulat dan Pusat Kebudayaan negara-negara  tersebut yang ada di Indonesia.

Syarat ketiga adalah mau dan berani mencoba dan yakin dengan kemampuan kita. Saya bukanlah sarjana dengan otak Einstein dan Indeks Prestasi sempurna. Kemampuan Bahasa Inggris juga tidak luar biasa.  Saya yakin betul bahwa di atas langit masih ada langit.  Masih banyak yang kemampuannya lebih dahsyat daripada saya.  Masalahnya, mereka mau mencoba atau tidak?   Karena mendapatkan beasiswa adalah masalah keberanian mencoba.  Tidak semua orang mau bercapai-capai dan ber-repot-repot mengisi aplikasi, mencari referensi dan rekomendasi, membuat proposal, ataupun berkorespondensi  dengan lembaga pemberi beasiswa.  Jangan berpikir bahwa orang yang mendapatkan beasiswa adalah semuanya pintar, semuanya bahasa Inggrisnya bagus, semua curriculum vitae-nya sarat prestasi. Tidak juga.  Satu kesamaan dari para penerima beasiswa adalah mereka orang yang berani mencoba.

Syarat keempat, yaitu pemberi rekomendasi ataupun referensi yang tepat dan handal.   Karena, beasiswa seringkali adalah masalah kepercayaan dan keyakinan terhadap kemampuan kita.  Lembaga pemberi beasiswa tidak tahu siapa kita. Apalagi kalau kita tidak terkenal. Maka, sepatutnya ada pemberi rekomendasi yang mengenal betul kita dan berani mempromosikan dan mendukung kita untuk mendapatkan beasiswa.  Ia bisa guru, dosen, professor kita.  Ataupun atasan, direktur, tokoh-tokoh yang baik reputasi dan dikenal oleh publik.  Lebih bagus lagi kalau mereka adalah lulusan dari negeri asal lembaga pemberi beasiswa.

Syarat kelima adalah rekam jejak kita.  Tak ada makan siang yang gratis.  Tak ada lembaga pemberi beasiswa yang ikhlas memberikan beasiswa kalau mereka tak yakin terhadap rekam jejak calon penerima beasiswa.  Tapi rekam jejak ini tergantung ‘selera’ lembaga pemberi beasiswa yang kita tuju.  Ada yang senang apabila calon yang diincar-nya orang yang tinggi IP dan sarat prestasi akademiknya. Ada yang senang dengan tingginya skor bahasa Inggris (TOEFL/ IELTS). Ada yang tak peduli dengan keduanya namun melihat apa saja karya yang dihasilkan oleh sang kandidat.  Karya tersebut bisa berupa karya tulis, karya seni, publikasi, dan seterusnya.  Uniknya, ada juga yang mem-verifikasi kandidat berdasarkan komitmen dan kontribusi sosial sang kandidat terhadap masyarakatnya.  Tak melihat prestasi akademik sama sekali.  Semakin banyak dan nyata aktifitas sosialnya maka peluang mendapatkan beasiswa semakin besar.

Syarat keenam adalah pengenalan kita terhadap negara dan lembaga pemberi beasiswa.  Karena tak kenal maka tak sayang.  Setiap negara dan lembaga ‘punya selera’ sendiri terhadap beasiswa yang akan mereka berikan.  Mereka juga punya pilihan-pilihan issue dan kepentingan yang apabila dapat ‘dibaca’ oleh sang kandidat maka peluang beroleh beasiswanya lebih besar.  Saya mendapatkan beasiswa ke Amerika karena saya menuliskan proposal tentang Hak-Hak Perempuan. Saya bisa mendapatkan beasiswa riset  tentang manajemen bencana ke Jepang karena saya tahu di Jepang adalah tempat terbaik untuk belajar manajemen bencana.  Apalagi ketika itu tahun 2005 Indonesia baru terdera tsunami akbar di Aceh dan Sumatera Utara.  Maka, kenalilah medan dan kepentingan yang mengiringi, serta sumber daya yang dimilikinya.  Kasarnya, jangan belajar tentang tsunami di Laos, karena mereka tak punya laut. Dan jangan belajar bahasa Arab di Venezuela karena anda akan sulit menemukan profesornya!

Syarat ketujuh adalah bisa menulis.  Tak perlu handal betul namun minimal bisa mengekspresikan dan menunjukkan isi  kepala kita kepada lembaga pemberi beasiswa.  Karena, seringkali mereka menilai kita melalui tulisan.  Apakah melalui proposal penelitian kita, melalui curriculum vitae kita, melalui contoh publikasi kita. Ataupun sekedar menilai melalui isian formulir aplikasi kita.

Syarat kedelapan adalah syarat pada umumnya.  Yaitu prestasi akademik di atas rata-rata dan penguasaan bahasa asing (utamanya Inggris).  Tapi sekali lagi, ini bisa diabaikan juga oleh sejumlah lembaga pemberi beasiswa. Alias, bukan hal yang utama.  Dalam kasus saya, Indeks Prestasi saya tidak sangat istimewa dan score TOEFL saya tidak sangat tinggi.  Namun Alhamdulillah tetap mendapat beasiswa karena saya tahu issue apa yang cocok saya pelajari dan tersedia dengan baik di negara dan lembaga pemberi beasiswa.  Juga,  mereka bisa melacak rekam jejak saya hanya dengan meng-googgling saya di jagat internet yang Alhamdulillah tidak jelek-jelek amat juga.

Syarat terakhir dan utama tak lain dan tak bukan adalah faktor langit.  Alias selalu berdo’a dan rajin  bermohon kepada Allah SWT.   Bagaimanapun manusia amat memiliki keterbatasan dan tak selamanya bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.  Maka, kita mesti mengiringi delapan syarat di atas dengan do’a dan permohonan kepada Allah SWT.  Karena Dia-lah, sejatinya, Zat Yang Maha Memberi Beasiswa.  Apabila bukan karena rahmat dan karunia Allah, tak mungkinlah kita mendapatkan beasiswa.  Mungkin saja, pihak yang secara kasat mata memberi kita beasiswa bernama Fulbright, atau ADS, atau Chevening, atau DAAD, atau Monbukagakusho, atau bernama STUNED dan NUFFIC, apapun namanya.   Namun mereka hanyalah semacam ‘provider’ sedangkan keputusan utama jelas ada pada Allah SWT.  Maka, jangan pernah bosan meminta dan berdo’a kepada Dia Yang Maha Memberi Beasiswa.

Nah, selamat berjuang teman !

Akar Masalah Pornografi

Kebanyakan nonton film porno mencabuli

NB : Telah dimuat di Jurnal MTP

AKAR MASALAH PORNOGRAFI

 

Heru Susetyo

Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia/

Dewan Pendiri Masyarakat Tolak Pornografi (MTP)

  1. A.                            Fenomena Pornografi

Negara-negara Asia mensikapi pornografi secara berbeda-beda.  Di Singapura majalah-majalah ber-content pornografi mudah ditemukan di toko buku.  Di Malaysia sangat sulit dan dibatasi. Di Thailand benda-benda pornografi tak mudah ditemukan di toko buku toko buku umum, tapi yang edisi local beredar secara liar di pasaran. Di Jepang sangat bebas. Dimana-mana, utamanya di convenience store (biasa disebut kombini) majalah-majalah porno digelar tanpa malu-malu.Di Indonesia?  Peraturan cukup keras melarang (seperti dapat dilihat pada KUHP dan UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi) namun faktanya majalah-majalah dan video-video porno mudah didapatkan di tempat-tempat tertentu.  Semua kelompok umur, tua muda maupun dewasa dan anak-anak mudah mengakses barang-barang pornografi diIndonesia.

Tak sekedar di darat, di jagat maya para netters Indonesia termasuk kampiun dalam mengakses situs-situs ber-content porno di internet.  Dengan penelaahan sederhana melalui www.google.com/trends, dimana semua orang dapat melakukannya, nampak jelas bahwa hit-hit untuk content porno tertentu memang dipimpin oleh para netters Indonesia.  Sebagai contoh, hit untuk content ber- keywords (kata kunci) ‘sex video’, ‘porn video’, ‘pornstar’, ‘miyabi’, ‘tube8’ dan ‘making love’ adalah didominasi oleh para netters Indonesia (data diperoleh melalui google.com/trends pada 3 Juni 2010).

Juga, tak sekedar Indonesia, kenyataannya banyak negara-negara dunia ketiga dengan penduduk mayoritas muslim adalah juga berpredikat sebagai pengakses situs porno terbanyak.  Sebagai contoh, dalam dalam daftar 10 besar pengakses content ber kata kunci ‘making love’ setelah Indonesiaterdapat India, Pakistan, United Arab Emirates, Malaysiadan Mesir.  Dalam daftar 10 besar pengakses ber kata kunci ‘sex video’ setelah Indonesia adalah Aljazair, Maroko, India, Malaysia, Turki, dan Mesir. Dalam daftar 10 besar untuk keywords ‘sex cam’ kendati Indonesia tidak menempati peringkat pertama, namun ada Negara-negara berpenduduk muslim seperti India, Mesir, Maroko, dan Turki yang menempati posisi 5 (lima) besar.

Mengapa banyak netters di negara-negara berpenduduk muslim mengakses content pornografi di internet? Mengapa pula akses netters negara maju terhadap content berbau pornografi tersebut terbilang rendah?

Tahun 2006 Indonesia adalah negeri terbesar ke – 7 pengakses situs pornografi. Tahun 2007 meningkat menjadi peringkat ke -5. Hingga Juni 2008 menyodok ke peringkat 3 (tiga) dunia.  Dan menurut hasil riset  yang dikemukakan oleh kantor berita internasional Associated Press (AP), Indonesia saat ini merupakan ‘sorga’ pornografi nomor tiga di dunia setelah Russia dan Swiss, dan bahkan pada tahun 2001 pihak kepolisian Indonesia telah menerima pengaduan pihak kepolisian federal Amerika Serikat akan adanya orang Indonesia yang mengoperasikan situs pornografi anak-anak (paedofilia) terbesar di dunia (Soefyanto, 2009 : 15).

Soefyanto (2009 : 3) menyebutkan bahwa pornografi sejak semula merupakan perilaku bermasalah, dalam perkembangannya menjadi dasar sanksi moral dan sanksi hukum karena dapat merusak nilai kesusilaan, merusak moral anak-anak dan remaja, bahkan orang dewasa dan menyebabkan meningkatnya kejahatan seksual, perkosaan, perselingkuhan, pelecehan seksual, perbuatan cabul dan perilaku lain sejenisnya.  Pornografi merupakan perilaku bermasalah yang dinilai penyebab degradasi nilai-nilai yang dihormati masyarakat, merusak nilai-nilai agama, nilai-nilai kesusilaan dan moral, nilai budaya dan sopan santun, nilai-nilai kemanusiaan, melunturkan kesucian suatu perkawinan.

(Soefyanto. 2009 : 14) juga menyebutkan bahwa data dari berbagai Rutan dan Lapas Anak di seluruh Negara, ada kecenderungan bahwa angka kejahatan pencabulan, pemerkosaan atau pelecehan seksual yang dilakukan anak meningkat drastis yang jika digali lebih jauh penyebabnya adalah akses anak terhadap materi pornografi.  Temuan penulis sendiri dalam kunjungan di Lembaga Pemasyarakatan Anak Pria Tangerang tahun 2008 dan 2010 mendapatkan data bahwa kejahatan seksual menduduki urutan kedua sebagai sebab para andikpas (anak didik pemasyarakatan) menghuni lembaga pemasyarakatan.  Sedangkan urutan kejahatan pertama adalah kejahatan narkotika dan psikotropika.

Satu hal menarik dari fenomena pornografi adalah ia tak semata-mata alat untuk memuaskan kebutuhan seksual individu namun juga adalah suatu komoditas ataupun industri baru.  Shepher dan Reisman (1985 : 103) menyebutkan bahwa :

 

Supporters and antagonist woud both agree that pornography is a commodity for which millions of people in the Western world are prepared to pay billions of dollars every year. Pornographic pictures, novels, films, cassettes, records, and devices are sold in thousands of specialty shops, with a hierarchy of levels, styles and prices for the products (Shepher and Reisman, 1985 : 103).

  1. B.                             Debat Pengertian Pornografi

Debat pengertian dan ruang lingkup pornografi di Indonesia barangkali sudah dianggap selesai dengan lahirnya UU No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Namun di dunia barat debat tersebut tak pernah selesai.  Masih banyak yang menyebutkan bahwa pornografi adalah bagian dari hak (rights) dan kebebasan berekspresi (freedom of expression), dan bahwasanya pornografi tak ada hubungannya dengan peningkatan kejahatan seksual dan meningkatnya penyimpangan sosial dalam masyarakat.  Debat tentang pornografi antara lain sebagai berikut :

Pornography’s intended and most direct effect is to produce sexual arousal. Pornography used to be a sort of litmus test for where one stood on the political spectrum. Conservatives claimed, sometimes on the basis of religious considerations that pornography is something disgusting and immoral. Liberals, with varying degrees of enthusiasm, declared pornography something to be tolerated, and a few self-proclaimed sexual radicals argued for less state control over sexually explicit material (Dwyer,1995 : 3)

Pornography is not synonymous with obscenity. The latter term dates back to late sixteenth century and refers to things that are highly offensive or morally repugnant. Pornography, on the other hand, entered the language only in the nineteenth century and is strictly defined as the explicit description of exhibition or sexual objects or activity in literature, painting, films, etch., in a manner intended to stimulate erotic rather than aesthetic feelings. The word ‘pornography’ originates from the Greek and means writing about prostitutes. Pornography should be distinguished from obscenity, which means the filthy or disgusting. Obscenity rather than pornography is the term normally found in legal instruments. It defines pornography as the description of the life and manners of prostitutes and their patrons and the pornographer as one who writes of prostitutes or obscene matters (Dwyer, 1995 : 5). 

  1. C.                            Akar Masalah Pornografi

Bagaimana tanda-tanda orang kecanduan pornografi? Michael Bayer (2010) menyebutkan bahwa tanda-tandanya adalah seseorang keranjingan membaca atau melihat pornografi, sangat terobsesi untuk melihat atau berpikir tentang pornografi dalam semua wilayah kehidupannya.

Banyak alasan mengapa orang mengakses benda-benda ber-content pornography. Khususnya mengenai pornografi anak, Max Taylor dan Ethel Quayle dalam bukunya Child Pornography (2003) menyebutkan bahwa paling tidak ada beberapa fungsi pornografi anak (child pornography) bagi para penikmatnya, antara lain : (1) untuk membangkitkan hasrat seksual (sexual arousal); (2) pornografi anak sebagai barang-barang koleksi (collectibles) yang bisa melahirkan kepuasan seksual; (3) sebagai media untuk memfasilitasi hubungan sosial (social relationship) sehingga seseorang dapat diterima sebagai anggota suatu kelompok sosial; (4) sebagai media untuk menghindari kehidupan nyata (a way of avoiding real life); dan  (5) pornografi anak sebagai terapi.

Maka, tidak serupa memang alasan orang mengkonsumsi pornografi.   Sama sulitnya untuk menjelaskan mengapa ada orang yang menyukai pornografi anak, pornografi sesama jenis (homosexual) ataupun adegan seks dengan binatang, seks dengan mayat, ataupun seks dengan kekerasan (sado machism).

Sementara itu Thomas Barker (2006) yang menganalisis fenomena VCD Porno di Indonesia menyebutkan bahwa …pornography in Indonesia is not just copies of Western products and culture or as the result of post – 1998 press freedoms. Pornography is a complex issue…Pornography is a very modern creation, far removed from its Greek lexical roots as the “writing of harlots”.

Barker (2006) yang meneliti dan menganalisis video porno era 2000 – 2003 masing-masing Anak Ingusan, Bandung Lautan Asmara, Medan Lautan Asmara, Casting Iklan Sabun, Gadis Baliku dan Ganti Baju, menyebutkan bahwa :

Tracing the genesis of these films is a more complicated but necessary operation and two often discussed possibilities come to mind. The first is that these films are a direct result of Westernization and they are another example of how Indonesians are adopting Western norms and values in regards to sex and pornography.  The experience of foreign pornography has certainly contributed to the production of these pieces in varying ways to each of the protagonists. However, the films are not replicas of foregin pornography. The assumption that they are politically and morally convenient reasoning which relies on a simple association than any empirical basis. 

 

Secondly, that this pornography has emerged as a direct consequences of the press freedom which came after the 1999 dissolution of the Ministry of Information. As these films are private productions, these films are not part of the press per se and are quite distinct in their mode of existence. They are exist outside the formal media  sphere as illegal material produced and distributed by the black market.

 

Temuan lain dari Barker (2006) mengutip Iwu Dwisetyani Utomo (2002) bahwa sebelum tahun 1998, anak muda metropolitan yang berasal dari kelas menengah mengalami peningkatan dan liberalisasi dalam memandang seks dan sering menjadikan pornografi sebagai pengganti dari kurangnya ‘sex education’ yang mereka miliki.

Barker (2006) juga mengutip Ariel Heryanto dan Vedi Hadiz (2005) yang menyebutkan bahwa peran dari globalisasi dan kapitalisme amat signifikan dalam membentuk corak media setelah 1998.  Termasuk dalam hal ini adalah peningkatan banyaknya content seksual di media.

Selanjutnya, Barker menyalahkan internet sebagai salah satu biang keladi dari maraknya pornografi. Ia menyebutkan : “…the VCD revolution and its impact on consumer entertainment has been previously noted and it goes hand in hand with the availability of other consumer technologies that make production possible…VCD pornography as Indonesian have made it would not have been possible without technology for both producers and consumers.

Mengenai internet pornography, Michael Porteous (2009) menyebutkan bahwa penyebab kecanduan pornografi di internet adalah kompleks dan sangat tergantung dengan sang individu. Penyebabnya bisa berbeda pada setiap individu.  Namun dampak dari pornografi internet ini rata-rata sama antara lain : kepercayaan diri yang rendah (low self esteem), frustrasi seksual (sexual frustration), melarikan diri dari masalah (escapism from problems), depresi (depression) dan kebosanan (boredom).  Patrick Carnes (2010) sendiri berpendapat bahwa ada gejala-gejala umum dari orang yang ketagihan pornografi, antara lain : they usually result from growing up in a dysfunctional,especially one with rigid rules, little warmth and affirmation, abandonment, and sexual or emotional abuse.  Beberapa nilai-nilai yang mereka percayai antara lain : (1) saya adalah orang yang buruk dan tak berharga; (2) tidak ada seorangpun yang mencintai saya seperti saya mencintai diri saya; (3) kebutuhan saya tak akan pernah terpenuhi jika saya hanya mengandalkan orang lain; (4) seks adalah kebutuhan saya yang paling penting.

Menurut Porteous (2009) pornografi dapat menjadi semacam jalan keluar alternatif, suatu cara untuk melarikan diri dengan hidup dalam fantasi tertentu, walaupun setelah itu penikmatnya kemudian merasa sedih, depresi, bahkan merasa bersalah.  Selanjutnya porteous menyebutkan : “…the brief moments of escapism become more and more needed to fill whatever hole there is in addicts life making each session less fulfilling but increasing the cravings for it all the more.”

  1. D.                            Penutup

Akar masalah pornografi memang kompleks dan tidak tunggal. Bisa berbeda pada setiap individu. Kendati ada juga gejala-gejala yang berlaku secara umum. Akar pornografi bisa dari sebab internal maupun eksternal.  Sebab eksternal yang mengemuka dalam kasus di atas adalah regulasi yang lemah, ketidakpedulian masyarakat, perkembangan teknologi informasi utamanya internet, serbuan budaya asing dan budaya pop tanpa batas,  globalisasi dan kapitalisme. Dan lain sebagainya.  Hal yang menarik adalah, ternyata pornografi juga bisa bersifat lokal dan kultural, tak semata-mata dampak dari serbuan budaya luar. Hal ini menyeruak dalam kasus VCD pornografi di Indonesia.

Bahwasanya pornografi membawa akibat buruk terhadap masyarakat secara keseluruhan memang masih diperdebatkan. Sebagian yakin bahwa pornografi berkontribusi terhadap peningkatan kejahatan seksual di masyarakat. Sebagian yang lain tidak meyakini dan percaya bahwa pornografi sepenuhnya adalah masalah individu.  Titik temu dari semua perdebatan tentang dampak pornografi, bahwa pornografi memang tidak semata-mata menyenangkan individu namun juga membuat penikmatnya berpotensi mengalami gangguan sosial, emosional, ataupun seksual.

Bahan Bacaan

 

Max Taylor and Ethel Quayle, Child Pornography an Internet Crime, New York, Brunner- Routledge, 2003.

Soefyanto, Memahami Undang-Undang No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi, Jakarta, Universitas Islam Jakarta, 2009.

Susan Dwyer, The Problem of Pornography, Belmont, Wadsworth Publishing Company, Belmont, 1995

Susan M.. Easton, The Problem of Pornography, Regulation and The Right  to Free Speech, London, Routledge, 1994.

http://www.treatment4addiction.com/addiction/sex/

http://ezinearticles.com/?Causes-of-Internet-Pornography-Addiction&id=2243297

Here we go…

Catatan Gaza Day 1 Humanitarian Report

Catatan Gaza Day 2 Jatuh Cinta pada Anak-Anak Gaza

Catatan Gaza Day 3 Menteri Kehakiman Mendatangi Kami

Catatan Gaza Day 4 Gaza Tidak Membutuhkanmu

JAPAN 2007

JAPAN 2007

 

SATU NUSA SATU BANGSA BEDA AGAMA

Muslim Bangkok di Tengah Mayoritas Thai-Buddhist[1]

 

By : Heru Susetyo[2]

 

Pengantar

Mendengar kataThailand, imaji kita mestilah mengembara ke negeri gajah putih yang terkenal eksotis dengan daerah wisata cantiknya seperti Phuket,Ayutthaya, maupun Chiang Mai. Bagi mereka yang berpikiran nakal,  kata `Thailand` mestilah identik dengan daerah turisme seks seperti Patpong di Bangkok dan Pattaya di propinsi Chon Buri yang luar biasa terkenal ke manca negara dan menyedot devisa luar biasa besar.

Sebagai negeri jiran, bagi kebanyakan masyarakatIndonesia,Thailandrelatif kurang dikenal dibandingkanMalaysiaataupun Singapura.  Perbedaan bahasa, agama, dan budaya seringkali dituding sebagai penyebabnya.  Mayoritas rakyat Thai berbahasa Thai, beragama Budha, dan memiliki budaya yang berakar kuat pada tradisi Sino-Siam yang berakulturasi dengan tradisi Budha-Hindu.  Amat berbeda denganMalaysia, Singapura, ataupun Brunei Darussalam, yang sebagai negeri jiran nyaris memiliki kesamaan bahasa dan budaya dengan pendudukIndonesia.

Negeri yang terkenal sebagai `land of smile` ini berbatasan darat dengan Myanmar (Burma) di sebelah barat dan utara, Laos di utara dan timur, Kamboja (Cambodia) di timur, dan Malaysia di Selatan. Dengan luas wilayah sekitar 514.000km2,  luasThailandhanya sekitar seperempat dari luasIndonesia. Demikian pula dengan penduduknya,  data pada bulan Juli 2006 menunjukkan bahwa penduduk Thailand berjumlah 64 juta jiwa, alias lebih dari seperempat dari jumlah penduduk Indonesia.

Negeri yang kini bernamaThailandpada mulanya adalah suatu negeri berbentuk kerajaan yang telah berdiri sejak abad ke 6 dan 7 Masehi.  Sedari awalnya kerajaan ini telah lekat dengan pengaruh Budha dan Hindu.  Penguasa kerajaan ini juga berganti-ganti. Mulai dari kerajaan Dvaravati pada abad ke 6 dan 7 Masehi,  kemudian Khmer pada abad 11 Masehi, Sukhothai (abad 13), Kerajaan Burma (abad 16 – 18), dan Siam yang antara lain ditandai dengan berkuasanya Dinasi Chakri (dengan gelar rajanya adalah `Rama`) hingga kini.  Pada tahun 1932 melalui suatu revolusi tak berdarah,  Thailand berubah bentuk dari kerajaan (monarkhi absolut) menjadi monarkhi konstitusional,  dengan Raja sebagai Kepala Negara dan Perdana Menteri (PM) sebagai Kepala Pemerintahan.  Nama `Thailand` sendiri sebagai nama resmi negara ditahbiskan pada tahun 1939 menggantikan nama `Siam`.

Tradisi Budha (terutama Budha Theravada) dan Hindu yang mengakar kuat di Thailand hingga kini, dengan populasi warga Thai Buddhist lebih dari 80% menyebabkan Thailand sering disebut sebagai negeri Budha. Orang Thai juga sering disebut orang Budha.  Ada semacam generalisasi dan stereotipe bahwa menjadi Thai otomatis menjadi Budha. Sama seperti stereotipe yang berkembang di Malaysia dan Indonesia bahwa menjadi Melayu otomatis menjadi muslim.

Kenyataannya tidak demikian.  Kendati warga Budha memang mayoritas, Thailand juga memiliki penduduk yang tidak beragama Budha. Warga minoritas ini ada yang beragama Islam, Hindu, Kong Hucu, bahkan aliran kepercayaan.

Keberadaan komunitas muslim sendiri cukup signifikan. Mereka tersebar di banyak provinsi Thailand.  Tidak hanya di tiga propinsi selatan berbahasa Melayu-Yawi (Pattani, Yala, Narathiwat) seperti yang dikenal selama ini.  Muslim Thailand terserak mulai dari Chiang Mai、Chiang Rai, dan Mai Hong Son di Utara, Khon Khaen di Timur Laut, Tak,  Ayutthaya, Nakhon Nayok, Chachoengsao, Chon Buri dan Bangkok di tengah, Phuket, Ranong, Phang Nga dan Krabi di tepi laut Andaman (barat daya Thailand), muslim di Nakhon Si Thammarat, Surat Thani dan Songkhla,  hingga Satun, Pattani, Yala, dan Narathiwat yang berdekatan dengan Malaysia.

Data dari Islamic Committee Office of Thailand (Kana Kammakan Klang Islam) pada bulan Desermber 2000 menunjukkan bahwa jumlah muslim Thailand sekitar 7.4 juta jiwa, dimana 6.3 juta diantaranya bermukim di propinsi selatan, masing-masing Pattani, Narathiwat, Yala, Satuin dan Songkhla dan 700.000 diantaranya bermukim di sekitar Bangkok dan Ayutthaya.

Asal muslimThailandjuga bervariasi. Adamemang yang berasal dari tiga propinsi selatan yang berbatasan denganMalaysia.Adayang dariChina, ada yang keturunan Pakistan-India-Persia.Adajuga yang berasal dari Champa, kerajaan kuno yang dahulu berada diVietnamdan kemudian hijrah ke Kamboja.

 

 

Muslim Bangkok dan Muslim Thai Selatan

Ketika bicara tentang muslim Thai lazimnya orang langsung merujuk kepada muslim di Pattani, Yala,  dan Narathiwat di Thailand Selatan. Dengan jumlah sekitar 70% dari total muslim di Thailand amat wajar bahwa komunitas ini dianggap sebagai representasi muslim Thai.    Padahal, secara geografis, etnis dan kultural  mereka lebih dekat denganMalaysiadan tradisi muslim Melayu. Tak terlalu aneh.  Thailandmemiliki empat propinsi yang berbatasan  langsung denganMalaysia.  Narathiwat berbatasan dengan Kelantan. Yala berbatasan dengan Perak dan Kedah. Songkhla berbatasan dengan Kedah dan Perlis, dan Satun berbatasan langsung dengan Perlis.

 

Sampai saat ini, bahasa Melayu Pattani (Yawi) adalah bahasa sehari-hari yang digunakan penduduk di Yala, Narathiwat, dan Pattani disamping bahasa nasional Thai.  Sementara itu, penduduk propinsi Satun lebih banyak berbahasa Thai.  Bahasa Melayu Pattani amat mirip dengan bahasa Melayu khas Kelantan (Malaysia) dari sisi dialek. Wajah, dan cara berbusana mereka juga tak jauh berbeda dengan saudara-saudaranya di Malaysia. Kaum perempuannya umumnya menggunakan jilbab/ kerudung khas Melayu dan kaum pria gemar menggunakan songkok (peci), sarung, dan memelihara janggut

Secara historis, muslim di Thailand Selatan memang tidak berakar secara kultural maupun genealogis dengan penduduk Thai yang lain. Dahulu, mereka adalah bagian dari warga kerajaan muslim Pattani yang kemudian dianeksasi oleh kerajaan Siam pada abad 18. Imperialisme dan perjanjian antara Inggris Raya dengan kerajaan Siam pada tahun 1909 semakin memperteguh aneksasi ini.  Pattani, Yala, Narathiwat, dan Satun tetap dikuasai oleh Siam.  Sedangkan Kedah, Perak, Perlis, dan Kelantan tetap dikuasai oleh Inggris Raya (yang kemudian menjadi bagian dari Malaysia).

Berbeda halnya dengan muslim Thai yang tinggal di sekitar Bangkok. Muslim Bangkok adalah komunitas muslim terbesar kedua di Thailand. Mereka tidak identik dengan muslim Thailand Selatan kendati sebagian kecil berasal dari Thailand Selatan untuk kemudian hijrah ke Bangkok berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mereka hanya bisa berbahasa Thai seperti orang Thai yang lain. Berpenampilan fisik nyaris sama seperti orang Thai yang lain. Mengaku sebagai bagian dari bangsa Thai seperti orang Thai yang lain.  Hanya satu saja perbedaannya. Mereka beragama Islam tidak sama seperti orang Thai yang lain. Satu Nusa, Satu Bangsa, Beda Agama.

Bangkok sendiri adalah Ibukota Thailand sekaligus satu kota terbesar di Asia Tenggara yang didirikan pada tahun 1782 oleh Raja Siam Rama I, menggantikan ibukota Siam sebelumnya yaitu Ayutthaya. Kota ini didirikan persis di tepi sungai Chao Phraya dan berjarak hanya 40 (empat puluh) kilometer saja dari Teluk Thailand. Bangkok kerap dijuluki sebagai Krung Thep alias `Kota Malaikat`.  Dari sekitar 10 juta penduduknya, 70% diantaranya adalah keturunan China.

Muslim Bangkok bermukim di sekitar kota Bangkok maupun di kota-kota satelit di sekitarnya seperti Ayutthaya, Chachoengsao, Nakhon Pathom, Pathumthani, dan Samut Prakan. Di kota Bangkok saja ada sekitar 570.000 muslim dengan masjid berjumlah 165 dan imam berjumlah 2475 (data Islamic Committee of Thailand December 2000).  Apabila digabungkan dengan kota-kota satelitnya, muslim Bangkok berjumlah sekitar 700.000 dengan masjid berjumlah 260 buah.  Suatu angka yang cukup signifikan.

Asal muslim Bangkok bervariasi. Ada yang berasal dari Thailand Selatan, Persia, Arab, Pakistan-India, Bengali, Cambodia, China Selatan – Yunan, ataupun dari Thailand Utara seperti daerah Chiang Mai dan Chiang Rai.  Kita dapat mengenal asal etnis muslim Bangkok dari pilihan tempat tinggal mereka.  Muslim di daerah Soi Nana (soi berarti `gang` atau jalan kecil dalam bahasa Thai) biasanya adalah keturunan Arab. Muslim di daerah Si Lom dan Bang Rak adalah keturunan Pakistan – India. Muslim di daerah Bang Kha Lam berasal dari India maupun Afrika. Muslim di Ban Khrua adalah keturunan etnis Cham di Cambodia. Muslim di daerah Soi 7 Thanon Petchburi maupun di Minburi Nongcok berasal dari Pattani dan sekitarnya.  Mayoritas muslim Bangkok adalah muslim Sunni bermazhab Syafi`i.  Mirip dengan kebanyakan muslim di Thailand Selatan dan juga di Indonesia.

Berbeda dengan muslim di Thailand Selatan, muslim Bangkok relatif lebih berpendidikan dan baik status sosial ekonominya. Mereka bekerja hampir di semua wilayah seperti halnya warga Thai yang lain.  Menjadi pedagang, pegawai swasta, ataupun menjadi pegawai pemerintah. Komunitas mereka, kendati kecil namun tetap solid.  Muslim Thailand Selatan secara kuantitas berjumlah besar namun cenderung miskin, kurang berpendidikan, dan lemah aksesnya terhadap sumber daya kekuasaan di Thailand.

Kegamangan dan Konflik Identitas

Hidup sebagai minoritas di tengah mayoritas Thai Buddhist bukan sama sekali tanpa persoalan. Kendati berpenampilan fisik sama, berbahasa sama, lahir-pun di negeri Thai, namun perbedaan agama sedikit banyak mengundang masalah.  Masalah terbesar bukanlah dengan warga Thai non muslim di Bangkok, karena mereka tergolong toleran dan tak bersikap diskriminatif terhadap warga muslim.  Perbedaan cara hidup, kebiasaan, dan sistem nilai yang berakar dari perbedaan agama adalah masalah yang lebih serius.

”Masyarakat Thai non muslim relatif memperlakukan warga muslim dengan baik. Kami tidak menemukan kesulitan untuk hidup sebagai muslim di Bangkok. Hanya saja pengetahuan mereka tentang Islam amat minim.  Mereka hanya memahami Islam sebatas melarang makan daging babi,”  ujar Ibnu Abdul Razak, muslim Bangkok yang berdiam di Soi 7 Thanon Petchburi.

Kehidupan muslim Bangkok memang dikepung ritual, kebiasaan, dan budaya-budaya Thai Buddhist. Dan ini berlangsung sejak pagi hari.  Adalah pemandangan yang umum di pagi hari menyaksikan para pendeta Budha (monk) berpakaian orange (saffron) berkepala plontos dengan hanya mengenakan sandal, mengedarkan bakul kosong di pagi hari supaya diisi oleh warga yang didatanginya.  Para warga, apakah pedagang pasar, orang lewat, pegawai kantor yang tengah menanti kendaraan, biasanya mengisi bakul tersebut entah dengan makanan ataupun barang lain.  Kemudian sang monk memberkati si pemberi barang tersebut.  Menurut Roger Welty (2005), tradisi ini berlangsung setiap hari selama lebih dari 2500 tahun silam. Para monk adalah `warganegara kelas satu` di Thailand.  Mereka selalu mendapat prioritas di mana-mana. Ketika menumpang bus, kereta maupun kapal, monk selalu mendapat kursi khusus.

Hampir di setiap rumah warga Thai juga selalu tersedia rumah roh (spirit house) yang menurut keyakinan penduduk Budha adalah salah satu cara untuk melokalisir pengaruh buruk dan memberi keselamatan bagi rumah, gedung dan penghuninya. Rumah roh ini lazimnya diberikan sesajen di pagi hari, bisa berupa kelapa muda, minuman botol, makanan kecil, hingga bunga-bungaan dan patung-patung gajah berukuran kecil.  Apabila melewati rumah roh, lazimnya warga Thai Buddhist akan merapatkan kedua tangannya (wai) dan menunduk menghormat seraya berdoa.  Rumah roh ini mudah ditemukan dimana-mana. Di pusat-pusat pertokoan besar di Bangkok seperti Central World ataupun Mahboonkrong, rumah-rumah roh ini bahkan menjadi tempat pemujaan yang berukuran besar lengkap dengan patung Ganesha, gajah, dan lain-lain.

Warga Bangkok non muslim juga amat mencintai dan menghormati raja.  Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) yang bertahta sejak tahun 1946 nyaris seperti tuhan bagi warga Thai Buddhist.  Mereka menyembah raja nyaris seperti muslim menyembah Tuhan.  Raja adalah pemimpin tertinggi dan simbol keadilan dan kebenaran.  Maka, mengkritisi dan berbicara buruk tentang raja adalah suatu kejahatan berdasarkan hukum Thailand.  Saking cintanya kepada raja, warga Thai biasa menggunakan baju berwarna kuning bertuliskan `long live the king` setiap hari Senin.  Karena raja Bhumibol lahir pada hari Senin, dan warna untuk hari Senin adalah kuning berdasarkan kepercayaan mereka.  Warga juga biasa memakai baju berwarna biru muda setiap hari Jum`at, karena Ratu Sirikit lahir pada hari Jum`at dan warna untuk hari Jum`at adalah biru muda. Warga Thai juga tak pernah berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan raja.  Apabila mereka menjumpai raja, biasanya mereka duduk di lantai dengan bersila atau lesehan dan tidak memandang langsung wajah raja, sementara sang raja duduk di kursi kebesarannya.  Bahkan para petinggi militer Thailand yang melakukan kudeta tak berdarah pada 19 September 2006 untuk menggulingkan PM Thaksin Shinawatra-pun, ketika menjumpai raja tetaplah duduk lesehan di lantai.

Penghormatan terhadap raja berlangsung dimana-mana.  Setiap hari pada jam 08.00 dan jam 18.00 di tempat-tempat publik disiarkan lagu kebangsaan untuk menghormati raja. Dimana siapapun yang mendengarnya wajib berdiri mematung dan menghormati raja. Tak hanya itu, di bioskop-pun sebelum film diputar ada film pendahuluan sekitar 2 menit tentang raja dimana para penonton wajib berdiri menghormat sebelum menonton film yang sebenarnya.

Bagaimana dengan warga muslim?  ”Saya tak pernah menggunakan baju kuning setiap hari Senin, karena saya kan muslim,” ujar Zaman, warga muslim Bangkok asli Songkhla.  ”Menggunakan baju kuning berarti menuhankan raja dan itu termasuk syirik,”  ujar Zaman lagi.

”Terus terang kami jarang pergi ke Ayutthaya untuk melihat reruntuhan kuil dan pagoda, itu kan peninggalan kerajaan Siam-Budha, sedangkan kami muslim.  Terlalu banyak berhala disana,”  ujar Farid, muslim Bangkok yang aktif di Islamic Center Ramkamhaeng Bangkok.

”Orang Thai Buddha tak memiliki konsep monotheisme.  Adalah aneh dalam konsep orang Thai apabila hanya memiliki satu tuhan atau satu dewa yang disembah saja.  Itulah yang membuat saya masuk Islam. Saya tertarik dengan konsep satu Tuhan dalam Islam,”  ujar Chonlada, mahasiswa sastra Inggris Chulalongkorn University yang ketika masuk Islam pada tahun 2005 mengganti namanya menjadi Tasnim.

Benturan-benturan nilai dan kebiasaan di atas adalah wajah keseharian muslim Bangkok. Mereka mengalami konflik identitas, sebagai warganegara Thailand, sebagai bangsa Thai, namun juga sebagai muslim.  Ada nilai-nilai Islam tertentu yang tak memudahkan mereka untuk hidup layaknya warga Thai yang lain.  Mereka tak mungkin menyembah raja Thailand sebagaimana rakyat Thai yang lain. Mereka-pun tak mungkin menghormati rumah roh dan patung, karena terkategori syirik besar.  Mereka-pun tak mudah makan di sembarang tempat dan membeli makan di kedai-kedai penjual Thai Buddha, karena tak jelas halal haramnya dari makanan yang digelar tersebut. Juga, mereka tak mudah untuk shalat di sembarang tempat, karena warga Bangkok banyak yang memelihara anjing di dalam maupun di luar rumah.

”Inilah salah satu kesulitan hidup sebagai warga muslim di Bangkok. Kita harus hidup secara sekuler untuk dapat bekerja dan mencapai jenjang tertinggi di pemerintahan,” papar Ibnu Abdul Razak.

Perbedaan cara hidup dan sistem nilai dengan mayoritas Thai Buddhist membuat warga muslim kerap dijuluki sebagai ’khek’ (`pendatang’ atau ’orang asing’ dalam bahasa Thai).  Semula istilah ini digunakan untuk menyebut muslim pendatang dari Timur Tengah maupun dari India-Pakistan-Bengali.  Namun lama kelamaan semua muslim akhirnya disebut sebagai `khek` juga. Berbeda dengan orang asing yang datang dari barat dan berkulit putih, dimana untuk kelompok ini disebut sebagai `farang’.

Upaya Mempertahankan Eksistensi

Sedikit tapi bergigi adalah ungkapan yang paling pas untuk melukiskan muslim Bangkok. Mirip seperti oase di tengah padang pasir, yang kendati jumlahnya jarang namun mampu menawarkan kesejukan.

Satu contoh paling menarik adalah aktifnya berbagai asosiasi pelajar muslim di universitas-universitas Thailand. Kampus-kampus utama di Bangkok, seperti Chulalongkorn University, Thammasat University, Mahidol University, dan Asian Institute of Technology (AIT) memiliki asosiasi mahasiswa muslim (Muslim Students Association) yang sangat aktif dan saling berhubungan erat satu sama lain.

Di Chulalongkorn University ada sekitar 100 mahasiswa dan pegawai muslim.  Namun hanya ada satu musholla kecil yang mereka sebut sebagai `hong lamat` ataupun muslim study club center disana.  Letaknya di lantai empat gedung serbaguna Chulalongkorn. Persis di atas cafetaria.  Musholla ini berukuran kecil.  Kurang dari 6 X 3 meter. Dengan bentuk yang tidak persegi empat. Nyaris berbentuk segitiga dimana di bagian Imam musholla menyempit menjadi hanya berukuran dua orang dewasa saja.

Kendati kecil, musholla ini ramai dikunjungi oleh mahasiswa muslim baik pria maupun wanita. Baik mahasiswa Thai maupun mahasiswa muslim, termasuk mahasiswa Indonesia.  Pria menempati bagian depan dan wanita di bagian belakang dimana diantara keduanya diletakkan hijab kayu setinggi tubuh orang dewasa.  Setiap waktu sholat musholla ini nyaris penuh , karena memang berukuran kecil sekali.  Setiap hari Jum`at, utamanya ketika musim kuliah, digelar shalat Jum`at dengan imam yang bergantian di kalangan mahasiswa.  Berapapun makmumnya shalat Jum`at tetap digelar. Pernah suatu Jum`at makmum laki-lakinya hanya berjumlah dua orang saja dan shalat Jum`at tetap berjalan. Muslimah Chulalongkorn University juga berhijab rapi dan amat rajin melaksanakan shalat fardhu dan mengikuti shalat Jum’at.

Menurut Adib, mantan ketua Chulalongkorn Muslim Study Club sekaligus mahasiswa tingkat akhir faculty of engineering, kegiatan keislaman seperti ini adalah kegiatan yang umum terjadi di kampus-kampus Bangkok.  ”Kami memiliki hubungan dengan mahasiswa muslim lain di universitas lain.  Secara berkala kami mengadakan muslim study camp bersama ke luar kota untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, ” tukas Adib dalam bahasa Melayu Pattani bercampur bahasa Inggris.

Kalangan pedagang dan pengusaha muslim Bangkok juga bangga dengan keislaman mereka.  Pedagang muslim selalu menandai makanan dagangannya dengan stiker berlafaz Allah, Muhammad, ataupun Bismillahirrahmanirrahim, disamping label halal yang mereka tempelkan di etalase.  Ini adalah cara mudah untuk mengidentifikasi bahwa makanan yang mereka jual adalah layak dikonsumsi dan berstatus halal.  Hal ini perlu dilakukan mengingat wajah dan bahasa yang digunakan Thai muslim dan non muslim relatif sama.  Juga tak hanya pedagang kaki lima, salah satu toko komputer eksklusif di lantai 5 Panthip Plaza Thanon Petchburi di Bangkok-pun dengan bangga memasang kaligrafi di tembok atasnya untuk menandakan bahwa pemiliknya adalah muslim.

Sentra kegiatan muslim Bangkok adalah di Islamic Center di daerah Ramkamhaeng.  Di dalamnya terletak masjid berukuran besar berlantai dua. Tempat shalat terletak di lantai dua, dan di lantai bawahnya digunakan untuk aula, perpustakaan, tempat makan, toko buku, dan kantor-kantor.  Masjid ini selalu ramai dikunjungi minimal setiap hari Jum`at dan Ahad dengan beragam corak muslim yang mendatanginya. Dari yang bercadar dan berjilbab lebar, ataupun bersorban dan bergamis putih hingga muslim yang mengenakan celana jeans ketat dan kaos oblong saja.

Muslim Bangkok telah memberi warna lain bagi kehidupan kota Bangkok dan negeri Thailand pada umumnya.  Mudah sekali menemukan mereka berseliweran di pojok-pojok kota Bangkok yang amat mudah dikenali dari pakaian yang mereka gunakan. Terkadang amat kontras dengan penduduk Bangkok yang lain yang cenderung berbusana ala kadarnya.  Dari rahim mereka telah lahir banyak orang penting Thailand seperti Jenderal Sonthi Boonyaratglin, panglima Angkatan Bersenjata dan Ketua Dewan Keamanan Nasional Thailand, yang sekaligus pemimpin kudeta tak berdarah tahun 2005.  Juga ada figur-figur akademisi terkenal seperti Professor Anas dari Mahidol University, Professor Chaiwat Satha Anand dari Thammasat University, ataupun Professor Isra Santisart dari Chulalongkorn University.  Muslim Bangkok memang minoritas dan hidup setengah terasing dengan warga Bangkok yang lain. Namun eksistensi mereka nyata.

 

Wallahua`lam


[1] Tulisan ini berangkat dari riset lapangan dan riset kepustakaan selama bulan Desember 2006 – Maret 2007 di daerah Bangkok dan sekitarnya.

[2] Staf Pengajar Fakultas Hukum UI –Depok dan periset tamu pada Institute of Asian Studies Chulalongkorn University.

Chonlada Bangluansanti, Muslimah Muallaf Thailand (22 tahun)

INGIN MENJADI GURU DI THAILAND SELATAN

Musholla kampus itu sangat sempit.  Berukuran segitiga.  Di Bagian belakang lebarnya empat meter namun di bagian depan hanya satu meter.  Panjangnya sendiri hanyalah enam meter. Sempit?  Memang.  Namun di ruang sempit inilah jantung kegiatan mahasiswa muslim Chulalongkorn University di Bangkok.

Musholla memang nama khas Indonesia.  Mahasiswa muslim Chula (nama populer untuk  Chulalongkorn University) menyebutnya Muslim Study Club.  Letaknya tidak strategis dan tidak mudah dicapai. Di lantai empat gedung aktivitas mahasiswa yang tidak memiliki lift.  Berdampingan dengan klub kegiatan mahasiswa yang lain termasuk klub mahasiswa Buddhist dan Christian.  Mengambil air wudhu-nya pun cukup jauh.  Perlu berjalan kaki ke WC yang jaraknya nyaris sepanjang gedung.  Musholla ini memang kurang menarik.  Cukup ironis dengan keberadaan Chulalongkorn sebagai kampus paling bergengsi di Thailand.

Kendati kurang menarik,  namun Muslim Study Club adalah tempat banyak mahasiswa muslim Chula melepas dahaga keislaman.  Hidup di tengah mayoritas mahasiswa Buddhist di negara Buddhist tidaklah mudah.  Maka, menemukan musholla, kendati jauh dari standar nyaman, ibarat menemukan oase di padang pasir.  Dan hal ini berlaku pula bagi saudari kita, Chonlada Bangluansanti alias Tasnim.

Chonlada adalah mahasiswa sastra Inggris tingkat akhir di Chulalongkorn University.  Tak heran, bahasa Inggrisnya di atas rata-rata mahasiswa Chula (karena rata-rata mahasiswa dan penduduk Thai memang tak cakap berbahasa Inggris).  Tak ada kesulitan berdialog dengannya dalam bahasa Inggris.  Namun, bahasa Inggris saja tak membuatnya menarik.  Keputusan besarnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada tahun 2005-lah yang lebih menarik. “Saya kembali kepada Islam bukan masuk Islam,”  ujar Tasnim menegaskan.

Chonlada, yang ketika bersyahadat mengganti namanya menjadi Tasnim (atau Tasneem dalam ejaan Inggris), adalah muslimah asli Thai (keturunan China).  Ia tak berdarah Thailand Selatan ataupun Pakistan dan Timur Tengah seperti halnya warga muslim Thailand yang lain.  Orangtuanya asli Thai dan iapun tinggal di daerah warga Thai.  Bukan di komunitas muslim ataupun komunitas Thailand Selatan seperti umumnya warga muslim Thai yang lain.

Tasnim telah bersinggungan dengan komunitas muslim sejak lama.  Karena memang Thailand memiliki sepuluh persen warga muslim dan kota Bangkok sendiri dihuni sekitar tujuh ratus ribu warga muslim. Namun demikian, interaksi intensif antara Tasnim dengan muslim Thai memang ketika ia kuliah di Chula. Kendati warga muslim Chula, apakah mahasiswa, dosen, maupun karyawan, hanya berjumlah sekitar 100 orang, namun Tasnim tak menjumpai kesulitan dalam bergaul dengan mahasiswa muslim. Karena, mereka berbicara dalam bahasa yang sama,  menggunakan busana yang sama (di kampus Chula, mahasiswa program S1 wajib menggunakan busana putih-hitam setiap hari), juga mudah menandai mahasiswa muslim dari jilbab dan janggutnya.  Wajah mereka-pun tak terlalu berbeda, karena banyak pula muslim Thai berkulit putih dan bermata agak sipit. Seperti warga Thai yang lain.

Tasnim lahir di Bangkok pada tanggal 27 April 1985.  Ia memiliki tiga saudara.  Hingga kini ia masih tinggal bersama keluarganya di daerah Bangkae Bangkok.  Kembalinya Taslim ke pangkuan Islam tidak dengan sendirinya. Terjadi melalui proses dan pergulatan panjang.  Bagi warga Thai Non Muslim,  Thai muslim disebut `khek`  alias orang asing.  Karena kendati ciri-ciri fisik, bahasa, dan asal daerah hampir sama, namun tradisi hidup dan nilai-nilai religi mereka sangat bertolak belakang.  Alias, mereka hidup secara terasing di tanahnya sendiri.

Hal yang sama dirasakan Tasnim.  Kendati ia tak asing dengan pemandangan perempuan berjilbab, lelaki berjanggut, restoran muslim, dan masjid di seputar Bangkok, namun sebagai warga Thai yang lahir dan besar sebagai Buddhist ia tetap asing dengan tradisi Islam. Sampailah suatu waktu ketika Tasnim tertarik dengan kesenian Islam.  Ia memang senang dengan kesenian. Suatu waktu ia terkesima dengan lagu-lagu Islam yang syair dan iramanya terkesan asing.  Dari situ pengembaraannya dimulai.  Berangkat dari kesenian Islam, ia kemudian melanjutkan dengan membaca buku-buku tentang Islam di perpustakaan kampus.  Sehabis dua hingga tiga buku dilahap, ia melanjutkan dengan membaca Al Qur`an berbahasa Thai.  “Saya menemukan sesuatu ketika membaca buku-buku Islam dan juga Al Qur`an. Apa temuan saya yang paling menarik? Saya menemukan kata dan konsep tentang `Tuhan`,”  jelas Tasnim.

Bagi kebanyakan warga Thai Buddhist, konsep Tuhan memang terkesan asing.  Tasnim sendiri tidak mengenal konsep Tuhan sebelumnya. Maka ia tak memiliki pengetahuan apakah Tuhan itu eksis atau tidak. “Maka, saya memutuskan untuk terus mencari dan tak menyerah begitu saja,” papar Tasnim.

“Saya sangat tertarik dengan konsep monotheisme Islam.  Saya pernah juga belajar agama Christian, tapi menurut saya ajaran Christian lebih banyak berkisah tentang  orang-orang masa lalu. Konsep tentang trinitas juga tidak make sense buat saya.  Saya meyakini bahwa pasti ada Pencipta dari semua isi alam ini.  Memikirkan Sang Pencipta saja membuat saya merasa lebih nyaman,” ujar Tasnim.

Tak sekedar buku-buku, Tasnim-pun melahap ajaran Islam dari browsing di internet,  kemudian rajin silaturrahmi ke muslim study club Chula. Alhamdulillah para mahasiwa pegiat muslim study club ini sangat kooperatif dan inklusif.  Terbuka terhadap mahasiswa non muslim yang ingin belajar Islam.  Puncak silaturrahmi dengan para mahasiswa muslim ini terjadi pada bulan November 2005. Dimana ia memutuskan untuk bersyahadat di Muslim Study Club Chula yang disaksikan oleh tiga orang, masing-masing adalah Hamidah, Hafidz, dan Adib.  Ketiganya adalah pimpinan mahasiswa muslim Chula.  Ketiganya juga orang yang paling berperan dalam keislaman Tasnim.  Hafidz adalah wakil ketua pemuda muslim se-Thailand sekaligus mahasiswa program Master di Chula, Adib adalah Ketua Muslim Student of Chulalongkorn University, dan Hamidah alias Pratubjit adalah mahasiswa senior sekaligus putri dari Somchai, pengacara muslim Thai yang diculik dan diduga dibunuh secara misterius pada tahun 2005 karena pembelaannya pada muslim di Thailand Selatan.

Bagaimana keluarga Tasnim bereaksi atas keislamannya?  “Memang ketika kembali pada Islam pada November 2005 saya tidak langsung menyampaikannya pada keluarga saya.  Saya melakukannya dengan diam-diam.  Shalat-pun saya lakukan dengan diam-diam.  Barulah pada bulan Mei 2006 saya berani memproklamirkan pada orang tua saya sekaligus memproklamirkan keputusan saya mulai menggunakan hijab.  Awalnya orang tua saya sangat kecewa.  Saya menduga bahwa Ibu saya pasti akan melarang saya.  Namun alhamdulillah itu tidak terjadi.  Ibu dan ayah saya hanya berdiam diri.  Lagipula saya berkeyakinan bahwa keislaman saya tak harus membuat saya hidup terpisah dengan mereka.  Sebagai muslimah saya tetap dapat hidup dengan siapapun,” tutur Tasnim tegas.

Hingga kini Tasnim masih tinggal bersama orangtuanya.  “Kesulitan saya hanya dalam hal makanan.  Makanan keluarga kami bertaburan daging babi dan lingkungan tempat tinggal saya banyak anjing. Maka, saya selalu masak sendiri di rumah.  Di kampus Chula sendiri malah tidak masalah, karena selalu ada kios makanan muslim terselip di tengah kios-kios makanan umum,” Tasnim menjelaskan.

Tasnim juga jarang bepergian ke luar kota apalagi ke luar negeri.  Perjalanan paling jauhnya adalah ke Pattani di Thailand Selatan.  Daerah yang selama ini diemohi oleh  warga Thai lainnya karena sarat dengan konflik. Alih-alih menghindar, Tasnim justru pergi ke Pattani untuk menghabiskan Ramadhan pertamanya di tahun 2006. “Saya punya teman muslimah asli Pattani yang selalu pulang ketika Ramadhan. Maka sayapun mengunjunginya ketika Ramadhan dan menjumpai Idul Fitri 2006 juga di Pattani. Sungguh amat berkesan,”  ujar Tasnim.

Namun, disamping keindahan berislam yang ditemuinya, ia juga sedikit kecewa dengan muslim di Pattani.  “Saya melihat  bahwa banyak muslim di Thailand, utamanya yang saya lihat di selatan, tidak menjalankan perintah Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW secara benar. Saya melihat sesuatu yang berbeda.  Muslimah mengenakan pakaian berlengan pendek, berjilbab pendek.  Juga dengan muslimnya, kurang menghargai hak-hak muslimah,”  tambah Tasnim.

Tasnim memang memiliki ekspekstasi yang tinggi dengan keislamannya.  Ia ingin turut mengembangkan Islam dan kaum muslimin.  Utamanya di Thailand selatan.  “Setelah lulus nanti saya ingin mengambil program Master bidang pendidikan di Chula,  setelah itu saya ingin mengajar di Thailand Selatan.  Daerah tersebut sungguh memprihatinkan. Penduduknya kurang berpendidikan dan rata-rata lebih miskin dari penduduk Thailand yang lain, “ ujar Tasnim..  Sungguh suatu cita-cita yang tak terbayangkan dalam benak warga Thai yang lain.  Apalagi ia seorang perempuan.

Di ujung perjumpaan dengan Chonlada Bangluansanti, alias Tasnim, tak lupa ia menyampaikan harapannya tentang lembaga keluarga.  “Jelas saya ingin menikah dan berkeluarga.  Kendati sayapun tak mengharapkan calon suami saya adalah orang yang sangat ideal.  Saya tak berharap terlalu banyak.  Namun semoga Allah SWT mengirimkan saya suami yang baik, dapat memimpin keluarga dan membimbing saya. Ia tidak harus orang kaya, tapi minimal ia dapat menasehati saya.  Mengenai anak?  Saya ingin anak dua orang, laki laki ataupun perempuan,”  tutur Tasnim mengakhiri perjumpaan kami.

Seperti disampaikan Chonlada Bangluansanti alias Tasnim di Muslim Study Club Chulalongkorn University- Bangkok, Thailand,  kepada Heru Susetyo dan Krisnadi Yuliawan pada 8 Januari 2007.